Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Baca Overlord - Volume 11 - Chapter 4

Chapter 4 : Perajin dan Negosiasi

Part 1

Dua Death Knight yang disummon hilang dari sisi lain gerbang. Mereka meraung terhadap pembantaian yang menyenangkan, sementara tangisan dari yang mati terus terdengar. Ketika gerbang itu perlahan ditutup, tebalnya gerbang itu berarti suara-suara akibat pembantaian besar-besaran di sisi lain tidak lebih dari sekedar menggelitik gendang telinga.

“Keadaannya seharusnya sudah tidak apa-apa sekarang.”

Ada sebuah batas waktu untuk Death Knight yang tidak diciptakan dari mayat. Meskipun begitu, jika estimasi kekuatan tempur Quagoa dari yang mereka tangkap akurat, Death Knight itu seharusnya bisa mengalahkan seporsi yang cukup besar dari para penyerang itu meskipun tanpa mengetahui jumlah lawannya. Jika musuh tidak bisa dianggap enteng, mereka pasti akan menarik diri dan berkumpul kembali setelah mengalami kekalahan yang cukup.

Aku harap mereka belum mundur. Jika mereka membangun perkemahan, itu artinya bahaya masih belum habis dan masih ada. Dengan begitu, negeri dwarf harus bekerja sama dengan kami. Aku harus memerintahkan Death Knight untuk menahan diri untuk sementara.. Agak menjengkelkan jika kamu tidak bisa menang dengan jarak yang tidak terlalu besar.


Saat Ainz merenungkan detil ini tanpa suara, dia menoleh ke arah panglima dwarf, yang sedang melihatnya dengan senyum aneh di wajahnya. Ainz tidak tahu mengapa dia memiliki senyum yang lahir dari teror itu di wajahnya – dan saat itu sebuah bohlam lampu bersinar di atas kepala Ainz.

Dia seharusnya sudah terbiasa dengan penampilanku sekarang ini, jadi mungkin karena teriakan-teriakan Quagoa dari luar. Yah, memang benar teriakan kesakitan memang agak mengganggu.

Meskipun begitu, Ainz merasa bahwa dia seharusnya tidak keberatan dengan teriakan musuh sampai sejauh ini. Tetap saja, dia pasti bukan manusia – atau lebih tepatnya dwarf – jika tidak berpikir demikian.

Namun bagaimana bisa seseorang seperti itu menjadi komandan para warrior? Ini agak mengkhawatirkan.

Ainz tahu dia terlalu banyak memikirkan hal ini, tapi Inz terus melihat ke arah panglima tersebut. Saat ini, Gondo sedang mendekati Ainz.

“Kalau begitu, Yang Mulia. Saya harus kembali ke rumah sebentar.”

“Ahh. Kalau begitu, maukah kamu membantuku menyelesaikan masalah di bagianmu?”

“Tentu saja. Saya akan mengatur dan mengirimkannya. Tidak apa jika waktu atau apapun itu berubah, ya kan? Saya bisa mengandalkan mantra anda jika ada sesuatu yang terjadi, benar kan?”

Ainz mengulurkan sebuah tinju dan menabrakkannya ke tinju Gondo. Mereka sudah bicara banyak hal sebelum datang kemari, dan kelihatannya itu efektif.

Gondo benar-benar suka bicara banyak...

Dia cenderung memonopoli percakapan, dan dia bicara dengan panjang yang kelihatannya tidak ada akhirnya. Ini pasti hasil dari terlalu terobsesi dengan seni runesmith yang hampir hilang lalu dikucilkan. Itulah kenapa dia terus-terusan bicara topik tersebut kepada Ainz – yang memiliki ketertarikan dalam topik tersebut – seperti sebuah bendungan yang jebol.

Ainz bisa mengerti apa yang dia rasakan, karena ada kalanya ketika Ainz juga ingin bicara kepada orang-orang yang  juga berbagi kegemarannya. Namun, Ainz bukan ingin mengikuti monolog yang panjang ini karena kebaikan hatinya.

Gondo menepuk ransel magic miliknya dengan lirih lalu mulai pergi menjauh.

Panglima itu kelihatannya ingin membicarakan sesuatu kepada Gondo yang undur diri, tapi dia tidak memanggilnya.

“Kalau begitu, apa yang harus kami lakukan sekarang? Apakah kami harus menunggu sebentar sebelum membuka gerbang itu dan memeriksa hasil dari pertempuran?”

Panglima itu pasti sedang mengantisipasi pertanyaan Ainz. Dia langsung menjawabnya, seakan dia sudah mempersiapkan jawaban itu sebelumnya.

“Sangat tidak terhormat membuat penguasa sebuah negeri menunggu di sini. Saya rasa kita harus menuju Ruang Dewan dan mempersembahkan saran anda kepada semuanya.”

“Mengapa tidak melihat hasil pertempurannya?”

“Saya rasa perkenalan Yang Mulia lebih penting. Ssay telah mengirimkan sebuah pesan kepada dewan ketika Quagoa menyerang. Mereka mungkin masih memikirkan cara untuk menghadapi situasi ini sekarang. Saya merasa kita harus mempersembahkan informasi baru kepada mereka sebelum mereka panik dan memberikan perintah yang buruk.”

“Kalau begitu, aku tidak keberatan. Silahkan tunjukkan jalannya.”

“Saya mengerti. Namun, Magical beast yang mulia pastinya akan menakuti rakyat biasa. Saya malu untuk mengatakannya, tapi bisakah anda menyuruh mereka di sini? Kami akan merawatnya hingga yang terbaik dari kemampuan kami jika anda memberitahukan yang terpenting...”

Ainz melihat ke arah Aura, yang mengangguk.

“Kalau begitu mereka akan menunggu di sini.”

Ainz memberi isyarat kepada garnisun pojok dengan sebuah jarinya hanya tulang, lalu komandan tersebut mengangguk setuju.

“Dan juga, tidak perlu merawat mereka. Kami akan menangani itu. Saya harus menyertakan tiga pengikut untuk menemani saya.”

Ainz memilih Shalltear, Aura dan Zenberu. Dia memerintahkan kepada yang lainnya untuk menunggu di sini.

Panglima tersebut terlihat agak lega. Kelihatannya dia tidak ingin ada undead yang keluyuran di jalanan.

“Kalau begitu, mari kita pergi?”

“Ah, silahkan.”

Ainz dan yang lainnya berjalan dengan gagah menjelajah kota dwarf, dipimpin oleh panglima tersebut. Sebuah jumlah tatapan yang hampir menyakitkan terfokus kepada Ainz, sementara ibu-ibu dwarf yang melihat Ainz menyembunyikan anak-anak mereka ke dalam rumah. Itu membuat Ainz agak kecewa.

Tentu saja, dia bisa saja terlihat tidak terang-terangan jika dia menginginkan.

Jika Ainz memakai topeng, lebih sedikit orang yang akan menatapnya. Meskipun begitu, ada alasan mengapa dia tidak memilih untuk menutup wajahnya.

Itu karena dia ingin mengumumkan kedatangannya di dalam kota para dwarf. Kelihatannya tidak ada seorang pemain Yggdrasil di dalam negeri dwarf jika mereka mencari bantuan dari luar melawan serangan seperti ini. Namun, mungkin saja ada para pemain level rendah di sini, atau item-item yang mereka tinggalkan.

Seperti kristal penyegel mantra itu.

Untuk menghindari serangan item-item semacam itu, Ainz harus memberikan bukti kunjungannya dengan cara yang tulus. Dengan begitu, mereka tidak akan menyelesaikan masalah ini secara sembunyi-sembunyi.

Ditambah lagi, ketika dia masih belum memutuskan kelompok duta besar macam apa yang akan dia kirimkan, sangat mungkin dia akan menggunakan makhluk undead untuk tugas itu. Oleh sebab itu, dia ingin membuat mereka terbiasa dengan makhluk tersebut.

“Tetap saja, kelihatannya tidak ada yang khawatir, meskipun ada serangan dari Quagoa.”

Ainz menyakan pertanyaan tersebut kepada sang panglima setelah melihat dua dwarf berwajah merah terhuyung-huyung keluar dari kedai minuman, dengan lengan saling melingkari pundak satu sama lain.

Bau alkohol yang tidak salah lagi mengelilingi mereka.

“Itu karena orang-orang tersebut tidak tahu jika Quagoa telah menyerang.”

“Dan.. mengapa begitu?”

Indera untuk mencium adanya bahaya milik mereka kelihatannya telah rusak.

Panglima tersebut kelihatannya sudah membaca apa yang Ainz pikirkan, lalu dia membalas:

“Quagoa menyerang terlalu cepat, jadi informasinya belum menyebar. Tergantung dari keputusan para dewan, kelihatannya akan mulai menyebar dalam satu jam.”

“Hm. Yah, aku memang memerintahkan kepada para bawahanku untuk mengambil alih jembatan itu, jadi ketika mereka sudah melakukannya, kota ini akan aman untuk sementara, ya kan? Ini adalah faktor yang sangat penting ketika kita nantinya mulai melakukan perdagangan dengan negeri ini.”

“Ini sulit dikatakan. Melihat ukuran dari pasukan musuh, kita tidak tahu kapan pihak lawan akan memulai serangan yang sebenarnya. Ketika kita sudah mengambil alih kembali jembatan itu, kita harus memperkuat pertahanan, menyelidiki rute serbuan mereka, dan merencanakan strategi melawannya.”

Ainz tersenyum jahat di dalam hatinya.

Kelihatannya tidak banyak peluang untuk menjual balas budi kepada negeri ini di masa depan. Meskipun begitu, mungkin yang terbaik adalah untuk tidak merubah perintah Death Knight untuk mengambil alih jembatan itu.

“-Apa?!”

Suara Ainz membuat bahu panglima itu gemetaran.

“Aiiiee! Apa, ada apa, Yang Mulia?!”

“Tidak, bukan apa-apa. Itu karena aku. Tidak perlu khawatir. Tidak perlu bertanya lebih jauh lagi,” Ainz memperkuat kalimat itu dengan nada yang keras untuk menghentikan  pertanyaan pihak lain.

Reaksi ini – yang sangat tidak seperti Ainz – adalah karena dia telah kehilangan ketenangan.

Tidak ada respon dari dua Death Knight yang dia ciptakan, yang seharusnya ada di sekitar Feoh Gēr.

Hanya ada satu kesimpulan yang bisa dia tarik dari kesimpulan yang mengejutkan ini.

- Para Death Knight telah dikalahkan.

Hoh!

Death Knight memang lemah bagi Ainz. Namun, dari standar dunia ini, mereka adalah lawan yang tangguh meskipun bagi rakyat terkuat dari sebuah negeri. Siapapun yang bisa mengalahkan dua Death Knight yang menakutkan itu pastilah sangat kuat.

Ditambah lagi, respon mereka telah hilang hampir dalam waktu bersamaan.

Apakah mereka dihancurkan secara serentak akibat dari rencana yang sangat hati-hati?

Apakah seseorang menghabisi mereka dengan mantra efek luas?

Apakah ada seorang individu yang menghabisi mereka dengan sekali serang begitu saja?

Apapun jawabannya, pasti ada makhluk kuat yang hadir, selain dari magic caster bertopeng aneh yang dia temui di ibukota kerajaan.

Seseorang yang bisa mengalahkan Death Knight yang berorientasi pertahanan sendirian saja pasti memiliki level lebih dari 45.

“Apakah itu artinya aku sudah diketahui?”

Panglima tersebut melihat ke arah Ainz akibat gumamannya, tapi Ainz tidak sempat mengkhawatirkannya.

Seorang makhluk yang kuat dan tak diketahui pastinya adalah seorang pemain Yggdrasil. Jika seorang musuh dengan level setara Ainz datang ke dunia ini, menghadapi dua Death Knight begitu saja adalah mainan anak-anak.

Jika ada entitas yang berhubungan dengan seorang pemain Yggdrasil di sini yang tidak ada hubungannya dengan para dwarf, apakah itu artinya mereka memihak kepada Quagoa? Lalu, apakah mereka ada hubungannya dengan orang-orang yang telah mencuci otak Shalltear?

Api yang membara berkobar di hatinya.

Bara yang sampai sekarang masih menyala berubah menjadi api yang mengamuk, seakan ada orang yang menyiram bensin ke api tersebut. Namun, api itu langsung ditahan.

“Tidak, itu tidak mungkin. Jika mereka ada hubungannya, kota dwarf akan jatuh sejak lama. Kelihatannya itu adalah individu yang kuat dari dunia ini. Namun, aku tidak bisa menyimpulkan bahwa itu tidak ada hubungannya. Oleh karena itu. Aku harus merubah rencanaku.”

Pada awalnya Ainz berharap perang antara Quagoa dan Dwarf akan terus terjadi.

Dengan musuh yang jelas seperti Quagoa di hadapan mereka, para dwarf mungkin lebih baik memihak kepada Ainz. Namun, meninggalkan Quagoa begitu saja – memberikan waktu terlalu banyak kepada mereka – akan sangat berbahaya.

Jika mereka adalah sebuah ras yang biasanya memunculkan individu yang kuat, sekarang mungkin mereka hanya membantai Death Knight, siapa yang tahu apa lagi yang akan mereka hancurkan di masa depan? Sekarang ini – ketika Ainz masih bisa menghadapi mereka – yang terbaik adalah memperbudaknya atau menghabisi mereka sama sekali.

Yang terakhir kelihatannya adalah pilihan tindakan yang lebih baik.

Idealnya, aku harus menundukkan Quagoa yang membuat mereka mengancam para dwarf dari balik bayangan, tapi... sebuah langkah yang salah mungkin akan membuat kesalahan yang fatal. Akan lebih aman untuk tidak melakukan itu.

“Yang Mulia, Ruang para dewan sudah terlihat.”

Saat Ainz menoleh untuk melihat ke arah yang ditunjuk oleh panglima tersebut, sebuah bangunan yang besar – tentu besar bagi seorang dwarf, tapi cukup bagi standar Ainz – telah terlihat.

Komandan itu berbicara sesaat dengan para penjaga yang ada di pintu, lalu mereka membiarkan Ainz dan yang lainnya lewat tanpa diperiksa.

Alasan mengapa mereka membiarkan pemeriksaan kepada Ainz dan kelompoknya sambil menatap tanpa berkedip kepada Ainz yang undead tentunya karena komandan tersebut telah menggunakan otoritasnya.

“Kalau begitu, Yang Mulia, saya akan membuat laporan penuh kepada dewan. Bolehkah saya menyusahkan Yang Mulia untuk menunggu di sini sementara itu?”

Tidak ada alasan menolak. Terlebih lagi, mungkin agak menyusahkan jika dia tidak menjelaskan kontribusi Ainz kepada negeri ini.

“Dimana kami harus menunggu?”

Panglima tersebut menoleh ke arah salah satu dwarf penjaga, lalu orang itu melangkah ke depan.

“Ru, Ruang tunggu ada di sebelah sana. Persilahkan saya untuk mengantar anda kesana.”

“Benarkah. Kalau begitu aku serahkan itu kepadamu.”

Dwarf tersebut – yang gemetaran tubuh dan suaranya – membawa mereka ke suatu ruangan yang sempit. Sekali lagi, mungkin tidak sempit bagi seorang dwarf. Itu adalah ukuran yang tepat bagi Aura dan Shalltear. Namun, ada Zenberu di sana, yang memiliki perawakan besar. Menunggu di dalam ruangan itu saja rasanya sangat sesak bagi Ainz.

Melihat saat prajurit tersebut menatap ke arah Zenberu sebelum membawanya kemari, ini pastinya adalah ruangan VIP yang paling besar dan paling mewah di dalam bangunan ini. Tentu saja, ornamen-ornamen di sekitar mereka semuanya dibuat dengan sangat indah dan terlihat seakan mungkin saja benar-benar bisa bergerak.

Ainz pernah membuat Avatara rekan-rekan lamanya, dan dia sangat menghargai kesulitan dalam membuat patung-patung yang sangat detil tersebut. Mungkin saja sesuatu bisa terlihat indah dari samping tapi jelek ketika dilihat secara langsung dari depan.

Ainz mengambil sebuah patung – seorang dwarf yang mengendarai punggung seekor kadal.

Jelas sekali para dwarf memiliki keahlian sangat sangat luar biasa dalam kerajinan, aku ingin memiliki keahlian semacam itu.. Aku penasaran apakah aku bisa membuat kembali Avatara-Avatara itu? Jika memungkinkan, apakah aku bisa membuat sesuatu yang lebih baik setelah mempraktekannya? – baiklah.

Ainz memutuskan memanggil Zenberu, yang kelihatannya sangat tidak cocok di sini.

“Zenberu, teruslah bersama kami sedikit lebih lama lagi.”

“Ah, Yang Mulia, saya ingin tinggal di sini nantinya, jika anda tidak keberatan. Sejujurnya, agak pusing saya saat biara dengan orang-orang hebat itu.”

Sebuah kalimat yang aneh. Berbeda saat dia melakukan perjalanan kemari. Mungkin dia telah merubah cara bicaranya karena dia telah datang ke kerajaan Dwarf.

“...Kamu adalah overseer (pengawas) dari sebuah suku, apakah aku benar?”

“Shalltear-sama, seseorang bisa baik atau buruk dalam berbagai hal. Dan juga, saya merasa tidak enak jika menyusahkan Yang Mulia.”

Ainz memahami maksud Zenberu, tapi dia menggelengkan kepalanya meskipun begitu.

“Tidak, aku akan membawamu serta. Jika ada sesuatu yang terjadi, aku tidak akan bisa melindungimu jika kamu terlalu jauh. Kurasa di sini tidak ada bahaya apapun, tapi kecerobohan adalah untuk orang-orang bodoh. Yang kita tahu, mungkin saja kita telah berada di dalam genggaman musuh. Ingat itu setiap saat.”

“Baik! Saya sudah menancapkannya dalam hati!”

Meskipun Ainz tidak merasa bahwa para dwarf akan melukai orang yang telah menyelamatkan negeri mereka, dia mengulangi itu untuk jaga-jaga.

Apa ini? Respon Shalltear sangat baik sekali hari ini. Apakah ada sesuatu yang telah terjadi?

“Ah, kalau begitu, Yang Mulia... apa yang harus saya lakukan?”

“Hm? Sejujurnya, dengarkan saja kami, Zenberu. Tak perduli apapun yang terjadi, jangan ikut ambil bagian dalam perkelahian apapun.”

Ainz mengangguk saat Zenberu mengindikasikan dia paham.

“Bagus sekali. Kalau begitu – Aura, Shalltear, bisakah kamu memeriksa pakaianku dan melihat apakah ada yang berantakan?”

Prajurit dwarf yang dikirimkan untuk menunjukan jalannya tiba setelah dua orang itu selesai memeriksa pakaian mereka.

***

Ainz ditunjukkan ke dalam sebuah ruangan dimana para dwarf sedang menunggu.

Terlihat gagah dengan pakaian lengkap, Ainz melangkah maju dengan dada membusung. Punggungnya ditegakkan, kepalanya diangkat tinggi-tinggi, dan sikapnya bak seorang raja. Kilauannya yang seperti batu obsidian berasal dari aura di belakangnya bersinar lembut, sebagai ganti dari pengharum. Tentunya tidak ada yang akan menganggap remeh dirinya setelah melakukan semua persiapan ini.

Dia menyimpan tongkat itu – sebagai ganti dari tongkat pendek keluarga kerajaan – di pinggangnya. Tongkat itu disuntik dengan mantra tingkat 1, tapi karena dia tidak ada niat untuk mengaktifkannya, seharusnya tidak ada masalah apapun.

Setelah melihat dirin sendiri dari atas dan bawah, dia merasa pakaian ini entah bagaimana aneh dengan tujuan mencari hubungan pertemanan, tapi Aura dan Shalltear sangat setuju dengan pakaian itu.

Masalahnya adalah mereka berdua menganggap Ainz terlalu tinggi, jadi dia merasa tidak enak dengan mengandalkan pendapat mereka.

Jadi, dia meminta pandangan Zenberu dalam masalah ini.

Setelah agak gelisah – karena ditanya mengenai sesuatu yang ada di luar keahliannya – Zenberu akhirnya mengatakan sesuatu seperti “Pakaian anda tentunya akan membuat kagum siapapun yang melihatnya”. Ainz menerima ucapannya itu dan datang kemari.

Namun, para dwarf yang menemui Ainz menjadi pucat, sikap mereka terlihat sangat gugup. Tentu saja, itu memang adalah reaksi yang tepat kepada seorang raja.

“Mengumumkan tibanya Yang Mulia, Sorcerer King!”

Ainz bisa mendengar dwarf penyiar dari sisi pintu sebaliknya.

Ketika pintu itu terbuka, Ainz masuk ke dalam ruangan tersebut.

Kelihatannya seperti ruang rapat, dan ada delapan dwarf di sana.

Secara tidak sengaja, dia telah mempelajari nama, kedudukan, tampang dan fitur mereka dari panglima tersebut.

Ada High Priest of Earth (Pendeta Bumi tertinggi), yang mengatur semua yang ada hubungannya dengan magic. Dia memegang kekuasaan terhadap para magic caster divine dan arcane.

Ada Forgemaster (Ahli Tempa), yang mengatur seluruh produksi yang dihasilkan dari penempaan.

Ada panglima atau komandan yang membawa mereka kemari. Dia bertanggung jawab terhadap seluruh masalah keamanan dan militer. Dia pernah mengomando banyak prajurit dwarf, tapi kenyataannya sekarang dia hanya memiliki prajurit kurang dari seratus membuat gelar itu lucu.

Ada Direktur produksi makanan, yang mengatur produksi makanan dan industri-industri lain yang tidak ada hubungannya dengan penempaan.

Ada Sekretaris kabinet, yang bertanggung jawab terhadap semua yang ada di luar yurisdiksi para pemimpin lainnya di sini.

Ada Brewmaster (Ahli Anggur), yang ada di dalam dewan ini karena harus ada posisi pimpinan untuk alkohol yang merupakan favorit bagi para dwarf.

Ada juga Penanggung Jawab Gua dan Pertambangan, yang memiliki banyak kekuatan di dalam kota ini karena pengaruhnya terhadap bidang pertambangan dan ekstraksi sumber daya.

Pernah ada organisasi yang disebut Guild para pedagang, namun karena kurangnya perdagangan dan para pedagangnya secara umum, gelar Merchant Guildmaster sekarang adalah posisi yang kosong dalam menangani urusan luar negeri.

Itulah delapan diantaranya.

Perlahan, Ainz menyapu pandangannya ke arah semua orang. Tujuh dari mereka menatap Ainz. Yang terakhir – Panglima itu – terlihat lelah malahan, dan matanya bertemu dengan Ainz.

Ainz pura-pura terlihat tenang, tapi hatinya sedang kacau.

Oi! Aku tak bisa membedakan mereka! Mungkin beberapa diantaranya memiliki janggut yang lebih pendek dari yang lainnya, tapi bukankah semuanya terlihat memiliki panjang yang kurang lebih sama? Apakah dia sudah bohong kepadaku? Tidak, itu pasti cara dia melihatnya. Apa yang harus kulakukan?

Ingatan Zenberu menggambarkan mereka semua memiliki wajah yang identik, dan pada awalnya Ainz mengira itu adalah cara pandang Lizardman kepada mereka yang sama. Ainz bahkan mengira kemampuan Zenberu dalam mengenali wajah perlu dikembangkan. Namun, ternyata bukan seperti itu.

Aku minta maaf sudah meragukanmu, Zenberu. Kamu memang berkata yang sebenarnya selama ini.

Di dunia ini, tidak ada praktak saling tukar kartu nama saat bertemu, kenyataan yang sudah lama disayangkan. Ainz merasakan yang sama hari ini, lalu dia mengumpulkan kekuatannya ke dalam perut.

Selanjutnya adalah sebuah presentasi yang telah dia buat beberapa kali. Yang berbeda adalah saat ini ada dua Guardian di belakangnya dan seorang bawahan dari bawahannya. Dia tidak bisa membiarkan mereka melihat Ainz seperti orang bodoh.

...Andai saja aku tidak membawa mereka bertiga..

Namun, penyesalannya tidak terlihat. Lagipula dadu sudah dilemparkan (The Die had been cast).
(TL Note : Alea iacta est)

Tetap saja – sementara Ainz sedang mempersiapkan diri, tidak ada sedikitpun percakapan yang dimulai. Keheningan tetap tidak terpecahkan selama satu menit penuh setelah kedatangannya.

Apa yang terjadi? Standar pelaksanaan untuk sebuah perusahaan adalah dimulai dengan sang tuan rumah yang memperkenalkan staf-staf mereka, ya kan? Bukankah seharusnya si panglima memperkenalkan kami? ... Atau apakah aku seharusnya membuat gerakan pertama kali? Aku tidak terlalu ahli dalam etiket sopan santun dan aku tidak ingin terlihat kasar.

Menurut sopan santunnya, yang lebih rendah tidak boleh memanggil raja secara langsung. Interaksi langsung membutuhkan semacam izin. Dengan kata lain, raja adalah makhluk yang tak bisa disentuh. Oleh karenanya, jika Ainz yang memulai dialog itu, apakah para dwarf akan meremehkan dirinya?

Setelah melihat ke arah para dwarf, apakah jawabannya ya atau tidak?

Meskipun begitu, aku ragu siapapun akan meremehkanku, melihat situasi negeri ini dan tindakan yang kuambil. Jika itu memang benar-benar terjadi, maka mungkin saja aku akan berkata aku tidak ingin bernegosiasi dengan sekumpulan kerbau seperti mereka.

Setelah membulatkan tekad, Ainz memutuskan membuat sambutannya.

“Saya adalah penguasa Sorcerous Kingdom, Sorcerer King Ainz Ooal Gown.”

Para dwarf tiba-tiba tergerak, seakan mereka disambungkan kembali dengan pencatu daya.

“Kami, kami mengucapkan selamat datang, penguasa Sorcerous Kingdom, Yang Mulia Ainz Ooal Gown. Bolehkan kami persilahkan anda untuk duduk? Ada tempat duduk pula untuk para pengikut Yang Mulia di sebelah sana.”

Ainz mengangguk, lalu dia diantar ke tempat yang dia sebut sebagai tempat ulang tahun bocah. Ainz duduk dengan percaya diri bak raja, dengan gerakan yang telah dia latih berkali-kali. Shalltear, Aura dan Zenberu duduk di belakang Ainz.

“Kalau begitu, kami akan memperkenalkan diri. Pertama, saya adalah negeri ini-“

Dengan demikian, para dwarf memberikan nama-nama mereka.

Pembukaannya seakan berlangsung tanpa ada halangan, tapi Ainz tidak bisa membendung kekhawatirannya.

Dengan hanya menghafalkan delapan nama di dalam otak saja sudah sulit. Menyambungkan masing-masing nama itu dengan gelar serta wajah terbukti sangat menantang.

Nama-nama cukup mudah diingat, tapi menambahkan sebuah gelar ke nama itu membuat Ainz tidak tenang. Gelar seperti (Master Caves and Mines)  Penanggung Jawab terhadap Gua dan tambang atau Penanggung Jawab terhadap Tambang dan gua hanya membuat keadaan tambah runyam.

Meskipun begitu, Ainz berhasil mengingatnya. Dia tidak akan bisa melakukan itu jika dia tidak bertanya tentang mereka kepada Panglima itu sebelum ini.

“Mohon perkenankan kami untuk berterima kasih kepada anda atas nama negeri ini. Tanpa Yang Mulia, negeri ini akan hancur.”

Ucapan itu dikeluarkan oleh Master Caves and Mines. Semua Dwarf yang hadir mengangguk meresponnya.

Para anggota dewan kelihatannya bergantian memimpin, jadi pimpinan kali ini adalah Master Caves and Mines.

“Tidak usah sungkan. Menyelamatkan seseorang dalam keadaan susah adalah hal yang wajar.”

“Yang Mulia benar-benar orang yang baik hati. Kami pasti akan membantu anda sebaik mungkin jika ada masalah yang menimpa anda. Meskipun begitu, saya takut kami tidak bisa melakukan banyak hal untuk membantu orang sehebat anda, yang memimpin pasukan yang menyelamatkan negeri kami dari kepunahan hanya dengan dua orang pasukan itu saja.”

“Bukan seperti itu. Negeri saya memang sangat kuat dalam hal militer. Namun, ada beberapa kekurangan dalam bidang-bidang lain.  Saya akan sangat berterima kasih jika anda bisa memberi bantuan kepada saya dalam aspek-aspek tersebut.”

“Ternyata begitu. Kami akan dengan senang hati melayani Yang Mulia – untuk Sorcerous Kingdom. Namun, sebelum itu, kami harap Yang Mulia mengatakannya kepada kami alasan kunjungan anda ke negeri kami, jika tidak keberatan. Panglima sudah mengatakannya kepada kami, tapi kami ingin mendengar langsung dari anda.”

Master of Caves and Mines memicingkan matanya.

Kami akan melihat semua kebohongan apapun. Tekadnya yang tak tergoyahkan sangat jelas.

Aku tidak bisa mengharapkan mereka semua berbaik hati kepadaku.. Yah, melihat perbedaan dalam hal kekuatan antara negeri kami, siapapun akan berhati-hati.

Hal yang sama berlaku dengan Ainz. Jika guild peringkat atas di dalam Yggdrasil – Seraphim – menawarkan sebuah item kelas dunia (World Class Item) dan meminta negosiasi, Ainz juga akan curiga akan adanya semacam jebakan.

Oleh karena itu, dia tidak membenci reaksi para dwarf tersebut.

“Pertama, saya ingin memulai hubungan pertemanan diantara negeri kita. Lalu, saya ingin melakukan perdagangan.”

“-begitukah.”

“Saya pernah dengar dari salah satu rakyat anda jika makanan pokok kalian adalah jamur dan daging, apakah saya salah? Saya ingat sesuatu tentang ladang di lereng gunung yang menanam sayuran-sayuran segar, tapi kelihatannya jumlah dan keragamannya sangat sedikit. Negeri saya bisa menyuplai sayuran-sayuran segar dan – apakah semangat minuman beralkohol dari kerajaan manusia dan Sorcerous Kingdom menarik bagi anda?”

Topik alkohol membuat mata para dwarf berbinar. Itu adalah reaksi yang sangat jelas.

“Saya juga dengar perdagangan negeri ini dengan negeri manusia di timur, tapi tidak seberapa besar.”

“Memang benar. Lalu lintas perdagangan kami hanya bernilai dua puluh pernak pernik dwarf. Saat ini, kami sedang mengembangkan item-item magic yang bisa memberikan suplai barang dengan jumlah tak terbatas.”

Guildmaster Perdagangan memberikan balasan itu.

“Oh begitu. Apakah benar jika hanya ada beberapa karavan dwarf saja dikarenakan jalanan gunung yang berbahaya?”

“Memang itu masalahnya.”

Dwarf lainnya memberikan jawaban itu.

“Kami tidak bisa membawa banyak barang karena curam dan bahayanya jalanan pegunungan. Ditambah lagi, bergerak dalam kelompok menarik perhatian para monster. Ada banyak monster yang akan menyerang tak perduli jumlah mangsa mereka. Terutama, pengepungan dari udara yang sulit ditangani.”

Memang benar metode perdagangan yang secara konvensional akan membuat usaha besar. Empire hanya melakukan perdagangan terbatas dengan dwarf karena kurangnya keuntungan dalam melakukan itu. Namun, memang karena alasan itulah yang membuat mereka partner berdagang yang sangat menguntungkan untuk Sorcerous Kingdom.

Sayangnya, ekspor yang mencolok yang bisa dibanggakan oleh Sorcerous Kingdom adalah undead mereka. Namun, bagi negeri dwarf, bahkan makanan biasa akan terjual dengan baik.

Partner berdagang yang mengagumkan.

Ainz tersenyum jahat di hatinya saat bertanya.

“Jika memang begitu, maka saya harus mendorong hubungan pertemenan ini lebih jauh dengan saya – dengan Sorcerous Kingdom, jadi kami bisa mengekspor makanan apapun.”

“..Kami belum menanyakan lokasi tepatnya dari Sorcerous Kingdom. Bisakah kami mengekspor barang-barang yang kami jual sendiri kesana?”

“Membuat rakyat negeri kalian menggerakkan muatan sendirian masih sangat berbahaya. Saya merasa negeri saya akan memimpin dalam hal membuat rute perdagangan yang tepat agar orang-orang negeri kalian bisa dengan aman memindahkan barang-barang mereka. Ketika itu sudah terjadi, kereta-kereta barang dan gerobak akan bisa bergerak dengan lancar. Tentu saja, kereta-kereta itu tidak akan ditarik oleh makhluk-makhluk selemah kuda, tapi dengan binatang beban yang lain.”

“Jangan-jangan itu... undead?”

Salah satu dwarf, wajahnya dipenuhi dengan rasa jijik, menanyakan itu.

Ainz teringat dia kelihatannya adalah Forgemaster (Ahli Tempa).

“Tepat sekali. Saya menawarkan kegunaan dari undead untuk menarik kereta, yang memiliki kekuatan untuk mempertahankan diri sendiri dan tak pernah lelah. Mereka pasti akan menjadi alat transportasi yang luar biasa. Sebenarnya, negeri kami sudah memanfaatkan mereka, dan respon dari penduduk juga sangat baik. Ditambah lagi, ada keuntungan lain dari manfaat undead-“

Saat Ainz akan meluncurkan presentasinya yang penuh antusias, Forgemaster kembali menyelanya.

“- Bukankah tidak salah jika undead akan menyerang makhluk hidup?”

Ainz cemberut dalam hati, tapi dia merespon dengan kepercayaan diri yang luar biasa.

“Memang benar banyak orang akan berpikir demikian tentang makhluk undead kebanyakan. Dan sejujurnya, itu memang benar. Undead adalah makhluk yang membenci dan menyerang makhluk hidup. Namun!”

Ainz memberikan tekanan tertentu pada kalimat itu.

“Di bawah otoritas absolut saya , undead dari Sorcerous Kingdom tidak akan memberikan masalah apapun kepada anda. Anda boleh tenang mengetahui hal itu.”

Mulut Forgemaster melengkung membentuk へ. Kelihatannya dia tidak percaya Ainz sama sekali.

Dia pasti memiliki pengalaman buruk dimana undead membantai keluarganya, atau semacam itu. Saat Ainz merenungkan kemungkinan itu, dia memainkan salah satu kartu asnya.

“Ditambah lagi, negeri saya bisa menyediakan tenaga kerja.”

“Tenaga kerja?”

“Selama perjalanan saya, saya telah berbicara dengan salah satu rakyat anda yang telah saya selamatkan dari Quagoa-“

Ainz tidak melakukan itu dengan sengaja, tapi itu murni sebuah kebetulan, jadi dia memutuskan untuk melakukannya sebagai budi baik.

“-Dan saya dengar pekerjaan yang berlangsugn di tambang negeri anda. Memang benar itu adalah pekerjaan dari para penambang dwarf, undead bisa menanganinya untuk anda.”

“Apa? Bisakah mereka benar-benar melakukan itu?”

Mata dari Master of Caves and Mines melebar, setelah memakan umpan itu.

“Tentu saja. Saya telah melakukan percobaan ini di negeri manusia, dan berhasil. Kenyataannya, pemilik tambang yang menyewa mereka bahkan meminta tambahan penambang undead.”

Dia telah mendengar tentang ini dari Albedo ketika Ainz mengirimkan [Message] karena khawatir kepadanya, jadi itu bukanlah kebohongan.

“Jadi anda telah melakukan hal semacam itu di negeri manusia...”

Master of Caves and Mines bergumam takjub.

“Kelihatannya negeri anda sangat familiar dengan karakteristik spesial dari undead...”

“Mm, yah, kami memang tahu dengan sifat-sifat mereka yang umum...”

Ainz menaikkan suaranya untuk ditujukan kepada High Priest of Earth (Pendeta Bumi Tertinggi).

“Kalau begitu, saya percaya tidak perlu lagi menguraikan bagaimana undead bisa membuat tenaga kerja yang mengagumkan?”

Para dwarf saling bertukar tatapan, dan mulai berbicara satu sama lain.

“Ucapan Yang Mulia bisa dimengerti. Jika kita bisa mengendalikan undead dengan aman...”

“Mampu mengalokasikan kembali tenaga kerja ke dalam pertambangan adalah penawaran yang sangat menarik.”

“Namun...”

Kata “Namun” itu mungkin diikuti dengan keraguan apakah mereka benar-benar bisa mempercayai undead. Memang wajar mereka merasa gundah dengan metode yang berbeda dari cara yang bisa mereka lakukan hingga sekarang.

Pada akhirnya, ini hanyalah publisitas dari produk-produk perusahaannya, dan bukan usaha serius untuk menutup penjualan. Tentu saja, jika mereka bisa menerima tenaga kerja undead, itu akan membuat Ainz senang.

“Yah, saya hanya ingin berkata bahwa saya bisa menyediakan tenaga kerja seperti itu. Saya mengerti kekhawatiran anda terhadap undead-“

“-Yang Mulia, saya ingin bertanya tentang undead sebelum itu. Bisakah kami membeli mereka sebagai pasukan bertahan?”

Pertanyaan Panglima itu mengirimkan cacian kepada para dwarf.

“Panglima, terlalu riskan mengandalkan kekuatan militer negeri lain untuk menjaga perdamaian!”

“Aku tahu itu. Namun, undead dari Sorcerous Kingdom luar biasa kuat. Dengan adanya mereka, kita tidak perlu takut lagi kepada serangan Quagoa. Ada banyak keuntungan membeli mereka sebagai barisan pertahanan terakhir. Hal yang paling penting, yang perlu kita semua pertimbangkan, adalah keamanan negeri kita. Sekarang kita telah kehilangan benteng, kita perlu kekuatan, lebih dari apapun.”

“Meskipun begitu, bukankah lebih berbahaya membuat tangan dari negeri lain berada di sekitar tenggorakan kita?!”

“Aku sudah bilang padamu, sekarang bukan waktunya berbicara hal semacam itu!”

Forgemaster dan Panglima itu saling menatap satu sama lain.

“...Kita akan tinggalkan itu. Ucapan itu akan disimpan untuk saat hanya ada kita. Ini bukanlah sesuatu yang seharusnya dikatakan di depan Yang Mulia, yang sudah datang jauh-jauh kemari dari kerajaan beliau. Maafkan kejanggalan ini, Yang Mulia. Konflik ini disebabkan oleh penawaran Yang Mulia yang memang sangat menarik, dan kami akan sangat berterima kasih jika anda membiarkan ini berlalu. -Kalau begitu, bolehkah saya tahu apa yang diingkan oleh Yang Mulia dari negeri ini? Saya merasa kami jelas tidak punya apapun yang bisa ditawarkan.”

“Tentu saja tidak. Pertama, saya menginginkan bijih tambang. Cadangan negeri saya terbatas.”

“-Oh begitu,” Merchant Guildmaster tersenyum. “Jadi itu alasannya mengapa anda menawarkan tenaga kerja undead. Jika kita bisa mengeruk mineral dalam jumlah besar, maka akan ada jumlah kelebihan yang besar. Dengan kata lain, anda ingin menjaga harga bjih tambang tetap rendah, Begitukah?”

Ainz tidak berpikir sejauh itu, tapi Ainz mengangguk dan pura-pura memang begitu.

“Memang benar. Anda sudah bisa menebak saya.”

Tidak heran, para dwarf berpikir saat pemahaman menyadarkan mereka.

“Dan juga, saya menginginkan senjata dan armor yang dibuat oleh para penempa negeri anda. Saya dengar perlengkapan tempur dwarf memiliki kualitas yang patut dicontoh.”

Semua orang yang Ainz tanyakan tentang topik ini setuju jika ini adalah fakta yang tidak terbantahkan.

Namun, senjata-senjata dan armor yang diproses lebih mahal. Jika mereka membelinya dari para dwarf, maka penempat armor dan senjata akan menjadi lebih sedikit di dalam Sorcerous Kingdom. Jika ada perbedaan teknologi yang jelas antara dua negara, akan lebih baik mengembangkan teknologi negeri sendiri daripada mengambil tindakan bodoh dengan membeli senjata dan armor yang lebih unggul dalam jumlah besar.

Namun, jika tidak ada kompetisi, para penempat di dalam Sorcerous Kingdom tidak akan mengasah kemampuan mereka. Senata dan armor yang dibeli dari para dwarf mungkin berfungsi sebagai stimulus positif untuk itu.

Tentu saja, ada banyak cara untuk menangani ini, seperti dengan mengambil tarif dan semacamnya. Harus bisa memastikan mengambil keuntungan dari para dwarf dan tidak mengimpor terus-terusan dari mereka, diantara hal-hal memusingkan lainnya.

Jawaban yang sederhana adalah menyerahkan semua ini kepada Albedo dan Demiurge. Namun, Ainz, memiliki pertimbangkan sendiri pula.

Rencana Ainz adalah membatasi penjualan keada Guild Petualang yang baru saja didirikan, atau menyewakannya kepada para petualang.

Harga yang rendah akan sangat menarik bagi para petualang, dan menjaga mereka tetap hidup juga memberikan keuntungan kepada Sorcerous Kingdom. Jika mereka bisa menjual barang lama dengan harga rendah, mungkin mereka bisa meningkatkan tingkat keselamatan rata-rata dari para petualang di saat yang bersamaan.

“Sementara kami belum berterima kasih kepada Yang Mulia setelah berbagi tentang semua ini kepada kami, ada pertanyaan yang tidak bisa kami jawab secara langsung, khususnya dalam hal perlengkapan tempur. Bisakah anda memberi kami waktu untuk mendiskusikan ini?”

“Tentu saja. Diskusikan hal ini hingga bertemu dengan titik temu. Saya tidak akan marah meskipun kita tidak bisa langsung memulai perdagangan. Bawahan saya sendiri sudah dilengkapi dengan perlengkapan yang sangat tinggi. Saya hanya ingin mendapatkan senjata dan armor untuk rakyat saya.”

Baiklah, pikir Ainz.

Ini adalah momen yang krusial. Ini adalah waktunya untuk menyelesaikan tujuannya datang ke kota ini.

“Bisakah kita diskusikan masalah Quagoa?”

Ketegangan langsung memenuhi suasana.

“Respon terhadap serangan Quagoa hanyalah keputusan secara pribadi. Apakah itu benar, panglima?”

“Memang benar.”

“Namun, apa yang akan terjadi jika saya tidak ada di sini?”

“Jika Yang Mulia tidak ada, kami hanya akan mengandalkan satu-satunya gerbang itu untuk menahan laju musuh. Ketika gerbang itu sudah bisa ditembus, kami harus menggerakkan para penduduk untuk melakukan pertempuran penentuan di dalam kota agar bisa mengulur waktu supaya anak-anak bisa kabur. Saya membayangkan itulah yang akan terjadi.”

Semua dwarf mengeluarkan ekspresi pahit di wajah.

Mungkin karena laporan sebelumnya dari sang panglima, tapi tidak adanya keberatan atau argumen untuk melawan sudah cukup menjelaskannya kepada semua orang yang ada di sini.

Tidak ada orang yang hadir di sini yang terdorong oleh idealisme, emosi atau kepentingan pribadi. Jika ada orang seperti itu di sini, terutama jika mereka memiliki otoritas atau pengaruh, mereka akan menyia-nyiakan waktu bahkan sebelum selesainya masalah yang paling dasar, mengobrol hingga rapat ini berakhir. Kenyataannya bahwa tidak ada orang seperti itu di sini layak dipuji.

“Kalau begitu, tolong jelaskan kepada saya lebih detilnya. Apa yang diperlukan untuk pertempuran menentukan ini?”

“Sulit untuk menjawab hal itu karena kami tidak tahu kekuatan tempur penuh dari musuh. Namun – dengan berasumsi ada 1000 Quagoa – kami akan berada dalam keadaan yang sangat berbahaya. Mementalkan mereka akan sangat sulit, dan yang bisa kami dapatkan adalah melemahkan negeri kami karena hilangnya sumber daya dan tenaga.”

Mengapa akhrnya berakhir seperti ini, panglima tersebut bergumam.

Mungkin karena benteng di Great Rift terlalu kuat. Para dwarf menjadi semakin arogan, percaya “tidak apa selama kita masih memilikinya”.

Ainz merasa seperti ini pula.

Dia telah merasakan buah yang pahit dari kecerobohan dalam bentuk Shalltear.

“Jika saya kami hanya memiliki satu kartu as, ketika sudah dikalahkan, maka kami akan berakhir. Jadi, kami merasa perlu kartu as lain, dalam bentuk kekuatan Yang Mulia.”

Ainz mengangkat tangannya untuk mendiamkan dwarf tersebut, yang kelihatannya akan berbicara. Panglima itu mungkin telah memegang tali pelana dari percakapan ini, tapi Ainz masih belum selesai biara.

“Quagoa telah dipukul mundur untuk sementara, tapi Feoh Gēr masih belum aman. Itulah pendapatkan.”

Ekspresi di wajah para dwarf menjadi masam berbarengan.

Setelah memastiakn jika semua orang sangat paham dengan poin sebelumnya, Ainz memutuskan untuk mengambil momen ini dan bicara.

“Tanpa saya, akan sangat sulit untuk memukul mundur serangan Quagoa selanjutnya. Bahkan untuk orang seperti saya, kehancuran sebuah negeri yang akan menjadi mitra dagang adalah hal yang sangat menyusahkan. Bagaimana menurut anda? Apakah anda tidak akan memanfaat kekuatan saya? Melihat kekuatan negeri saya, saya bisa menjamin negeri anda tidak akan diserang untuk sementara.. Ya. Contohnya saya yakin saya bisa membantu mengambil alih kembali sarang Quagoa itu, bekas ibukota kerajaan dwarf.”

Suasana disana serasa gemetar.

Ini adalah reaksi baru sepenuhnya.

Master of Caves and Mines menjilat lidahnya.

“Yang Mulia, maksud anda hal semacam itu akan memungkinkan?”

“Jika aku mempersiapkannya, tentu saja.”

Forgemaster melipat tangannya di depan Ainz lalu menatapnya.

“...Itu kelihatannya jauh sangat idealistik. Mengapa anda memberikan bantuan sebanyak itu kepada kami? Apa yang anda inginkan dari kami?”

“Oi, kamu sudah berkata terlalu banyak.”

Forgemaster mendengus dengan perkataan rekannya.

“Itu seperti melambaikan sebuah botol wine yang bagus di depan orang asing. Apakah kalian pikir tidak ada benang yang terikat padanya?”

“Ngg!”

“Sebuah pertanyaan yang sangat beralasan. Kalau begitu biar kuperjelas kepadamu. Salah satu alasannya adalah karena saya yakin akan lebih membentuk hubungan diplomatik dengan negeri kalian daripada Quagoa. Saya yakin anda sekalian dari negeri ini bisa memahami konsep akal sehat dan hutang budi, sehingga anda sekalian akan berhutang budi kepada saya. Sekarang – pertimbangkan pihak yang akan menang, dan pihak yang akan kalah. Siapa yang akan lebih berterima kasih jika saya meminjamkan kekuatan?”

“Mm. Memang benar.”

“Ditambah lagi, saya ingin hutang ini dibayang bukan dengan kata-kata, tapi dengan sebuah materi. Ini menuju kepada alasan lain.”

“Oh begitu, jadi tentang pembayaran. Kalau begitu, apakah anda menginginkan emas, atau logam langka, atau bijih tambang eksotik? Atau apakah anda menginginkan hak tambang pula?”

Tentu saja. Ainz ingin berkata demikian, tapi dia menelan ucapan itu dan menahan hasrat untuk mengucapkannya.

“Tidak, saya menginginkan sesuatu yang berbeda. Saya ingin merekrut runesmith dari negeri ini ke negeri saya.”

Para dwarf mengedipkan mata secara serentak.

“Apa? Apakah itu terlalu sulit dipahami?”
「为啥?这话又有些难以理解了哦?」

Forgemaster mengerutkan dahi semakin dalam daripada yang lainnya.

“... Itu karena senjata dan armor dengan rune sangat langka di dalam negeri-negeri tetangga Sorcerous Kingdom. Saya melihatnya sebagai benda yang sangat berharga. Dengan kata lain, mereka sangat bernilai. Oleh karenanya, saya ingin merekrut runesmith dan membuat mereka menghasilkan perlengkapan tempur runecraft (kerajinan berdasarkan rune/tulisan kuno) di negeri saya.”

Apakah anda akan menjadikan mereka sebagai budak?”

Ainz menghela nafas berlebihan dan keras kepada Forgemaster.

“Saya tidak akan melakukan hal semacam itu. Apakah anda tidak mendengarkan ucapan saya? Saya bilang saya ingin membuka ikatan internasional dan memulai perdagangan? Apakah anda benar-benar berpikir saya akan mengambil orang-orang dari negerti partner sebagai budak?... Sejujurnya, saya sedikit kecewa. Yang saya inginkan adalah merekrut runesmith dan membuat mereka menghasilkan perlengkapan rune di negeri saya.”

“Kalau begitu, bagaimana jika kami memberi anda prioritas tinggi dalam penjualan perlengkapan kerajinan rune?”

“... Tidak. Itu tidak akan setara dengan investasinya. Jika anda ingin menggunakan kekuatan saya, maka anda harus biarkan para runesmith bekerja di dalam Sorcerous Kingdom dan membiarkan kami membentuk sebuah monopoli dalam hal penjualan produk mereka. Itulah yang diinginkan oleh negeri syaa dan itu adalah harga untuk mengambil alih kembali bekas ibukota kalian. Kapan kalian bisa memberi jawaban kepada saya?”

Para dwarf saling melihat satu sama lain.

“Ternyata begitu. Mungkin besok-“

“Itu mungkin sedikit menyusahkan,” panglima itu menyela. “Jangan lupa kota ini masih dalam keadaan bahaya oleh serangan dari Quagoa. Meskipun jika Yang Mulia menerima tugas mengalahkan Quagoa, akan butuh waktu bagi beliau mengumpulkan pasukan. Dengan memikirkan hal itu, kita tidak bisa menunggu hingga hari esok. Kita harus memberikan jawaban kepada beliau sekarang juga.”

Ainz terlihat ke arah para dwarf.

“Bukan tempat saya bicara di sini. Namun, jika anda benar-benar dalam keadaan yang sangat berbahaya, maka dengan membuat saya memenuhi janji sebelumnya juga akan sangat menyusahkan. Jika situasinya menjadi sangat buruk, maka saya harus menambahkan beberapa kondisi lagi. Lagipula, seseorang harus mengharapkan pembayaran untuk pekerjaan tambahan itu.”

“Mm. Panglima memang benar, dan ucapan Yang Mulia juga sangat beralasan. Kalau begitu, Yang Mulia, kami minta maaf sudah mengganggu, bisakah anda menunggu kami di dalam ruangan sebelumnya? Kami ingin mendapatkan kesimpulan secepat mungkin.”

“Saya tidak keberatan dengan hal itu. Saya akan menunggu di sana kalau begitu.”

Dengan demikian. Ainz pun bangkit, dan meninggalkan ruangan tersebut dengan ditemani oleh para bawahannya.

***

Ruangan tersebut masih diselimuti oleh keheningan setelah kepergian Sorcerer King. Segera setelahnya, seseorang menghela nafas, lalu membuyarkan ketegangan yang menggantung di udara.

“Apa, Apa itu tadi?!”

“Itu adalah monster yang tidak bisa dipercaya! Panglima, monster itu membuat buluku berdiri. Tidak diragukan lagi dengan kengerian yang dia pimpin.”

“Aku hampir mengira akan kencing di celana!”

Para dwarf tersebut semuanya berteriak. Mereka menumpahkan semua yang membuat tegang saraf mereka.

“Apa yang harus kita lakukan? Dia adalah inkarnasi iblis. Meskipun ada satu saja yang dia katakan memang benar, itu masih membuatku ketakutan.”

“Bagaimana bisa seseorang memancakan sebuah cahaya kejam seperti itu adalah makhluk baik hati? Lihatlah, berapa banyak makhluk hidup yang telah dia bunuh hingga saat ini?”

“Mmm. Dia pasti sudah mengambil banyak nyawa sampai-sampai sudah tidak ingat lagi semuanya. Dan tidak kukira wajah yang membuat tulang belakang menggigil itu benar-benar bisa mengeluarkan kalimat-kalimat yang terdengar biasa.”

“Dia pasti sedang mengumpulkan perlengkapan untuk suatu penyerbuan besar-besaran. Untuk pasukan kegelapannya!”

“Dan juga, aku benci betapa mudahnya dia memahami dan setuju. Dia terasa seperti para iblis yang akan mencuri jiwa-jiwa dengan kontrak.”

Mereka sepakat untuk menolak tawaran Sorcerer King. Sebagian besar dari mereka setuju jika ucapan undead tidak bisa dipercaya.

“Namun, tawaran yang mulia sangat menarik untuk negeri ini. Sejak awal, negeri kita akan hancur jika kita tidak melakukan sesuatu dengan Quagoa. Ditambah lagi, Sorcerer King adalah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan kita.”

Panglima itu adalah satu-satunya suara yang menolak.

Ucapannya membuat dwarf-dwarf lain terlihat seperti sedang mengunyah ulat yang pahit.

“Biar kupastikan lagi. Apakah tidak ada cara yang bisa kita lakukan dengan Quagoa menggunakan kekuatan kita sendiri?”

“Tidak ada. Dengan bantuan Sorcerer King kita mungkin bisa mengambil kembali benteng itu, tapi ada terlalu banyak hal yang harus kita lakukan. Sekarang ini, yang bisa kita harapkan adalah mengambil alih benteng kembali. Jika saja Yang Mulia tidak datang kemari, Quagoa itu mungkin akan membanjiri dalam kota sekarang.”

“Jika Sorcerer King berbicara yang sebenarnya, maka benar adanya Quagoa di dalam Feoh Raiđō pula.”

Para dwarf mencengkeram kepala mereka.

“... Bagaimana kalau kita pinjam kekuatan Sorcerer King lalu pura-pura tidak tahu tentang itu?”

“Itu hanya akan membuat marah monster tersebut. Bahkan aku sendiri tidak akan senang berada pada posisinya. Lagipula, kita akan menjadi orang yang hanya peduli meminjam kekuatan untuk keuntungan sendiri dan tidak dengan yang lainnya.”

“Tetap saja, waktunya terlalu sangat kebetulan. Apakah jangan-jangan Sorcerer King yang mengatur semua ini di balik layar?”

“Kemungkinan itu sangat besar, tapi kita tidak punya bukti. Yang bisa kita lakukan hanya menebak.”

“Hal yang paling penting di sini adalah Sorcerer King telah memililh kita bukan Quagoa. Jika kita membuatnya tidak senang, kita seperti memakai jerat di leher sendiri. Mencoba menyelidikinya juga hanya mengundang bahaya.”

“...Apakah Sorcerer King minum-minum?”

“Apakah kamu kira dia bisa minum?... Kurasa aku tidak bisa percaya kepada orang yang tidak minum sama sekali.”

“Tetap saja...”

Di sini Merchant Guildmaster yang daritadi terdiam berbicara.

“Aku yakin kita semua setuju dengan apa yang dikatakan oleh Sorcerer King. Memang masuk akal. Aku akan melakukan hal yang sama di posisinya, memilih dwarf daripada Quagoa.”

Jika dia memimpin sebuah pasukan yang bisa dengan mudah membinasakan Quagoa, maka membantu Quagoa membunuh para dwarf tidak akan memberinya banyak keuntungan.

“Dia bilang dia ingin meminjamkan para pekerja undeadnya kepada kita. Bukankah mengambil alih tambang itu sendiri lebih menguntungkan?”

“yah, tidak ada gunanya membuat kita sebagai budak.. Disamping itu, kita yang lebih tahu dengan pegunungan ini, ya kan?”

“Oh begitu. Itu memang sangat memungkinkan. Dia merasa menjelajahi tambang itu sendiri akan sangat menyusahkan, jadi dia biarkan kita menggali bijih logamnya. Jadi dia akan memberi kita tali kekang yang manis untuk menyenangkan kita, ya kan?”

“...Tetap saja, setelah bicara dengan Sorcerer King, aku merasa semua itu akan baik-baik saja selama kita menjadi partner dagang dengannya. Dengan kata lain dia tidak berniat mengeksploitasi kita dengan transaksi-transaksi yang berat sebelah?”

“Kalau begitu, aku bisa memahami mengapa dia menawarkan persyaratan yang sangat baik itu. Tetap saja, bukankah tidak apa setuju dengan penawarannya?”

“Mengapa kamu bilang begitu?”

“Karena kita bisa saling membantu. Selama Sorcerer King menginginkan bijih tambang, dia akan melindungi kita. Kita bisa menganggap Sorcerer King sebagai seorang tentara bayaran dengan sebuah nafsu yang besar terhadap wine, begitulah.”

Pendapat yang umum telah berubah dari “menghadapinya adalah bahaya” menjadi “kita akan menjadi aman selama kita memiliki nilai”. Namun, selama perubahan ini, satu dwarf berbicara dengan dingin.

“..Apakah kalian semua berniat menjadi bawahan dari makhluk undead itu?”

Semua mata tertuju kepada pria yang dengan kukuh menolak Ainz sejak awal – Forgemaster (Ahli Tempa).

“Bukan masalah baik atau jahat. Sekarang ini, negeri kita sedang dalam bahaya untuk bisa selamat. Jika kita tidak melakukan sesuatu dengan Quagoa itu, kita pasti akan hancur.”

“...Dan kekuatan kita sendirian saja tidak bisa mengalahkan Quagoa.”

“Kalau begitu, bagaimana kalau meminta bantuan Empire? Kita sudah bertransaksi dengan mereka bertahun-tahun. Bukankah itu lebih aman? Kita tidak tahu apapun dengan Sorcerous Kingdom.”

“Meskipun kita meminta bantuan Empire, mereka tidak akan bertahan menghadapi Quagoa. Mereka adalah lawan yang tangguh bagi siapapun yang menggunakan senjata. Hal yang terpenting adalah bahwa manusia bahkan tidak bisa melihat dalam kegelapan dan mereka tidak cocok dengan pertarungan di bawah tanah. Mungkin saja mereka bisa memiliki peluang untuk memancing Quagoa ke permukaan, kita tidak punya cara melakukannya.”

“Kalau begitu bertransaksi dengan Sorcerous Kingdom adalah satu-satunya pilihan. Bagaimanapun, kita akan mulai minta bantuan, dan menyerahkan perjanjiannya nanti setelah kita melihat sendiri Sorcerous Kingdom. Bagaimana menurutmu?”

“Itu mungkin adalah cara yang paling aman dalam melakukannya. Tetap saja, kita akan melakukan bisnis dengan mereka yang mengalahkan Quagoa, ya kan? Kalau begitu, jika kita tidak membuat transaksi dengan mereka, kita akan harus membayar layanan yang sudah diberikan, ya kan?.. Aku bahkan tidak ingin memikirkan sebesar apa harganya setelah menyelamatkan sebuah negeri.”

Para dwarf itu berwajah masam.

“Kurasa satu-satunya cara untuk menyelamatkan negeri adalah menerima tawarannya. Itu artinya kita akan mengandalkan kekuatan Sorcerer King untuk beberapa dekade selanjutnya.”

Ditengah bisikan setuju, Master of Caves and Mines membisikkan sesuatu seperti, “Menggunakan tenaga kerja undead berarti kita akan bisa terus bekerja selama dekade itu,” tapi tak ada yang terlalu memperhatikannya. Itu karena ada pernyataan lain yang menarik telinga mereka.

“Kalian kelihatannya sudah lupa sesuatu yang penting. Aku menolaknya. Aku takkan pernah membiarkan orang-orang kita pergi dan menjadi budak!”

“Budak!”

“Para runesmith!”

“Sorcerer King sendiri sudah bilang mereka tidak akan menjadi budak, ya kan?”

“Benarkah?! Apakah kamu benar-benar percaya dengan apa yang dia katakan?!”

Setelah diomeli, dwarf yang bertanya itu menundukkan kepalanya.

“Oi, dengar. Kita tidak bisa menyingkirkan hal itu.”

Meskipun jika semua yang diucapkan Sorcerer King adalah kenyataan, siapapun yang tahu undead membenci manusia tidak akan bisa mempercayai itu.

“Kalau begitu sandera?”

“Tidak, tidak perlu baginya untuk menyebutkan dengan detil para runesmith, jika begitu. Dia bisa saja dengan mudah menyebutkan permintaan terhadap anggota keluarga kita sebagai gantinya.”

“Kalau begitu, bisakah kita menolak masalah runesmith tapi meminta hal lain sebagai pembayarannya?”

“...Apakah ada harta yang mungkin bisa merubah pikirannya?”

“Tidak. Meskipun, jika kita mengambil alih kembali ibukota dan harga di dalamnya tidak tersentuh, kita mungkin bisa membayar dengan isinya.”

‘Tidak, dia tidak akan menerima itu. Kita akan memerlukan kekuatannya untuk mengambil alih kembali ibukota kerajaan, ya kan? Jika kita memberikan itu kepadanya dalam hal itu, apa yang akan kita katakan ketika dia bertanya kepada kita, ‘Apakah kalian mengambil harta karun dari ruang penyimpanan kota yang aku ambil alih kembali untukmu?’ Apakah kamu kira itu akan menjadi tawaran yang bagus jika kamu berada di posisinya?”

“...Sejujurnya. Kurasa tidak apa jika kita terima saja semua syarat darinya.”

Forgemaster melotot ke arah Merchant Guildmaster.

“-Budak!!”

“Itu hanya pendapatmu! Sorcerer King sendiri sudah bilang dia tidak akan membuat mereka menjadi budak! Yang kita perlukan adalah mengirim orang kesana untuk memastikan, ya kan? Dan yang paling terpenting... Mungkin ini agak sedikit keterlaluan... Runecraft adalah teknologi kuno. Mungkin saja teknologi itu hilang suatu waktu, kurasa tidak ada masalah menyerahkan teknologi itu kepadanya. Sangat murah daripada yang kita dapatkan, ya kan?”

“Tapi kita akan kehilangan seluruh cabang teknologi kita itu, ya kan?”

“Tetap saja, bukankah sekarang adalah waktu terbaik untuk menjualnya, benar kan?”

“Aku menolaknya!!”

Gelembung-gelembung terbentuk di sudut bibir Forgemaster saat dia berteriak.

“Apakah itu adalah hasil dari logika dan bukan emosi? Kelihatannya tidak seperti itu bagiku.”

“Aku tidak tahu mengapa kalian semua begitu percaya sekali kepada Sorcerer King!!”

Saat itu, panglima tersebut berbicara dengan nada yang dingin. Setelah menghadapi sendiri Quagoa dalam pertempuran, dia tahu situasi kota ini lebih baik dari siapapun. Oleh karenanya, dia tidak ingin membuang-buang waktu dengan percakapan yang tidak berguna dan berdiri sebagai pengamat saja, tapi akhirnya dia sudah sampai batasnya.

“Kepercayaan dipinggirkan dahulu, kota ini pasti akan hancur jika kita tidak meminjam kekuatan Sorcerer King. Apa yang kamu lakukan adalah membuang satu tali penyelamat yang kita miliki.”

“Apa kamu bilang, dasar congkak?!”

“Aku bertanggung jawab terhadap militer kota ini. Dan aku bilang satu-satunya cara agar kita bisa menyelamatkan kota adalah dengan kekuatan Yang Mulia! Apakah kamu ingin menghancurkan kota ini? Jika tidak, berikan aku sebuah cara untuk mengalahkan Quagoa tanpa menggunakan kekuatannya! Dasar tua bangka!”

“Kamu! Kamu daritadi memanggil monster itu Yang Mulia sejak menapakkan kakimu ke dalam ruangan ini! Apakah kamu sudah mengkhianati negeri ini?!”

Forgemaster itu mencengkeram kerah baju si panglima.

“Omong kosong macam apa itu, dasar orangtua busuk? Kamu ingin bertarung?! Memang wajar memanggil orang berkekuatan seperti itu dengan sikap hormat! Kamulah yang tidak bisa dipercaya! Dia bisa dengan mudah melumat negeri ini tahu! Jika kamu bilang aku mengkhianati negeri ini, maka kalian semua telah membahayakan keselamatan rakyat!”

Panglima itu juga mencengkeram kerah baju Forgemaster, dan dahi mereka bertatapan.

“Oi! Itu adalah satu hal yang belum disetujui, tapi jangan bertengkar!”

Dwarf-dwarf lain cepat-cepat berdiri untuk memisahkan mereka berdua.

Namun, keduanya masih saling menatap satu sama lain, seakan mereka berdiap untuk ronde dua.

“Kalau begitu, mari kita ambil suara. Jika ada yang tidak setuju, kita akan diskusikan lagi nanti. Itu akan lebih membangun daripada adu jotos.”

“Votingnya tentang apa?”

“Pertama, apakah kita akan membiarkan runesmith pergi ke Sorcerous Kingdom agar bisa memanfaatkan kekuatan Sorcerer King. Yang setuju, angkat tangan kalian.”

Semuanya kecuali Forgemaster mengangkat tangan mereka.

“Mm. Kalau begitu, yang selanjutnya. Apakah kita ingin membentuk hubungan dengan Sorcerous Kingdom dan mulai berdagang? Yang setuju, angkat tangan kalian.”

Hasilnya sama seperti sebelumnya.

“Ok kalau begitu, voting mengenai Sorcerer King – Yang Mulia sudah diputuskan. Maaf Panglima, bisakah anda memanggil Yang Mulia kembali kesini sekarang.”

Part 2

Ainz dan kelompoknya sekali lagi diundang ke ruang dewan. Setelah masuk, mereka melihat seorang dwarf yang tidak puas sementara yang lainnya penuh dengan tanda positif. Panglima juga kelihatannya sangat tenang.

Dengan kata lain, semuanya berkembang seperti yang Ainz harapkan. Ainz tersenyum di dalam hati.

“Mohon maafkan kami karena sudah membuat anda terus bolak balik. Setelah kami berdiskusi, sudah diputuskan untuk berjalan sesuatu dengan yang diingkan oleh Yang Mulia. Pada awalnya, kami akan menyerahkan diri kepada kebaikan hati Yang Mulia dengan masalah penempatan pasukan. Setelah itu, kami akan membuka hubungan diplomatik dan mulai berdagang dengan negeri Yang Mulia. Meskipun begitu, Sifat perdagangan dan metode transaksinya akan dinegosiasikan lebih jauh di luar rinciannya.”

“Tentu saja. Bagaimanapun juga, saya akan cepat-cepat menyediakan kekuatam tempur yang anda butuhkan untuk mengambil alih kembali benteng tersebut dan mengganggu serangan Quagoa lebih jauh. Saya akan mengirimkan seorang perwakilan kemari untuk menangani poin-poin hubungan internasional dalam beberapa hari, dimana nantinya kalian bisa mendiskusikan masalah itu dengan panjang lebar.”


Ainz menghela nafas lega.

Dia harus menyerahkan tugas seperti ini – yang membutuhkan pengetahuan yang relevan – kepada Albedo. Untungnya, mereka tidak bersikeras menanyakan detilnya di sini.

“Kalau begitu, tentang masalah harga yang Yang Mulia minta untuk mengambil kembali ibukota kerajaan; pengiriman runesmith kami ke Sorcerous Kingdom. Kami akan serahkan itu kepada anda. Namun, kami ingin mengirimkan kelompok inspeksi ke Sorcerous Kingdom untuk melihat bagaimana saudara kami diperlakukan, dan untuk memastikan kesejahteraan mereka. Bolehkah kami mendapatkan izin anda untuk itu?”

“Tentu saja. Sorcerous Kingdom akan menerima tanya jawab apapun dari petugas inspeksi itu.”

Para dwarf terlihat lebih lega sekarang.

Apakah emreka ingin melakukan inspeksi tempat kerja? Lebih tepatnya, mereka lebih ingin melihat apakah Sorcerous Kingdom menepati perjanjian tenaga kerja antara dua negara yang ada di pihaknya.

Terutama, kontrak-kontrak tenaga kerja tak pernah ditepati. Namun, aku bersumpah aku tidak akan biarkan siapapun berakhir seperti Herohero-san. Aku harus membuat sebuah kontrak dengan persyaratan yang dihormati oleh para dwarf, biarkan para runesmith fokus pada pengembangan dan semacamnya, diantara lain-lainnya.

Ainz mengangguk kepada para dwaf dan kekhawatiran mereka terhadap rekan-rekan mereka.

Tidak, semua ini berkat Quagoa. Situasi ini datang karena mereka akan menguasai benteng tersebut. Jika mereka tidak mengambil waktu kali ini untuk menyerang negeri dwarf, peristiwa tersebut tidak akan berlangsung dengan lancar. Membuat pertunjukan perekrutan untuk para runesmith akan memakan banyak waktu dan tenaga. Aku hampir merasa kasihan terhadap pembantaian Quagoa sekarang...

Lagipula, satu peristiwa baik layak mendapatkan yang lainnya.

“kalau begitu, kapan Yang Mulia berniat untuk memulai perebutan kembali ibukota Dwarven Kingdom?”

“Umu... Sesegera mungkin.”

Memang kelihatannya Quagoa yang telah mengalahkan Death Knight adalah seorang pemain Yggdrasil, dia tidakbisa mengesampingkan hubungan itu sepenuhnya. Ainz harus memastikan ini sesegera mungkin.

“Kalau begitu kami akan menyerahkan diri kami ke tangan anda yang mumpuni, bisa mengambil kembali Feoh Berkanan itu seperti sebuah mimpi yang jadi nyata. Saya yakin orang-orang tertentu akan senang dengan kekuatan tak tertandingi dari Yang Mulia. Mungkin ini terdengar agak dipaksakan, tapi mereka memang datangnya dari hati.”

Dengan kata lain, jika aku tidak mengambil alih kembali ibukota, hubungan internasional akan menjadi sangat rumit. Bukannya mereka hendah memaksaku, tapi kedengarannya agak egois.

“Kalau begitu, saya akan mempercepat persiapannya,” Ainz mengangguk. Lalu, dia kepikiran sesuatu.

“Oh ya, saya punya sebuah permintaan. Saya tidak tahu apakah anda keberatan.”

“Apa, permintaan macam apa itu, Yang Mulia?”

Para dwarf bertanya dengan gugup. Ainz bingung dengan sikap mereka yang ketakutan. Dia tidak mengatakan apapun yang harusnya membuat mereka takut. Masih khawatir apakah dia sudah melakukan sesuatu yang aneh, Ainz bertanya:

“Saya ingin memberikan sebuah hadiah kepada seorang lizardman tertentu, dan saya ingin menggunakan hasil pekerjaan para dwarf yang luar biasa untuk memberinya satu pasang armor yang cocok.”

Ada sebauh nafas yang dalam dari belakang Ainz.

“Benar sekali, Zenberu,” Ainz menolek ke belakangnya, kepada Lizardman yang menahan nafasnya. “Ini untuk Zaryusu. Anggap saja itu sebuah hadiah untuk merayakan kelahiran anaknya.”

Ainz membicarakan ini karena dia berniat untuk menjaga nyawa Zaryusu. Dia tentu akan menjadi ayah dari banyak lizardman yang langka di masa depan. Jadi, memberinya hadiah armor luar biasa seperti itu memang masuk akal.

Perhatian para dwarf berpaling ke arah Forgemaster (Ahli Tempa).

Dia melipat tangannya di depan, masih cemberut kepada Ainz. Dia kelihatannya tidak setuju sama sekali.

“Bagaimana? Bisakah anda melakukannya?”

Setelah ditanyai lagi dan didorong oleh orang-orang di sampingnya, Forgemaster itu akhirnya mengangguk, ketiadaan rela tergambar di wajahnya.

“Berapa ukurannya? Kami bisa membayarnya.”

“Armor magic cenderung berubah ukuran sendiri untuk bisa pas kepada pemakainya. Bisakah anda memberinya mantra itu di sini?”

“Aku tidak punya kepercayaan diri dalam masalah magic. Anda harus meminta Pendeta Tertinggi untuk itu.”

“Jika anda tidak keberatan dengan mantra level rendah, seharusnya tidak ada masalah. Apakah anda keberatan, Yang Mulia? Saya yakin anda harusnya memiliki enchanter yang lebih baik di dalam wilayah anda....”

Sebenarnya, hanya ada sedikit enchanter yang ahli di dalam Sorcerous Kingdom. Enchanter-enchanter tersebut pada dasarnya adalah magic caster yang memiliki spesialisasi, dan mereka pada dasarnya berhubungan dengan Guild Magician. Namun, Guild Magician dari Sorcerous Kingdom pada dasarnya sudah bubar.

Ditambah lagi, Nazarick menggunakan proses enchant yang berbeda, yaitu dengan kristal data. Ainz ingin menyimpan kristal-kristal itu sebanyak mungkin, melihat dia tidak bisa mendapatkan kristal data di dunia ini. Tentu saja, tak ada orang di Nazarick yang bisa melakukan pemantraan dengan cara dunia ini.

Dengan kata lain, Sorcerous Kingdom tidak memiliki kemampuan untuk memantrai item-item magic. Oleh sebab itu, tidak perlu memberitahu mereka tentang hal ini.

“Jika memang dibutuhkan, yang saya perlu lakukan adalah memperkuat enchantment yang sudah ada. Bagaimanapun saya ingin satu set armor dari kota ini. Itu juga akan menjadi sebuah publisitas bagi kemampuan menempat armor milik negeri Dwarf.”

“Ho,” Mata Forgemaster menyipit. “Seharusnya akan siap dalam satu minggu.”

“Benarkah. Itu akan menakjubkan. Sampai saat itu, saya akan melakukan pengambil alihan ibukota. Kalau begitu, jika pertempurannya selesai sebelum prosesnya rampung, mungkin saya akan menunggunya di kota ini.”

“Hmph. Kalau begitu aku akan bekerja lebih cepat.”

Jelas sekali dia tidak bermaksud “Sayang sekali jika membiarkan anda tetap menunggu”. Lebih seperti “Aku akan segera menyelesaikannya agar kamu tidak terlalu lama berkeliaran di kota ini.”

Mengapa dia begitu membenciku? Seharusnya aku adalah seorang pahlawan di kota ini, ya kan? Atau liberator yang mengambil kembali ibukota kerajaan, ya kan? Aku tidak pernah ingat melakukan hal apapun yang layak mendapatkan kebencian seperti itu... apakah hanya itu? Apakah dia hanya seorang kakek-kakek yang keras kepala?

“Mengenai pembayarannya-“

“Seperti yang kubilang barusan, gratis.”

“Itu menyelesaikan harga untuk klausul tertentu. Ketika saya membicarakan tentang pembayaran, yang saya maksud adalah saat produk dan sampelnya telah selesai. Saya ingin tahu berapa biayannya agar saya bisa mengestimasikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan benda semacam ini.”

“...Aku tidak  memutuskan harganya. Oi, Merchant Guildmaster, kamu bertanggung jawab untuk itu.”

“...Pada awalnya, kami harus mempertimbangkan material yang dibuat untuk armor itu. Pasti akan mempengaruhi jangkauan harganya...”

“Ah, jadi seperti itu,” balas Ainz, mencoba untuk tidak menampakkan sikapnya. “... Jadi katakan kepadaku, logam apa yang memiliki grade tertinggi di kota ini?”

Jika nama dari salah satu prismatic ore muncul, Ainz mungkin akan mengabaikan negosiasi saat ini dan menaklukkan Dwarf dengan paksa.

Namun, harapannya tidak terpenuhi.

Logam yang mereka katakan adalah adamantite.

“Adamantite, hm? Apakah tidak ada yang lebih keras dari itu di sini? Tidak, bahkan sedikit logam yang lebih lembut juga tidak apa jika logam itu memang langka di dalam rangkaian pegunungan ini.”

Mereka tidak bisa menjawab pertanyaan itu pula.

Ada kemungkinan ini adalah informasi rahasia dan mereka tidak bisa membicarakannya secara terbuka kepada Ainz. Namun, pertanyaan langsung tidak banyak membantu. Menggunakan magic pemikat untuk membuat mereka bicara akan meninggalkan bekas ingatan telah dikendalikan, jadi jika dia tidak bisa menghabisi mereka setelahnya, itu bukanlah pilihan. Sayangnya, Ainz tidak memiliki cara lain untuk mengorek lebih dalam.

Karena Gondo tidak tahu pula, dia hanya bisa menambatkan harapannya kepada runesmith-runesmith senior.

Saat Ainz menutupi kekecewaannya, dia mengeluarkan sebuah batangan logam dari balik jubahnya.

“Kalau begitu, kami akan menyediakan logamnya. Katakan saja harga untuk memprosesnya.”

Ini adalah logam level 45. Memang tidak seberapa kuat, tapi jauh lebih kuat daripada adamantite.

Kemampuan bertahan Zaryusu akan meningkat tajam jika dia memakai satu set armor yang dibuat dari material ini. Itu sudah cukup bisa melindungi dirinya dari mayoritas lawan di dunia ini.

“Dan ini adalah...”

Melihat ekspresi wajah Forgemaster saat memeriksa batangan logam tersebut, Ainz yakin logam ini tidak bisa digali dari tempat manapun di dekat sini.

“Logam sam...”

Ainz menutup mulutnya sebelum dia bisa mengatakan “sampah”. Lagipula, ini adalah material mentah untuk satu set armor yang akan dia berikan kepada Zaryusu. Dia tidak bisa mengatakan hal semacam ini di depan penempa yang akan melakukan tugas tersebut.

“Itu adalah logam yang berguna. Aku memiliki senjata yang terbuat dari material yang sama. Tolong tunggu sebentar.”

Ainz berdiri lalu meninggalkan ruangan tersebut sebelum mencari-cari di tempat penyimpanannya.

Setelah beberapa saat mencari, dia menarik sebuah pedang pendek – salah satu senjata di dalam Yggdarsil yang di desain lebih kepada bentuknya daripada fungsinya – yang aneh. Lalu dia kembali ke ruangan tersebut. Ketakutan karena Ainz memegang sebuah pedang pendek itu, para dwarf bergerak tidak karuan di tempat duduknya. Ainz meletakkan pedang pendek itu di meja dan menyorongkannya kepada mereka.

Untungnya, pedang pendek itu berhenti didepan Forgemaster.

Dia tidak mengambil pedang pendek yang bergeser ke depannya, namun malahan mempelajari pedang pendek itu dengan wajah menakutkan. Pasti itu sangat mengganggunya.

“Yang ini. Karena cuman sebuah pedang pendek, aku tidak tahu jika anda bisa menggunakannya sebagai referensi armor.. Bagaimana? Bisakah anda membuatnya?”

Untuk suatu alasan, ucapan itu menyebabkan Forgemaster tersipu malu.

“Aku akan melakukan dan menunjukkannya kepadamu!”

Merasakan tekad yang kuat di dalam suara Forgemaster, Ainz mengangguk.

“Umu. Kalau begitu, aku harapkan bantuannya. Aku menginginkan satu set chainmail armor (armor baju dari rantai kecil-kecil), jika memungkinkan. Aku akan pinjamkan pedang pendeknya pula, silahkan saja beritahu saya. Zenberu, kamu harusnya lebih akrab dengan Zaryusu. Jawab pertanyaan tentang ukuran tubuh, bentuk dan semacamnya.

“Saya mengerti, Yang Mulia.”

“Kalau begitu... hanya itu permintaanku. Jika tidak apa, aku permisi keluar.”

“Yang Mulia, bolehkah saya tanya anda mau kemana?”

“Ahh, panglima. Ada seorang dwarf dari kota selatan yang aku tolong, ya kan? Aku diundang ke rumahnya, dan aku akan menadi tamu di sana hari ini... Mari kita tunda upacara sambutannya nanti saja.”

Atau lebih tepatnya, Ainz tidak ingin mempermalukan diri, jadi dia ingin menghindari upacara semacam itu. Tentu saja, dia tidak benar-benar berkata demikian.

Panglima tersebut terlihat tidak enak.

“Saya mengerti keinginan Yang Mulia. Namun, agak tidak enak jika ada kabar yang keluar jika pahlawan negeri kami harus secara pribadi menyediakan akomodasi. Kami sudah mempersiapkan ruangan yang sangat mewah untuk anda; maukah anda mempertimbangkan untuk beristirahat di sana hari ini?”

Ainz mempertimbangkan tawaran itu. Ucapan Panglima itu memang bisa diterima, dan tidak alasan untuk menolak.

“Kalau begitu baiklah. Saya akan mengunjungi Gondo – Dwarf yang dibawa kemari – dan meminta maaf sudah membuatnya menunggu.”

Aku yakin kamu tidak akan mencoba menghalangiku lebih jauh. Kelihatannya panglima tersebut dan yang lainnya juga tidak keberatan.

Part 3

Dwarf lain pun masuk. Dia adalah seorang runesmith. Sangat sedikit orang di kota ini yang menyebut diri mereka runesmith sekarang, dan dia adalah salah satu darinya.

Sorcerer King telah memberikan sesuatu kepada Gondo, yang mana kemudian diserahkan secara bergantian kepada runesmith-runesmith yang dia tahu. Hasilnya luar biasa. Meskipun sebelum waktu yang ditentukan tiba, runesmith ke sembilan – sepuluh yang dia dekati sudah berada di laboratorium penelitian yang jadi satu dengan studio kerja miliknya. Tidak diragukan lagi yang lainya juga tiba lebih awal.

“Sebelah sini!”

“Oh! Gondo! Aku datang!”

Antisipasi telah tertulis di seluruh wajah dwarf yang berjalan mendekat.

“Baiklah, sekarang berikan itu kepadaku sesuai kesepakatan!”


Sudah berapa kali ucapan itu diulang-ulang sampai sekarang? Sementara Gondo menganggapnya menjengkelkan, dia menerimanya sebagai sebuah bentuk pekerjaan, lalu dia memberikan dwarf itu jawaban yang sama seperti yang diberikan kepada yang lainnya:

“Sorcerer King ingin mengatakan sesuatu kepada semua orang. Kamu akan mendapatkannya setelah itu.”

“Apa?”

“Aku sudah bilang kepadamu, ya kan? Sebelum aku memberimu botol kecil itu. Yang Mulia ingin mengatakan sesuatu, dan setelah kamu mendengarkannya sampai akhir, kamu akan mendapatkan botol besar.”

“Hm, yah, kedengarannya tidak asing...”

“Baiklah, jika kamu sudah paham, kalau begitu duduklah di sebelah sana.”

“Umu.. Dan juga, ah, Gondo. Tentang itu...”

Gondo tahu apa yang akan diucapkan sebelum mendengarnya. Setiap penempa yang datang mengatakan hal yang sama.

“Tak ada yang lain selain Yang Mulialah yang memiliki wine seperti itu. Apakah kamu mengerti? Apakah kamu mengerti jika wine semacam itu hanya ditemukan di negerinya?”

“Mm, mhm. Itu benar. Rasa itu, seperti ada kebahagiaan yang menyebar di mulutmu... Meluncur turun ke tenggorokan, tapi terbakar di dalam usus...”

“Mhm. Baiklah, jika kamu sudah paham, maka duduklah di sebelah sana.”

Gondo mendorong penempa tersebut – yang sedang membayangkan kebahagiaan yang tak terlihat – ke arah yang tepat.

“Ayolah, jangan seperti itu. Kamu sudah merasakannya sebelum ini, ya kan? Kamu mengerti bagaimana yang kurasakan, ya kan?”

“Aku tak pernah menyentuhnya. Aku bukan penggemar minum-minum.”

“Oh, sayang sekali! Gondo, kamu melewatkan seperempat hingga seperlima bagian dalam hidup!”

“Ya, ya, ya, lekas duduk sana. Lihatlah, mereka semua sudah meminumnya, kamu harusnya pergi mendiskusikan itu dengan mereka.”

“Ohhh! Benarkah?!”

Penempa yang gembira itu mulai berlari dan tiba-tiba berhenti. Lalu, dia berbalik melihat Gondo. Banyak penempa di sini yang telah melakukan itu juga.

“Anu, Gondo.”

“Tidak apa. Jangan mengkhawatirkan aku.”

“Benarkah? Tapi...”

“Tidak apa. Itulah kenapa..”

“...Aku mengerti. Namun, ada satu hal yang harus kamu ingat. Kamu bisa datang minta bantuanku kapanpun.”

Setelah berkata demikian, penempa itu bergerak untuk duduk dengan yang lainnya. Lalu, dia bergabung dengan diskusi yang antusias terhadap kegemaran alkohol.

Gondo menghela nafas, jantungnya sedikit perih.

Sorcerer King Ainz Ooal Gown telah memberikan Gondo suatu item agar bisa mengumpulkan para runesmith.

Item itu adalah wine.

Gondo tidak minum, tapi tak ada dwarf yang bisa tahan dengan rasa yang enak dari wine. Jadi, dengan membangkitkan selera mereka dengan sebuah sampel kecil dari alkohol yang eksotis dan menjanjikan sebuah botol besar kepada mereka nantinya, harusnya itu bisa mengumpulkan separuh dari para penempa tersebut. Itulah yang telah dikatakan oleh Sorcerer King. Namun-

Setiap tempat duduk di sini kelihatannya akan penuh.

Gondo menghela nafas lagi. Secara pribadi. Dia tidak ingin mengumpulkan mereka dengan cara yang murahan seperti ini, dia ingin membakar harga diri mereka sebagai perajin lalu mengumpulkan dan menyatukan mereka.

Atau lebih tepatnya – itulah harapan pribadi dari Gondo.

Sorcerer King telah menggunakan metode yang paling cepat dan efektif untuk mengumpulkan para penempa. Mengandalkan harga diri mereka untuk bisa berkumpul hanya akan membuang-buang waktu yang berharga.

Para runesmith sedang berada dalam keadaan yang gawat. Mereka sudah kehilangan bukti bahwa diri mereka dan leluhurnya pernah ada, sementara yang ada di depan adalah kegelapan. Terperosok ke dalam kenegatifan, tidak heran jika banyak diantaranya yang sudah menyerah. Sangat sedikit dwarf yang masih menyebut diri mereka runesmith dan mempraktekkan kemampuan mereka sebagai perajin. Sebagian besarnya sudah menurunkan papan nama tempat kerjanya dan hanya hidup hari demi hari tanpa harapan dan impian.

Bisakah dia menyalakan kembali api di dalam hati mereka seperti itu?

Gondo sudah tidak sabar menantikan Ainz dan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Pada waktu yang telah ditentukan, Gondo memeriksa jumlah Dwarf yang telah muncul. Setiap orang telah hadir.

“Bagaimana? Ainz-sama bertanya apakah dia bisa mulai.”

Gadis yang berlari ke arah Gondo adalah salah satu pembantu kepercayaan Sorcerer King, Aura.

“Oh, bisakah kamu bilang kepada Yang Mulia jika semuanya sudah berkumpul?”

“Aku mengerti~”

Gadis itu berlari menjauh. Saat Gondo melihat dia pergi, Gondo memiringkan kepalanya.

Dia tidak seberapa yakin siapa sebenarnya gadis itu. Mengapa Raja Undead yang hampir Mahakuasa itu meletakkan kepercayaan yang sangat besar kepadanya? Apakah dia adalah bukti pertemanannya dengan Dark Elf?

Saat Gondo memikirkan ini, Ainz Ooal Gown melangkah maju ke panggung yang berdiri. Di sampingnya ada wanita lain sebagai pembantunya.

“Ohhhhhh!”

“Ada undead!”

“Musuh?!”

Dwarf-dwarf itu menjadi ribut. Itu memang bisa diduga. Undead adalah musuh dari semua makhluk hidup.

“Itu—“.

“—Diam.”

Wanita itu – Shalltear Bloodfallen – mengangkat botol di tangannya.

Mata semua orang bisa melihat kilauan warna kuning sawo di dalamnya. Jumlahnya praktis sangat banyak, jadi perhatian mereka lebih tertuju kepada botol itu daripada wajah undead Ainz, lalu mereka pun terdiam.

“Ainz-sama, apa kehendak anda?”

“Tidak, tidak ada. Terima kasih atas kerja kerasmu, Shalltear.. Baiklah, terima kasih sudah datang, semuanya. Ada cukup banyak wine untuk semua orang, jadi setelah ini, ambil satu botol saat kalian pergi. Sampai saat itu, aku harap kalian akan tetap tenang dan mendengarkanku. Tentu saja, jika kalian merasa ucapan dari undead tidak layak didengar, kalian boleh meninggalkan tempat ini. Namun, kalian tidak akan mendapatkan botol wine ini.”

Sorcerer King menyapu tatapannya ke semua dwarf.

Setiap serat dalam dirinya – dari sikap hingga gaya bicaranya dan banyak hal lain – adalah bukti pasti dari kekuatannya yang luar biasa. Lalu sikapnya yang angkuh dan agung yang membuat mereka secara insting ketakutan di depannya. Seakan setiap sendi di jari-jarinya tertanam kekuatan.

“Kalau begitu... Aku yakin tidak ada yang keberatan jika aku mulai bicara?”

Dwarf-dwarf itu mengangguk tanpa suara.

“Pertama, aku adalah Sorcerer King Ainz Ooal Gown. Wilayah di selatan dari rangkaian pegunungan ini, dibalik Hutan Besar Tob (Great Forest of Tob), adalah milikku. Bisa bertemu dengan kalian para runesmith yang terhormat membuatku bahagia dari lubuk hati yang paling dalam. Baiklah: ucapanku adalah tawaran yang sangat sederhana, dan juga sebuah permintaan. Datanglah ke negeriku. Aku ingin menggunakan runecraft (seni kerajinan rune) untuk memulai sebuah revolusi dalam proses enchant item magic.”

Saat dia mendengarkan ucapan Sorcerer King, sebuah kejutan yang perih – lahir dari kekecewaan dan keputusasaan – menusuk hati Gondo.

Gondo menggelengkan kepalanya.

Dia menyingkirkan masalah ayah dan kakeknya, dan melihat ke arah wajah-wajah para penempa dari samping. Mereka semua mengeluarkan ekspresi pahit di wajah. Respon mereka tidak terlihat positif.

“Maafkan saya, tapi saya punya pertanyaan.”

Dwarf yang mengangkat tangannya menoleh ke arah Gondo.

“Mengapa anda menginginkan keahlian kami? Sejujurnya, itu adalah seni yang hampir mati bahkan di negeri ini pula.”

Dwarf yang bicara itu adalah salah satu penempa tua yang hadir.

“...Sederhana. Aku ingin kalian menemukan kembali rahasia-rahasia yang telah hilang dari seni yang kalian miliki.”

“Hilang?”

Di bawah tatapan mata para runesmith, Sorcerer King menghasilkan sebuah pedang dari kantung dimensinya.

Para dwarf terperangah berbarengan.

Itu adalah sebuah kejutan, yang lahir karena melihat sebuah pedang yang muncul dari udara kosong. Ada juga teror melihat raja tengkorak yang berbalut cahaya yang tidak suci menggenggam sebuah pedang.

Tapi alasan mengapa Gondo berseru sendiri adalah dia juga sama-sama terperangah dengan yang ada di sini.

Itu adalah sebuah pedang hitam dengan kualitas yang sangat hebat. Mata pisau yang luar biasa praktis mengeluarkan sinar magis.

“Pe... Pedang yang menakjubkan...”

“Tidak masuk akal... Aku tak pernah melihat benda seperti ini dalam hidupku...”

“Apakah ini adalah pedang dari mitologi dwarf?”

“Ohhh! I.. Ini adalah pemandangan yang sangat...”

Sorcerer King mengangkat pedang itu, seakan ingin menunjukkan kepada semua dwarf. Mata Gondo secara reflek mengikuti kilauannya pula.

“Baiklah, para hadirin, silahkan perhatikan tubuh pedang ini.”

Gondo mengikuti tempat yang ditunjuk oleh Sorcerer King, dan menjerit. Begitu juga dengan para penempa lain.

Ada 20 rune warna ungu yang terukir.

Namun, hanya Gondo yang menyadari salah satu rune di pedang itu sama dengan yang dijelaskan oleh Sorcerer King ketika perjumpaan mereka di dalam terowongan.

Ternyata begitu. Jadi itu alasannya mengapa dia tahu begitu banyak tentang rune.

Dia pasti sudah mendapatkan pengetahuan itu setelah mempelajari dengan hati-hati pedang itu.

“Kalau begitu, aku ingin bertanya kepada para hadirin. Ada 20 rune di pedang ini; apakah hal semacam itu mungkin?”

Jawaban mereka sudah tidak diragukan lagi – itu adalah hal yang mustahil. Tak ada orang di sini yang bisa melakukannya, tak perduli seberapa keras mereka mencoba. Lalu, ada pedang ini, yang kelihatannya ada untuk mengejek ketidakmampuan mereka dalam melakukannya.

Para penempa itu bangkit dari tempat duduk mereka, masing-masing dengan bara api di matanya. Ada sebuah hasrat yang sudah lama tidak ada ketika seperti saat membicarakan minuman. Lalu, kerumunan itu melonjak ke depan seperti kerumunan zombi yang menerkam makhluk hidup, ke arah kaki Sorcerer King.

“Biar kulihat!”

“Aku mohon! Biarkan aku menyentuhnya!”

“Aku mungkin bisa mempelajari sesuatu! Aku mohon kepadamu!”

“Tidak sopan!”

Gadis berambut perak menatap dwarf yang berkerumun mendekat dengan mata mengerikan. Dwarf-dwarf itu terdiam dalam sekejap, seakan ditusuk oleh sebuah ketakutan yang memotong seperti pedang beku. Lalu-

“-kamu terlalu berisik. Kecilkan suaramu.”

Tidak diragukan lagi mereka berdiri di hadapan seorang penguasa sejati.

Aura itu adalah milik salah satu pemimpin yang sangat percaya diri dengan posisinya. Lalu, mungkin saja itu karena dia adalah Tuan dari kematian yang tiada tara.

Gondo memang sudah tahu ini sejak pertama kali dia bertemu dengan Ainz di dalam terowongan itu, tapi Ainz tidak menunjukkan sisi dirinya yang itu dulu. Pasti itu suatu sikap untuk membuat Gondo mengecil karena ketakutan. Ini pasti pembawaan sebenarnya dari Sorcerer King.

Aku tidak bisa mengetahui ekspresinya, tapi kelihatannya dia senang. Pasti karena semua orang bergerak seperti yang dia rencanakan.

“Sebentar, para penempa yang budiman. Tolong dengarkan aku hingga akhir. Setelah itu, kalian boleh menyentuhnya secara langsung. Aku tidak akan melanjutkan sampai kalian duduk, dan kalian tidak akan bisa mendapatkan pedang ini.”

Kecewa – gentar karena aura dari kekuatan yang istimewa – para penempa itu kembali ke tempat mereka.

“Terima kasih. Kalau begitu, saya akan meneruskannya. Pertanyaannya masih tetap sama – apakah sebuah pedang dengan 20 rune yang terukir masih dalam kemampuan kalian?”

Semuanya melihat ke arah penempa yang lebih tua dan lebih berpengalaman. Dia menggelengkan kepalanya lemah dan membalas:

“Tidak. Dari yang kuketahui, aku hanya pernah dengar enam.”

Sebuah arus pertanyaan membludak.

“Apa? Enam? Aku hanya pernah dengar lima!”

“... Begitukah. Kelihatannya hanya sedikit yang tahu hal ini, tapi 200 tahun yang lalu, palu yang dihasilkan oleh sang raja memiliki enam rune yang terukir. Itu adalah harta karun rahasia dari seni runesmith.”

Gondo mengingat kakeknya.

Dia membayangkan wajah seorang runesmith dari 200 tahun yang lalu, seorang pria yang merupakan veteran dalam penempaan senjata.

“Ohhhh! Apakah itu warhammer (palu tempur) yang bisa menggoncangkan bumi? Kurasa aku pernah mendengarnya dalam sebuah nyanyian..”

“Benar. Bahkan para runesmith – yang dianggap jenius dan prodigi (ajaib) – waktu itu tidak bisa membuat sebuah senjata dengan 20 rune...”

“Oh begitu. Kalau begitu, ini pasti sebuah senjata yang dibuat dengan teknik yang sudah hilang.”

“Hm? Apakah anda juga tidak tahu, Yang Mulia?”

“Aku tidak yakin bagaimana pedang ini dibuat. Sejujurnya, ini hanyalah milikku. Dan ... penciptanya sudah tidak ada lagi di dunia ini.”

“Kalau begitu, berarti maksud anda... Banyak teknik-teknik yang lebih berharga yang telah hilang?”

Luka memenuhi wajah para penempa. Gondo juga merasakan hal yang sama.

“Karena itu-“

Semua orang memperhatikan ucapan Sorcerer King.

“Karena itu, aku ingin membangkitkan teknik-teknik itu. Jadi, aku perlu kekuatan kalian. Aku ingin kalian membuat sesuatu seperti pedang ini, tak perduli berapapun biayanya.”

Keheningan pun menyelimuti.

Tak perlu dikatakan, karena mereka semua tahu betapa sangat tidak mungkinnya tugas ini.

Bahkan runesmith yang paling jago hadir di sini harus berusaha keras untuk bisa mengukir empat rune sekaligus. Sorcerer King meminta lima kali dari jumlah itu. Namun, tak ada dari mereka yang berkata “itu tidak mungkin”. Mereka memiliki harga diri sebagai seorang perajin, dan setelah melihat sebuah mahakarya dari perajin sebelumnya, mereka tak bisa berusaha menolaknya.

Pedang itu seperti sebuah tantangan dari para penempa di masa lalu kepada para penempa di masa kini,  pikir Gondo.

“Aku ingin membuatnya.”

Seseorang membisikkan kalimat itu.

Segera setelahnya, suara itu tidak sendirian.

“Aku juga.”

“Aku ingin mencobanya.”

“Mm, aku ingin menunjukkan kepada dunia bagaimana rupa legenda hidup itu.”

“Tidak, akulah yang akan disanjung sebagai seorang legenda.”

“Omong kosong apa itu. Akulah yang akan memikul beban berat itu.”

Suara tepuk tangan bergema di udara. Itu berasal dari Sorcerer King di panggungnya. Meskipun mereka tidak tahu bagaimana dia melakukannya dengan tangan yang Cuma tulang, dikatakan bahkan semua hal itu mungkin bagi seorang magic caster.

“Luar biasa. Namun, bisakah kalian melakukannya sendirian? Bisakah kalian mengangkat suara dan menghadapi tantangan dari seorang legenda? Mungkin saja bisa. Mungkin juga tidak. Jadi, aku harap kalian ikut denganku ke negeriku dan sepenuhnya mencurahkan diri untuk menciptakan teknik yang baru.”

Keheningan sekali lagi menyelimuti.

Gondo sangat paham dengan perasaan mereka.

Sorcerer King menawarkan kepada orang ini-ini – yang sangat paham jika keahlian mereka secara praktis telah hilang di negeri dwarf – sebuah kesempatan bersinar di dalam telapak tangannya yang terulurkan.

Bukankah harusnya mereka mempertaruhkan nyawa untuk tantangan ini?

“Baiklah, aku akan serahkan pedang ini kepadamu.”

Sorcerer King melangkah turun dari panggung, menyerahkan gagang pedang itu kepada salah satu penempa yang telah tua. Mungkin memang kebetulan, atau mungkin dia sudah menyelidikinya sebelum ini, tapi pria yang dia serahi itu dianggap sebagai seorang jenius hanya satu tingkat di bawah ayah Gondo yang sudah tiada, dan suaranya memiliki beban yang berat kepada para runesmith.

Dia tidak meraihnya.

Memang wajar bingung ketika diserahi pedang yang luar biasa.

“A, Apakah boleh? Apakah tidak apa menyerahkan senjata – yang luar biasa ini yang mungkin saja tak pernah saya lihat lagi di sepanjang hidup ini kepada orang seperti saya?”

“Sekarang ini, kamu bukanlah dwarf yang tergoda oleh wine, tapi runesmith yang ingin menerima tantangan. Aku bisa mempercayaimu untuk itu. Ditambah lagi, aku akan meninggalkan kota ini untuk sementara. Jadi, aku hanya meminjamkan saja kepadamu.”

Dwarf itu berdiri tegak.

“...Ternyata begitu. Izinkan saya untuk meminjamnya, Yang Mulia.”

Dia membungkuk dalam-dalam, lalu menerima pedang itu dengan sikap hormat yang tertinggi.

“Tetap saja, aku harus mengatakannya bahwa aku tidak seberapa mengerti dengan teknik-teknik dari runecraft (kerajinan tentang rune). Apakah bisa mengukir di mata pedang lalu nantinya dienchant dengan magic?”

“Caranya bukan seperti itu, Yang Mulia. Rune adalah karakter-karakter yang ditambahkan mana. Jadi, mengukir dan melakukan enchant pada dasarnya berlawanan. Jika seorang magic caster mencoba melakukan enchant, rune akan rusak.”

“Oh begitu...”

“Kebetulan, ketika anda ingin bilang meninggalkan Feoh Gēr, kemanakah tujuan anda?”

“Ah, aku akan pergi ke bekas ibukota kerajaanmu.”

Dwarf-dwarf itu semunya gaduh sekaligus.

Dia bisa mendengar ucapan seperti “Reruntuhan itu-“ “Ke tempat yang sangat berbahaya itu-“ “Tempat Quagoa berkuasa”

Gondo tahu betul, tapi  ada pesan di dalamnya yang tak bisa dia lewatkan begitu saja.

“Mereka bilang akan ada tiga ujian yang menunggu mereka yang ingin pergi kesana dari tempat ini. Apakah tidak apa?”

“Tiga bahaya, yang dikatakan tidak bisa dilewati. Meskipun sudah melewati yang pertama... Labirin Kematian itu tak bisa ditembus.”

Semua yang mengatakannya adalah Dwarf tua. Memang bisa diduga dari mereka yang sudah tua dan cukup usia, kelihatannya dia tahu banyak hal yang bahkan Gondo tidak tahu. Mungkin sebaiknya bertanya kepada mereka tentang itu dan memberitahukannya kepada Sorcerer King.

Runesmith yang membetulkan badannya itu memberikan nasehat kepada Sorcerer King.

“Yang Mulia, tempat itu seharusnya adalah sarang dari seekor naga raksasa. Lord of the Frost Dragons (Pimpinan Naga-Naga Beku), yaitu White Dragon Lord, mungkin mendiaminya. Dia adalah penyebab hancurnya Feoh Tiwaz. Saya tahu Yang Mulia memiliki kekuatan yang hebat, tapi menurut pendapat saya yang rendah ini, Dragon Lord itu setara kuatnya. Saya harap anda hati-hati.”

“...Seekor naga. Memang benar, dia akan menjadi lawan yang sangat menarik. Kalau begitu aku akan bergerak dengan waspada dan menghadapinya dengan hati-hati.”

Setelah itu, ada beberapa pertanyaan sederhana lagi, dan pertemuan itu selesai. Ini kaena semua orang menyadari semakin cepat pertemuan itu berakhir, semakin banyak waktu bagi Sorcerer King untuk bisa mengambil kembali ibukota tersebut. Mereka tidak ingin menghalanginya, pikir Gondo.

Atau mungkin, mereka ingin memeriksa pedang yang telah mereka terima.

Gondo tidak tahu yang mana jawaban yang benar, tapi dari bara api di mata para perajin dwarf tersebut, mungkin memang yang terakhir.

***

Keinginan untuk berteriak “Yahoo!” memenuhi diri Ainz.

Dia telah merasakan seperti itu sejak menyelesaikan presentasinya. Tidak ada bedanya saat dulu menjadi Suzuki Satoru. Apakah dia berhasil atau gagal, dia ingin berteriak saat dia menikmati perasaan bebas dan lega.

“Itu menakjubkan, Ainz-sama! Anda benar-benar telah membuat semuanya bersemangat!”

“Itu benar-benar menakjubkan. Satu-satunya orang di Nazarick yang bisa melakukan itu adalah anda, Ainz-sama!”

Ainz menahan keinginan untuk mengucapkan, “Ah, tidak~” dengan malu-malu saat Aura dan Shalltear memuji dirinya. Mungkin jika itu adalah Demiurge atau Albedo, Ainz akan mengintip mereka sambil bertanya-tanya apakah mereka sedang mengejek Ainz. Tapi karena itu adalah Aura dan Shalltear, dia bisa menerima ucapan mereka apa adanya. Mungkin jika dia masih menjadi Suzuki Satoru, Ainz bahkan akan berkata, “Aku lelah sekali, mau beli minum?” dan bergegas menuju mesin penjual, tapi pria yang menguasai Nazarick dan Sorcerous Kingdom tidak bisa mengatakan hal semacam itu.

“-Hm, yah, itu bukan apa-apa. Aku yakin Demiurge atau Albedo bisa melakukan dengan lebih baik.”

“Tentu saja tidak!”

“Yup yup! Bahkan mereka berdua takkan bisa memainkan dwarf-dwarf tersebut sebaik itu!”

Ainz tidak merasa demikian, tapi dia tidak menduga situasinya berkembang sebaik ini. Dan kemudian, perasaan bersalah yang bertanya-tanya apakah keberhasilan ini adalah hal yang baik mulai merambati diri Ainz.

Tentu saja, pedang yang dia tunjukkan kepada para dwarf itu adalah sebuah item dari Yggdrasil.

Yggdrasil tidak memiliki sistem rune. Tapi, mungkin saja ada di dalam data game, namun masih belum ditemukan oleh siapapun sampai akhir. Oleh karena itu, rune yang terukir di pedang itu hanyalah hiasan – untuk dekorasi.

Pada awalnya, dia berpikir, mungkin mereka akan tertarik jika mereka melihat pedang ini. Tapi dia benar-benar terpedaya oleh kuatnya reaksi mereka, hingga dia agak menyesal berkasa bahwa dia ingin mereka membuat pedang seperti itu.

Namun, Ainz menekan perasaan itu.

Dia harus memperkuat Great Underground Tomb of Nazarick. Karena seorang musuh dengan item kelas dunia (World Class Item) mungkin akan muncul di masa depan, dan mungkin saja ada para pemain tersembunyi di luar sana yang melawan dirinya, dia harus meningkatkan kekuatan tempur mereka.

Ainz melihat ke arah Shalltear.

Dia adalah seorang gadis vampir yang kelihatannya sedang tersipu malu – yang mana sangat mengejutkan ketika Ainz memikirkannya. Dia adalah benih yang ditinggalkan oleh Peroroncino. Dan dia adalah NPC pertama yang mau tak mau harus Ainz bunuh dengan kedua tangannya sendiri.

Emosi Ainz tertekan saat mau keluar karena kebencian yang mengikutinya, namun meskipun begitu, Ainz tidak bisa melupakannya. Dia tidak bisa lupa bayangan dari pemiliki World Class Item yang membuatnya harus melakukan hal semacam itu.

Agar bisa mendapatkan tujuannya, bahkan membuat orang lain menjadi menyedihkan dengan kebohongan sulit untuk layak dipertimbangkan. Hal yang terpenting di dunia ini adalah para penghuni Nazarick. Semua makhluk hidup lain adalah dua tiga tingkat di bawah mereka.

Kesetaraan hidup adalah tidak lain dari ocehan orang gila.

Jika semua makhluk hidup adalah setara, maka dia ingin sekali meletakkan seorang manusia yang telah menyiksa orang sampai mati di kursi listrik dan seorang juara yang berkata demikian di kursi listrik lainnya, dan membuat yang terakhir memutuskan yang mana dari mereka berdua harus mati. Siapapun yang bisa benar-benar berkata bahwa mereka dapat mempercayakan nasibnya kepada dadu adalah seorang penganut sejati.

Namun, Ainz akan membunuh yang pertama tanpa ragu. Ini karena Ainz tahu bahwa hidup itu tidak sama. Kehidupan dari para NPC yang ada di dalam Nazarick tidak ada bandingannya dengan kehidupan orang-orang yang ada di luar sana.

“Itulah Ainz-sama!”

“Kamu benar!”

Sebelum Ainz bisa menyelesaikan latihan pemikirannya, pujian Aura dan Shalltear menusuk hatinya. Kalau begitu-

“Jangan bilang mereka ‘dimainkan’. Aku hanya bilang yang sebenarnya.”

Dia mengatakan itu kepada mereka demi Gondo, yang harusnya ada di belakang Ainz.

Namun, tidak ada jawaban dari belakang, Ainz yang bingung entah bagaimana pun akhirnya berbalik.

Gondo semakin mendekat, bersiap untuk mengantarkan kepergian Ainz.

“.. Ada apa, Gondo?”

Dipanggil demikian, Gondo mengangkat kepalanya.

“... Yang Mulia. Karena anda sudah mengatakan semua itu kepada mereka, apakah saya boleh menganggap bahwa para dewan telah setuju mengirimkan para runesmith itu?”

“Memang benar. Mereka memang berkata bahwa mereka juga akan mengirimkan tim inspeksi di masa depan untuk melihat apakah mereka diperlukan sebagai budak atau tidak, tapi pada dasarnya, mereka memang setuju.”

“Begitukah... Jadi orang-orang hebat itu benar-benar merasa bahwa runecraft tidak lagi dibutuhkan?”

Air mata Gondo mengalir turun di pipinya.

Ainz terkejut, Selain di masa kecilnya, air mata seorang pria adalah hal yang langka.

Air mata itu pasti keluar karena dia tahu jika seni yang dia kagumi dan sangat dia banggakan telah dianggap tidak berguna dan dibuang oleh negerinya.

Tapi apakah memang masalahnya seperti itu, pikir Ainz. Melihat keadaan negeri dwarf, sulit bagi mereka untuk menolak permintaan sebuah negeri yang sudah bersumpah akan mengirimkan bala bantuan kepada mereka.

Kebutuhan orang banyak melebihi kebutuhan dari yang sedikit. Itulah yang sebenarnya diantara negeri-neger itu.

Bahkan Ainz akan membunuh ratusan dari jutaan orang demi Nazarick.

Tetap saja, tidak perlu mengatakan hal ini kepada Gondo.

“Memang benar, Gondo. Negeri ini kelihatannya memandang para runesmithnya bisa dibuang. Mereka menyerahkannya tanpa ada keberatan sama sekali ketika aku memintanya.”

Gondo, begitu juga dengan para runesmith yang mungkin mendengar ini darinya, harus membuang negeri mereka hingga titik tertentu. Memang sulit untuk sama sekali membuang tanah kelahiran seseorang, itu masih menjadi langkah yang perlu agar mereka bisa mengabdi sepenuhnya kepada Sorcerous Kingdom.

Ainz menepuk bahu Gondo dengan lembut.

“Namun, itu tidak sama bagiku. Aku merasakan potensi dari para runesmith itu.”

Meskipun mimpi Gondo tidak bisa direalisasikan, memonopoli orang-orang ahli ini dan menggunakan penelitian mereka mungkin akan membuatnya bisa mengembangkan sebuah pencegahan terhadap musuh dengan senjata berukir rune.

Pengetahuan adalah kekuatan.

“...Meskipun kamu dibuang oleh satu negeri, masih belum selesai selama ada negeri lain yang membutuhkanmu, bukankah begitu?”

Ainz menepuk bahu Gondo berkali-kali. Gondo mengusap wajahnya dengan kikuk.

“..Terima kasih banyak, Yang Mulia. Perkenakan saya memenuhi harapan anda dengan seluruh kekuatan saya.”

“Umu, umu. Aku akan menantikannya.”

Ainz tersenyum – meskipun wajahnya tidak bergerak – seakan berkata, “Aku percaya padamu.”

Sekali lagi, Ainz berpikir.

Bagus juga jika dia bisa belajar dengan ibukota dwarf. Dia mungkin memerlukan Gondo untuk menjalankan tugas memperoleh informasi lebih banyak. Kemudian, dia harus bicara kepada Panglima tersebut.

Naga di dalam Yggdrasil bisa hidup selamanya. Tidak aneh jika mereka adalah individu-individu dengan kekuatan yang tak terbayangkan. Jadi kelihatannya akan ada seekor naga beku (Frost Dragon) yang sedang menungguku...

Tiba-tiba saja, wajah dari seorang pria muda – tidak, seorang gadis muda muncul di dalam benak Ainz.

“Kalau tidak salah, dia memang pernah berkata ingin membantuku mempelajari lebih banyak hal tentang naga... Sayang sekali.”

Berlangganan via Email