Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Baca Overlord - Volume 11 - Chapter 3

Chapter 3 : Krisis yang akan datang

Part 1

The Great Rift

Itu merujuk kepada jurang yang lebar yang memanjang si sisi barat dari ibukota Dwarven Kingdom, Feoh Gēr.

Itu adalah sebuah jurang yang sangat dalam, dengan panjang lebih dari 60km dan lebar 120m pada titik yang paling sempit. Kedalamannya tidak diketahui. Tak ada yang tahu apa yang sedang menunggu di bawah sana, dan atak ada yang kembali hidup-hidup dari dua ekspedisi yang telah dikirimkan untuk menyelidiki jurang itu.

Untuk waktu yang sangat lama, pembatas alami itu telah melindungi Feoh Gēr dari segala macam serangan luar biasa. Mereka bisa menggagalkan segala monster dari barat yang mencoba menyerang selama mereka mempertahankan jembatan bersuspensi yang membentang untuk menyeberangi the Great Rift.

Namun hari ini, pasukan garnisun Feoh Gēr – markas militer yang berdiri diantara Great Rift dan Feoh Gēr — sedang berada di dalam pusaran kebingungan dan teriakan.

“Apa yang terjadi? Seseorang katakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi!”

Teriakan itu datangnya dari arah Panglima dari pasukan dwarf, seorang veteran yang telah melayani lebih dari 10 tahun.

Informasi yang datang sangat kacau dan kontradiktif, dan tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Satu-satunya hal yang dia yakin adalah ada sesuatu yang terjadi di benteng yang mempertahankan the Great Rift.

“Informasi yang paling baru yang kita miliki mengatakan bahwa Quagoa sedang menyerang!” salah satu komandan platon berkata, mengulangi sebuah laporan dari benteng tersebut.

Berita seperti itu sudah tidak asing. Quagoa dan dwarf adalah musuh bebuyutan, dan mereka sering menyerang dalam kelompok ratusan. Ada lebih banyak serangan selama Panglima itu mengabdi sepuluh tahun ini dari yang bisa dia ingat, tapi hingga sekarang mereka semua telah dibelokkan dari benteng tersebut. Tak ada Quagoa yang berhasil mendekati garnisun itu, terlebih lagi Feoh Gēr sendiri.

Ini karena Quagoa adalah ras yang kuat terhadap serangan-serangan senjata, tapi sangat lemah melawan serangan-serangan listrik. Mengetahui hal ini, mereka menimbun benteng itu dengan item-item magic yang bisa menghasilkan [Lightning] dan efek-efek sebanding.

[Lightning] adalah sebuah mantra yang menusuk musuh dalam garis lurus, dan itu sangat efektif terhadap musuh yang berbaris menyerang sebuah jembatan. Mantra itu bisa menyapu habis seluruh gelombang Quagoa dalam sekali pukul, dan selain itu, para dwarf menjaga tempat itu bersenjatakan crossbow yang diberi kemampuan untuk memberikan luka listrik tambahan.

Sebaliknya, para dwarf di dalam garnisun lebih lemah baik dalam perlengkapan dan jumlah. Namun, itu bukan karena mereka tidak ingin mengalokasikan kekuatan militer ke dalam markas yang penting, tapi karena pasukan dwarf selalu kekurangan tenaga. Jadi, benteng itu harus menarik para pasukan dari kelompok pasukan yang kecil, dan mereka melakukannya dalam jumlah yang tidak akan mengundang kecaman.

Meskipun semua spekulasi ini berlawanan dengan serangan Quagoa, benteng itu sekarang berada dalam keadaan dimana mereka bahkan tidak memiliki sisa-sisa orang yang bisa diapnggil untuk membantu. Apa itu artinya?

“Jangan katakan kepadaku kalau mereka diserang oleh musuh yang terlalu banyak untuk dilawan! Apakah ada pesan lain dari benteng itu?”

“Tidak ada sampai sekarang.”

Keringat dingin mengalir di punggung Panglima.

Kalimat “serangan besar” muncul di depan matanya. Ada rumor semacam itu beberapa tahun yang lalu, namun meskipun begitu, dia telah mencoba sebaik mungkin untuk membohongi diri, berkata bahwa tidak ada hal semacam itu. Namun, itu sekarang terhampar di depan matanya.

Panglima itu menguatkan diri. Sekarang bukan waktunya untuk merenungkan hal mengerikan itu.

Apa tindakan tepat yang harus dilakukan sekarang?

Sebuah terowongan yang landai dalam bentuk spiral yang terhubung dari garnisun ini hingga benteng itu, dan di depan mereka ada ibukota Feoh Gēr. Gua yang menjadi tempat dimana garnisun itu berada adalah barisan pertahanan terakhir mereka, dan selain itu mereka memiliki gerbang dari mythrill yang dipadukan dengan orichalcum. Mereka bisa bertahan terhadap serangan musuh dari terowongan itu jika mereka menutup gerbang tersebut.

Apakah mereka harus menutup gerbang tersebut?

Jika mereka melakukannya, mereka tidak akan bisa mengirimkan bala bantuan dari sini. Dengan kata lain, mereka akan mengabaikan rekan mereka, yang mungkin sedang bertarung dengan bertaruh nyawa di benteng itu.

Tetap saja, keraguan itu hanya bertahan sesaat.

Ada kurang dari 20 orang di dalam benteng tersebut. Ada lebih dari 100.000 dwarf di dalam Feoh Gēr. Hanya ada satu jawaban ketika yang dipikirkan adalah prioritasnya.

“Tutup gerbagnya!”

“Sampaikan perintah! Tutup gerbangnya!”

Sebelum gema itu hilang dari udara, sebuah suara germuurh datang dari tanah. Perlahan, gerbang itu menutup pintu masuk. Gerbang-gerbang ini, yang tidak tersentuh selama latihan, sekarang digunakan untuk tujuan yang sebenarnya.

“Tuan! Ada Quagoa!”

“Apa!?”

Setelah mendengar teriakan para prajurit yang sedang berjaga di pintu masuk terowongan itu, Panglima menoleh untuk melihat. Dia melihat bentuk menjijikkan dari demihuman, dengan mulut berbusa, matanya merah seperti darah.

Tanpa senjata yang diberi mantra lightning, bahkan satu saja dari mereka adalah lawan yang mumpuni. Dan sekarang, ada segerombol makhluk seperti itu, begitu banyaknya sehingga mereka tidak bisa dihitung dengan dua tangan, sedang bergegas menuju para dwarf.

Bagaimana mungkin ini terjadi? Apakah benteng sudah benar-benar jatuh? Berapa banyak orang yang telah Quagoa bawa? Bisakah mereka bertahan terhadap mereka meskipun sudah menutup gerbangnya?

Panglima berdecak lidah. Quagoa itu membuat langkah yang bijak. Kulit mereka bisa memantulkan anak panah yang ditembakkan oleh crossbow. Satu-satunya yang bisa dilakukan oleh barisan tombak adalah menahan mereka di pinggiran. Namun, orang-orang di sini telah mengantisipasi jika Quagoa akan mencoba sesuatu seperti ini, dan mereka pun mengambil langkah untuk mencegahnya.
“Para Mage! Blitzkrieg!”

Sebuah mantra area yang luas tingkat tiga, [Thunderball] (Bola petir) dan mantra tingkat dua, [Thunderlances] (Tombak Petir) datang dari balkoni yang sedang memantau prajurit pembawa tombak, pada sudut yang tidak akan mengenai mereka.

Perapal mantra-mantra ini adalah tiga mage yang paling kuat di dalam pasukan.

Kelompok yang berlari di depan gerombolan langsung dibantai oleh [Thunderball], seperti yang diduga dari kutukan Quagoa. Quagoa di belakang mereka berhenti untuk menghindari mantra itu pula.

Hanya beberapa saat saja, tapi itu memberi mereka ruang untuk bernafas.

Gerbang itu tertutup dengan suara clang yang keras. Suara-suara memukul-mukulkan dan membentur-benturkan tersaring menembus ke sisi lain dari pintu yang kokoh ini.

Suasana yang tegang di udara agak mereda. Namun, Panglima, orang-orang yang ada di sekitarnya, dan siapapun di sini tahu ini masih belum selesai.

Gerbang itu sangat kokoh. Gigi-gigi dan cakar dari Quagoa biasa tidak akan bisa merusaknya. Namun, beberapa Quagoa memiliki gigi yang dikatakan setara dengan kerasnya mythrill. Sementara adanya makhluk selevel pimpinan ini tidak aneh jika ditemui ikut serta dalam serangan ini. Tidak mungkin bisa menyingkirkan setiap masalah.

“Sialan! Jika saja gerbangnya dialiri listrik!”

Itu adalah saran yang dibuat oleh Panglima ketika dia pertama kalinya mengambil posisinya. Lagipula, gerbang itu sendiri tidak cukup bisa diandalkan sebagai baris terakhir pertahanan. Tentu saja, ada berbagai alasan atas mengapa mereka tidak bisa memberi mantra gerbang ini, seperti kurangnya kekuatan nasional, tapi alasan terbesarnya adalah benteng itu selalu berhasil menghentikan segala serangan musuh. Jadi, para petinggi bersikap ‘selama benteng itu masih bertahan, semuanya akan baik-baik saja’.

Melihat sekeliling, dia melihat ekspresi gelap dan suram di wajah setiap orang.

Ini gawat. Jika mereka kehilangan harapan untuk masa depan, mereka akan kalah ketika pertarungan menjadi nekad.

Panglima memtuskan untuk mengubah situasinya, dan berteriak:

“Bagus! Kita telah memastikan keselamatan kota! Tapi itu tidak menjamin apapun! Mulailah memasang barikade untuk jaga-jaga jika musuh berhasil menembus gerbang itu! Cepat!”

Tekad baru memenuhi wajah-wajah prajurit dwarf. Tahu bahwa masih ada sesuatu yang bisa mereka lakukan menghidupkan kembali motivasi mereka. Bahkan satu harapan rapuh masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Kepala Staf Panglima berdiri di sampingnya dan berbisik ke telinga sang panglima.

“Tuan, apakah kita harus mengubur gerbang itu dengan pasir dan tanah?”

Panglima itu merenungkan ucapan dwarf lain.

Jika mereka menyegel sepenuhnya. Banyak dwarf yang akan tidak setuju.

“Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi.”

Panglimat tersebut menyadari ekspresi kepala staf. Dia mungkin berasumsi kalimat sang panglima adalah balasan pertanyaannya.

“Maaf, Yang kumaksud bukan kamu. Yang kumaksud adalah mereka itu – Dewan Perwakilan.”

“Anda adalah salah satu dari mereka, ya kan, panglima? Jadi itu respon mereka terhadap penutup penuh? Secara pribadi, kurasa menyegelnya saja tidak cukup. Kita harusnya membuang Feoh Gēr.”

Panglima itu memicingkan matanya dan menyeret kepala stafnya dengan tangan ke tempat dimana tidak ada orang yang akan mendengar mereka.

Dia tidak ingin percakapan mereka didengar oleh siapapun.

“Kamu juga berpikir demikian?”

Mereka tidak tahu berapa banyak Quagoa yang ada di sisi lain dari gerbang itu.

Serangan musuh terlalu cepat dan mereka terpaksa mundur. Jadi, mereka kehilangan peluang untuk mempelajari musuh. Apa yang sedang mereka lakukan sekarang adalah seperti mengunci diri dan menutup mata.

Satu-satunya data solid yang mereka miliki adalah musuh memiliki kekuatan tempur yang cukup untuk meruntuhkan benteng yang tak tergoyahkan hingga sekarang ini, dan mereka harus memikirkan cara untuk menghadapi itu.

Di bawah keadaan seperti ini, dan setelah memperhitungkan kekuatan tempur mereka, akan sangat sulit bagi para dwarf untuk membuka gerbang itu dan mengalahkan musuh. Solusi terbaik mungkin adalah membuang ibukota mereka.

“Kalau begitu, berapa banyak waktu yang dihasilkan untuk mengulur waktu setelah mengubur gerbang itu dengan tanah dan kotoran?”

“Jika kita meruntuhkan terowongannya, kita akan mampu memberi banyak waktu, tapi jika kita menggunakan pasir dan tanah saja, kita hanya akan memiliki waktu beberapa hari saja paling banyak.”

“Bahaya apa yang akan diberikan oleh keruntuhan itu nantinya?”

“Seperti yang anda tahu, kita tidak jauh dari Feoh Gēr. Meskipun saya tidak bisa benar-benar yakin tanpa menugaskan Dokter terowongan untuk memeriksa, ada peluang mungkin akan mempengaruhi kota juga. Skenario terburuknya adalah sebuah jalan pintas akan terbuka dari balik gerbang dan Quagoa akan masuk dari jalan itu ke dalam ibukota Feoh Gēr…”

“Dengan kata lain, kita harus cari tahu sekarang. Kalau begitu, pertanyaan selanjutnya. Apakah kamu kira gerbang itu jatuh murni karena jumlah mereka? Mengapa orang-orang di dalam gerbang itu tidak memberitahu kita cepat-cepat?”

“Saya telah memikirkan beberapa kemungkinan. Secara pribadi yang paling memungkinkan adalah Quagoa telah memasukkan bantuan spesies lain.”

“Jangan-jangan Frost Dragon (Naga Beku)?”

Quagoa telah menguasai mantan ibukota dwarf Feoh Berkanan, dan telah membuatnya sebagai markas mereka. Namun, istana kerajaan di jantung kota dikuasai oleh Frost Dragon.

Kedua belah pihak tidka memiliki hubungan saling membantu yang sempurna, tapi karena mereka hidup bersama, mereka mungkin akan saling membantu satu sama lain.

Wajah panglima itu menjadi pucat. Frost Dragon pada dasarnya adalah bencana alam ketika mereka menginjak usia tertentu.

Pada awalnya ada empat kota dwarf.

Feoh Berkanan, yang telah dibuang selama serangan Demon Gods 200 tahun yang lalu.

Feoh Gēr di timur, yang adalah ibukota saat ini.

Feoh Raiđō di selatan, yang telah dibuang beberapa tahun yang lalu.

Dan akhirnya, Feoh Tiwaz, di barat.

Kota di barat ini telah dihancurkan ketika peperangan antara dua Frost Dragon - Olasird’arc=Haylilyal dan Munuinia=Ilyslym, dan sekarang tidak lebih dari sebuah reruntuhan.

“Aku merasa memang itu kemungkinannya. Memang kita tidak tahu apa yang mereka lakukan untuk bisa membuat si arogan itu mengambil tindakan, alternatif lain adalah mereka melakukannya sendiri; entah telah menemukan semacam mantra, atau mereka menemukan sebuah rute yang bisa melewati Great Rift.”

“Bahkan kami para dwarf tidak menemukan jalan mengelilingi Great Rift.”

“Tetap saja, sudah berapa tahu yang lalu itu? Mungkin Quagoa telah menggali sebuah terowongan atau sesuatu sebagai jalan monster-monster lain, atau retakan bumi berpindah dan memberi mereka sebuah jalan memutar. Jika kamu memikirkannya, mungkin mereka juga bisa pergi ke atas permukaan.”

“Quagoa di permukaan?”

“Mungkin saja ada seorang individu dengan kemampuan itu.”

Quagoa sebenarnya buta di bawah terik matahari, jadi tidak mungkin bagi Quagoa untuk memindahkan pasukan mereka ke permukaan.

Namun, itu hanyalah harapan semata di pihaknya.

Tidak, sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang. Dia harus mempertimbangkan itu ketika merencanakan strategi masa depan.

“Kepala staf, kita harus mempertimbangkan bahwa mereka mungkin bisa bergerak di atas tanah dan memperkuat pertahanan di permukaan menurut itu. Kirim beberapa orang tanpa mengancam pertahanan kita di sini. Kita juga harus mendapatkan berita dari Dewan dan membuat mereka mengeluarkan perintah evakuasi ke selatan.”

Ditambah garnisun ini, benteng di utara Great Rift dan Ruang Dewan di dalam kota sendiri, ada lebih dari satu markas militer di dalam kota Feoh Gēr.

Itu adalah sebuah benteng yang berdiri untuk keuntungan orang-orang yang lebih tinggi dari dwarf – contohnya, manusia – di pintu keluar menuju permukaan. Panglima tersebut memberi perintah untuk memperkuat area itu dan tetap waspada akan serangan dari permukaan.

“Dimengerti!”

“Dan juga, buat orang-orang bersiap untuk mengubur pintu itu. Jika perlu izin kepada para dewan, aku akan mencari jalan untuk meyakinkan mereka.”

“Bagaimana jika dewan memakan waktu untuk berunding?”

“Lakukan yang sebisamu. Aku juga akan melakukan yang sebisaku.”

Hanya itu yang bisa dia katakan. Tentu saja, rencananya adalah mendorong strategi itu sekeras mungkin, di dalam posisinya sebagai salah satu dari delapan dewan, tapi jika yang lainnya melakukan veto, maka yang bisa dia lakukan adalah mencoba sekeras mungkin sendiri.

“Lapor! Lapor! Saya ingin lapor! Dimana panglima?!”

Melihat ke arah sumber suara itu, panglima tersebut melihat seorang prajurit dwarf menunggangi seekor Riding Lizard (kadal tunggangan).

Kadal yang dikendarai adalah sejenis Giant Lizard (Kadal raksasa). Mereka adalah reptil yang memiliki ukuran tiga meter dari kepala hingga ekor. Mereka tidak banyak, jadi para dwarf membesarkan mereka sebagai tunggangan dan menggunakannya sebagai binatang untuk menarik beban untuk pekerjaan sehari-hari.

Namun, kebanyakan para pelari tidak akan mengguakan mereka untuk mengirimkan pesan. Mereka dipekerjakan dalam keadaan genting – ketika diperlukan untuk memberitahu garnisun tentang kondisi di baris depan.

Rasa tidak tenang memenuhi hati panglima itu.

“Darimana orang itu?”

“Dia seharusnya memiliki pos di benteng pintu masuk permukaan minggu ini.”

Itu memastikan perasaan takut yang ada di hati panglima tersebut. Tidak, melihat ekspresi pria itu dan nadanya yang hampir gila, itu sudah jelas sekali. Bertanya seperti itu hanyalah karena dia sangat ingin tidak mengakui ketakutan yang ada di hatinya dengan kenyataan yang ada di depan mata.

“Aku di sini! Ada apa?”

Pembawa pesan itu belari ke arah panglima dengan kekuatan penuh. Itu tidak bisa ditunda. Ini adalah sesuatu yang harus didengar secara langsung jadi tindakan semacam itu bisa sangat menentukan.

Pembawa pesan itu jatuh dari punggung kadal tunggangannya, lalu dia mencoba membenarkan diri mati-matian.

“Panglima! Ada keadaan darurat! Mon-Monster! Ada monster!”

Dia menduga itu adalah Quagoa, tapi dia cepat-cepat menyingkirkan itu. Pria itu tidak akan menggunakan kalimat seperti itu untuk mendeskripsikan Quagoa.

“Tenanglah! Kita tidak akan bisa tahu apa yang kamu katakan! Apa yang terjadi? Apakah yang lainnya baik-baik saja?”

“Y-Ya! Ada monster-monster menakutkan di pintu masuk! Mereka bilng mereka ingin membicarakan tentang pasukan Quagoa yang menuju kemari!”

“Apaaaaaaaaaa?!”

Pemilihan waktu mereka terlalu sempurna. Dia tidak bisa membayangkan ada dua kejadian yang tidak berhubungan. Jangan-jangan mereka adalah bos-bos dari Quagoa, atau yang membantu mereka melewati Great Rift?

“Siapa, siapa mereka? Bagaimana rupa mereka! Kepala Staf!! Kumpulkan setiap orang yang bisa bergerak sekarang juga!”

“Saya mengerti!”

Panglima itu bahkan tidak punya waktu untuk melihat bawahan yang sedang panik pergi.

“Berapa banyak monster-monster itu disana?! Berapa kekalahanmu?!”

“Y-Ya! Ada 30 orang. Tpai mereka kelihatannya tidak ingin bertarung! Mereka bahkan berkata mereka ingin membuat kesepakatan dengan kita, tapi mereka terlihat sangat jahat, jadi saya tidak berpikir itu adalah niat mereka yang sebenarnya. Pasti ada semacam rencana di sini!”

Bagaimana sebenarnya mereka mengkualifikasikan sebagai jahat? Yang lebih penting lagi, pria itu masih belum mendeskripsikan mereka. Setelah ditanya lagi, prajurit itu menelan ludah dan menjelaskan,

“Mereka adalah undead yang terlihat menakutkan dikelilingi oleh aura yang terlihat tidak baik!”

“Apa?! Undead?!”

Makhluk yang membenci makhluk hidup, yang menabur kematian saat bangkit, musuh dari semua yang hidup.

Beberapa gambaran muncul di dalam benak panglima itu saat dia mendengar kata “undead”. Contohnya, Freezing Zombie (Zombi beku), Frost Bone (Tulang Beku), dan semacamnya. Namun, tak ada undead yang menjadi lawan kuat. Orang ini seharusnya tahu itu. Kalau begitu, mengapa dia sangat ketakutan?

Disamping itu, mengapa undead datang kemari? Apakah mereka di sini untuk bersenang-senang dalam pembantaian dwarf dan quagoa, keduanya adalah makhluk hidup?

“Kepala staf, apakah kamu belum siap?! Ayo berangkat ketika kamu sudah selesai! Kita tidak tahu undead macam apa yang ada di luar sana, tapi jangan menganggap enteng mereka! Jangan biarkan mereka menganggap remeh kita! Mereka mungkin tidak bersikap sombong, tapi jika mereka meremehkan kita, bisa gawat!!”

Part 2

Kelompok tersebut bergerak maju, dengan Gondo di depan.

Karena Gondo biasanya bepergian di bawah tanah, dia tidak seberapa akrab dengan permukaan. Oleh karena itu, dia harus mengandalkan indera penentu arah di medan tersebut ketika itu adalah melangkah maju. Pada awalnya, Ainz khawatir dengan ini. Tapi setelah melihat Gondo maju tanpa ragu, dia mulai percaya kepada orang itu. Sekarang, dia sepenuhnya mempercayakan tugas menunjukkan jalan tersebut kepadanya.

Kenyataannya adalah Gondo tidak punya alasan untuk secara sengaja menyesatkan Ainz sekarang setelah tahu Quagoa menyerang ibukota dwarf. Oleh karena itu, seharusnya tidak ada masalah membuatnya menunjukkan jalan.

Di bawah pimpinan Gondo, magical beast Aura bergerak menembus salju seperti dataran rumput.

Mereka terkenal dengan ketangkasan dan stamina yang besar, seperti yang diduga dari magical beast level tinggi. Bahkan di dalam udara yang tipis pada pegunungan bersalju dan membawa Ainz dan yang lainnya di punggung mereka, kecepatan mereka tidak berkurang sedikitpun. Mereka menuju utara dengna kecepatan lebih dari 100 kilometer perjam.


Mereka melihat beberapa monster-monster terbang selama perjalana, tapi sedikit raungan mengancam dari magical beast itu membuat mereka semua takut. Berkat itu, waktu perjalanan mereka terpotong hingga minimum.

Kurang dari sehari, mereka telah tiba di satu-satunya kota dwarf yang tersisa, Feoh Gēr.

Ainz mengarakan binatangnya ke arah Gondo dan bertanya.

“...Kalau begitu, Gondo. Kota di sebelah selatan Feoh Raiđō diakses melalui retakan di dalam gua. Apakah Feoh Gēr juga begitu?”

Jika memang begitu, mereka akan perlu mencari jalan masuk. Gondo – yang pada awalnya takut dengan magical beast Ainz, tapi sekarang menggunakannya untuk tunggangan – membalas:

“Umu. Sebagian besar kota dimana dwarf tinggal seperti itu. Namun, Feoh Gēr didesain dengan mempertimbangkan perdagangan skala besar dengan manusia, jadi sedikit berbeda dari Feoh Raiđō. Pertama, mudah bagi manusia untuk menemukannya, dan untuk meminimalisir segala ketidak nyamanan para pengunjung, mereka membangun benteng besar di luar. Anda akan tahu ketika melihatnya.”

Ainz melihat sekeliling setelah mendengar itu, tapi dia masih tidak bisa melihat jejak bangunan apapun.

“Anda tidak akan melihatnya jika tidak menuju ke timur laut agak jauh.”

Ucapan Gondo dipenuhi dengan kepercayaan diri. Kelihatannya dia sangat yakin dimana tujuan mereka berada. Karena dia adalah satu-satunya orang yang bisa mengarahkan mereka, tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Ainz jika dia salah, jadi yang bisa Ainz lakukan adalah percaya kepadanya.

Sambil berkata “begitukah,” Ainz merapalkan mantra [Message].

Quagoa yang ditangkap telah dibawa ke Nazarick. Disana, mereka akan ditanyai, dan pengetahuan mereka digunakan untuk mengambahkan laporan Gondo.

Quagoa adalah sebuah ras yang tunduk kepada yang kuat, tapi Quagoa dari rangkaian pegunungan Azellisian dibagi menjadi delapan klan, mereka semua bersatu di bawah Ketua Klan atau Clan Lord. Total mereka berjumlah 80.000.

Setelah menganalisas informasi ini, Ainz menginjak mereka sebagai sebuah ras yang dianggap tidak menarik baginya.

Jika dia harus memilih antara membantu Dwarf atau Quagoa, Ainz akan memilih yang pertama tanpa ragu.

Namun, dia telah mengetahui logam-logam yang dimakan Quagoa ketika mereka masih muda menentukan kekuatan mereka ketika mereka sudah dewasa. Jika dia membirkan merkea makan logam-logam Nazarick, akan bisa membangkitkan individu yang kuat.

Kemudian, dia memikirkan tentang prismatic ore, mungkin Clan Lord telah mendapatkan tempatnya dengan memakan salah satu logam langka Yggdrasil.

Jika dia cukup kuat untuk ditangkap, maka layak untuk diselidiki.

Aku harus mempertimbangkan membawa mereka masuk jika mereka bisa patuh kepada Sorcerous Kingdom, meskipun aku tidak percaya diri bisa memberi makan 80.000 orang. Lagipula, itu adalah negeri yang aku inginkan.


Negeri yang Ainz inginkan.

Itu adalah sebuah negeri dimana banyak ras hidup dalam harmoni di bawah kekuasaannya. Itu adalah sebuah negeri yang memunculkan kembali gambaran dari guild Ainz Ooal Gown.

Itu adalah sebuah negeri agar teman-temannya, dimanapun mereka berada, bisa tinggal dan tersenyum.

Oleh sebab itu, dia harus menunjukkan ampunan kepada Quagoa ini.

Tetap saja, jika mereka bersumpah setia kepadaku, dimana aku harus meletakkan mereka? Pegunungan ini sedikit menyebar... bagaimana dengan rangkaian pegunungan di selatan E-Rantel? Tapi mungkin di sana ada penghuninya juga... Umu, susahnya. Lizardmen memiliki level teknologi yang sama dengan mereka. Mungkin pengalamanku dalam menata Lizardman bisa digunakan. Mungkin ide yang bagus jika membiarkan Cocytus menangani mereka.

Setelah memikirkan sejauh ini, Ainz mempertimbangkan sisi sebaliknya dari koin itu.

Bagaimana jika mereka tidak mau berlutut? Apakah aku harus menguasai mereka dengan paksa? Atau apakah aku harus menghabisi mereka? Atau apakah aku harus menghabisi yang dewasa dan mengguakan anak-anaknya untuk percobaan? Apakah memaksa mereka menjadi satu klan dan menguasai mereka adalah cara yang terbaik?

Saat dia mempertimbangkan berbagai masalah, teriakan Gondo menyela pelatihan berpikir Ainz.

“Di sebelah sana!”

Ainz melihat ke arah yang ditunjuk Gondo, dan tentu saja, ada sesuatu yang terlihat seperti sebuah benteng yang dibangun di sisi sebaliknya dari pegunungan tersebut.

Kelompok itu langsung menuju ke arah benteng tersebut. Memang ada banyak cara untuk menyembunyikan diri, tidak ada gunanya melakukan itu, sehingga mereka bergerak langsung dan secara terbuka.

Saat mereka mengurangi jarak ke benteng, pasukan bertahan di benteng melihat mereka, dan para penjaga menjadi hidup.

Mirip seperti yang akan dia lakukan sebelum mengeluarkan kalimat sales, Ainz memeriksa pakaiannya dan memastikan jubahnya rapi dan bersih. Tentu saja, itu adalah item magic dan tidak bisa robek atau kusut, tapi kenangannya sebagai Suzuki Satoru berkata kepadanya bahwa dia harus memeriksanya bagaimanapun juga.

Setelah mereka mendekati benteng itu, para dwarf menyiapkan crossbow mereka dan mengarahkannya dari jendela.

Satu-satunya orang yang mungkin akan terluka fatal oleh anak panah itu adalah Gondo dan Zenberu.

Memang dia berpikir untuk mengirimkan mereka bernegosiasi untuk membuktikan bahwa mereka tidak berniat bermusuhan, mereka mungkin akan tertembak oleh anak panah itu jika keadaan menjadi rumit, jadi dia mengabaikan ide tersebut. Sebagai gantinya, Ainz akan maju dahulu, sementara Gondo dan Zenberu akan muncul nanti.

Dia menghentikan binatang tunggangannya di luar jangkauan efektif dari crossbow mereka lalu turun. Karena dia masih berada di dalam jangkauan minimum crossbow itu, dia memerintahkan kepada Shalltear untuk tetap di tempat dan melindungi Gondo dan Zenberu.

Setelah itu, yang tersisa adalah strategi anti pemain Yggdrasil.

Jika ada satupun pemain, mereka akan langsung mengambil sikap bertahan dan mundur. Sementara Ainz tidak bisa memastikan kehadiran atau ketiadaan para pemain selama pembicaraan mereka dengan Gondo di jalan, kelihatannya mereka tidak ada. Namun, jika dia gegabah, mungkin dia akan kehilangan NPC (anak-anaknya) dan Ainz tidak ingin mengalami itu untuk yang kedua kalinya.

Semua dwarf yang menatapnya dari jendela mengeluarkan ekspresi terdiam yang sama di wajah mereka. Berkat janggut mereka yang tidak karuan, dia tidak bisa membedakan satu individu dwarf dari yang lainnya, tapi bagaimana dia harus mengatakannya – mereka terlihat lucu.

Menahan hasrat untuk tertawa, Ainz melangkah maju, berpura-pura tenang.

Tangannya diangkat, untuk menunjukkan bahwa dia tidak berniat memusuhi.

Saat dia seakin mendekat ke benteng-

“Berhenti disana!”

- Sebuah teriakan peringatan terdengar. Kedengarannya si pemiliki suara tersebut mengalami kejang sesaat. Memang benar, dia adalah undead, tapi Ainz mau tidak mau menghela nafas dalam hati saat dia merenung, ini adalah penerimaan yang sangat buruk untuk orang yang tidak menunjukkan sikap bermusuhan.

“Mengapa kamu kemari, undead!”

Ainz mengusap tulang pipinya yang bersinar.

“Aku adalah Sorcerer King Ainz Ooal Gown dari Sorcerous Kingdom, dan aku datang untuk membentuk hubungan pertemanan dengan negeri Dwarf. Kami tidak akan menyerang kalian jika kalian tidak menyerang kami, jadi tolong turunkan senjata kalian.”

Kebingungan muncul di dalam mata para dwarf yang melihat dari jendela. Ainz mengambil peluang ini untuk terus bicara:

“Setelah menangkap Quagoa yang menginvasi Feoh Raiđō, aku mempelajari rencana mereka untuk menyerang tempat ini. Jika kalian tidak percaya dengan kekuatan persenjataan kalian, maka aku – kerajaanku – akan dengan senang hati memberikan bantuan . Ya, benar sekali – itu akan menjadi pertunjukan yang baik dari pertemanan.”

Ainz tersenyum, tapi karena dia tidak memiliki kulit, isyarat perbuatan baiknya tidak tersampaikan ke sisi lain.

“Bagaimana dengan dwarf yang ada di belakangmu? Apakah dia adalah tawanan?!”

Kelihatannya para dwarf masih bersikap waspada kepadanya?!”

“Tidak sopan. Aku adalah raja tahu? Apakah begitu caranya bicara kepada raja?”

Para dwarf saling melihat satu sama lain, lalu salah satunya merespon.

“Tidak, tidak... tunggu sebentar, tunjukkan kepada kami bukti jika anda adalah seorang raja!”

“—Ternyata begitu. Itu memang masuk di akal,” Ainz setuju. “Kalau begitu, biarkan aku memperkenalkan dia. Dia adalah salah satu dari kalian, Gondo si penempa, yang aku temui di Feoh Raiđō.”

Ainz menunjukkan gerakannya yang bak raja setelah dia bersusah payah melatihnya.

Dengan aura seperti pemimpin sejak lahir, dia memberi isyarat kepada bawahannya untuk melangkah maju.

Sebuah perasaan puas yang dalam memenuhi diri Ainz saat dia mendengar suara terkesiap menahan kagum yang datangnya dari para dwarf. Kelihatannya latihan yang dia lakukan selama berjam-jam tidak sia-sia.

Sekarang setelah Gondo ada di sini, Ainz – yang sedang dalam suasana hati yang bagus – menunjukkan pose lain dari raja yang agung dan mengalah kepadanya.

“Maaf, tapi bisakah kamu masuk ke dalam benteng dan menjelaskan situasinya kepada mereka dengan jelas?”

“Umu, serahkan itu kepadaku.”

Gondo melangkah maju ke gerbang benteng dan meminta izin untuk masuk, tapi gerbang tersebut tidak terbuka.

“...Ada apa?”

“Entahlah. Mungkin ada sesuatu?”

“...Apakah, apakah itu benar-benar dia?! Apakah itu benar-benar Gondo si aneh? Mungkin seseorang menggunakan magic untuk mengambil wajahnya!”

Ainz mengerutkan dahi saat dia mendengar suara para dwarf. Waspada memang sangat penting, dan bahkan Ainz pun menyetujuinya. Tetap saja, mereka tidak akan mendapatkan kemajuan jika tak ada yang percaya kepada mereka.

Namun, dia pernah mendengar sesuatu tentang kemungkinan bertemu kenalan di sini. Jika memang begitu masalahnya, mereka akan sangat beruntung.

“Aku bilang, Gondo, bisakah kamu membuktikan diri dengan menunjukkan pengatahuanmu terhadap kota ini? Seperti, dimana tempat tinggalmu, sesuatu yang hanya diketahui oleh orang yang tinggal di sini?”

“Oh, ohhh, ya.... aku akan katakan kepada istrinya rahasia dia. Ah, ada sebuah restoran yang disebut Black Gold Beard Pavilion! Restoran itu dijalankan oleh seorang pria yang wajahnya seperti sebuah anvil (landasan tempat). Makanannya tidak enak, dan satu-satunya yang lumayan di sana adalah stew (masakan yang direbus)!”

Para dwarf terdiam. Ainz melihat ke arah Gondo, entah karena kehilangan kata-kata. Balasanya seakan dia sedang mencoba terlalu keras.

“Dasar bodoh! Tempat itu bukan untuk makan, tapi untuk minum! Stout (bir hitam) disana rasanya yang terbaik!”

“Bohong! Bir Jamur merah yang paling enak!”
(TL Note: 濁り酒 - nigorizake)

“Apa yang kamu katakan, wine berkabut mereka adalah yang terbaik! Bayangkan saja aroma yang begelembung itu!”

Ainz membuat catatan dalam hati jika para dwarf sangat suka dengan bir mereka, lalu membalasnya:

“Bagaimana? Bisakah kamu menerima bahwa ini adalah Gondo yang sebenarnya? Ngomong-ngomong, yang dia ingin lakukan adalah memberitahumu bahwa Quagoa sedang mencoba mengelilingi Great Rift dan menyerang kota ini. Yang harus kamu lakukan adalah kirimkan peringatan kami kepada orang-orang yang di atas. Dengan begini, negeri kami akan terbebas dari tanggung jawabnya, meskipun jika serangan Quagoa itu sangat ganas. Akan sangat menjengkelkan jika kalian mengusir kami setelah itu.”

Beberapa dwarf menarik kepala mereka kembali dari jendela.

Beberapa saat berlalu. Kelihatannya beberapa orang sedang berdiskusi.

“Tunggu di sini! Kami akan mengirim laporan kepada panglima kami!”

Menurut Gondo, orang itu adalah pemegang kekuasaan tertingi militer negeri ini.

Kelihatannya mereka menyadari bahwa ini harus diberitahukan kepada otoritas tertinggi.

 “Kukuku~”

Ainz tidak menahan tawa kecilnya.

Ada suara gemerincing yang berisik, dan ketika Ainz mengintip ke arah sumber suara itu, dia melihat dwarf-dwarf itu mengarahkan crossbow mereka kepada Ainz sekali lagi. Nafas mereka tidak karuan; mereka kelihatannya sedang dicengkeram emosi yang kuat.

Sialan. Apakah mereka marah karena aku tertawa?

“Maafkan aku. Bagaimanapu, apakah tidak apa jika hanya Gondo yang masuk? Dia sudah membuktikan asalnya, ya kan?”

“Tidak, dia tidak bisa, tidak, itu tidak boleh, tetaplah di sini! Tunggulah di sana!”

Ainz tidak sedang menertawakan mereka, tapi kelihatannya dia sudah membuat marah mereka semua.

Emosi kuat Ainz tertekan, tapi riak emosi kecil bisa lolos.

Bagaimana sebuah perusahaan bereaksi jika seorang salesman yang tak pernah mereka temui sebelumnya tersenyum kepada mereka seakan dia sedang menyembunyikan sesuatu? Ainz merasa jengkel karena sudah tidak memikirkan tentang itu. Hasilnya adalah sebuah kesalahan.

Harusnya aku lebih berhati-hati, pikir Ainz saat dia mundur bersama dengan Gondo.

Dan akhirnya mereka berdiri disana selama beberapa saat.

Ketika Jircniv datang untuk berkunjung, aku menyediakan minuman, perabotan dan membuat segala macam persiapan untuk menyambut mereka. Apakah para dwarf melakukan hal semacam itu?... Tidak, keadaannya sekarang berbeda dari dulu.

Berlawanan dengan kunjungan Jircniv yang diatur sebelumnya, Ainz pada dasarnya seorang salesman yang melakukan penjualan dari pintu ke pintu. Dia harusnya berterima kasih mereka tidak langsung mengusirnya di tempat.

Ditambah lagi, dia tidak akan mampu menikmati minuman apapun yang diberikan mereka, mempertimbangkan tubuhnya.

Tetap saja, kami telah memberikan informasi yang sangat berharga kepada para dwarf. Aku mengharapkan respon yang tepat. Yah, aku bisa menggunakan itu sebagai umpan untuk negosiasi selama hubungan diplomatik resmi. Aku akan menahannya untuk sekarang.

Tetap saja, akan lebih baik untuk berubah dan menghindari menyinggung perasaan.

Pertama, dia mengeluarkan sebuah tongkat Ainz Ooal Gown palsu. Itu adalah sebuah salinan hiasan yang sempurna, hingga logam yang digunakan untuk membangunnya. Bagaimanapun, hanya itu; benda itu bahkan tidak memiliki sepersepuluh kekuatan dari yang asli, dan itu hanya ditempeli permata yang memiliki warna yang sama dengan yang asli.

Ainz menambahkan kilauan merah pada tongkatnya, yang kemudian berubah menjadi gelap. Mengapa benda ini memiliki fungsi berubah seperti itu? Obsesi rekan-rekannya yang lalu membuatnya jengkel.

Kelihatanya tidak ada hubungannya dengan auranya sendiri.

Ainz memancarkan sebuah halo (lingkaran cahaya) hitam di belakangnya, tapi seperti yang diduga, aura tongkat itu tidak berubah.

Apakah itu hanya visual efek?

Ada suara gemerincing tiba-tiba, yang membuat Ainz tersadar dari lamunannya. Ketika dia menoleh ke arah sumber suara, dia melihat tiga dwarf duduk di tanah.

Mereka kelihatannya seperti para dwarf yang menjaga benteng itu, tapi di waktu yang sama mereka kelihatnanya sangat hebat. Sebenarnya, dua orang itu berpakaian lebih baik dari yang lainnya. Yang satu pasti seorang prajurit di benteng ini, dan dua yang lainnya mungkin adalah atasannya.

...Mengapa mereka bertiga duduk di sana? Apakah duduk untuk bicara adalah etiket yang benar diantara para dwarf? .... Mereka menatapku dengan mata lebar. Agak menjengkelkan jika hanya itu ekspresi dwarf.

Mulut mereka disembunyikan oleh jenggot mereka, jadi sulit untuk melihat tampang di wajah mereka.

Karena bingung, Ainz secara tak sadar mengulurkan sebuah tangan kepada dwarf-dwarf yang sedang duduk.

Seseorang bisa menganggap itu sebagai niat untuk membantu mereka, atau ingin berjabat tangan. Namun sebenarnya, dia ingin bilang kepada mereka bahwa dia lebih memilih bicara sambil berdiri.

Memang sulit beradaptasi dengan kebudayaan yang berbeda seperti, “Kamu harusnya melakukan riset terhadap kebudayaan negeri kami karena dia ingin membentuk hubungan dengan kami”, Ainz tidak akan punya apapun yang dikatakan untuk meresponnya.

Meskipun dia sangat tidak tenang tentang ini, Ainz berterima kasih dengan wajahnya yang tidak bergerak, dan tetap mengulurkan tangannya.

Para dwarf saling menatap antara Ainz dan tangannya, sebuah tampang bingung muncul di wajah mereka.

Hm? Jangan-jangan mereka takut kepadaku?!.. Yah, karena aku terlihat seperti ini... mau bagaimana lagi, ya kan? Reaksi seperti ini bisa diharapkan dari masyarakat humanoid...

Meskipun mereka takut kepada Ainz di E-Rantel pula, mereka tidak bereaksi seperti ini. Oleh karena itu, mungkin saja menyambut tangan orang berkedudukan tinggi tidak sopan di masyarakat mereka.

Pada akhirnya, Ainz yang khawatir memutuskan untuk menarik tangan mereka.

Karena mereka memiliki waktu untuk urusan tidak beguna ini, itu harusnya berarti bahwa Quagoa belum diserang. Jika mereka memang menyerang, kita bisa membuat mereka berhutang besar kepada kita, tapi hanya memberi mereka peringatan akan dianggap sebagai hutang budi yang kecil. Ahhh, sayang sekali. Tetap saja, yang mana pemimpin mereka?

“Kalau begitu, Aku adalah Sorcerer King Ainz Ooal Gown. Apakah anda para hadirin yang bertugas menyambutku?”

Dia tidak tahu yang mana pejabat yang memiliki pangkat lebih tinggi, jadi dia menyapa ruang diantara mereka. Lalu salah satu dwarf mengangguk terpaksa, sepertinya dia mencoba untuk membuang sesuatu dari wajahnya.

“Ahem! Saya, saya adalah yang bertanggung jawab dalam militer-“

“Militer- ternyata begitu.”

Jadi ini panglimanya. Ainz terkejut. Dia tidak menyangka orang tertinggi mereka langsung turun sendiri.

Jangan-jangan negeri ini sudah dengar Sorcerous Kingdom sebelumnya? Atau lebih tepatnya ... apakah itu karena aku membawa berita kepada mereka di saat yang menguntungkan?

“-Apakah ada masalah dengan Quagoa? Aku minta maaf sudah membuatmu turun sendiri ketika waktu yang sibuk, panglima.”

Panglima tersebut membelalakkan mata.

“Ternyata begitu.. jadi anda sudah tahu mengapa saya datang kemari kalau begitu?”

Dia ngomong apa sih, pikir Ainz. Tentu saja, dia tidak benar-benar mengatakan itu.

“-Tentu saja. Itu benar sekali.”

Ainz mengangguk dengan agung dan dengan sikap megah yang dia latih berkali-kali sebelumnya.

“...Ternyata begitu.... Yah, seperti yang anda tahu, kami entah bagaimana berhasil menghentikan serangan Quagoa untuk sekarang – tidak, kami sdang mencoba untuk membuat mereka mundur.”

“Ho. Hoho. ... Lalu?”

Ainz ingin bertanya kepada dwarf apa yang dia anggap Ainz tahu, tapi karena Ainz sudah pura-pura tahu baik, pertanyaan itu dibuang.

Tapi apakah ada yang bocor tentang diriku?

Yang bisa Ainz lakukan adalah bergantung kepada pemikiran tersebut saat dia menantikan respon mereka.

“Sebelum itu, saya dengar dari orang-orang saya anda mendapatkan informasi setelah menanyai beberapa Quagoa yang tertangkap di Feoh Raiđō. Apakah anda punya bukti untuk mendukungnya?”

“Ada Gondo, seorang penduduk negeri ini-“

“-Bukti Material.”

“Hm, jadi kamu ingin melihat Quagoa yang tertangkap? Aku bisa membawa beberapa diantaranya dan silahkan ditanya sendiri.”

“Sebuah jawaban yang langsung... Kelihatannya saya harus berterus terang kepada anda, .... Jika begini, evakuasi Feoh Raiđō akan sangat sulit.”

“Komandan..!”

Melihat nada suara tidak setuju yang diambil oleh pria yang ada di samping panglima tersebut, Ainz menduga pria tersebut sangat getol terhadap panglima yang sedang membicarakan rahasia militer di depan Ainz. Namun panglima itu dengan tenang melanjutkan:

“Yang Mulia sudah tahu semuanya. Seperti yang beliau bilang – kenyataan bahwa seseorang yang harusnya mengomandoi baris depan ada di sini sudah merupakan tanda jelas adanya kebuntuan. Karena beliau sudah tahu itu, seharusnya mudah untuk membayangkan apa yang ingin dilakukan oleh pasukan kita – yang tidak bisa menantikan bantuan apapun.”

Tidak, aku hanya mencoba untuk bersikap sopan. Namun, Ainz tidak bisa bicara sebenarnya, dan malahan mengangguk, dengan sikap sebagai penguasa sejati.

Panglima tersebut menjelaskan keadaan gawat saat ini.

Benteng yang menjaga Great Rift telah jatuh, dan mereka terdorong mundur ke barisan pertahanan terakhir. Hanya satu gerbang yang berdiri diantara mereka dan musuh, dan jika gerbang itu jatuh, musuh akan membludak memasuki kota dan banyak dwarf yang akan mati. Sementara pada awalnya mereka berencana untuk mengulur waktu bagi rakyat untuk lari dari Feoh Raiđō, jelas sekali keselamatan dari seluruh spesies akan diragukan jika rencana itu tidak dirubah drastis.

Setelah Ainz tahu keadaan terjepit dari para dwarf, dia tersenyum di dalam hati. Semuanya berkembang sangat menguntungkan kearahnya.

“Bagaimana kalau begini? Aku akan meminjamkan pasukanku untuk mendorong mundur Quagoa untuk sementara waktu. Bagaimana menurutmu?”

Komandan tersebut memicingkan matanya, seakan menyembunyikan emosi di dalam dirinya.

“Bisakah anda melakukan itu? Tapi...”

Secara tradisional, seseorang perlu meletakkan syarat dari sebuah perjanjian dalam tulisan sebelum sebuah kontrak ditandatangani. Ada banyak keuntungan jika menangani masalah seperti. Namun, jika Ainz dengan bebas meminjamkan kekuatannya, dia akan memperoleh rasa terima kasih dari semua orang yang hadir. Seseorang bisa mendapatkan keuntungan dengan sebuah pinjaman yang tidak bisa ditulis dalam persetujuan tertulis, dan Ainz mengincar hal itu.

Diantara yang tertulis dan tak tertulis, yang tak tertulis pada umumnya lebih menyusahkan. Itu seperti membayar makanan di restoran berdasarkan suasana hati seseorang. Ada peluang jika itu akan kelebihan bayarnya dibandingkan dengan membayarkan harga yang sudah tertulis.

Kebaikan hati sering sama dengan keserakahan, hm? Apakah Punitto Moe-san yang berkata demikian?

“Setelah datang hingga kemari dan melakukan banyak usaha untuk menemukan kalian, akan sangat tidak menyenangkan bagiku jika negeri yang kuharap bisa menjadi teman akhirnya hancur. Maukah anda menerima bantuan saya?”

“..Tapi jika kita tidak memiliki persetujuan dewan...”

“Yah, selama ada cukup waktu, seharusnya tidak masalah. Ini hanyalah sebuah penawaran bantuan dariku. Keputusan terakhir ada pada anda. Tentu saja, Dewan seharusnya menyelesaikan hal-hal yang penting kemudian... tapi anda harusnya tahu bagaimana hal seperti ini biasanya berakhir. Pertemuan akan terjadi dari fajar hingga terbenam dan pada akhirnya tak ada orang yang mendapatkan kesimpulan. Dan sayang sekali jika membiarkan perjalananku menjadi sia-sia, mau bagaimana lagi.”

“...Yang Mulia, apakah anda percaya diri dengan kemampuan anda memukul mundur Quagoa?”

“Jika mereka hanya sekaliber yang kami lihat di Feoh Raiđō, seharusnya itu hanya mainan anak-anak.”

Mm, Gondo mengangguk dari samping.

“Tentu saja, itu sebelum Quagoa masuk ke dalam kota, sangat sulit hanya menghabisi musuh selama pertempuran jarak dekat yang kacau balau. Aku yakin anda tidak ingin diam saja dan membiarkan pertempuran tertumpah hingga ke dalam kota dwarf? Jadi kurasa saat ini, satu pintu kecil anda adalah kesempatan terakhir, ya kan?”

Sebuah ekspresi pahit keluar dari wajah panglima itu-

“-Berapa lama lagi yang anda miliki? Berapa hari gerbang itu bisa bertahan?”

Ainz mengulang-ulang untuk menekankan poin tersebut seakan-akan membuatnya terpatri di benak sang panglima.

“..Saya mengerti. Yang Mulia, saya harap anda mau meminjamkan kekuatan negeri anda.”

“Panglima!”

Prajurit lain memanggil dengan suara panik, dan panglima tersebut menatap dengan tajam kepadanya.

Lalu, panglima tersebut meminta maaf sebentar kepada Ainz sebelum membawa orang lain itu menjauh, agar Ainz tidak bisa mendengar.

Lalu, mereka bicara.

Dia bisa mendengar sebagian dari percakapan, seperti ‘ini gawat’, ‘um-‘, ‘Quagoa’,’kita masih’, ‘bahaya di depan kita’, ‘kalau begitu’ dan seterusnya.

Secara umum kelihatannya akan sulit bagi mereka untuk menghadapi Quagoa sendirian, jadi mereka mengambil peluang ini dan mempertaruhkannya.

Kelihatanya waktunya sudah datang untuk dorongan terakhir.

Dengan menyuntikkan kekuatan ke dalam suaranya, Ainz memanggil:

“Bukankah sudah waktunya memutuskan rencana masa depan anda sekarang?”.

Part 3

Ada delapan klan Quagoa yang tinggal di dalam rangkaian pegunungan Azellisia.

Mereka adalah klan Pu Rimidol, klan Pu Randel, klan Pu Surix, klan Po Ram, klan Po Shyunem, klan Po Gusua, klan Zu Aygen dan klan Zu Riyushuk.

Putra dari Pu – pahlawan zaman dahulu – membentuk tiga klan yang mengambil namanya, dan mereka berselisih dengan klan-klan yang menamai diri Po dan Zu. Ada sedikit perbedaan antara klan dari masing-masing individu, tapi secara keseluruhan terdiri dari 10.000 Quagoa, total 80.000 Quagoa tersebar di penjuru rangkaian pegunungan Azeelisia.

Sekarang, jika seseorang ingin tahu apakah orang-orang Quagoa kuat, jawabannya adalah mereka tidak kuat.

Meskipun satu klan memiliki anggota 10.000, Quagoa memiliki teknologi dan peradaban yang terbilang sedikit, dan memiliki peringkat di antara ras-ras yang rendah di pegunungan. Mereka tidak lebih dari mangsa bagi yang kuat.


Sekarang, jika ditanya siapa musuh terbesar ras Quagoa, jawabannya adalah sesama klan dari ras mereka. Tidak, suatu ketika bahkan orang-orang klan mereka sendiri bisa menjadi musuh mereka. Monster-monster lain memandang Quagoa tidak lebih dari makanan. Mereka tidak membenci Quagoa, ataupun bersaing dengan mereka. Namun, sesama rekan Quagoa berpikir berbeda.

Itu karena cara Quagoa tumbuh.

Ore (Bijih-bijihan logam) dan bebatuan yang Quagoa makan di usia muda menentukan kemampuan mereka nantinya dalam hidup. Dengan kata lain, mereka harus bersaing dengan orang-orang mereka sendiri untuk ore dan logam yang langka untuk memperkuat garis keturunan mereka. Jadi, sesama klan adalah musuh, tapi wajar jika musuh dekat lebih menyusahkan daripada yang jauh.

Yang mirip, para dwarf yang bersaing dengan mereka untuk ore juga musuh, tapi tidak lebih karena para dwarf akan mengusir mereka dengan senjata-senjata yang dimantrai dengan elemen petir (lightning).

Namun, di suatu titik, seorang pahlawan legenda – yang melebihi Pu, pahlawan masa lalu – telah lahir.

Dia adalah Ketua dari seluruh klan, Pe Riyuro.

Kekuatannya jauh melebihi Quagoa biru dan merah. Kekuatannya yang luar biasa membuatnya mampu menyatukan seluruh klan.

Revolusi Riyuro tidak berhenti di sana.

Setelah menemukan kota dwarf yang dibuang, dia mengumpulkan klan-klan yang ada di sana dan membentuk unit tempur monster, menggunakan tawanan dwarf untuk mengembangkan pertanian dan peternakan.

Bukan itu saja. Biasanya, ketika seorang pimpinan klan yang baru telah lahir, dia akan menghabisi garis darah dari pimpinan klan sebelumnya. Ini adalah cara yang umum diterima oleh kekuatan mana yang berganti di dalam Quagoa. Namun, Riyuro tidak melakukan itu. Malahan, dia membiarkan para pemimpin dari berbagai klan menguasai sendiri. Namun, Riyuro memerintahkan untuk membawa seluruh ore kepadanya. Mereka yang mematuhi Riyuro dan mengerjakannya dengan baik akan diberi ore-ore langka, tak peduli status mereka.

Contohnya, klan-klan yang mengalahkan serangan monster akan dikenal sebagai pemberani, sementara klan-klan yang menemukan lebih banyak emas dan batu-batuan berharga lainnya akan mendapatkan balas budi dan lebih banyak anggota. Dia akan memberi hadiah kepada mereka atas kerja kerasnya dengan ore-ore yang tepat.

Kompetisi mereka terhadap sang tuan berubah menjadi kompetisi satu sama lain, dan kursi pimpinan menjadi aman.

Dia telah melakukan semua ini yang belum pernah diimpikan oleh Quagoa sekalipun untuk memperluas pengaruhnya dan menjalan rencana tertentu.

Rencana itu adalah menyerang kota dwarf.

Klan-klan mengumpulkan warrior-warrior terbaik mereka membalas panggilan pimpinannya. Mereka mengirimkan 2000 orang per klan, dengan total kekuatan tempur 16000.

Ini adalah sebuah pasukan yang tak pernah terlihat sebelumnya dalam sejarah. Namun, meskipun dengan tenaga sebanyak itu, sebuah serangan langsung pada jembatan gantung akan menyebabkan korban yang sangat tidak menyenangkan. Bukan hanya itu akan mengalahkan tujuan mengumpulkan jumlah sebanyak itu, tapi juga beresiko dikalahkan tanpa mampu menaklukkan benteng tersebut.

Jadi, Riyuro memerintakan kepada mereka untuk menemukan jalan mengelilingi benteng itu.

Meskipun beberapa tim pemantau tidak kembali, mereka berhasil menemukan sebuah rute untuk melewati Great Rift pada akhirnya. Setelah itu, pasukannya akan terbagi menjadi tiga untuk melaksanakan tugas mereka.

Satu kelompok ditugaskan untuk menemukan dan menangkap dwarf-dwarf yang kabur. Tugas ini dibagikan kepada banyak skuad-skuad yang lebih kecil.

Satu kelompok dijadikan sebagai pasukan utama. Mereka dibuat untuk menaklukkan dan menjarah kota dwarf. Jika kelompok elit memakan waktu terlalu lama dalam menaklukkan benteng itu, mereka akan maju untuk membantu.

Kelompok terakhir dipenuhi dengan Quagoa elit, yang akan menaklukkan benteng dwarf. Kelompok ini akan bergerak maju mendahului pasukan utama, menaklukan benteng dan mereka mungkin akan digunakan untuk menaklukkan kota pula.

Kelompok ketiga, penjaga barisan depan, dipimpin oleh seorang Quagoa yang disebut Yozu.

Dia adalah salah orang kepercayaan Riyuro, seorang Quagoa merah yang luar biasa. Pikirannya tajam, dia adalah seorang petarung yang mumpuni, dan merupakan salah satu kandidat teratas untuk titik pemimpin di dalam klannya sendiri.

Meskipun begitu, tidak mudah bagi orang sepertinya untuk memerintah kelompok tempur campurannya.

Lagipula, para elit dari berbagai klan saling mendendam satu sama lain. Namun, Yozu bahkan bisa berhasil memanfaatkan itu.

Dengan mengipasi api kompetisi antara klan-klan, dia menaklukkan benteng tersebut.

Kemenangan mereka dipastikan dengan mengambil rute samping lalu benteng, namun meskipun begitu, tak ada yang meragukan kemampuan mengomando miliknya yang luar biasa.

Sebenarnya, tak ada orang lain diantara Quagoa yang bisa menyamai kemampuannya sebagai seorang komandan.

Dan sekarang, Quagoa tersebut sedang bersiap untuk menskak mati langkah para dwarf.

***

Quagoa pertama diantara penjaga barisan depan yang menyerang benteng itu adalah pasukan serang yang terdiri dari pasukan terbaik dari yang terbaik. Quagoa ini mencakar-cakar gerbang yang dibenci itu dengan liar, tapi mereka tidak bisa menembusnya.

Satu langkah lagi. Hanya satu langkah lebih dekat, dan mereka bisa menghancurkan pintu itu dan menginjak-injak musuh yang mereka benci, para dwarf. Satu langkah lagi, dan mereka bisa mengambil seluruh daerah ini sebagai milik sendiri. Mereka akan mendapatkan peringkat pertama untuk prestasinya, dan sebagai hadiahnya, mereka akan menerima ore yang cukup untuk membuat kepala mereka pusing.

Namun, peluang itu ditolak dan disegel oleh gerbang dingin di depan mereka.

Quagoa memiliki pepatah; ulat yang bersembunyi lebih dalam akan tumbuh semakin besar.

Salah satu Quagoa sangat marah karena sudah sangat dekat namun serasa jauh sampai-sampai mencoba menggigit gerbang tersebut. Biasanya, dia tidak melakukan apapun selain mencakar-cakar permukaannya.

Melihat Quagoa itu, beberapa yang lainnya juga mencoba hal yang sama.

Namun, Quagoa biasa tidak bisa melukai gerbang itu sama sekali. Mereka bisa mencoba selama ratusan tahun dan masih tidak akan bisa kemana-mana.

Meskipun ketika mereka berpikir untuk menggali lubang menembus bebatuan dan melewati gerbang itu, mereka menemukan dinding-dindingnya juga diperkuat dengan jeruji logam yang sama dengan gerbangnya.

Quagoa biasa tidak akan mampu menembus gerbang itu, elit-elit langka mereka seperti Quagoa biru dan merah disimpan sebagai senjata rahasia dan tidak ditugaskan untuk tim-tim penyerang. Dengan kata lain, gerakan mereka sementara terhenti di sini.

Siapapun akan merasa frustasi saat kemenangan mereka ditolak di saat-saat terakhir. Namun, mereka tidak gugup. Ini karena mereka sudah melaporkannya kepada komandan penjaga barisan. Jika Yozu yang hebat ada di sini, dia pastinya akan memikirkan seuah cara yang tidak bisa mereka pikirkan.

Meskipun begitu, mereka berbaris di dalam klan untuk beristirahat, karena mereka tidak tahu berapa banyak waktu yang akan dibutuhkan.

Jika mereka adalah pasukan biasa, mereka mungkin akan gelisah dan keluyuran karena stres, atau mulai saling berkelahi dengan klan-klan lain. Namun, siapapun yang ada di sini adalah pasukan terbaik diantara yang terbaik. Mereka beristirahat ketika sudah waktunya istirahat, menyimpan kemarahan dan tenaga mereka untuk pertempuran selanjutnya.

Kemudian, setelah beristirahat beberapa saat, Quagoa itu tiba-tiba melihat ke atas, seakan kepala mereka ada pegasnya.

Ada suara derit bass rendah yang terdengar dari dalam bumi, dan gerbang itu perlahan-lahan terbuka.

Quagoa penyerang saling melihat satu sama lain.

Para dwarf telah menyegel gerbang itu karena panik. Mengapa mereka membukanya lagi? Apakah mereka ingin menyerah? Ada begitu banyak Quago yang berpikir demikian, dan mereak tertawa mengejek saat menunjukkan gigi-giginya.

Memangnya mereka akan menerima penyerahan.

Rencana mereka adalah membasmi para dwarf. Mereka tidak akan memberikan waktu kepada para dwarf untuk mengutarakan ucapan-ucapan yang tidak berguna.

Mereka akan merangsek masuk seperti longsor melalui gerbang yang terbuka dan akan membantai seluruh dwarf yang ada di jalan mereka dengan brutal, mereka akan menginjak-injak kota itu di bawah kaki dan mengobrak abriknya dengan seluruh tenaga.

Sebuah celah perlahan terbuka di depan Quagoa yang sudah haus darah. Masih terlalu kecil untuk bisa dilewati. Satu Quagoa yang haus darah itu memasukkan tangannya ke dalam celah tersebut.

Dia mendorong cakarnya yang tajam ke depan, mencoba untuk membunuh dwarf satupun yang ada di depan gerbang.

Namun kemudian-

“Gyaaaaaaaaah!”

Quagoa yang ingin menjadi nomer satu itu berteriak dan bergulung-gulung ke belakang, lengan yang dia dorong ke depan sudah tidak ada, diganti dengan sebuah darah segar yang muncrat.

Keterkejutan mereka terhadap perkembangan ini seperti menyiram air dingin pada api haus darah mereka.

Mudah sekali membayangkan apa yang terjadi.

Kelihatannya, seseorang telah memotong tangannya dengan semacam senjata, tapi apakah itu mungkin?

Kemampuan spesial Quagoa adalah mereka sangat tahan terhadap senjata-senjata yang biasanya digunakan oleh para dwarf. Selama serangan kejutan mereka di benteng, beberapa diantaranya telah terluka namun tidak ada yang mati. Itu juga seharusnya berlaku selama mereka tidak diserang dengan serangan listrik.

Tapi, mengapa lengan rekan mereka terpotong?

Hanya ada satu alasan untuk itu.

Itu karena adanya ahli pedang luar biasa, yang bisa dengan mudah memotong lengan Quagoa, seorang anggota ras yang kulit dan bulunya mementalkan seluruh pedang.

Dengan kata lain, ada warrior luar biasa yang tak terbayangkan di belakang pintu yang perlahan terbuka itu.

Quagoa itu mundur, dicengkeram oleh emosi yang belum pernah dirasakan di dalam pertempuran ini – ketakutan. Saat itu, celah di pintu tersebuah semakin melebar.

“Mengapa kalian mundur?” teriak sebuah suara kuat dari belakang tim penyerang.

“Tidak ada pengecut diantara klan Pu Rimidol!”

 “Ohhhhh!”

Teriakan setuju itu pasti datangnya dari anggota klan Pu Rimidol yang dipilih sebagai tim penyerang kali ini. Panik, mereka yang dari klan lain juga beteriak, menyerukan kekuatan mereka pula.

“Klan Po Gusua juga tidak kenal dengan pengecut!”

“Tak ada orang dari klan Zu Aygen yang kalah dengan Pu ataupun Po! Bagaimana bisa kita membiarkan leluhur tertawa kepada kita dari Tanah Derey!?”

Bagi Quagoa, yang telah mati dengan gagah akan melihat anak-anak mereka makmur dari Tanah Derey. Dikatakan bahwa leluhur akan mengejek mereka yang mempermalukan diri.

Ucapan itu adalah pemicu untuk membangkitkan semangat tempur dari Quagoa.

Mereka menyeret Quagoa yang lengannya buntung menyingkir, ke dinding. Tim penyerang menjaga jarak mereka dan mengambil formasi merapat, bersiap untuk membantai ahli pedang yang luar biasa.

“Serang! Tak perduli seberapa kuatpun dia, musuh hanya punya satu pedang! Kita akan memukulnya dengan jumlah yang takkan bisa dia hadapi,” ucap seseorang.

“Tidak, kita hanya perlu bergegas merangsek lurus ketika pintunya terbuka. Ketika kita sudah menjatuhkannya, kita injak-injak dia. Lalu kita akan jarah kota itu.”

“Kalau begitu, biarkan aku yang memimpin!”

Ada sebuah mineral yang disebut Nuran yang diremukkan menjadi tepung dan dicampur dengan cat. Para pemberani akan mengambil cat ini dan menggambar dua garis menembus bulu mereka sebagai bukti keberanian mereka.

Quagoa itu berkumpul di belakang seorang pemberani itu. Jika dia ditebas dengan pedang, mereka masih bisa mendorongnya masuk.

Celah di dalam pintu sekarang sudah cukup besar untuk seorang Quagoa lewat. Sementara masih terlalu sesak untuk masuk dengan bergerombol, mereka akan kehilangan orang sia-sia jika para dwarf memukul pintu masuk itu dengan magic lightning (petir) yang barusan lalu menutup pintunya lagi.

“Maju!”

Dengan teriakan yang perkasa, lebih dari 1 Quagoa bergerak.

Quagoa pemberani di depan menjadi kaku. Orang-orang mendorongnya dari belakang merasa bahwa dia terbunuh oleh ahli pedang itu. Namun, mereka tidak bisa berhenti. Jika mereka berhenti sekarang, mereka telah menghina keberaniannya.

Karena itu, Quagoa dari belakang mendorong ke depan dengan niat bersatu, bermaksud membiarkan momentum dorongan itu membuat mereka bisa masuk ke dalam kota dwarf untuk menjarah dan merampas kota itu..

- Namun mereka terhenti...

Tak perduli sekeras apapun mereka mendorong, mereka tidak bisa bergerak. Seakan ada sebuah dinding yang tebal dan besar sedang menghadang.

Salah satu Quagoa mengangkat kepalanya dan melihat ke depan.

Memang wajar untuk penasaran apakah para dwarf membuat sebuah dinding.

Karena memang benar, ada sebuah dinding hitam legam di sana.

Yang bisa dilihat oleh semua mata mereka adalah dinding. Lalu dinding itu mulai bergerak.

“OHHHHHHHHHHHHHHHH!”

Itu adalah teriakan luar biasa yang membuat hati menggigil.

Apa yang mereka kira adalah sebuah dinding sebenarnya adalah sebuah perisai raksasa.

Quagoa tidak memiliki sejarah menggunakan senjata atau armor, tapi mereka pernah melihat para dwarf menggunakan itu sebelumnya, mereka tak pernah melihat benda sebesar ini. Di depan mereka ada sebuah perisai yang disangka sebuah dinding.

Saat Quagoa itu bingung dengan perkembangan ini, makhluk menjijikkan dibalik perisai itu memperlihatkan diri.

Itu adalah makhluk yang terbungkus armor full plate hitam, matanya yang merah menyinarkan kebencian.

Bahkan Quagoa yang bodoh pun mengerti itu adalah makhluk jahat, ganas – makhluk Itu adalah kematian itu sendiri

Sebuah suara pyun terdengar.

Dalam sekejap, kepala dari tiga Quagoa terbang jadi satu.

 “UUUOOOOHHHHHHHH!!”

Raungan itu membuat babak belur tubuh Quagoa.

Benturan yang menyebabkan bulu berdiri membuat Quago ingin lari dengan segenap hati.

Di dalam suku, mereka dianggap sebagai warrior-warrior pemberani yang tidak takut mati. Namun, mereka tidak pernah membayangkan satu makhluk seperti ini di dalam mimpi mereka yang paling liar sekalipun. Monster di depan itu melenyapkan keberanian mereka.

Meskipun begitu, mengapa mereka tidak segera lari?

Itu karena mereka tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya. Insting mereka bilang agar mereka lari, mereka akan dibantai oleh satu sabetan dari belakang. Meskipun begitu, mata dari makhluk hitam itu mengingatkan Quagoa akan hasrat mereka untuk hidup.

“OHHHHHHHHHHHHHHHH!”

Raungan itu kelihatannya datang dari dalam bumi. Quagoa meresponnya dengan rintihan, makhluk yang mirip telah muncul. Dan kemudian-

 “Hiiiiiii!”

Salah satu Quago berteriak.

Saat mereka melihat ke arah pemilik suara itu, mereka melihat rekan mereka yang telah kehilangan kepala.

Dia telah mati. Tidak diragukan lagi itu. Namun, lengannya mulai bergerak, seakan menggenggam sesuatu. Jelas sekali itu bukan kejang atau semacamnya.

Satu-satunya kesimpulan yang bisa mereka tarik adalah mayat-mayat itu sedang bergerak.

Seakan terperangkap di dalam mimpi buruk, Quagoa yang masih hidup merasa terpenjara dalam sangkar ketakutan.

Clang, clang, bergeraklah dua pasang armor besar, lalu mereka mengangkat pedang yang sama dan aneh: flamberge.

***

“Jadi, menurut laporan tim penyerang, mereka belum menemukan cara untuk meruntuhkan pintu itu, benar kan?”

“Ya!”

Quagoa yang kulitnya bergaris merah mengerutkan dahi saat mendengar laporan bawahannya.

Dia adalah Yozu, komandan dari barisan depan Quagoa. Dia memiliki sebuah kulit yang sekeras orichalcum dan tahan terhadap senjata logam yang bahkan lebih hebat daripada Quagoa biasa. Dia adalah anggota superior dari satu spesiesnya, Quagoa merah.

Yozu memalingkan matanya dari bawahan yang sedang membungkuk ke arah benteng di sisi lain dari jembatan gantung. Dibalik benteng itu ada sebuah terowongan dan setelah terowongan itu adalah kota Dwarf.

Setelah menguasai kota itu, mereka akan memiliki lokasi yang bagus sebagai markas dan seluruh kompetisi terhadap ore juga akan terhapus.

Kombinasi dari wilayah yang meluas dan hasil dari ore dan mineral yang belum pernah ada sebelumnya akan membuat Quagoa hebat.

Ketika itu terjadi, Quagoa suatu hari akan menguasai seluruh rangkaian pegunungan.

“Jika saja kita bisa mengalahkan naga-naga itu..”

Yozu melihat ke sekeliling khawatir setelah secara tidak sengaja keceplosan pemikirannya yang asli.

Jika ada orang bereaksi, mereka tidak mengeluarkan tanda apapun.

Itu membuat Yozu agak lega.

Quagoa telah mengambil bekas ibukota dwarf sebagai markas mereka.

Istana kerajaan masih berdiri dengan gagah di dalam kota, tapi sekarang menjadi rumah bagi naga putih (White Dragon). Dia adalah Frost Dragon (Naga beku), yang bisa mengeluarkan nafas membekukan.

Quagoa telah menjalin aliansi dengan Frost Dragon. Namun, siapapun yang hanya tahu sedikit tentang yang sebenarnya akan tahu bahwa itu bukanlah hubungan yang setara. Pimpinan Klan (Clan Lord) mungkin telah mempercantik hubungan itu dengan berkata bahwa itu adalah menjadi makmur bersama-sama dan semacamnya, namun pimpinan itu sendiri tidak percaya dengan apa yang dia katakan.

Sebenarnya adalah naga-naga itu kuat, dan para pelayan mereka, Quagoa itu lemah.

Bagi para naga, Quagoa tidak lebih dari bahan makanan darurat atau bidak yang tidak merepotkan.

Yozu pernah bertemu sekali dengan para naga di hadapan Pimpinan Klan, dan kesan yang dia dapatkan setelah mendengarkan suara yang agung itu keluar dari rahang yang besar pula. Dia juga terkejut dengan pemandangan Pimpinannya yang berlutut di hadapan para naga itu.

Dia tidak ingin melihat seorang pahlawan besar dalam keadaan seperti itu, tapi Yozu tidak bodoh. Dia sangat memahami perbedaan yang tak dapat diatasi antara kekuatan para naga dan Quagoa.

Meskipun begitu, dia tidak bisa mengizinkan para naga memperlakukan mereka seperti orang-orang bodoh.

...Kita tidak bisa apa-apa tentang itu sekarang. Jika kita melawan Dragon Lord itu, ras Quagoa (kami) akan menderita kerusakan yang tak dapat dipulihkan meskipun kami menang. Tapi... Suatu hari.

Dia bukan hanya satu-satunya yang memendam hasrat itu di hati. Seluruh Quagoa yang pernah bertemu dengan naga-naga itu – dengan kata lain, seluruh kelas atas Quagoa – memiliki hasrat yang sama.

Pada awalnya, mereka perlu mencari cara untuk menjadi kebal terhadap nafas pembeku. Jika Quagoa seperti itu tidak lahir, mereka akan mengalami kekalahan yang luar biasa.

Pencarian itu akan memakan waktu yang yang sangat lama.

Yozu menyapu semua emosi gelapnya. Sekarang ini, dia harus menghancurkan para dwarf. Itu masih belum dilakukan. Adalah hal yang bodoh membiarkan kekhawatiran akan masa depan mempengaruhi apa yang bisa dia lakukan saat ini.

Yozu memanggil para bawahannya.

“Oi, hancurkan benteng itu dan kita lihat apakah kita bisa memperlebar dinding terowongannya agar bisa lebih banyak orang yang masuk. Kita harus bersiap sebanyak mungkin sebelum pasukan utama-“

Tiba-tiba saja, telingat Yozu berdiri. Dia mengira telah mendengar sebuah teriakan dari suatu tempat.

Tidak, mungkin itu bukan sebuah teriakan. Mungkin saja suara mengancam yang dibuat oleh seorang monster. Masalahnya adalah di bawah tanah itu sangat sulit untuk membedakan darimana datangnya suara itu.

Kali ini, bagaimanapun, dia langsung tahu.

Itu karena dia melihat Quagoa dari tim penyerang kabur dari benteng tersebut sambil berteriak sekeras mungkin.

Kegemparan muncul dari Quagoa di sekeliling Yozu.

Melihat keadaan Quagoa yang telah kembali, sudah jelas bahwa mereka ketakutan dan bingung. Beberapa Quagoa bahkan mendorong temannya dari belakang, dan yang terakhir terjatuh ke dalam Great Rift.

“Ada apa? Apakah ada keadaan darurat?”

Salah satu bawahan Yozu menjawab: “Kami tidak yakin. Jangan-jangan itu adalah serangan balik para dwarf?”

Itu tidak mungkin. Sebuah serangan balik dari dwarf itu masih berada dalam perhitungan untuk dibalas. Itu tidak akan membuat tim penyerang kabur karena panik.

Pasti ada semacam serangan spesial. Yozu pernah dengar jika minyak panas sangat menyakitkan.

“Kumpulkan orang-orang dan cari tahu apa yang sedang terjadi. Jika itu adalah serangan balik para dwarf, terus maju. Kita tidak boleh biarkan mereka mengambil alih benteng lagi.”

Orang-orang Yozu membentuk satu baris terhadap instruksinya, lalu mereka mulai menyeberangi jembatan itu.

Teriakan-teriakan tersebut terus berlanjut saat ini, dan tim penyerang terus berlarian.

Mereka lari dari apa? Apakah itu adalah hasil dari kekuatan misterius yang disebut magic?

Saat Yozu memikirkan masalah itu, sepasang siluet muncul di pintu benteng.

Mereka adalah sesuatu yang besar dan hitam.

“-Apa, Apa itu? Dwarf raksasa? Dwarf Lord?”

Yozu tak pernah melihat makhluk seperti itu sebelumnya. Meskipun dia tahu jika para dwarf menggunakan armor sebagai bagian dari perlengkapan mereka, dan satu set armor itu menutupi seluruh tubuh, apa yang dia liaht sekarang sama sekali berbeda dari apa yang pernah dia lihat dahulu.

Di tangan mereka memegang semacam pedang besar yang bergelombang, sementara di tangan kiri memegang perisai yang besar.

Jika Clan Lord (Pimpinan Klan) dari Quagoa sedikti berbeda dari Quagoa biasa dalam hal penampilan, Dwarven Lord (Pimpinan Dwarf) mungkin terlihat berbeda dari Dwarf biasa.

Yozu tidak tahu identitas sebenarnya dari makhluk yang berdiri di pintu masuk benteng itu seperti patung Nio. Namun, insting binatang dari dirinya berkata bahwa mereka adalah entitas yang berbahaya.
(TL Note : Patung Nio = patung penjaga kuil yang berbentuk seperti Raja pencerahan dalam agama budha)

Dia juga mengerti mengapa tim penyerang kabur dari monster itu dengan sekuat tenaga mereka.

Bawahan yang ada di sekelilingnya juga terkejut dan kaku, seperti Yozu. Satu-satunya makhluk yang masih bergerak adalah Quagoa yang berlarian dari benteng itu. Mereka tidak melihat ke belakang; energi mereka sepenuhnya terfokus untuk bisa menyeberangi jembatang gantung itu.

Armor-armor hitam itu meraung.

Meskipun di kejauhan, teriakan mereka membelah udara dan membuat bulu berdiri. Perut Yozu terasa sakit dan menjadi dingin. Rasanya seperti auman naga yang membela seluruh tubuhnya.

Seakan itu adalah sebuah isyarat, dia melihat Quagoa muncul dari samping armor-armor hitam itu.

Apakah mereka kabur? Atau apakah mereka mengkhianati kita? Tidak, itu bukan-

Mata Yozu melebar.

Salah satu Quagoa yang dia lihat kehilangan kepala.

Dia memicingkan mata, dan melihat beberapa Quagoa menyeret organ dalam mereka di belakang, sementara yang lainnya berjalan dengan kaki terseret dan sikap yang tidak terkoordinasi, bagian kiri dan kanan dari tubuh mereka bergerak tidak sinkron, seakan sudah dipotong menjadi separuh.

Makhluk yang bergerak meskipun tidak bisa dianggap hidup lagi adalah –

Magic! Magic yang mengendalikan yang telah mati!

“Apakah itu senjata rahasia para dwarf?”

Yozu setuju dengan apa yang dikatakan oleh para bawahannya.

Apakah mereka memiliki kartu as disamping senjata yang diberi magic lightning (Petir)?

“...Apakah mereka adalah golem?”

Dikatakan bahwa ketika naga itu menguasai istana kerajaan, dia bertarung melawan monster-monster dengan nama-nama itu. Kelihatannya mereka seperti patung berpakaian armor.

“Apakah dwarf-dwarf itu disebut Golem?”

Yozu menggelengkan kepalanya terhadap pertanyaan dari bawahannya.

“Tidak, Golem adalah monster. Para dwarf mungkin telah membesarkan dan merawat mereka.”

“Seperti Nuks yang kita jinakkan?”
(TL Note: ヌーク)

Nuks ini adalah magical beast (binatang buas magis)

Yang pria memiliki panjang 3.5 meter dan berat 1200 kg. Mereka adalah herbivora bulu kasar berkaki empat yang bisa selamat bahkan dengan sedikit alga. Mereka cukup tangguh untuk selamat dari badai salju, begitu banyak monster di dalam rangkaian pegunungan Azellisia yang memakan mereka.

Bagaimanapun, tidak diketahui seberapa baik golem-golem hitam itu bisa bertarung, tapi melihat Quagoa dan tim penyerang yang bekurang jumlahnya.. tidak, lebih dari itu, degup jantung Yozu dan keringat dinginnya sudah mengatakan semuanya.

Mengalahkan mereka tidaklah mudah, tapi sayangnya, mereka kelihatannya hanya mengawasi dari jauh dan tidak mencoba menyeberangi jembatan.

“Ke, Kelihatannya mereka datang untuk mengambil alih kembali benteng itu.”

“Y-Ya, benar sekali. Baiklah, bentuk lagi barisan sementara mereka masih berhenti. Di waktu yang sama, kita akan bersiap untuk – mereka bergerak!”

Baju-baju armor hitam itu berlari, merangsek ke arah jembatan gantung.

“Siapa itu! Siapa yang bilang mereka di sana untuk mengambil alih benteng itu?!”

“Komandan! Sekarang bukan waktunya untuk itu! Apa yang harus kita lakukan!?”

Quagoa yang Yozu keluarkan sudah mengeluarkan cakar mereka, bersiap untuk bertarung.

Baju-baju armor hitam itu mengarahkan perisainya ke depan lalu menerbangkan Quagoa yang melakukan kontak dengannya.

Beterbangan karena kekuatan yang sangat unggul, banyak Quagoa yang terjatuh dari jembatan gantung. Baju-baju armor hitam itu tidak berhenti. Meskipun mereka akan melambat sedikit, mereka melanjutkan gerakannya dengan perisai terangkat, seperti dinding yang mengamuk.

Jika terus seperti ini, mereka akan segera selesai menyeberangi jembatan dan tiba di tempat ini.

Dan kemudian, ketika itu terjadi.. apa yang akan terjadi nanti? Menyadari bahaya yang bahaya besar yang sedang menunggunya, Yozu berteriak.

“Potong, potong jembatannya!”

Jika mereka menghancurkan jembatan itu, pasukan utama hanya akan mampu menggunakan rute sampingan, dan itu akan banyak menyia-nyiakan waktu. Para dwarf mungkin telah memperkuat pertahanan mereka yang sementara. Jadi, bisa dianggap tujuan pertama mereka mengambil alih benteng telah gagal.

Setelah kehilangan sumber daya dan tenaga selama operasi ini, kegagalan bukanlah sebuah masalah yang hanya bisa lepas dengan hanya omelan. Namun, semua itu tidak berarti dibandingkan dengan bahaya jika membiarkan baju-baju armor hitam itu menyeberangi jembatan.

Jika mereka tiba di tempat ini, semua yang ada di sini akan mati. Baju-baju armor hitam itu adalah makhluk seperti demikian.

“Bukankah sudah kubilang untuk memotong jembatannya!?”

Quagoa itu pun mau tidak mau menatap baju armor hitam yang melumat orang-orang mereka dengan kekuatan yang tidak bisa dibayangkan. Pada teriakan kedua, akhirnya mereka berhasil bergerak. Namun, hampir semua Quagoa yang dikirim keluar dari barisan belakang terbang ke dalam jurang, dan hanya ada beberapa Quagoa yang tersisa di jembatan menghadapi makhluk berarmor hitam itu.

Semua Quagoa itu mati-mati menggigit dan mencakar kabel gantung baja jembatan tersebut.

“Buat salah satu tim penyerang memperlambat laju mereka!”

Diperintahkan untuk menghentikan golem-golem itu tepat setelah mendengar perintah untuk menghancurkan jembatan tidak ubahnya seperti misi bunuh diri. Meskipun begitu, satu pasukan bunuh diri berkumpul dan dengan berani bergerak maju.

Seperti yang diduga, pasukan bunuh diri itu terpental akibat perisai mereka, tapi beberapa diantaranya berhasil melewati dan melemparkan dirinya ke arah makhluk berarmor hitam itu. Namun, makhluk itu tidak menghiraukannya. Digigit kelihatannya tidak membuat mereka sakit, dan mereka masih melanjutkan gerakannya.

Jembatan itu masih belum jatuh.

Jika terus seperti ini, makhluk berarmor hitam itu akan sampai ke seberang.

Saat Yozu menyadari ini, tubuhnya mulai bergerak sendiri. Dia melompat turun dari pos komandonya di tempat yang tinggi, dan menggunakan kekuatan pendaratan dan ketajaman cakar miliknya untuk mengirimkan benturan kepada kabel baja dari jembatan tersebut.

Sebuah bunyi ping yang keras terdengar di udara.

Jembatan gantung itu terangkat dan jatuh seperti gelombang raksasa, lalu hancur.

Yozu tidak tahan dengan hempasan seperti ular dan jembatan gantung itu dan terlempar ke udara, dia berhasil menangkap kabel yang sedang menari-nari sebelum ditelan oleh kegelapan yang menguap di bawahnya. Karena Yozu tidak bisa mengendalikan gerakannya di udara, itu adalah sebuah keberuntungan yang tidak bisa dibayangkan baginya. Dia menarik dirinya dengan bantuan kabel tersebut saat tubuhnya dikibas-kibaskan di udara, dan berhasil membuat kontak dengan tepian jurang.

Namun, dia bahkan tidak punya waktu untuk mengatur nafas. Sebuah hawa dingin yang jahat memenuhi tubuhnya. Yozu mendengarkan nalurinya lalu menelungkup.

Dalam sekejap, sebuah obyek yang berteriak melewati bulu punggung Yozu. Cukup tidak bisa dipercaya, obyek yang sedang terbang itu adalah Quagoa yang sedang terbang. Dalam keadaan yang gawat ini, makhluk berarmor hitam itu berhasil melemparkan salah satu anggota pasukan bunuh diri ke arah Yozu dengan kekuatan lengan yang luar biasa.

Quagoa yang terlempar mengenai salah satu bawahan Yozu, yang masih terdiam karena terkejut. Dua orang itu pecah menjadi gumpalan daging berdarah dengan sebuah teriakan kecil “Pigya!”

Namun, hanya itu, karena pasukan bunuh diri dan makhluk berarmor hitam tersebut telah hilang ke dalam Great Rift.

Keheningan memenuhi udara.

Yozu perlahan menatap ke dalam gelapnya Great Rift. Dia bukanlah satu-satunya yang melakukan itu; semua yang selamat melihat ke dalam kegelapan yang telah menelan semuanya. Mereka semua tahu bahwa tidak ada yang selamat dari terjun bebas itu; meskipun begitu, mereka tidak bisa menghapus ketakutan mereka jika saja makhluk berarmor hitam itu akan memanjat sisi jurang.

Setelah beberapa saat yang seakan selamanya, Yozu akhirnya bisa menghela nafas lega.

Kelihatannya mereka tidak akan kembali.

Setelah melihat ke sekeliling, dia melihat hanya ada beberapa orang-orangnya yang berharga yang telah berhasil selamat.

Meskipun begitu, kenyataanya mereka bisa selamat melawan makhluk berarmor hitam itu layak dipuji.

“Kita mundur!”

Jika mereka tidak melaporkan golem-golem itu ke orang-orang yang ada di atas, keadaan akan menjadi sangat buruk bagi mereka.

Jika makhluk seperti itu diproduksi secara masal, Quagoalah yang akan musnah malahan. Yozu tidak merasa bahwa hanya ada dua makhluk itu.

“...Dwarf-dwarf itu memang sangat menakutkan.”

Yozu sangat menyesal telah menganggap enteng para dwarf. Tidak dikira mereka tahu bagaimana memproduksi monster-monster seperti itu-

“Bagaimanapun, kita harus memberitahu pasukan utama tentang ini. Pembawa pesan!”

Orang yang berlari merespon panggilan Yozu adalah Quagoa penunggang, yang jauh melebihi Quagoa biasa dalam hal mobilitas. Mereka memiliki kemampuan spesial yang membuat mereka kebal terhadap lelah yang disebabkan oleh sprint yang lama.

Alasan mengapa dia membawa orang sebanyak ini adalah karena bergerak dengan jumlah kecil memiliki resiko seluruh kelompok akan habis diserang oleh sergapan monster. Bukan berarti bergerak dengan kekuatan besar menjamin keselamatan, tapi tidak masalah seberapa banyak yang mati selama salah satu dari mereka bisa selamat untuk menyampaikan pesan mereka ke markas.

“Baiklah! Pergi! Jangan lupa, misi kalian sangatlah penting!”

Yozu memberikan perintah lain saat dia melihat mereka pergi.

Tidak usah dikatakan. Itu adalah perintah untuk langsung mundur dan menemui Pimpinan klan-klan.

Berlangganan via Email