Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Baca Overlord - Volume 11 - Chapter 2

Chapter 2 : Pengejaran di negeri dwarf 

Part 1

Shalltear dan Aura berkumpul di sisi danau dekat desa Lizardman, ditemani dengan para pengikut pilihan sendiri.

Dibawah Shalltear ada 25 makhluk undead, masing-masingnya memiliki level 80 atau semacamnya. Aura telah memilih 30 magical beast (binatang buas magis). Ada enam vampire bride yang menemani Shalltear, Aura dan Ainz. Lalu, ada lima Hanzo yang Ainz bawa. Setelah itu ada lima magical beast seperti Mammoth untuk beban yang di summon dengan mata uang dalam game. Binatang buas itu dimanfaatkan untuk membawa barang di kedua sisinya, semacam binatang yang umum digunakan di dalam Yggdrasil.

Mereka bisa dianggap sebagai makhluk terlemah di dalam kelompok itu, melihat mereka hanya memiliki kurang lebih level 40. Tetap saja, kemampuan mereka dalam membawa beban sangat mengesankan, dan ketahanan mereka pada dingin dan api berarti mereka bisa bergerak dengan mudah menembus padang tundra yang beku atau lahar yang bergolak. Hal yang paling penting adalah penampilan mereka sangat berlawanan dengan mobilitas mereka yang luar biasa dan kemampuan untuk dioperasikan dalam waktu yang lama tanpa makan dan minum.


Ainz memerintahkan kepada Cocytus untuk berdiri di belakangnya, lalu dia memanggil Zenberu ke depan.

“Apa yang anda ingin dari saya, Yang Mulia?”

Zenberu menjauh dari Zaryusu dan Crusch – Ainz ingat nama mereka – dan datang ke depan Ainz. Ainz pun mau tidak mau melihat ke arah lizardmen putih kecil yang Crusch gendong.

Mungkin Crusch merasakan semangat seorang kolektor pada Ainz, namun secara naluri dia memindahkannya untuk melindungi sang anak.

Aku tidak akan mengambilnya darimu...

Merasa sedikit putus asa, Ainz menyerahkan tiga item kepada Zenberu.

“Ambil ini. Cincin untuk mengeliminasi kebutuhan untuk tidur, makan atau minum. Cincin ini memberikan ketahanan terhadap dingin. Dan kalung ini memberikan kemampuan kepada penggunanya untuk bisa menggunakan mantra [Fly]. Aku akan mengajarimu bagaimana cara menggunakannya nanti. Untuk jaga-jaga jika kamu terjatuh dari tebing.”

“Terima kasih banyak, Yang Mulia.”

Ini adalah dasar dari perlengkapan untuk memanjat gunung yang dia gunakan selama hari-hari di dalam Yggdrasil. Dia bisa menukarkan perlengkapannya untuk merespon efek-efek area unik yang dia temui di dalam rangkaian pegunungan Azellisia.

“Maaf sudah menyela persiapanmu. Aku sudah melakukan apapun yang kuperlukan. Kamu boleh kembali.”

Zenberu mengangguk dan kembali tanpa suara.

“Cocytus. Kelihatannya anak-anak sangat penasaran.”

Anak-anak tidak kabur namun menjaga jarak mereka, melihat ke arah Ainz dan yang lainnya dengan mata berkilauan (?).

Mm. Bisakah anak-anak beradaptasi jika aku membawa mereka ke kota manusia? Tidak, bagaimana jika sebaliknya dan membawa anak-anak manusia kemari? Mungkin aku bisa membangun sebuah tempat berkembah di dekat sini, lalu membawa anak-anak Lizardmen kesana.

Ainz membayangkan sebuah pemandangan dimana anak-anak manusia, Lizardmen dan Goblin bermain bersama. Lalu dia menambahkan Aura dan Mare, anak-anak Dark Elf. Lalu dia memutuskan untuk melempar Shalltear ke dalamnya pula.

Dia harus memasukkan Shalltear karena dia melihatnya membuat persiapan bersama-sama Aura, undead dan magical beast. Tidak ada arti khusus untuk itu.

Aku suka gambaran itu. Mungkin aku harus menyarankan ini kepada Albedo dan Demiurge...

“Jika. Mereka. Membuat. Anda. Tidak. Senang. Saya. Akan. Perintahkan. Kepada. Mereka. Untuk. Segera. Pergi?”

“Bukan itu maksudku... Apakah kamu tidak merasa anak-anak itu mungkin bisa bermain sama-sama, meskipun mereka berbeda ras? Bukankah anak-anak manusia bisa berjalan bersama-sama dengan anak-anak dari Lizardman?”

“Saya. Tidak. Yakin. Tapi. Jika. Itu. Adalah. Kehendak. Anda. Maka. Saya. Yakin. Mereka. Akan. Mengulurkan. Tangan. Kepada. Ainz-sama.”

...Ini tidak ada hubungannya dengan kehendak, perintah atau semacamnya, hanya masalah membuat orang-orang dari berbeda spesies bisa bekerja sama-sama. Kurasa aku tidak bisa membuat saran ini karena posisiku sebagai raja...

Ide Ainz akan bisa diinterpretasikan sebagai perintah absolut. Oleh karena itu, untuk suatu titik tertentu, itu sangat menakutkan.

“...Benarkah. Kalau begitu, sudah waktunya berangkat. – Aura, Shalltear! Apakah kalian sudah siap?”

Dua orang itu membalas hampir dalam sekejap.

“Ya! Kami sudah siap!”

“Sama. Jika anda memberikan perinta, kami bisa berangkat saat ini juga, Ainz-sama.”

“Zenberu!”

“Tidak ada masalah disini!”

“Baiklah, Ayo berangkat!”

“Ainz-sama. Berhati-hatilah! Jika. Ada. Sesuatu. Yang. Terjadi. Saya. Bisa. Menggerakkan. Pasukan. Kapanpun.”

Cocytus ada benarnya. Jika ada para pemain musuh mendekat, keadaan akan meningkat menjadi pertempuran skala penuh, dan itu akan membutuhkan penggunakan kekuatan militer. Namun-

“-Mungkin itu akan terjadi. Namun, ini lebi kepada pasukan untuk memantau. Jika kami menemui orang-orang yang kuat, kami akan mundur setelah mengumpulkan informasi yang cukup. Jika itu terjadi, kami akan menantikan prestasimu di medan perang.”

“Saya mengerti!”


***

Rencananya adalah menuju ke utara dan memanjat gunung, dengan dipandu oleh ingatan Zenberu.

Undead yang menunggangi bertindak sebagai barisan penjaga depan dengan bangga menunjukkan bendera Sorcerous Kingdom.

Semua makhluk berakal yang hidup di dekat danau di bawah panji Cocytus. Jadi, mengangkat bendera itu berarti mereka tidak perlu takut dengan serangan apapun. Meskipun begitu, itu hanya berlaku untuk makhluk berakal – mereka yang mengerti konsep dikuasai. Tidak ada artinya untuk makhluk-makhluk yang memiliki kecerdasan rendah, seperti binatang buas contohnya. Sebaliknya, meningkatkan peluang makhluk seperti itu akan menyerang mereka. Tetap saja, tidak ada monster di hutan ini yang tidak bisa ditangani oleh Ainz dan kelompoknya.

Shalltear kelihatannya sedang melihat sekeliling mencari makhluk-makhluk yang bodoh itu, tapi dia tidak bisa menemukan satupun monster. Pada akhirnya, mereka tiba di bagian paling utara dari danau.

Overlord Light Novel Bahasa Indonesia

Mata mereka mengikuti arah arus kecil yang masuk ke danau, dan di depan mereka terbentang Puncak bergerigi dari rangkaian pegunungan Azellisia. Di bawah langit biru dan cuaca yang cerah, itu adalah pemandangan yang sangat mengagumkan, dan itu membuat emosi di dalam hati Ainz samar-samar tergugah.

Saat itu, Zenber mendekatkan jaraknya kepada Ainz, dan membuat saran.

“Bisakah saya diperkenankan berjalan di depan anda? Kurasa dengan melihat pemandangan sekeliling mungkin akan membantu saya mengingat sesuatu.”

Tentu saja, tidak ada yang keberatan.

“Baiklah. Silahkan saja ke depan barisan, tapi. Jangan pergi sendirian. Bawalah salah satu orangku denganmu. Jika ada yang menyerang, gunakan mereka untuk melindungimu dan mundur. Kamu adalah anggota yang sangat berharga dalam ekspedisi ini.”

“Terima kasih banyak.”

Setelah memerintah – atau lebih tepatnya, meminta – magical beast yang dia kendarai, makhluk itu mematuhi dan mulai bergerak. Karena Zenberu tidak punya pengalaman mengendarai, Ainz memberinya salah satu magical beast Aura, yang bisa dikendalikan dengan ucapan daripada teknik.

Ada perbedaan besar antara kecepatan mereka di pegunungan dan kecepatan mereka ketika berjalan menyusuri sisi danau.

Dengan kata lain, mereka bergerak sangat perlahan.

Pada awalnya, mereka hanya mengikuti aliran utara, namun mereka mengurangi kecepatan setelah memutar untuk menghindari sebuah air terjun.

Zenberu berusaha sebaik-baiknya mengingat rute yang dia ambil, tapi sangat sulit untuk menelusuri kembali langkah-langkah yang dia ambil sekali, beberapa tahun yang lalu, sambil menuju arah sebaliknya. Ditambah lagi, tingkat tanjakan masih sangat rendah, jadi pepohonan yang tinggi menghalangi garis pandangan meeka.

Meskipun bentuk tanah tidak berubah, pepohonan masih tumbuh dengan berlalunya waktu.

Zenberu terus maju ke depan saat dia berusaha mengingat.

Sebagian besar dari anggota kelompok tersebut tidak membutuhkan istirahat, tapi Zenberu – orang yang paling penting – adalah sekian diantara pengecualian itu. Jadi, mereka harus berhenti beberapa kali untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan dengan hening.

Mereka sekilas menangkap adanya sesuatu yang kelihatannya seperti monster di kejauhan, tapi sepertinya tidak ingin mendekat. Mungkin kelompok Ainz terlalu banyak jumlahnya, atau mungkin monster-monster itu sudah kekenyangan. Ainz berpikir menangkap monster yang tidak diketahui untuk main-main mungkin menyenangkan, tapi dia memutuskan untuk menyerah dengan ide itu kali ini.

Tujuan mereka saat ini adalah tiba di Dwarven Kingdom.

Ainz tahu betul jika seorang pemburu yang mengejar dua rabit tidak akan mendapatkan keduanya.

Dengan sedikit penyesalan, Ainz memilih untuk bergegas dalam perjalanan mereka.

Saat kelompok tersebut mendekati tepian hutan, pepohonan semakin pendek, dan matahari mulai jatuh di belakang gunung.

Langit biru berubah warna menjadi merah sekali, lalu menjadi malam. Siluet pegunungan terhadap lautan yang tak bertepi dari bintang-bintang hanya bisa disebut sebagai pemandangan yang luar biasa. Mengetahui gambaran yang luar biasa ini hanyalah sebagian kecil dari dunia ini membuat Ainz merasa alam itu sendiri memperhatikan dirinya.

Sinus Ainz bergetar, lalu dia menghirup udara yang segar dan wanit itu.

Mengapa dia bisa melakukan itu – atau lebih tepatnya, jika dia bisa melakukan ini, mengapa dia tidak bisa membedakan bagaimana bau makanan? Ainz mendorong pemikiran itu keluar dari benaknya, dan sebagai gantinya memilih untuk menikmati udara ini, yang tidak bisa ditemukan di dalam Nazarick atau di luar E-Rantel.

Di dalam Yggdrasil, dia tidak bisa mengalami kehebatan alam seperti ini.

Dia merasakan perasaannya terkabulkan, sama seperti saat dia memperoleh pengalaman baru saat bertualang sebagai Momon, dan jantung Ainz dipenuhi dengan kepuasan. Sejujurnya, mereka bisa kembali sekarang tanpa harus menemukan Dwarven Kingdom dan dia tidak keberatan sama sekali.

Bukankah – Bukankah ini adalah semacam pemandangan yang seharusnya dilihat oleh para petualang?

Ainz tertawa kecil, lalu berbicara kepada orang-orang di belakangnya.

“kalau begitu, kita akan berkemah di sini malam ini.”

Setelah mereka semua membalas setuju, Shalltear bertanya kepada Ainz, “Apakah kita akan kembali ke Great Underground Tomb of Nazarick?”

Memang benar, hal yang paling bijak adalah membuat tanda di sini lalu menteleport mereka semua kembali ke tempat aman untuk menghabiskan malam. Namun, karena suatu alasan Ainz tidak merasa ingin melakukannya. Bukan masalah untung atau rugi dari situasinya, tapi murni karena masalah emosional.

“Tidak perlu untuk itu. Kita akan mendirikan tenda di sini.”

“Tapi Ainz-sama, membayangkan anda berkemah di tempat seperti ini...”

Sekejap meliaht sekeliling hanya akan menunjukkan bebatuan, dan angin pegunungan yang dingin – memang benar, mereka tidak ada efeknya kepada Ainz, yang kebal terhadap dingin – mencuri kehangatan tubuh. Siapapun tanpa kekebalan terhadap dingin atau pakaian wool yang tebal akan merasa seakan ditusuk oleh jarum-jarum. Ini mungkin karena angin yang bertiup melewati tumpukan salju dan membawa udara dingin dari puncak pegunungan.

Ainz tersenyum saat rasa hormatnya terhadap kemegahan alam tumbuh semakin dalam.

Di dalam Yggdrasil, ada guild-guild yang menjelajah dan berpetualang untuk mengubah yang tidak diketahui menjadi tahu. Mereka bepergian pada perjalanan tanpa akhir dengan perasaan itu di hati mereka.

Mereka adalah guild yang lemah dalam pertempuran, tapi melompat begitu saja tanpa pikir panjang ke dunia yang belum pernah digapai. Saat itu, Ainz tidak mengerti apa yang mereka pikirkan. Namun, setelah menemui dunia yang luar biasa seperti yang satu ini, dia mulai melihat darimana itu datangnya.

Saat dia masih menjadi Momon, dia juga pernah meghibur diri dengan berpikir untuk melepaskan semuanya dan berkeliling dunia-

“-Ainz-sama?”

Bayangan yang mulai mengambang di kepalanya itu tiba-tiba pecah.

“Ada apa, Shalltear?”

“Ma-Maafkan saya sudah menganggu perenungan anda, Ainz-sama.”

“Ahh, tidak, tidak apa. Aku tidak sedang memikirkan hal yang penting.”

“Benarkah? Baiklah, kalau begitu...”

“Lalu, ada masalah apa? Ah, kamu sedang bilang tentang berkemah di sini, ya kan?”

“Ya. Mohon terima permohonan maaf saya karena tidak mempersiapkan tenda yang tepat meskipun tahu anda mungkin ingin tinggal di sini, Ainz-sama. Saya ingin mengambilnya dari Nazarick. Bolehkah saya menggunakan [Gate]?”

“Itu tidka perlu. Bukan karena kamu lupa akan tendanya, tapi lebih kepada, aku tidak menuliskannya di dalam daftar karena itu tidak dibutuhkan. Apakah kamu tahu kalau Mare bisa membuat sebuah tempat bernaung dengan magic?”

Shalltear mengangguk.

Ternyata begitu. Jadi, kamu seharusnya tahu kalau aku juga bisa melakukannya. Aku bisa menggunakan sebuah item magic seperti Green Secret House sebagai gantinya, tapi itu mungkin akan terlalu sesak untuk jumlah kita. Sekarang, lihat ini.”

Ainz mencari tempat yang cocok. Bisa miring nantinya, tapi yang terpenting adalah bebas dari bebatuan.

Dia menemukan satu hampir langsung, lalu Ainz merapalkan mantranya. Itu adalah mantra tingkat 10.

“[Create Fortress]!”

Saat mantra itu memperlihatkan efeknya, sebuah menara yang agung muncul entah darimana. Itu adalah sebuah menara setinggi 30 meter, berdiri menjulang dan tegak seperti akan menelan langit berbintang.

Pintu gandanya yang besar terlihat cukup kuat untuk tidak menghiraukan alat-alat pendobrak dinding. Dindingnya bertabur duri-duri dalam jumlah tak terhitung membuat siapapun tidak bisa memanjatnya. Empat patung demon menghiasi sudut-sudut paling atas dari lantai menara itu. Rasanya sangat berat dan menekan bahkan dalam sekali tatap.

Bangunan yang kokoh seperti benteng ini adalah inkarnasi fisik dari kata : “towering” (luar biasa tinggi).

“Kalau begitu, ayo.”

Saat Ainz mendekati pintu itu di depan kelompoknya, pintu besi itu terbuka. Dia menunggu disana agar yang lainnya bisa masuk. Di dalam Yggdrasil, siapapun dalam tim yang sama bisa membuka pintu itu tanpa disentuh. Sebaliknya, orang lain hanya bisa masuk dengan menghancurkan pintu tersebut. Ainz penasaran apakah pintu di dunia ini akan membuat penilaian seperti itu.

Ainz meninggalkan dua undead di luar, lalu memerintahkan mereka untuk membuat pintu itu setelah tertutup. Pintu itu tetap tertutup.

Dia menunggu sedikit lama, tapi tidak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka.

“..Jangan-jangan hanya aku yang bisa membukanya? Aura, pergilah dan sentuh pintu itu.”

Dengan ucapan “Tentu!” Aura menyentuh itu coba-coba, tapi kelihatannya pintu itu tidka ingin terbuka.

Kelihatannya hanya Ainz yang bisa membuka pintu itu. Dia secara mental mengerutkan dahi. Friendly fire (Bisa melukai teman) benar-benar menyusahkan pantat... Jika ada pemain lain di dunia ini, perubahan kecil seperti ini mungkin akan mempengaruhi yang lainnya, dan skenario terburuknya dia mungkin akan membunuh seseorang karena tidak sengaja.

Sudah hampir setahun sekarang... Dan aku masih harus hati-hati dengan penggunaan kekuatanku. Akan menjadi tragedi jika seseorang terkena serangan efek area luas kami. Apakah aku harus mengarahkannya kepada orang-orang dengan peringkat lebih tinggi? Mare, terutama... meskipun mereka akan menyalahkanku karena itu jika mereka sudah menyadari... Kurasa aku akan mencoba dan menyerahkannya sebagai komentar orang lain atau semacamnya.

Mengingatkan orang dengan halus ternyata sulit. Benar-benar berbeda dengan hanya langsung saja mengomeli mereka. Ainz menjadi sangat kenal baik dengan kenyataan bahwa selama dia berada di dunia kerja.

Saat jantung semakin berat, Ainz memutuskan untuk menghentikan percobaannya dengan membuka gerbang dan membiarkan dua undead yang ada di luar masuk. Dia menutup gerbang itu sekali lagi setelah memastikan semuanya sudah lewat, lalu bergerak maju.

Sepasang pintu menghadap pintu masuk, dan sebuah lorong memanjang di kejauhan. Di akhir lorong itu ada sepasang pintu lagi. Jalannya diterangi oleh lampu magic, jadi tidak ada masalah berjalan menyusurinya.

Sesaat setelah Ainz membuka pintu bagian dalam, sebuah lampu yang menyilaukan bersinar ke arah mereka.

Di depan mereka ada aula bundar. Lantainya seputih salju dan atapnya tinggi di atas. Sebuah tangga spiral melingkar dari tengah ruangan dan menyambungkan ke lantai-lantai di atasnya.

“Kalau begitu... kita akan menghabiskan malam di sini. Siapapun yang ingin istirahat silahkan saja. Siapapun yang tidak ingin... yah, berdiri di sini juga sangat tidak baik pula. Semuanya, berdirilah di kamar kalian.”

Ainz menunjuk sepuluh pintu dengan jari telunjuknya. Tiba-tiba, ruang di sini membesar, jadi tempat ini lebih besar di dalam daripada di luar.

“Ada lebih banyak kamar seperti ini di lantai dua dan tiga, jadi silahkan saja gunakan mereka. Aura, Shalltear, Zenberu, kalian bertiga tetap di sini. Aku ingin merencanakan rute ke depannya setelah apa yang telah kita pelajari hari ini. Ah, ya, mari kita kumpulkan kursi-kursi di sebelah sana. Kalau begitu, ayo, semuanya.”

“Ainz-sama, apa yang harus kita lakukan dengan para vampire bride?”

“Umu..”

Ainz tidak bisa menjawab pertanyaan Aura dengan segera. Lagipula, membawa mereka serta adalah ide Decrement, dan dia baik-baik saja tanpa mereka. Ainz berhenti sejenak untuk berpikir sebelum berkata, “Aku akan memberi mereka perintah nantinya. Untuk sementara, buat mereka menunggu di kamar masing-masing.”

Dengan itu Ainz telah menyerahkan masalah tersebut ke dirinya di masa depan.

Lalu, Ainz menuju sofa dan duduk. Segera setelahnya, tiga orang yang dia sebutkan sebelumnya duduk pula, dia mulai berbicara.

“Kalau begitu, mari kita mulai dengan catatan perjalanan kita untuk hari ini. Aura, silahkan.”

“Baik, Ainz-sama.”

Aura membuka sebuah buku catatan, memegangnya terbuka dengan satu tangan lalu mensketsa sebuah peta dengan tangan lain.

“Saya tidak terlalu percaya diri dengan beberapa detil yang lebih kecil, tapi seharusnya secara kasar seperti ini.”

“Umu. Terima kasih, Aura.”

Itu adalah peta yang agak kasar, tapi mereka bisa memastikan jarak dan semacamnya dari udara.

“Sekarang, aku tahu kamu lelah, Zenberu, tapi aku ingin meminta kerja samamu. Mungkin kamu tidak akan senang dengan ini.”

“....Apa maksud anda, Yang Mulia?”

Ainz tersenyum ke arah Zenberu yang tiba-tiba gugup.

“Dengan kata lain, aku ingin melihat ingatanmu.”

“A-Apa artinya itu?”

“...Kurasa aku akan menjadi penjahat jika berkata seperti itu. Aku bisa mengendalikan ingatan orang lain dengan magic, tapi magic yang sama bisa menjelajahi ingatan orang lain. Sejujurnya, itu menguras banyak mana dan aku lebih memilih untuk tidak menggunakannya jika bisa dihindari, tapi mengandalkan ingatanmu yang kabur saja agak mengkhawatirkan.”

“Saya, Saya yakin tidak akan ada efek sampingnya?”

“Tidak apa. Berkat bantuan seorang cleric, aku bisa berkata dengan aman jika aku sangat ahli dalam hal ini. Tidak ada masalah selama aku tidak melakukan hal-hal aneh di dalam sana. Kenyataannya, aku sudah melakukan prosedur yang sama kepada salah satu pelayanku dan tidak ada masalah pula.”

“Maksud anda Shizu, ya kan?”

“Tepat sekali, Aura. Karena itu, mantra ini tidak sekuat itu. Jika orangnya sendiri hampir lupa dengan kejadiannya, aku hanya bisa mendapatkan detil kasar. Ada juga hal-hal lain yang membuat rumit penggunaan mantra. Contohnya, ingatang mungkin tidak berada di dalam otak, tapi diakses dari sumber yang lebih primordial (lebih awal keberadaannya)-“ Ainz mengangkat bahu saat menyadari dia sudah melenceng dari topik. “Yah, seamcam itu, bagaimanapun juga, aku bisa menyelidiki ingatanmu.”

“Ternyata begitu... untuk jaga-jaga, saya ingin bertanya lagi, tapi apakah benar-benar tidak apa?”

“Aku mengerti kekhawatiranmu. Jangan khawatir, Zenberu. Aku tidak akan merubah ingatanmu. Aku bersumpah atas namaku.”

“Kalau begitu – apa yang harus saya lakukan?”

“Umu. Duduk saja di sana, dan bersantailah. Ini tidak akan sakit. Namun, aku harus memastikan beberapa detil denganmu sebelum aku merapal mantra. Hal-hal seperti, berapa bulan dan tahun yang lalu dan di mana ingatan ini terjadi, dan semacamnya.”

Setelah mendengarkan penjelasan Zenberu, Ainz merapalkan mantranya.

Setelah merapalkan mantra ini berkali-kali sebelumnya, Ainz memiliki kepercayaan diri seorang ahli dalam menangani magic, tapi tetap saja, menggunakannya sangatlah sulit.

Karena segala perubahan apapun akan tetap berada di sana, salah menanganinya mungkin akan menjadi situasi yang tidak bisa diperbaiki lagi. Itu seperti memprogram kembali sebuah komputer tanpa membuat cadangan data apapun. Bisa dikatakan itu adalah mantra yang luar biasa dalam membuat sayuran.

Yang lebih penting lagi, mantra itu menguras mana dalam jumlah besar ketika aktif. Itulah yang membuatnya sulit digunakan.

Ainz merasakan mananya berkurang deras setelah menjelajahi ingatan Zenberu sebentar saja.

Rencana awal Ainz adalah menemukan ingatan yang dituju lalu menjelajah seenak hatinya. Namun, dia memperkirakan MP nya akan habis sebelum itu. Ditambah lagi, masalah dengan mantra ini adalah meskipun dia menunggu sampai hari berikutnya ketika mana terisi kembali sebelum mantra itu dirapal lagi, di masih harus mulai dari awal.

Hasilnya, mantra-mantra lain akan lebih efektif dalam mengumpulkan informasi.

Setelah bergumam di dalam hatinya, Ainz melihat apa yang terlihat seperti gunung. Saat dia menemukan tempat yang dia cari, mananya habis.

Memeriksa ingatan masa lalu adalah yang paling melelahkan. Lebih mudah untuk melihat ingatan yang baru-baru saja...

Seperti yang dia duga, ingatan yang dia temukan kabur, seakan diselimuti oleh kabut. Dia melihat wajah-wajah Dwarf, tapi mereka semua terlihat sama bagi Ainz. Dia tidak tahu apakah itu kesalahan Zenberu, tapi dia tidak bisa membedakan mereka. Mereka semua hanya jenggot-jenggot yang berteriak dengan nada kasar dan bir yang diminum dengan lahap.

Ini gawat. Aku menggunakan cleric itu sebagai subyek percobaan dan bekerja dengan baik pada Shizu. Tapi aku merasa seperti aku masih tidak bisa menggunakannya dengan baik... Aku tidak bisa membuat kesalahan dengan hal-hal yang halus seperti ingatan. Aku ingin melanjutkan percobaan dengan cleric itu, tapi dia tidak bisa berbicara jelas lagi... Yah, menulis kembali ingatan berhasil jika aku membatasi diriku untuk beberapa tahun saja. Kurasa aku harus melakukan sebuah percobaan atas apa yang akan terjadi jika aku menghapus ingatan seseorang menjadi bersih...

Mungkin aku harus memilih beberapa orang yang divonis mati dari E-Rantel dan menggunakan mereka sebagai percobaan...

Dengan berpikir seperti itu, Ainz mengakhiri mantra tersebut.

“Bagaimana keadaanmu, Zenberu? Apakah kamu merasa tidak enak badan?”

“Eh? Saya merasa baik-baik saja, tapi agak aneh..”

Ainz tersenyum.

“Aku hanya melihat-lihat ingatanmu. Aneh jika itu merasa aneh, karena aku tidak membuat perubahan apapun. Mungkin itu adalah efek plasebo atau semacamnya; harusnya akan segera pudar.”

Zenberu memaksa menggoyang-goyangkan kepalanya, dia masih tidak paham.

Tidak ada perbedaan fitur di sini, dan bagaimana dia bisa memastikan posisinya di dalam pemandangan membingungkan di pegunungan? Ditambah lagi, ingatan-ingatan bersembunyi dari monster jauh lebih jelas dibandingkan itu.

Kenyataanya adalah meskipun mana Ainz pulih kembali besoknya, dia tidak akan mendapatkan informasi apapun yang layak dengan pengeluaran kekuatan magic yang besar itu.

Kalau begitu, kita akan tetap pada rencana dan membuat Zenberu menunjukkan jalan ke utara. Aku tidak melihat apapun yang berguna di ingatannya.”

Bukannya tidak dia tidak punya ide yang lebih baik.

Memberangkatkan para pengendara hanya akan berfungsi untuk membantai monster-monster yang ada di depan mereka.

“Bubar. Semuanya. Beristirahatlah dengan baik, kelihatannya tidak ada yang butuh istirahat selain Zenberu. Kalau begitu, persiapkan diri kalian untuk hari esok.”


***


Saat dia menatap sangat tuan yang kembali ke kamarnya, Aura berpaling ke arah Shalltear, yang duduk di sampingnya.

“Ada kamar di kiri dan kanan kamar Ainz-sama sendiri. Yang mana yang kamu mau?”

Aura memiliki item magic yang membuatnya bisa tanpa tidur, dan Shalltear adalah undead. Sejujurnya, tak ada dari mereka yang butuh kamar. Namun, akan tidka sopan tidak menggunakan kamar-kamar yang disediakan untuk mereka, dan akan buruk bagi keamanan jika mereka terlalu jauh dari Ainz.

“Hm~ yah, kurasa yang manapun juga tidak apa, betul kan?”

“Yah, kurasa itu benar... Ngomong-ngomong, sedang apa kamu?”

Aura melihat ke arah Shalltear setelah mendengar balasan darinya yang teralihkan. Inilah saat Aura menyadari Shalltear sedang menulis sesuatu dalam buku catatannya.

“Hm, Ainz-sama berkata seperti itu, cek. Tentu saja aku sedang mencatata. Aku tidak ingin lupa dengan ucapan Ainz-sama.”

“Hmm~ kamu sangat bekerja keras ternyata. Biar kulihat.”

Aura berhenti sejenak untuk mengintip, dan melihat buku catatan itu dipenuhi dengan tulisan tangan yang penuh sesak, hampir tak ada ruang kosong diantara tulisan-tulisan itu.

Setelah sejenak mengintip, Aura menemukan bahwa Shalltear secara esensi mencatat ucapan sang tuan hingga sangat detil, begitu juga dengan tindakan yang dia ambil.

Ini... bagaimana aku harus mengatakannya? Tentu saja, memang wajar melestarikan ucapan Ainz-sama untuk masa depan, tapi aku ragu Shalltear menulisnya untuk tujuan itu...

Shalltear seharusnya mencatat titik-titik kuncinya saja dari kebijaksanaan sang tuan, lalu belajar darinya. Namun, situasi ini mulai membuat Aura merasa tidak enak.

“Ah, apa kamu tahu. Aku merasa mencatat itu memang ide yang bagus, tapi harusnya bukan seluruhnya, ya kan?”

Shalltear melihat ke arah Aura dengan ekspresi bingung.

“Mengerti? Mungkin mencatat membuat berpikir kamu sudah melakukan pekerjaan yang bagus. Tapi yang seharusnya kamu lakukan adalah merekam hal-hal yang penting dan menggunakannya untuk mengajarkan kepada dirimu bagaimana menghadapi situasi yang mirip, ya kan? Apakah tidak apa mencatat seperti ini?”

“Kelihatannya tidak apa...”

“Yah, jika memang begitu, baguslah. Untuk jaga-jaga, harusnya kamu menelaah kembali ketika kembali ke kamarmu. Cobalah untuk memikirkan tentang apa yang ada di pikiran Ainz-sama dan meletakkan dirimu di tempatnya dan membayangkan apa yang akan kamu lakukan.”

“Oh, benarkah?”

“Ya, memang benar.”

Setelah berkata begitu, Aura tiba-tiba saja penasaran mengapa dia mengatakan hal semacam itu kepada Shalltear. Dan kemudian, karena suatu alasan, dia merasa dengan mengarahkan Shalltear begitu adalah hal yang wajar baginya.

Haaa. Entah kenapa, aku merasa seperti memiliki saudari yang tidak berguna... Mungkin agak sedikit kurang ajar, tapi aku penasaran apakah Bukubukuchagam-sama merasakan hal yang sama?


***


Mereka bersiap berangkat pada pagi yang memang cemerlang. Meskipun begitu, persiapan mereka tidak lebih dari berjalan keluar dari menara yang dibuat secara magic dan membentuk barisan. Ainz merasa ini sedikit kurang nikmat dibandingkan persiapannya untuk perjalanan saat masih menjadi Momon.

Setelah itu, mereka melanjutkan pencarian, tapi usaha mereka dari fajar hingga senja tidak menghasilkan apapun.

Saat matahari tenggelam di bawah lereng pegunungan, Ainz memicingkan matanya.

Mereka sudah bepergian lebih dari 100 kilometer di atas punggung magical beast mereka – dengan kata lain, mereka sudah melebihi jarak ke kota Dwarf yang sudah diperkirakan Ainz. Namun, mereka tidak menemukan apapun. Dengan kata lain, mereka akan memulai tugas yang memakan waktu yaitu menyisir pedesaan.

Ainz menggunakan magic untuk menciptakan tempat istirahat seperti sebelumnya, lalu, sudah waktunya hari berikutnya – dengan kata lain, hari ketiga.

Tiba-tiba saja, Zenber berseru dengan suara yang aneh.

“Sebelah sini! Aku ingat tempat ini!”

Tidak ada lagi pepohonan yang terlihat, hanya sebuah padang bebatuan. Suara Zenberu bergaung sangat keras di tempat ini.

“Yang Mulia! Kita seharusnya sudah sangat dekat!”

“Begitukah! Kalau begitu, semuanya, melangkahlah dengan hati-hati!”

Terhadap perintah Ainz, kelompok itu membentuk barisan yang sangat teratur.

“Kalau begitu, aku akan serahkan ini kepadamu, Zenberu.”

“Anda bisa mengandalkan saya!”

Kelompok itu bergerak maju, dipimpin oleh Zenberu.

Akhirnya, mereka melihat sesuatu yang terlihat kurang mirip sebagai gua namun lebih mirip retakan di dalam pegunungan.

Ainz melihat sesuatu yang mirip dalam ingatan Zenberu, tapi dia merasa seharusnya lebih besar. Tetap saja, ini mungkin tempat yang benar, melihat reaksi Zenberu yang sangat senang.

Ingatan yang dimiliki Zenberu; sudut pandang Lizardman seharusnya lebih bisa diandalkan daripada penglihatan sekilas patah-patah dari Ainz.

Ainz merapikan jubahnya yang acak-acakan, lalu memberi isyarat kepada Aura.

Bertindak seperti yang mereka rencanakan sebelumnya, Aura memimpin binatang buasnya ke arah celah tersebut.

“Kerajaan para dwarf! Yang Mulia Ainz Ooal Gown, Raja dari Sorcerous Kingdom yang baru saja berdiri yaitu Ainz Ooal Gown dari selatan, datang untuk memberikan kunjungan! Apakah kalian tidak akan mengirimkan seseorang untuk menyambutnya!?”

Suara Aura sang pemberi berita bergema ke seluruh menembus celah itu.

Namun, tidak ada balasan.

Aura melihat ke arah Ainz dengan ekspresi yang berkata, “Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Ainz memberi isyarat dia harus mengumumkannya lagi.

Dengan begitu, Aura berteriak dengan suara paling keras sekali lagi.

Namun, masih tidak ada balasan. Tidak ada tanda-tanda siapapun yang muncul meskipun setelah menunggu beberapa saat.

Zenberu pernah bilang bahwa seharusnya ada para penjaga yang mengawasi jalan keluar ini untuk mencegah penyusup dari luar. Jika memang begitu, seseorang seharusnya sudah mendengar suara Aura.

Apakah mereka menghindari Dark Elf?

Ainz membayangkan Aura untuk sesaat, lalu memanggil Zenberu.

“Giliranmu sekarang. Pergilah dan berteriaklah sedikit dan lihat bagaimana hasilnya.”

Ainz merapalkan beberapa mantra buff (penguat) kepada Zenberu. Memang itu tidak menjamin keselamatannya dalam hal apapun, itu sangat mengurangi bahaya yang mungkin dia hadapi dibandingkan dikirim tanpa mantra-mantra itu.

“Zenberu semakin mendekati gua tersebut dan berteriak. Tetap saja, tidak ada balasan.

“... Pasukan Hanzo.”

“Kami hadir untuk tuan.”

Ninja-ninja itu mengalir keluar dari bayangan Shalltear. Hanzo-hanzo lain berbaris di belakang pimpinan Hanzo.

“Masukilah interiornya dan pastikan situasinya. Jangan sampai terlihat.”

“Perintah dilaksanakan. Bolehkah saya bertanya harus seberapa jauh kami menyelidikinya? Kota para dwarf dikatakan memiliki banyak lubang karena terowongan-terowongan tambang. Menyelidiki sepenuhnya terhadap jaring yang rumit dari terowongan-terowongan itu akan memakan waktu yang sangat lama.”

“Lakukan inspeksi sepintas. Fokuskan kepada area tengah dan area-area administratif dari kota itu. Kalian boleh menyelidiki interior terowongan itu nanti.”

“Dimengerti.”

Para Hanzo pergi dengan berlari sprint, mengikuti pemimpin mereka. Cara mereka berlari, meninggalkan bayangan di belakang mereka, adalah sebuah gerakan yang unik bagi monster-monster tipe ninja level tinggi.

Ainz memberi isyarat jika Zenberu harus kembali ke tengah kelompok – membiarkan dirinya menunggu di tempat yang aman. Dia bisa sangat berguna ketika bernegosiasi dengan para dwarf.

“-Shalltear, jangan mengendurkan keamanan.”

“Dimengerti!”

Setelah menggunakan sebuah skill, Shalltear berarmor penuh dalam sekejap. Dia mengamati sekelilingnya dengan hati-hati, tidak membiarkan satu detilpun lepas darinya.

Sekarang setelah Shalltear – Guardian terkuat Nazarick – siap tempur, tak ada musuh, seberapapun kuatnya mereka, bisa membunuh Shalltear dalam sekejap dengan sebuah combo. Meskipun begitu, pengalaman adalah hal yang penting ketika bertarung melawan pemain, dan memberinya tugas itu bagi Shalltear yang tidak berpengalaman adalah hal yang sangat berbahaya.

Dengan kata lain, Ainz yang berpengalaman mungkin masih perlu bertindak sebagai model contoh baginya.

Ainz dengan hati-hati mengamati sekelilingnya juga. Segera setelah itu, para Hanzo kembali. Mereka memakan waktu lebih lama dari yang diduga, mungkin mereka harus berjalan jauh.

Para Hanzo berbaris di depan Ainz dan berlutut di satu kaki. Tentu saja, pimpinan mereka berbicara mewakili.

“-Ainz-sama, kami telah menemukan apa yang mungkin saja adalah area pemukiman para dwarf. Kami telah memeriksanya, tapi tidak menemukan tanda-tanda kehidupan.”

“-Apa yang terjadi?”

“Kami tidak menyelidiki dengan secara menyeluruh, tapi tidak ada mayat ataupun tanda-tanda produk rumahan di dalam rumah-rumah. Bahkan tak ada tanda-tanda adanya pertempuran.”

“Kelihatannya para dwarf membuang kota ini dengan sendirinya, karena suatau alasan tertentu.”

Ainz melirik ke arah Zenberu, yang kelihatannya juga sangat terkejut. Ainz mungkin hanya kenal Zenberu sebentar, tapi dia telah mendapatkan sedikit gambaran kepribadian Zenberu, dan ini kelihatannya bukan pura-pura.

“-Baiklah, kalau begitu. Antarkan kami ke distrik pemukiman itu.”

“Baik!”

Ainz mengikuti di belakang para Hanzo. Ini adalah daerah yang tidak dikenal dan dia tidak bisa sembrono di sini. Shalltear, Aura dan Zenberu juga dikawal oleh undead level tinggi dan para magical beast (hewan buas magis).

Satu-satunya yang tersisa di luar adalah vampire bride level rendah dan magical beast yang mirip Mammoth.

Ini dilakukan untuk memasang sebuah jebakan. Setiap makhluk yang tidak dikenal yang menganggap mereka sebagai musuh pasti akan mulai mengikis kekuatan tempur mereka dari bagian pasukan mereka yang yakin bisa dikalahkan. Ditambah lagi, itu adalah taktik dasar untuk memulai serangan terhadap barisan dukungan mereka berharap mempelajari sesuatu dari obyek yang mereka jatuhkan.

Jadi, dia tidak membiarkan mereka sendirian. Dia juga memposisikan seorang Hanzo di dekatnya, tersembunyi.

Hanzo itu di sana bukan untuk menyelamatkan mereka.

Namun, dia di sana untuk mengamati lawan dan mempelajari tentang penyerang mereka. Setelah itu, setelah mampu mempelajari titik lemah mereka – atau yang lebih baik lagi, markas mereka – adalah bonus tambahan yang tidak diduga.

Alasan mengapa mereka tidak kembali ke Nazarick dalam suatu waktu selama perjalanan mereka juga untuk menghindarkan lawan tahu bahwa mereka bisa mengisi kembali pasukan tnapa batas dengan menggunakan mantra [Gate]. Ini akan membuat mereka berpikir bahwa Ainz dan kelompoknya bisa dibuat kelelahan dengan berjalannya waktu.

Yah, meskipun jika musuh memang muncul, bagus jika para vampire bride aman juga.

Ainz tidak ingin para vampire bride mati. Namun, dia tidak keberatan mengorbankan POP monster yang bisa spawn kembali untuk mendapatkan informasi lawan.

Apakah ini sedikit kejam, pikir Ainz saat dia memasuki gua tersebut.

Tidak ada cahaya dari luar gua, dan tidak laam mereka diselimuti oleh kegelapan yang pekat. Namun, itu tidak masalah bagi Ainz, yang memiliki darkvision (penglihatan malam). Shalltear, Aura, undead lain dan para magical beast juga memiliki kemampuan itu. Pada level mereka, kegelapan seperti ini bukanlah hal yang menyulitkan bagi siapapun yang ada di sini.

Zenberu lain lagi, dia dituntun oleh salah satu undead seperti tuan puteri.

Karena kenyataannya semua stalaktit dan stalagmit di area ini sudah dibersihkan, dan kenyataan bahwa area ini diratakan sehingga cukup mudah dilalui dengan berjalan, tidak diragukan lagi bahwa tempat ini adalah kota para dwarf.

Para hanzo memimpin di depan. Ada banyak jalan bercabang di sepanjang jalan, semuanya cepat sekali menemui jalan buntu, menurut para hanzo yang menunjukkan jalan kepada mereka. Mungkin itu digali untuk membingungkan para penyusup dan mengulur waktu, atau mungkin untuk membantu melakukan serangan balik.

Ada mantra-mantra yang bisa Ainz gunakan dalam keadaan ini, tapi para Hanzo tidak memiliki kemampuan itu. Memang wajar jika mereka memakan banyak waktu mempertimbangkan mereka harus menyelidiki seluruh kemungkinan jalan ini.

Saat Ainz berpikir demikian, salah satu Hanzo berputar menghadapnya.

“Ainz-sama, kita akan tiba di distrik permukiman.”

“Benarkah.... Ada semacam lampu yang kabur di kejauhan, Hanzo. Bukankah kamu bilang tidak ada dwarf di sini?”

“Ya, tidak ada sama sekali. Lampu ini dikeluarkan oleh kristal mineral.”

Sebuah ruang terbuka yang besar terbentang di depan mereka.

Saat Ainz melihat ke arah sumber penerangan, dia melihat pilar-pilar yang kokoh menyangga atap. Obyek seperti kristal muncul dari atap, dan obyek tersebut memancarkan cahaya yang dibicarakan oleh para Hanzo.

Tidak ada sumber cahaya lainnya – tidak ada sumber buatan manusia, setidaknya – sejauh yang bisa Ainz lihat.

Tempat ini kelihatannya seperti distrik permukiman, saat Hanzo mendeskripsikannya. Memang terlihat seperti sebuah kota, dengan barisan panjang bangunan-bangunan membosankan, sekitar dua lantai tingginya.

Mungkin karena yang membangun adalah ras pendek, namun struktur bangunan mereka semuanya memang lebih pendek daripada bangunan yang dibuat oleh manusia. Meskipun begitu, bangunan-bangunan itu masih lebih tinggi daripada Ainz, dan dia tidak tahu ukuran dari kota itu karena garis pandangannya dihalangi oleh bangunan-bangunan tersebut. Namun, jumlah bangunan itu saja membuatnya merasa jika dia menghitung semuanya sudah merupakan usaha yang percuma.

“Hmm…”

Saat Ainz memeriksa kota tersebut, api harapan di hatinya padang dengan suara “chu~”, seakan sudah dipadamkan oleh satu baskom air dingin.
(TL Note: chu~ yang dimaksud adalah cerita komik お七の十)

Kota itu terlalu hancur.

Cerita-cerita yang dia dengar bahwa kota dwarf seperti sebuah gambaran tempat yang berkilau, rumit dan penuh wibawa, tapi tidak ada tanda-tanda seperti itu di sini. Tidak ada jejak Yggdrasil – kehadiran pemain – di sini pula.

Ainz melangkah maju, dan mendorong pintu dari salah satu bangunan.

Seperti yang Hanzo bilang, dia ditemui oleh ruang kosong.

Dia tidak bisa melihat perabotan apapun dari tempat dia berdiri di pintu masuk. Satu-satunya yang tersisa adalah rak-rak yang dipasang di dinding dan benda-benda lain yang tidak bisa digerakkan. Debu putih menutupi tanah. Kelihatannya tidak ada orang yang tinggal di sini untuk waktu yang agak lama.

“-Zenberu! Panggillah seseorang dan kita lihat apakah ada orang di sana!”

Setelah mendengarkan perintah Ainz, Zenberu meneriakkan nama Dwarf yang telah merawatnya di masa lalu.

Kenyataannya adalah tidak ada gema di dalam ruang tertutup ini jelas menunjukkan ukuran gua yang luar biasa besar.

Zenber meneriakkannya beberapa kali lagi, tapi seperti sebelumnya, tidak ada tanda-tanda siapapun yang muncul untuk merespon.

“-Hanzo. Periksa terowongan-terowongan di luar kota ini dan temukan apapun yang mungkin bisa berperang sebagai petunjuk. Temukan alasan mengapa kota ini ditinggalkan. Namun, melihat kita tidak tahu seberapa panjang jaringan terowongan itu, kembalilah jika kamu merasa kamu sudah pergi terlalu jauh.”

“Dimengerti!”

Memang bisa saja lebih cepat jika semua orang berangkan sendiri-sendiri dan memeriksanya, Ainz tidak cukup bodoh untuk memecah kelompok itu dalam keadaan seperti ini, dimana mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Dia memerintahkan setiap orang untuk berkumpul dan melakukan penyelidikan kecil. Saat Ainz menunggu di belakang, mereka membuka pintu-pintu dari satu persatu bangunan di sana.

Mereka semua awalnya memberikan hasil yang sama.

Beberapa diantara bangunan itu ada perabotan yang ditinggalkan, tapi itu tidak lebih dari rak buku di sini dan meja di sana. Dia tidak menemukan sebuah kediaman dengan satu set lengkap perabotan.

Memeriksa semua rumah seperti ini akan memakan waktu yang lama.

“Aura, kamu memiliki indera yang paling baik diantara kita semua. Apakah kamu menemukan petunjuk apapun?”

“Tidak. Tidak merasakan keberadaan siapapun.”

“Begitukah... kalau begitu kita berpisah menjadi dua tim dan mencari lebih jauh. Shalltear, ambil alih komando dari undead dan bertindaklah sebagai pengintai. Aura, pergilah ke rumah dimana Zenberu tinggal terakhir kalinya dia di sini. Periksa kota itu untuk alasan mengapa para dwarf tidak lagi ada di dekat sini, tapi berhati-hatilah untuk tidak tersesat terlalu jauh.”

Dua Guardian menjawab mengerti, lalu dia melihat Zenberu membungkuk berterima kasih.

Setelah mengangguk dengan agung, Ainz merapalkan [Fly].

Dia perlahan melayang naik.

Ini akan menjadi tindakan yang berbahaya jika ada orang yang menunggu untuk menyergap, tapi karena suatu alasan, Ainz merasa bahwa tidak ada orang di dekat sana.

“Ainz-sama!”

Shalltear terbang karena panik.

“Ini berbahaya! Saya mohon turun saja!”

“Setelah dipikir-pikir, kamu benar. Kelihatanya aku sudah ceroboh.”

Memang wajar jika Shalltear marah. Lagipula, Ainz melayang – di tempat dimana dia bisa menarik garis lurus untuk menembaknya – murni karena dia bertindak berdasarkan insting.

“Tetap saja, kenyataannya adalah aku tidak diserang adalah bukti lebih jauh bahwa tidak ada orang di sini. Dan juga, ada kemungkinan jika siapapun yang melihatku mungkin akan mendekat untuk mengetahui lebih banyak, jadi aku akan menyerahkan perimeter keamanan kepadamu.”

“Tolong jangan menggunakan diri anda sebagai umpan untuk memancing musuh ke dalam jebakan.”

Punitto-san ada benarnya; tergantung keadaan, seorang pemimpin mungkin harus menggunakan dirinya sebagai umpan... Tetap saja, kurasa itu sulit bagi orang seperti Shalltear untuk memahami hal itu, melihat dia bukanlah salah satu temanku, tapi pelindungku.

“Maafkan aku,” Ainz berkata kepada Shalltear sebelum melihat ke bawah.

Ini adalah sebuah kota, dipenuhi dengan bangunan-bangunan yang mirip, ditata rapi seperti papan go (catur jepang).

“-Ada bangunan yang terlihat mengesankan di sebelah sana, dan di sana serta di sana.”

Meskipun sebagian besar bangunan-bangunan itu terlihat seperti dicor dari cetakan yang sama, ada beberapa yang kelihatannya lebih besar dari yang lain.

“Mari kita pergi dan melihat-lihat?”

“...Mari kita panggil Aura kembali dahulu. Rasanya keadaan akan mungkin menjadi sangat menyusahkan jika ada pengepung di sana.”

Semua yang Shalltear katakan barusan memang ada benarnya.

“Ainz-sama!”

Baru saja, suara Aura datang dari bawah. Melihat ke bawah, Ainz melihat Aura dan Zenberu yang melambai kepada Ainz, dan dari cara mereka melakukannya, kelihatannya ada sesuatu yang tidak lazim di sana.

“Kelihatannya mereka menemukan sesuatu.”

“Kelihatannya begitu.”

Dua orang itu bertukan pandangan sebelum mendarat di sisi Aura, setelah itu diikuti oleh undead yang bergegas menuju posisi mereka.

“Kemari dan lihatlah ini, Ainz-sama!”

Aura menuntun mereka ke dalam salah satu rumah yang baru saja dia buka.

Ainz memeriksa tempat itu sekali lagi, tapi dia tidak mendeteksi perbedaan apapun dari bangunan-bangunan lain, dan dia tidak menemukan sesuatu yang spesial di dalamnya.

“Apakah ini rumah dwarf tempat Zenberu pernah tinggal?”

“Tidak, bukan ini. Di perjalanan ke rumah dwarf yang merawat Zenberu, kami menemukan bangunan-bangunan yang telah dibuka. Setelah memeriksanya, saya menemukan jejak kaki di tana, dan itu mungkin saja jejak kaki dwarf. Di sini, coba lihat. “

“Zenberu, para dwarf tidak berjalan dengan telanjang kaki, ya kan?”

“Ahh, tentu saja tidka. Mereka semua memaki sepatu, dan mereka tidak melepas sepatu itu bahkan di dalam rumah masing-masing. Saya sering melihat mereka memakai sepatu dengan alas logam yang kokoh.”

“Itu artinya jejak kaki ini jelas bukan milik dwarf.”

“Seberapa banyak yang bisa kamu ketahui dari jejak kaki itu?”

“Hmmm, mari kita lihat...”

Aura memiringkan kepalanya merenung.

“Jejak kaki itu kelihatannya dibuat oleh makhluk yang berjalan dengan dua kaki, dan bekas diseret diantara jejak kaki kiri dan kanan menandakan sebuah ekor atau semacamnya.”

“Apakah seperti lizardman?”

Shalltear menoleh ke arah Zenberu.

“Tidak, bukan. Ekornya tipis, tidak tebal seperti Zenberu. Dan juga, jejak kaki itu dipenuhi dengan debu, jadi pasti ditinggalkan dalam waktu yang agak lama. Siapapun yang meninggalkannya tidak sering bolak balik. Dan juga, kelihatannya orang yang datang kemari langsung pergi setelah masuk... Apakah mereka datang karena mereka tertarik dengan kota dwarf?”

Aura mengalihkan tatapannya dari rumah itu ke jalan di luar.

“Dan bukan hanya satu orang.. ada banyak, setidaknya 10.”

“Seberapa jauh kamu bisa mengikuti jejak ini? Lagipula hanya ini satu-satunya petunjuk, jadi aku ingin mengikutinya sejauh mungkin.”

“Saya mengerti. Bisakah anda mengikuti di belakang saya?”

Tidak ada alasan yang mungkin untuk menolak.

Semuanya mengikuti di belakang Aura, sementara Shalltear berdiri di belakang Aura untuk melindunginya.

Pemilik jejak kaki itu bergerak seperti yang Aura duga – memiliki tujuan yang sama dengan Ainz, berkeliling dan melihat bangunan-bangunan dwarf.

Separuh perjalanan mengikuti jejak itu, Aura tiba-tiba berhenti dan menatap jalanan di depan. Dia sedang meliha kepada salah satu bangunan besar yang Ainz lihat dari atas.

“Ada banyak jejak kaki yang mirip di sini. Kelihatannya sebuah pasukan datang dari sana. Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita menyelidiki pasukan ini?”

“....Tidak, mungkin lebih baik melihat dimana pemilik jejak kaki itu menghilang. Kita akan menyelidiki kelompok lain nanti.”

“Dimengerti!”

Aura mulai bergerak lagi. Pada akhirnya, mereka tiba di sebuah bangunan yang menempel di dinding dan kelihatannya memanjang di seluruh kota.

Bangunan itu seperti sebuah bungalow, tapi besar.

“..Seharusnya tidakada orang di dalam, tapi untuk keamanan, aku akan menggunakan magic setelah ini. Mantra-mantra pertahanan musuh mungkin akan aktif dipusatkan kepadaku, jadi siapapun harus menjaga jaraknya.”

Dengan menggunakan magic tipe divinasi (seperti peramalan) memiliki resiko menjadi target serangan balik. Sementara hanya satu diantara mereka yang mungkin benar-benar terbunuh dalam satu kali pukulan oleh serangan balik itu adalah Zenberu, tidak ada alasan yang tidak perlu untuk mengurangi nyawa bawahannya.

“Ainz-sama, perkenankan saya untuk menjaga anda.”

“Eh? Kalau begitu aku datang juga.”

“Tidak, kamu harus tetap di tempat dimana kamu tidak akan terkena dan mengawasi keadaan sekeliling.”

Setelah diprotes oleh Shalltear, Aura melihat dengan memohon ke arah Ainz, tapi kali ini, Ainz memiliki pendapat yang sama dengan Shalltear.

“Memang benar. Kemampuan sensormu adalah yang terbaik diantara kita, Aura. Memang kelihatannya tidak ada, jika benar-benar ada pengepung, mungkin kamu akan berakhir menjadi yang pertama harus dihadapi.”

Setelah mendengar hal itu dari sang tuan, Aura tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang bisa dia lakukan adalah ogah-ogahan mengekspresikan persetujuannya.

Ainz mengeluarkan sensor magic dan mengirimkannya ke dalam bangunan tersebut.

Seperti yang diduga, tidak ada tanda-tanda siapapun yang bersembunyi di dalam, jadi dia mengirimkannya semakin dalam.

Apa fungsi dari bangunan ini sebelumnya? Sebuah counter dan – apakah itu loker-loker? Kelihatannya seperti rumah pemandian, tapi tidak ada pemisah jenis kelamin... apakah ini adalah satu-satunya bangunan Dwarf?”

Saat Ainz mengamati interior beberapa ruangan, dia menemukan sebuah tempat yang kelihatannya seperti sebuah terowongan yang menembus tempat di mana dia dan yang lainnya baru saja lewat barusan.

Jangan-jangan bangunan ini adalah cekpoin atau semacam markas? Mungkin dimaksudkan untuk menghentikan lawan yang datang dari kedalaman terowongan ini. Apakah itu berarti terowongan tersebut menuju suatu tempat lain?

Satu kali pemeriksaan cepat dari interior bangunan itu menunjukkan tidak adanya lawan. Ainz cepat-cepat menyimpulkan keadaan di dalam bangunan tersebut. Lalu membiarkan Aura menuju ke dalam, agar bisa memastikan jika jejak kaki itu berakhir di dalam terowongan tersebut.

Setelah itu, Ainz, Shalltera dan Zenberu mengikuti. Dia meninggalkan magical beast dan undead menunggu di luar untuk berjaga-jaga jika para Hanzo kembali nanti.

Saat mereka mengikuti di belakang Aura, Ainz berbisik kepada Zenberu: “Apa yang kamu tahu tentang bangunan ini?”

“Maaf, Yang Mulia, tapi saya tidak tahu sebanyak itu. Yang saya tahu bangunan besar yang barusan kita lihat tadi – yang ada di depan bangunan dimana kita mendapatkan jejak kaki – kelihatannya digunakan untuk tugas-tugas administrasi. Dan juga, bangunan-bangunan besar lainnya yang kita lihat dari waktu ke waktu digunakan untuk kedai minuman atau toko pandai besi dan semacamnya. Bahkan bagi kepala dwarf – tidak, orang mereka yang bertanggung jawab – tidak tinggal di rumah besar. Saya tidak tahu alasannya,” Zenberu menyimpulkan.

Saat itu, Aura berhenti di pintu masuk terowongan.

“Jejak kaki tersebut datangnya dari sini. Apakah kita akan terus mengikutinya?

Ainz sejenak terhalang dengan pertanyaan Aura, tapi segera berlalu.

“Tidak, tidak usah. Ada tempat lain untuk diselidiki di dalam kota. Tempat ini yang terakhir saja. Dan juga, akan lebih baik ada Hanzo untuk ini.”

Bisa dikatakan terowongan tersebut sangat panjang, mempertimbangkan para Hanzo yang masih tidak kembali.

Setelah mereka kembali ke luar, Ainz merapalkan sebuah mantra [Message] untuk bicara kepada pimpinan Hanzo.

“Ada apa, Hanzo? Apakah kamu sudah menemukan sesuatu?”

Maafkan kami sedalam-dalamnya karena sudah memakan waktu lama. Namun, harap dimengerti; meskipun memakan waktu, akhirnya kami menemukan sebuah jejak keberadaan seseorang.

“Apa? Benarkah? Apakah kamu menemukan bukti tentang menghilangnya para dwarf?”

Ini bukan bukti yang tepat, tapi kelihatannya ada sesuatu – sebuah suara datang dari kedalaman terowongan ini.
Bukan suara yang wajar kelihatannya?”

Memang benar! Itu adalah suara seperti seseorang sedang menggali bijih di dalam tambang. Apa yang harus kami lakukan? Apakah sebaiknya kami melangkah lebi jauh untuk menyelidikinya?

Tidak, lupakan itu. Sebelum kamu melakukannya, bawa kami kesana. Lokasi kami saat ini adalah-

Setelah dipikir-pikir, dia mungkin tidak bisa mendapatkan pesan dengan jelas hanya dengan menggunakan perkataan saja.

“Itu dia, kita akan menggunakan obor sebagai sinyal.”

Mengerti!

Setelah mengakhiri [Message], Ainz mengeluarkan sebuah obor. Obor itu bisa dinyalakan sendiri, dan dia menyerahkan obor itu kepada salah satu undead yang sedang menunggu di dekat sana. Makhluk undead tersebut melambaikannya dari samping ke samping, memberi tanda kepada hanzo, yang lokasinya tidak diketahui.

Tentu saja, ini bukanlah api biasa. Itu adalah artefak yang dijual di dalam toko-toko; memberikan damage dua kali lebih besar dari obor biasa ketika ditempelkan ke tubuh monster-monster seperti slime.

Ini agak sia-sia, tapi Ainz tidak memiliki obor biasa saat ini.

Obor itu kelihatannya mengeluarkan pita merah di dalam pandangan Ainz sebelum para Hanzo akhirnya muncul di depannya.

“Maafkan keterlambatan kami, Master.”

“Tidak usah memakai formalitas, waktu adalah uang. Bawa kami kesana sekarang.”

“Kami mengerti!”

Ainz berkendara di atas magical beast mengejar para ninja yang berlari.

Pada akhirnya, mereka tiba di depan sebuah bangunan seperti yang yang mereka temukan ketika mengikuti jejak kaki. Para hanzo berhenti di sini. Jadi mungkin ini adalah tujuan mereka.

Setelah turun dari binatang buasnya, Ainz mendengarkan penjelasan situasinya dari para Hanzo.

“Ada terowongan rahasia di dalam bangunan ini. Makhluk yang dimaksud berada di dalam terowongan itu.”

“Ainz-sama, ada satu set jejak kaki baru di sini. Kelihatannya tidak keluar dari terowongan tersebut, dan hanya menuju ke dalam. Orang yang membuat jejak kaki ini memakai sepatu, dan dari ukurannya, aku kira tingginya seperti Shalltear. Dan juga, hanya ada satu.”

Ainz mengangguk kepada Aura, yang sedang menatap tanah di depan bangunan tersebut.

“...mari kita coba untuk membuka dialog ramah dengan orang ini. Meskipun mereka menyerang, kalian hanya diperbolehkan mempertahankan diri. Dalam keadaan apapun kita tidak boleh mengambil gerakan pertama. Apakah kalian mengerti? Untuk menghindari pihak lain menjadi waspada, kita akan mencoba Aura bicara kepadanya, lalu-“

Ainz menyentuh wajahnya.

Apakah manusia hanya satu-satunya yang menghindari undead? Atau apakah itu adalah kenyataan di dunia ini?

Bagimanapun juga, bawahannya masih merupakan pimpinan pasukan undead. Oleh karena itu, dia mungkin mungkin akan membuat kesan yang lebih baik dengan memperlihatkan wajahnya dan tidak menyembunyikan identitas.

“Baiklah, Hanzo. Bawa kami ke tempat kamu mendengar suara itu.”

Para hanzo memimpin mereka melalui bangunan tersebut dan masuk ke dalam terowongan.

Atapnya lumayan rendah, jadi pasti itu digali oleh para dwarf. Dwarf di dalam Yggdrasil memang semuanya pendek dalam ukuran tubuh.

Jika mereka menggali terowongan ini, mungkin memang setinggi ini.

Telinga Aura berkedut saat mereka bergerak masuk ke dalam terowongan itu. Itu memastikan akurasi dari laporan Hanzo.

Ainz berusaha mendengarkan, tapi tidak tidak bisa mendapatkan suara yang Aura dengar.

“Apakah itu?... Apakah sudah dekat?”

“Sulit dikatakan. Saya tidak bisa menilai jarak akuratnya karena suara gema.”

“Umu. Jika ini lurus, sebuah arcane eye (mata magic arcane) akan bisa menunjukkan identitas pihak lain...”

Seseorang tanpa pendengaran tajam Aura – yang diterima dari job class atau rasnya – tidak akan mampu mendengarkan apapun karena jarak diantara mereka. Namun, jika mereka semakin dekat, pihak lain mungkin akan mengetahui keberadaan dari proses panjang yang sedang bergerak.

Jika siapapun yang medengar sebuah kelompok tak dikenal mendekati mereka, insting pertama mereka mungkin akan kabur untuk menyelamatkan diri. Tentu saja, dengan Aura di sini itu berarti mereka tidak akan bisa kabur, tapi pihak lain mungkin masih bisa menghindarinya jika mereka bisa [Teleport] atau jika mereka memiliki skill yang membuatnya bisa meleleh ke dalam tanah.

Keputusan yang paling bijak adalah mengirim Aura dan para Hanzo, atau Ainz pergi sendiri, karena dia bisa menjadi tidak kasat mata.

“kalau begitu, kita akan kirimkan orang-orang yang bisa bersembunyi dari titik ini. Aura dan Hanzo, kalian pergi dahulu. Aku akan mengikuti. Shalltear, kamu harusnya menunggu di sini.”

“Jika itu adalah kehendak anda.”

“...Tidak, itu adalah ide yang buruk menunggu di sini?”

Ainz melihat ke arah atap. Kelihatannya seperti bebatuan yang kokoh, tapi tidak ada hal yang absolut.

“Cukup adil. Kembalilah ke bangunan sebelumnya dan tunggu kami kembal... Tidak, jika aku melakukan itu, para Hanzo juga akan.. Aura, apakah kamu kira jejak kakinya mengarah ke sumber suara?”

“Ya, mereka menuju kesana. Orang yang membuat jejak itu mungkin adalah sumber suara tersebut.”

“Ternyata begitu, bisakah kamu menuju kesana denganku?”

Aura mengangguk.

“kalau begitu, kita berdua akan pergi dahulu. Semuanya kecuali Aura dan aku akan menuju bangunan di pintu masuk terowongan ini. Jika ada sesuatu yang terjadi, terutama munculnya makhluk yang kuat seperti level kita, langsung mundur. Dengan begitu, kita akan membuat jalan kabur sendiri, jadi jangan khawatir. Tujuan dari [Gate] adalah bangunan Aura di dalam hutan.”

“Mengerti! Tapi apakah anda berdua benar-benar baik saja sendirian?”

“Aku tidak yakin. Yah, aku ingin berpikir kami akan baik-baik saja.”

Seseorang bisa mempertimbangkah celah seharian penuh dan tidak akan kemana-mana. Yang bisa Ainz lakukan adalah menerima bahwa dia berkompromi dengan keselamatannya saat mengambil tindakan. Ini adalah sesuatu yang Ainz pelajari baru-baru ini.

Shalltear tidak berkata apapun yang membuatnya ingin berubah pikiran. Atau lebih tepatnya, mungkin saja perintah Ainz tidak meninggalkan protes, jadi yang bisa dia lakukan adalah mematuhinya.

Ainz pergi dengan Aura. Dia masih belum menggunakan magic karena mereka masih agak jauh.

Dua orang itu berjalan tanpa suara untuk sementara, lalu suara itu tiba di telinga Ainz.

“..Kelihatannya siapapun yang melakukan ini berusaha sebaik mungkin untuk meminimalisir suara yang dihasilkan.”

Ainz tidak tahu mengapa topik itu keluar, tapi jika Aura menyebutkannya, maka seharusnya memang benar.

“Apakah itu berarti kita bisa berasumsi pihak lain dalam kewaspadaan tinggi pula?”

“Jadi apakah kita harus mulai dengan menangkap mereka?”

“Hanya jika mereka ingin kabur. Lagipula, jika kontak pertama kita melalui kekerasan, mungkin akan sangat sulit untuk menjalin hubungan pertemanan dengan mereka di masa depan.”

“Saya mengerti. Kalau begitu, biarkan saya pergi daulu dan bicara seperti biasa.”

“Lakukan itu. Kalau begitu, aku akan membuat diriku tidak terlihat – tidak, untuk alasan keamanan, aku akan mengikuti di belakangmu sambil tidak kelihatan, Aura. Jika pihak lain lari, maka kita tidak ada pilihan lain kecuali menangkap mereka.”

Part 2

Setelah berdiskusi sesaat, dua orang itu mempersiapkan diri dan menuju pembuat suara.

Ada makhluk berbentuk dwarf di kedalaman terowongan tersebut. Di dalam dunia yang gelap gulita ini, yang mereka lihat adalah dirinya yang dengan rajin menggali pada dinding terowongan dengan menggunakan beliung.

Mereka masih agak jauh jadi mereka tidak bisa yakin, tapi kelihatannya memiliki tinggi 140cm. Tubuhnya berbentuk seperti tong bir dan kakinya tidak panjang. Kenyataannya, jelas sekali jika kakinya pendek.

Dia memakai jubah berwarna coklat, dan item-item yang diletakkan di dekatnya harusnya adalah properti miliknya pula. Salah satunya adalah sebuah lentera yang tidak menyala dan sebuah tempat air minum.

Apa yang seorang penambang lakukan sendirian di kota yang sudah tidak ditinggali ini? Ini aneh. Mari kita tanya dia dan menyelesaikan misteri ini.

Aura perlahan mendekati penambang tersebut.


Sebaliknya, Ainz terlihat tidak perduli.

[Perfect Unknowable] (Tak bisa diketahui dengan sempurna)

Menghapus keberadaan dan suara seseorang, membuat sang perapal mantra sulit dideteksi jika dia tidak memiliki job class tipe thief level tinggi. Bahkan orang selevel Aura akan kesulitan mengetahui keberadaannya. Ainz tercatat pada indera Aura sebagai keberadaan yang samar-samar.

Ketika Aura sudah cukup dekat dengan penambang itu, Aura menyapanya.

“Heya. Apa yang sedang kamu lakukan?”

“Hiieeeeee!”

Penambang itu meratap seakan dia mau mati saat menoleh menghadap Aura.

Janggutnya panjang – tidak diragukan lagi dia adalah milik ras dwarf.

Pria bermata lebar itu menarik jubah coklatnya menutupi tubuhnya sendiri.

Namun, hanya itu. Pria itu masih ada di sana. Namun, kelihatannya hanya Ainz yang berpikir demikian.

“Hmph! Invisibility (kemampuan untuk tidak terlihat), huh-“

Suara Aura membuat Ainz – yang bisa melihat tembus invisibilitas – melihat dengan baik-baik ke arah dwarf itu. Saat Aura mengatakannya, bayangan dwarf kelihatannya agak kabur.

Jubah itu pasti item magic, dan melakukan hal itu mungkin mengaktifkan kekuatan invisibilitynya. Rasanya mirip dengan Shizu...


“Hey, hey, tahukah kamu aku tidak berniat menyakitimu,  ya kan, Dwarf-san? Aku tahu kamu ada di sana. Biar kulihat dirimu dengan baik-baik.”

Nada suara Aura yang menggemaskan dan menghangatkan hati pasti membuat kesan yang besar di hati Dwarf tersebut.

Dia memisahkan jubahnya sedikit, lalu mengintip ke arah Aura melalui celah itu.

“Apakah, apakah kamu seorang dark elf? Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Hm? Ketika aku mendatangi kota dwarf, aku menemukannya seperti cangkang kosong, jadi aku memutuskan untuk mencari tahu mengapa tidak ada orang. Aku mencarinya ke sekeliling dan disinilah aku.”

“Oh, Oh begitu..”

“Dwarf masih tinggai di sini sampai lima tahun yang lalu. Kemana mereka sekarang? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Dan ngomong-ngomong, mengapa kamu tidak membiarkanku melihatmu?”

Dwarf itu bergerak perlahan, tapi Aura mengikuti dengan matanya.

“Sudah cukup. Kelihatannya kamu meman benar-benar melihatku.”

Dwarf itu melipat jubahnya. Mungkin itu untuk menghentikan efek dari maginya. Kelihatannya agak lucu bagi Ainz, karena tidak ada yang berubah dari sudut pandangnya.

“Kalau begitu, mari kita mulai dari awal. Bagaimana keadaanmu? Aku adalah Aura Bella Fiora, dari Sorcerous Kingdom Ainz Ooal Gown.”

“Sorcerous Kingdom? Maafkan kebodohanku, tapi apakah itu adalah kerajaan Dark Elf? Semacam itu? Oh, maaf. Aku adalah Gondo Firebeard dari Dwarven Kingdom. Senang bertemu denganmu.”

Aura mengulurkan tangannya. Gondo kelihatannya mengerti arti isyarat itu dan mengusap tangannya yang kotor sebelum berjabat tangan.

Sepertinya keadaan berjalan dengan baik. Ainz mengangguk saat dia menyaksikan proses itu, tetap mempertahankan mantra tidak terlihatnya.

“Yah, kurasa kita tidak perlu terlalu formal. Bagaimana kalau bicara seperti biasa?”

“Ohhh! Aku juga mau meminta seperti itu. Aku hanya orang biasa. Tapi jika kamu adalah figur penting, maka yang bisa kulakukan adalah diam saja.”

Aura melihat senyum Gondo, lalu dia tersenyum membalasnya.

“Kalau begitu, kembali ke pertanyaan semula. Masih ada dwarf yang tinggal di sini lima tahun yang lalu. Kemana mereka perginya?”

“Mm, mereka semua pindah ke koa lain tiga tahun yang lalu. Apakah ada masalah?”

“Yeah, agaknya. Aku kemari beserta seorang lizardman yang bilang dia tinggal di sini untuk sementara. Dia bilang kepadaku tempat ini.”

“Seorang lizardman? Lima tahun yang lalu?”

Gondo berpikir sejenak, lalu dia memukul telapak tanganya.

“Ohh! Aku tidak tahu sendiri, tapi aku tahu itu memang terjadi. Itu adalah pertama kalinya seorang lizardman mengunjungi kami, itu menjadi topik hangat. Aku yakin dia adalah orang dengan lengan yang luar biasa tebal, apakah aku benar?”

“Benar sekali! Itu dia.”

Gondo bergumam “Oh begitu, oh begitu” kepada dirinya sendiri berkali kali. Dari matanya mengisyaratkan dia telah menurunkan kewaspadaannya.

“Orang yang baik hati kepada lizardman itu kelihatannya juga pindah. Bisakah kamu katakan kepadaku kemana dia pergi?”

“Yah, bilang kepadamu seharusnya tidak masalah... Tapi aku pernah dengar jika Dark Elf tidak tinggal di dalam tanah, apakah aku salah? Meskipun kamu tahu jalan bawah tanah kesana, bisakah kamu tiba di sana dengan selamat?”

“Yah, kurasa tidak ada masalah, tapi jika memungkinkan, aku juga ingin tahu rute jalan di atas tana pula.”

Gondo mengernyitkan wajah berjenggotnya.

“Oh, aku harus minta maaf. Aku jarang bepergian ke permukaan, jadi aku tidak percaya diri dalam menjelaskan rute ke Feoh Ger – itu artinya, kota tujuan mereka pinda. Yang bisa kuberikan adalah arah secara kasar, semacamnya dan berapa kilometer ke utara, dan seterusnya.”

“Itu juga tidak apa. Sebenarnya, aku ingin memintamu menunjukkan jalannya... Bagaimana kalau kami mempekerjakanmu? Kamu akan dibayar, tentu saja...”

“Penawaran yang menarik. Tetap saja, apakah kamu – tidak, kamu menyebutkan lizardman berusan – apakah kalian berdua datang kemari sendirian? Kamu belum dewasa, ya kan? Berapa orang yang datang bersamamu?”

“Cukup banyak. Tetap saja, jika kami semua masuk, akan menyebabkan masalah, jadi aku buat mereka menunggu di pintu masuk terowongan.”

“Pintu masuk? ...Hm?”

Gondo terjatuh dalam lamunan, seakan dia barus aja teringat sesuatu. Tetap saja, itu hanya sekejap. Dia menyingkirkannya dan melanjutkan pembicaraan.

“Yah, itu melegakan. Berjalan sendirian di dalam sebuah terowongan... itu bukan ide yang bagus. Kamu bukan penghuni bawah tanah jadi mungkin tidak tahu, tapi beberapa monster bisa berenang dengan bebas menembus tanah. Itu bukan sebuah tempat dimana seseorang bisa pergi sendirian, Yah, jika kamu punya perlengkapan magic, mungkin kamu bisa melakukan sesuatu dengan itu...”

Dia menatap berulang kali ke arah pakaian Aura untuk melihat apakah dia memiliki item magic apapun.

“Yah, aku harus protes kepada rekan-rekanmu. Mengirimkan seorang anak-anak keluar sendirian adalah hal yang memalukan bagi orang dewasa.”

Gondo menoleh ke arah Aura dan melemparkan segumpal batu ke dalam tas yang diletakkan di sampingnya.

Tas itu tidak membengkak. Itu pasti item magic pula. Lalu, dia mengambil lentera yang ada di dekatnya, lalu menaikkan alat pengatur cahayanya.

Sebuah kilau biru yang mengejutkan – sebuah kilauan magis – menyinari terowongan tersebut. Sampai sekarang, dua orang itu berbicara dalam keadaan benar-benar gelap gulita.

“kalau begitu, ayo. Kelihatannya kamu bisa melihat dalam keadaan gelap gulita, tapi sedikit cahaya tidak ada salahnya, ya kan? ... yah, itu memang meningkatkan peluang dikenali oleh monster-monster, jadi aku tidak merekomendasikannya. Apakah kamu punya cara untuk kabur jika ada monster menyerang? Mereka tidak jarang di sini, tapi kamu juga tidak bisa menyingkirkan kemungkinan itu sepenuhnya.”

Ainz mengangguk. Dwarf itu tidak tahu kekuatan Aura, jadi sangat terpuji dirinya bersikap seperti orang dewasa kepada Aura. Namun, Ainz merasa bahwa kewaspadaan Gondo tidak cukup. Dia seharusnya mengambil berbagai kemungkinan untuk diperhitungkan sebelum memberi nasehat kepada Aura.

“Jangan khawatir. Aku bisa kabur sendirian, dan aku juga tidak sendirian pula.”

Aura melihat ke arah Ainz. Namun, garis pandangannya kelihatannya agak melenceng.

“Hm? Benarkah? Aku punya Cloak of Invisibility (jubah tembus pandang), jadi kamu bisa membiarkanku dan lari. Namun, monster-monster yang terkubur di dalam tanah bisa merasakan lokasi lawan mereka melalui getaran di dalam tanah. Oleh karena itu, aku ingin memperingatkanmu untuk tidak bergerak sembarangan.”

Dengan bersungut, Gondo memakai tasnya lalu bangkit berdiri.

“Kalau begitu, ayo pergi.”

Gondo menuju ke depan. Aura dan Ainz yang masih belum diketaui mengikuti dari dekat di belakang.

“Setelah dipikir-pikir, tadi kamu menyebutkan tempat ini tidak aman, tapi bukankah ini pernah menjadi kota para dwarf? Apa yang membuatnya tidak aman sehingga harus mengevakuasi?”

“Yah, bukan kota ini, tapi ibukota kami saat ini, Feoh Ger. Berada di Timur Laut. Kami melihat Quagoa (Tunneling Beastmen / Manusia binatang terowongan) di dekat sana. Akan jadi tragedi jika kota kami dihancurkan sedikit demi sedikit, jadi kami memutuskan untuk sementara meninggalkan kota ini – Feoh Raido.”

“Quagoa? Ras macam apa mereka?”

“Umu. Mereka adalah penghuni bawah tanah seperti kami... kami mereka orang-orang yang menyusahkan. Keadaan sudah cukup buruk diantara kami sehingga bisa saja terjadi saling bunuh ketika bertatap muka satu sama lain.”

Gondo terus merancau tentang Quagoa saat dia berjalan menyusuri terowongan tersebut. Ini mungkin dimaksudkan agar Aura terus memperhatikan.

Sekilas, mereka adalah demihuman yang mirip tikus tanah dan berdiri di atas dua kaki. Dengan tinggi sekitar 140cm, berat sekitar 70kg rata-rata, dan mereka memiliki perawakan tubuh yang pendek namun kuat.

Mereka didominasi dengan coklat gelap, dengan hitam dan coklat yang agak jarang. Warna khusus seperti biru atau merah kelihatannya menandakan kekuatan individunya.

Mereka hidup di tempat dimana cahaya tidak bisa menembus, tapi penglihatan mereka lebih kuat daripada manusia biasa.

Tingkat teknologi mereka rendah, setara atau lebih rendah dari lizardman. Mereka tidak bisa membuat armor atau senjata, mungkin karena tubuh mereka sendiri – cakar dan bulu – lebih unggul dari perlengkapan perang dibawah standar.

Bulu yang menutupi seluruh tubuh mereka sekeras armor logam, dan bisa mementalkan pukulan dari senjata-senjata logam. Bulu tersebut tumbuh semakin kuat jika mereka memakan logam-logam langka di dalam masa mudanya. Bisa dibilang ketahanan terhadap damage berdasarkan warna dari bulu mereka.

Dari sudut pandang pemain Yggdrasil, bisa dikatakan bahwa mereka memiliki skill ras yang berhubungan dengan resistansi terhadap damage – dalam hal ini, damage dari senjata-senjata logam. Pertanyaannya sekarnag adalah seberapa tahankah mereka terhadap senjata logam, bukannya ketahanan mereka akan menembus hingga titik imunitas penuh, tapi masih layak diselidiki.

Lalu ada juga cakar mereka – seperti armadillo dan anteaters (pemakan semut) – yang bahkan bisa menembus baja.

“Mereka ya,.. kurasa kami menemukan jejak mereka di dalam kota barusan.”

Gondo tiba-tiba berhenti dan berpaling menghadap Aura.

“Apa kamu bilang? Apakah ini adalah sarang mereka sekarang? Ini sudah menjadi tempat itu!”

“Tempat itu... yah, rasanya sih mereka tidak tinggal di sini. Kurasa mungkin mereka hanya datang untuk mengamati. Tetap saja, jika kamu ingin mengabaikan tempat ini, mengapa kamu tidak menghancurkannya?”

“Memang benar, tapi kami tidak berniat untuk mengabaikan tempat ini selamanya. Ketika pasukan kami sudah siap, kami berniat untuk mengambilnya kembali. Seperti yang bisa kamu lihat, ada banyak bijih logam di sini, seperti tempat yang baru saja aku gali barusan.”

“Hm~”

Dua orang itu berjalan tanpa bersuara. Jarak dalam percakapan mereka adalah hal yang wajar, dan jika mereka tidak mengisi jarak itu dengan topik baru secepatnya, dialog mereka akan berakhir di sini. Ainz menilai bahwa mereka telah menanyakan apapun yang bisa ditanyakan, dan memutuskan untuk menunjukkan diri. Mungkin akan lebih baik untuk bilang kepada Gondo tentang dirinya sendiri sebelum dia meninggalkan terowongan itu dan melihat para undead.

“Kalau begitu, sudah saatnya aku memperkenalkan diri.”

Ainz berkata demikian, tapi berkat mantra [Perfect Unknowable] yang masih aktif, suaranya tidak sampai kepada mereka berdua.

Merasa sedikit malu, Ainz mematikan magic itu.

Mungkin Gondo merasakan kehadiran Ainz di belakang Aura, lalu dia memutar badannya, kemudian matanya melebar menjadi seperti cawan. Ekspresinya berubah terkejut dan rangkaian perubahan yang rumit. Keheranan, kaget, teror, bingung, lalu-

“—Geehhhhhh!”

Ainz penasaran apakah dia membuat suara yang membuatnya terganggu, namun Gondo memegang tangan Aura dengan erat.

“Mon, se mon-! Rah, LariiiI! Cepat, lari!!”

Namun, Aura tahu orang yang baru saja muncul itu, dan tidak punya alasan untuk lari.

“Ayo, cepat lari!!”

Gondo tidak bisa bergerak, seakan dia dirantai ke batu besar.

“Be, Beratnya! Ada apa! Apakah ada sesuatu yang terjadi padaku?!”

“Tidak usah takut.. Gondo.”

Saat Ainz bicara, wajah Gondo yang ketakutan berubah.

“Ba, Bagaimana kamu tahu namaku! Apakah kamu bisa melihat tembus diriku!! Atau apakah itu magic!!!”

Aku seharusnya memakai topeng ternyata, pikir Ainz. Lalu, dia berbicara dengan tenang, agar tidak membuat Gondo semakin gelisah.

“Tenanglah. Aku hanya mendengarkan percakapan kalian. Aku adalah Sorcerer King Ainz Ooal Gown, penguasa Sorcerous Kingdom.”

Wajah Gondo mengalami rangkaian perubahan lagi, dan kali ini mata Gondo berkedip-kedip antara Aura dan Ainz.

“So, Sorcerous Kingdom? Apakah Sorcerous Kingdom bukan sebuah negeri Dark Elf?”

“Bukan. Itu adalah sebuah negeri bermacam-macam spesies yang mengakuiku sebagai raja mereka.”

“..Eh? Benarkah?”

Hanya ada kewaspadaan dan kecurigaan di dalam mata Gondo, sementara nada suaranya tegang karena ketakutan.

“Salah satu undead, huh... Jadi itu bukan sebuah topeng? Eh? Maksudmu undead yang itu? Makhluk yang benci dan membantai makhluk hidup?”

“Hey, seperti yang Ainz-sama bilang. Dia tidak bohong sama sekali. Aku adalah seorang dark elf dan cerita tentang lizardman yang datang kemari juga benar. Ainz-sama bersamaku sejak pertama kali aku bertemu denganmu tahu? Seperti yang kubilang, aku tidak datang kemari sendirian.”

“Eh? Kurasa telingaku yang tidak beres. Tapi...”

Gondo bergumam sendiri, lalu mengambil beberapa nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkan ekspresi bertekad di wajahnya dan bertanya:

“Jangan-jangan Yang Mulia – bolehkah aku menggunakan istilah itu? Ah, apakah Yang Mulia dulunya seorang dark elf?”

Itu adalah pertanyaan yang tidak terduga. Jawaban yang benar mungkin adalah dia adalah makhluk undead berasal dari manusia. Ainz berhenti sejenak untuk mempertimbangkan jawabannya, lalu dia membalas menurut prediksinya:

“Tidak, aku adalah makhluk undead sejak lahir.. meskipun aku tidak tahu jika itu adalah istilah yang benar. – yah, tidak usah takut. Manusia, dwarf dan elf semuanya memiliki anggota yang buruk dan baik di dalam spesies mereka, ya kan? Sama halnya, ada undead yang membenci makhluk hidup, dan mereka yang mencari hubungan pertemanan dengan mereka. Tentu saja aku termasuk kelompok yang terakhir.”

“Tapi, tapi undead yang ramah, itu sama tidak terpikirkannya dengan demon yang penuh kasih...”

Itu adalah ucapan yang sangat bagus, pikir Ainz saat mengangkat bahu.

“Benarkah? Aku tahu seorang angel yang jatuh ke dalam kegelapan dan seorang demon yang bercita-cita menuju cahaya...”

Demon yang dimaksud adalah seorang NPC di dalam Yggdrasil, yang disebut Mephistopheles. Dia adalah seorang karakter yang terkenal karena sering mengucapkan kalimat-kalimat tsundere kepada makhluk-makhluk yang dianggap baik. Dia terlihat menakutkan tapi ternyata herannya sangat ramah dan logis, dan dia memberikan misi dari jangkauan yang remeh hingga level tinggi, yang membuatnya hampir sepopuler Dark Young.

“Tidak kukira makhluk semacam itu ada...”

Ainz mengangkat bahu terhadap Gondo yang terkejut.

“Aku mengerti kewaspadaanmu. Namun, aku hanya memintamu mengingat ini. Aku tidak berniat melukaimu. Biarkan dia pergi, Aura.”

“Baik, Ainz-sama.”

Setengah jalan berlalu, orang yang memegang tangan orang lain telah berubah dari Gondo kepada Aura, dan tentu saja, niat mereka melakukan itu sama sekali berlawanan.

Gondo terjerembab ke belakang sangat jauh ketika Aura melepaskannya, tapi dia kelihatannya tidak lari.

Sebuah gerakan yang sangat rasional, pikir Ainz. Satu langkah yang salah bisa membuat Gondo memilih pilihan emosional dengan kabur. Itu tidak akan berjalan dengan baik baginya. Namun, Gondo yang sekarang masuk sebagai orang yang bisa menjadi lawan negosiasi.

“Kalau begitu, mari kita mulai lagi? Aku mengerti kewaspadaanmu, tapi aku – kami tidak memiliki niat untuk melukaimu. Namun lebih kepada, kami ingin berteman denganmu.”

Gondo tidak merespon. Seperti yang diduga, dia masih tetap mengintip Ainz dengan keraguan di seluruh wajahnya.

“Khususnya, negaraku ingin menandatangani sebuah perjanjian pertemanan dengan Dwarven Kingdom. Oleh sebab itu, kami tidak ada niat untuk melukai penduduk dwarf satupun.”

“Dan apa maksud anda dengan sebuah perjanjian pertemanan?”

“..Maafkan aku. Sebaiknya tidak menyebutkan masalah dengan level nasional kepada individu yang tidak bisa mewakili sebuah negeri, bukankah begitu?”

“Mm. Benar juga, ah, tidak, maksud saya, seperti yang anda katakan-“

“-Jangan khawatir. Kedua kalimat itu tidak apa. Menghadapi seseorang yang bicara gelagapan adalah hal yang melelahkan.”

Jawaban Ainz yang santai menarik satu senyum pahit pertama dari Gondo dari sejak mereka bertemu.

“Terima kasih banyak – Yang Mulia. Dan jika ucapan gadis ini – nona muda ini benar, saya anggap anda datang ke kota ini untuk tujuan itu?”

“Memang benar, begitulah. Tapi Gondo, mengapa kita tidak pergi dari terowongan ini dahulu? Bicara dengan Lizardman yang datang bersama kami mungkin ide yang bagus. Kamu pernah dengar dia sebelumnya, ya kan? Dan juga, aku ingin mendiskusikan masalah Quagoa denganmu.”

“Hmm...”

Gondo memicingkan matanya kepada Aura.

Aura tersenyum, seakan berkata, “siapa, aku?”

“Baiklah. Kelihatannya nona muda ini sangat percaya kepada anda. Dan jelas bahwa anda bukan undead biasa.”

Gondo berjalan di depan mereka, sementara Aura dan Ainz mengikutinya menyusuri terowongan tersebut.

“Benar sekali, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Apa itu?” Gondo membalas saat menoleh ke belakang melihat ke arah Ainz.

“Aku ingin tahu lebih banyak tentang karakter-karakter runic (huruf kuno) dan kerajinan yang berhubungan dengannya.”

Alis Gondo berkumpul, aslinya mengerut menjadi lereng yang curam.

“Apah yang ingin anda tahu tentang rune? Apa yang perlu ditanyakan?”

Sikap tidak senang terdengar jelas di suara Gondo.

Sampai saat ini Ainz bisa merasakan kebingungan dan ketakutan ketika bicara dengannya, tapi tidak ada kemarahan. Dengan kata lain, sikap tidak senang Gondo sepenuhnya karena pertanyaan sederhana itu. Apakah dia teringat kenangan buruk mengenai rune, atau apakah ini semacam rahasia yang tidak bisa ditunjukkan kepada yang bukan Dwarf?

Ainz ragu-ragu. Apakah dia harus melanjutkan pertanyaannya?

Gondo adalah Dwarf pertama yang dia temui. Membuatnya marah bukanlah hal yang bijak. Namun, jika dia bisa mempelajari sumber kemarahan itu, bisa terbukti menguntungkan ketika bernegosiasi dengan Dwarven Kingdom.

Tentu saja, itu diasumsikan kemarahan Gondo tidak muncul karena alasan pribadi.

Ainz dengan dingin mempertimbangkan apakah dia harus menghabisi Gondo saat dia berbagi apa yang dia ketahui tentang rune. Memang benar, sebagian besar tentang itu berasal dari Tabula Smaragdina yang terus-terusan membicarakannya.

Sebenarnya Ainz tidak tahu banyak. Dia tahu berapa banyak karakter berbeda yagn ada dan itu adalah bentuk tulisan, tapi hanya itu.

Dia hampir tidak ingat dengan arti masing-masing dari karakter tersebut, jadi dia harus meraba-raba melalui deskripsinya.

Sebaliknya, sebuah perubahan dramatis terjadi kepada Gondo.

Dia menghentikan langkahnya sejenak, lalu berbalik.

Wajahnya berubah menjadi emosi yang berbeda. Dia dipenuhi dengan kegembiraan.

“Anda... siapa anda... tidak... Sorcerer King... makhluk undead yang abadi, tak terpengaruh usia... pengetahuan yang telah hilang...”

Ainz bisa mendengar Gondo yang bergumam sendiri. Tidak ada arti dalam ucapannya. Kelihatannya itu adalah respon yang tidak disadari.

Ainz mengangkat tangan untuk menghentikan Aura, yang sudah gelisah dan bersiap untuk membuat gerakan karena Gondo tidak langsung menjawab. Akan lebih baik membiarkannya memikirkan hal ini sendiri dahulu.

Setelah Gondo sadar, dia mempelajari Ainz dengan teliti. Sikapnya masih mengatakan kewaspadaan terhadap Ainz, tapi kelihatannya digantikan oleh beberapa emosi lain.

“Aku mengetahui lebih banyak rune dari ini. Ada 50 lesser rune (huruf kuno yang lebih rendah), 25 middle rune (huruf kuno yang tengah-tengah), 10 upper rune (huruf kuno yang lebih tinggi) dan 5 top rune (huruf kuno yang tertinggi) total jumlahnya 90. Meskipun begitu, sebagian besar dari itu sudah hilang, dan hanya beberapa saja yang tersisa. Tepatnya berpa banyak rune rahasia dan kelas divine yang ada adalah hal-hal legendaris.”

“Benarkah... mungkin ada beberapa perbedaan, tapi rune yang aku tahu terlihat seperti ini. Apakah kamu mengenalinya?”

Ainz menuliskan sebuah rune dari ingatannya ke tanah.

“Ho! Ini adalah salah satu middle rune, Lagu.”
(TL Note: ini adalah rune Anglo-Saxon artinya ‘danau’.)

Meskipun Ainz tidak tahu mengapa ada begitu banyak, Ainz cukup yakin jika beberapa diantaranya cocok dengan yang Gondo tahu.

“Aku mengerti. Kalau begitu, aku mohon lanjutkan mengatakannya kepadaku tentang rune.”

Apa yang sebenarnya paling ingin Ainz ketahui adalah siapa yang mengajari pengetahuan ini dan informasi mengenai para pemain lain. Namun, pertanyaan itu paling baik ditujukan kepada seorang sejarawan. Untuk sementara, dia akan membangun dasar pengetahuan dengan informasi lain yang berhubungan.

“Sekitar 100 tahun yang lalu, para dwarf mengekspor senjata magic dengan ukiran rune ke negeri manusia di timur dari pegunungan ini – Empire. Namun, aliran senjata itu berhenti setelahnya. Apa alasannya?”

Apa yang Ainz ingin tahu adalah apakah seorang pemain tewas 100 tahun yang lalu, tapi terlalu gegabah mengorek informasi semacam itu bisa membuat dirinya terekspos. Ainz sudah memikirkan masak-masak pertanyaan ini beberapa waktu yang lalu hingga sekarang, dan kelihatannya seperti sebuah pertanyaan yang bagus karena tidak mengeluarkan resiko membocorkan apapun tentang dirinya.

Wajah Gondo menjadi gelap. Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan jalannya.

“Ini akan memakan waktu yang lama. Mari kita bicara sambil berjalan.”

“Umu...”

Untuk sementara, satu-satunya suara yang terdengar di dalam terowongan ini adalah langkah kaki dari mereka bertiga.

 Dia mungkin terdiam karena dia ingin melancarkan kegundahan di dalam hatinya.

“Pertama, teman-temanku tahu aku adalah seorang pengembang rune.”

Apakah itu artinya dia memberi gelar tersebut sendiri?”

Gondo melanjutkan bicara tanpa menunggu Ainz merespon.

“Item magic dwarf selalu dibuat dengan rune. Tapi 200 tahun yang lalu, kami diserang oleh Demon God, dan sisa-sisa keluarga bangsawan meninggalkan kerajaan kami untuk bergabung melawan mereka. Teknologi dari dunia luar mengalir masuk dan sebagai hasilnya, rune dianggap sebagai ketinggalan jaman.”

Gondo mengeluarkan sebuah pedang dari tasnya dan memberikan pedang itu kepada Ainz. Ada karakter rune di tubuh pedang itu.

“Ini adalah Cuern, sebuah lesser rune yang berarti ‘ketajaman’. Ketika diukir dengan hati-hati, akan membuat pedang magic. Efeknya meningkatkan ketajaman senjata tersebut dan membuatnya lebih mudah memberikan luka-luka yang dalam kepada musuh.”

“Ini adalah efek yang sangat dasar pada senjata-senjata magic, ya kan? Waktu yang dibutuhkan untuk mengukir sebuah rne tergantung jumlah damage bonus yang ditambahkan kepada rune tersebut. Meskipun begitu, aku pernah dengar seharusnya tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan sebuah senjata kelas rendha, benar kan?”

“Itulah kenapa runecraft jatuh dimakan waktu. Item yang sama memakan waktu tiga kali lebih lama dibuatnya dengan runecraft (kerajinan rune) dibandingkan metode lain. Dari sudut pandang produksi masal, bahkan tidak berada pada kelas yang sama dengan enchantment (kerajinan dengan pemberian magic) milik manusia.”

Gond menghela nafas dalam-dalam.

“Berkat teknologi yang lebih unggul dari luar, jumlah runesmith yang bisa mengukir rune perlahan mulai berkurang. Itu karena semua orang merasa bahwa lebih baik menjadi seorang magic caster, yang bisa melakukan enchantment.”

Mungkin itulah alasannya mengapa aliran senjata ke dalam Empire berhenti. Ainz memahami hal itu. Dengan kata lain, tradisi kuno dan craft (kerajinan pembuatan senjata) semakin mati.

Gondo memicingkan matanya.

“Tetap saja, mengabaikan teknik dwarf kami sepenuhnya adalah tindakan bodoh! Terlebih lagi, runecraft memiliki keunggulan juga! Contohnya, kamu tidak perlu mengeluarkan biasa untuk itu!”

Suara Gondo bergema ke penjuru terowongan tersebut. Setelah menyadari seberapa bahayanya membuat kehebohan di tempat seperti ini, dia mengambil nafas dalam-dalam. Lalu, sebagai gantinya, membuat Gondo bisa bicara lebih tenang.

“Apakah anda tahu? Enchanment yang biasa memakan biaya banyak dalam hal reagen (bahan untuk reaksi) dan suplainya.”

Memang benar. Ainz pernah mendengar separuh dari harga pasaran item magic datangnya dari bahan-bahan itu.

Sementara biaya produksi untuk item-item magic luar biasa tinggi, seseorang bisa mengabaikan penggelembungan harga dari para suplier dan para pengecer ketika menghitung harga mereka. Itu karena Guild Magician tidak memungut biaya administrasi – mungkin karena mereka merasa itu sudah termasuk dalam iuran tahunan – sehingga para magic caster biasa menjualnya secara langsung tanpa ada biaya tambahan lagi, atau bernegosiasi secara langsung dengan client mereka.

Oleh karena itu, ketika seseorang menjualnya melalui seorang pengecer item magic, harganya akan naik.

“Namun, sebaliknya, item-item yang diperkuat oleh rune hampir sama sekali tidak ada biaya material apapun.”

“Itu luar biasa!”

Ainz tiba-tiba condong ke depan.

Dia sudah dipusingkan dengan biaya ini berulang kali, baik sebagai petualang Momon dan sebagai penguasa Nazarick. Oleh karena itu, ide hebat terhadap sesuatu yang “hampir gratis” adalah sangat berharga di hati Ainz.

Itulah kenapa dia tidak bisa memahaminya. Sebenarya, Ainz tidak akan pernah membiarkan teknik seperti itu mati.

“...Apakah ada kekurangan lainnya?”

“Ah, memang ada. Biasanya, mereka sulit diproduksi. Memakan waktu terlalu lama adalah satu hal, tapi hanya ada sedikit orang yang cocok menjadi runesmith pula. Menurut orang-orang Empire, ada lebih sedikit yang bisa menjadi mereka daripada menjadi magic caster.”

“Hm. Aku punya pertanyaan. Sementara kamu bilang rune semakin jauh dari gaya 200 tahun yang lalu, mengapa gelar rune developer masih ada? Bukankah hal semacam itu sudah terlalu telat? Atau apakah itu biasa bagi usia dwarf?”

Gondo tidak merespon, jadi Ainz menanyakan pertanyaan lain.

“Runecraft macam apa yang sedang kamu kembangkan sekarang?”

Ainz mengambil beberapa langkah maju, membarengi Gondo.

Wajah Gondo terpaku ke depan, tanpa ada gairah seperti sebelumnya. Dia hanya menjawab pertanyaan Ainz dengan pertanyaan lain.

“Mengapa anda ingin tahu tentang runecraft?”

Menjawab sebuah pertanyaan dengan pertanyaan lain menandakan bahwa dia tidak ingin memberikan jawaban yang benar. Jika Ainz bisa memberikan jawaban yang Gondo cari, dia harusnya bisa menguak apa yang sedang dia sembunyikan. Lagipula, Gondo sudah tidak lagi memanggil Ainz dengan “Yang Mulia” namun menjadi “anda”. Ini pasti pertanyaan yang penting.

Namun, tidak cukup dekat sehingga mereka mau membuka hati satu sama lain. Dan yang lebih penting lagi-

Mengapa dia membuka pengetahuan ini? Apakah hanya jebakan? Atau apakah dia tidak tahu pentingnya informasi yang dia pegang?.. Jika itu memang benar-benar seni yang rahasia, seharusnya dia memahami apa itu artinya, ya kan?

Entah kenapa itu membuat pusing, tapi untuk sementara, Ainz akan memberikan penjelasan motifnya yang sudah dia persiapkan sebelumnya.

“Karena rune-rune ini sedikit berbeda dengan yang pernah aku tahu. Kamu mengerti bahwa seseorang bisa tertarik dengan latar belakang bersejarah dan penyebaran runecraft, ya kan? Jika demikian, aku harap kamu bisa menjawab pertanyaanku.”

Gondo membuang muka, lalu jatuh ke dalam perenungan. Mereka melanjutkan perjalanan ke depan dengan hening sesaat.

Saat Ainz mulai tidak sabaran, Gondo akhirnya menjawabnya.

“Aku sekarang sedang bereksperimen dengan mengurangi waktu yang dibuat untuk melakukan penambahan rune dalan senjata, begitu juga dengan cara untuk memproduksinya secara masal. Namun, itu hanya berarti sementara. Tujuan akhirku adalah mengembangkan teknik untuk membuat rune menjadi penting. Dengan kata lain, aku ingin membuat runecraft unik dan mampu berdiri dengan ujian waktu.”

Dengan kata lain, dia ingin menambahkan nilai kepada rune. Bos dari perusahaan manapun akan mengerti motivasi itu. Ketika mengembangkan sebuah produk, sangat umum jika hal tersebut berulang kali ditekankan, hingga titik rasa muak.

“Hoho. Itu penelitian yang sangat menakjubkan, ya kan? Bagaimana progresnya?”

Dia tidak berpikir akan mendapatkan sebuah jawaban, tapi Ainz tetap menanyakannya karena dia bingung dalam satu hal. Yaitu, seharusnya orang yang mengembangkan teknologi baru seperti ini adalah VIP di dalam Dwarven Kingdom.

Aku tidak tahu mengapa dia di luar sendirian, mengumpulkan contoh-contoh dari tempat yang seberbahaya itu. Bukankah harusnya orang sepertinya dijaga?

Pertanyaan Ainz langsung terjawab.

“Tidak sama sekali. Tidak ada progres apapun,” Gondo bergumam dengan nada suara depresi. “Orang-orang yang mengunakan runecraft untuk membuat item-item magic disebut runesmith, tapi aku tidaklah cukup luar biasa sehingga bisa dipanggil dengan gelar itu. Aku bahkan tidak bisa melakukan apa yang seorang murid harusnya mampu lakukan.”

Eh? Mulut Ainz ternganga. Bukankah itu berarti jika seseoang yang bahkan tidak bisa mengerjakan rune yang benar mencoba untuk mengembangkan bidang runecraft? Ini benar-benar situasi yang menggelikan.

Bisakah dia benar-benar membuat terobosan seperti ini, atau apakah ini sangat biasa bagi mereka?

Tidak, ini tidak mungkin biasa. Jika ini biasa, Gondo tidak akan sedepresi itu. Dengan kata lain, dia juga pasti merasakan bahwa dia hanya meraba-raba.

Sebenarnya, Ainz sangat dilema. Dia tidak tahu bagaimana memanfaatkan Gondo.

“Aku tidak berbakat. Aku bisa mengukir rune, tapi butuh waktu terlalu lama bagiku untuk melakukannya.. meskipun, mereka bilang semua runesmith harus melewati fase ini sebelum mereka bisa berkembang. Tapi runesmith lain memiliki progres ke depan daripada diam di tempat  yang datar sepertiku ini.”

Gondo menurunkan kepalanya seperti tidak bertenaga.

“Aku bukanlah runesmith yang bagus. Aku hanya keturunan tidak berguna yang ditinggalkan oleh ayahku yang hebat.”

Ternyata begitu, Ainz merenung. Jadi masalahnya hanya ketiadaan bakat.

Setelah mempertimbangkan pengetahuan dari dunia ini dan Yggdrasil, dia sangat yakin bahwa memang ini masalahnya.

Seseorang membutuhkan sepuluh level lagi dalam job class tertentu sebelum mampu mengambil level dalam karir sebagai runesmith. Namun, jika level keseluruhannya paling atas adalah 11, maka dia tidak akan bisa naik level lebih jauh lagi sebagai seorang runesmith. Dan jika dia hanya punya satu level runesmith, dia hanya bisa mempelejari skill yang tidak penting.

Tidak ada yang bisa Ainz lakukan untuk membantu Gondo, jadi dia berkata hal lain.

Ada kalanya ketika menghibur seseorang bisa menyelamatkan mereka, dan ada kalanya yang bisa mereka lakukan adalah menyerah.

Jika Ainz berada dalam situasi seperti Gondo, dia tidak ingin orang yagn baru dia temui menghiburnya pula.

“...Begitukah. Ngomong-ngomong, apakah semua dwarf memiliki tujuan mengembangkan runecraft dan mengembangkan teknik baru untuk itu?”

“Tidak, hanya aku satu-satunya yang melakukan itu,” Gondo membalas, dengan tawa kesepian yang buruk. “Semua runesmith telah menyerah dengan keahlian mereka. Tidak ada lagi yang tersisa dan ingin lepas dari keadaan runecraft saat ini dan mengembangkan teknologi baru untuk itu. Mereka semua merasa tidak apa membuangnya.”

“Ternyata begitu... Kalau begitu, ada sesuatu yang ingin aku tahu. Apa yang akan kamu lakukan setelah mengembangkan teknnik runecraft yang baru?”

“Apa yang akan kulakukan? Aku hanya ingin menggunakan runecraft untuk memperkuat sesuatu dan meningkatkan jumlah runesmith. Rune adalah teknologi yang luar biasa. Akan sangat disayangkan jika membiarkannya mati.”

“Apakah ada orang yang membantumu dalam hal ini?”

“Tidak, seperti yang kubilang, hampir semua runesmith telah menyerah dengan kemampuan mereka dan mengahabiskan hari-harinya dengan minum-minum dan mengutuk kepahitan akan bagaimana nantinya kemampuan itu akan mati pada generasi mereka. Aku sudah mencoba bicara kepada mereka di masa lalu, tapi mereka semua menolakku.”

“...Hm. yah, yang lemah akan musnah. Memang wajar bagi teknologi yang tidak berguna menghilang.”

Gondo tiba-tiba saja menatap Ainz, tapi tatapannya telah kehilangan kekuatan dalam beberapa saat.

Saat Ainz melihat Gondo menggantungkan kepalanya dan bergerak maju, Ainz merenungkan nilai dari rune.

Sejujurnya, dia tidak tertarik pada mereka selain sejarah keterlibatannya dengan para pemain.

Namun, seni yang dibuang bisa dikembangkan dengan murah, dan investasi sesaat mungkin bukanlah ide yang buruk. Konsep tidak menghabiskan uang juga sangat menarik. Ditambah lagi, dia ingin mengumpulkan teknologi-teknologi langka.

Dan juga, jika pemain lain muncul, dia bisa menggunakan ketertarikan mereka dalam rune sebagai umpan yang luar biasa.

“...Aku punya satu atau dua pertanyaan. Atas dasar apa  teknik yang kamu sebutkan itu bisa dikembangkan? Apa yang baru saja kudengar seperti fantasi kosong yang dipikirkan oleh seseorang yang tidak tahu apapun tentang seni itu.”

“Itu tidak benar! Yah, memang benar aku tidak punya bakat untuk menjadi runesmith yang benar. Tapi ayahku, dan ayahnya ayahku – kakekku – keduanya adalah runesmith top dari negeri ini, dan mereka melayani keluarga kerajaan terakhir – Runesmith King – sebagai tangan kanan dan kiri. Aku pernah melihatnya sendiri dengan mata kepalaku. Aku pernah baca dari literatur dan thesis yang ayah dan kakekku tinggalkan. Aku yakin itu bisa! Ayahku memastikan teoriku di pembaringan terakhirnya. Dia bilang kepadaku memang sulit tapi bukan tidak mungkin!”

Gondo terlihat seakan mau muntah darah dengan ucapannya saat air mata mengalir dari ujung matanya.

Perasaan dan pemikiran yang telah lama dia pendapat akhirnya meledak.

Meskipun arus emosi itu bertabrakan dengannya, Ainz tetap tidak bergeming. Sementara ucapan Gondo membuatnya berharap jika penelitian dwarf itu akan menghasilkan sesuatu, kenyataannya adalah Ainz hanya ingin akses kepada teknik langka yang mungkin nantinya akan hilang. Jika Gondo tidak bisa memberikan hasil yang konkret, maka Ainz akan menyerah kepadanya.

“Memang benar aku tidak berguna sebagai anak! Tetap saja, aku tidak ingin membiarkan seni yang turun temurun dari leluhurku mati! Aku tidak ingin nama besar dari ayahku hilang dari buku-buku sejarah, tak perduli apapun yang harus kulakukan!”

Dan kemudian, ucapan itu membuat Ainz teringat.

Dia juga berharap untuk mempertahankan apapun yang telah ditinggalkan oleh rekan-rekannya di Ainz Ooal Gown. Dia ingin semua itu bisa tahan selamanya.

Dalam sekejap, Ainz bisa mengerti perasaan Gondo jauh di tulang sumsumnya.

Ukuran daya tariknya menjadi penuh dalam sekejap.

Di waktu yang sama, dia mengerti mengapa Gondo terus membicarakan tentang runecraft.

Bagi Ainz, runecraft sudah mati, atau mungkin, hampir mati. Jadi, dia tidak ada alasan untuk menyembunyikannya. Yang dia tahu,  mungkin dia ingin menyebarkannya selebar-lebarnya, agar bisa selamat dengan suatu cara. Tentu saja, dia tidak tahu jika dia memang berpikir sejauh itu.

“...Maafkan aku. Ini mungkin akan membuatmu marah, tapi aku harap kamu mengizinkanku berkata ini. Dari sudut pandangku, kamu adalah kamu, dan kamu bukanlah ayah maupun kakekmu. Apakah aku salah?”

Sebuah campur emosi yang tak bisa dijelaskan muncul di wajah Gondo. Sulit dikatakan apakah dia marah, terluka atau tersentuh. Tapi akhirnya itu padam menjadi kekesalan.

“-Yang Mulia, aku sangat berterima kasih kepada anda. Tapi saya sudah memutuskan alasan hidup saya.”

“Kalau begitu, biarkan aku – tidak, biarkan Sorcerous Kingdom menyediakan bantuan finansial bagi usaha kerasmu. Biarkan aku menjadi penyokongmu dan membantumu dalam pengembangan runecraft.”

Mata Gondo membelalak, dan dia berseru karena kaget:

“Anda, apakah anda serius? Ini, ini adalah keberuntungan yang luar biasa... ini tidak bisa dipercaya!”

Pasti ada sesuatu terhadap penawaran yang menggiurkan itu. Siapapun akan berpikir demikian. Ainz mengerti apa yang Gondo rasakan.

“Yah, yang bisa kubilang adalah aku harap kamu percaya kepadaku. Namun, orang sepertimu yang bukanlah seorang runesmith mungkin tidak akan bisa mengembangkan teknik-teknik yang kamu bicarakan tersebut, benar kan?”

Mulut Gondo menjadi datar, dan dia terdiam.

“Oleh karena itu, aku ingin merekrut seluruh runesmith di dalam Dwarven Kingdom ke negeriku, untuk bekerja mengembangkan teknik runecraft di bawah arahmu.”

“Apa, apa itu artinya?”

“Itu artinya seperti yang diutarakan. Aku akan mengumpulkan seluruh runesmith dan membandingkan pengetahuan mereka sebagai prototype teknik baru. Untuk alasan itu.. aku harap kamu bisa membantuku merekrut mereka. Apakah itu tidak mungkin?”

Gondo mempertimbangkannya, lalu memberikan balasan.

“Tidak, seharusnya itu bisa dilakukan, Hampir semua runesmith menyerah dengan keahlian mereka, tapi seharusnya ada banyak orang yang berharap untuk peluang bersinar.”

“Dan kemudian kamu akan menggerakkan hati merea... kalau begitu, Gondo. Bagaimana? Maukah kamu membantuku? Maukah kamu memberikan jiwamu kepadaku? Seberapa jauh kamu mau melakukannya untukku?”

“Apa?”

“Akan sangat sulit untuk membangkitkan kembali seni yang hampir hilang jika tidak memfokuskan semua runesmith pada satu tujuan. Inilah kenapa kamu tidak boleh bermalas-malasan dalam merekrut bakat. Aku ingin membawa seluruh runesmith ke negeriku. Jadi, sangat mungkin aku akan melakukan metode tertentu yang... buruk. Ini mungkin akan membuat kolabotorku melakukan tindakan yang mungkin akan dianggap berkhianat kepada negeri ini.”

“Apa itu? Jawabannya sederhana. Jika anda menginginkan jiwaku, maka ambil semuanya, semuanya. Itu adalah harga yang kecil untuk membayarnya agar bisa membuat runecraft hidup selamanya.”

Gondo mengulurkan tangannya.

Ainz menerimanya.

“Aku adalah undead. Apakah itu tidak apa bagimu?”

Gondo tertawa dengan ucapan Ainz.

“Selama anda bisa membuat impian saya menjadi kenyataan, saya tidak perduli jika Yang Mulia adalah undead atau Frost Dragon Lord (Tuan Naga Beku) yang menakutkan.”

“Kalau begitu, yang pertama dahulu, bisakah kamu mengantarkan kami ke Dwarven Kingdom? Aku berencana untuk menandatangani sebuah perjanjian pertemanan dengan Dwarven King (Raja Dwarf) agar bisa merekrut runesmith-runesmith ke negeriku. Lagipula, akan sulit merekrut orang jika negeri kita tidak memiliki ikatan diantara mereka. Ditambah lagi, aku yakin Dwarven Kingdom memiliki kendali ketat terhadap ekspor teknologi, apakah aku benar?”

“Seharusnya tidak masalah. Jarang sekali ada permintaan untuk runecraft. Ah, dan juga, Dwarven Kingdom tidak lagi memiliki seorang raja. Negeri ini diatur oleh Regent Council (Dewan Perwakilan) yang dikepalai oleh beberapa pimpinan.”

“Umu. Aku ingin mendengar tentang itu. Bisakah kita bicara sambil jalan? Aku ingin mendengar garis kasarnya.”

Saat Gondo bicara kepada Ainz, jalan keluar terowongan tersebut akhirnya muncul di depan mata mereka.

Setelah ketiganya muncul, mereka disambut oleh Shalltear, diantara yang lainnya. Tentu saja, Zenberu juga ada di sana pula.

Meskipun Gondo menduga akan ada segerombolan undead, dia pun mau tidak mau bersikap waspada saat melihat magical beast pula. Kenyataan bahwa ‘tidak ada dark elf’ sudah memberinya sebuah pukulan, tapi sekarang gumaman Gondo sampai di telinga Ainz.

Shalltear maju ke depan tanpa suara lalu membungkuk.

“Ainz-sama. Maafkan saya karena sudah mengganggu setelah baru saja kembali, tapi ada sedikit masalah.”

“...Dimana Hanzo yang lainnya? Apa yang terjadi?”

“Ya! Sebenarnya, orang lain memasuki gua ini, melalui terowongan di dalam bangunan yang Aura tunjukkan kepada anda. Maafkan saya sedalam-dalamnya karena baru saja mengatakan kepada anda sekarang, tapi saya sudah mengirimkan beberapa Hanzo untuk menyelidikinya.”

“Tidak perlu minta maaf, Shalltear. Kamu sudah memilih tindakan dengan bijak. Kami akan menunggu para Hanzo kembali, menganalisa laporan mereka, lalu memutuskan apa yang akan dilakukan. Kalau begitu-“

Dia berhenti sejenak, lalu melirik ke arah dwarf yang pernah tinggal di sini. Dwarf tersebut tidak memperhatikan kejadian di sisi ini. Malahan, dia asyik bercakap-cakap dengan Zenberu. Setelah mendengar lebih dekat, kelihatannya mengenai Dwarf yang pernah menolong Zenberu.

“-Gondo. Maaf sebentar, tapi kelihatannya ada orang yang memasuki kota ini. Ada kemungkinan penggunaan kekuatan di sini. Ketika tiba saatnya, aku harap kamu akan menjadi saksi untuk negerimu jika ada tindakan yang tidak bisa dihindari.”

“Tentu saja. Serahkan itu kepada saya. Meskipun, aku harap anda membatasi kerusakan hingga sekecil mungkin.”

Ainz mengangguk. Wajar jika menghindari rintangan yang akan mengganggu negosiasi di masa depan.

“Shalltear, bagaimana dengan perimetermu?”

“Saya sudah menyebarkan binatang buas Aura ke dalam wilayah itu... Bagaimana, Aura?”

“Seharusnya bisa berjalan. Meskipun musuh bisa menjadi tidak terlihat, binatang-binatang buasku masih bisa mencium bau mereka.”

“Oh begitu. Kalau begitu mari kita tunggu kembalinya para Hanzo.”

Setelah beberapa saat, para Hanzo telah kembali.

Menurut mereka, pihak lawan kelihatannya adalah Quagoa. Ada lebih dari 100 Quagoa. Gondo mendengarnya dari samping dan kelihatannya sangat terkejut. Ini jauh melebihi pasukan pengintai biasa; kelihatanya, ini adalah sebuah kelompok tempur, atau suku yang bermigrasi.

Hanya ada satu tindakan yang bisa Ainz ambil.

“..Shaltear. Tangkap mereka semua. Bisakah kamu melakukannya?”

“Jika itu adalah perintah anda.”

“kalau begitu aku perintahkan kepadamu untuk melakukannya. Apakah kamu mengerti mengapa aku ingin kamu menangkap mereka?”

“Untuk menanyai mereka dan mencegah adanya berita tentang kita yang bocor.”

Ainz mengangguk dengan agung.

“Benar. Jika kita hanya menangkap salah satu dari mereka hidup-hidup, maka kita hanya bisa menginterogasi satu orang dari mereka. Ini meningkatkan kemungkinan kita akan ketahuan dan kita mungkin akan mendapatkan informasi palsu. Ditambah lagi, kita harus mempertimbangkan mungkin saja kita membunuhkan sebuah contoh dari mereka.”

Ada satu hal yang Ainz tidak sebutkan karena Gondo ada di sana – yaitu dengan hanya mempercayai cerita satu pihak saja mungkin akan berakibat buruk bagi mereka. Siapa yang tahu, mungkin lebih baik melakukan kesepakatan dengan Quagoa daripada dengan dwarf.

“Kalau begitu pergilah, Shalltear. Aku menunggu kabar baik darimu.”

Part 3

Shalltear dan bawahannya menambah kecepatan saat mereka menuju ke arah lokasi Quagoa. Mereka melompat dari atap ke atap dengan kecepatan yang berbahaya. Karena dia sudah memakai armor, Shalltear tidak perlu khawatir dengan beberapa lapis penyangga dada di dalam pakaiannya.

Dia mengintip ke arah Aura, yang sedang mengikuti dari belakang.

Kenyataan bahwa dia sedang diikuti oleh seorang Guardian – yang seharusnya tetap berada di sisi sang tuan – adalah bukti bahwa sang tuan tidak percaya kepadanya.

Itu memang wajar.

Shalltear mungkin tidak ingat akan kegagalannya, tapi dia telah mendengar detilnya dari yang lain.

Meskipun Tuannya yang measa kasihan telah berkata “Shalltear, kamu tidak salah”, itu tidak mungkin benar. Jadi, dia menunggu sebuah kesempatan untuk membersihkan bau kegagalan dari dirinya, tapi sayangnya peluang itu tidak datang.


Aura mungkin telah menghiburnya, tapi itu bukanlah yang diinginkan oleh Shalltear.

Shalltear melihat ke depan, tatapannya penuh kekuatan. Dia tidak membiarkan dirinya membuat kesalahan dalam perjalanan ini.

Tidak lama, mereka tiba di sebuah bangunan di dekat tujuan mereka. Shalltear melihat ke arah Quagoa yang ada di bawah dari atap bangunan itu.

Ada banyak siluet yang terlihat, seperti yang dideskripsikan oleh para Hanzo.

“Kalau begitu sekarang – apa yang harusnya aku lakukan..”

Shalltear memikirkan masalah tersebut.

Aura seharusnya mendengarkan apa yang dia ucapkan, tapi Aura hanya melipat tangannya, berniat untuk tetap diam. Itu juga, memang sudah diduga. Sebelum Aura datang kemari, sang tuan telah memberinya perintah: “Awasi gerakan Shalltear. Jika dia terlihat akan membantai mereka, buat dia berhenti dengan cara apapun, meskipun kamu harus memukulnya. Selain dari itu, kamu tidak boleh ikut campur dengan rencana pertempuran Shalltear.”

Shalltear juga telah dibilang Aura hanya akan mengamati dari belakang, dan dia tidak digunakan untuk operasi tempur apapun. Dengan kata lain, seluruh operasi tersebut, dari perencanaan hingga eksekusi, sepenuhnya tanggung jawab Shalltear.

Pertama, dia harus memenuhi perintah sang tuan dengan sempurna dan elegan.

Dia melepaskan kepalan tangannya.

“Hanzo.”

“Ya!”

Para bawahan berkostum ninja berkumpul di depan Shalltear.

“Aku ingin memastikan bahwa tidak ada yang kabur. Bisakah kamu memastikan tidak ada orang lain di terowongan itu?”

“Tentu saja. Kami menunggu perintah anda.”

Seperti yang sudah diduga dari para bawahan sang tuan. Musuh mereka tidak akan punya cara lagi untuk mundur sekarang. Hal yang selanjutnya Shalltear khawatirkan adalah jika musuh tersebar ke seluruh penjuru kota. Tentu saja, dia bisa menghabiskan waktu memburu mereka dan membuat mereka semua keluar, tapi dia ingin menghindari buang-buang waktu. Memang sang tuan tidak memberinya batasan waktu, menghabiskan terlalu banyak waktu adalah bukti ketidakmampuannya.

“Baiklah. Bagaimana kalau begini..?”

Shalltear menyampaikan detil dari rencana yang dia pikirkan ketika dalam perjalanan kemari.

Dia akan mengepung lawan, lalu mematikan gerakan semua yang ada di dalam perimeter.

Dengan kata lain, dia akan menggunakan para Hanzo untuk memotong jalur kabur mereka, lalu mengumpulkan mereka sebelum menghabisi mereka dalam sekali pukul.

Memang benar, rencana ini sedikit berbahaya, melihat dia tidak tahu kemampuan lawan. Namun, jika musuh memiliki kekuatan untuk membunuh Shalltear dan para Hanzo, Dwarven Kingdom tidak mungkin selamat selama ini.

Yah, melihat Gondo si Dwarf tidak terlalu lemah.

Setelah melepaskan para Hanzo, Shalltear menghitung tiga menit. Dia harus melakukannya karena dia tidak memiliki cara berkomunikasi dengan para Hanzo.

Untungnya, Quagoa kelihatannya melingkari gerobak mereka di sekitar bangunan tersebut, tanpa ada niat untuk menyebar.

“Mari kita mulai. Lakukan seperti yang diperintahkan; jangan sampai mereka kabur ke area sekitar.”

Setelah memberikan perintah kepada undead yang dia bawa, Shalltear berlarian di atap, lalu melompat ke depan Quagoa itu. Di waktu yang sama, undead miliknya mendarat di sekitar mereka.

Mereka telah mengambil alih seluruh jalan utama di sekitar bangunan itu. Rute mundur dari para quagoa itu hampir terputus sama sekali.

Shalltear merasakan kebingungan mereka, lalu dia merapalkan sebuah mantra panjang sebelum mereka sadar.

“[Mass Hold Species].” (Penahanan Spesies secara Massal)

Seperti yang sudah dia duga, mereka bukanlah lawan level tinggi. Banyak Quagoa yang berhenti bergerak, terdiam di tempat.

Quagoa yang tidak memasuki area yang terkena mantra itu berhasil pulih dari kebingungan mereka, tapi tak ada yang mencoba untuk menyerang Shalltear. Dia muncul entah darimana dan menggunakan sebuah mantra yang tak pernah terlihat sebelumnya untuk menekan rekan-rekan mereka. Meskipun memilih melawan dengan bertarung atau kabur pasti sangatlah sulit bagi mereka.

Shalltear tersenyum tipis.

Kelihatannya keputusan akhir yang dia dapatkan setelah mengamati mereka, yaitu dengan memusatkan mantra itu kepada Quagoa yang terlihat paling luar biasa – yang sekarang dikenal sebagai komandannya – memang tepat.

“[Mass Hold Species].”

Dia merapalkan mantra yang sama sekali lagi dan sekarang bahkan Quagoa yang lari telah dinetralkan.

“Mendekat!”

Merespon perintah yang diteriakkan Shalltear, undead yang ada di sekeliling mengecilkan lingkaran kelompoknya.

Quagoa yang ada di dalam bangunan itu mendengar teriakan Shalltear dan merasakan ada yang tidak beres dengan rekan-rekan mereka, tapi itu sudah jauh terlalu telat bagi mereka.

Saat sebuah seringai sadis muncul di wajahnya, Shalltear menepuk pipinya. Dia tidak boleh ceroboh. Kegagalannya di masa lalu sebagian besar karena itu.

Setelah memulihkan ketenangannya, Shalltear memasuki bangunan tersebut. Sementara masuk dengan paksa ke jendela akan memberi mereka elemen kejutan, dia mempertimbangkan usaha memaksa masuk itu dan memutuskan untuk langsung melalui pintu sebagai gantinya, menggunakan dirinya sebagai umpan.

Quagoa yang sedang menunggu mengayunkan cakar mereka ke arah Shalltear lagi dan lagi.

Tiga di depanku, empat di dalam, tak ada yang terlihat seperti seorang komandan. Aku harusnya menerima serangan mereka dan memastikan kekuatan mereka.

Shalltear tidak menghindari serangan mereka, tapi menanggung beban serangan Quagoa itu.

Seperti yang sudah diduga, Shalltear tidak terluka.

Shalltear hanya bisa menerima luka dari senjata perak magis. Beberapa monster level tinggi memiliki serangan alami yang dianggap sebagai magic, sementara yang lainnya memiliki serangan yang dianggap sebagai perak, tapi itu adalah monster-monster level rendah yang sangat langka.

Sementara dia mungkin sudah menduga ini, Quagoa itu mundur. Seakan tidak mampu mempercayai apa yang mereka lihat, Quagoa yang ada di sekitarnya mencakar Shalltear, tapi tidak berhasil.

“Baiklah, percobaannya sudah selesai. Mari kita akhiri sampai di sini? [Mass Hold Species].”

Saat mantra itu dirapalkan, seluruh Quagoa yang ada berhenti bergerak.

“Kalau begitu sekarang, lanjut.”

Shalltear melihat ke sekelilingnya dan melihat Quagoa yang ada di ruangan selanjutnya melalui sisa-sisa pintu yang rusak. Mata mereka melebar menahan emosi yang paling Shalltera senangi – ketakutan.

Saat langkah kaki Shalltear membawanya maju, Quagoa itu memanjat rekannya sendiri untuk kabur.

Namun, mereka terlalu lamban. Bagi Shalltear, mereka selambat siput. Dia menahan keinginan untuk mengeluarkan suara tawa mengejek, dan sebagai gantinya merapalkan mantra ke punggung mereka.

Tidak ada jalan keluar.

Shalltear tidak akan mentolerasi kekeliruan apapun.

Sekarang seluruh Quagoa di dalam bangunan itu telah ditangkap, dia memasuki terowongan dan menemukan enam Quagoa di kaki para Hanzo. Melihat gerakan tubuh mereka yang samar-samar, kelihatannya mereka masih hidup. Shalltear lalu menanyakan kepada para Hanzo:

“Kalau begitu sekarang, apakah ini adalah Quagoa yang mencoba kabur?”

“Ya. Tak ada yang lainnya yang berhasil kabur lewat sini.”

Karena Shalltear tidak membiarkan siapapun kabur, bisa dianggap misinya telah diselesaikan dengan sempurna.

“Untuk jaga-jaga, pergi dan pastikan tidak ada yang lain yang sedang menunggu di dalam bangunan itu. Setelah itu, perintahkan kepada undead yang membawa mereka ke dalam membawa Quagoa ini keluar. Kamu bisa bilang kepada undead untuk mengikat mereka dengan tali, ya kan? Aku akan menunggu di sini sampai kamu menyelesaikan pencarian di dalam ruangan dan melihat apakah ada  yang lain yang mencoba kabur.”

Setelah menerima perintah Shalltear, para Hanzo membawa Quagoa yang ada di tanah dan kembali ke bangunan itu. Mereka kembali ke Shalltear setelah dua menit berlalu.

Setelah menyelesaikan tugasnya tanpa celah, Shalltear muncul dari bangunan itu, dimana dia melihat banyak Quagoa yang terikat dan figur Ainz, Aura, para Hanzo, Dwarf itu dan Zenberu.

“Bagus sekali, Shalltear. Kelihatannya kamu sudah menyelesaikan misimu dan tidak membiarkan siapapun kabur.”

“Ya! Terima kasih banyak, Ainz-sama!”

“Kalau begitu sekarang, Shalltear, aku akan memberimu perintah selanjutnya. Interogasi orang-orang ini, tapi usahakan jangan sampai menyakiti mereka.”

“Saya mengerti!”

Pada awalnya, Shalltear memerintahkan kepada undead untuk menyeret keluar salah satu Quagoa yang telah ditangkap dengan magic – dengan kata lain, salah satu tahanannya.

“Hiiii! Selamatkan aku!”

“Hehe, baiklah, jika kamu jujur, aku tidak akan membunuhmu. Jika kamu jujur. Yang pertama dahulu, siapa yang orang terhebat diantara kalian di sini?”

“Dia, yang memiliki coretan biru di bulunya.”

“Dasar brengsek! Kamu telah mengkhianatiku!”

Yang berteriak balik kelihatannya memiliki sedikit guratan biru di kulitnya.

“Okay, okay, jangan bertengkar. Kalau begitu, biskaah kamu membawanya kepadaku? Kirim yang ini ke belakang.”

Mereka membwa Quagoa dengan peringkat tertinggi ke depan Shalltear.

“Hmph! Kmau pasti teman para dwarf! Aku takkan pernah bicara! Aku akan mempertaruhkan harga diri rasku untuk itu!”

“Benarkah. Baiklah kalau begitu [Charm Species] (Pemikat Spesies). Selesai, bisakah kamu menjawab pertanyaanku?”

“Ahh, tentu saja! Apa yang ingin kamu tahu?”

Quagoa yang ada di belakangnya mau tidak mau terperangah dengan kejujurannya.

Magic pemikat menyebabkan targetnya menganggap si perapal adalah teman atau kolega yang dipercaya. Namun, karena teman tidak akan mengatakan kepada temannya untuk membunuh atau melukai diri sendiri, target tidak akan mmeatuhi yang seperti itu. Dan juga, istilah ‘teman’ juga ada semacam kerancuan; ada rahasia yang orang lain sembunyikan dari teman mereka, jadi magic ini tidak akan efektif untuk mengorek informasi semacam itu. Jika memang begitu, mantra pengendali otak yang lebih kuat diperlukan. Namun, tindakan seperti itu kelihatannya tidak perlu kali ini, sebuah kenyataan yang membuat Shalltear berterima kasih terhadap keberuntungannya.

“Pertama, apa benar kamu adalah yang terhebat di sini?”

“Ahhh, aku ditunjuk sebagai pimpinan kelompok ini. Oi, yang disana tenanglah, dia adalah seorang teman jadi tidak apa bilang kepadanya. Ah, bisakah kamu merahasiakan ini?”

“Tentu saja, kita adalah teman, ya kan?”

“Ahhh, ya, benar juga, aku percaya kepadamu, kalau begitu. Tetap saja, mereka ini... Terutama orang itu, apakah dia undead?”

Quagoa itu menatap ke arah tuan Shalltear yang agung. Itu membuatnya jengkel, tapi dia harus menahan diri untuk mengeluarkan informasi dari dirinya.

“Tidak apa. Kita adalah teman jadi kamu akan percaya kepadaku, ya kan?”

“Apakah dia adalah bawahanmu?”

Akan kubunuh kamu brengsek, Shalltear hampir mengucapkannya, dia menelan kalimat itu. Karena sang tuan bicara sebelum dia bisa bicara.

“Benar sekali. Dia adalah kekasihku.”

“Ho, itulah temanku, kamu memang luar biasa.”

“Te-Terima kasih.”

Shalltear merasa gugup dengan perasaan yang rumit ini, tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Meskipun dia ingin bergulung-gulung di lantai itu, dia tidak bisa menyia-nyiakan bantuan penuh kasih sayang yang telah diberikan oleh sang tuan.

Komandan Quagoa itu jatuh dalam perenungan yang dalam, dan Quagoa di belakangnya berkata, “Apa yang terjadi?” “Ada apa?” “Apakah hanya kita yang tidak tahu jika dia dalah seorang teman” dan seterusnya. Namun, komandan Quagoa itu mengabaikan mereka, dan sebuah perubahan terlihat di wajahnya, yang mungkin saja sebuah senyuman.

“Akum mengerti. Karena kamu sudah mengatakannya, aku akan percaya kepadamu. Lagipula, kita adalah teman yang disatukan oleh sebuah ikatan pertemanan yang kuat, ya kan?”

Shalltera mendengus.

“Kalau begitu, bisakah kamu bicara cukup keras sehingga orang-orang di belakangku bisa mendengar? Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di kota ini?”

Biasanya, mereka harusnya curiga jika seorang teman tidak tahu hal ini. Namun, ini adalah kehebatan magic. Komandan Quagoa membalas tanpa ragu.

“Kami adalah sebuah pasukan terpisah dari pasukan penyerang. Kami kemari untuk membunuh para dwarf yang mungkin kabur ke kota ini.”

“Apa?!” Dwarf tersebut berseru karena terkejut. “Apa, apa maksudnya itu?”

“Diam dan jangan bicara, dwarf. Ras menjijikkan sepertimu harusnya dihabisi.”

“Baiklah, baiklah, itu sudah cukup. Kamu mengatakan sesuatu tentang pasukan penyerang?”

“Ahhh, maaf, kelihatannya aku terlalu kegirangan. Ada kota dwarf di utara dari sini. Pasukan penyerang dibentuk untuk menghancurkan kota itu. Masalahnya adalah jembatan bersuspensi yang membentangi Great Rift (Celah/Retakan besar) dilindungi oleh sebuah benteng, jadi para penyerang kami selalu dikalahkan. Namun, kami menemukan sebuah jalan pintas yang melewati celah itu dan berlari menyusuri benteng tersebut, jadi kami berencana menggunakan itu untuk menghabisi mereka dalam sekali sapu.”

Shalltear mengerutkan dahinya kepada dwarf. Ekspresinya terlihat mengerikan. Kelihatannya ini adalah berita yang sangat buruk.

“Kapan serangannya akan datang?”

“Kami adalah pasukan terpisah, kami dipisah dari pasukan utama jadi kami tidak tahu waktu yang tepat. Tapi kurasa harusnya hari ini, atau mungkin besok.”

Shalltear tidak sengaja mendengar percakapan antara sang tuan dan dwarf itu.

“Meskipun begitu, akankah kota tersebut benar-benar jatuh jika jembatan bersuspensinya diambil alih?”

“Saya tidak yakin, tapi saya pernah dengar karena musuh perlu menggunakan jembatan itu, mereka hanya bisa menyerangnya dari satu titik saja. Jadi, kita bisa menggunakan item magic di dalam benteng untuk menangkal mereka. Namun, jika benteng itu diambil alih, musuh akan memiliki jalan yang mulus ke kota, dan akan sulit menghentikan sebuah pasukan besar. Jika itu terjadi, kami mungkin harus membuang kota itu dan kabur kemari, tapi jika kami dikepung di sini, ras dwarf akan musnah.”

Komandan Quagoa tertawa kecil dengan cara mengerikan saat dia mendengar percakapan mereka.

“Jadi kamu hanya pasukan terpisah?”

“Hanya kami yang dikirim kemari. Kami tidak tahu seberapa kuat kota dwarf atau seberapa banyak orang yang dibutuhkan, jadi sebagian besar pasukan kami ada di sana.”

“Ain-eh, ah, kalau begitu, jadi, apakah ada yang ingin ditanyakan lagi?”

Aku tidak bisa bilang Ainz-sama, Shalltear resah saat dia mencoba menyusun ucapannya.

“...Tidak ada banyak hal yang bisa dilakukan. Sejujurnya, kita hanya perlu tahu bagaimana berkomunikasi dengan pasukan utama mereka atau semacamnya.”

Setelah Shalltear mengulang pertanyaan sang tuan, komandan yang terkena mantra mengoceh seperti sebuah anak sungai.

“Tidak, misi kami tidak dianggap sangat penting. Pada akhirnya, pekerjaan kami hanya memburu siapapun yang kabur.”

Shalltear melihat ke arah sang tuan, yang mengangguk kepada mereka.

“Bagaimana kami harus menghadapi mereka?”

“...Gondo. maaf dengan hal ini, tapi bisakah kamu bersiap melakukan perjalanan?”

Lizardman dan Dwarf mengerti arti dibalik ucapan itu, jadi mereka berbalik dan pergi dalam hening. Ainz melihat mereka pergi, lalu memberikan perintah selanjutnya kepada Shalltear.

“...Kalau begitu, ayo pergi. Shalltear, kirim mereka semua ke Nazarick. Mereka akan diamati. Apakah mereka dibunuh atau diampuni tergantung hubungan yang kita bangun dengan Quagoa. Jangan bunuh mereka sampai mereka semua sepenuhnya memusuhi kita. Namun, perintahkan untuk melakukan beberapa percobaan ringan. Kerasnya cakar, fisik dan pertahanan magis dari tubuh mereka, hal-hal semacam itu. Meskipun, beberapa dari mereka nantinya akan mati... Perintahkan kepada mereka untuk meminimalisir jumlah yang mati.”

“Dimengerti!”

Shalltear langsung merapalkan [Gate], membuka sebuah portal ke permukaan Nazarick.

“Kalian semua masuklah kemari.”

Dengan dipimpin oleh komandan Quagoa, yang lainnya mengikuti satu persatu. Beberapa Quagoa berdiri di tempat, terdiam karena ketakutan, tapi Shalltear langsung mencomot mereka dan mendorongnya melewati [Gate].

Dibaliknya ada sang tuan. Lengannya dilipat dan kelihatannya sedang menunggu Shalltear.

“Pengumpulan informasimu sangat teliti, Shalltear.”

Hal pertama yang Ainz katakan adalah memujinya! Dada rata Shalltear teraliri oleh panas.

“Ya!”

Shalltear secara refleks berlutut. Itu adalah satu-satunya posisi yang tepat merespon pujian sang tuan.

“-Mm, umu. Aku menantikan pengabdianmu di masa depan.”

“Saya mengerti, Ainz-sama!”

“Jangan berkata begitu. Berdirilah. Kita harus mendiskusikan sesuatu dengan Gondo... Ini adalah sebuah peluang untuk membuat mereka berhutang budi sangat besar kepada kita.”

“Betapa beruntungnya. Ainz-sama, tindakan anda kelihatannya sangat diberkahi.”

Tatapan mereka bertemu, lalu mereka tersenyum.

Memang benar, wajah sang tuan tidak bergerak, tapi Shalltear sangat yakin Ainz sedang tersenyum.

“kalau begitu, ayo pergi.”

“Baik!”

Mmmm~ Ini bagus! Kami berdua, berjalan berdampingan... Haaa, aku gembira sekali.

Shalltear meninggalkan bangunan itu saat dia menikmati rasa kebahagiaan.

“Gondo, maaf sudah menunggu. Apa yang ingin kamu lakukan sekarang?”

“Apakah apapun yang akan kita lakukan membuat perbedaan... Butuh waktu enam hari untuk bepergian ke kota lewat bawah tanah. Terlalu jauh bagi kita untuk membawa informasi itu kembali ke kota.”

Wajah Shalltear yang agak mengendur menjadi tegang, dan saat dia bertukar tatapan dnegan Aura, sang tuan dan dwarf itu mulai berdiskusi. Dia berusaha mengingatnya agar dia bisa mencatatnya ke dalam buku catatan milik Shalltear.

Karena dia adalah sang tuan yang agung, dia mungkin bermaksud melumat hati dwarf ke dalam pengabdian sepenuhnya. Mungkin itu, atau dia akan mengencangkan belenggu yang berat di lehernya dan memastikan dwarf itu tidak akan pernah mengkhianatinya. Semacam itu.

“Begitukah? Yah, karena kamu tidak bisa sampai di sana tepat waktu, apa yang harus dilakukan? Jika itu masalahnya, mengapa tidak datang ke negeriku? Kmau tidak akan bisa melakukan apapun sendirian, ya kan?”

“Mmm... umu.”

“Meskipun, aku ingin menolong para runesmith... namun jika kita bergegas kesana untuk membantu mereka, bisakah kita mempertahankan posisi menguntungkan selama negosiasi? Apakah para dwarf adalah spesies yang sangat mengapresiasi kebaikan yang ditunjukkan kepada mereka?”

“Umu, aku harap anda mempercayai itu. Jika anda menolong para dwarf dari ancaman Quagoa tersebut, aku yakin negosiasinya akan berjalan dengan sangat baik.”

“Jika memang begitu, maka kita perlu memilih waktu yang tepat untuk melangkah masuk.”

Setelah sang tuan membuat deklarasi percobaannya, dwarf itu mengangkat bahu, seakan berkata tidak masalah bagaimanapun.

“Saya sudah menerima saran tuanku... Yang Mulia ke dalam hati.”

Shalltear tidak tahu apa maksud ucapan itu, tapi karena suatu alasan, dia tahu bahwa dwarf itu telah memilih tuannya daripada ras sesamanya.

Shalltearpun terkagum-kagum dan ketakutan dengan kenyataan bahwa sang tuan berhasil mendominasi sepenuhnya jiwa dwarf itu dalam waktu yang pendek sejak dia masuk ke terowongan.

Pasti itu adalah karisma yang bisa membuatnya memimpin dan mengkoordinasi para Supreme Being.

“...Tidak, kurasa kita harus bergegas. Lagipula, kita ingin menghindari kematian dari para runesmith itu, dan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika kita berada di bawah tanah, jadi kita harus melakukannya dari luar. Bisakah aku mempercayakan kepadamu untuk menunjukkan jalan bagi kita?”

“Saya tidak seberapa percaya diri, tapi saya akan melakukan sebaik-baiknya.”

“Baiklah, kalau begitu bersialah untuk berangkat!”

Berlangganan via Email