Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Baca Overlord - Volume 10 - Epilog

Epilog

Demiurge berjalan dengan gembira di sepanjang lantai 9 Great Underground Tomb of Nazarick.

Sensasi kembali setelah waktu yang lama mungkin adalah semacam ilusi. Lagipula, dia kembali ke tempat ini dari waktu ke waktu, dan jangka waktu terpanjang dia pergi dari sini adalah dua minggu. Jadi, alasan mispersepsinya jelas karena kegembiraan yang dia rasakan saat berjalan di sepanjang tempat ini.

Suasana hatinya naik saat dia semakin dekat dengan tujuannya.

Demiurge tidak memperdulikan para penjaga yang Cocytus tempatkan baik di masing-masing sisi pintu saat dia merapikan dasinya dan memeriksa penampilannya. Biasanya, dia selalu memperhatikan penampilan itu setiap saat, tapi dia tidak ingin tuannya melihat sisi dirinya yang kurang rapi.


Setelah melakukan pemeriksaan dengan teliti pada dirinya sendiri, Demiurge mengetuk pintu tersebut.

Salah satu pelayan membukakan pintu itu, mengeluarkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang.

Demiurge ingin mencoba mengintip tuannya sesekali melalui celah itu, tapi dia tidak bisa melakukan hal yang memalukan itu.

“Bolehkah aku tahu jika Ainz-sama ada di dalam ruangannya?”

“Maafkan saya, Demiurge-sama. Ainz-sama tidak ada di dalam.”

Suasana hatinya langsung hancur tapi dia tidak membiarkan itu terlihat di wajahnya.

“Begitukah. Kalau begitu, kemana Ainz-sama pergi?”

“Maafkan saya, saya tidak tahu... Namun, Albedo-sama mungkin tahu sesuatu.”

Dia memang benar.

“Benarkah, kalau begitu, dimana Albedo sekarang?”

“Beliau ada di dalam ruangan ini.”

Demiurge tahu Albedo menganggap ruangan tuannya sebagai ruang kerjanya. Tidak bisakah kamu menggunakan kamar yang telah diberikan kepadamu, Demiurge sering berpikir demikian, tapi setelah mempertimbangkan kepribadian Albedo, dia akhirnya tetap terdiam. Hal yang terpenting adalah persetujuan dari sang tuan. Dengan begitu, tidak ada lagi hal lain yang bisa dia tambahkan.

“Apakah dia sedang bekerja?... Bisakah kamu membantuku memeriksanya jika ini waktu yang tepat untuk berkunjung?”

“Saya mengerti.”

Pintu di depan Demiurge ditutup. Beberapa saat kemudian, pintu itu dibuka lagi.

“Silahkan masuk, Demiurge-sama.”

Demiurge berterima kasih kepada pelayan tersebut lalu masuk. Di depan matanya adalah Guardian Overseer, sedang duduk di kursi depan meja sang tuan.

Garis pandangannya yang bawah bergerak, dan menangkap Demiurge.

“Sudah lama, Albedo.”

“Ah, Demiurge. Kamu telah bekerja keras di luar sana. Ada apa hari ini?”

“Ah, tentang masalah Holy Kingdom. Aku berencana untuk mendapatkan izin tahan terakhir dari rencananya. Aku akan membutuhkan seorang Doppelganger... dimana Ainz-sama?”

“Saat ini sedang ada di tempat yang jauh. Aku ragu beliau akan bisa kembali secepatnya...”

Dengan kata lain, beliau sedang tidak ada di E-Rantel, Demiurge merenung. Jika tidak, Albedo pasti tidak akan menyebutkannya seaneh itu.

“Itu agak merepotkan. Kalau begitu, aku akan melakukan persiapan pekerjaan di lantai 7 hingga Ainz-sama kembali.”

“Jika memang darurat, tidak bisakah kamu menggunakan [Message]?”

Demiurge mengerutkan dahinya, lalu mengamati ekspresi Albedo.

Albedo tersenyum seperti biasanya, tapi Demiurge yang tanggap mendeteksi beberapa emosi lain di dalam dirinya.

Jika dia hanya sedang main-main dengan dirinya, tidak masalah.

Demiurge mencoba untuk mempelajari Albedo dengan cepat, tapi dia tidak bisa membaca sedalam itu.

Itu membuatnya susah, tapi sekali lagi, sejak awal ini bukanlah kontes.

Diantara semua orang di Nazarick, hanya dua orang yang tidak bisa dia baca adalah sang tuan dan Albedo. Dia mengesampingkan mereka sebagai pengecualian langka demi kedamaian dalam diri.

Demiurge mengangkat bahunya.

“Tidak darurat kok. Jika Ainz-sama kembali pada hari setelah ini, aku akan memberitahunya sendiri.”

“Ainz-sama tidak menyebutkan berapa lama beliau akan pergi. Mungkin saja akan memakan waktu yang sangat lama.”

“Kalau begitu, aku akan pergi ke sisi Ainz-sama, Albedo. Ini bukan masalah yang membutuhkan penggunaan [Message].”

“Ara? Mengapa begitu? Jika memang benar-benar penting, bukankah lebih baik memberitahunya sesegera mungkin?”

Isi dari senyum Albedo telah berubah. Sebelumnya, itu adalah senyum palsu yang biasanya, tapi sekarang adalah senyum kejam dan penggoda. Dia pasti memiliki semacam niat jahat di dalam pikiran.

Kelihatannya ada sesuatu yang ingin dia katakan, tak perduli bagaimanapun.

Melelahkan sekali, pikir Demiurge saat dia menyampaikan alasannya.

“Aku ingin menunjukkan pencapaianku kepada Ainz-sama, jadi aku tidak ingin menggunakan metode seperti itu untuk menghubungi beliau. Sementara aku bisa menerima pujiannya melalui [Message], pada akhirnya, aku masih lebih memilih untuk mendengar suaranya secara langsung. Hanya itu... Apakah itu bukan impian semua orang yang ada di Nazarick?”

“Mm, memang benar, Demiurge. Seperti yang kamu katakan. Siapapun akan merasakan hal yang sama.”

“Kalau begitu, kemana Ainz-sama pergi?”

“Beliau mengunjungi Dwarf Kingdom, yang hanya sedikit dikenal dan tidak membuat hubungan diplomatik hingga sekarang. Oleh karena itu, kita tidak tahu berapa banyak waktu yang dibutuhkan.”

“Siapa yang menemani beliau?”

“Shalltear dan Aura.”

Seharusnya itu cukup sebagai kekuatan tempur. Namun, aspek-aspek lain lebih mengkhawatirkan.

Aura tidak apa. Yang dia butuhkan hanyalah tidak menganggu Ainz-sama. Namun, wajah dari orang lain muncul dalam pikiran Demiurge.

“Tetap saja, membawa serta Shalltear, apakah beliau berniat untuk menghancurkan Dwarf Kingdom?”

Mare akan menjadi pilihan yang lebih baik untuk negosiasi secara verbal. Jadi, pilihan itu dibuat untuk alasan lain.

“-Apa yang sedang dilakukan oleh Guardian lainnya?”

“Cocytus sedang mengatur danau. Mare sedang membangun sebuah dungeon di luar E-Rantel. Sebas sedang melakukan tugasnya di E-Rantel. Meskipun aku tidak tahu apa tujuan Ainz-sama, kenyataannya Ainz-sama tidak membawa serta sebuah pasukan menandakan itu adalah kunjungan damai, ya kan?”

“...Tidak cukup informasi untuk itu. Mengapa Ainz-sama ingin pergi ke Dwarf Kingdom?”

“Demiurge, kita tidak bisa memprediksi pikiran Ainz-sama.”

Seperti yang Albedo bilang.

Tuannya, Ainz Ooal Gown, adalah penguasa tertinggi di dalam Nazarick, yang menyembunyikan siasat yang tak terhitung jumlahnya di dalam sekali gerakan sebuah bidak catur. Demiurge -  yang diciptakan dengan bakat-bakat yang luar biasa – bahkan tidak bisa berharap untuk menggores ujung dari kepintarannya dengan tangan yang dijulurkan. Mencoba membaca motivasi sang tuan adalah sebuah kesalahan.

Meskipun begitu, merasakan keinginan sang tuan dan bersiap untuk itu adalah sebuah tanda loyalitas sejati.

Jika aku tidak bekerja cukup keras...

Saat Demiurge membangun kembali tekadnya sekali lagi, Albedo mengambil selembar perkamen dari meja.

“Ini datang dari Empire kemarin. Aku membukanya setelah menerima izin Ainz-sama melalui [Message]. Surat ini mengandung penawaran sebagai negeri bawahan dari Empire. Detil tepatnya terhadap pengakuan sebagai negeri bawahan akan diselesaikan di kemudian hari.”

Demiurge terkejut. Ini jauh lebih awal daripada yang dia perkirakan.

“Apa ini? Menurut perkiraanku, Empire seharusnya menawarkan diri sebagai negeri bawahan setelah Kingdom dihancurkan..”

“Ini adalah hasil dari kunjungan Ainz-sama ke Empire.”

“Ini... Seperti yang diduga dari Ainz-sama...”

“Katakan, Demiurge. Apakah kamu benar-benar berpikir Empire hanya akan menjadi negeri bawahan setelah Kingdom?”

“Tentu saja. Begitulah yang aku rencanakan.”

“Tak perduli metode apapun yang kamu gunakan?”

“...Apa yang ingin coba kamu katakan.”

“Ainz-sama sering menyebut namamu. Datangnya dalam konteks “Apakah kamu sudah dengar dari Demiurge? Kalau begitu tidak apa.” Dengan kata lain, ada sesuatu tentang dirimu – tentang rencanamu yang tidak bisa Ainz-sama terima.”

“Apa yang kamu katkaan... Albedo, mengapa kamu tidak bilang kepadamu lebih awal? Jika memang begitu-“

“Jika memang begitu?”

Demiurge tidak bisa bicara.

“...Biar kutanya sekali lagi. Apakah tidak ada jalan untuk bisa membuat Empire menjadi sebuah negeri bawahan sebelum Kingdom?”

“...Memang ada. Namun, itu akan membutuhkan Ainz-sama sendiri untuk bertindak. Akan jadi tindakan memalukan bagi seorang bawahan untuk menasehati. Ditambah lagi, aku merasa itu akan membutuhkan eksekusi beberapa metode – membutuhkan waktu setidaknya satu bulang – agar bisa menyebabkan sebuah pergolakan keras di dalam sebuah kota besar. Meskipun begitu, aku yakin akan lebih baik untuk memulai penundukan terhadap Kingdom lalu memberikan tekanan di area lain... berapa lama Ainz-sama membutuhkan waktu?”

“Aku sedang ada di Kingdom, jadi aku tidak yakin, tapi kurasa paling tidak tiga hari.”

Mata Demiurge semakin melebar.

Itu terlalu cepat.

Bagaimana beliau mendemonstrasikan kekuatan penaklukannya? Bagaimana beliau menghancurkan semangat sang Kaisar, yang mencari bantuan dari negara-negara lain?

Meskipun Demiurge telah mempersiapkan rencana sempurna yang akan membuat sang kaisar tidak bisa bertindak, sepertinya sang tuan telah menciptakan sebuah skema yang bahkan melebihi itu.

“Tiga hari? Bagaimana beliau melakukan itu..”

“Secara tidak sengaja, hampir tidak ada korban jiwa.”

Mulut Demiurge yang menganga rasanya seperti ditutupi. Yang dia rasakan adalah sebuah aliran kekaguman yang tidak terhentikan untuk penguasa absolut itu. Dia seperti kematian itu sendiri, diam berdiri di belakang sang kaisar lalu meremukkan hatinya.

Rasa gemetar yang Demiurge rasakan barusan menyebar dari atas kepalanya ke seluruh badan. Kegembiraan yang ganas, kekaguman, ketakutan dan rasa hormat bercampur di dalam dirinya, dan campuran emosi yang kompleks ini membuat Demiurge gemetara tanpa henti.

“Se, seperti yang diduga dari Ainz-sama. Seseorang yang sepertiku bahkan tidak bisa berharap meraih beliau. Dia benar-benar tuan yang sempurna dan tanpa bandingannya. Tak ada orang lain yang bisa memimpin para Supreme Being. Mau tidak mau aku iri dengan Pandora’s Actor, meskipun hanya sedikit.”

Albedo bersuara kuku, senyumnya penuh dengan superioritas.

Itu pasti perasaan superioritas yang dirasakan oleh seorang wanita ketika dia diperintahkan untuk mencintai pria yang luar biasa seperti itu.

“Ditambah lagi, Ainz-sama telah memerintahkan kepada kita untuk memutuskan bagaimana menangani penundukan dari Kingdom.”

“Memerintahkan kepada kita? Mengapa?”

“Bukankah itu sudah jelas? Sebagian besar dari perkembangan dalam bidang ini adalah karena penggunaan rencanamu, Demiurge. Meskipun begitu, Ainz-sama tidak berkata apapun kepadamu dan mendorong penundukan Empire lebih maju dengan rencananya sendiri. Jadi, itu membuat hatinya sakit.”

Demiurge tidak bisa memahami itu. Mungkin jika Ainz tidak senang dengan dirinya yang tidak berkompeten, Demiurge bisa memahaminya. Tapi bukan yang ini.

“...Mengapa? Aku tidak mengerti.”

Hah~ Albedo menghela nafas lelah.

“Itu karena dia mempercayaimu. Dengan kata lain.. bagaimana aku harus mengatakannya. Kamu harusnya bisa memahami itu dengan pikiranmu itu, tapi ini mungkin memang seperti ini. Tidak mengikuti rencanamu sama artinya dengan meragukan kemampuanmu. Ainz-sama menunggu komunikasi darimu karena dia tidak ingin melakukan itu. Namun, Ainz-sama merasa kamu terlalu khawatir dengan beliau. Jadi, beliau melakukan tindakan sendiri adalah untuk mengatakan kepadamu, ‘Jangan khawatir denganku’, aku yakin begitu.”

Itu adalah jawaban yang bisa Demiurge terima. Tidak, akan lebih baik dikatakan tidak ada jawaban selain itu.

“Ini benar-benar...”

Demiurge menundukkan wajahnya karena malu. Di waktu yang sama, dia dipenuhi dengan kebahagiaan setelah dia menyadari bagaimana sang tuan memikirkan dirinya.

“Demiurge... kita harus bekerja untuk membalas kebaikan Ainz-sama.”

“Tentu saja, Albedo.”

Demiurge bergembira.

“Agar bisa memenuhi harapan Ainz-sama, mari kita selesaikan rencana penundukan Kingdom agar bisa dilihat oleh Ainz-sama saat kembali!”

“Memang benar. Ainz-sama pergi sendirian, jadi pasti banyak taktik yang tersimpan. Beliau pasti nantinya akan sibuk ketika kembali dari Dwarfen Kingdom.”

Demiurge menyeringai.

“Memang benar, Albedo. Itu memang benar.”

Berlangganan via Email