Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Baca Overlord - Volume 10 - Chapter 1

Chapter 1 : The Sorcerous Kingdom of Ainz Ooal Gown

Part 1

Sorcerer King. Penguasa absolut dari Great Underground Tomb of Nazarick dan Sorerous Kingdom Ainz Ooal Gown. Seseorang yang memimpin 41 Supreme Being, dan yang terakhir dari mereka yang tetap tinggal di dalam Nazarick. Saat ini, makhluk itu yang seharusnya menikmati perhatian dari para bawahannya sedang melingkar di atas tempat tidurnya yang lembut, sedang membaca sebuah buku.

Tempat tidur yang disebutkan itu dipindakan dari Great Underground Tomb of Nazarick ke tempat ini – ke kamar pribadi dari mantan penguasa E-Rantel, Walikota Panasolei, yang sebagian sudah ditata ulang dan dirubah menjadi kamar Ainz sendiri. Sejak dipindah kemari, dia tidak lagi bisa mencium adanya aroma yang dulunya selalu terpancarkan ketika tempat tidur itu masih ada di Nazarick.

Mungkin karena tempat tidur yang ada disini tidak disemprot oleh parfum, pikir Ainz saat dia menyandarkan berat badannya kepada tempat tidur yang menjadi pertanyaan.

Tentu saja, tidur benar-benar tidak diperlukan bagi seorang makhluk undead seperti Ainz.

Memang benar, hanya ada sisa-sisa dari sisi manusianya yang mengatakan kepada otaknya bahwa dia seharusnya lelah. Itulah kenapa Ainz seing melakukan hal ini, merebahkan diri di atas tempat tidur untuk menenangkan kepala dan jantungnya yang sudah kelewat panas. Namun, itu hanyalah solusi sementara. Oleh karena itu, merebahkan diri seperti ini dalam waktu yang lama, seperti seorang manusia sebenarnya sangat sia-sia.


Sebagai contoh – ya. Sementara dia sedang membaca sebagai contohnya. Khususnya, ketika dia sedang memikirkan cara orang lain melihat ke arah dirinya.

Seharusnya waktu segera pagi..oh!

Sebuah sinar lemah dari sinar matahari tersaring melewati celah-celah dari kelambu, membuat Ainz secara kasar bisa menebak waktunya. Dengan begitu, dia lalu meletakkan buku yang baru saja dia baca sampai sekarang di bawah bantalnya.

Lalu, dia mencondongkan tengkoraknya ke arah sudut ruangna.

Dia melihat seorang pelayan disana.

Dia adalah salah satu pelayan reguler Nazarick, dan dia sedang menemani AInz hari ini – lebih tepatnya, dia telah menemani Ainz sejak kemarin. Saat ini, dia dengan elegannya duduk di kursi dengan punggung tegak lurus. Namun, postur itu tidak berubah sejak kemarin malam. Dari yang Ainz tahu, tak ada satupun pelayan yang gagal mempertahankan posisi tersebut.

Garis pandangannya terus terpaku pada Ainz, membuat beberapa gangguan sesaat.

Itu benar-benar adalah beban yang sulit dijelaskan.

Tentu saja, dia pastinya tidak bermaksud untuk mengeluarkan tekanan ini. Itu hanya karena memperhatikan Ainz dengan seksama akan membuat dia bisa langsung merespon terhadap situasi apapun yang mungkin akan muncul. Namun, itu membuat orang biasa seperti Satoru Suzuki ingin menangis dan memelas “Tolong biarkan aku.”

Tak ada yang akan merasa nyaman jika mereka terus-terusan ditatap seperti itu, terutama oleh anggota lawan jenis yang melakukannya. Meskipun tak ada apapun yang terjadi, itu membuat Ainz merasa seperti dia telah membiarkan ada sesuatu yang tidak beres.

Hal yang paling penting adalah cara dia yang dengan tanpa bicara merespon Ainz terhadap segala gerakan apapun.

Secara singkat – itu adalah pengalaman yang menyedihkan

Tentu saja, Ainz adalah seorang penguasa absolut, jika dia melarang pelayan itu melakukannya, dia akan berhenti. Namun, ketika Ainz memikirkan wajah dari para pelayan jika dia mengatakan itu, dia tidak tega mengeluarkan kalimat yang sedang menunggu di mulutnya itu.

Setelah datang ke dunia ini. Ainz cepat-cepat bertindak menyamar sebagai Momon. Itu adalah pertama kalinya para pelayan yang mengelilinginya seperti ini. Bahkan sekarang, mereka terus melakukan pelayanan mereka kepadanya dengan loyalitas yang sangat menakjubkan. Itu adalah karena dia tahu hal ini sehingga Ainz merasa tidak tega memaksa mereka mematuhinya.

Sudah sebulan sejak dia memikirkan hal itu.

Bayangan keadaan seperti ini mungkin akan terus berlanjut selamanya memenuhi Ainz dengan beberapa derajat rasa tidak enak. Karena para pelayang mengambil waktu 41 hari untuk bisa menyelesaikan satu rotasi jam tugas, dia memutuskan untuk membiarkan masalah itu di masa depan, tapi pemikiran itu hanya seperti menendang kaleng di jalanan hingga sekarang.

Apakah ini yang mereka sebut sebagai beban kepemimpinan.... mengatur Nazarick, merencanakan masa depan kelompok, merespon permintaan bawahanku... orang-orang yang berdiri di atas benar-benar hebat. Tidak heran mereka memiliki gaji yang sangat tinggi....

Orang-orang di atas melakukan sedikit hal namun mereka mendapatkan begitu banyak bayaran. Sekarang dia mengerti apa yang mereka telah lalui, Ainz tertawa dengan dirinya yang bodoh di masa lalu. Lalu, perlahan dia bangkit dari tempat tidurnya.

Saat ini, pelayan tersebut tanpa suara bangkit dari tempat duduknya pula. Itu membuat Ainz merasa seakan ada sebuah benang yang menyambungkan mereka.

Bagaimana bisa gerakannya masih begitu anggun meskipun sudah terjaga semalaman?

“-Aku bangun.”

“Baik. Kalau begitu, pelayan anda akan pergi. Setelah ini, pelayan untuk hari ini akan datang untuk menggantikan saya.”

Ainz tidak berkata apapun seperti ucapan “Aku akan serahkan kepadamu”, tapi hanya bergumam “umu” dan melambaikan tangannya untuk menandakan bahwa dia boleh meneruskan apa yang ingin dilakukan.

Mungkin aku sudah menjadi terlalu arogan, pikir Ainz.

Tetap saja, mungkin memang lebih baik seperti ini.

Dia telah mengirimkan Hamsuke untuk bertanya ke sekeliling, dan respon pertama dari para pelayan kelihatannya adalah, “Rasanya seperti dia telah mendominasi kita, Ainz-sama adalah yang terbaik” atau semacam itu. Kelihatannya merka semua adalah masochist, dan sementara hal itu membuat masalah bagi Ainz ketika pertama kali dia mendengarnya, setelah dengan tenang mempertimbangkan masalah tersebut, dia menyadari bahwa seorang penguasa harus bersikap dan berpakaian yang sesuai. Itu adalah apa yang diharapkan oleh para bawahannya.

Menggunakan sebuah perusahaan sebagai contoh, seorang bos harus terlihat dan bersikap seperti seorang bos.

Ketika dia berpikir seperti itu, AInz merasa apa yang telah dia lakukan adalah apa yang seharusnya dilakukan oleh Sorcerer King. Kenyataannya adalah, ketika dia pertama kalinya memata-matai penguasa Empire, Jircniv Rune Farlord el Nix, di waktu senggangnya, dia menyadari bahwa pria itu telah melakukan sikap yang sebagian besar sama.

Tetap saja, Suzuki Satoru dulunya hanya seorang pekerja, dan dia merasa sedikit tidak enak dengan tidak berkata sesuatu seperti, “Terima kasih atas kerja kerasmu.”

“...Kalau begitu, kamu harus pergi dan beristirahatlah.”

“Ah! – Tolong biarkan pelayan anda ini memberikan rasa terima kasih yang paling dalam atas kebaikan anda, Ainz-sama!”

Pelayan tersebut membungkuk dalam-dalam saat dia mengutarakan rasa terima kasihnya.

“Namun, ini semua berkat item ini yang telah anda pinjamkan kepada saya sehingga pelayan anda bisa tetap berada di samping anda untuk bisa menemani anda tanpa harus beristirahat, Ainz-sama.”

Tidak, bukan itu maksudku, gumam Ainz dalam hati.

Memang benar jika seseorang memakai ring of sustenance, dia bisa terus bekerja siang dan malam tanpa butuh tidur. Tetap saja, duduk di atas kursi dan menatap Ainz semalaman seharusnya tidak lain adalah sebuah neraka. Meskipun dia sangat senang dengan dedikasinya, tidak perlu mereka bersikap sejauh itu.

Setidaknya mereka harusnya membatalkan jam giliran waktu malam... bagian dimana mereka menatapku ketika tidur, ya kan?

Sebagai seorang pelayan, memang wajar bagi mereka untuk dengan sepenuh hati melayani tuan mereka dengan jiwa dan raga.

Ainz tidak tahu siapa sebenarnya pelayan yang telah mengatakannya, tapi dia ingat mendengarnya dari salah satu pelayan-pelayan itu.

Dengan sepenuh hati melayani tuan mereka, huh. Apa yang akan kamu katakan jika aku ingin hidup setara denganmu?

Tidak seperti bagaimana dia merasa ketika pertama kalinya datang ke dunia ini, Ainz sekarang percaya diri bahwa seluruh bawahannya benar-benar setia kepadanya. Selama Ainz memperhatikan tindakannya dan tidak melakukan sesuatu yang membuat mereka kecewa, tidak ada kesempatan mereka berkhianat – kecuali pengaruh dari luar. Kalau begitu, mungkin dia harusnya merubah hubungan diantara mereka, dan meletakkan diri setara dengan para NPC. Itu mungkin akan menjadi pilihan yang bagus, pada titik-titik tertentu.

Jika itu terjadi, Ainz akan terbebas dari kehidupan ini sebagai seorang penguasa, karena harus memeras otaknya seharian. Ditambah lagi-

-itu akan menjadi seperti sebelumnya, malahan, ketika hari-harinya saat di guild. Aku penasaran apakah aku bisa kembali ke dalam kehidupan seperti itu lagi.

Ketika di berbicara kepada para NPC, dia terus membayangkan mantan teman-temannya membayangi mereka. Karena itu, Ainz berharap dia tidak harus berhubungan dengan mereka dalam kapasitas sebagai seorang tuan dan pelayan, tapi lebih kepada, cara seperti yang mereka jalankan di masa lalu –

-Tidak, pikir Ainz saat membayangkan dia menggelengkan kepalanya.

Sementara dia tidak tahu benih kekecewaan macam apa yang mungkin akan tertanam di dalam diri para bawahannya, perubahan sedramatis itu tidak mungkin adalah pilihan yang bijak. Ditambah lagi, karena dia tahu bahwa mereka menginginkan hubungan sebagai seorang tuan dan pelayan dengannya, adalah tanggung jawabnya sebagai tuan mereka untuk terus bersikap dalam kapasitas seperti itu. Di waktu yang sama, sebagai orang terakhir yang tetap tinggal disini, dia harus melakukan apapun yang dia bisa bagi para NPC (anak-anaknya).

Pelayan tersebut meminta izin kepada Ainz lalu meninggalkan ruangan.

Saat itu, Ainz langsung bertindak. Pertama, dia menukar buku di bawah bantal dengan buku lain. Buku yang dia gantikan memiliki judul yang rumit – hanya dengan melihatnya saja akan membuat siapapun kehilangan semangat untuk membaca. Lalu, buku yang dia baca tadi malam pergi ke dalam dimensi kantung pribadinya – inventory miliknya.

Setelah meletakkan buku itu di tempat yang tidak mudah dicuri, Ainz menghela nafas lega.

Itu juga, adalah bagian dari tanggung jawbnya sebagai tuan mereka.

Dia tentunya tidak ingin membaca buku-buku serumit itu yang membuat kepalanya sakit semalaman. Jika mungkin, dia ingin membaca beberapa buku yang terkenal sebagai gantinya. Namun, terlihat membaca buku seperti itu akan menghancurkan kewibawaaan Ainz sebagai penguasa. Oleh karena itu, Ainz terpaksa mengambil tindakan pencegahan yang menyusahkan seperti itu.

Sekali-sekali, dia sudah mempertimbangkan kenyataan bahwa para pelayan akan memindahkan buku di bawah bantal ke tempat lain.

Sekarang setelah dia menyelesaikan apapun yang bisa dia lakukan di tempat tidur, Ainz menyingkirkan kanopi kain kassa yang menyelimuti tempat tidur dan bangkit berdiri.

Ketika itu, beberapa ketukan datang dari arah pintu. Segera setelah itu, pelayan yang bertugas untuk mengambil alih jam kerja selanjutnya membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.

Saat dia melihat Ainz yang bangun dari tempat tidur, dia tersenyum dan mendekatinya. Kelihatannya dia adalah pelayan yang ditugaskan untuk menemani Ainz hari ini.

“Selamat pagi, Fifth.”

Senyum yang cerahnya membutakan muncul di wajah pelayan tersebut.

Jika Fifth memiliki ekor, dia mungkin sudah mengibas-ngibaskannya dengan seluruh tenaga. Tiba-tiba saja, Ainz terpikirkan Pestonya yang sedang mengibaskan ekornya di masa lalu.

Seragam pelayannya sama dengan yang dipakai oleh pelayan sebelumnya, Fourth. Tidak seperti battle maids, regular maid (pelayan biasa) semuanya memakai seragam yang sama. Namun, penampilan mereka yang sebenarnya bervariasi antara tiap-tiap pelayan – mungkin karena masing-masing pelayan yang memakai seragam itu berbeda.

Ainz teringat sesuatu yang sering dikatakan oleh salah satu temannya sehingga kelihatannya seperti sudah membuat rumah di telinganya: “Seragam pelayan yang biasa memang bagus, tapi seragam pelayan yang ditambahi hiasan adalah yang terbaik”. Ada juga lanjutan dari itu: “Dengan kata lain, seragam pelaya adalah yang terbaik, tak perduli bagaimana caranya dilihat. Seragam pelayan adalah penemuan terbaik dari sejarah manusia. Viva seragam pelayan~”

Meskipun Ainz tidak tahu apa yang dia maksud dengan “viva”. Mungkin itu semacam seruan. Mungkin juga semacam istilah yang diciptakan sendiri olehnya. Dengan begini, Ainz teringat kenangan dari rekan-rekan lamanya, sedikit demi sedikit.

Ainz tersenyum pahit – meskipun ekspresi wajahnya tidak berubah, tentu saja – dan diam-diam melihat ke arah pelayan tersebut.

“Ai-Ainz-sama, apakah, apakah ada yang perlu saya layani?”

Fifth tersipu malu saat tangannya menggenggam erat celemek di seragamnya. Saat itulah Ainz menyadari kecerobohannya.

“Maafkan aku. Kelihatannya aku.. ya, kelihatannya entah bagaimana aku terpana olehmu.”

“-!”

“Kalau begitu, ayo pergi.”

“-Hieh? Ah, ya. Saya mengerti!”

Pelayan itu terdiam sesaat, tapi tetap bisa membalas dengan enerjik saat dia mengikutinya keluar dari ruangan tersebut.

Ainz melewati beberapa ruangan lain. Apa yang dia lihat disana tidak bisa dibandingkan dengan pemandangan di dalam lantai 9 dari Nazarick. Oleh karena itu, Ainz memutuskan untuk tinggal disini, para guardian menyuarakan penolakannya satu persatu.

Titik. Tempat ini memang kurang dalam hal kelayakan kediaman bagi seorang Supreme Being.

Titik. Kemampuan pertahanan dari tempat ini sangat kurang dan perlindungan terhadap mata-mata sangat kurang.

Titik. Titik. Titik –

Namun, Ainz hanya mengangkat bahu terhadap semua penolakan ini dan memilih tempat ini sebagai rumahnya.

Ini adalah kewajibannya sebagai seorang raja – lagipula, Jircniv juga hidup di dalam Imperial Palace (Istana kekaisaran) di Imperial Capital (ibukota kekaisaran). Atau setidaknya, itulah yang ingin dipikirkan oleh orang-orang. Kenyataannya adalah, tempat ini cukup mewah bagi Ainz, tidak, bagi Suzuki Satoru. Rumahnya yang dulu sangat tidak layak jika dibandingkan. Ditambah lagi, kamarnya di lantai 9 selalu terlihat terlalu mewah dan mencolok dan terlalu besar.

Dia tidak keberatan ketika masih sebuah game. Namun, sekarang setelah dia benar-benar tinggal di sana, dia memang sangat yakin bahwa tidak ada tempat baginya di dalam dinding itu. Yang Ainz inginkan adalah bersembunyi ke dalam sudut ruangan.

Ainz memimpi Fifth dan Eight Edge Assassin yang turun dari atap ke ruangan ganti.

Beberapa pelayan biasa sudah berada di sana menunggu Ainz. Mereka membungkuk dengan hormat kepadanya berbarengan. Fifth dengan lincahnya bergabung ke dalam barisan mereka pula.

“Ainz-sama, apa yang ingin anda pakai hari ini?” tanya Fifth dalam suara yang dipenuhi dengan tenaga.

....Oh, ada sebuah di mata Fifth. Setelah dipikir-pikir, apakah setiap orang yang memiliki pekerjaan ini memiliki kilauan mata yang sama juga? Mereka memang bilang bahwa para gadis menyukai pakaian... apakah itu bagaimana mereka mengekspresikannya? Atau apakah mereka hanya menyukai mengatur pakaian-pakaian dan aksesorisnya?

Sebuah sensasi lelah yang terus meningkat merambatinya, tapi Ainz tidak bisa menunjukkannya. Malahan, dia berujar “Umu” dengan cara yang sombong – atau setidaknya, begitulah bagaimana rasanya ketika dia mempraktekkan ini sebelumnya.

Sejujurnya, Ainz tidak perlu berganti pakaian.

Jubah magicnya tidak akan lusuh meskipun dia menghabiskan semalaman bergulung-gulung di atas tempat tidur. Tubuhnya tidak mengeluarkan kotoran apapun. Debu-debu yang beterbangan di udara memang bisa menempel padanya, tapi yang perlu dia lakukan hanyalah mengosoknya agar terlepas. Ditambah lagi, tempat manapun yang menjadi tujuan Ainz pasti sudah dibersihkan dengan cermat oleh para pelayan. Terlebih lagi, dia tidak perlu makan atau minum, dan oleh karena itu dia tidak akan kotor karena aktifitas itu.

Memakai satu pasang pakaian yang sama tidak akan ada masalah baginya.

Namun, tak ada satupun dari bawahannya yang memperbolehkan hal itu. Namun, itu memang bisa diduga, ketika penguasa absolut mereka mengenakan hal yang sama setiap hari akan merusak imej dirinya.

Oleh karena itu, Ainz tidak percaya diri dengan kemampuannya dalam mengatur pakaiannya sendiri.

Sekarang, jika dia sedang mempersiapkan perlengkapan untuk bertempur, setelah mempertimbangkan kemampuan dan skill lawan dan merencanakan taktik miliknya, dia akan sangat percaya diri dalam kemampuannya untuk memilih perlengkapan yang tepat untuk bisa mengalahkan lawan yang akan dia hadapi. Namun –

Yah, sampai titik tertentu, pengalaman yang didapatkan oleh Satoru Suzuki membuatnya bisa mengomentari apakah dasi ini akan serasi dengan pakaian itu. Pengalaman itu tidak membuatnya bisa mengatakan apapun tentang apakah jubah ungu dengan ornamen perak cocok dengan kalung perak yang memiliki empat berlian dan seterusnya. Ditambah lagi, dia harus memilih pakaian yang cocok dengan tubuh kerangkanya.

Namun, jika dia memakai pakaian yang tidak cocok, orang-orang mungkin akan meragukan selera berpakaiannya sebagai seorang pemimpin. Itu akan seperti mengkhianati bawahannya yang setia. Oleh karena itu, Ainz harus memberikan yang terbaik meskipun dalam masalah berpakaian.

Tetapi muncul masalah fatal yang lain.

Apakah bawahannya akan ada yang berkomentar meskipun Ainz memakai sesuatu yang tidak cocok? Itu mirip dengan situasi dimana sebuah rambut palsu merosok dari kepala sang CEO perusahaan besar, tak ada yang akan berani berkata apapun.

Oleh karena itu, hanya ada satu alternatif yang tersisa baginya.

“-Fifth, aku akan serahkan kepadamu. Persiapkan satu buah setelan pakaian yang paling cocok denganku.”

“Saya mengerti! Serahkan pada saya, Ainz-sama! Pelayan anda akan memilih dengan sangat hati-hati!”

Kamu tak perlu terlalu bersemangat seperti itu tentang hal ini – yah, Ainz berpikir demikian, tapi dia tak pernah mengatakannya secara terang-terangan kepada pelayan yang ada di depannya.

“Saya – Saya pikir merah sangat cocok dengan anda, Ainz-sama! Oleh karena itu, Saya berpikir menggunakan merah sebagai warna dasar untuk mengatur pakaian anda. Bagaimana menurut anda?”

“...Aku sudah bilang aku akan serahkan masalah itu padamu. Meskipun begitu, tidak perlu memastikan pilihanmu kepadaku.”

“Ya! Saya mengerti!”

Jika Ainz tidak percaya diri, maka yang perlu dia lakukan adalah menyerahkan tugas itu kepada orang lain – seperti bagaimana dia membiarkan pelayan tersebut memilihkan untuknya.

AInz sangat tidak enak dengan jubah merah tua yang dia pilih, namun. Warna merah itu sangat cerah sehingga hampir membutakan matanya, dan terlebih lagi telah ditambahkan dengan banyak sekali permata-permata yang seperti kancing besar. Mungkin bisa diterima jika permata-permata itu memiliki warna yang sama, tapi banyak permata-permata yang memantulkan separuh dari lusinan warna cahaya. Ditambah lagi, kainnya memiliki pinggiran karakter ane yang disulan dengan benang emas.

- Apakah ini adalah pakaian biasa? Bisakah ini dianggap pakaian dalam arti normal?

Ainz merasa seperti manusia papan sandwich yang disinari oleh cahaya neon. Dia takkan pernah memilih pakain ini sendiri. Atau lebih tepatnya, Ainz mulai penasaran mengapa dia dulu membeli pakaian ini sejak awal. Karena dia tidak ingat jika anggota guildnya memaksa hal itu, dari proses eliminasi, dia sendiri pasti mendapatkannya entah darimana.

Apakah ini adalah hadiah? Apakah aku memenangkannya dari sebuah lotre atau semacam event tertentu? ... Tetap saja, yah, mau bagaimana lagi, huh.

Bahkan setelah mengingat bagaimana dia mendapatkan pakaian itu masih tidak membuat jubah merah di depannya itu hilang.

Memang mudah hanya dengan menolaknya, itu akan merubah “Aku akan serahkan padamu” yang dia katakan kepada Fifth menjadi sebuah kebohongan. Terlebih lagi, Ainz mungkin adalah satu-satunya yang merasa malu sementara orang lain menyukainya. Atau lebih tepatnya, mungkin memang begitu.

Dan lebih jelasnya, karena Fifth yang memilih jubah ini, dia bisa menyalahkan dia jika ada satu orangpun yang berkomentar terhadap pakaian itu.

Aku benar-benar seorang bos yang kejam.

Ainz tahu ini bukanlah sesuatu yang dia banggakan, dan dia merasa bersalah dengan hal itu.

Mendorong kesalahan tersebut kepada orang lain bukanlah sikap yang lucu bagi seorang bos – bagi seorang atasan. Ainz tahu hal ini, tapi meskipun begitu, dia perlu sesuatu yang mempertahankan kewibawaannya.

Dia harus melindungi diri dengan mengorbankan bawahannya. Mau bagaimana lagi.

“-Maaf tentang hal itu.”

“Ah, maafkan saya!”

“Tidak apa... Aku hanya sedang bicara dengan diriku sendiri. Tidak usah dihiraukan. Setelah dipikir-pikir...”

Ainz memutuskan untuk memilih ucapannya dengan hati-hati saat dia menanyakan pertanyaan ini.

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu. Apakah kamu tidak berpikir jubah ini sedikit terlalu mencolok bagiku?”

“Tentu saja tidak! Lagipula, apapun akan terlihat bagus dipakai oleh anda, Ainz-sama! Meskipun saya merasa hitam sebagai dasar dengan coklat gelap sebagai warna kedua juga terlihat bagus, mengenakan warna seperti itu setiap waktu tidak akan menunjukkan sisi baik anda yang lainnya, Ainz-sama! Semua ini agar bisa memberikan kesan gambaran diri anda yang kuat kepada semua orang yang –“

Ainz menyela aliran kata-katanya.

“-Tidak apa. Selama cocok, tidak apa. Kalau begitu, bisakah kamu memakaikannya kepadaku?”

“Saya mengerti!”

Fifth dan pelayan-pelayan lain segera bekerja.

Saat Ainz tetap berdiri, para pelayan melepaskan pakaian Ainz tanpa suara. Situasi dimana pakaiannya dilepaskan oleh wanita, meskipun tubuhnya hanya ada kerangka, membuatnya penuh dengan rasa malu yang terbakar.

Tapi tentu saja, sikap seperti itu adalah hal yang wajar bagi seorang penguasa absolut.

Setidaknya, begitulah untuk Jircniv. Ainz juga pernah membaca hal yang sama di salah satu bukunya.

Ainz tetap terdiam dan membiarkan para pelayan bekerja, sambil melihat-lihat tubunya di cermin ganti tanpa suara.

Segera setelah itu, Ainz berjubah merah muncul di cermin. Seperti yang diduga, terlalu mencolok. Tidak ada hal lain selain mencolok.

...Tidak. Dunia ini memiliki selera yang sangat berbeda dalam hal estetika. Yang kutahu.. pakaian ini mungkin sangat cocok bagi seorang penguasa.

Dia teringat Hamsuke sebagai perumpamaan, dan menyingkirkan rasa tidak enaknya.

“Kalau begitu, ayo pergi.”

Pemikiran itu berkelebat di kepalanya saat dia bergerak maju, dengan ditemani oleh Fifth. Betapa dia sangat berharap dia memiliki waktu untuk menghela nafas.

-----

Jubah merah mencolok yang bergoyang, maju ke arah kantornya. Saat Ainz mendekati pintu tersebut, Fifth dengan cekatan maju mendahului dan dengan penuh hormat membukakan pintu itu untuk Ainz.

Suatu ketika, dia berpikir untuk berkata, Itu hanyalah sebuah pintu, biarkan aku membukanya. Namun, saat dia melihat tampang di wajah para pelayan yang berkata, “Whoa, lihatlah aku, aku sedang bekerja!”, Ainz tidak tega selain menerima ini sebagai sebuah bentuk pintu yang terbuka secara otomatis.

Ainz memimpin Fifth dan Eigt Edge Assassins ke dalam kantor.

Pintu di tengah ruangan tersebut mirip dengan yang dimiliki Ainz di ruangannya sendiri, dan meja itu memancarkan udara bermartabat.

Meja itu dibawa kemari dari Nazarick, beserta tempat tidurnya. Sebuah bendera menggantung di kedalaman ruangan – bendera Ainz Ooal Gown – bendera Sorcerous Kingdom.

Ainz melewati ruangan tersebut, dan tiba di balkoni.

Ada sebuah kotak kaca di balkoni. Tidak seberapa besar dan mengandung suasana hutan. Ainz memasukkan jari-jari tulangnya ke dalam kotak tersebut, yang kelihatannya seperti tidak memiliki kehidupan, dan mengangkat sebuah daun. Tersembunyi di dalamnya adalah sebuah makhluk yang bersembunyi di dalam kegelapan untuk menghindari cahaya matahari.

Tubuhnya yang berwarna cerah terbungkus oleh cairan lengket namun licin yang keluar dari tubuhnya, dan bagian depan tubuhnya mirip dengan sepasang bibir manusia.

Ainz dengan hati-hati mempelajari ‘Lip Bug’ di depan matanya.

“-Itu adalah warna yang bagus. Kamu terlihat sangat bersemangat.”

Ainz teringat apa yang pernah dikatakan kepadanya, yang mana adalah warna itu sangat penting. Dia juga teringat memiliki beberapa Lip Bugs yang diletakkan di depannya, dan diajari untuk bisa membedakan mereka adalah yang paling bersemangat dari warnanya. Dan memang benar; Lip Bug di depannya terlihat sangat bersemangat dari yang lainnya waktu itu.

Ainz mengeluarkan sebuah daun kubis segar dari piring yang ada di dekatnya.

“Kemarilah, Nurunuru-kun. Sudah waktunya makan~”

Dia mendekatkan daun tersebut ke Lip Bug itu, yang lalu melahapnya dengan sebuah suara seperti nom. Setelah Ainz melepaskan daun tersebut, Lip Bug itu cepat-cepat melahap hingga mulutnya penuh daun tersebut.

Ainz membawa dua daun lagi, yang mana langsung dilahap juga oleh Lip Bug tersebut.

Dia memutuskan untuk berhenti sampai disana, karena Entoma pernah berkata kepadanya bahwa terlalu banyak memberinya makan itu tidak baik.

Ainz dengan lembut mengembalikan Lip Bug yang telah diberi makan dan gembira itu ke rumahnya yang tertutup di kota kaca – ke tempat yang paling disenanginya.

“Kelihatannya agak sedikit jijik pada awalnya, tapi setelah merawatnya beberapa saat, ternyata semakin terlihat menggemaskan.”

Dia sedang tidak berbicara dengan siapapun secara khusus, hanya berbicara sendiri. Ainz mengeluarkan senyum gembira di wajahnya saat dia menutup penutup kota yang tipis itu. Kota itu tidak seberapa kuat, dan Lip Bug tersebut bisa keluar jika dia menginginkannya. Alasan Ainz menggunakannya adalah untuk membuktikan bahwa dia percaya diri bisa merawat penghuninya. Meskipun begitu, penghuni tersebut tidak lain hanyalah monster yang dipanggil dengan emas, jadi pertanyaannya adalah apakah dia akan kabur atau tidak masih tidak ada jawabannya.

Ainz pelan-pelan membersihkan tangannya dengan kain yang ada di dekat, dan setelah menyelesaikan tugasnya pagi ini, dia duduk di kursi, menyandarkan beban tubuhnya ke belakang dan membiarkan tubuhnya tenggelam.

...Ah, pekerjaan. Tidak ada jam kerja yang resmi, tapi jantungku masih tetap tenggelam di jam-jam seperti ini. Kurasa kebiasaan lama akan sulit hilangnya.

Meja tersebut tidak sedikitpun ada debunya, ataupun dokumen-dokumen.

Benar-benar berbeda dengan meja dari Suzuki Satoru.

Semua ini karena dia tidak perlu bekerja sepanjang malam. Pekerjaan Ainz adalah untuk membuat keputusan besar, tidak mengkhawatirkan tentang detil-detil kecil. Setelah dia memutuskan arah secara keseluruhan, bawahannya akan bergerak.

...Tetap saja, mengapa ini sangat sulit sekali. Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa kesulitan dari sebuah pekerjaan ditentukan oleh seberapa besar tanggung jawab yang dibebankan kepada dirinya. Lebih melelahkan secara mental daripada secara fisik... dan tentu saja lebih cenderung membuat stres. Ah, apakah sudah waktunya mulai bekerja?

Tidak perlu melihat jam.

Saat itu, sebuah ketukan datang dari pintu. Fifth – yang berdiri menunggu pintu – memastikan identitas dari yang datang.

“Ainz-sama, Itu adalah Albedo-sama dan para Elder Lich.”

Ada sebuah sikap hormat di dalam suara Fifth, karena para Elder Lich ini adalah ciptaan Ainz secara pribadi.

“Ternyata begitu. Persilahkan mereka masuk.”

Fifth minggir dari pintu tersebut untuk membuat jalan bagi para pengunjung. Albedo masuk ke dalam ruangan di depan enam Elder Lich.

“Selamat pagi, Ainz-sama.”

Setelah sambutan dari Albedo, para Elder Lich membungkukkan kepala mereka dalam-dalam.

“Umu, selamat pagi, Albedo. Kelihatannya cuaca hari ini sangat baik.”

“Memang benar. Saya memiliki laporan bahwa akan cerah sepanjang hari – tentu saja, jika anda menginginkan sebagai penguasa tertinggi dari dunia ini, kami bisa menghasilkan berbagai macam cuaca yang anda inginkan. Apakah mau saya teruskan, Ainz-sama?

Ini hanyalah menggunakan topik yang tidak relevan untuk memulai sebuah percakapan, tapi dia tidak menduga Albedo mulai dengan memberikan saran seperti itu.

“Itu tidak perlu. Aku senang dengan cuaca. Hari yang cerah itu baik, gemuruh petir di hari hujan adalah untuk dinikmati, dan salju yang turun dengna lembut adalah sangat menarik. Bisa dikatakan hanya dengan mengamati perubahan cuaca secara alami dalam satu hari dia bisa mendapatkan hiburan.”

Ainz bukan tidak senang dengan perubahan iklim di dunia ini. Di dunia yang belum ternoda ini, dia menemukan bahwa dia memahami ucapan dari mantan rekannya Blue Planet. “Hujan pada dasarnya adalah berkah dari alam.”

Memang yang paling baik adalah biarkan alam tetap alami.

“Ya, saya mengerti... Tentu saja, saya merasakan anda tidak ingin mengubah cuaca, tapi saya harus bertanya untuk memastikannya, Ainz-sama. Lagipula, anda bukanlah semacam pemimpin yang akan memerintahkan kepada kami secara langsung untuk memenuhi keinginan sendiri.”

“...Begitukah? Bagiku rasanya tidak seperti itu...”

Ainz berpikir tentang hal itu, tapi dia tidak bisa mendapatkan ide apapun yang diinginkan. Ketika dia masih Suzuki Satoru, pikirannya dipenuhi dengan pemikiran Yggdrasil. Setelah tubuhnya menjadi seperti ini, itu semakin parah. Meskipun dia tidak yakin jika itu adalah efek sampingan karena menjadi makhluk undead, peluang akan terus menjadi seperti ini sangatlah tinggi. Jika dia harus membicarakan keinginan akan sesuatu, itu adalah keinginan untuk mengkoleksi item-item langka. Dan juga-

Ainz tersenyum dalam kesepian, dan dengan lembut menggelengkan kepalanya.

“Tidak, mungkin memang seperti yang kamu katakan. Bagaimanapun, itu hanya karena tidak ada apapun yang benar-benar kuinginkan. Jika aku nantinya menemukan sesuatu yang diinginkan, aku akan langsung memberikan perintah yang tepat waktu itu.”

“Ketika saatnya tiba, saya harap anda akan memperbolehkan saya, sebagai Pengawas Guardian, untuk memilih orang-orang yang akan langsung merespon keinginan anda,” balas Albedo saat dia menundukkan kepalanya. Ketika kepalanya menengadah kembali, wajahnya terlihat entah bagaimana tersemu merah. “Namun, pakaian anda hari ini sangat spektakuler. Mereka sangat terpancar. Tidak, mereka bersinar sangat cerah karena anda memakainya, Ainz-sama.”

Albedo terus memberikan pujiannya kepada Ainz.

Pancaran yang dia bicarakan adalah mungkin permata-permata yang terlihat sebagai pengganti dari kancing-kancing, karena tengkoraknya tidak memancarkan cahaya. Ainz mengangguk saat dia memikirkan tentang ini.

“Begitukah, kalau begitu aku harus berterima kasih kepadamu untuk itu, Albedo.”

“Anda terlalu baik hati. Saya hanya mengutarakan apa yang terlihat jelas, Ainz-sama, anda benar-benar-“

Ainz mengangkat tangannya untuk menghentikan Albedo saat dia dengan gembira bersiap melanjutkan. Ainz mempunyai perasaan bahwa membiarkan Albedo terus-terusan begitu akan menyeret percakapan itu menjadi lama.

“Mari kita kesampingkan masalah itu sekarang. Kalau begitu, dokumen-dokumen apa yang akan kamu serahkan dengan yang lainnya kemarin, Albedo?”

“Ya.”

Albedo menggembungkan pipinya dengan sikap yang menggemaskan, lalu para Elder Lich mengikuti arahannya dan menempatkan dokumen-dokumen mereka di meja.

Tumpukan dokumen-dokumen itu satu di atas yang lainnya semakin menjadi tebal. Berkas-berkas itu sendiri tidak banyak mengandung apapun selain hanya proposal, tapi dokumen-dokumen itu memiliki dokumen-dokumen pendukung yang menempel. Mirip dengan bagaimana dia memerlukan data dari banyak bidang di pekerjaannya yang lama, kelihatannya ini semua dipersiapkan untuk menghadapi masalah yang rumit.

Ainz sudah mempersiapkan dalam hati untuk ini, Ainz telah menghabiskan seluruh paginya memperkuat diri dan mengokohkan tekadnya untuk saat ini.

Suzuki Satoru hanyalah seorang pegawai biasa, dan dia bukanlah semacam orang yang berinteraksi dengan operasional perusahaan. Jika ditanya apakah seseorang seperti itu bisa mengatur seluruh negeri, Ainz akan dengan percaya diri menjawab “tidak”. Atau lebih tepatnya, bahken sebuah manajer operasional akan sulit dalam menjalankan sebuah negeri.

Yang membuatnya lebih parah adalah bahwa Ainz adalah penguasa absolut. Meskipun nantinya ada kesalahan kecil dalam ucapannya, bawahannya akan langsung bersama-sama berusaha mengubahnya menjadi kenyataan.

Apakah ada yang lebih mengerikan dari hal itu? Sebuah ucapan dari Ainz mungkin akan menyebabkan sebuah bunuh diri massal.

Oleh karena itu, apa yang harus dia lakukan?

Jawabannya sangat sederhana. Seperti pakaiannya, dia harus menyerahkan tanggung jawab itu kepada orang yang mampu.

Ahli dalam mengalokasikan bawahan seseorang menurut kekuatan mereka juga adalah kualitas penting dalam seorang bos.

Dengan begitu, ada juga masalah jika menyerahkan sepenuhnya kepada orang lain. Memang benar, dia bisa tenang jika semuanya diserahkan kepada penanganan Albedo. Namun, dia adalah seorang raja, bukan hanya sebuah pajangan. Sebagai seseorang di dalam posisi yang tinggi, menjadi seorang atasan sama saja dengan harus memikul tanggung jawabnya.

Ada beberapa tugas yang tidak bisa lepas dengan hanya berkata “Aku tidak tahu apapun.”

Oleh karena itu, Ainz mulai membaca tumpukan dokumen-dokumen itu dengan hati-hati dari atas hingga bawah, menempatkan segel kerajaan pada masing-masingnya.

Setelah memberikan stempel dengan irama pada beberapa dokumen, Ainz berhenti sejenak, memilih salah satunya sebagai target harian. Dia membuka dokumen itu untuk membaca isinya dengan hati-hati. Lalu-

...Aku tidak mengerti, lagipula. Apakah ini ada hubungannya dengan sumber-sumber bahan? Apakah ini sangat penting? Apakah para Elder Lich benar-benar mengerti? ... Yah, mereka semua diciptakan olehku... bagaimana mungkin perbedaan kemampuan ini bisa dijelaskan – meskipun, membaca semua ini benar-benar melelahkan, sama seperti membaca dokumen-dokumen resmi...

Karena ada banyak yang berhubungan dengan halaman-halaman lain, ada banyak pengulangan dari beberapa kalimat yang harus dibalik berulang-ulang antara halaman-halaman itu. Titik akhir berdasarkan kepada kesimpulan sebelumnya agar bisa tiba pada sebuah penilaian negatif. Terlebih lagi, karena banyak kalimat-kalimat negatif yang muncul di dalam teks, menjelaskan isinya akan sangat sulit.

“-Albedo.”

“Ya, Ainz-sama! Apakah ada yang menarik perhatianmu?”

“Tidak, tidak ada hubungannya dengan ini, tapi saya terpikirkan sesuatu. Bagaimana dengan hukum-hukum yang harus ditetapkan?”

Negeri ini disebut Sorcerous Kingdom, tapi tidak memiliki legislasi yang unik satupun, malahan hanya melanjutkan penggunaan dari hukum Kingdom yang lama.

“Ya, sekarang masih hanya berupa draft. Jika kita paksakan hukum yang baru dengan terlalu agresif bisa menyebabkan rasa tidak puas yang melebar. Oleh karena itu, kita tidak yakin apakah harus melakukannya atau tidak.”

Kalimat ini terdengar aneh ketika datangnya dari Albedo, yang tidak perduli sama sekali dengan umat manusia. Tetap saja, Ainz mau tidak mau menepuk dadanya karena lega.

“Meskipun saya sudah mendiskusikannya dengan Demiurge sebelumnya... hukum dari Kingdom tidak memberikan kekuatan yang cukup bagi penguasa absolut seperti anda, Ainz-sama. Saat ini kami sedang mempertimbangkan untuk mempertahankan hukum pertama dari Kingdom lalu mendorongnya dengan paksaan.”

“Aku lebih percaya diri dengan area-area lainnya..”

Itu adalah kebohongan yang sangat jelas – Ainz tidak percaya diri dengan apapun.

“Aku menyesal harus berkata bahwa aku tidak seberapa paham dengan hukum. Lakukan saja yang menurutmu cocok. Kamu memiliki kepercayaan penuh dariku.”

“Ya! Saya mengerti.”

Albedo terlihat bahagia di wajahnya. Jika Ainz melihat dengan cermat, dia bisa melihat sayapnya bergetar di belakang. Dia – dan Demiurge, entah karena suatu alasan tertenu – terlihat seperti menganggap Ainz sebagai seorang jenius yang selalu satu langkah di depan mereka.

Oleh karena itu, ketika Ainz berkata tidak tahu atau sesuatu yang mirip dengan hal itu, dia bisa sangat memahami kegembiraan yang mereka – yang diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kecerdasan tinggi – rasakan karena mampu mengesahkan keberadaan mereka.

“Tetap saja, tidak perlu berbohong tidak memahami hukum..”

“Tidak, itu memang benar, aku tidak mahir menghadapi masalah hukum.”

“Ternyata begitu... itu pasti bagaimana cara anda melihatnya, dari sudut pandang pemimpin tertinggi yang tak pernah terikat oleh hukum apapun. Saya mengerti artinya.”

Ainz merasa bahwa dia sudah disalah pahami, tapi dia memutuskan untuk mengabaikan masalah tersebut. Lagipula, dia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya kepada Albedo. Sebagai gantinya, dia hanya tersenyum. Perasaan ini hanya terasa samar baginya, tapi itu mungkin adalah bagaimana rasanya seorang anak yang dengan bangga menunjukkan bakat mereka kepada orang tuanya.

“Apakah ada yang salah?”

Tampang terkejut Albedo hanya membuat Ainz yang sangat gembira. Tetap saja, sangat tidak sopan jika kegembiraan itu hanya miliknya.

“Maafkan aku, tapi ketika aku melihat seberapa bahagianya dirimu, Aku seperti disambar oleh bagaimana manisnya rupamu.. bagaimana aku harus mengatakan hal ini. Umu. Rasanya sulit dijelaskan.”

Saat dia berkata demikian, ada sebuah ledakan kecil gerakan dari Eight Edge Assassin di atap, tapi mereka lalu terdiam.

“Ah` Malunya.”

Albedo menekankan tangannya ke pipi. Saat Ainz melihat bagaimana dia tersipu malu, dia menyadari betapa tidak nyamannya hal itu bagi Albedo karenanya, dan sedikit batuk, dia memutuskan untuk mempelajari dokumen-dokumen di depannya malahan.

Kelihatannya dari cara dia memperlakukan para NPC sebagai anak dari teman-temannya telah membuatnya mengatakan hal-hal yang membuat mereka malu.

Dia merasa sedikit bersalah dengan sikap tidak sopannya, namun pada akhirnya, dia memberikan stempel kepada dokumen terakhir sebagai gantinya. Dengan begitu, satu tugas telah selesai.

Dia menyerahkan berkas-berkas itu kepada Albedo, yang sedang menutupi mulutnya dengan tangan. Dia lalu menyerahkan berkas-berkas itu kepada para Elder Lich.

“Kalau begitu, mari kita mulai seperti biasanya. Ini adalah proposal-proposal yang akan kita saring hari ini.”

Ainz membuka kabinetnya dan mengeluarkan sebuah tumpukan kertas. Ini adalah saran-saran dan pendapat-pendapat yang dikumpulkan dari semua orang di Nazarick agar bisa membantu perkembangan Sorcerous Kingdom.

Setelah membaca kertas-kertas itu, Ainz akan menggandakan saran-saran ini dan membacanya keras-keras agar Albedo mendengarnya pada setiap pagi seperti ini.

“Tidak perlu membuang-buang waktu anda yang berharga dengan tugas-tugas remeh seperti menuliskannya semua, Ainz-sama.”

“Tidak, karena mungkin saja ada saran-saran di dalam sana yang mungkin diarahkan kepadaku. Ditambah lagi, tubuhku tidak membutuhkan tidur. Akan sangat sia-sia jika aku tidak melakukan apapun.”

Itu juga merupakan sebuah kebohongan. Atau lebih tepatnya, memang benar dia akan menjadi terdiam begitu saja jika tidak melakukan apapun. Namun, dia bisa menghabiskan waktu itu untuk hal-hal seperti membaca, mandi, melatih kemampuan akting dan simulasi tempur. Meskipun begitu, dia masih harus melakukan ini sendiri karena Ainz menyelipkan saran buatannya sendiri diantara kertas-kertas itu.

Ainz harus melakukan ini karena jika dia membuat saran-saran itu langsung, bawahannya akan memaksa diri mereka untuk membuat saran itu menjadi kenyataan, meskipun saran-saran itu tidak berguna. Itu bisa menjadi awal dari konsekuensi tragis.
Oleh karena itu, dengan mengajukan sarannya sendiri dengan tanpa nama, dia berharap agar Albedo, sebagai pihak ketiga yang berimbang, akan menilai saran-saran itu berdasarkan keuntungannya semata. Ditambah lagi, dengan tidak menyebutkan nama-nama dari sang pemberi saran, kemampuan Ainz sendiri tidak akan dipertanyakan, yang mana seperti membunuh dua burung dengan satu batu.

Ainz mulai membacakan saran yang teratas dengan keras-keras.

“Muu....Saya yakin kita memerlukan layanan pendidikan anak agar bisa menari individu-individu bertalenta dan mendidik mereka. Dengan begitu, kita mungkin bisa memperkuat Nazarick. Meskipun itu tidak berhasil, kita masih bisa menggunakannya untuk mengembangkan teknologi untuk diri sendiri, yang mana juga akan bisa digunakan sebagai pondasi untuk memperkuat Nazarick pula.... Seperti itu.”

Ainz melihat ke arah Albedo, yang sedang berdiri dengan mata menghadap ke depan.

“Keuntungannya memang jelas sekali terurai, dan itu merupakan saran yang baik sekali. Bisa dirasakan bahwa pemberi saran itu telah memikirkan hingga jauh ke depan dari sarannya. Mungkin bagus juga mengedarkan hal ini sebagai sebuah model agar bisa dipelajari oleh yang lain.”

Setelah semua pujian itu, Ainz melanjutkan wajahnya yang tegas – meskipun tentu saja wajahnya tidak bergerak. “Setelah dipikir-pikir, kira-kira siapa yang menulis itu?”

“Saya yakin itu pasti Yuri Alpha.”

Itu adalah jawaban yang instan. Ainz juga merasakan yang sama.

“Aku setuju. Itu pasti saran dari Yuri. Kalau begitu, Albedo, bagaimana menurutmu saran itu?”

“Itu jelas sekali adalah hal yang bodoh. Babi seharusnya hidup seperti babi dan mati setelah memberikan semuanya yang mereka miliki kepada peternaknya. Tidak perlu mereka hidup dengan cara lain. Karena tidak ada artinya bagi mereka untuk hidup berbeda, tidak ada gunanya membiarkan mereka memilih kehidupan yang berbeda.”

“Wah, itu sangat kasar sekali kelihatannya, tapi aku memang setuju, hingga batasan tertentu. Seseorang memang memerlukan pendidikan dasar agar bisa melayani sebagai roda gerigi agar bisa memutar roda masyarakat. Ini adalah bagaimana seharusnya orang-orang itu hidup, bertambah tua dan mati. Membiarkan teknologi menyebar hanya akan mengancam kekuatan kita – umu?”

“Ainz-sama, apakah anda baik-baik saja?”

“Akuingat pernah mendengarkan ucapan ini sebelumnya. Seseorang pernah berkata kepada orang lain, tapi siapa? Narberal dan ... ah, Lupusregina, ketika dia bertanya tentang potion penyembuh... Kurasa aku tidak perlu mengatakannya kepadamu karena kamu sudah tahu, Albedo. Oh, sangat janggal sekali, aku harap kamu tidak usah memperdulikannya.”

“Te, Tentu saja tidak. Saya yakin saya harus mengerti wawasan anda yang sangat mendalam, Ainz-sama. Saya mohon, bagikanlah itu dengan saya.”

“Be, begitukah... yah, meskipun itu membuatku malu entah bagaimana, aku tidak boleh menjadi satu-satunya orang yang membagikan pemikiranku. Jika kamu tidak senang dengan apapun yang kamu dengarkan, silahkan saja membetulkan aku.”

Tidak ada lagi yang lebih memalukan daripada bersikap seperti orang yang sok tahu segalanya di depan seseorang yang dia kenal dengan baik. Dengan tampang cemas mungkin dianggap sebagai seorang idiot di dalam hati Albedo, Ainz memutuskan untuk membagikan pemikirannya pada masalah itu.

Pengetahuan, pendidikan dan informasi adalah senjata dasar dari manusia – yang juga termasuk makhluk non manusia di dunia ini. Saat pengetahuan negara semakin meningkat, begitu juga dengan kekuatannya, tapi di sisi sebaliknya, begitu juga dengan kebencian karena mereka tidak bisa memiliki apapun.

Oleh karena itu, seorang penguasa harus mempertimbangkan apakah mempersenjatai rakyatnya dengan senjata yang disebut pengetahuan atau tidak, karena senjata itu mungkin suatu hari akan diarahkan kepada penguasa itu sendiri.

Di dalam game yang disebut Yggdrasil, Ainz telah belajar pentingnya memiliki informasi. Inilah kenapa dia harus membawa dua orang anggota keluarga herbalist Bareare ke desa Carne, dimana dia bisa terus mengawasi mereka, dan agar mereka membuat potion disana. Ini agar dia bisa memonopoli buah dari riset mereka dan menyimpan pengetahuan yang didapat itu sendiri.

Dari sudut pandang Ainz, mereka yang dikuasai harusnya bersikap seperti itu, hidup dan mati tak perduli. Namun harus ada yang mengembangkan teknologi baru agar kekuatan negeri meningkat. Pada akhirnya, pertanyaannya adalah siapa yang akan dituju oleh tombak pengetahuan itu.

“Kesimpulannya, kita harusnya hanya membagikan teknologi baru kita dengan mereka yang benar-benar setia kepada Great Underground Tomb of Nazarick. Kita akan memberikan rakyat biasa teknologi yang kuno yang tidak membahayakan kita. “Buah dari pengetahuan” hanya memiliki nilai jika kita sendiri yang memilikinya.”

Setelah dia sampai pada bagian itu, dia mengintip ke arah Albedo, untuk memastikan dia tidak ragu-ragu atau kecewa padanya.

“Dan sekarang, inilah yang bisa kupahami. Albedo, berkebalikan dengan apa yang baru saja kukatakan, kurasa kita harus menerima tawaran ini.”

Mata Albedo melebar untuk sesaat.

“Bolehkah saya tahu apa yang membuat anda sampai pada kesimpulan seperti itu?”

“Kesentimentalan. Ditambah lagi, aku merasa Yuri ada benarnya.”

“Tetap saja, saya merasa terlalu banyak kerugian pada saran itu.. atau apakah anda ingin berkata bahwa anda ingin mengujinya di daerah pinggiran? Ketika anda segel semua kebocoran informasi lalu menjalankan pendidikan melalui cuci otak, keuntungannya memang akan muncul.”

“Kita tidak akan melakukan itu. Meskipun in mungkin akan melenceng entah bagaimana dari saran Yuri, kita akan mendirikan sebuah panti asuhan di kota ini.”

Ketika Ainz hidup disini sebagai Momon, dia pernah mendengar bahwa panti asuhan dijalankan oleh kuil-kuil. Dia langsung memiliki ide untuk mendirikan sebuah panti asuhan sendiri atas nama Ainz Ooal Gown.

“Dalam keadaan apapun, kita harus mempertimbangkan kemungkin dari bocornya teknologi Nazarick ke dunia luar. Seharusnya tidak apa jika kita menjalankan sebuah panti asuhan biasa dan membatasi pengetahuan yang kita ajarkan disana kepada mereka yang dekat dengan kita. JIka kita menemukan individu-individu yang bertalenta di sana, lalu kita bisa mempertimbangkan apa yang harus kita lakukan kepada mereka.”

“...Ternyata begitu. Rencana itu seharusnya tidak ada masalahnya.”

“Kalau begitu, aku berniat menggunakan para janda sebagai staf panti asuhan tersebut.”

“Para wanita yang telah kehilangan suami mereka dalam perang dimana anda menunjukkan sebuah bagian kecil dari kekuatan yang mahakuasa milik anda. Itu akan menjadi sebuah bantuan finansial atau semacamnya bagi wanita-wanita itu yang sedang berusaha di bawah garis kemiskinan. Dan memang benar, bantuan seperti itu akan meningkatkan opini populer dari anda... seperti yang saya duga dari anda, Ainz-sama.”

“Umu, jika kita hanya bertindak setelah Momon mengatakan kepada kita permohonan dari para janda, maka hanya reputasinya saja yang akan meningkat, dan bukan milikku. Oleh karena itu, kita harus bertindak dengan cepat, sebelum ada seseorang yang datang minta bantuan kepadanya. Agar bisa mengerjakan hal ini... Aku perintahkan agar Pestonya dan Nigredo dibebaskan dari kurungan mereka.”

Ainz merasakan sebuah kilauan samar di mata Albedo.

“Maafkan atas sikap terus terang saya.. tapi jika anda memberikan amnesti kepada mereka yang sudah diputus bersalah karena sudah tidak mematuhi perintah anda dan memaafkan mereka, saya takutnya itu mungkin akan mengacaukan aturan dalam Nazarick.”

“Bukankah kita sudah menempatkan mereka dalam kurungan karena itu?”

“Itu jauh terlalu ringan sebagai hukuman. Keinginan anda adaah segalanya bagi kami, Ainz-sama. Kejahatan karena tidak mematuhi perintah anda jelas sekali tidak bisa dimaafkan. Pelayan anda menganjurkan agar mereka harusnya dibebaskan dari kepalanya sebagai peringatan bagi yang lain.”

“JIka untuk itu-“

Ainz ingin berkata bahwa itu adalah masalah yang remeh, tapi wanita-wanita itu semuanya termotivasi oleh rasa hormat mereka terhadap Ainz – salah satu dari 41 Supreme Being. Akan sangat tragis menolak loyalitas mereka.

Tetap saja, itulah kenapa dia harus memaafkan mereka berdua. Kepribadian mereka diciptakan oleh teman-teman masa lalu Ainz. Oleh karena itu, tindakan dari Pestonya dan Nigredo  bisa dikatakan sama dengan teman-temannya.

Ainz tahu jika dia memberikan perintah kepada Albedo, dia akan mematuhinya tanpa bertanya. Namun, itu adalah cara terakhir untuknya. Pertama, dia harus mencoba untuk meyakinkannya dengan ucapan.

“-Kenyataan bahwa membiarkan perintah itu bocor keluar dunia akan menjadi masalah. Siapapun akan bisa menyambungkan titik-titik dan jejak dari insiden di ibukota kerajaan kepada Nazarick, yang bersembunyi di dalam bayangan. Itulah kenapa bahkan anak-anak pun harus dihabisi.
Namun, dua orang itu mencoba untuk mempertahankan anak-anak  yang tak punya ingatan apapun atas insiden tersebut, itu artinya tidak perlu menghabisi mereka. Bisa dikatakan bahwa mereka bisa mengerti niatku dengan akurat.”

“Mereka hanya memutar balikkan fakta untuk keuntungan mereka sendiri. Tindakan mereka tidak bisa dimaafkan.”

“Albedo-“

Dia mengerti perasaan Albedo sebagai pengawas Guardian. Itulah kenapa dia harus berpikir sekeras mungkin agar bisa meyakinkannya.

Ainz tersenyum; sebuah senyum yang pahit dan bermasalah. Tentu saja, ekspresinya tidak berubah.

“Ainz-sama, tampang anda itu terlalu tidak fair..” gumam Albedo, dengan entah bagaimana pipinya bersemu merah. Ainz menepuk wajahnya untuk memeriksa.

“Oh, benarkah?”

“Mm, itu...”

Albedo menghela nafas tanpa daya, dan membiarkan kepalanya tertunduk. Haa~, dia pun menghela nafas dalam-dalam.

Ketika dia mengangkat kepalanya lagi, dia kembali seperti sedia kala.

“Saya mengerti. Tidak ada yang lebih penting dari keinginan anda, Ainz-sama. Mereka adalah segalanya bagi saya. Silahkan perintahkan kepada saya jika anda melihatnya memang benar.”

“Aku tidak ingin kamu mematuhiku karena perasaanmu. Aku ingin kamu mematuhiku karena itu merupakan hal yang masuk akal untuk dilakukan.”

“Itu tidak masalah. Kelihatannya, tidak ada seorangpun di Nazarick yang akan keberatan membebaskan mereka berdua selain diri saya yang sebelumnya.”

“Begitukah... kalau begitu bagus sekali. Letakkan mereka berdua sebagai penanggung jawab untuk menjalankan panti asuhan tersebut.”

“Saya mengerti. Saya akan menyampaikan instruksi anda kepada mereka.”

“Aku akan serahkan itu kepadamu. Kalau begitu – saran berikutnya.”

Ainz bergumam sendiri. Saran selanjutya adalah yang dia tulis.

“...Ahem. Yah, ini bukanlah saran yang terlalu buruk..eh, mau bagaimana lagi.”

Ainz mengintip kearah ekspresi Albedo dan meneruskan ucapannya.

“Mari kita buat seragam untuk aktivitas atletik (pakaian olahraga) untuk memperkuat persatuan Nazarick. Bagaimana menurutmu?”

Saat Ainz selesai bicara, Albedo mengerutkan dahinya karena marah.

“...Jika ada batasan yang lebih rendah dari kalimat ‘rendahan’, ide itu saya yakin berhasil menembusnya. Lagipula, siapa yang membuat saran itu?”

Ainz membuat usaha setinggi mungkin untuk memeriksa dorongan untuk berkata, “Maafkan aku” dan sebagai gantinya mengeluarkan ekspresi bingung.

“Er, itu – aku tidak terlalu yakin. Aku sudah membuat lembaran kertas aslinya.”

“Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan anda jadinya. Bagaimana mungkin ada orang yang tega membuang-buang waktu berharga anda dengan saran yang jelas sekali bodoh seperti itu, Ainz-sama? Biarkan saja meluncurkan investigasi secara langsung untuk menarik keluar orang ini dan memutuskan hukuman yang tepat.”

“...Tidak! Tidak perlu berlaku seperti itu! Dengarkan, Albedo! Kamu tak boleh melakukan itu, tak perduli bagaimanapun!”

Meskipun dia seperti menjerit “awawawa” di dalam hatinya, Ainz berhasil mencondongkan dadanya.

“Aku sudah bilang kepada semua orang di Nazarick agar bisa memberikan mereka keberanian mengeluarkan balasan dari banyak sudut pandang, Aku tidak akan mengejar mereka atas saran apapun yang dibuat kepadaku. Jika kamu melanggar hal itu karenanya, itu akan membuat ucapanku menjadi kebohongan. Itu juga berarti bahwa semua yang aku katakan di masa depan juga akan menjadi kebohongan.
Ditambah lagi, sulit bagi orang-orang yang ketakutan untuk bisa memberikan opini mereka... oleh karena itu, aku harap agar ketika kamu meninggalkan ruangan ini, kamu akan lupakan saran itu.”

“Ya, saya akan melakukannya, seperti yang anda katakan, Ainz-sama.”

“Bagus, bagus. Kamu harus melakukan itu.”

Ainz sangat berterima kasih atas kenyataan bahwa tubuhnya tidak bisa berkeringat. Jika bukan karena itu, lantai di bawahnya mungkin sudah basah kuyup sekarang. Namun, meskipun memiliki keadaan tubuh dan pikiran yang luar biasa, kata “rendahan” tenggelam dalam-dalam di hatinya, meninggalkan sebuah luka yang tidak akan sembuh untuk waktu yang lama.

“...Ainz-sama, saya memiliki saran. Di masa depan, mohon perbolehkan saya untuk memilihkan saran-saran itu. Dengan begitu, anda tidak akan dipermasalahkan oleh saran-saran bodoh seperti itu kedua kalinya.”

“Guh... tidak, tidak perlu menyusahkanmu dengan itu. Disamping itu, jika kamu memilih semuanya, maka peranku hanya untuk menandatangani pilihanmu. Diskusi kita di sini akan menjadi percuma.”

“Ah, ya, benar juga, Ainz-sama. Kita harus bekerja sama dan melakukannya.”

Sayap Albedo terkepak, dan Eight Edge Assassin di atas menggeliat sekali lagi.

“Ba, Baiklah. Karena kamu sudah mengerti, mari kita bergerak ke selanjutnya, Albedo”

Secara pribadi, dia tidak menganggap saran itu tidak bisa dikerjakan, tapi suasana hatinya sudah tidak bisa membuatnya mengeluarkan saran itu, ataupun merasa percaya diri menyebutkan topik yang mirip.

“Kalau begitu, selanjutnya-“

Saat Ainz akan melanjutkan pembacaannya, sebuah suara ketukan datang dari pintu.

Dua orang itu melihat ke arah Fifth. Dia sedikit membungkuk, lalu pergi melihat siapa pengunjungnya.

Sebuah suara anak-anak yang periang datang melalui celah pintu, beserta dengan suara yang hampir tidak terdengar yang kurang kepercayaan diri.

...bukankah ini pertama kalinya mereka berdua datang kemari di jam seperti ini? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Jika itu masalahnya, maka mungkin bagus juga Albedo ada di sini.

Karena Ainz sudah tahu siapa yang berkunjung, dia bisa langsung memperbolehkan mereka masuk. Namun, Fifth kelihatannya sangat gembira melakukan tugasnya, dan memperbolehkan izin masuk sebelum dia bisa melaporkan nama mereka berarti seolah menyelanya.

Mengacaukan kepalanya mungkin akan membuatnya kehilagan motivasi dalam bekerja. Penting sekali bagi orang-orang yang di atas untuk mengerti dan mencatatnya.

Kurasa Jircniv juga melalukan ini. Lagipula, dia menyerakan banyak hal kepada para pelayannya, pikir Ainz, saat dia mengkomentari contoh model raja yang terus-terusan dia pelajari.

Pada titik tertentu, seharusnya aku ngobrol santai dengannya tentang beban kepemimpinan.

“Ainz-sama, mereka adalah Aura-sama dan Mare-sama.”

Sekarang setelah dia menyelesaikan tugasnya, Ainz memberikan isyarat kepada dua orang itu diizinkan masuk ke kantornya.

Pintu itu terbuka, dan sepasang dark elf kecil mungil melangkah masuk. Senyum mereka yang berseri-seri tidak menandakan ada masalah apapun yang menjengkelkan yang telah terjadi, lalu Ainz merasa lega.

“Selamat pagi! Ainz-sama!”

“Se-Se-Selamat pagi, Ainz-sama!”

“Ah, selamat pagi. Kalian berdua kelihatannya bersemangat sekali hari ini.”

Dua orang itu menyapa Albedo juga. Aura mengitari meja dan berdiam di samping Ainz.

Ketika dia sudah dekat dengannya, Aura mengeluarkan kedua tangannya, membuat tanda V-Victory.

“Hm.”

Aura tidak berkata apapun kepada Ainz yang bingung, hanya mengangkat tangannya dan membuat tanda.

Matanya yang berkilauan, penuh dengan penantian, tertuju kepadanya, lalu dia mulai melompat dari kaki ke kaki.

Setelah menyadari apa yang dia inginkan, Ainz menarik kursinya ke belakang, memegang Aura di bawah ketiaknya, lalu mengangkatnya.

“Apa, apa yang sedang anda lakukan, Ainz-sama-“

Ainz tidak menghiraukan jeritan kaget dari Albedo. Malahan, dia memutar Aura 180 derajat, menghadapkan punggungnya ke arah Ainz, lalu mendudukkannya ke salah satu tulang paha kanan Ainz.

Tidak seperti tulang paha normal yang keras, jadi AInz meletakkannya secara paralel, membuat pantat Aura yang lunak sebagai bantalannya.

“Ehehe~”

Tawa dari Aura itu malu-malu namun jelas sangat gembira, lalu Ainz membalasnya dengan senyuman. Lalu, dia berpaling dan memberi isyarat kepada Mare yang terlihat gugup.

Dia memegang Mare saat mendekat, lalu meletakkannya di tulang paha sebelah kiri.

“Ah, um, Ai-Ainz-sama, ba, bagaimana dengan saya?”

Saat Ainz tidak tahu apakah dia harus memberi mereka semacam bantalan, giliran Albedo yang bicara dengan gugup. Namun, terlalu memalukan membiarkan seorang wanita dewasa duduk di pahanya – di tulang pahanya.

“Tidak, itu... aku tidak bisa.”

“Tapi, tapi, mereka berdua.....”

“...Albedo, mereka berdua ini masih anak-anak. Kamu sudah dewasa, bukankah begitu?”

Untuk sesaat, Ainz merasa dia seperti melihat sesuatu di belakang Albedo – sebuah kilatan cahaya yang merupakan manifestasi fisik dari pukulan yang baru saja dia terima. Meskipun Ainz merasa sedikit kasihan padanya, malu tetaplah malu. Disamping itu, jika dia benar-benar melakukannya, itu akan menjadi pelecehan seksual.

“Kalau begitu, kalian berdua. Ada apa?”

Benteng di dalam Hutan Besar Tob – Nazarick palsu, atau mungkin sebuah tempat penyimpanan barang-barang – telah selesai sekarang.

Tugas Aura selanjutnya adalah menyembunyikan benteng itu dan memperkuat pertahanannya.

Rencana awalnya adalah kabur kesana jika musuh muncul dan menyembunyikan Nazarick yang sebenarnya, tapi Jircniv sekarang tahu lokasi dari Great Underground Tomb of Nazarick.

Oleh karena itu, sekarang benteng tersebut berperan sebagai sebuah bunker dan sebuah depot sumber daya.

Mare, di lain pihak, ditugaskan untuk menggali sebuah makam bawah tanah di perbatasan E-Rantel.

Tidak ada rencana untuk menggunakan fasilitas itu sekarang juga. Hanya saja karena dia memiliki tenaga kerja lebihyang tidak digunakan.

Menggunakan manusia untuk pekerjaan demikian akan membebani biaya tenaga kerja, tapi golem-golem dan undead tidak ada masalah. Ditambah lagi, mereka bisa menggunakan magic milik Mare untuk menghasilkan bangunan batu yang sederhana.

Sedangkan yang lain, diantara guardian-guardian lain, Shalltear ditugaskan untuk tugas teleportasi yang berhubungan dengan [Gate] dan keamanan Nazarick. Cocytus bertugas untuk desa Lizardmen dan danau di dekatnya. Demiurge di lain pihak, sedang bertugas di Holy Kingdom.

Dengan kata lain, seluruh guardian di E-Rantel sekarang ada di ruangan ini.

Karena tugas mereka sudah dibagikan, apa yang mereka berdua sedang lakukan disini?

Aura dengan gembira menjawa pertanyaan Ainz.

“Kami kemari untuk menemuimu, Ainz-sama!”

Ucapannya yang lugu mengeluarkan senyum berseri-seri kepada wajah Ainz.

“Ternyata begitu. Yah, aku sangat senang melihat kalian berdua pula.”

Ainz menepuk kepala Aura. Aura kelihatannya sangat nyaman, dan menciumi balik tangan Ainz. Itu seperti sedang bermain dengan anak anjing yang lucu.

“Ka, kalau begitu, Ainz-sama, a-apa yang sedang anda lakukan? Sa, saya harap kami tidak membuat masalah untuk anda...”

“Ya-“

“Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin hanya bertemu kalian merupakan masalah bagiku?” Ainz membalas Mare dengan halus.

Ainz lalu melihat ke arah Albedo.

“Maafkan aku Albedo. Aku teralihkan perhatianku saat kita akan memulai topik baru. Ah, benar sekali, aku juga merasakan hal yang sama bertemu denganmu pula.”

“Y-Ya,” ucap Albedo, wajahnya berubah semerah apel saat dia cemberut dan mencoba untuk terlihat serius.

“Ainz-sama!”

Ada apa? Pikir Ainz saat matanya melebar.

“Ogyaaa!”

Ainz tidak tahu apakah dia salah dengar atau tidak. Apa yang baru saja Albedo katakan?

Seakan memberitahukan kepada Ainz bahw pendengarannya baik-baik saja, Albedo berkata “Ogyaaa!!” lagi, dengan suara yang sangat malu.

...Dia mungkin mencoba bersikap seperti bayi. Tidak, hal yang mengerikan adalah jika dia mencoba bersikap seperti yang lain. Tetap saja, mengapa dia melakukan hal ini? Apakah dia lelah karena sudah bekerja terlalu keras? Ah! Ini mungkin ada hubungannya dengan Nigredo dan melepaskan dari kurungannya.

Kebingungan melanda Ainz, meskipun dia memiliki tubuh undead, dan di waktu yang sama, Mare mulai berubah tidak tenang dalam duduknya.

“Itu, um, ti, tidak apa bagiku, jadi, um, aku harusnya membiarkan Albedo-sama...”

Ucapan itu seperti ilham baginya.

Baru saja, aku berkata tidak apa karena mereka adalah anak-anak, jadi sebagai orang dewasa, kau harusnya mampu menahan itu. Apakah itu alasannya mengapa dia pura-pura menjadi anak-anak sekarang?

Tetap saja, mengapa seorang bayi? Dan disamping itu, membiarkan Albedo duduk di pahaku terlalu...

Meskipun begitu, dia sudah sejauh itu mempermalukan diri dengan maju ke depan. Aku tidak bisa melewatkan hal itu, baik sebagai seorang atasan dan seorang pria. Ditambah lagi, Albedo adalah salah satu anak, seperti Aura dan Mare. Aku harus adil kepadanya.

“Maafkan aku Mare,” ucap Ainz. Setelah memperkuat diri, dia membiarkan Mare turun dari kakinya lalu memberikan isyarat kepada Albedo.

“Kemarilah, Albedo.”

“Ya!”

Rasa malu-malu Albedo sebelumnya hilang seperti kabut diterangi matahari pagi, digantikan dengan sebuah tampang penuh harapan yang mungkin dikeluarkan oleh seekor anak anjing sebelum pergi jalan-jalan. Dalam sekejap, Albedo bergerak ke sisi Ainz.

Albedo membuat tanda V pula.

Entah kenapa itu sulit bagi Ainz melakukannya sambil duduk, tapi bagaimana juga dia meletakkan tangannya di bawah ketiak Albedo dan mengangkatnya.

“..Um, maaf tentang hal ini. Maukah kamu duduk seperti ini?”

“Tentu saja! Saya mengerti!”

Albedo mengambil tempat Mare di paha kiri, dan bergerak dengan sikap yang genit.


Hal pertama yang dirasakan Ainz adalah kelembutannya, Tidak seperti anak-anak, itu adalah kelembutan dari tubuh dewasa. Lalu, kehangatannya mengalir kepada Ainz, yang membuatnya sedikit gatal.

Meskipun begitu, dia tetap benar-benar lembut!

Dia adalah warrior level 100, tapi entah dimana ototnya berada. Bisa dikatakan dengan cara yang sedikit kurang sopan dan penasaran apa benar dia bukan moluska.

“Kufufu~”

Dia mendengarkan tawa keras Albedo.

Sebuah aroma mengalir dari rambut panjang Albedo. Rambut itu membuat hidung Ainz gatal.

Aroma ini tidak aneh, dimana aku pernah mencium aroma ini sebelumnya? Pakaian Albedo? Bukan, Parfumnya?

“Mmm... Albedo. Apakah kamu menggunakan suatu macam parfum?”

“Ya, saya menggunakan parfum. Apakah itu membuat anda tidak senang?”

“Tidak, tentu saja tidak, aromanya enak.”

Albedo cepat-cepat memutar wajahnya ke arah Ainz. Matanya yang menonjol membuat Ainz sedikit ketakutan.

“Benarkah, Ainz-sama! Jika anda senang, bagaimana kalau mencium baunya dari tubuh saya, sejam juga tidak apa-apa, sehari penuh juga tidak apa-apa?”

“Tidak, disamping itu, satu jam agar terlalu...”

Tetap saja, tak perduli apapun yang Ainz katakan, memang kenyataannya adalah bahwa dia sangat tertarik. Disamping itu, jika dia mencium baunya dari tubuh Albedo, dia mungkin bisa mengingat lebih detil tentang aroma itu.

“Kalau begitu, bolehkah aku mencium aromamu sedikit?”

Ainz dengan hati-hati mendekatkan tengkoraknya ke arah Albedo dan menghirup aroma tubuhnya. Karena sekarang Ainz lebih dekat daripada tadi, dia bisa mencium aroma yang enak itu sekali lagi lebih jelas. Saat dia berpikir, aroma itu akrab, tapi dia tidak bisa mengingatnya dimana dia pernah menemui aroma itu sebelumnya. Saat Ainz memutar otaknya untuk mengupas misteri di kepalanya, sebuah suara sampai di telinganya.

“..Ainz-sama.”

Meskipun Ainz tidak tahu siapa itu sesaat, suara itu jelas sekali milik Aura. Ainz dengan gugup menoleh ke arahnya, dan melihat Aura yang menggembungkan pipinya.

“Tampang itu seperti tampang mesum.”

“Ah, maaf...”

Dia memang ada benarnya....

Ainz mengutuk dirinya sendiri karena sudah melakukan sesuatu seperti ini di depan anak-anak. Ini akan berakibat buruk terhadap pendidikan seksual mereka. Inilah kenapa dia memanggilnya dengan nada yang sama dengan teman lamanya ketika dia marah kepada adiknya.

“Ka-Kalau begitu, Albedo, Aura. Tolong bangunlah. Oh, Albedo, mari kita lanjutkan diskusi tentang masalah yang tadi.”

Namun, tak ada gerakan.

Dua orang itu tetap di tempat. Mereka sedang menunggu pihak lain bangun terlebih dahulu.

“Ya ampun...”

Ainz mengangkat Aura dan menempatkannya di lantai sebelahnya. Sebuah tawa keras dari “Kufufufu~” datangnya dari arah Albedo.

“..Aura adalah yang duduk terlebih dahulu. Albedo, kamu sebaiknya turun pula.”

“Tapi, tapi... Aura sudah duduk selama 3 menit 41 detik. Saya hanya duduk selama 57 detik. Meskipun kedengarannya bodoh, saya yakin seharusnya saya diperbolehkan untuk duduk selama tiga menit lagi.”

“Bukankah kamu sudah menghabiskan lebih banyak waktu dengan Ainz-sama?”

“Mau bagaimana lagi, itu adalah pekerjaan.”

“Oh, Pekerjaan, ya? Kamu hanya datang karena pekerjaan? Aku berusaha datang kemari hanya untuk melihat Ainz-sama, tahu.”

“!!”

Albedo menggoyangkan pantatnya di paha Ainz, mengubah posisinya untuk menatap Aura di matanya.

Ainz berpikir, Aku bisa menebak mengapa Albedo ingin duduk di pahaku, tapi mengapa Aura ingin melakukan itu? Dia juga tidak mencintaiku seperti Albedo.

Ainz tidak bisa ingat apa yang telah dia lakukan sehingga membuat seorang gadis seperti Aura mencintainya. Perasaan yang disebut cinta seharusnya adalah misteri bagi Aura. Dan lalu – Ainz akhirnya tahu jawabannya.

“Ternyata begitu. Jadi dia menjadi seorang posesif.”

Ditambah lagi, dia mungkin sudah lama mendambakan cinta seorang ayah. Aura dan Mare didesain sebagai anak-anak, dan mereka masih berada pada usia dimana orang tua mereka akan merawat mereka. Mungkin mereka secara tidak sadar mencarinya pada Ainz untuk bisa memenuhi celah di hati mereka.

Jika ada sebuah negeri Dark Elf, dia harus mempertimbangkan kemungkinan mengirim mereka kesana untuk bisa mendapatkan teman-teman. Namun, Suzuki Satoru tidak pernah memiliki pengalaman sebuah cinta seorang ayah sendiri, jadi dia merasa agak telat untuk itu.

Aku penasaran jika ada buku-buku atau pendidikan sex anak-anak di perpustakaan?

Dulu ketika masih berupa data tidak apa-apa. Namun, Ainz telah berpikir sampai sekarang dan menyadari masih ada hal-hal yang kurang agar pertumbuhan mental mereka sehat.

Seperti yang kuduga, mereka benar-benar perlu membuat teman-teman Dark Elf? Mari kita buat itu sebagai prioritas. Untuk itu-

“Aura. Ada sesuatu yang ingin kutanya; apa yang terjadi dengan tiga orang Elf yang aku serahkan kepadamu dan Mare?”

“Maksud anda Elf-elf yang menginjakkan kakinya ke Nazarick tapi diampuni oleh anda, Ainz-sama?”

Ainz mengangguk.

Ketika Ainz menarik para worker untuk masuk ke dalam, dia menyerahkan budak-budak elf yang mengikuti mereka kepada Aura dan Mare. Biasanya, siapapun yang memasuki Nazarick tanpa undangan tidak akan bisa pergi hidup-hidup. Namun, mereka mungkin disana karena bukan keinginan sendiri, dan mereka tidak berniat membawa harta karun Nazarick menjadi milik mereka sendiri. Oleh karena itu, bukan tidak beralasan menunjukkan semacam kebaikan kepada mereka.

Ditambah lagi, jika mereka adalah Wood Elf (Elf hutan), mereka mungkin memiliki efek yang menguntungkan perkembangan Aura dan Mare.

“Ya, untuk sementara, kami meletakkan mereka di lantai kami.”

“Dimana mereka?”

“Ya. Bagaimana harus menjelaskannya... mereka tidak punya apapun yang dikerjakan, tapi terus mencoba merawat kami. Agak menjengkelkan bagaimana mereka terus menempel di sekitar kami.”

“Be, benar sekali. Seperti, pa, pakaian kami dan seterusnya. Sa, Saya bisa berpakaian sendiri, tapi mereka terus-terusan datang untuk membantu kami...”

“Kamu harus sadar. Mereka terus mencoba untuk membantu dirimu berpakaian karena kamu terus bersikap seperti itu. Lihat aku, aku tidak ada masalah, ya kan?”

Ternyata begitu, jadi mereka ingin melakukan sesuatu. Sama seperti para pelayan di sekitarku. Aku merasakan lukamu, Mare. Tetap saja, itu artinya tiga orang yang aku selamatkan tidak sepenuhnya sia-sia, lagipula. Bukankah tambah gawat bagi mantan budak mengajarkan pendidikan sex? Hm~”

“Yah, kita memang menyelamatkan nyawa mereka. Jangan bunuh mereka karena marah, meskipun jika kamu marah. Jika kamu merasa benar-benar menjengkelkan, katakan kepadaku dan aku akan kirimkan mereka ke tempat lain.”

“Mengerti! Saya akan beritahu anda ketika waktunya tiba.”

Ainz menatap ke arah Mare, yang kepalanya tertunduk, dan bergumam “Apa,” kepada dirinya sendiri. Lalu, dia menoleh dengan tatapan setajam es kepada Albedo.

“Albedo. Sudah waktunya kamu turun. Sudah lebih dari tiga menit sekarang.”

Albedo terlihat kecewa untuk sesaat, tapi dia tetap patuh dan turun dari paha Ainz tanpa berkata apapun.

“Setelah dipikir-pikir, apa yang anda berdua sedang lakukan, Ainz-sama?”

“Hm? Ahhh. Aku sedang mengumpulkan saran-saran dari orang-orang Nazarick tentang bagaimana membuat negeri ini hebat. Ah, benar juga. Kalian berdua juga. Jika kalian punya ide bagus, mengapa tidak mencobanya. Aku akan mendengakan apapun?”

Wajah Aura menjadi bertambah cerah.

“Jika anda berkata demikian, Ainz-sama! Saya punya ide yang bagus!”

“Hohoh – Dan apa itu, Aura? Silahkan katakan kepadaku.”

“Ya! Saya pikir anak laki-laki seharusnya berpakaian seperti para gadis, dan para gadis seharusnya berpakaian seperti anak laki-laki!”

.....Bukubukuchagama---!

Ainz meneriakkan nama dari salah satu temannya di dalam hati.

Untuk sesaat, Ainz bahkan melihat gambaran samar dari Pink Slime berkata “Sor~ry!” dengan suara yang menggemaskan dan benar-benar berlawanan dengan penampilannya.

“Ternyata begitu. Jadi itu adalah ide dari Bukubukuchagama-sama. Memang benar itu adalah penawaran yang bagus. Terlebih lagi, di negeri ini, setiap keputusan dari Supreme Being pastinya yang paling benar.”

Benar? Ainz ingin mengolok-olok Albedo, tapi dia tidak bisa melakukannya.

Bagaimanapun, ide ini tidak boleh dibiarkan terjadi. Namun, ada masalah dengan hal itu.

Keduanya hanya berpakaian seperti itu karena Bukubukuchagama mendesain mereka seperti itu. Jika Ainz menolak ide Aura, dia harus menjelaskan alasan yang tepat mengapa kepada yang lainnya.

Ainz tidak bisa langsung terpikir penjelasan seperti itu.

“Ainz-sama. Apakah kita akan mengimplementasikan saran dari Aura secara langsung?”

Mengapa kamu membuat keputusan cepat sekali?!

Ainz sudah kehabisan waktu.

Jika Ainz setuju dengan saran ini, itu seperti mendeklarasikan kepada semua pihak di dalam dan di luar negeri bahwa Sorcerous Kingdom adalah sebuah negara yang menghargai cross-dressing. Itu akan sangat buruk. Mungkin hanya Bukubukuchagama yang akan tertarik dengan itu. Tidak, jika Bukubukuchagama di dunia ini, Ainz merasa dia pasti tidak ingin membuat sebuah negeri seperti itu.

Jika mereka tahu para NPC telah mengembangkan ego mereka masing-masing, beberapa orang akan merasa tertarik dan ingin menemui mereka, sementara yang lainnya ingin meghindari mereka. Bukubukuchagama mungkin akan jatuh ke dalam kelompok terakhir. Yamaiko dan Ankoro Mochimochi mungkin akan sangat ingin bertemu dengan mereka. Mengapa hal itu sangat berbeda meskipun mereka semua adalah gadis...

Saat dia terbayang tentang mereka, Ainz perlahan bangkit dan melihat ke luar jendela. Tentu saja, sikap seperti itu tidak memiliki arti yang signifikan. Dia hanya sedang mencoba mengulur waktu sendiri. Ketika dia sudah memiliki ide kasar tentang apa yang sedang terjadi, Ainz menoleh ke arah mereka bertiga.

“Aku tidak mungkin bisa membiarkan ide itu.”

“Mengapa, mengapa bisa begitu?”

Tentu saja mereka akan bertanya demikian, ya kan?...Maksudku, memberikan satu orang pria topeng di hari natal masih merupakan hukum yang lebih baik dari itu....

Ainz menghela nafas. Tentu saja, tindakan itu tidak memiliki arti signifikan. Dia hanya ingin mencoba mengulur waktu.

“Ada banyak alasan rumit untuk itu. Apakah aku harus menjelaskan masing-masingnya pada mereka?”

“Y-Ya, Saya Mo-Mohon. Jika anda tidak keberatan.”

Ainz berencana untuk berkata begitu kepada Albedo, tapi mare adalah yang pertama memotongnya malahan. Mare biasanya adalah bocah yang sangat jujur; mengapa dia menjadi sangat kejam sekarang, pikir Ainz dengan sedih. Jika itu adalah Albedo, dia pasti akan berkata, “Tidak perlu itu. Biarkan saya menjelaskan kepada mereka berdua sebagai ganti dari Ainz-sama”. Tapi dalam keadaan ini, Ainz harus melakukannya sendiri.

“...Begitukah. Kalau begitu, aku akan menjelaskannya padamu. Tapi darimana aku harus memulainya agar bisa membuatmu mengerti...?”

Umu, Ainz memegang dagunya dengan tangan. Tak usah dikataka lagi, itu juga untuk bisa mengulur waktu. Ainz mati-matian memaksa dirinya berpikir, dia berpikir keras sekali sehingga seakan-akan otaknya seperti mulai berkeringat, lalu sebuah ide menyerangnya.

“-Pertama, ah ya, harusnya begitu. Kalian berdua pasti merasa begitu karena kalian berpakaian demikian, seluruh negeri harus berpakaian seperti kalian juga, benar khan? Lagipula, kalian pasti merasa bahwa itu adalah keingingan dari Bukubukuchagama-san. Namun, itu salah – Ya, kalian berdua adalah spesial.”

“Kami spesial?!”

“Memang benar. Kalian berdua spesial bagi Bukubukuchagama-san. Itulah kenapa kalian diizinkan berpakaian seperti itu... jadi apakah kalian ingin memberikan kespesialan itu kepada banyak orang yang tidak kamu tahu?”

“Bagaimana mungkin kami begitu?!”

Orang yang membalas dengan keras adalah – cukup mengagetkan – Mare.

“Tak pernh! Saya takkan pernah membiarkan siapapun selain Nee-chan memiliki kespesialan dari Bukubukuchagama-sama!”

“Itu, benar sekali. Begitulah seharusnya. Apakah kamu mengerti, Aura?”

“Ya! Saya sangat bodoh sekali karena tidak berpikir apa yang dirasakan oleh Bukubukuchagama-sama!”

“Dan juga..”

Aura dan mare sudah menerima alasan itu. Seharusnya tidak apa untuk perlahan-lahan keluar dari topik tersebut sekarang. Namun, ada satu hal lagi yang membuat Ainz khawatir.

Ainz menggumamkan sesuatu tentang beberapa alasan lain, lalu dia mengintip ke arah Albedo saat dia bergumam.

Seseorang sehebat Albedo mungkin sudah berpikir lebih jauh ke depan daripada Ainz. Apakah dia akan menganggapnya aneh jika dia memutuskan topik itu sekarang? Itulah yang membuat Ainz tidak tenang.

Saat mata mereka bertemu, Albedo tersenyum, lalu dia mencondongkan lehernya.

Tidak apa respon itu artinya, Ainz mengalihkan matanya. Dan kemudian, kebetulan ada Elder Lich di depannya. Ainz secara tidak sengaja memandang ke arah berkas yang dia pegang.

“-Ahhh. Jadi anda juga berpikir demikian. Ainz-sama. Lagipula, anda kebanyakan melihat dokumen itu. Seharusnya tidak apa mengatakannya kepada mereka berdua juga, ya kan?”

Ainz menoleh ke arah Albedo lagi saat dia tiba-tiba berbicara.

“-Umu. Jadi kamu juga memikirkannya, Albedo.”

“Ya, benar. Saya penasaran apakah anda akan menyebutkan ide itu juga, Ainz-sama. Saya yakin apa yang sedang anda pikirkan adalah apakah boleh atau tidak menjelaskannya kepada mereka berdua, ya kan?”

“Seperti yang kuduga darimu, Albedo. Kamu tahu apa yang kupikirkan tanpa perlu kuucapkan langsung.”

“Anda terlalu baik hati.”

Albedo tersenyum dan membungkukkan kepalanya. Di lain pihak, Aura menggembungkan pipinya karena merasa jengkel.

“Tetap saja, saya tidak percaya tidak terpikirkan keingingan dari Bukubukuchagama, meskipun itu adalah hal yang paling penting untuk dipertimbangkan. Seperti yang diduga dari pencipta kami, Maharja kami. Saya takkan pernah mampu setara dengan keputusan anda yang bijaksana, yang dibuat dengan mempertimbangkan berbagai sudut pandang.”

“Tidak, jangan berkata begitu, Albedo. Aku yakin kamu akan menunjukkan bakat yang melebihi diriku suatu hari.”

Faktanya adalah, Albedo sudah melebihi Ainz hingga sejauh ini. Ainz merasa malu terhadap dirinya sendiri saat dia berpikir begitu, tapi Albedo hanya mengangguk, wajahnya penuh keyakinan.

“ya! Saya akan melakukannya!”

“-Kalau begitu, apa alasan lain yang ada?”

“Benarkah kamu tidak tahu, Aura. Albedo, jelaskan kepada mereka berdua. Buatlah menjadi mudah agar anak kecil pun bisa paham. Ya, itu pasti mudah dipahami.”

Setelah Ainz berkata begini, dia terdiam lalu melihat ke luar jendela sekali lagi. Namun, seluruh saraf di tubuhnya terkonsentrasikan untuk mendengar, karena dia tidak ingin melewatkan satu kata pun dari ucapan Albedo.

“Memang benar. Sebenarnya, saya ingin membawa hal ini kepada Ainz-sama setelah ini. Kenyataannya adalah, sebuah masalah kecil telah muncul.”

“Ehhh? Apakah ada yang membuat masalah? Apakah kamu ingin kami pergi kesana dan menghabisi mereka untukmu?”

“Tidak, bukan seperti itu. Sebenarnya adalah, kita menemukan bahwa tumpukan barang-barang kebutuhan mungkin tidak cukup untuk masa depan. Jadi jika kita memerintahkan kepada semua orang untuk mengganti pakaian mereka sekarang ini, kita hanya akan membuat hal-hal yang menyusahkan seperti menukarkan pakaian dan seterusnya.”

Eh, benarkah? Tentu saja, Ainz tidak bisa mengatakan itu. Yang bisa dia lakukan adalah mati-matian mengingat isi dari berkas yang baru saja dia lihat.

Memang benar, berkas itu mengandung sesuatu seperti barang-barang kebutuhan, tapi jumlahnya seakan masih cukup. Namun, jika Albedo berkata begitu, maka itu pasti benar.

Dengan kata lain, ini adalah situasi yang buruk, ya kan? Tetap saja, jika itu masalahnya, tidak bisakah kita membeli lebih banyak lagi dari Kingdom atau Empire? Sebuah kota seperti ini seharusnya memiliki cukup modal untuk itu, ya kan?

Albedo memiliki jawaban dari keraguan Ainz yang beralasan:

“Kota ini memang merupakan gudang penyimpanan yang sangat baik untuk menyimpan barang-barang kebutuhan, dan berfungsi sebagai kota perdagangan. Namun, sejak Ainz-sama mengambil alih, para pedagang dari tiga negeri lain jarang sekali berkunjung ke tempat ini. Oleh karena itu, kita sedang berada di dalam situasi dimana sisa barang-barang kebutuhan kita semakin menipis.”

“Jika kita tidak memilikinya, mari kita ambil dari tempat lain. Bagaimana kalau dari Empire atau Kingdom?”

“Onee-chan, kita, kita tidak boleh melakukan itu. Ah. A-Ainz-sama sudah bilang kita dilarang menggunakan kekuatan kepada tiga negeri itu, ya kan?”

Memang benar. Meskipun dia tidak tahu tentang masa depan, dia sudah menepatkan selimut larangan untuk penggunakan kekuatan militer sampai dia sudah bisa mengasumsikan kendali penuh terhadap kota ini. Tentu saja, jika pihak lain menyerah dahulu, itu adalah masalah yang benar-benar berbeda.

“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?”

“Er, erm, kita seharusnya tidak usah khawatir. La-Lagipula, A-Ainz-sama akan menyelesaikannya.”

Apakah kamu akan melemparkan ini semua kepadaku sekarang? Ainz ingin menyanggah Mare dengan itu, tapi dia memaksa dirinya agar tidak melakukannya. Setelah Aura memebalas Mare dengan, “Ternyata begitu!” Ainz tidak tega mengkhianati kepercayaan dua anak itu yang dibebankan kepadanya.

Namun, seorang pegawai biasa seperti Ainz tidak mungkin bisa memikirkan peraturan keuangan yang benar. Karena itu, Ainz memutuskan untuk memainkan salah satu dari dua kartu asnya.

Ainz perlahan menoleh, dan dengan percaya diri berkata:

“-Albdo. Kamu sedang menangani ini, ya kan?”

Dengan kata lain, dia akan melemparkan ini semua kepada orang berbakat lainnya (Albedo) dan selesai dengannya.

“ya. Saat ini, benih-benih yang disemaikan oleh Demiurge seharusnya sudah siap dipanen.”

“Begitulah. Kalian berdua tidak usah khawatir.”

Tampang mereka yang berkilauan dengan rasa hormat dan pujian membuat Ainz merasakan perasaan bersalah yang menusuk. Di waktu yang sama, rasa takut melihat tampang kecewa di mata merka ketika mereka mengetahui semua ini hanya palsu mengakar dalam hatinya.

Tetap saja, Demiurge itu. Aku tidak tahu benih apa yang dia tanam, tapi dia benar-benar menakjubkan.

Ainz ingin bertanya tentang panen tersebut, tapi dia tidak bisa.

Ini karena Ainz Ooal Gown seharusnya adalah seorang bintang yang tahu segalanya.

Aku tahu seharusnya aku lebih banyak bejalar tentang ekonomi, tapi aku hanya bisa membaca sepintas sambil lalu buku-buku rumit itu... seperti, mereka seharusnya salah satu dari teori-teori ekonomi Keynesian dan semacamnya lebih mudah dimengerti. Atau jangan-jangan aku sudah diantur demikian karena usiaku?

Ainz memang sangat memahami mekanika game dari Yggdrasil. Ini bukanlah bualan semata; dia telah mempelajari lebih dari 700 mantra dan telah mengingat detil pada tiap-tiapnya, sebuah perolehan yang mengejutkan teman-temannya. Bahkan mantra-mantra yang tidak bisa dia pelajari masih bisa menjadi sebuah senjata untuk bisa membaca kekuatan lawan, ketika dia tahu mantra-mantra itu. Dia bisa dengan mudah menjadi lima teratas diantara teman-teman satu guildnya ketika itu ada hubungannya dengan pengetahuan magic.

Tetap saja, sementara dia bisa melakukan itu, dia benar-benar tidak tahu tentang akademik.

Eh? Jangan-jangan aku tidak bisa ingat lebih banyak lagi karena aku tidak punya sebuah otak?

Ainz tahu bahwa dia telah mempelajari lebih banyak hal sejak datang ke dunia ini. Jadi dia juga tahu jika itu tidak mungkin. Tetap saja, dia sedikit gemetaran dengan teori semenakutkan itu.

“Dan kemudian, saya punya sebuah masalah yang membutuhkan persetujuan Ainz-sama...”

“-Apa? Apakah kamu bilang persetujuan?”

Ainz tidak merasa saran apapun yang dibuat Albedo akan membutuhkan persetujuannya. Lagipula, dia adalah gadis yang pandai, dan pastinya akan membuat pilihan yang lebih baik darinya. Namun, jika memang itu masalahnya, organisasi tidak akan bisa berjalan dengan benar. Lagipula, orang-orang yang ada di atas harus bertanggung jawab terhadap tindakan bawahannya. Karena itu, kelihatannya seorang atasan harus memberikan segel persetujuan dengan cara ini.

“Seseorang harus mengunjungi ibukota kerajaan untuk mendorong para manusia itu. Apakah anda mengizinkan pelayan anda pergi?”

“Apa?!”

Ainz benar-benar terkejut, dan berseru lebih keras dari biasanya.

Mengirim Albedo keluar sementara Demiurge tidak ada membuat Ainz merasa tidak enak. Disamping itu, kendali dirinya terhadap kota ini masih belum sempurna.

Lebih dari apapun, alasan mengapa hal ini sangat mengejutkan adalah karena ini adalah pertama kalinya Albedo berbicara sesuatu seperti ini.

“..Jika aku mengirimmu keluar... aku akan sangat khawatir...”

“Wah,” Albedo tersenyum kegirangan. “Tidak akan apa-apa, Ainz-sama. Saya akan segera menyelesaikan persoalan dan kembali ke sisi anda.”

“Begitukah... yah, jika hanya sebentar seharusnya tidak apa. Siapa yang akan diberi kendali Nazarick dan kota ini?”

Aura dan Mare terlihat sangat terkejut, jadi jelas bukan mereka. Bukan aku, kuharap, Ainz berharap.

“Saya percayakan mereka kepada Pandora’s Actor.”

Aura dan Mare berkata sesuatu seperti “Tidak apa-apa jika itu adalah dia.”

“..Dia, kau bilang.”

“Dia adalah individu yang sangat baik diciptakan oleh anda, Ainz-sama. Seperti yang mereka bilang, anak sama dengan bapaknya – ah, saya minta maaf. Tidak kukira kami yang hanya ciptaan berani mengklaim sebagai anak dari para Supreme Being. Saya berharap anda mau memaafkan sikap kurang ajar saya.”

Permintaan maaf Albedo yang tiba-tiba mengejutkan Ainz – bahkan titik merah cahaya di dalam matanya menjadi pudar.

“Tidak perlu minta maaf. Itu, yah, anakku... maaf. Bukannya aku tidak menyukainya, itu, hm. Anak yang bodoh.. tidak, itu juga bukan salahnya juga..  Yah, bagaimana aku harus mengatakannya. Dia seperti seorang anak. Umu.”

Sebelum dia tahu, semua orang sudah terdiam. Ainz tahu bahwa percakapan itu akan membuatnya garis jika diteruskan. Jadi dia menguatkan diri dan bertanya:

“Jika kita biarkan Pandora’s Actor mengatur hal ini, bagaimana dengan Momon, siapa yang akan memerankannya? Apakah harus aku?”

“Tidak, bagaimana mungkin kami berani melakukan hal semacam itu, Ainz-sama? Saya berencana untuk membuat Momon menerima sebuah permintaan dan dikirimkan ke luar negeri untuk pengintaian.”

Mm, Ainz mengangguk. Meskipun dia berpikir untuk bersantai dengan menyamar sebagai Momon, keadaan sekarang sangat jauh berbeda daripada ketika dia masih memainkan peran sebagai seorang petualang.

Ada banyak hal yang menyusahkan, atau hal-hal yang harus ditangani dengan hati-hati. Oleh karena itu, mengirimkan Momon keluar dalam misi pengintaian mungkin adalah pilihan yang terbaik.

“Ah, te-tentang itu.. jika kamu mengirimkan Mo-Momon-sama keluar, apakah orang-orang di kota ini akan bersikap baik?”

“Tidak apa. Satu gerakan oleh Ainz-sama ini memiliki dampak yang besar. Karena kita tidak menyepelekan para manusia – meskipun tidak ada niat sedikitpun untuk melakukannya – Momon telah menjadi sangat dipercaya. Oleh karena itu, yang perlu kita lakukan adalah buat Momon mengatakan kepada pemimpin lokal untuk mematuhi kita sebelum dia pergi dan semuanya seharusnya baik-baik saja. Tetap saja, setelah dipikir-pikir, mereka tidak tahu bahwa mereka adalah boneka yang sedang menari di tali, dikuasai oleh Ainz-sama.. seperti yang kuduga, hanya beliau yang bisa mengantisipasi perubahan keadaan ini tepat setelah dipindahkan kemari dan membuat persiapan yang tepat.”

“MM – agak aneh, bagaimana mereka mempercayai Momon-sama, tapi bukan Ainz-sama.”

“Memang benar. Tetap saja, ini adalah bagian penting dalam mengendalikan kota dengan penuh dalam nama kedamaian. Yang kita butuhkan hanyalah perlahan-lahan menghapus Momon dan menanamkan loyalitas kepada Ainz-sama sebagai gantinya. Ini mungkin akan memakan waktu tahunan, tapi mau bagaimana lagi.”

“Bagus. Kalau begitu, Albedo, serahkan kepada Pandora’s Actor. Setelah kamu bersiap-siap dan menyerahkan tugasmu, pergilah dan tuailah hasil panennya. Apakah ada hal lain yang kamu perlukan?”

“Saya mengerti. Kalau begitu saya akan berencana untuk melakukan beberapa negosiasi ketika saya pergi untuk melihat raja dari manusia. Bisakah anda memberikan sedikit waktu anda yang berharga untuk memeriksa kembali sebuah draft dengan saya?”

“Umu. Bawakan nanti kepadaku.”

Disamping itu, yang bisa dia lakukan adalah sesuatu yang sederhana seperti meletakkan segel di atas draft Albedo.

“Ditambah lagi, meskipun agak memalukan untuk meminta. Saya akan gembira sekali jika anda bisa memberikan saya beberapa pasang pakaian. Saya hanya berpikir bahwa perlu untuk berganti pakaian di sana.”


“Begitukah. Kalau begitu aku akan berikan kepadamu beberapa set pakaianku. Nanti carilah aku. Ngomong-ngomong, Demiurge – tidak, tidak perlu. Tidak apa. Kalau begitu, ayo lanjutkan... hm, karena kamu sudah jauh-jauh kemari. Aku ingin mendengar dari kalian berdua pula.”

Part 2

Setelah urusan mereka selesai, tiga orang itu keluar dari ruangan dengan para Elder Lich, meninggalkan Ainz dan Fifth. Dan, tentu saja, Eight Edge Assassin di langit-langit.

Sejujurnya, ini adalah akhir dari pekerjaan Ainz hari ini. Sisanya adalah waktu bebas. Sementara ada beberapa urusan yang paling diselesaikan di awal waktu, ketika sudah selesai, dia merasa sangat senggang. Saat dia merenungkan apa yang harus dilakukan dengan waktunya, tiba-tiba Ainz terpikirkan sesuatu dan bangkit berdiri.

“Aku akan menemui Pandora’s Actor selanjutnya.”

Dengan perintah itu, Ainz bergerak maju. Fifth mengikuti tanpa suara. Dan memang sewajarnya, begitu juga dengan Eight Edge Assassin.

Ketika Ainz meninggalkan rumahnya, dia menemukan suasana di luar masih sangat dingin, yang memang cocok dengan musimnya. Anginnya membawa udara yang dingin, tapi Ainz sama sekali kebal terhadap hawa dingin. Setelah menatap ke arah Fifth untuk memastikan dia baik-baik saja, dia melanjutkan perjalanan.

Distrik ini mengandung tiga macam bangunan: kediaman Ainz sendiri, segala macam bangunan pemerintahan, begitu juga dengan rumah untuk tamu. Pandora’s Actor – bukan, Momon tinggal di dalam salah satu rumah tamu.

Biasanya, Ainz akan memanggil Momon ke hadapannya sesuai dengan statusnya sebagai penguasa, tapi apa yang dia lakukan sekarang adalah karena dia berubah pikiran.

“-Hm? Apa ini?” Ainz bergumam saat dia mendekati rumah tamu. Dia sedang melihat ke arah kandang yang menjadi satu dengan rumah tamu. Kata “kandang”  mengartikan bahwa tempat itu digunakan untuk menempatkan kuda-kuda, tapi sekarang hanya ada satu di dalam sana yaitu Hamsuke. Atau lebih tepatnya, begitulah seharusnya.

Karena bingung, Ainz mendekat ke arah kandang, dan mendengar sebuah dengkuran yang keras berbunyi hyu~ hyu~. Tidur adalah hak bagi makhluk hidup, jadi Hamsuke seharusnya ada di dalam.

Matahari sudah sangat tinggi di langit, tapi Hamsuke masih tidur.

Hamsuke bisa melihat di kegelapan sepergi seekor kucing, tapi menurut Hamsuke, dia bukanlah binatang nocturnal ataupun diurnal. Dia makan sampai kenyang lalu tidur sampai lapar lagi. Begitulah cara hidupnya.

Ketika Ainz pertama kali mendengarkan ini, dia penasaran, “Bagian mana yang terdengar seperti Wise King of the Forest (Raja Bijak dari Hutan)”. Ainz merasa seperti orang bodoh yang mengharapkan Hamsuke bersikap seperti seekor makhluk yang cerdas.

“Dia tidak menyadari kita bahkan setelah kita sudah sangat dekat. Apakah dia sudah kehilangan insting binatangnya? Benar juga... makhluk yang bobrok. Tidak, mungkin dia sudah bekerja semalaman.”

“Bukan begitu. Hamsuke-sama disini seharian juga kemarin.”

“..Ternyata begitu.”

Ainz ingin bicara dengan Hasuke meskipun Fifth sudah berkata kejam, tapi dia tidak bisa memikirkan apapun yang ingin dikatakan.

Yah, lagipula dia memang hanya binatang peliharaan. Seharusnya aku tidak mengharapkan apapun darinya. Tidak masalah juga jika dia jatuh pada level seperti itu... Tetap saja, aku sibuk dengan segala macam urusan, tapi dia disini enak-enakan. Benar-benar membuatku marah... meskipun aku tahu aku hanya melampiaskan kemarahanku padanya.

Ainz mendongakkan kepalanya ke dalam kandang, ada hamster raksasa yang sedang tidur di tanah dengan sikap yang tidak waspada sama sekali. Yang dia butuhkan sekarang adalah gelembung raksasa dari hidungnya maka itu akan menjadi gambaran sempurna dari si tukang tidur.

Namun, ada hal lain yang menarik perhatian Ainz, selain dari cara Hamsuke yang sedang tidur seperti seorang paman paruh baya (meskipun seharusnya tubuh Hamsuke tidak bisa melakukan itu).

Ada seorang Death Knight dengan ekor Hamsuke melilit pinggangnya. Makhluk undead itu pasti yang menarik perhatian Ainz ke kandang ini sejak awal.

Karena itu adalah makhluk undead yang dia buat, ada sebuah ikatan diantara mereka dan karena itulah dia bisa menilai lokasi kira-kira. Namun, ada terlalu banyak undead di E-Rantel, jadi indra khusus seperti itu menjadi semakin membingunkan.

Sejujurnya, sangat sulit baginya untuk bisa membedakan lokasi dengan jelas dari undead yang dia buat. Meskipun begitu, Ainz tidak bisa mengingat dia pernah menempatkan salah satunya di dalam kandang, oleh karena itu dia bingung karena menyadari ada satu reaksi undead disini.

“Bangun, Hamsuke.”

“Muuu, ya...”

Matanya berkedip seperti manusia saat wajah besarnya bergerak, lalu dia menangkap penampilan Ainz.

“Ohhhh! Saya bertanya-tanya siapa itu, ternyata itu tuanku!”

“Tidak perduli siapa aku. Biasanya kamu seharusnya memanggilku Ainz-sama, ya kan? Lagipula, kamu adalah kendaraan Momon, bukan milikku.”

“Tentu saja tuanku!”

“Begitukah... yah, selama kamu mengerti..”

Meskipun begitu, reaksi Hamsuke membuat Ainz berpikir, Apakah kamu benar-benar mengerti?

Ditambah lagi, binatang buas magis tidaklah memiliki ketahanan khusus terhadap pengendalian pikiran. Oleh karena itu, Ainz meminjamkan sebuah item kepada Hamsuke yang membuatnya tahan terhadap pengendali pikiran, tapi dia masih tidak tenang karena mungkin saja ada orang yang akan mencoba memanipulasi dirinya melalui cara selain magic.

“yah, karena kamu tidak membuat kesalahan apapun hingga hari ini, aku harus mempercayaimu. Kalau begitu, langsung ke topik utama. Ada apa dengan Death Knight itu?”

“Ohhh! Dia adalah teman yang berlatih dengan aku ini tuanku!”

Saat itulah Ainz teringat.

Dia memang melakukan sebuah percobaan dalam mempelajari martial art sementara Hamsuke berlatih menjadi seorang warrior. Dengan kata lain, dia menggunakan Death Knight ini untuk melihat jika dia bisa meningkatkan level sebagai seorang warrior.

Dia telah melengkapi Death Knight tersebut dengan artefak-artefak yang meningkatkan pendapatan XP tapi itu hanya semakin menambah kelemahan saja. Namun, pada akhirnya Death Knight tidak mendapatkan level apapun. Ainz telah mengantisipasi hasil itu, jadi dia tidka marah. Tetap saja, karena suatu alasan, Hamsuke terus-terusan berlatih dengan Death Knigt itu, jadi pada akhirnya, dia mengambil kembali artefak-artefak dan menyerahkan Death Knight itu kepadanya.

Jadi ini yang itu... Setelah dipikir-pikir, duri pada armornya terlihat agak tumpul... Aku tidak meminjamkannya untuk dijadikan bantal besar, tapi karena aku ingin dia menjadi seorang warrior, atau mungkin menguasai sesuatu... Yah, tidak masalah. Ada cukup banyak Death Knight untuk diperintah. Memberikan satu saja tidak masalah.

Kenyataannya, ada lebih dari cukup Death Knight, begitu banyaknya sehingga Ainz tidak lagi membuat Death Knight ketika dia menciptakan undead setiap hari.

“Begitukah. Aku mengerti. Tetap saja, tak perduli apapun, kamu dulu adalah binatang buas magis. Sangat mengesalkan jika kamu membiarkan seseorang mendekat begitu saja tanpa menyadarinya. Kami tidak sediam-diam seperti Aura, ya kan? Bukankah kamu harus memperhatikan ini lebih serius?”

Hamsuke terlihat putus asa, dan kumisnya menggantung ke bawah.

“Saya ini minta maaf. Saya ini dulunya adalah makhluk yang terkuat di hutan itu. Saya ini tak pernah butuh kewaspadaan karena saya ini tak pernah disergap sebelumnya.”

“Kamu seharusnya memiliki masa anak-anak... atau semacamnya ya kan? Tapi sebelum itu, bukankah ada Giant of the East dan Serpent of the West?”

“Siapa mereka? Orang-orang ini... East? West? Siapa yang anda bicarakan?”

Sebuah tanda tanya terlihat muncul di atas kepala Ainz.

“...Mereka adalah makhluk-makhluk yang mengklaim hutan itu, sama sepertimu.”

“Hoho~ Saya bahkan tidak tahu orang-orang seperti itu ada di hutan! Seperti yang diduga dari anda tuanku! Pengetahuan anda sangat tajam. Saya ini hanya tahu sedikit di luar teritorinya.”

“Kamu... kamu menyebut dirimu Wise King of the Forest dan kamu tetap...”

“Di masa lalu, seorang warrior manusia yang melanggar masuk ke dalam teritori saya memanggil dengan nama itu. Ngomong-ngomong, saya ini mengampuni warrior itu dan warrior itu sendiri karena mengira nama itu terdengar sangat luar biasa. Ah, betapa nostalgianya---“

Ainz merasa bahwa dia akhirnya mengungkap misteri itu.

Setelah warrior tersebut kembali hidup-hidup, dia pasti sangat melebih-lebihkan cerita musuhnya, Hamsuke. Mungkin dengan cara yang sama dalam membenarkan keselamatannya sediri ketika seluruh temannya musnah.

Itu juga tidak terlalu sulit dipahami. Kenyataan bahwa Hamsuke sangat kuat. Dari seluruh warrior manusia yang pernah Ainz temui, mungkin hanya Clementine dan Gazef yang bisa mengalahkan Hamsuke.

Ainz tiba-tiba teringat Gazef.

“Ohh? Apakah ada masalah, tuanku?”

“Tidak.. bukan apa-apa. Hanya saja... ya... hanya saja kamu tidak memiliki kualifikasi sebagai Wise King of the Forest, hanya seekor hamster hutan.”

“Hamster, anda bilang – memang benar, anda pernah membicarakan makhluk itu sebelumnya, tuanku! Jadi saya ini memang benar-benar seekor hamster?”

“Umu. Kamu adalah seekor hamster raksasa.”

“Ohhh! Jadi saya memang benar-benar seekor hamster raksasa! Kalau begitu, apakah anda tahu dimana mencari anggota lain dari spesies ini tuanku?”

“Itu, aku tidak tahu.”

Setelah balasan yang singkat itu, Hamsuke sekali lagi menadi kehilangan harapan. Apakah aku terlalu kasar? Pikir Ainz dan mencoba menenangkan Hamsuke dengan berkata:

“Aku menjamin semua yang melayani Nazarick akan menerima hadiah yang tepat atas pelayanan mereka. Selama kamu melanjutkan pengabdianmu kepada Nazarick, suatu hari aku akan menemukan anggota spesies yang sama denganmu.”

“Ohhh!”

Kumis Hamsuke memantul saat berdiri.

“Meskipun saya ini sudah setia kepada tuanku, saya ini akan melayani tuanku lebih setia lagi mulai hari ini hingga ke depan!”

“Umu umu. Kalau begitu, Hamsuke, apakah Momon – bukan, apakah Pandora’s Actor di dalam rumah tamu?”

“Tiruan tuanku? Saya ini tidak terlalu percaya diri dalam hal itu. Lagipula, dia sering mengendarai kereta dan gerobak yang disiapkan oleh para manusia di kota ini untuknya, dan dia tidak selalu membawa saya dengannya.”

“Ah, kelihatannya aku ingat jika dia mengendarai transportasi itu untuk berbagai informasi.”

Kuku, Ainz tertawa kecil dengan keji.

Semua situasi yang berkembang sesuatu dengan antisipasinya. Di bawah samaran berbagi informasi dengannya, orang-orang akan berkata tentang Momon yang ingin mereka rahasiakan dari Ainz, atau mungkin mereka akan mengeluarkan rencana untuk mendorong pertikaian antara Momon dan Ainz. Namun, sebenarnya adalah, merekalah yang secara tidak sadar diracuni oleh pemikiran-pemikiran Pandora’s Actor.

Ainz adalah raja yang bisa dipercaya, seorang makhluk pengampun yang memikirkan rakyatnya dan seterusnya.

“Aku mengerti. Bagaimanapun... kelihatannya sekarang kamu bisa memakai armor. Jika kamu tidak punya apapun yang dilakukan, bagaimana kalau kamu memakainya dan berlatih?”

Prototipe armor seharusnya sudah selesai.

“Saya mengerti, tuanku! Kalau begitu saya juga ingin melihat para lizardmen-dono, jika mungkin.”

“Baiklah. Aku akan mengabulkan keinginanmu. Aku akan bicara dengan Cocytus setelah ini dan menyuruhnya mengirimkan seseorang kemari.”

“Anda mendapatkan rasa terima kasih tak terhingga dari saya, tuanku. Kemarilah, Death Knight-dono! Mari kita bekerja keras sama-sama!”

Ainz tidak menghiraukan hubungan pertemanan yang membara antara seekor binatang buas dan seekor mayat lalu melanjutkan perjalanannya.

Di belakang Ainz ada sebuah suara yang berkata seperti “Yang benar saja – benar-benar menjengkelkan!” tapi dia tidak bisa membayangkan apa yang mungkin Death Knight itu katakan. Meskipun Ainz secara samar-samar tertarik dengan apa rencana hamsuke, dia segera menyingkirkan pemikiran itu.

Ngomong-ngomong, beberapa waktu yang lalu, kurasa aku memberikan hamsuke... rasanya aku seperti melupakan sesuatu. Oh ya ampun, jika aku tidak bisa memikirkannya, mungkin bukan barang yang penting, kurasa.

Kepala Ainz dipenuhi dengan pemikiran ini, yang tidak bisa dia keluarkan. Rasanya seperti sedang menunggu ingin bersin yang tidak datang-datang. Dia tiba di depan pintu dari rumah tamu, tapi dia tidak melakukan apapun seperti mengetuk pintu. Fifth, yang sedang mengikuti di belakang Ainz, langsung maju ke depan.

“Bukalah.”

“Saya mengerti, Ainz-sama.”

Fifth terlihat sangat serius saat dia membuka pintu itu, tapi sudut mulutnya terlihat santai. Ini pasti datangnya dari rasa puas yang dia rasakan karena mampu membantu Ainz sesuatu.

Kelihatannya aku sudah benar mengamati Jircniv. Aku benar-benar telah menjadi penguasa yang tepat. Memang benar, itu bukanlah cara yang benar dalam memperlakukan Jircniv, tapi aku akan terus mempelajari dirinya mulai sekarang. Lagipula, itu adalah untuk membantuku mempelajari bagaimana menjadi seorang raja.

Ainz tidak berterima kasih kepada Fifth, tapi melihat ke arah pintu yang sedang terbuka.

“-Eight Edge Assassins.”

“Ya! Siap untuk perintah!”

Eight Edge Assassin yang sedang mengikuti di belakang Ainz dengan cekatan membentuk sebuah barisan.

“-Pergilah.”

“Ya!”

Rahang mereka terbuka lalu tertutup, lalu Eight Edge Assassin yang sedang berbaris merespon dengan sebuah suara yang kelihatannya sangat memaksa dari biasanya sebelum masuk ke dalam bangunan. Hanya Pandora’s Actor yang seharusnya ada di rumah tamu. Kadang-kadang, Narberal juga disini, tapi sebagian besar, dia ada di dalam Great Underground Tomb of Nazarick, melakukan perintah Ainz.

Ainz bisa saja menempatkan seorang pelayan biasa disini, tapi bisa merepotkan jika orang-orang yang datang mengunjungi Momon berpikir mereka sedang diawasi. Oleh karena itu, akhirnya menjadi seperti ini. Namun, jika Pandora’s Actor tinggal disini sendirian, ada kemungkinan orang-orang yang mencuci otak Shalltear mungkin akan menyusup ke dalam tempat ini. Oleh karena itu, Ainz merasa akan lebih baik memasang beberapa pencegahan.

...Tetap saja, agar itu bisa terjadi, seseorang harus menyusup hingga kemari. Yah, hanya orang-orang bodoh yang tidak cukup persiapan. ...Mm – tetap saja, berapa lama lagi aku harus menunggu disini. Lagipula, Eight Edge Assassin akan kembali kepadaku. Namun, apakah seorang raja seharusnya menunggu di pintu?

Setelah ragu sejenak, Ainz berpikir, ah lupakan saja, lalu masuk ke dalam rumah tamu.

Dia berjalan maju, dengan menggunakan sikap yang kokoh dan agung yang telah dia latih berkali-kali, dengan cara yang dia anggap paling cocok sebagai seorang penguasa.

Namun, kurang dari 20 langkah, salah satu Eight Edge Assassin kembali dan berlutut di depan Ainz.

“Ainz-sama, kami telah memanggil Pandora’s Actor-sama. Dia akan segera hadir.’

“Begitukah. Kalau begitu aku akan menunggu di ruang tamu.”

Ainz pernah ke rumah tamu ini sebelumnya, jadi Ainz memiliki gambaran kasar tentang tata letaknya. Setelah Fifth membuka pintu itu untuknya, Ainz bergerak tanpa ragu ke arah tempat duduk utama di ruang tamu.

Ini sangat melanggar banyak sikap yang dia terapkan sebagai seorang pegawai dan merasa bersalah. Namun, ini adalah tugas yang mudah bagi Ainz, yang telah menghabiskan waktu berlatih menjadi seorang penguasa.

Segera setelahnya, sebuah ketukan datang dari pintu. Ainz mengangguk kepada Fifth.

Setelah memperoleh izin, Fifth membuka pintu itu, lalu Pandora’s Actor memasuki ruangan tersebut. Dia tidak sedang menggunakan magic untuk muncul sebagai Momon, tapi dengan seragam militernya yang biasa.

“Oh, Yang Mulia, penciptaku Ainz-sama...”

“Tidak perlu menyapaku. Duduklah.”

“Baik!”

Dia memukulkan tumit sepatunya bersama-sama sebelum maju.

Gerakannya selembut dan serenyah seorang pasuka, tapi bagi Ainz, gerakan-gerakan itu sangat tidak perlu. Ucapan terbaik untuk menjelaskan ini adalah ‘overacting’.

Dengan demikian, Pandora’s Actor berjalan maju ke tempat di samping Ainz dan duduk.

Bukan orang-orang biasanya duduk saling berhadapan satu sama lain?
Setiap orang memiliki sebuah area di sekeliling merkea yang disebut jarak pribadi mereka, tapi Ainz mau tidak mau menatap Pandora’s Actor serangan kilat tanpa rasa bersalah kepadanya.

...Yah, kurasa itu tidak apa-apa. Tetap saja, dia terlalu dekat sekali...

Ainz memeriksa Pandora’s Actor dengan teliti saat dia duduk. Dia tidak lagi merasakan rasa terkejut yang sama seperti yang dia dapatkan ketika pertama kalinya dia melihat Pandora’s Actor di ruangan harta. Mungkin seiring berlalunya waktu dan bertemu dengannya berkali-kali untuk memberikan perintah telah melunakkan pukulan padanya.

“Bolehkah saya bertanya—“

“Tidak, bukan apa-apa, jangan khawatir. Baiklah, aku punya sesuatu untuk ditanyakan kepadamu. Pertama, aku ingin tahu kondisi Momon. Aku tahu apa yang telah kamu laporkan kepada Albedo...  jadi, apakah ada masalah?”

“Kelihatannya tidak ada yang spe-“

“Begitukah. Bagus. Kalau begitu, aku ingin bertanya kepadamu, sebagai Pandora’s Actor – apakah ada masalah dari sisi dirimu?”

Suasana hati di udara berubah.

“Sebenarnya, Ainz-sama!”

Ainz condong ke belakang, seakan ada tekanan luar biasa dari Pandora’s Actor yang meremukkan dirinya.

“Saya, Saya telah sangat menderita!”

Sebenarnya siapa yang menderita disini?!

Namun, Ainz tidak punya waktu menembakkan balik dengan ucapan itu sebelum Pandora’s Actor melanjutkan bicaranya.

“Selama ini, saya tidak pernah sekalipun bisa menyentuh item-item magic. Saya tidak mampu merawat berbagai item magic yang diciptakan oleh Supreme Being. Pengurutan kristal-kristal data menjadi terhenti pula. Tolonglah! Tak perduli bagaimana, Ainz-sama! Saya mohon pada anda untuk memberikan saya sedikit waktu dengan item-item itu!”

“...Aku, apakah aku mendesainmu seperti itu?”

“Itu memang tidak diragukan lagi! Perasaan ini diberikan kepadaku oleh anda sendiri, Momonga-sama!”

“...Ahhhhh.”

Ainz mati-matian mencoba mengingat bagaimana dia mendesain Pandora’s Actor. Dia bisa mengingat memberinya semacam cerita latar yang menyatakan bahwa dia suka mengatur item-item magic dan sebagainya. Niat Ainz pada awalnya adalah mendesain dia seperti itu sehingga dia tidak akan merasa aneh sendiri di ruang harta – memang benar, bisa dianggap dikelilingi oleh hal-hal yang kamu senangi adalah pekerjaan yang enak. Jadi kelihatannya pengaturan kepribadian Ainz adalah sumber masalahnya. Namun, entah karena suatu alasan, kelihatannya sudah sampai pada level fetish.

“Apakah aku tidak mengizinkanmu untuk kembali ke Nazarick setiap harinya?”

Sementara separuh dari undead Nazarick dibuat oleh Ainz, separuh lainnya dibuat oleh Pandora’s Actor. Memang benar, undead yang dibuat oleh Pandora’s Actor memang lebih lemah daripada yang dibuat oleh Ainz, pada hal-hal tertentu. Tetap saja, itu masih dalam parameter yang bisa diterima, dan ada mayat-mayat beku dalam jumlah yang cukup di lantai 5 untuk tujuan itu.

Kenyataannya, ada begitu banyak mayat tersebut sehingga dua orang itu bekerja sama pun takkan bisa menghabiskannya.

“Namun, saya tak pernah menerima izin untuk kembali ke ruang harta!”

Apa yang sedang dia rasakan sehingga dia mengeluarkan teatrikalnya yang seperti biasa!”

“Aku mengerti. Kalau begitu, aku akan menginformasikan kepada Shalltear dan menyuruhnya memberikan cincin kepadamu. Ditambah lagi, aku memperbolehkanmu untuk mengerjakan senjata-senata dan equipment rekan-rekanku. Jangan sampai merusakkannya.”

“Tentu sa-“

“Hentikan itu. Berbicara seperti biasa. Bukakah aku sudah bilang ini sebelumnya, hm, Pandora’s Actor?”

“Ya!”

“Hubungan antara kita adalah antara pencipta dan yang diciptakan. Kenyataannya adalah, aku sangat senang dengan cara kamu bekerja keras untuk menunjukkannya kepadaku makhluk yang ingin kamu jadikan. Namun, suatu ketika aku bertanya-tanya; apakah anak-anak seharusnya bekerja melebihi orang tua mereka?”

“Ohhh...Ainz-sama. Tidak kukira anda menganggap saya sebagai anak anda!”

“Umu, umu. Kamu adalah, er, anakku, atau seperti itu. Itu, er, bagaimana aku harus menjelaskannya, seharusnya, er seharusnya memang begitu. Oleh karena itu, tidak perlu menggunakan bahasa Jerman dan sikap hormat atau menjadi sangat dramatis di depanku. Karena aku yang membuatm, aku ingin melihat bagian-bagian dari dirimu yang tidak kubuat, sebagai bukti bahwa kamu sudah tumbuh.”

Ainz menatap ke belakang terhadap suara dari sesenggukan, dan melihat Fifth yang sedang mengusap sudut matanya dengan sapu tangan.

Apa?

Apakah dia tidak terlalu mudah menangis?

Saat Ainz merasa bingung, Pandora’s Actor membungkukkan kepalanya.

“Saya mengerti – Ayah!”

“...Oh.”

“Saya akan tunjukkan padamu apa yang ingin engkau lihat, ayah!”

Dia salah, Dia terlalu sembrono. Meskipun itu tidak mungkin, Ainz merasakan sakit kepala menyerangnya.

“Pandora’s Actor. Kamu tidak boleh bilang kepada siapapun apa yang terjadi di sini. Mengerti? Jika orang-orang tahu kamu menerima perlakuan istimewa, itu bisa memantik gesekan dengan yang lain. Dan juga – kenyataannya, karena itu, aku akan menempatkanmu dalam prioritasku yang lebih rendah. Jika tiba saatnya ketika aku harus memilih membantumu atau para guardian, aku akan mengabaikanmu.”

“Tentu saja! Silahkan, korbankan saya sesuka anda!”

Saat Ainz melihat Pandora’s Actor menyorongkan dadanya sambil berbicara, sebuah perasaan bersalah tumbuh di hati Ainz.

“Maafkan aku. Dan... Fifth. Jangan katakan kepada siapapun apa yang terjadi di sini.”

Setelah melihat Fifth mengangguk setuju, Ainz mengangguk pula.

“Kalau begitu, aku akan pergi dulu.”

“Ah, tentang itu, bisakah anda tunggu sebentar? Karena kita jarang bertemu, ada masalah yang ingin saya tanyakan kepadamu, Ayah. Bolehkah saya tahu bagaimana ada berniat memerintah Sorcerous Kingdom ini?”

“Apa?”

“Banyak manusia yang ragu-ragu dengan jalan yang anda ambil untuk menjalankan negeri ini, Ayah. Seperti misalnya, jika anda ingin mengadopsi peraturan untuk pelebaran, mereka takut jika mereka akan dikirimkan ke medan perang, dan seterusnya.”

Ainz terdiam di tempat.

Kemana dia akan mengarahkan Ainz Ooal Gown?

Pada awalnya, Ainz hanyalah orang biasa, namun dia telah mengutarkan tujuan yang hampir tidak mungkin bisa dicapai seperti menguasai dunia. Ainz berhenti memikirkannya. Dia merasa akan lebih baik untuk menyerahkan masalah ini kepada orang-orang cerdas seperti Albedo atau Demiurge.

Meskipun begitu, masalah tentang bagaimana menjalankan sebuah negeri adalah sebuah pertanyaan yang tidak bisa dia hindari.

“A, Apakah ada yang salah, Ayah?”

“...Aku bermaksud memberitahumu, tapi aku masih menyusunnya di otakku. Aku akan mendiskusikan masalah ini dengan berbagai Guardian Nazarick lalu memberitahukannya kepadamu.”

“Ya!”

Ainz bangkit tanpa suara.

“Begitulah semuanya, Pandora’s Actor.”

Setelah mendengarkan Pandora’s Actor yang mengucapkan perpisahan, Ainz meninggalkan ruangan tersebut.

Sebelum dia melewati pintu utama, dia mengirimkan sebuah [Message] kepada Shalltear sebelum dia lupa, memberitahukan permintaan Pandora’s Actor. Jika dia menundanya, dia mungkin akan lupa nantinya.

Ketika dia tiba di pintu, Ainz bergerak lebih cepat daripada Fifth lalu membuka pintu itu sebelum Fifth melakukan itu untuknya.

Lalu, dia melihat ke langit.

Itu adalah langit biru yang cerah.

“Aku akan terbang,” ucap Ainz pendek. Meskipun orang-orang di belakangnya mulai panik, Ainz memilih untuk tidak menghiraukannya.

Ainz mengambang di langit berkat mantra [Fly], lalu mendarat di atas atap dari rumah tamu.

Karena E-Rantel adalah sebuah kota yang dilindungi oleh tiga lapis dinding, dari sudut pandang ini, separuh dari jangkauan penglihatannya dihalangi oleh dinding-dinding kota.

“Aku tak bisa melihatnya dari sini, huh? Kelihatannya aku memang harus jalan-jalan.”

Dia mungkin bisa memikirkan sesuatu jika dia jalan-jalan. Tetap berada di sini berarti bawah tidak mungkin Ainz bisa memikirkan sesuatu.

Baru saja, sosok-sosok dari Eight Edge Assassin – yang memanjat dinding-dinding tersebut – muncul di depan Ainz pula.

“Ainz-sama, tolong tunggu! Berbahaya sekali pergi sendirian!”

Ainz tidak bisa begitu saja menertawakan ucapan dari Eight Edge Assassin.

Seseorang yang sedang berdiri di tengah-tengah area terbuka yang luas dengan pandangan bagus di segala penjuru sama artinya meminta di sasar oleh penembak jitu.

“Memang benar. Aku akan menjadi target yang bagus jika lawanku adalah Peroroncino-san.”

Peroroncino sang pemanah (archer) – yang paling memiliki spesialisasi dalam pertarungan jarak jauh di dalam guild Ainz Ooal Gown – mungkin akan mampu melukai Ainz dengan parah. Orang itu bisa dengan mudah menyerang bahkan dari jarak lebih dari dua kilometer. Taktik favoritnya adalah menyembunyikan diri lalu menembak lawannya dengan tepat – walaupun hanya dengan sebuah busur. Oleh karena itu, meskipun jika lawannya adalah Peroroncino, Ainz tidak berniat membiarkan dirinya dipermainkan sampai mati.

Ainz percaya diri dia bisa menggunakan berbagai cara untukb ertahan, kabur, atau menyerang balik. Dia telah mengasah kemampuannya melalui PVP, dan dia pasti tidak akan mati begitu saja tanpa merespon. Namun, jika dia harus waspada terhadap metode serangan yang hanya di dunia ini, Eight Edge Assassin ada benarnya.

Ainz tidak boleh mati sekarang. Setidaknya, sebelum bereksperimen dengan menghidupkan para player, dia harus menganggap dirinya hanya punya satu nyawa, dan mempersiapkan perisai daging untuk dirinya sendiri.

Pilihan terbaik dan teraman untuk itu adalah Albedo, yang memiliki kekuatan bertahan yang paling tinggi diantara para Guardian. Namun, dia membutuhkan orang-orang untuk melindunginya pula, yang mana memerlukan peluncuran pasukan dalam jumlah besar. Dia tidak melakukan itu sampai setidaknya itu adalah untuk tujuan memancing serangan musuh.

Jika itu masalahnya, pilihan terbaik adalah para bawahan level tinggi yang bisa dibuang, tapi-

Aku tidak memiliki bawahan monster-monster level tinggi. Meskipun aku ingin menggunakan monster-monster bayaran, aku telah menghabiskan banyak uang memanggil bawahan Albedo, jadi aku tidak memiliki uang untuk memanggil monster-monster begitu saja.

Ainz telah memutuskan untuk membuat pertunjukan besar dalam menghabiskan uang untuk membuktikan kebaikannya, dan sekarang samar-samar dia menyesalinya. Yang bisa dia lakukan adalah menenangkan diri dengan berkata bahwa dia harus mempertahankan imej dirinya sebagai bos Albedo.

Tunggu sebentar, mari dipikirkan dengan dengan teliti selangkah demi selangkah.

Ainz mengurutkan berbagai kemungkinan di otaknya.

Monster-monster bayaran. Dia tidak memiliki uang, jadi mereka tidak bisa.

Skill, [Undead Lieutenant]. Membutuhkan XP, jadi dia memutuskan untuk menolaknya.

Menggunakan summon dari tongkat Ainz Ooal Gown. Kenyataannya dia harus membawa senjata Guild bersamanya berarti itu sudah tidak bisa dimasukkan.

Skill, [Create Undead]. Meskipun dia membuat undead tingkat tinggi, hanya akan sampai level 70, yang mana tidak bisa dia percayakan untuk mengantar para Guardian.

Tidak, aku masih memiliki sebuah kartu as simpanan.

Dia telah mengembangkan skill penciptaan undead melalui penggunaan ritual kegelapan.

Dia hanya bisa menciptakan undead tingkat tinggi empat kali sehari. Namun, jika dia membaginya menjadi dua penggunakan, dia bisa membuat undead sekitar level 90.

Ainz mengusap dagunya, dan penasaran undead macam apa yang harus dibuat. Thief – tipe Eternal Death, atau tipe bola mata yang fokus pada sensor...

Benar, Eternal Death adalah undead yang sangat baik untuk digunakan, tapi mereka memiliki skill pasif yang disebut [Aura of Death and Decay] yang terus-terusan menimbulkan efek. Itu adalah skill yang mumpuni menggabungkan efek dari milik Ainz [Despair Aura V (Instant Death)] dan [Despair Aura I (Fear)], membuatnya sebagai makhluk yang akan memberikan kematian secara cepat dan penalti stat kepada musuh. Khususnya, penalti stat bukanlah kemampuan yang mempengaruhi otak. Ini membuat skill tersebut bisa melewati efek yang mempengaruhi otak, sehingga membuatnya sulit dihadapi.

Meskipun begitu, jika kemampuan ini digunakan ketika melukai teman bisa terjadi, hal itu akan melukiskan gambaran seperti neraka dan penderitaan serta kesengsaraan. Tentu saja, dia mungkin bisa memerintahkan mereka untuk menekan kemampuan itu, tapi membawa undead seperti itu ke jalanan kota adalah hal yang benar-benar gila.

Beberapa monster-monster menakutkan lainnya muncul di otaknya, tapi dia membuang semua ide itu.

...Bagaimana aku harus mengatakan ini.. mereka memang mumpuni, tapi mereka semua terlihat buruk.

Tak ada satupun yang cocok sebagai penjaga seorang raja ketika berjalan-jalan di jalanan.

Saat Ainz merasa bingung dengan masalah tersebut, dia menyadari Fifth berada di bawahnya, mencoba mati-matian memanjat dinding.

Tanpa berkata yang lainnya, Ainz melompat, menggunakn [Fly] di tengah udara untuk memperlambat turunnya, lalu dia mendarat dengan anggun di tanah bawah.

Fifth – yang sedang mencengkeram bingkai jendela dan wajahnya tersipu merah – bergegas menempati posisinya di belakang Ainz.

“Fifth.”

“Ya!”

“Aku akan jalan-jalan ke kota setelah ini.”

“Saya mengerti, saya akan mempersiapkan kereta segera!”

“Tidak, itu tidak perlu. Aku berniat untuk mengamati kondisi di dalam kota. Aku menguasai jalanan, jadi aku berencana untuk jalan kaki.”

“Eh?! Tapi itu hanya akan mengotori kaki anda yang berharga! Silahkan perintahkan kepada kami untuk membersihkan jalan itu untuk anda! Dan kami pasti akan mempersiapkan para pengawal!”

Beberapa jalanan di E-Rantel memang berbatu, jadi setelah hujan, sisanya akan menjadi lumpur yang memanjang.

“Itu tidak perlu. Aku pernah tinggal di kota ini sebelumnya.”

Meskipun begitu, setelah check in di penginapan, Ainz langsung kembali ke Nazarick untuk membuat undead.

“Ditambah lagi, aku berniat untuk memanggil para pengawal dengan magic, jadi tidak perlu mengirimkan orang dari Nazarick.”

“..JIka itu adalah keinginan dari Yang Mulia.”

Tetap saja, pertanyaannya adalah apa sisanya yang bisa disummon. JIka aku memanggil demon atau undead, itu akan membuat rumor buruk dan gosip yang keji. Jadi aku perlu memanggil sesuatu yang cantik, untuk meningkatkan pendapat terhadap diriku. Apa yang cocok dengan itu...

Saat dia memikirkannya, Ainz menemukan jawabannya.

“Aku akan memanggil angel setelah ini. Ayo pergi.”

“Ya.”

Meskipun nilai karma dari Ainz sangat negatif, dia tidak ada masalah memanggil angel, yang nilai karmanya sangat tinggi positifnya. Ada beberapa kelas yang memiliki penalti tidak bisa memanggil monster-monster yang memiliki nilai karma yang terlalu berbeda dari dirinya, tapi Ainz tidak memiliki kelas seperti itu.

Dan ternyata, monster-monster yang dipanggil oleh kelas-kelas itu menjadi lebih kuat jika semakin dekat dengan nilai karma tuannya.

Di dalam Yggdrasil, segala kekurangan akan memiliki keunggulan yang sama pula.

Ainz menuju ke arah halaman.

Seperti yang diduga dari sebuah tempat yang digunakan untuk membuat kuda jalan-jalan, melatih berburu dan segala aktifitas semacamnya, luasnya rumput-rumput yang dipotong rapi membuat halaman itu memang sangat luas.

“Kalau begitu, ayo mulai. Ini mungkin akan memakan waktu, jadi bicaralah kepadaku sementara itu.”

“Si-Siapa, saya?

“Benar sekali. Dengan kata lain, aku ingin tahu segala hal tentang lantai 9 Nazarick – benar juga. Katakan kepadaku tentang pekerjaanmu. Apakah ada sesuatu dengan kamar-kamar yang sedang kamu bersihkan?”

Ainz tidak menunggu balasan dari Fifth. Setelah mengganti bagian-bagian dari equipmentnya, dia merapalkan mantra.

Mantra ini adalah mantra tingkat super [Pantheon], yang mirip dengan mantra tingkat 10 [Armageddon – Good] dan mantra tingkat super [Nibelung 1], dan sangat berlawanan dengan mantra tingkat super [Pandemonium].

Dia mendengarkan ucapan-ucapan Fifth saat dia menunggu mantra tingkat super itu bekerja. Jika ada sebuah kebutuhan mendadak untuk mengambil tindakan, Ainz biasanya akan menggunakan item cash, tapi melakukan hal itu saat ini akan sangat sia-sia.

Bercakap-cakap dengan para pelayan itu tidak buruk, pikir Ainz.

Ditambah lagi, ini adalah pertama kalinya dia mendengar jika kamar Albedo terlarang bagi para pelayan.

“-Ternyata begitu. Yah, ini benar-benar percakapan yang sangat berarti. Meskipun aku baru saja memikirkannya, kembalilah ke kamarku dan bawakan Nurunuru-kun kemari. Akan sangat merepotkan tanpa dia.”

“Saya mengerti!”

Ainz melihat seragam pelayang Fifth yang bergoyang kesana kemari saat dia berlari-lari kecil menjauh, sementara Ainz tetap tinggal di halaman.

Sambil menunggu, Ainz mengingat ucapan Fifth.

Kelihatannya, Albedo sudah bilang kepada para pelayan bahwa dia akan menangani bersih-bersih ruangannya sendiri sebagai bagian dari latihannya menjadi pengantin, jadi dia tidak ingin siapapun masuk ke dalam kamarnya.

Ainz bergumam “Ya Ampun” kepada dirinya.

“Albedo, bukannya aku tidak mengerti perasaanmu, tapi kenyataan bahwa kamu adalah orang yang sibuk, jadi kamu seharusnya menyerahkan bersih-bersih itu kepada para pelayan, aku tidak bisa benar-benar mengatakan hal ini, tapi kelihatannya aku adalah penguasa yang lebih baik darimu, dalam hal itu.”

Tidak lama, Fifth kembali, pontang-panting dan menyerahkan Nurunuru-kun. Ainz tersenyum, puas dengan kemampuannya dalam memerintah.

“Terima kasih.”

Ainz menerima Lip Bug dari Fifth dengan sebuah ucapan penghargaan. Lalu, dia meletakkan Lip Bug ke dasar tenggorokannya yang hanya tulang belulang.

“Ah, er, um.”

Entah bagaimana, ada sebuah perubahan dalam suara Ainz. Memang benar, itu adalah kemampuan spesial dari makhluk tersebut, tapi dia masih tidak mengerti. Yang bisa dia lakukan hanyalah menerimanya.

Ainz mengesampingkan keraguannya dan merapalkan mantra tingkat super. Enam pilar cahaya muncul di sekitarnya, dan dari pilar-pilar itu muncul enam angel.

Angel-Angel ini memiliki kepala singa, dengan sepasang sayap yang melebar keluar dan ditambah sepasang yang terlipat di sekitar mereka, dengan total empat sayap. Masing-masing memakai armor berkilauan dan memegang perisai dengan corak mata di salah satunya dan tombak api di tangan lainnya.

Angel-Angel ini sekitar level 80, dan mereka disebut Cherubim Gatekeepers.

Ainz tidak tahu banyak tentang mythologi, jadi dia tidak tahu mengapa mereka disebut gatekeepers, tapi dia tahu kekuatan mereka sebagai monster.

Cherubim Gatekeepers sangat cocok dengan tugas sebagai tanker, dan kemampuan sensory mereka yang besar juga membuat mereka sangat baik untuk berjaga-jaga.

“Lindungi aku. Jangan bunuh musuhku, tapi buat mereka menjadi tidka berdaya sambil memberikan sedikit mungkin damage.”

“Mengerti, wahai summoner.”

Perintah ini bukan berdasarkan kebaikan hati. Meskipun Ainz tidak ragu-ragu dalam membunuh lawannya, dia harus mempertimbangkan jika orang-orang mungkin sedang merencanakan sesuatu di balik layar. Ditambah lagi, dia harus membiarkan Momon yang melakukan eksekusi, oleh karena itu perintahnya untuk menangkap musuh hidup-hidup.

“Kalau begitu, ayo pergi.”

Ketika para angel memasang formasi bertahan di sekitar Ainz, dia langsung bergerak maju.

Mantra Summon – termasuk mantra tingkat super ini – akan berhenti setelah beberapa saat. Oleh karena itu, dia harus menghindari buang-buang waktu.

“Para Angel, Fifth akan berjalan dengan kita. Lindungi dia sama seperti kalian melindungiku.”

“Mengerti, wahai Summoner.”

“Ai-Ainz-sama, bagaimana mungkin tubuh hamba bisa dibandingkan dengan wujud berharga dari Yang Mulia?”

“...Fifth, mungkin kamu memang seorang pelayan, tapi kamu masih tetap ciptaan dari salah teman-temanku. Oleh karena itu, kamu sangat berharga bagiku. Ingat itu baik-baik, karena aku merasa agak repot mengulang-ulang hal itu terus. Kalau begitu bilang kepada semua teman-temanmu.”

“Terima kasih, Terima kasih banyak!”

Secara tak sengaja, dia tidak mengatakan hal yang sama kepada Eight Edge Assassin, karena mereka disummon dari emas Yggdrasil. Ainz mungkin merasakan penyesalan yang sama karena harus mengorbankan mereka, tapi mereka tidak memiliki nilai lebih dari itu.

“Ayo pergi.”

Dengan enam Angel, Fifth, dan beberapa Eight Edge Assassin – sisanya adalah para pengawal – di belakang, Ainz menuju gerbang.

Disana terdapat Crypt Lord, yang memerinta lebih dari dua puluh Death Knight.

Berpakaian jubah ungu yang compang camping yang dulunya luar biasa, dan memakai sebuah mahkota yang mengeluarkan sinar yang seperti biasanya cerah. Itu adalah undead level 70 dari Nazarick.

Skill-skill tipe komandan miliknya bisa memperkuat Death Knight yang dikendalikan, tapi sekarang tidak bisa karena Death Knight itu adalah dibawah kendali Ainz. Oleh karena itu, Ainz telah meletakkan disini karena dia mengakui kemampuan mengaturnya yang sangat baik.

“Aku akan keluar setelah ini, beritahu Albedo.”

Setelah berjalan melewati Crypt Lord – yang sedang membungkuk dalam-dalam – Ainz tiba di jalanan.

Dia tidak memiliki tujuan tertentu.

Daripada jalan-jalan, itu lebih seperti dia ingin menemukan jawaban dari pertanyaan Pandora’s Actor. Dia tidak akan bisa mengeluarkan ide seperti biasanya jika dia diganggu dari semua sisi.

Ainz membuka langkahnya saat dia membayangkan masa depan dari Sorcerous Kingdom Ainz Ooal Gown nantinya di bawah kekuasannya.

Part 3

Ainz dan rombongannya bergerak maju dalam satu baris lurus di sepanjang jalan utama.

Sulit dikatakan jalanan tersebut dipenuhi dengan kehidupan. Itu terlihat jelas sekali ketika dia membandingkan ingatan saat dia dulu sebagai Momon dengan pemandangan di depannya sekarang. Ekspresi dari para pejalan kaki terlihat suram, dan mereka kelihatannya bergerak sedikit lebih cepat.

Sebaliknya, para Death Knight berjalan dengan bangga di sepanjang jalanan. Mereka mungkin sedang berpatroli di tempat yang biasanya ditempati oleh penjaga kota. Ainz hanya memberikan mereka perintah sederhana: tangkap siapapun yang melakukan kekerasan, lindungi siapapun yang meminta bantuan.

Ainz menolehkan tatapannya ke arah dinding kota.

Sebagian dari Death Knight yang diproduksi secara massal ditugaskan untuk tugas jaga di atas dinding-dinding itu. Ada yang lainnya seperti mereka yang sedang mengawasi gerbang kota atau berpatroli. Namun, yang paling aneh adalah dimana mereka dipekerjakan untuk membangung desa baru dengan para penduduk dari distrik kumuh.


Orang-orang yang menempati perumahan kumuh biasanya adalah anak kedua atau ketiga dari sebuah keluarga di desa: merkea yang tidak memiliki ladang sendiri untuk bekerja. Mereka memimpikan kehidupan yang lebih baik di kota, namun pada akhirnya, mereka hanya bisa mengikis keberadaan orang miskin yang menyedihkan di tengah-tengah abu impian mereka. Oleh karena itu, Ainz berjanji memberi mereka sebuah bidang tanah, dan mengirimkan mereka kesana.

Mereka dikirimkan ke reruntuhan desa-desa yang telah terbakar karena ulah Slaine Theocracy. Karena mereka jatuh karena alasan dari luar, yang dibutuhkan adalah membersihkan reruntuhan itu, mencari desa baru, dan desa itu akan dengan sendirinya bangkit.

Karena mereka diserang di masa lalu, Ainz mengizinkan para Death Knight dan Soul Eater untuk pergi dengan mereka sebagai penjaga, dan dia juga memerintahkan kepada mereka untuk membantu para penduduk desa dengan pekerjaan ladangnya.

Memang benar, tak ada satupun dari Death Knight dan Soul Eater itu yang mahir dengan pekerjaan di ladang. Namun, mereka jauh lebih unggul dalam hal tenaga fisik dan mentah. Pada dasarnya mereka adalah peralatan bertani untuk tugas berat yang tidak membutuhkan bahan bakar dan bisa berfungsi 24 jam sehari. Mereka sangat ideal untuk tugas mengoleh tanah dan pekerjaan berat, dan mereka pasti akan memberikan kontribusi yang besar di musim panen mendatang.

Tujuan Ainz adalah membangun desa kembali dalam satu tahun, dan agar mereka bisa mencukupi kebutuhan dasarnya. Lalu nantinya mereka bisa memulai masa panen secara teratur di tahun kedua.

Namun, tujuan membangun desa-desa hanya untuk mengambil hasil mereka sebagai pajak dan membuangnya ke dalam ‘Exchange Box’, dimana nantinya akan berubah menjadi koin-koin emas Yggdrasil. Albedo dan Demiurge memuji ide ini hingga selangit, jadi seharusnya bisa dikerjakan.

Ainz telah membiarkan undead itu kepada mereka agar bisa menghindari buang-buang waktu dalam menguasai alam liar.

Di waktu yang sama, karena undead itu dipinjamkan, Ainz akan mengambil biaya sewa tambahan kepada mereka ditambah dengan pajak yang disetujui. Sementara dia tidak perlu untuk meminta biaya sewa kepada mereka, dia menemukan ide itu setelah mempertimbangkan bahwa dia mungkin nantinya akan meminjamkan undead kepada berbagai macam orang-orang lain di masa depan.

Sementara rencana tersebut memprioritaskan pengiriman penduduk kumuh dalam jumlah besar – dengan keluarga mereka di belakang – ke luar kota, itu tentunya bukanlah alasan satu-satunya kurangnya orang-orang di jalanan.

Itu mungkin karena Ainz. Ketika para pejalan kaki berpapasan dengannya di jalanan, mereka akan menatap dengan mata lebar sebelum kembali ke arah asal mereka, atau memutarinya.

Itu seperti sedang berjalan di tanah yang terbuang.

Tetap saja, ditakuti juga tidaklah buruk. Itu jauh lusinan kali lebih baik dari pada diremehkan.

Meskipun begitu, sulit dipercaya kotaku akan menjadi tempat yang sangat sepi seperti ini...

Ainz tidak perduli apa yang terjadi dengan orang lain selama Great Underground Tomb of Nazarick dan NPC-NPCnya senang. Namun, apa yang akan dipikirkan oleh teman-teman lamanya jika mereka ada di sini?

Apakah mereka akan seperti Ainz, yang terkena efek menjadi undead, dan akhirnya dipengaruhi oleh sifat asal mereka sebagai monster? Apakah mereka akhirnya akan menganggap manusia tidak lebih dari makanan ternak? Atau apakah mereka akan melanjutkan pegangan mereka terhadap emosi kuat yang berasal dari saat mereka masih menjadi manusia?

Mau kujadikan seperti apa negeri ini nantinya...

Saat Pandora’s Actor berkata demikian, Ainz perlu memutuskan bagaimana menjalankan negeri ini dan bertujuan untuk menguasai kota ini.

Seperti contohnya, dengan bercocok tanam gandum dan semisalnya, lalu membuangnya ke dalam ‘Exchange Box’ dia bisa mendapatkan koin-koin yang bisa digunakan untuk memperkuat Great Undergroun Tomb of Nazarick. Negeri itu akan menjadi satu-satunya negeri yang tujuannya hanya untuk menghasilkan mata uang.

Sebagai contoh, dia bisa mengembang biakkan lalu membantai manusia, itu akan membuat negeri itu menghasilkan XP yang akan disimpan di dalam “Greed and Generosity”.

Misalnya, dia bisa menyerahkan seluruh tugas produksi dan pekerjaan itu kepada undead, membuat sebuah negeri dimana makhluk hidup tidak perlu bekerja.

Dan sebagai contohnya—

Dari sebuah tanah yang dipenuhi dengan cinta menjadi sebuah tanah yang dipenuhi dengan kebencian, bagaimana nantinya negeri yang memiliki nama guild ini jadinya?

Dia tidak bisa menyerahkan keputusan itu kepada para bawahannya. Ini adalah tugasnya, tanggung jawabnya, sebagai penguasa dari Nazarick dan Sorcerous Kingdom of Ainz Ooal Gown.

“-Fifth, bagaimana menurutmu kota ini? Negeri ini?”

“Maafkan saya sedalam-dalamnya. Bolehkah saya tahu bagaimana anda ingin saya menjawab?”

Ainz terlalu abstrak. Ainz memutuskan untuk bertanya lagi:

“Apakah kamu merasa ini adalah negeri dimana kamu bisa hidup bahagia? Katakan yang sebenarnya dan jangan menyimpannya.”

“Ya, Saya sangat senang di negeri ini karena anda telah menguasainya, Ainz-sama.”

Ainz melihat ke langit dan menghela nafas. Yah, dia seharusnya bisa menduga seorang NPC akan memberikan jawaban seperti itu.

“Hanya saja—“

“Oh, ada apa? Katakan kepadaku apapun yang kamu pikirkan.”

“Saya mengerti. Mengapa meskipun anda disini, Ainz-sama. Tidak ada satu orangpun yang memberi hormat kepada penguasa dari negeri ini, kepada anda yang mulia? Dan dari cara mereka bersembunyi di dalam gedung dan mengintip keluar kepada anda... Benar-benar membuat marah!”

Fifth mendengus. Memang benar, banyak orang yang mengintip Ainz dan rombongannya sambil bersembunyi di dalam toko-toko di sepanjang jalanan. Kenyataannya, beberapa dari mereka berlutut lemah ketika mereka melihat para angel.

“Fifth, apakah kamu mengira manusia adalah makhluk yang membosankan?”

“Ya, seperti yang anda katakan. Mereka tidak diciptakan oleh Supreme Being, oleh karena itu mereka adalah makhluk yang menyedihkan.”

Lebih dari separuh makhluk-makhluk di dalam Nazarick berpikir demikian. Meskipun para pelayan level 1 tidak terkecuali.

“Fifth. Kalian semua masih menjadi yang terpenting bagiku.”

“Terima kasih banyak!”

“Namun, aku harus menunjukkan sebuah bentuk ampunan kepada orang-orang yang kuperintah. Lagipula, mereka adalah rakyat dari Sorcerer King.”

“Seperti yang anda katakan.”

“Kalau begitu, mengapa tidak merubah tempat ini menjadi sebuah utopia? Sebuah dunia yang luar biasa, seperti impian yang semanis tercelup madu. Sebuah dunia dimana mereka akan berharap diperintah selamanya.”

“Kurasa ini adalah rencana yang sangat baik.”

“Karena aku berniat untuk menguasai dunia, bawahanku nantinya bukan hanya manusia. Semua ras dunia harus berlutut di hadapanku.”

“Tentu saja.”

Proyek Utopia.

Rencana ini dikeluarkan di lantai 6, dan dimulai dengan niat untuk terlihat baik kepada setiap pemain yang mereka temui dengan harapan Nazarick adalah guild yang baik yang menyambut seluruh ras.

Dengan menggunakan tempat ini sebagai percobaan kedengarannya seperti sebuah ide yang bagus, pikir Ainz.

“Aku harus menguasai dunia: hanya mereka yang melayani Sorcerer King yang akan memiliki kemakmuran selama-lamanya.”

“Tidak diragukan lagi itu adalah yang sebenarnya.”

Jika Ainz bisa melakukan itu, maka jika dia nantinya menemukan mantan rekan-rekannya – mantan rekan-rekan guildnya – dia bisa dengan bangga menunjukkan kota ini kepada mereka.

Kelihatannya negeri yang Ainz inginkan adalah satu negerti dimana dia menguasai berbagai ras yang hidup berdampingan.

Dia akan membawa visi dari Ainz Ooal Gown di dalam Great Underground Tomb of Nazarick dan memproduksinya lagi ke seluruh penjuru dunia.

Sama seperti kemungkinan adanya teman-teman Ainz yang mungkin bersembunyi di sudut dunia itu, dia akan membuat sebuah dunia dimana ras-ras dan heteromorf berbeda bisa tersenyum hidup.

Cahaya di mata Ainz menjadi semakin cerah.

Sorcerous Kingdom Ainz Ooal Gown seharusnya menjadi sebuah negeri dimana seluruh ras bisa hidup berdampingan. Ini adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh Sorcerous Kingdom.

Bahkan jika pendiri seorang negeri adalah jenius, tidak ada jaminan anak-anaknya akan memiliki berkah yang sama. Dan generasi selanjutnya, cucu-cucunya, dan cucu dari cucu-cucunya setelah mereka – tidak ada jaminan mereka akan memiliki talenta pula. Jika generasi kedua tidak berkompeten, mereka akan dihabisi oleh masyarakat di generasi ketiga. Ainz perna mendengar cerita ini sering sekali.

Namun, jika mereka dipimpin oleh jenius yang tak bisa mati dan tak bisa menua, hal semacam itu tidak akan terjadi. Bentuk ideal dari hal ini adalah memiliki pemerintahan diktator yang dijalankan oleh segelintir orang-orang jenius.

Dengan orang-orang seperti Demiurge dan Albedo di dalam Sorcerous Kingdom – tidak, karena mereka ada disanalah mereka bisa membuat negeri itu sebagai surga yang kekal. Seperti yang pernah dikatakan oleh Ulbert, sebuah pemerintahan diktator yang dijalankan oleh sebuah tangan besi akan menjadi hebat, atau sesuatu seperti itu.

Ainz memikirkan masalah itu lebih jauh.

Dipimpin oleh Demiurge dan Albedo, para guardian menjalankan tujuan mereka dalam menguasai dunia. Ainz tidak bisa menolak sama sekali alasan mereka. Lagipula, ini bisa menyebarkan nama mereka kepada rekan-rekan Ainz.

Namun, bukankah lebih baik menyebarkan nama itu melalui cara yang lain daripada menguasai dengan paksaan? Dengan membiarkan Sorcerous Kingdom Ainz Ooal Gown dikenal sebagai sebuah utopia, mereka bisa membuat banyak orang memilih untuk berlutut dan patuh kepada pemerintahannya demi janji yang manis seperti madu itu.

Itu seperti menggunakan gula dan cambuk.

Jika Demiurge dan Albedo adalah cambuknya, maka Ainz akan menjadi gulanya.

Ide yang bagus...

Ainz telah memutuskan.

Ainz berbeda dari para NPC yang hanay bisa menghina mereka yang ada di luar Nazarick. Bentuk penguasaan dunia ini adalah sesuatu yang hanya bisa dia, dengan sisa-sisa sifat manusiawinya, pikirkan. Ainz akan menguasai dunia melalui daya tarik yang luar biasa.

Lalu, apa yang harus dia lakukan agar bisa melaksanakan rencana ini?

Saat Ainz berjalan lagi, dia mati-matian memikirkan subyek tersebut.

Dia akan memerlukan metode yang tak sama seperti Demiurge dan Albedo – metode-metode yang hanya mengandalkan kekuatan.

Dia tidak bisa membayangkan menjalan sebuah negeri seorang diri. Karena itu, Ainz akan membayangkan dirinya sebagai seorang pegawai di dalam sebuah perusahaan kecil.

Perusahaan kecil, yang hanya memiliki satu lantai bangunan, dan satu-satunya pegawai di dalam perusahaan itu adalah Ainz.

Produk dari perusahaan itu adalah “Kepemimpinan luar biasa terhadap Sorcerous Kingdom”. Dia akan mempromosikan penjualan dari produk ini.

Pertama, dia harus mempertimbangkan target penjualannya. Dengan begitu dia bisa mengirimkan produk ini ke tangan-tangan mereka yang memang membutuhkan. Namun, dia tidak memiliki informasi tentang konsumennya. Mengapa begitu? Sederhana – karena dia tidak memiliki publisitas yang cukup.

Oleh karena itu, bukan masalah berjalan ke seluruh kota-kota dan mengeluarkan pamflet di pintu masuknya. Itu hanya akan membuang-buang waktu saja. Ainz adalah pegawai satu-satunya, jadi dia harus mempertimbangkan metode lain.

Tidak ada semacam media massa di dunia ini. Meskipun para pedagang dan profesi-profesi semacamnya memiliki jaringan informasi tersendiri, setiap publisitas dari mereka sulit dijamin keakuratannya. Sebelum Ainz menyadari, dia sudah sampai di pintu masuk Guild petualang.

Mungkin karena dia sering kemari sebagai Momon, sehingga itu menjadi sebuah kebiasaan. Itu mungkin sebuah gejala dari workaholisme, ya kan?

Ainz tersenyum pahit, lalu membuka pintunya.

Penerima tamu di dalam bangunan itu masuk ke dalam pandangan. Ada seorang wanita resepsionis yang duduk disana. Di samping kirinya ada satu set pintu ganda, dan di sebelah kanannya ada sebuah papan pengumuman, yang terdapat tempelan perkamen-perkamen permintaan. Dan para petualang yang seharusnya berdiri di depan papan itu – tidak ada disana.

Guild tersebut kosong. Tidak  bisa dibandingkan dengan apa yang pernah dia lihat ketika dia menjadi Momon.

Ainz mengabaikan resepsionis yang matanya terbelalak dan sedang menatapnya, lalu berjalan ke papan pengumuman.

Sementara saat dia tidak bisa memahami tulisan-tulisan itu, dia telah menghafalkan beberapa kalimat, termasuk bulan dan tahunnya.

Sekali tatap, hanya ada permintaan-perminaan lama dari bulan lalu. Dengan kata lain, itu adalah pekerjaan-pekerjaan berulang yang tidak penting.

“...Resepsionis. Kelihatannya sekarang menjadi lebih sedikit pekerjaannya. Apakah sudah tidak ada yang meletakkan permintaan baru lagi?”

“Hiii..ya, ya, benar sekali. Hanya ini yang kami miliki, Yang Mulia.”

Jadi jumlah petualang sudah berkurang karena jumlah permintaan juga berkurang pula.

Penyebabnya adalah Ainz.

Ainz telah menggunakan pasukan militernya sendiri – para Death Knight – untuk berpatroli di jalanan dan mempertahankan keamanan dalam negeri dari Sorcerous Kingdom. Pada akhirnya, itu menyebabkan orang-orang lari karena merasa terancam oleh monster-monster itu.

Dia menganggap jika para Death Knight terus berpatroli, orang-orang seperti para petualang mungkin akan benar-benar habis.

Dia harus mempersiapkan permintaan bagi mereka agar bisa membuat mereka tetap tinggal – tidak, tidak perlu membuat para petualang itu tetap disini.

Apapun yang bisa dilakukan oleh para petualang, Death Knight bisa melakukannya lebih baik – meskipun memang agak sulit untuk tugas-tugas tertentu, seperti mencari tanaman obat. Tapi untuk itu, yang hanya dia butuhkan adalah menyewakan Death Knight kepada para herbalist sebagai bodyguard.

Ainz masih tidak bisa memikirkan manfaat lain dari para petualang. Dan ketika sudah mendapatkannya, kenyataan bahwa para petualang membutuhkan biaya untuk dipekerjakan. E-Rantel dan pendapatannya yang rendah tidak memiliki keistimewaan seperti itu.

Ditambah lagi, mereka sulit sekali dianggap tidak bisa tergantikan.

Dengan berpikir demikian, Ainz menoleh ke arah luar.

Benar-benar pekerjaan yang dangkal...

Dia teringat pertama kali saat dia dan Narberal datang ke Guild Petualang di kota ini.

Dia berpikir bahwa para petualang seperti apa yang dia lihat di Yggdrasil, mereka bertulang ke dunia yang tidak diketahui dan menyusuri berbagai macam teman di sekeliling dunia.

Jika mereka hanyalah tentara bayarang anti monster, maka ketika kebutuhan bagi mereka sudah tidak ada, mereka akan kekurangan pekerjaan. Hal itu berlaku sama di seluruh dunia. Tidak kukira gambaran para petualang saat mereka presentasikan di Yggdrasil tidak lebih hanyalah sebuah impian... impian? Menjelajahi yang tidak dikehtaui dan bepergian ke seluruh dunia? Jangan-jangan...

Inspirasi berkelebat di pikiran Ainz.

Jika dia merubah para petualang dari hanya sekedar tentara bayaran untuk berburu monster menjadi penjelajah yang tidak diketahui seperti di dalam Yggdrasil, itu artinya mereka akan membawa nama Sorcerous Kingdom ke tanah yang belum dijelajahi.

Ainz tidak hanya ingin menggapai dunia manusia, tapi semua ras lain pula. Dia bisa dengan mudah mempromosikan diri sendiri di dunia manusia melalui koneksi-koneksi dari para pedagang. Namun, karena itu tidak cukup, para petualang adalah pilihan yang terbaik untuk tugas ini.

“Hmhm,” Ainz mengangguk.

Meskipun resepsionis melihat ke arahnya dengan muka bingung, Ainz tidak memperdulikannya. Atau lebih tepatnya, jika dia memperdulikan resepsionis itu, kelebatan inspirasi yang langka itu akan hilang.

Berpikir seperti sebuah kepala dari bisnis kecil, Ainz memutuskan untuk merenungkan hasil dari rencana ini.

Bagaimanapun, jumlah dari para petualang di Sorcerous Kingdom perlahan berkurang. Jika ini terus terjadi, situasinya akan terus memburuk. Mereka bahkan mungkin saja akan menghilang sama sekali di masa depan. Apa yang bisa aku lakukan untuk membalik tren ini?

Sudah cukup sederhana dengan meningkatkan jumlah mereka. Yang dia perlukan adalah membalikkan keadaan saat ini – dengan kata lain, Sorcerous Kingdom akan membayar setiap eliminasi monster. Bagaimanapun, itu berlawanan dengan tujuan Ainz agar para petualang bisa menjelajahi tempat-tempat yang tidak diketahui. Sementara dia bisa juga menempatkan permintaan itu agar mereka mempublikasikan dirinya, Ainz tidak punya uang untuk itu.

Memang secara harfiah adah tumpukan emas di dalam Great Underground Tomb of Nazarick, tapi itu bukanlah keuangan pribadi Ainz. Memang para NPC semuanya setuju bahwa seluruh kekayaan di Nazarick adalah milik Ainz, dia tidak ingin menggunakan uang itu untuk proyek pribadinya.

Saat Ainz memikirkannya dalam-dalam, suara pintu yang terbuka datang dari arah pintu masuk.

Saat dia berbalik, dia melihat para petualang – yang kelihatannya pernah dia temui sebelumnya – sedang berdiri di pintu masuk, terdiam di tempat saat mereka melihat dirinya.

Hm? Orang itu bernama ... kalau tidak salah.. Yokmok? Bukan, itu tidak benar, tapi sudah dekat.

Rasanya dia seperti bisa menggapainya di ujung lidah, tapi Ainz tidak bisa mendapatkannya. Kefrustasian in imembuat Ainz mengeruk ingatannya dengan seluruh tenaga.

“Moknak...?!”

Saat Ainz menemukan jawabannya, dia menyuarakannya begitu saja tanpa banyak berpikir. Setelah dipanggil namanya, para petualang itu terdiam di tempat.

Sial!

Sudah terlambat saat dia menyadarinya. Dia bisa merasakan mata dari resepsionis yang sedang melihat ke arahnya.

Tidak mungkin seorang penguasa baru di E-Rantel, Sorcerer King Ainz Ooal Gown, bisa tahu petualang dengan peringkat yang hanya mithril. Dan jika dia tahu orang itu, apa tujuannya? Otak Ainz berputar dengan gerigi tinggi saat merenungkannya, tapi sebelum dia mendapatkan jawabannya, Moknak berbicara:

”Apakah, apakah anda mendengar itu dari Momon-dono? Nama saya, ya itu..”

“Umu, ya. Itu benar.”

Ainz memutuskan untuk mengambil kalimat itu. Sepasang emosi yang berlawanan secara dramatis muncul di wajah Moknak, ekspektasi dan ketakutan.

Setelah kembali sedia kala dari kegelisahan sebelumnya, Ainz mulai melakukan analisis mendalam terhadap situasi tersebut.

Dia teringat bahwa orang ini adalah pemimpin dari kelompok petualang peringkat mithril “Rainbow”. Pertama kalinya Ainz melihat dia adalah ketika insiden gangguan vampir. Mereka berbicara beberapa kali setelah itu, tapi karena mereka belum bertemu baru-baru ini, pria itu sudah luput dari ingatannya.

Sama seperti kebanyakan dari para petualang dan prajurit, dia kelihatannya juga memuja Momon sebagai seorang pahlawan. Jadi bagaimana menurutnya jika Momon menjadi bawahan dari Sorcerer King?

Mengapa menyebutkan dia kepada Sorcerer King? Obrolan biasa? Atau apakah Momon menjualnya? Hatinya mungkin dipenuhi putaran keraguan dan kecurigaan seperti itu.

Ainz mulai mencari cara untuk merubah bahaya ini menjadi sebuah kesempatan.

“Ketika aku bertanya kepadanya tentang para petualang yang mumpuni di sekitar sini, dia bilang kepadaku tentang Moknak, pimpinan “Ranbow”.

Moknak, yang pada awalnya menundukkan kepalanya, tiba-tiba melihat ke atas.

“Be – benarkah itu?”

“Apakah kamu meragukan ucapanku?”

“Tidak! Tentu saja tidak...”

Ketika mendiskusikan bisnis dengan client, hal pertama yang harus dia lakukan adalah memuji lawan bicaranya. Beberapa orang akan memiliki reaksi yang mudah dibaca jika dipuji. Ketika mereka berada di dalam bingkai ingatan yang lebih baik, mereka bisa selanjutnya membicarakan bisni. Dua hal ini adalah kemampuan dasar dari seorang salesman, dan juga sebuah rahasia besar mereka.

Sekarang setelah dia menggoyangkan pihak lain dan sepenuhnya mengambil inisiatif, Ainz tidak membuang-buang peluang untuk meluncurkan pertanyaan lainnya lagi.

“Katakan kepadaku, mengapa kamu berada di E-Rantel?”

Jika dia ingin mempelajari lebih jauh tentang para petualang, cara terbaik untuk mendapatkannya adalah secara langsung menanyakan hal itu kepada seorang petualang.

Moknak merasa bingung dengan pertanyaan Ainz, tapi tidak lama, dia kelihatannya sudah mengumpulkan cukup banyak keberanian untuk menjawabnya.

“Karena undead, Yang Mulia. Tempat ini dekat dengan dataran Katze, dan kami bisa membunuh monster-monster itu demi uang tanpa perlu kehabisan.”

Meskipun Ainz tidak begitu mengerti, kelihatannya meskipun keringat mengalir pada dirinya, Moknak memiliki sebuah senyum pemberontakan di wajahnya yang kelihatannya berkata, “Nah lho, aku sudah mengucapkannya”.

Ainz berencana membawa dataran Katze di bawah wilayahnya di masa depan. Dari catatan tertentu tentang adanya rumor-rumor sebuah kapal yang berlayar di atas daratan, yang memantik rasa ketertarikan Ainz.

“Begitukah.”

“Eh?”

“Hm?”

“Ah, tidak...”

Benar-benar pria yang membuat frustasi. Ainz menolak hasrat untuk menghela nafas dan secara impulsif bertanya:

“Hanya itu?”

“...Tidak, ada lagi. Sebelum Momon-dono kemari, kami adalah satu-satunya petualang peringkat mithril diantara para senior petualang, jadi lebih mudah bagi kami untuk mendapatkan pekerjaan dengan bayaran yang baik.”

Jadi ternyata urusannya dengan uang. Mungkin bagian alokasi budget untuk remunerasi petualang adalah tindakan terbaik.

“Dan juga, saya lahir di kota ini, jadi saya tahu banyak orang disini, Serta, segala macam item-item magic mengalir kemari.”

“Hoh, item-item magic kamu bilang.”

“Ya, Lagipula, item-item magic telah menyelamatkan nyawa saya di masa lalu, jadi sebagai seorang petualang, sewajarnya saya ingin mendirikan markas di tempat dimana ada akses bagus pada item-item itu.”

Di dalam Yggdrasil, ada juga cerita-cerita bagaimana sebuah item magic biasa membelokkan korban pembunuhan seluruh kelompok. Oleh karena itu, dia juga telah melihat banyak orang yang terliat seperti para petualang di pasar Ibukota Baharuth Empire. Dengan kata lain, jika Ainz bisa mengatur sebuah bisnis item magic dalam skala lebih besar daripada ibukota Baharuth Empire, pastinya akan menarik para petualang kemari.

Ainz mungkin bisa mendapatkan hasil yang luar biasa dengan membuat item-item magic berdasarkan kristal data yang tepat lalu melelangnya. Namun, itu berarti sama halnya dengan merampok cadangan Nazarick, dan tidak ada jaminan Ainz dan yang lainnya malahan akan menjadi sasaran dari perkembangan teknologi item-item itu sebagai dasarnya.

Seharusnya tidak apa jika aku menggunakannya sebagai umpan, ya kan? Tidak, aku lebih memilih menghindari penggunaan sumber daya dari Nazarick jika aku bisa menghindarinya. Jadi bagaimana kalau item-item yang digunakan dengan teknologi magic dari dunia ini? Dengan begitu, kita bisa menyerahkannya ke negeri lain tanpa menyebabkan adanya masalah...ah, ini sulit. Aku akan serahkan ide ini di lain waktu saja.

“Ah...”

Suara kekhawatiran Moknak menyentak pikiran Ainz kembali dari dalamnya perenungan.

“Yang Mulia, bolehkah saya tahu mengapa anda menanyakan pertanyaan ini? Jika anda mengizinkan saya berbicara sejujurnya..”

Moknak menggeretakkan giginya, lalu melanjutkan dengan suara perih yang dalam.

“Kita seperti debu jika dibandingkan dengan salah satu undead yang dipimpin oleh Yang Mulia. Dengan undead sekuat itu menjaga area di sekitar kota ini, hanya ada sedikit arti bagi keberadaan para petualang di dalam Sorcerous Kingdom.”

Apa yang harus dia katakan sekarang? Kalimat seperti apa yang bisa membuat dia – dan resepsionis yang sedang melihat di sebelah sana, serta staf guild yang berhasil berkumpul di sekitar mereka tanpa terlihat – dengan sebuah kesan yang baik akan dirinya?

Atau mungkin, dia bisa mengambil resiko berbahaya dan secara langsung mendiamkan mereka dengan berkata “Tidak ada gunanya menjelaskan itu kepadamu.” Itu mungkin akan lebih aman. Namun, jika dia melakukan itu, mungkin akan membuat mereka lebih curiga. Seharusnya ada yang lebih baik-

Tidak, aku harus percaya diri. Aku adalah seorang pria yang telah melewati banyak bahaya di masa lalu. Aku harusnya mampu memikirkan sebuah cara untuk melewati masalah ini!

Ainz membiarkan keberadaannya terpancar dari dirinya.

Setelah dipikir-pikir, kamu sudah mendapatkan gambaran yang jelas di otakmu. Jadi mengapa kamu masih ada di kota ini? Apakah karena kamu lahir di sini? Apakah kamu memiliki seorang kekasih?

Jawaban dari pertanyaan itu akan memutuskan arah kemana percakapan dengan Sorcerer King ini nanti dibawa.

“Sebelah aku menjawabmu, Aku ingin bertanya dahulu. Mengapa kamu masih ada di kota ini?”

“Itu, Itu karena...”

Moknak mulai tergagap dengan ucapannya. Lalu, meskipun sedikit ragu-ragu, dia melanjutkan:

“Itu karena Momon-dono. Momon-dono tinggal di kota ini untuk menjadi perisai kami. Oleh karenanya, bagaimana mungkin saya, sebagai penduduk lokal kota ini, melakukan hal sememalukan lari dari sini?”

Dalam sekejap, Ainz tersenyum.

Memang benar, ketika dia menjadi Momon, dia telah memahami pria ini hingga titik tertentu. Namun, dia tidak menduga bisa membuka hatinya dalam sekejap.

“Begitukah. Kalau begitu, aku akan jawab pertanyaanmu.”

Ainz pura-pura terjatuh dalam keheningan sementara, lalu dalam suara yang tegas dia mengumumkan:

“Itu karena Momon. Karena kalian semua mungkin suatu hari bisa menjadi orang seperti Momon, Aku ingin tahu apa yang diingkan oleh para petualang, dan apa yang mereka cari.”

Mata Moknak melebar. Suara menelan ludah bisa terdengar dari pegawai guild yang ada di dekat situ.

“Momon itu kuat, tapi lebih penting lagi, dia memiliki jiwa yang agung.”

Rasanya sedikit memalukan berkata semacam itu tentang dirinya sendiri, tapi begitulah bagaimana rencana dari karakter Momon, jadi mau bagaimana lagi.

“Dan lalu, aku melihat sesuatu seperti pancaran Momon diantara kalian para petualang.”

Apakah aktingku akhirnya terbayarkan, Ain penasaran saat dia mengutarakan kalimat tersebut. Sebuah petir kelihatannya seperti berkelebat di belakang Moknak dan yang lainnya.

“Tapi, tapi Momon-dono adalah makhluk yang tinggi, hanya yang terpilih yang bisa terinspirasi olehnya. Kami tidak mungkin bisa menggapai –“

“Jadi maksudmu Momon dibutakan oleh kehebatannya sendiri, begitukah?”

“Apa! Apakah, Apakah momon-dono berkata begitu juga?!”

“Tidak secara langsung.”

Sementara dia tidak berpikir itu sama sekali lucu, namun demikian dia berusaha menganggap itu menghibur. Ainz mengeluarkan senyum seorang raja – hasil dari banyaknya latihan – lalu menunjukkan kepada semua orang.

“Meskipun kamu tidak bisa melakukannya, bagaimana dengan anak-anakmu? Cucu-cucumu? Apakah kamu bilang tak ada siapapun di sekitarmu yang mungkin bisa membangkitkan seseorang seperti Momon? Aku adalah makhluk kekal, dan penguasa dari Sorcerous Kingdom. Memang wajar aku ingin mengambil tindakan untuk menginspirasi loyalitas asli kepadaku terhadap Momon selanjutnya. Itu artinya adalah aku, sebagai seorang penguasa, telah menemukan tempat bagi para petualang di dalam Sorcerous Kingdom. Yah, ada juga alasan lain, tapi karena itu belum terbentuk sempurna di otaknya, aku akan memikirkan itu lain kali saja.”

Suasana tiba-tiba menjadi hening.

Hm? Apakah berhasil? Apakah pria ini bukan fans Momon yang bersemangat?

Saat rasa tidak enak mulai turun kepada Ainz, Moknak membungkuk dalam-dalam kepada Ainz.

“Yang Mulia, saya sangat senang sekali bertemu dengan anda, dan menerima kesempatan mempelajari pemikirananda.”

Saat Moknak mengangkat wajahnya, tidak ada sisa sedikitpun rasa tidak enak, takut atau ragu-ragu yang tadinya ada disana. Sebaliknya, dia menjadi gembira, tersenyum bebas.

“...Benar-benar luar biasa. Tidak kukira anda memiliki karisma yang luar biasa, melebihi bahkan magic anda sendiri yang ampuh.”

“Aku juga gembira bertemu para petualang yang sehebat ini. Suatu hari, aku ingin membawamu di bawah sayapku.”

Wajah Moknak menjadi santai, merasa sedikit lebih senang sekarang.

“Tetap saja, Yang Mulia. Guild petualang tetap tidak tersambung dengan pemerintah. Begitu pula dengan saya. Bisakah anda menjadikan kami sebagai bawahan?”

“Umu. Aku kemari memang untuk tujuan itu. Memang benar, ini hanyalah gambaran kasar dan masih belum terbentuk dengan sempurna... Resepsionis, bilang kepada guildmaster bahwa Sorcerer King ingin berbicara dengannya.”

“Ba-Baik!”

Resepsionis tersebut – yang sedang mendengarkan dengan tampang bodoh percakapan mereka – berlari keluar dari ruangan dengan terburu-buru.

“Kalau begitu, Yang Mulia, kami pamit dahulu.”

Ini benar-benar tidak seperti bagaimana mereka bersikap ketika mereka pertama kali bertemu. Moknak memberikan sebuah sikap penuh hormat sebelum dia berbalik dan pergi.

Kalau begitu sekarang... apa yang harus kulakukan selanjutnya.

Tujuan utama dari rencana Ainz yang belum selesai adalah menggunakan para petualang untuk memuji kebaikan Sorcerous Kingdom. Ada tiga poin utama terhadap rencana itu:

Pertama adalah pelebaran dari Guild Petualang. Tidak ada gunanya di dalam sebuah organisasi yan hanya memiliki 10 anggota saja.

Yang kedua adalah mendidik mereka. Yang lemah takkan bisa pergi jauh, dan jika ajaran karena diatur oleh Sorcerous Kingdom menyebar terlalu lambat, itu tidak akan membuatnya mendapatkan banyak keuntungan.

Yang ketika adalah membuat mereka membantu Ainz dengan tulus. Bukan karena dia tidak bisa menggunakan Momon, tapi jika Ainzach ingin membantunya karena keingingan sendiri, akan membuat keadaan lebih mudah nantinya.

Aku perlu menyelesaikan tiga masalah ini sebelum bernegosiasi dengan Ainzach. Tetap saja... memang sulit bernegosiasi tanpa informasi sama sekali. Ah~ perutku rasanya sakit.

Yang bisa dia lakukan sekarang adalah berdoa agar Guildmaster tidak ada. Sayangnya, hal pertama yang dikatakan oleh resepsionis itu ketika dia kembali adalah, “Silahkan kemari.”

Ainz melihat ke arah langit-langit, lalu mengikuti resepsionis itu di belakang.

Part 4

Ainz pernah berjalan melewati koridor ini beberapa kali sebagai Momon, dan dia melewati ruangan guildmaster – meskipun dia tidak masuk, namun malahan dibawa ke ruangan di sampingnya. Ruangan itu digunakan untuk menghibur tamu-tamu.

Seorang pria berbadan kekar keluar untuk menemui Ainz – guildmaster Pluton Ainzach.

Ainz pernah menemuinya sebagai Momon beberapa kali sebelumnya – dia pernah menyeret Momon ke hiburan dewasa beserta dirinya di masa lalu. Namun, ini adalah pertama kalinya dia menemui pria tersebut sebagai Sorcerer King Ainz Ooal Gown, jadi dia harus sangat hati-hati dengan perkataan dan perbuatannya.

“Oh, ternyata Yang Mulia, Sorcerer King. Sebagai seorang penduduk negeri ini, tak ada yang lebih menggembirakan saya selain menerima anda di dalam tempat tinggal saya yang sederhana. Silahkan masuk, dan meskipun tempat ini kotor, saya harap anda duduk jika anda bersedia.”

Ainz duduk di tempat di mana Ainzach tunjuk.

Fifth berdiri di belakang Ainz, sementara tiga angel mengikuti Ainz masuk ke dalam. Sisanya berada di luar ruangan, menunggu perintah.


“Seharusnya, sayalah yang mengunjungi anda, tapi saya sangat berterima kasih sekali anda sudah bersedia hingga datang kemari.”

Ainzach berlutut, lalu membungkukkan kepalanya dalam-dalam.

Ainz tersenyum pahit saat dia melihat Ainzach pura-pura melakukan itu.

Benar-benar berbeda dengan saat dia berbicara dengan Momon. Suaranya yang ramah dipenuhi dengan rasa hormat, namun itu hanya kedok. Ainz mau tak mau tersenyum setelah menyadari bahwa semua ini hanyalah teknik profesional dalam pekerjaan. Tentu saja, ekspresinya sendiri tidak berubah sama sekali.

Ainz mengalihkan matanya ke arah pintu lain di dalam ruangan, yang bukan pintu masuk.

Pintu itu menuju ruangan guildmaster. Dia mungkin akan bicara di dalam ruangan sana jika dia adalah Momon. Kenyataan bahwa guildmaster menerimanya disini membuat Ainz waspada jarak diantara mereka berdua.

“Apakah ada yang salah, Yang Mulia?”

Ainz mengangkat kepalanya untuk mengintip Ainz, yang kelihatannya seperti sengaja mengabaikannya karena melihat ke arah ruangan di samping. Ainz mau tidak mau mendengus dengan kebodohannya.

Wajah Ainzach terdiam. Mungkin dia mengira tawa itu diarahkan kepadanya.

Ainz merasa jijik dengan sikap kurang ajarnya, tapi Sorcerer King tidak bisa meminta maaf. Malahan, dia memutuskan untuk mendorong percakapan agar bisa menjadi lebih lancar.

Tetap saja, sikap macam apa yang seharusnya tida berikan kepada guildmaster?

Ainz merasa masih belum menemukan cara yang benar menjadi seorang raja, dan tidak memiliki pengetahuan dalam bidang itu. Satu-satunya hal yang mengarahkannya adalah sebuah perasaan samar dari “seharusnya ini memang benar”. Dengan begitu, dia memutuskan untuk mencoba sesuatu.

“Kurasa kamu harusnya sudah mendengar ini sekarang, Ainzach, aku memiliki penawaran untukmu,”

“-Maafkan saya, Yang Mulia, tapi saya tidak yakin dengan apa yang anda bicarakan. Jika memungkinkan, bisakah anda mulai dari awal?”

Dari interaksi sebelumnya dengan pria itu, Ainz tahu bahwa Ainzach adalah seorang pria yang mumpuni dan juga mampu berbohong begitu saja. Ada kemungkinan besar dia sudah memahami dengan pasti situasinya. Itu mungkin alasan mengapa dia tidak kaget dengan para angel.

Oleh karena itu, tidak usah lagi bertele-tele, Ainz memutuskan untuk berbicara secara langsung.

“Aku berniat untuk menggabungkan Guild Petualang ini ke dalam Sorcerous Kingdom.”

“...Begitukah, saya rasa tidak ada orang yang akan menolak hal itu.”

“Hoh, aku dengar Guild Petualang selalu memegang diri dalam sikap netral. Apakah kamu benar-benar tidak apa dengan hal ini?”

“Semuanya harus berjalan sesuai kehendak Yang Mulia. Negeri ini diperintah oleh hukum yang anda tetapkan. Jika Yang Mulia ingin meletakkan Guild Petualang menjadi bawahan, tak ada yang bisa membantah keputusan itu.”

Ainz mendengus lagi. Reaksi itu kelihatannya membangkitkan Ainzach. Ainz merasakan bahwa dia telah mendapatkan guildmaster itu, dari dalamnya tatapan matanya.

“Memang benar, seharusnya hal itu berjalan sesuati kehendakku. Namun, apakah kamu benar-benar berniat setuju dengan hal itu? Atau mungkin kamu berniat untuk mewanti-wantikannya kepada para petualang lalu mengirim mereka ke Empire dan Kingdom sebelum menyerahkan kulit yang kosong kepadaku.”

Ainzach melihat Ainz dalam-dalam, lalu dia menggulung bahunya, seakan berkata, “Jadi sejauh itu rupanya aku bisa, huh”

“Seperti yang diduga dari Yang Mulia. Tidak kukira anda bukan hanya bisa mengklaim dan memerintah kota ini, namun bahkan bisa meliaht jauh pemikiran saya yang terdalam... apakah anda membaca pikiran saya dengan magic?”

“Tidak, aku tidak menggunakan magic. Itu tidak lain hanya masalah pengalaman.”

“Karena anda sudah hidup lama, begitukah. Wah wah, benar-benar tuan yagn menakutkan anda. Kalau begitu, apa jadinya saya ini?”

“Tidak ada apapun yang terjadi padamu.”

“...Kalau begitu saya tidak akan berterima kasih kepada anda untuk hal itu?”

“Aku tidak memerlukan rasa terima kasihmu. Lebih dari itu aku ingin pendapatmu. Aku pernah dengar bahwa para petualang ada untuk melindungi orang-orang. Oleh karena itu, mereka tidak ingin digunakan untuk perang antara sesama manusia dan mempertahankan derajat independensi dari semua negeri. Apakah ini benar?”

“Seperti yang anda katakan. Yang Mulia. Sebenarnya, ketika Yang Mulia mulai mengklaim kota ini, kami tidak berniat sedikitpun memberikan perlawanan.”

“Namun pria yang disebut Momon berdiri di hadapanku...?”

Ainz mendengus. “Oh”

Yah tidak ada gunanya mempersulit Ainzach, Ainz memutuskan untuk melanjutkan bicaranya, dan tentu saja, dia harus membantu melindungi Momon.

“Ah, aku tidak akan mengejar masalah itu. Lagipula, kami sekarang bekerja sama. Memang benar, kerja sama itu adalah salah satu alasan aku bisa menguasai tempat ini dengan damai.”

Ainzach kelihatannya sudah berada pada batas ingin mengatakan sesuatu, tapi Ainz mengabaikannya dan meneruskan.

Ini adalah masalah utamanya.

Dia harus membawa Ainzach ke pihaknya, dan membuat Ainzach ingin membantu Sorcerous Kingdom dengan niat sendiri.

Setelah mengingat berbagai keluhan dan komplain yang pernah dia dengar ketika dulu sebagai Momon, Ainz berkata:

“...kalau begitu, aku punya pertanyaan setelah mendengar jawabanmu. Kamu sangat yakin dengan ‘Para petualang ada untuk melindungi orang-orang’. Namun, siapa sebenarnya ‘orang-orang’ ini?”

Bolehkah aku tahu siapa yang kamu maksud dengan itu?”

Ada tampang bingung yang muncul di wajah Ainzach.

“Dengan kata lain, apakah kata ‘orang-orang’ ini terdiri seluruh humanoid, atau hanya untuk manusia? Apakah Elf, half-elf, dan spesies lain yang hidup harmonis dengan manusia dilindungi oleh kata itu?”

“Tentang itu, saya rasa ya, mereka juga termasuk.”

“Aneh sekali, kalau begitu, aku kelihatannya pernah ingat bahwa elf adalah budak-budak di dalam Empire, bukankah begitu? Oleh karena itu, bisakah kamu benar-benar berkata kamu melindungi mereka? Apakah mereka bukan budak karena berlawanan dengan hukum Empire?”

Ainzach menundukkan kepalanya. Lalu, dia melihat ke wajah Ainz lagi.

“...Saya hanyalah pimpinan dari Guild Petualang Kingdom. Oleh karena itu saya tidak ahu apa yang dipikirkan oleh Guild Empire.”

“Jadi kamu hanya mencoba untuk menghindar dari tanggung jawab dengan permainan kata, kalau begitu...”

Mata Ainzach melebar, dan ada kemarahan yang jelas muncul di sana.

“Yang Mulia, hinaan seperti itu-“

“Hinaan? Apakah itu bukan kenyataan?...  Kalau begitu aku tanya sekali lagi. Apakah kamu tidak mencoba meloloskan diri dengan berperilaku ambigu?”

Ainz merendahkan matanya.

“..Seperti yang anda katakan.”

“Kamu bilang kamu akan mempertahankan Elf dan Half-elf, tapi kamu tidak melakukan semua itu. Mengapa begitu?”

Ainzach memberikan penjelasannya, mulai awal dari posisi yang tidak jelas tentang niat dari Guild Petualang di dalam Empire.

“Meskipun kami adalah Guild Petualang, kami tidak bisa sepenuhnya lepas dari ikatan pemerintah. Sementara Guild Petualang dengan bangga mendeklarasikan dirinya di atas hukum mereka, kami tetap patuh dengan hukum dari negeri. Kami adalah organisasi bersenjata. Akan sangat berbahaya jika sebuah kelompok dengan kekuatan seperti kami merubah kekuatan itu melawan negeri. Saya yakin Guild di Empire berpikir hal yang sama.”

“Itulah yang kumaksud, karena kamu terikat oleh hukum negeri, maka seharusnya tidak ada masalah dengan bergabung dengan pemerintah. Oleh karena itu, mengapa kamu tidak suka dengan hal tersebut?”

“Baik Empire dan Kingdom iri dengan kekuatan kami. Lagipula, hanya para petualang seperti kamilah yang bisa bertarung setara dengan monster-monster kuat. Karena itu, tak ada yang menyulitkan kami hingga sekarang. Namun, hal itu tidak berlaku lagi jika Yang Mulia menjadi subyek pembicaraan. Jika kami menjadi bawahan anda, ada kemungkinan kekuatan kami mungkin akan diarahkan terhadap orang-orang.”

“Dan akhirnya, kamu menolak penggabungan ke dalam pemerintah karena kamu takut digunakan sebagai kekuatan untuk melawan orang-orang biasa, benarkah begitu?”

“Seperti Yang Mulia katakan. Kami tidak ingin digunakan untuk menekan orang-orang atau bertarung dalam perang. Itu akan membuat kami menjadi aksesori terhadap banyak kematian.”

Ainz mau tidak mau tertawa dengan al ini. Yah, aku sudah tahu hal itu. Tapi tentu saja, dia tidak bisa mengatakan itu dengan lantang.

“Kalau begitu duduklah. Aku akan menjelaskan apa niatku untukmu di masa depan.”

Ainz harus bilang kepadanya untuk duduk lagi sebelum Ainzach benar-benar melakukannya, duduk dengan ketakutan. Lalu, Ainz mulai penjelasannya.

“Aku mempertimbangkan kemungkinan agar kalian para petualang mengambil tipe pekerjaan lain yang lebih berarti. Aku ingin para petualang menemukan tempat-tempat yang tidak diketahui dan menjelajahi dunia ini.”

Ainz merasa Ainzach melihat langsung ke arahnya untuk pertama kalinya.

“Sebagai contoh, ada sekumpulan hutan belantara di selatan, antara Theocracy dan Holy Kingdom. Tapi apakah kamu tahu detil-detil dari medannya dan monster-monster seperti apa yang hidup di sana?”

“Tidak, karena ada banyak pemukiman demihuman di sana. Guild Petualang dari Kingdom telah mengirimkan orang-orang kesana, tapi tak ada yang kembali dengan utuh. Oleh karena itu, kami hampir tak tahu tentang hal itu.”

“Lalu, ada deretan pegunungan di arah barat daya yang berperan sebagai pembatas alami antara dirimu dan Theocracy. Apa yang kamu tahu tentang tempat itu?”

“Tidak, kami tidak memiliki detil informasi apapun tentang daerah itu.”

“Apakah kamu tidak malu dengan ketidaktahuan itu? Tidak, mungkin memang tidak bisa dihindari dari sudut pandang seorang petualang. Lagipula, kamu adalah sebuah organisasi yang melindungi orang-orang itu, jadi tidak perlu tahu tempat-tempat yang tidak mengandung orang-orang satupun. Meskipun, ada kemungkinan tanaman-tanaman obat yang bisa menyelamatkan hidup mungkin tumbuh di daerah tersebut.”

Mulut Ainzach semakin merapat menjadi garis lurus dengan provokasi itu.

“Ketika aku mengambil alih Guild Petualang di bawah pemerintahanku. Aku berencana untuk memenuhi daerah-daerah kosong di peta.”

“..Bukankah akan lebih baik untuk menyerahkan tugas-tugas itu kepada orang-orang di dekat Yang Mulia?”

“Jangan bodoh. Aku dengar kamu dulu adalah seorang petualang, Ainzach, jadi biar kutanya lagi. Ketika kamu mendengar kata ‘petualang’, pikirkan baik-baik, apakah kamu ada hanya untuk bertarung melawan monster? Sebelum aku tahu lebih banyak tentang petualang, aku kira mereka adalah makhluk yang merubah yang tidak diketahui menjadi diketahui.”

Ainzach menggigit bibirnya keras sekali seakan mencoba menyedot darah.

“-Kami harus melindungi orang-orang.”

“Itu tidak perlu. Di dalam Sorcerous Kingdom ini. Aku akan melindungi orang-orang itu sebagai penguasa mereka. Karena turunnya permintaan yang sangat tajam, kamu seharusnya mengerti kebenaran dari ucapanku, apakah aku salah?”

Ainzach menyetujui, dengan suara perih yang terdengar lebih seperti erangan.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Apakah kamu akan pindah ke Kingdom dan Empire untuk melindungi orang-orang tersebut? Itu kedengarannya sangat mirip dengan apa yang akan dilakukan oleh tentara bayaran spesialis pemburu monster.”

Ainz terdiam sejenak di sini?. Langkah selanjutnya adalah persuasi. Dia harus mengerahkan kapansitas penuh otaknya terhadap apa yang dikatakan selanjutnya.

“Sebelumnya,kamu bilang ‘bawahanku harusnya yang melakukan itu’. Dari sudut pandang tertentu, itu adalah solusi yang bagus. Memang benar bawahanku mahir dalam membantai musuh. Namun, banyak dari mereka yang menimbulkan keraguan yang sangat besar di pikiran tentang apakah mereka bisa membangun hubungan baik dengan makhluk-makhluk yang mereka temui di dunia yang tak diketahui. Itu akan memberikan rasa malu yang sangat besar bagiku. Aku ingin menyerahkan tugas ini kepada kalian para petualang.”

Sementara Ainz sangat tertarik dengan reaksi Ainzach yang terdiam, presentasinya masih belum selesai.

“Yah, karena aku berencana membuat mereka melakukan pekerjaan yang berbahaya, tentu saja aku akan memberikan dukungan penuh. Bukankah sangat penting jika aku menggabungkan Guild Petualang untuk itu?”

“...yang harus anda lakukan adalah mempekerjakan kami.”

“Ternyata begitu. Jadi kamu sangat percaya diri dengan kekuatanmu. Aku tidak membenci keberanian itu.”

“Ap, apa maksud anda, Yang Mulia?”

“Menemukan hal-hal yang tidak diketahui termasuk kemungkin membuat pertempuan yang tidak menguntungkan dengan peradaban lain. Jika itu terjadi, bukankah nantinya Sorcerous Kingdom akan menyangkal kalian? Ditambah lagi. Guild Petualang akan menjadi satu-satunya yang bertanggung jawab dengan masalah apapun yang timbul, apakah aku salah? Karena kamu mengklaim sebagai organisasi independen, bukankah itu nantinya yang akan terjadi? Lagipula, segala kontrak yang aku buat denganmu tidak akan memberikan kerugian apapun kepada Sorcerous Kingdom.”

Ainzach terdiam.

“Itulah artinya bersikap independen, bebas dari segala kendali negara, bukankah begitu? Dan jika sebuah situasi meningkat hingga level internasional, maka kamu harus menghadapinya sendiri... apakah apa yang aku katakan begitu lucunya?”

“Tentu saja tidak, Yang Mulia,” Ainzach mengangguk dalam-dalam, untuk menunjukkan bahwa dia mengerti, “Setiap ucapan yang anda keluarkan memang benar.”

“Oleh karena itu, jika itu terjadi, para petualang yang berharga – para profesional yang memiliki skill-skill spesial – akan semakin berkurang. Karena manusia butuh waktu yang lama untuk tumbuh dewasa, kematian dari setiap individu yang berbakat adalah kehilangan yang besar. Karena itu, aku ingin mendapatkan kelompok petualang. Lalu, mereka akan menerima dukungan penuh dariku sebagai bayaran karena telah melaksanakan perintahku.”

“Itu adalah proposal yang snagat menarik... Namun, saya memiliki keraguan yang ingin diklarifikasikan. Ketika kita sudah memahami apa yang tidak dimengerti, apakah itu artinya kami nantinya akan menjadi pasukan penyerang bagi Sorcerous Kingdom?”

“Itu adalah pertanyaan yang rumit. Aku tidak bisa sepenuhnya mengeluakannya. Lagipula, jika kita tahu musuh yang ada di tanah yang tak diketaui itu berencana meluncurkan sebuah serangan, sangat beralasan menggunakan informasi itu untuk mengambil inisiatif dan menyerah dahulu. Mungkin saja musuh itu termasuk demihuman seperti Ogre atau Orc yang hidup di alam liar. Atau mungkin, perlu meluncurkan sebuah serangan untuk menunjukkan kepada mereka perbedaan antara kekuatan mereka dan kita. Jika ada monster-monster mengerikan di sampingmu yang sedang mempertajam taringnya. Bukankah kamu juga ingin menyerangnya dahulu malahan?”

“Memang benar, seperti yang anda katakan, Tapi-“

“...Hm.”

“Apakah ada sesuatu, Yang Mulia?”

“Bukan apa-apa, maafkan aku sudah menyelamu. Apa yang ingin kamu katakan barusan?”

“...Saya mengerti. Bagaimanapun, yang membuat saya bingung apakah benar atau salah menundukkan ras-ras yang hidup dalam damai itu dengan kekuatan.”

“Ras apa yang sedang kamu pikirkan? Elf, betulkah?”

“Yah, mungkin saja.”

“...Detil dari hal semacam itu adalah rahasia besar karena mereka ada hubungannya dengan peraturan negara, jadi aku tidak bisa mendiskusikannya secara terbuka. Jika serangan dan penaklukan itu menguntungkan bagi Sorcerous Kingdom. Kita mungkin akan melakukannya, atau jika mereka hanya membuat kerugian, kita akan menghindari hal semacam itu. Ini sangat umum diantara negara-negara lain, benar kan? Namun, jika nantinya hanyalah masalah serangan yang sederhana. Aku bisa secara jelas menyatakan bahwa aku memiliki pasukan militer yang sudah cukup yang bisa dibuang, aku tidak mengharapkan para petualang untuk mengumpulkan informasi negeri-negeri musuh, ataupun perlu untuk mengintai rute-rute mereka bagiku. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku hanya ingin mereka menjelajahi tempat-tempat yang belum diketahui dan menemukan segala macam hal. Aku berjanji untuk itu.”

Namun, tepat setelah berkata begitu, Ainz bertanya kepada Ainzach:

“Tapi tetap saja, kelihatannya kamu memperlakukan ras-ras dengan berbeda tergantung seberapa menariknya mereka. Mengapa kamu tidak bilang saja ‘Apakah benar atau tidak menaklukkan ras-ras yang hidup dalam damai itu dengan kekuatan’ ketika topik menyerang Orc dan Ogre muncul?”

“Itu, karena mereka adalah demihuman-!”

“Hahahaha. Ternyata begitu, jadi begitu menurutmu. Aku mengerti, aku mengerti. Jadi. Apa jawabanmu?”

Ainzach kelihatannya ingin berkata sesuatu, tapi dia langsung menggelengkan kepalanya. Itu mungkin untuk merubah pikirannya.

“Apakah saya harus menjawabnya langsung, Yang Mulia?”

“Tentu saja, aku ingin kamu segera menjawabnya. Namun, masalah ini sangat pentin gsekali, dan kamu harus mempersiapkannya dengan mendiskusikan itu bersama yang lain. Kenyataan bahwa itu membutuhkan waktu tak bisa dielakkan. Namun, aku ingin tahu bagaimana menurutmu, Ainzach.”

Ainz mencondongkan badannya ke depan, agar dia bisa melihat tepat ke mata Ainzach dari dekat.

“Aku sangat marah. Tapi lebih dari itu, aku sangat sedih dengan kenyataan bahwa kalian tidak lain hanyalah pemburu monster biasa. Beraninya kalian menyebut diri sebagai para petualang? Ainzach, bagaimana menurutmu? Apakah kamu bersedia bertualang di bawah perintaku? Aku sangat berharap kalian semua –“

Disini, Ainz berhenti sejenak. Lalu, dia mengeluarkan kekuatan yang mengalir di mata dan suaranya.

“- Agar kalian mampu menjadi ‘Petualang’.”

Tekanan memenuhi ruangan tersebut, Seakan mengamati musuh yang telah terbantai dengan pukulan untuk menghabisi, Ainz menahan nafasnya – meskipun dia tidak bisa bernafas sejak awal – dan menunggu respon Ainzach.

“...Saya merasa ini adalah penawaran yang sangat menarik.”

Cahaya di dalam lubang mata Ainz meredup. Kelihatannya Ainzach akan menemukan alasan untuk menolak.

“-Oleh karena itu, saya berniat untuk menanyakannya kepada yang lain jika mereka bisa menerima penawaran ini. Memang benar dengan menggunakan para petualang seperti kami untuk tujuan seperti itu adalah seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Menjadi agen dari Sorcerous Kingdom adalah sesuatu yang bisa kami sepakati pada titik tertentu. Jika saya boleh berbicara sebagai mantan petualang... Saya sangat senang untuk membantu.”

-Eh, apakah itu artinya aku berhasil?

“Benarkah, sekarang...”

Ainz mundur kembali bersandar ke sofa.

Kegembiraan karena pidatonya berhasil menyebar dengan pasti ke seluruh tubuhnya, rasanya seperti ada perasaan meninggalkan seorang client setelah berhasil menutup kesepakatan, lalu bergegas ke kedai kopi untuk menghubungi perusahaan sendiri dan berteriak “Aku berhasil!” lewat telefon.

Dia tidak menduga pengalamannya sebagai seorang pengalaman akan berguna di sini. Tidak, karena hal pengalaman itulah Ainz bisa menemukan proposal tersebut.

Lalu, Ainz memikirkan sesuatu yang sangat penting sehingga harus dibicarakan segera. Masalah masa depan Sorcerer Kingdom yang dia bayangkan.

“Ah, benar sekali. Satu hal lagi.”

Ainz mengangkat satu jari tulangnya.

“Ketika kamu berkata ingin melindungi orang-orang itu, kamu mendefinisikannya meliputi seluruh humanoid. Oleh karena itu, tujuan para petualang adalah melindungi semua orang di dalam definisi itu.”

“Ya, itu benar, Yang Mulia.”

“Lalu, ketika topiknya berubah menjadi penyerangan, kamu mengindikasikan bahwa itu tidak apa selama mereka adalah demihuman, benarkah begitu?”

Ainzach mengangguk, ekspresinya berkata. “Lalu kenapa?”

“Sorcerous Kingdom akan menerima semua ras sebagai rakyatnya. Itu artinya, bukan hanya humanoid, bahkan demihuman dan heteromorf. Oleh karena itu, jika filosofi para petualang adalah melindungi orang-orang tersebut, maka kamu harus mempertahankan demihuman dan heteromorf pula.”

Mata Ainzach melebar.

“Apa yang anda katakan?!”

“...Kenapa? Aku tidak mengerti mengapa kamu sangat gelisah. Di dalam negeriku, tidak ada perbedaan antara manusia, demihuman atau heteromorf. Jika mereka mengakui aku sebagai raja mereka, maka mereka akan menjadi rakyatku.”

“Ini, Ini terlalu menggelikan. Ini tidak mungkin, Yang Mulia!”

“Begitukah? Aku pernah dengar sebuah negeri di utara Kingdom yang disebut Republik. Bukankah disana ada banyak ras yang bisa hidup berdampingan?”

“Memang benar, saya pernah dengar negeri semacam itu...tidak! Apakah anda berniat untuk membuat kami hidup berdampingan dengan ras-ras yang melihat manusia sebagai tidak lain hanyalah makanan?”

“Ternyata begitu, seperti yang kamu katakan. Sorcerous Kingdom tidak akan mengizinkan rakyatnya memakan sesama rakyat. Aku akan membuat itu sebagai hukum. Itu seharusnya cukup, ya kan? Namun, aku tidak akan menghentikan mereka jika mereka mencari mangsa yang bukan rakyatku. Lagipula, aku bukanlah semacam orang yang akan ikut campur dengan kebiasaan makan malam dari rakyatku... tidak, melihat anggota satu ras sendiri dibantai dan dijuaal dagingnya akan merusak otak.. mungkin masalah itu akan membutuhkan debat lebih jauh.”

Menurut Lupusregina, penduduk desa Carne hidup berdampingan dengan goblin dan ogre. Oleh karena itu, tidak ada alasan hal itu tidak mungkin bagi kota ini. Dengan begitu, jumlah orang-orang yang luar biasa banyak dan terlibat akan merumitkan masalahnya.

“Apa, Apa sebenarnya yang ingin anda, yang ingin anda lakukan?”

“Kamu memang banyak sekali menanyakan hal yang mengejutkan. Mengapa tidak bertanya mengapa kalian semua, sebagai sesama makhluk hidup, tidak bisa bersatu? Sebagai salah satu undead, aku sangat sulit mengerti hal itu. Bagiku, tidak ada perbedaan antara manusia dan goblin. Semua ras akan setara di bawah kekuasaanku. Tentu saja, aku akan berada di atas kalian sebagai penguasa absolut. Begitu juga para bawahan di bawahku.”

Nafas Ainzach kelihatannya berubah-ubah kecepatannya, sebelum mereda pada akhirnya.

“Jadi anda akan menerima goblin di bawah pemerintahan anda – membuatnya mereka menjadi rakyat anda?”

“Apakah kamu tidak mendengarkan apa yang kukatakan sebelumnya? Aku bilang aku akan mengambil Orc dan Ogre juga sebagai rakyatku, ya kan?”

“Maaf, Maafkan saya, saya memang mendengarnya, tapi saya yakin bahwa mereka adalah budak-budak anda.”

“Jawaban itu memang cocok dengan sebuah ras yang akan mengambil elf sebagai budak. Biar kuulang lagi – semua penduduk di bawah kekuasaanku akan setara.”

Saat dia menatap cara Ainzach yang terengah-engah, Ainz mempertimbangkan jika pria itu telah memahami niatnya.

Interpretasi yang ekstrim dari kalimat itu adalah setiap rakyat Sorcerous Kingdom adalah budak bagi Great Underground Tomb of Nazarick dan anggota-anggotanya. Tentu saja, Ainz tidak akan berkata demikian. Ataupun perlu berkata demikian. Sebaiknya Ainzach juga tidak mengambil kesimpulan seperti itu sama sekali.

“Ada banyak goblin di bawah perlindunganku. Dalam beberapa hari, sekelompok goblin akan mengunjungi E-Rantel. Cobalah untuk berbaur dengan mereka. Prasangka sebelumnya yang kalian miliki terhadap goblin pasti akan hancur. Ditambah lagi, Lizardmen tidak makan banyak daging, diet utama mereka adalah ikan. Dryads dan Treants senang dengan air yang bersih dan cahaya matahari, dan mereka hanya menyerang manusia karena mempertahankan diri.”

“Apakah anda sudah mengambil rakyat sebanyak itu di bawah pemerintahan anda?”

“Itu tidak diragukan lagi. Ada sangat banyak sekali demihuman dan heteromorf yang menjadi bawahanku. Oh, kelihatannya kita sudah melenceng sangat jauh dari topik. Kalau begitu, Ainzach, aku menganggap secara pribadi kamu setuju dengan Guild petualang menjadi bagian dari Sorcerous Kingdom?”

“-Selama Yang Mulia menepati ucapannya.”

“Kamu terlalu banyak khawatir, ya kan? Aku tidak berbohong. Para petualang hanya akan menjelajahi tempat-tempat yang tidak diketahui.”

Jika mungkin, dia berharap untuk menempatkan segala macam ras bersama-sama dalam satu kelompok dan mengirimkan mereka keluar.

“kalau begitu, aku akan serahkan tugas menjelaskan masalah itu kepada para petualang lain di tanganmu. Jika ada para petualang yang tidak setuju menjadi pelayan publi, maka aku tidak keberatan membiarkan mereka pergi.”

“Apakah itu tidak apa-apa?”

“Kerjasama yang terpaksa itu tidak akan efektif. Makanya, bisa dibayangkan perubahan besar-besaran pada struktur organisasi dan perubahan tiba-tiba dari praktik saat ini akan menyebabkan banyak masalah. Oleh karena itu, status quo akan dipertahankan, hingga titik tertentu. Perubahan yang paling jelas adalah adanya pendirian dari kantor investigasi untuk guild dan guildmaster.”

Yang tersisa adalah bagian yang paling penting; rayuan yang akan membuat lebih banyak petualang ingin bergabung dengan Guild Petualang Sorcerous Kingdom.

“Dukungan yang ditawarkan oleh Sorcerous Kingdom secara umum termasuk mendirikan fasilitas latihan. Akan sangat merugikan merintis jejak di tanah yang jatuh, hanya untuk dibantai oleh monster-monster yang tidak diketahui. Makanya, sebuah metode latihan yang praktikal daripada metode saat ini – itu adalah pertarungan langsung melawan monster-monster – akan dibutuhkan. Mempertimbangkan bahwa para petualang harus terbiasa dengan pertempuran tim, mungkin adalah ide yang bagus untuk membangung sebauh labirin bagi mereka untuk menyelaminya.”

Dan bagian monster-monsternya akan dipenuhi oleh undead POP Nazarick.

“Saya merasa itu adalah ide yang sangat bagus. Hanya saja, itu pastiya akan menjadi usaha yang cukup besar.”

Karena stafnya terdiri dari undead, yang tidak membutuhkan gaji, biaya operasionalnya tidak akan terlalu tinggi. Namun, tidak perlu terlalu terbuka dengan informasi itu. Seseorang harus menjual balas budi tanpa ragu-ragu ketika muncul kebutuhannya.

“Memang benar, ini akan membutuhkan investasi awal yang besar. Namun, itu masih dalam batas yang diperbolehkan bagi pengeluaran yang dibutuhkan. Lagipula, para petualang adalah sumber daya manusia yang berharga bagi Sorceroud Kingdom.”

“Saya sangat berterima kasih, Yang Mulia.”

“Tidak usah kaku. Kalau begitu, bagaimana? Apakah kira-kira para petualang akan tertarik dengan ini?”

“Memang benar, labirin akan sangat menarik bagi para petualang level rendah... tapi bagaimana jika para petualang memutuskan untuk pindah ke Guild Kingdom atau Empire setelah menyelesaikan latihan mereka?”

“Tentu saja itu tidak diperbolehkan. Ini adalah organisasi negara; penyalahgunaannya akan dianggap pengkhianatan.”

“Ternyata begitu... kelihatannya aku perlu menjelaskan bagian itu dengan hati-hati.”

“Kalau begitu, bagaimana kita menarik para petualang peringkat yang lebih tinggi?”

“Kelihatannya pemberian upah adalah jawaban terbaik.”

“Yah, memang seseorang tidak bisa hanya makan impian.”

“Seperti yang anda katakan. Ditambah lagi, tanpa senjata yang lebih baik, armor dan item-item magis lainnya, tidak mungkin bisa mengalahkan monster-monster yang kuat. Item-item ini tentunya sangat mahal.”

“...Hm. Memang begitu.”

Produksi massal bisa menurunkan harga equipment seperti itu. Namun, para petualang yang kuat sangat langka. Oleh karena itu perlengkapan mereka dibuat sesuai kebutuhan, yang mana akan meningkatkan harganya sangat tinggi. Ditambah lagi, orang-orang yang bisa membuat item seperti itu sangat langka, yang mana ditunjukkan oleh harganya. Dia harus memikirkan sebuah cara untuk menangani masalah-masalah yang mengikutinya pula.

“Ditambah lagi, aku ingin lebih banyak petualang – mereka yang ada di Kingdom dan Empire – tahu tempat ini. Apakah kamu punya ide?”

“Guild Petualang yang ingin didirikan oleh Yang Mulia adalah sebuah hal yang sangat diinginkan, dibandingkan dengan Guild Petualang Kingdom dan Empire. Ketika berita itu tersebar, Guild dari berbagai negeri mungkin akan mencoba usaha untuk menghalanginya agar bisa menjaga para petualang mereka ditarik keluar. Lagipula, masing-masing negeri menganggap para petualang mereka sebagai kartu as, dan mereka tidak senang melihat petualang mereka pergi ke negeri lain.”

“Memang benar, itu memang benar. Bagaimana menurutmu solusi yang bagus untuk hal ini?”

“Sulit bagi sayan untuk segera menjawabnya. Bolehkah saya diberikan sedikit waktu?”

“Setelah dipikir-pikir, itu memang benar. Aku juga harus merencanakan jalurnya untuk masa depan...”

Faktanya adalah, tujuan yang besar ini sedikit terlalu besar bagi Ainz untuk ditangani sendiri. Dia harus menenangkan diri, berpikir dahulu, lalu mendiskusikannya dengan orang lain.

Ainz bangkit berdiri.

“Kalau begitu, kita akan –“ Ainz cepat-cepat menutup mulutnya sebelum dia mengatakan sesuatu yang tidak sopan. Bukan begitu cara seorang raja seharusnya berbicara. “Kita akan selesaikan masalah ini untuk hari ini. Aku akan menemuimu lagi.”

Ainz cepat-cepat bangkit dan menundukkan kepalanya.

“Saya mengerti, Yang Mulia.”

Tanpa melihat ke belakang, Ainz meninggalkan ruangan itu melalui pintu yang dibuka oleh Fifth.

Meskipun dia ingin menghela nafas, dia masih berada di dalam guild. Melakukan tindakan seperti itu sekarang terlalu prematur.

Ainz memimpin Cherubim keluar dari guild petualang. Setelah berjalan sedikit jauh, dia menghela nafas lirih.

Ahhhhh~ Aku lelah sekali...

Sementara Ainz Ooal Gown tidak mungkin berkata dia lelah. Suzuki Satoru seperti menangis karena otaknya yang terlalu panas.

Sebelum aku bicara dengan Albedo tentang menyerap Guild Petualang, Aku harus beristirahat sejenak. Aku juga perlu menemukan cara untuk meyakinkan Albedo keuntungan dari rencana ini... ada begiu banyak hal yang harus dilakukan sekarang...

Ainz bergerak maju dengan hening. Dia tidak menggunakan magic teleportasi, malahan dia berdoa dia akan menemukan ide yang bagus sebelum tiba di rumah.


---


Pintu dari ruangan sebelah – kantor Ainzach – terbuka, dan seorang tamu baru masuk.

Pria yang memiliki tubuh yang teramat kurus itu – hingga titik dimana orang-orang akan menganggapnya anoreksia – adalah teman lama Ainzach, kepala dari Guild Magician E-Rantel, Theo Rakesheer.

“Pluton, itu tadi sangat mengejutkan. Aku tidak menduga Sorcerer King datang memanggil di tengah-tengah diskusi kita. Apakah dia mengetahui sesuatu?”

“Aku tidak yakin dengan hal itu.”

Pagi ini, Ainzach melakukan kegiatan rutin harian bertemu dengan Rakesheer di pagi hari untuk bertukar informasi.

Sejak kota tersebut jatuh dikuasai oleh Sorcerer King, mereka hanya bertemu di pagi hari. Alasannya adalah karena mereka percaya bahwa sebagian besar dari undead tidak suka dengan matahari. Tetap saja, setelah melihat pasukan undead yang berpatroli di jalanan, mereka tahu itu tidak lebih dari sekedar cara untuk menenangkan pikiran mereka.

Pertemuan mereka dilakukan pada dasarnya untuk tujuan bertukar berita, tanpa mempertimbangkan gerakan di masa depan dari Guild petualang dan Guild Magician. Atau lebih tepatnya, sejak didirikannya Sorcerous Kingdom, setiap orang yang bisa kabur sudah pergi ke Empire dan Kingdom. Guild Magician juga memindahkan seluruh item-item magic mereka keluar kota, dengan hanya beberapa anggota saja yang tetap tinggal. Dengan kata lain, Guild Magician di kota ini secara efektif dibubarkan.

Namun, masih banyak sekali yang perlu didiskusikan di dalam bidang analisa informasi.

Meskipun para petualang tidak secara khusus terikat dengan negara, bisakah mereka terus berjalan seperti sebelumnya, dari dalam Sorcerous Kingdom? Apakah Sorcerous Kingdom akan mengirimkan pemburu untuk mengejar mantan penduduk tanah ini yang sedang sibuk melarikan diri? Jika mereka berhasil melintasi perbatasan, apakah Sorcerous Kingdom akan meminta ekstradisi terhadap pengungsi dengan level nasional? Bagaimana dengan para magic caster?

Bagaimana mereka bisa menangani situasi ini tanpa mengorbankan Momon, yang sekarang adalah penduduk di sini? Ditambah lagi, bagaimana seharusnya Guild Petualang memperlakukan Momon?

Pihak Kuil tetap diam, merasakan bahwa Sorcerer King menjaga jarak dari mereka juga. Namun, apakah ini akan terus terjadi di masa depan? Apakah mereka akan memimpin gerakan perlawanan melawannya?

Masing-masing pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang menantang, yang membuat otak mereka bekerja sampai batasnya tanpa imbalan apapun. Namun, akan menyusahkan jika mereka tidak melakukan apapun dan hanya membiarkan situasinya berjalan. Pihak kuil yang jelas bingung dengan hal itu.

Bisakah kuil benar-benar menerima musuh abadi mereka, salah satu dari undead, sebagai raja mereka? Sekarang mereka masih berdamai, tapi sebagai gantinya hal itu semakin menakutkan bagi orang-orang.

Ditambah lagi, ada fraksi-fraksi reliji dari negeri-negeri sekitar. Jika situasinya memburuk, mereka mungkin akan memutuskan untuk mendeklarasikan gabungan perang suci, dengan pihak kuil di dalam Sorcerous Kingdom yang bertindak sebagai pasukan kelima. Situasi itu memiliki peluang bakal terjadi.

Alasan mengapa tidak ada orang di sini yang mewakili pihak kuil adalah karena keputusan mereka dalam masalah ini masih belum jelas. Sementara mudah saja memanggil mereka kemari, gawat juga jika mereka akhirnya ditarik ke dalam hal lain malahan.

Oleh karena itu, tak ada satupun dari mereka yang mengira pihak kuil akan benar-benar bisa mengalahkan Sorcerer king. Apa yang membuat mereka tidak tenang adalah pembantaian yang pasti akan terjadi setelah mereka mencobanya. Yang lebih buruk, mereka takut jika ini akan membuat Momon, Pedang dari Sorcerer king, membantai mereka semua. Ditambah lagi, bagaimana mereka akan menyembuhkan luka di dalam hati rakyat setelah sesuatu yang seperti itu terjadi?

Saat kepala mereka merasa perih karena peristiwa yang berantakan dan kacau, Sorcerer king tiba.

“Namun, kelihatannya Yang mulia telah merasakn kehadiranmu disini.”

Bukti terbaik adalah tawa mendengus dari Sorcerer king saat dia meliaht ke arah ruangan sebelah.

“Jika memburuk, semua yang kita biarakan mungkin sudah bocor.”

“Apa? Itu artinya...?”

“Benar sekali yang kamu pikirkan. Dia juga bermaksud dirimu mendengarkan ucapannya.”

Akustik di dalam ruangan ini diubah agar semua yang dikatakan di sini bisa didengar di ruangan lain. Karena itu, Rakesheer – yang sedang bersembunyi di ruangan sebelah – seharusnya mendengar semua yang mereka dua katakan.

“Apa tidak mungkin dia hanya salah duga?”

“Tidak, itu tidak mungkin. Hingga titik tertentu, dia seharusnya merasakan ada orang di sana. Namun, Yang Mulia mengiranya itu adalah orang dari kuil.”

Saat itu dia lebih kepada bingung daripada terkejut terhadap situasi yang tiba-tiba terjadi. Ketika dia pikirkan kembali, semua yang dia rasakan adalah penyesalan atas tindakannya. Betapa dia ingin menertawakan diri sendiri, yang telah menyembunyikan temannya dari sana.

Dia seharusnya mengundang Rakesheer keluar, agar mereka bertiga bisa menuangkan pikiran.

Memang benar, Sorcerer king mungkin belum mengeluarkan semua kartunya di meja. Namun, dia telah mengutarakan pendapatnya kepada hanya seorang rakyat biasa, dengan sikap agung sebagai seorang penguasa. Bagaimana cara dia melakukannya, sebaliknya?

Saat dia melihat Ainzach mengerutkan dahinya, Rakesheer bertanya dengan dingin:

“kalau begitu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Tidak, aku sudah tahu. Lagipula, kamu dulu memanggilnya Sorcerer king, tapi sekarang kamu memanggilnya dengan hormat.”

“Apakah kamu tidak berpikir ada orang yang mungkin akan mendengarkan percakapan kita?”

“Apakah kamu tidak berpikir bahwa itu alasanku bilang kepadamu sekarang?”

“Jangan-jangan aku sudah diguna-guna dengan magic?”

“Aku tidak sepenuhnya percaya diri mengeluarkan kemungkinan itu, tapi kukira tidak. Magic daya tarik memiliki batas waktu, dan bahkan jika Sorcerer king ingin tetap menjaganya, dia mungkin tidak akan bisa melakukannya.”

“Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin saja itu bisa bagi Yang Mulia.”

“Ayolah, yang benar saja. Itu akan sangat membuatku pusing jika benar. Lagipula, itu adalah magic dari tingkat 8 dan keatas, ranah para dewa.”

Dua orang itu tertawa sebentar, lalu Ainzach melanjutkan ekspresinya yang serius.

“Aku yakin membantu Yang Mulia dalam masalah ini adalah ide yang bagus.”

“Meskipun jika itu membuatmu menjadi antek dalam menyerang negeri lain?”

“..Bukankah itu adalah hal yang wajar jika negara yang kuat menundukkan yang lemah?”

“Jadi kamu tahu itu akan menghasilkan tragedi dan memilih mengizinkannya?”

“Keadaan mungkin tidak sepenuhnya berkembang ke arah itu. Lagipula, sejak Yang Mulia menguasai kota ini, siapa di antara kita yang lebih buruk?”

Rakesheer terdiam.

Hal yang mengejutkan adalah tidak ada siapapun di negeri ini yang bisa berkata mereka berada pada situasi yang lebih buruk daripada sebelumnya.

“Bukankah ada para petualang yang kehilangan pekerjaan mereka karena ini?”

“Yah, kamu memang benar, tapi bukankah itu sedikit... ayolah, katakan saja kepadaku.”

“Memang benar. Aku berbicara tanpa dipikir dahulu. Tetap saja, melihat ini adalah kesempatan yang sangat langka, mengapa kamu tidak bertanya kepada Sorcerer king apa yang dia pikirkan tentang pihak kuil?”

“Yang benar saja. Jika Yang Mulia memutuskan bahwa mereka adalah gangguan dan memutuskan untuk menghancurkan mereka karena sesuatu yang kukatakan, aku harus menjalankan sisa hidupku mengetahui bahwa aku telah menyebabkan pembantaian besar-besaran. Bagaimana mungkin aku bisa hidup jika itu terjadi?”

“Apakah kamu kira Sorcerer king adalah orang yang akan melakukan hal semacam itu?”

“Tidak. Kenyataannya, aku bilang malah sebaliknya. Yang mulia sangat rasional, hingga dimana itu sangat mengejutkan. Hingga titik dimana suatu ketika, aku penasaran jika wajah undead miliknya mungkin dibuat oleh magic. Ya – rasanya seperti ketika aku bicara dengan Momon-dono.”

“Ya, sedikit mirip dengan Momon-dono.”

Ainzach tersenyum tipis saat dia melihat teman lamanya yang berwajah tidak senang.

“Yah, itu memang benar. Itu tidak sopan karena sudah membandingkan seorang pahlawan umat manusia dengan undead Sorcerer king. Namun, ketika kamu mempertimbangkan bahwa mereka adalah makhluk yang memiliki kekuatan super, mereka agak mirip. Jika aku harus menjelaskannya... ya, aku bisa merasakan perasaan yang sama di sekitar mereka, sesuatu yang hanya bisa dipancarkan oleh mereka yang luar biasa.”

“Oh begitu. Itu memang masuk akal jika kamu menjelaskannya seperti itu.”

Dua orang itu membayangkan figur pahlawan hebat itu (Momon).

Lalu setelah berhenti sejenak, Ainzach melihat langsung ke arah Rakesheer.

“-Rakesheer. Jika kamu tidak ingin membantu Yang mulia, bisakah aku memintamu untuk tidak datang kemari lagi?”

Alasannya sudah tidak perlu diucapkan lagi. Lagipula, ruangan Ainzach mungkin akan digunakan untuk menyimpan data-data mengenai administrasi negara dari Sorcerous Kingdom. Membiarkan orang luar berjalan keluar masuk seenaknya ruangan itu jelas tidak tepat.

Ditambah lagi, ucapan dari Sorcerer king – yang membuat dampak yang besar di hati Ainzach – juga diucapkan kepada teman lamanya.

Visi baru dari para petualang yang dia ucapkan adalah sebuah visi yang bersinar dan agung. Di masa lalu, ada beberapa petualang yang menginjakkan kakinya ke tanah yang belum dikenal. Namun, kebanyakan dari mereka mati jauh dari rumah, atau putus asa menghadapi realita. Hanya beberapa orang yang bisa benar-benar melakukan hal seberbahaya itu. Tapi sekarang, Sorcerer king – seorang magic caster yang memiliki kekuatan absolut – menawarkan dukungan penuhnya kepada mereka. Itu membuat sebuah gambaran peluang yang baru bagi mereka.

Terkandung di dalamnya adalah kemungkinan menjadi petualang sejati.

Setelah berhenti sejenak, Rakesheer akhirnya bicara.

“Aku bilang, Ainzach. Kamu tahu khan kalau guild magician di kota ini secara praktis dibubarkan, ya kan?”

“Ahh, jadi begitu.”

“kalau begitu, biarkan aku mendukungmu dengan seluruh tenaga, sebagai mantan temanmu. Setelah semua ini selesai, mengapa kita tidak pergi menjelajahi tempat-tempat yang belum diketahui pula?”

“-Haha,” Ainzach tertawa kecil. “Pikirkanlah usia kita. Huhu – apakah kita akan benar-benar melakukannya?”

“Mengapa tidak? Meskipun, kamu harus bicara kepada Yang mulia dulu, lalu meyakinkannya agar tidak membuat larangan usia di guild petualang.”

Lalu mereka berdua memenuhi ruangan itu dengan tawa bahagia.

Berlangganan via Email