Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Baca Overlord - Volume 4 - Epilog

Epilog

Zaryusu merasakan sensai lembut menutupi seluruh tubuhnya. Sebuah tangan yang ingin menarikanya dari jurang, tapi Zaryusu mengesampingkannya. Dia merasa hal yang menjijikkan dari sentuhan tangan itu.

Setelah beberapa saat antara sekejap dan selamanya, dia merasakan tangan yang terulur kepadanya sekali lagi. Saat dia akan menyingkirkannya ke samping dua kali, dia ragu. Mendengar dengan baik-baik, dia bisa mendengar sebuah suara yang datang dari samping. Ternyata, kesadaran yang tidak sopan ini adalah suara dari wanita yang sangat dia cintai dalam-dalam.

Ragu-ragu.

Ragu-ragu.

Masih ragu-ragu.

Di dalam dunia ini dimana tidak pasti apakah ada waktu sama sekali, Zaryusu terus ragu-ragu. Akhirnya, dia meraih tangan itu meskipun ragu-ragu melakukannya.

Dan dia akhirnya ditarik ke dalam dunia yang cerah.

Rasa lelah menyebar ke seluruh tubuhnya.


Seakan di dalam tubuhnya telah berubah menjadi pasta.

Lalu dia merasa lelah tidak biasanya. Dia tak pernah merasa selelah ini meskipun setelah memaksa fisik tubuhnya secara berlebihan.

Zaryusu berusaha untuk membuka kelopak matanya.

Cahaya yang membutakan masuk di matanya. Meskipun mata lizardmen akan secara otomatis menyesuaikan dengan intensitas cahaya, itu tidak bisa dilakukan dengan sekejap. Zaryusu mengedipkan matanya-

"Zaryusu!"

Seseorang sedang memeluknya erat-erat.

"C-Crusch?"

Seharusnya tidak mungkin dia akan mendengar ini lagi, suara wanita ini.

Zaryusu akhirnya menyesuaikan matanya, dan dia melihat wanita tersebut sedang memluknya.

Itu memang benar wanita yang dia cintai, Crusch Lulu.

Mengapa? Apa yang terjadi?

Sebuah gelombang pertanyaan dan ketidak nyamanan mengalir ke arah Zaryusu. Dalam ingatan terakhirnya adalah - ketika kepalanya telah terjatuh ke wetland. Dia sudah pasti telah terbunuh oleh Cocytus.

Lalu mengapa dia masih hidup? Kecuali kalau -

"-Apakah Crusch juga terbunuh?"

"Eh?"

Zaryusu membuka mulutnya untu bertanya, namun mulutnya terasa seperti mati rasa, tidak mampu bergerak dengan benar.

Jawaban yang dia dapatkan adalah tampang yang sangat bingung dari wajah Crusch. Melihat ekspresi itu, Zaryusu sedikit lega, mengetahui Crusch tidak tewas. Lalu mengapa dia masih hidup?

Sebuah petunjuk diberikan padanya dari sebuah suara di sampingnya.

"Memang ada sedikit kebingungan setelah dibangkitkan. Kelihatannya levelnya juga turun... oleh karena itu bisa diputuskan bahwa tidak ada banyak perbedaan dari YGGDRASIL."

Menyadari siapa yang bicara kepadanya, Zaryusu melihat dengan terkejut ke arah itu.

Yang sedang bediri disana adalah Maharaja Kematian; Magic Caster yang memiliki kekuatan yang tidak dapat dipahami.

Di tangannya dia menggenggam tongkat pendek yang berkilauan dengan panjang sekitar tiga puluh sentimeter, mengeluarkan aura sakral ang muncul dari entah dimana di tangan Maharaja Kematian. Benda itu sangat cantik yang kelihatannya terbuat dari gading, dengan tampilan yang ditutupi oleh emas dan dengan pegangan yang terukir dengan kalimat kuno.

Meskipun Zaryusu tidak tahu, itu adalah tongkat kebangkitan, item yang bisa membangkitkan Zaryusu. Hanya seorang magic caster dengan basis faith yang bisa menggunakan item yang ditambahi oleh magic dengan basis faith. Namun, item magic ini adalah pengecualian dari sistem faith base dan bisa digunakan. Zaryusu pelan-pelan memutar tatapannya, dan menyadari tempat ini sebagai desa lizardmen.

Seakan mereka bermaksud untuk mengelilingi seluruh tempat ini, seluruh lizardmen bersujud. Yang lebih mengagetkan lagi adalah bahwa mereka tidak bergerak - postur tersebut adalah seseorang yang sedang menyembah makhluk yang luar biasa kuat.

"Apa yang terjadi..."

Setelah menyaksikan kekuatan semacam itu, bersujud adalah hal yang alami. Namun, lizardmen di sekitar bukan hanya menunjukkan rasa hormat, tapi sesuatu yang lebih. Lizardmen tidak memiliki dewa. Sesungguhnya, obyek kepercayaan mereka adalah spirit leluhur mereka. Perasaan yang dikeluarkan sekarang oleh lizardmen yang ada di sekitar seperti mereka yang ditujukan kepada seorang dewa.

"Hm. Mundurlah, lizardmen. Tanpa perintah, tak boleh ada yang memasuki desa."

Tak ada yang protes dengan kalimat ini. Terlebih lagi, diterima tanpa ada suara. Satu-satunya suara yang mereka dengar adalah suara tubuh yang bangun dan percikan air karena berjalan di wetland. Meninggalkan mereka, lizardmen pergi dari situ.

Melihat dia yang sangat kuat sehingga dia memiliki derajat kekuatan setara seperti itu, semangat mereka seharusnya sudah benar-benar dikalahkan. Budaya lizardmen yang tunduk kepada yang kuat ikuat ambil bagian pula. Itu artinya bahwa semuanya berjalan menurun rencana pihak lain.

"Aura, apakah mereka semua sudah pergi?"

"Ya, mereka sudah pergi."

Yang membalas adalah seorang gadis dark elf. Meskipun ada juga faktor bahwa dia telah berada di belakangnya, tak kelihatan selama ini, gadis itu ternyata kehadirannya tidak bisa dirasakan sama sekali, oleh karena itu Zaryusu tidak tahu sama sekali.

"Baiklah. Selanjutnya pertama, beberapa kalimat untukmu, Zaryusu Shasha. Selamat atas kebangkitanmu."

Kebangkitan.

Sampai dia mengerti arti dari kalimat ini, Zaryusu membutuhkan sedikit waktu. Lalu setelah dia memahami, dia juga merasa gemetar di seluruh tubuh.
Kebangkitan - itu artinya dia sudah hidup lagi.

Dia tidak bisa berkata apapun dan hanya bisa melongo.

"Ada apa? Apakah lizardmen memiliki suatu ketidaksukaan terhadap kebangkitan? Ataukah kamu sudah lupa bagaimana cara berbicara?"

"Glug, glug... batuk... a-anda bisa membangkitkan yang telah tiada..?"

"Itu benar. Apa, kamu kira hal semacam itu tidak bisa dilakukan?"

"Apakah anda melakukan...upacara besar?"

"Upacara besar? Apa itu? Aku tidak ada masalah melakukannya dengan mudah sendirian."

Mendengar ini, Zaryusu benar-benar kehilangan kata-kata. Menurut legenda, magic kebangkitan (resurrection) adalah kekuatan yang hanya dimiliki oleh lizardmen dari garis keturunan raja naga.

Dan dia melakukannya sendirian.

Monster? Bukan.

Magic Caster yang luar biasa kuat? Bukan.

Zaryusu mengerti hal ini sepenuhnya.

Memimpin pasukan yang hanya mitos, memerintah para demon.

Itu artinya, ini - Wujud di hadapannya adalah mereka yang setara dengan para dewa.

Zaryusu terhuyung-huyung, dan bersujud sendiri di depan Ainz. Crusch juga dengan penuh ketakutan berlutut dengan sikap yang sama.

"Supreme One."

Dia mengira mata yang melihat ke bawah itu terlihat bingung, tapi Zaryusu telah memutuskan bahwa dia salah.

"Saya persembahkan nyawa saya kepada anda."

"Bagus sekali. Apa yang kamu inginkan? Aku akan mengabulkannya demi nama Ainz Ooal Gown."

"Mohon kabulkan kemakmuran kepada lizardmen."

"Itu adalah hal yang wajar, tentu saja aku akan menjamin kemakmuran kepada semuanya yang berada di bawah kekuasaanku."

"Hamba berterima kasih."

"Bagus. Apakah cara bicaramu masih kurang jelas? Beristirahatlah sebentar dan kamu akan terbiasa. Beristirahatlan mulai sekarang. Setelah itu ada banyak hal yang harus diselesaikan. Pertama adalah pertahanan dari desa yang dibawah kekuasaanku... untuk lebih jelasnya, berdiskusilah dengan Cocytus."

Ainz pergi setelah dia selesai berkata seperti ini. Namun, sebelum itu, ada sesuatu yang harus dikatakan oleh Zaryusu, dan dia harus melakukannya sekarang.

"Tunggu sebentar. Bagaimana dengan Zenberu dan kakak?"

"Mayat mereka seharusnya masih ada di sekitar sini."

Ainz, yang baru saja berencana untuk pergi dengan Aura, berhenti sejenak dengan memberi isyarat di luar desa.

"Maukah anda menghidupkan mereka?"

"...Hmm...Aku tidak melihat keuntungan apapun untuk melakukannya."

"Lalu kenapa hamba? Zenberu dan kaka adalah yang sangat kuat. Mereka pasti akan berguna."

Ainz mengamati Zaryusu dengan detil, lalu mengangkat bahunya.

"Aku akan mempertimbangkannya... persiapkan dua mayat itu dengan baik. Aku akan mempertimbangkannya nanti."

Setelah berbicara, Ainz mengibaskan jubahnya saat dia pergi. Aura bisa didengar saat dia berjalan di sampingnya "Hydra itu manis sekali ne~", dan suaranya menghilang di kejauan dan akhirnya menghilang.

Zaryusu akhirnya berhenti roboh dan lega.

"Aku berhasil melewatinya hidup-hidup... atau lebih tepatnya, Aku dihidupkan kembali..."

Dia tidak tahu peraturan macam apa yang akan menantinya di masa depan. Namun karena kegunaan lizardmen meninggalkan kesan, seharusnya tidak terlalu buruk.

"Crusch, kakak-"

"Lupakan hal itu. Khawatirkan nanti. Untuk sekarang beristirahatlah dengan baik dan hilangkan lelahmu. Nanti akan baik-baik saja, aku bisa membawamu."

"Ah... terima kasih."

Zaryusu menutup matanya dan berbaring. Seperti hari-hari dimana dia telah memaksa tubuhnya hingga berlebihan, dia buru-buru beristirahat, dan tertidur ketika matanya tertutup.

Sekali lagi Zaryusu merasakan sentuhan lembut dari tangan di tubuhnya maju dan mundur saat kesadarannya kembali ke kegelapan.

Berlangganan via Email