Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Baca Overlord - Vol 4 - Chapter 1

 Departure - Keberangkatan

Part 1

Pegunungan Azellerisia - Deretan pegunungan yang memisahkan Baharuth Empire dan Kingdom Re-Estize, yang juga berfungsi sebagai perbatasan negara. Hutan Besar Tove menyelimuti lereng gunung bagian selatan dan di bagian utara dari hutan ada danau yang sangat besar.

Danau yang sangat besar ini memiliki radius kurang lebih dua puluh kilometer, dan berbentuk seperti labu yang terbalik, dibagi menjadi bagian atas danau dan bagian bawah danau. Bagian atas danau relatif dalam, oleh karena itu makhluk-makhluk besar berkumpul disana sementara bagian bawah danau dihuni oleh makhluk-makhluk yang lebih kecil.

Di tepian selatan dari danau bagian bawah adalah area yang luas dimana danau dan tanah basah bercampur satu sama lain. Banyak bangunan yang dibangun di sana, dengan lusinan tonggak kayu yang menjadi pondasi masing-masingnya. Sebuah pintu terbuka dari sisi salah satu rumah-rumah ini, dan pemiliknya memasuki cahaya matahari.

Ras Demi-human yang dikenal dengan lizardmen (manusia kadal).

Lizardmen adalah makhluk dengan karakteristik antara manusia dan reptil. Lebih spesifiknya, disamping kepala mereka yang tidak memiliki fitur manusia pada dasarnya, mereka adalah kadal yang berdiri dengan dua kaki, dengan tangan dan kaki yang terampil.


Mereka dianggap sebagai demi-human bersama goblin dan orc, dan tidak memiliki peradaban seperti manusia, dengan gaya hidup yang termasuk bar-bar bagi lainnya. Namun, hal itu juga bisa disangkal bahwa mereka memiliki kebudayaan sendiri.

Lizardmen Pria dewasa memiliki tinggi rata-rata 190 centimeter dan bangga dengan otot mereka yang kuat, dengan berat 100 kg dengan sedikit lemah tubuh.

Ekor reptil digunakan untuk menyeimbangkan badan tumbuh dari pinggang mereka.

Evolusi menyebabkan mereka memiliki selaput kaki agar bisa dengan mudah bergerak di tanah basah. Itu juga karena aktivitas tanah ini sedikit tidak menyenangkan, tapi ini tidak masalah bagi gaya hidup mereka pada umumnya.

Sisik-sisik mereka yang berwarna hijau gelap dan abu-abu arang mirip dengan buaya daripada kadal, dan sisik-sisik itu lebih keras daripada equipment pertahanan tingkat rendah yang digunakan oleh manusia.

Ada lima jari di tangan mereka seperti manusia, tapi cakar yang pendek tumbuh di ujungnya.

Senjata yang digenggam di kedua tangan pada dasarnya adalah item kuno. Karena tidak mungkin bagi mereka menemukan Ore / bijih logam di tanah yang basah, senjata mereka pada dasarnya adalah tombak yang dibuat dari cakar binatang buas, atau mirip dengan senjata tumpul dengan batu yang diikat padanya.

Langit yang berwarna biru cerah, matahari telah naik ke udara, dan sejumlah kecil dari awan tipis dengan corak sisir di langit. Itu adalah cuaca yang baik dengan deretan pegunungan di kejauhan yang bisa terlihat jelas.

Jarak pandangan dari lizardmen sangat luas, dan titik buta dari matahari bisa terlihat meskipun tanpa menggerakkan kepala. Dia, Zaryusu Shasha, memicingkan mata dan berjalan menuruni tangga dengan berirama.

Dia, Zaryusu Shasha, memicingkan mata dan menuruni tangga dengan berirama, sambil menggaruk sisik hitam yang menempel di dadanya.

Lizardmen memiliki kelas sosial yang ketat, dengan kepala suku sebagai pemimpin suku. Posisi ini tidak diputuskan oleh darah, tapi dipilih oleh anggota suku karena menjadi individu yang terkuat. Pemilihan kepala suku ini berlangsung sekali setiap tahun.

Membantu kepala adalah dewan tetua yang terdiri dari para lizardmen tua. Dibawah mereka adalah kelas warrior, diikuti dengan lizardmen pria pada umumnya, lizardmen wanita pada umumnya dan lizardmen muda. Masyarakat mereka tersusun seperti itu.

Tentu saja, ada juga mereka yang tidak termasuk dalam kategori ini.

Pertama adalah druid, yang dipimpin oleh tetua druid. Mereka membantu kehidupan suku melalui penggunaan penyembuh magic dan prakiraan cuaca untuk memprediksi bahaya.

Selanjutnya adalah pemburu, yang peringkatnya terdiri dari ranger, bertanggung jawab untuk memanen ikan dan berburu, tapi karena lizardmen biasa juga akan membantu aspek ini, pekerjaan penting mereka adalah aktifitas hutan.

Lizardmen adalah binatan omnivora, tapi makanan pokok mereka adalah spesies ikan dengan panjang sekitar 80 centimeter, dan mereka tidak mengkonsumsi banyak tumbuhan atau buah.

Meskipun begitu, para pemburu yang masuk ke dalam hutan biasanya mencari kayu. Bagi lizardmen, tanah itu tidak aman, dan meskipun mengumpulkan kayu dari hutan membutuhkan personel yang mumpuni.

Dengan begitu, mereka boleh membuat keputusan sendiri, tapi tetap saja di dalam kewenangan area adalah kepala suku dan harus mematuhi perintah kepala suku. Lizardmen karenanya memiliki masyarakat paternalistik yang jelas dengan pembagian pekerjaan kasar dilakukan menurut jobnya. Namun, ada juga mereka yang diluar kewenangan daerah dari kepala suku.

Mereka adalah para penjelajah atau traveler.

Mendengar traveler akan memicu kesan orang asing, tapi ini tidak mungkin dalam masyarakat lizardmen. Lizardmen memiliki masyarakat tertutup. dan situasi dimana orang luar diterima di dalam suku adalah hal yang sangat langka.

Jadi, siapa para traveler ini?

Mereka adalah lizardmen yang ingin melihat dunia luar.

Pada dasarnya, setidaknya ada hal drastis yang terjadi seperti kurangnya bahan pangan, lizardmen tidak akan meninggalkan kampung halaman mereka. Namun, ada peluang kecil bahwa lizardmen yang ingin melihat dunia luar akan muncul.

Ketika traveler memutuskan untuk meninggalkan sukunya, mereka akan memiliki tanda khusus yang menempel di dada mereka. Ini adalah bukti bahwa mereka meninggalkan wewenang daerah dari kendali suku ketika meninggalkannya.

Kebanyakan dari mereka yang meninggalkan suku tak pernah kembali, tewas ketika dalam perjalanan, menemukan tempat baru yang bisa disebut rumah, atau menemui nasib lain...tapi dalam kesempatan langka, mereka akan kembali ke kampung mereka setelah melihat dunia.

Traveler yang kembali dinilai tinggi karena level pengetahuan yang mereka kumpulkan. Meskipun mereka adalah individu yang terpisah dari kekuatan hirarki, mereka masih menonjol dalam suku.

Ada beberapa dari mereka yang menjaga jarak dari Zaryusu karena hormat, tapi ketenarannya lebih hebat dari itu. Bukan karena dia adalah seorang traveler. Alasannya adalah...

Ketika turun dari tangga yang paling bawah ke permukaan tanah basah, senjata favoritnya disarungkan pada pinggang bergesekan dengan sisiknya, membuat suara klik.

Itu adalah pedang biru dan putih dengan kilauan yang redup. Bentuknya sedikit aneh, pedang dan pegangannya jadi satu, mirip dengan garpu bergigi tiga. Dari bagian pegangan menjadi semakin tipis, sampai setipis keras pada ujung pisaunya.

Tak ada lizardmen yang tidak tahu senjata ini. Seluruh suku lizardmen di sekeliling menganggapnya sebagai salah satu item magic yang berharga: Frost Pain.

Ini adalah alasan dibalik ketenaran hebat Zaryusu.

Zaryusu mulai bergerak.

Dia memiliki dua tempat tujuan. Hadiah yang dia ingin berikan kepada salah satu tujuan itu saat ini dibawa di punggungnya.

Itu adalah salah satu ikan terbesar yang berfungsi sebagai makanan pokok dari lizardmen. Berjalan dengan membawa empat ikan ini di punggungnya, bau yang masuk ke hidung tidak membuatnya tidak nyaman bagi Zaryusu. Sebaliknya, itu adalah bau yang membuatnya merasa lapar.

Nafsu lapar yang besar. Setelah mengeluarkan angin dari hidungnya berkali-kali, dia menyingkirkan nafsu ini. Seperti itu, contoh cara jalan Zaryusu tanpa berhenti menyusuri desa suku Green Claw (Cakar Hijau).

Anak-anak, yang masih memiliki sisik cerah, berlarian dan berteriak 'sha sha' dalam tawanya, tapi berhenti ketika mengetahui obyek di punggung Zaryusu. Anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan yang sehat menatap Zaryusu dari balik bayangan rumah-rumah mereka -- tidak , itu karena ikan tersebut mereka berkumpul. Mulut mereka sedikit terbuka, bahkan mengeluarkan air liur. Mereka tetap menjaga jarak dari Zaryusu, tapi tatapan mereka masih terkunci, dengan tatapanseperti anak-anak yang menginginkan cemilan.

Zaryusu tersenyum kecut dan pura-pura tidak mengetahuinya saat dia terus berjalan. Dia sudah memutuskan untuk siapa dia akan memberikannya. Memang disesali, tapi ikan-ikan itu bukan untuk anak-anak tersebut.

Tatapan anak-anak tersebut bukan karena lapar -- sesuatu yang tidak mungkin terjadi dari beberapa tahun yang lalu. Ini memberikan perasaan gembira bagi Zaryusu.

Dengan punggung menghadapi tatapan yang segan, dia melewati area permukiman dan tiba di gubuk yang menjadi tujuannya.

Area ini tidak tersambung dengan desa. Sedikit jauh, dan menjadi berbeda dengan tanah basah yang merupakan kedalaman umum dari danau. Gubuk ini, lebih kuat dari yang terlihat, dibangun dengan batas yang halus dan lebih lebar dalam ukurannya daripada rumah Zaryusu.

Anehnya adalah seperti miring. Karena alasan inilah, sekitar separuh dari rumah itu terendam dalam air. Tidak roboh karena rusak, tapi memang dibangun dengan maksud seperti itu.

Dengan mendesah, Zaryusu semakin dekat dengan rumah itu sambil membuat suara air yang terdengar.

Suara pujian bisa terdengar dari dalam gubuk, mungkin dikarenakan bau dari ikan-ikan.

Dengan suara mencicit, kepala ular dengan sisik coklat dan pupil mata yang berwarna amber (kuning sawo) muncul dari jendela. Setelah memastikan itu adalah Zaryusu, leher yang memanjang dan genit itu berputar di sekelilingnya.

"Bagus, bagus."

Dengan gerakan tangan yang terbiasa, Zaryusu mengelus tubuh ular tersebut. Ular itu dengan nyaman memicingkan mata menggunakan membran pelindung matanya. Zaryusu juga mengira bahwa kulit ular yang bersisik terasa tidak apa.

Makhluk ini adalah binatang peliharaan Zaryusu, disebut Rororo.

Karena Rororo dirawat dari kecil, dia seakan mengerti bahasa Zaryusu.

"Rororo, aku membawakan makanan, jadilah anak baik dan makan ini okay?"

Zaryusu melemparkan ikan yang dibawa melalui jendela. 'Dang' dan 'Pluck' bisa terdengar dari dalam.

"Aku benar-benar ingin tinggal dan main, tapi sekarang ini aku harus mendatangi ikan-ikannya. Sampai jumpa nanti."

Ular itu mungkin mengerti isi pembicaraan, dan mengeluarkan suara segan dan pelan-pelan melepaskan Zaryusu sebelum kembali ke dalam rumah. Setelah itu, suara kunyaan bisa terdengar dari dalam.

Setelah memastikan Rororo dalam keadaan sehat, menurut sikap semangat makannya, Zaryusu meninggalkan gubuk.

Tujuan Zaryusu setelah dari gubuk adalah ke danau, yang mana cukup jauh dari desa.

Zaryusu tanpa suara mendengus menyusuri hutan. Berenang di air seharusnya lebih cepat, tapi kekhawatirannya akan 'apakah ada masalah atau tidak di tanah' telah membuat kebiasaannya mengawasi jalan darah. Hanya saja pepohonan akan menghalangi pandangannya sambil berjalan, oleh karena itu Zaryusu juga bisa menganggapnya masalah yang memakan sedikit konsentrasinya.

Akhirnya dia bisa melihat tujuannya dari celah pepohonan. Zaryusu mengeluarkan helaan nafas lega karena tak ada rintangan yang muncul di jalan. Dengan hanya jarak sisa yang pendek untuk bepergian melewati hutan, Zaryusu mempercepat langkahnya.

Dahan-dahan pohon yang menabraknya didorong ke pinggir seperti seorang penyelam di air, Zaryusu melebarkan matanya terkejut. Ini bukan karena dia melihat figur punggung dari orang yang tidak dia sangka akan bertemu.

Orang itu mirip dengan Zaryusu: lizardmen dengan sisik hitam.

"Kakak..."

"...Oh, itu kamu."

lizardmen dengan sisik hitam memutar kepalanya dan melihat Zaryusu dengan sambutan. Lizardmen ini adalah kepala suku dari suku cakar hijau; Kakak dari Zaryusu yaitu Shasuryu.

Dia memenangkan kompetisi sebagai kepala dua kali berturut-turut dan memperoleh posisinya tanpa harus bertarung tahun ini. Tubuhnya memang besar menakjukan. Ketika dia berdiri di samping Zaryusu, yang merupakan tinggi rata-rata, dia membuat Zaryusu kelihatan kecil.

Ada sebuah luka lama yang panjang dan putih di sisik hitamnya. Terlihat seperti petir yang menembus awan gelap.

Orang ini membawa pedang besar di punggungnya, tingginya hampir dua meter dan badan yang besar dan rata-rata. Pedang baja -- adalah bukti menjadi kepala suku -- memiliki magic yang meningkatkan ketajamannya dan mencegahnya berkarat.

Zaryusu dan kakaknya berdiri berdampingan di tepi danau.

"Apa yang kamu lakukan disini."

"...Kakak, seharusnya itu bukan ucapanmu, tapi aku, Ini bukan tempat bagi kepala suku untuk dikunjungi secara pribadi."

"Muu-"

Kehilangan kata-kata Shasuryu menggumamkan kalimat yang sering didengar darinya, lalu berputar untuk melihat danau di depannya.

Batang yang memanjang dari dalam danau, mengelilingi area. Diletakkan dengan hati-hati, ada jaring yang bagus diantara batang-batang itu. Tujuan mereka sangat jelas dengan sekali lihat.

Itu adalah ladang ikan.

"Jangan-jangan... mencuri makanan?"

Mendengar ucapan Zaryusu, ekor Shasuryu melompat dan menepuk tanah dengan suara keras.

"Muu, tidak mungkin itu terjadi. Aku hanya kemari untuk memeriksa kondisi peternakan."

"..."

"Adik, apakah kamu melihat kakakmu ini seperti itu?"

Menyelesaikan kalimatnya dengan intonasi yang kuat, Shasuryu menggerakkan satu kaki ke depan. Tekanan yang dia berikan terasa seperti dinding yang menekan Zaryusu. Bahkan Zaryusu, yang merupakan traveler yang berpengalaman dan veteran pada banyak pertarungan, merasakan keinginan untuk mundur beberapa langkah.

Namun, dia memiliki alasan yang sempurna untuk membantah.

"Jika hanya untuk memeriksa kondisi perkembangbiakan, berarti kakak tidak menginginkan mereka. Sayang sekali, kakak. Jika mereka dikembangbiakkan dengan baik, aku berpikir untuk memberikan kepadamu beberapa diantaranya."

"Muu-"

Bunyi gedebuk pun berhenti, dan ekor itu terlihat kecewa.

"Baunya harum juga. Mereka menjadi sangat gemuk karena nutrisi yang tiap hari diberikan, bahkan lebih gemuk dari ikan hasil perburuan."

"Oh-"

"Jika kamu menyimpan mereka di mulutmu, cairan yang enak akan mengalir keluar. Menggigitnya juga akan terlihat meleleh di mulut."

"Muuu-"

Sekali lagi ekor itu memberikan suara gedebuk, bahkan lebih intens dari sebelumnya.

Separuh perhatian Zaryusu tertuju pada ekor itu, separuh lagi tertuju pada sikap menggoda kakaknya.

"Kakak ipar juga menyebutkan ini sebelumnya. Ekor kakak itu terlalu jujur."

"Apa? Orang menakutkan itu, mengolok-olok suaminya sendiri. Coba katakan sekali lagi, bagian mana yang terlihat jujur?"

Saat memandang kakaknya yang menjawab sambil melihat bahu pada ekor yang diam itu, Zaryusu sejenak kalah dan tak tahu harus berkata apa, sebelum menjawab dengan samar-samar 'benar'.

"Huh. Orang mengerikan itu.. Jika kamu memiliki wanita...maka kamu akan mengerti bagaimana perasaanku sekarang."

"Aku tidak akan bisa menikah."

"Huh, omong kosong. Apakah karena tanda itu? Kamu sebaiknya mengabaikan apapun yang dikatakan oleh para tetua. Berkata bahwa tidak ada wanita di desa ini yang akan menemukan daya tarikmu memang menjengkelkan...bahkan seseorang dengan ekor yang indah akan menerimamu."

Lizardmen menyimpan nutrisi mereka di ekor, oleh karena itu memiliki ekor yang tebal adalah faktor kunci yang penting bagi lawan jenis. Di masa lalu, Zaryusu akan memilih wanita yang memiliki ekor yang tebal. Namun, Zaryusu yang sudah dewasa, yang sekarang memahami dunia, tidak akan memilih seperti itu.

"Berbicara mengenai situasi desa sekarang, aku tidak ingin wanita yang memiliki ekor yang tebal. Jika aku menggunakan ekor sebagai kriteria, aku akan memilih wanita dengan ekor tebal. Secara pribadi, aku rasa yang seperti kakak ipar juga tidak apa."

"Tentu saja tidak apa bagi orang dengan kepribadian sepertimu...kecuali, jangan berani macam-macam. Aku tidak ingin membabat orang hanya karena urusan bodoh. Ngomong-ngomong, kamu juga harus menyadari sakitnya ketika sudah menikah. Tidak adil hanya aku yang merasakannya."

"Hey, hey, kakak...aku akan bilang kakak ipar lho."

"Ugh.... ini benar-benar luka akibat pernikahan. Bahkan aku, kakakmu dan kepala suku, bisa diancam."

Tawa lepas terdengar di tepian danau.

Setelah tawa berhenti, Shasuryu melihat ikan-ikan di danau saat dia mengutarakan kekecewaannya.

"Tapi jujur saja? Memang hebat; Kamu..."

Zaryusu datang untuk menyelamatkan kakaknya yang terdiam.

"Maksudmu ladang pengembangbiakan?"

"Benar, benar, itu maksudku. Di masa lalu suku, kita tidak pernah memiliki individu yang akan melakukan hal seperti itu, semakin banyak orang yang iri dengan penampilan ikanmu dan meniru caramu."

"Itu semua berkat kakak. Aku tahu kakak telah mengatakan banyak hal tentangku kepada setiap orang."

"Adik, bicara kepada banyak orang tentang kenyataan tidak seberapa. Hal semacam itu hanyalah sebuah anekdot. Jika bukan karena kerja kerasmu dalam merawat ikan seenak itu dari ladang peternakan, ucapan itu tidak akan ada gunanya."

Ladang peternakan pertama terus-terusan gagal. Ini memang sudah diduga, karena mereka membangun hanya berdasarkan kesan dari pembicaraan selama perjalanan. Hanya membuat pagar saja menemui berbagai macam kendala. Setelah mencoba trial dan error selama satu tahun, meskipun danau ikan sudah dibuat, masih ada pekerjaan lebih banyak untuk dilakukan.

Ikan tidak bisa ditinggal begitu saja tanpa dirawat. Perlu mendapatkan makanan ikan.

Ikan di danau ikan berkali-kali mati ketika melakukan percobaan dengan berbagai macam makanan untuk mengetahui makanan apa yang terbaik. Ada banyak hal di sekeliling jaring yang dirusak oleh monster, membuat ikan-ikan itu bebas.

Ada beberapa yang mengkritiknya di belakang karena 'memperlakukan ikan yang ditangkap untuk makanan sebagai mainan'. Ada juga mereka yang mengatakan bahwa dia hanya orang bodoh. Namun, hasil dari kerja kerasnya membuahkan sesuatu.

Bayangan dari ikan yang besar-besar dan berenang terpantul pada permukaan danau. Dibandingkan dengan ukuran ikan yang diburu, mereka termasuk kategori yang besar, dan tak ada lizardmen yang akan percaya bahwa ikan-ikan ini adalah mereka yang dirawat dari lahir, selain kakak Zaryusu dan kakak iparnya.

"...Benar-benar menakjubkan, adik."

Melihat pemandangan yang sama, kakak Zaryusu mengatakan ini dengan suara rendah di waktu yang sama. Kalimatnya dipenuhi dengan emosi.

"Ini juga berkat kakak."

Adik yang menjawab juga menyampaikan emosi di nadanya.

"Huh, apa yang sudah kulakukan?"

Sebenarnya, si kakak - Shasuryu tidak melakukan apapun. Namun, itu hanya posisi resmi.

Ketika masa dimana kesehatan ikan menurun, para priest tiba-tiba muncul disini. Ketika mengumpulkan material untuk membangun sebuah pagar, akan banyak individu yang datang membantu. Ketika ikan yang ditangkap dipisahkan dan dibagi, ada ikan yang hidup. Ditambah lagi, ada juga buah-buahan yang dibawa kembali oleh para pemburu untuk digunakan sebagai makanan ikan.

Mereka yang datang untuk membantu itu menolak untuk membuka siapa yang menyuruh mereka. Namun, bahkan orang yang bodoh sekalipun akan menyadari siapa dalangnya, meskipun orang itu tetap tidak ingin membukan nama.

Karena tidak benar bagi seorang kepala suku untuk membantu traveler, yang keluar dari hirarki suku.

"kakak, tunggu mereka tumbuh sedikit lagi, maka aku akan memberikan beberapa ke tempatmu dulu."

"Hum. Aku akan sangat menantikannya."

Berputar, Shasuryu mengambil langkah menjauhi tempat tersebut, lalu berkata dengan lirih.

"Maafkan aku."

"..Apa yang kamu katakan, kakak. Kakak tidak melakukan hal yang salah."

Itu adalah kalimat yang mungkin atau tidak terdengar. Zaryusu hanya melihat tanpa bicara kepada punggung figur Shasuryu yang menjauh dari danau.

Setelah memastikan kondisi danau ikan dan kembali ke desa, Zaryusu merasakan perasaan aneh, dan melihat ke arah langit, namun tidak ada sesuatu yang luar biasa di atas sana. Seluruh langit masih biru, dengan lapisan tipis awan di pegunungan utara.

Itu adalah pemandangan yang biasanya.

Tidak ada yang berubah. Saat dia menyingkirkan salah duga, sebuah lapisan awan yang aneh muncul dari tengah langit.

Di waktu yang sama, awan hitam yang menghalangi sinar matahari tiba-tiba muncul di tengah-tengah desa. Itu adalah awan hujan yang tebal dan membuat bayangan di seluruh desa.

Semuanya terkejut dan melihat ke langit.

Druid telah berkata bahwa hanya akan ada langit yang cerah di sepanjang hari. Priest membuat prakiraan cuaca dengan menggunakan magic dan pengetahuan mereka yang bertahun-tahun yang terkumpul melalui pengalaman, oleh karena itu keakuratan prediksi mereka sangat tinggi. Jadi, apapun yang tidak diprediksi akan datang mengejutkan bagi semua orang.

Namun, wujud yang paling aneh adalah tidak ada awan hujam selain dari awan gelap yang menutupi desa. Sederhananya, seakan ada orang yang memanggil awan-awan itu dan meletakkannya di atas desa.

Selanjutnya wujud aneh lainnya mulai muncul.

Sementara awan berputar dengan desa sebagai titik tengahnya, awan-awan itu juga membesar dengan jarak yang tetap. Seakan langit yang berada di tengahnya diserang oleh momentum mengerikan dari awan gelap yang menandakan bahaya.

Warrior di seluruh desa berkumpul karena ada tanda bahaya. Anak-anak lepas dengan buru-buru masuk rumah mereka. Zaryusu membungkuk, memeriksa sekitar sambil meraih Frost Pain.

Awan gelap itu benar-benar menutupi desa, dan langit biru yang masih bisa dilihat di kejauhan. Seakan awan gelap itu menyasar desa ini.

Dari sini, keributan muncul di tengah desa. Angin-angin membawa suara vocal dari lizardmen.

Suara itu adalah sebuah peringatan bahaya, yang disuarakan karena ada musuh yang hebat dan menyarankan yang lainnya untuk evakuasi menurut situasinya.

Zaryusu yang mendengar suara ini langsung meluncur di tanah basah dengan kecepatan yang cepat bagi seorang lizardmen.

Lari. lari. teruslah berlari.

Bergerak di tanah basah adalah hal yang sulit, membutuhkan ekor untuk bertindak sebagai penyeimbang. Dengan kecepatan yang tidak bisa diraih oleh manusia -- meskipun kaki lizardmen lebih cocok untuk keadaan ini -- Zaryusu tiba di sumber bahaya.

Di tempat itu, Shasuryu dan para warrior suku membentuk formasi melingkar, menatap pusat desa.

Mengikuti garis tatapan mereka, Zaryusu juga menatap di tempat yang sama.

Mata semua orang tertuu kepada monster yang terlihat seperti dibuat dari kabut gelap.

Di dalam kabut gelap, wajah-wajah mengerikan dalam banyak jumlahnya muncul lalu menghilang. Meskipun wajah-wajah dari berbagai ras muncul, satu hal yang sama dari mereka adalah ekspresi kesakitan.

Terbawa oleh angin itu adalah suara sesenggukan, kebencian, ratapan kesakitan, dan nafas sekarang yang bersatu membentuk paduan suara.

Dengan punggung yang beku dari kebencian yang berkumpul, Zaryusu gemetar ketakutan.

..Tidak baik... kita seharusnya membiarkan orang-orang disini keluar, meninggalkan kakak dan aku untuk menghadapi ini, tapi jika itu masalahnya...

lizardmen di sekeliling adalah seluruh elit warrior suku, tapi musuh adalah salah satu yang sangat ditakuti oleh Zaryusu; undead yang kuat. Di dalam situasi ini, hanya ada dua orang yang bisa memberikan perlawanan yaitu Zaryusu dan kakaknya. Meskipun yang lebih penting lagi, Zaryusu tahu bahwa undead ini memiliki kemampuan spesial.

Mengalihkan sedikit perhatiannya, dia tahu bahwa mayoritas lizardmen yang hadir mengambil nafas pendek dan tajam, seakan mereka ketakutan seperti anak-anak -- meskipun semuanya adalah kelas warrior.

Monster yang berdiri di pusat desa tidak membuat gerakan.

Setelah beberapa waktu terlewat, sambil mempertahankan suasana tegang dan waspada bahwa hanya sedikit gangguan akan memicu eskalasi keadaan menjadi pertempuran sengit, warrior itu pelan-pelan memperpendek jarak. Mereka menahan stres mental dan bergerak.

Dengan menggunakan penglihatannya untuk memastikan Shasuryu telah menghunus pedangnya, Zaryusu juga diam-diam mengambil mempersiapkan senjatanya. Jika ini akan menjadi pertarungan, dia bermaksud untuk mengirimkan serangan tiba-tiba yang lebih cepat dari siapapun.

Perlu memberitahu kemampuan spesial dari orang itu kepada yang lainnya, oleh karena itu, aku tidak bisa bertindak gegabah.

Tekanan di udara semakin tebal. Tiba-tiba, suara kebencian itu berhenti.

Suara yang dikeluarkan oleh monster itu tercampur, membentuk sebuah suara yang berbeda dari sumpah serapan sebelumnya. Sekarang memiliki arti yang jelas:

"Dengar baik-baik. Aku adalah penyampai pesan dari Yang Mulia dan datang kemari untuk mengumumkan titahnya..."

Semuanya saling melihat satu sama lain. Hanya Zaryusu dan Shasuryu tidak melepaskan tatapannya.

"Hadapilah hukuman matimu, Yang Mulia telah mengirimkan bala tentaranya untuk menghabisi kalian. Dengan kelonggaran yang diberikan olehnya, dia telah mengabulkan kalian makhluk mortal waktu untuk mempersiapkan perlawanan. Delapan hari dari sekarang, suku lizardmen di danau ini akan menjadi pengorbanan kedua."

Zaryusu meringis, menunjukkan gigi-gigi yang tajam dan mengeluarkan suara intimidasi.

"Lawanlah dengan keras kepala, makhluk mortal. Biarkan Yang Mulai menikmati kematianmu."

Seperti asap yang terus berubah bntuk, monster itu juga pelan-pelan berubah bentuk dan mengambang di langit.

"Jangan lupa. Delapan Hari."

Seakan tidak ada rintangan, dia terbang di langit menuju hutan, dengan kepergian figur punggungnya yang disaksikan oleh banyak lizardmen. Zaryusu dan Shasuryu diam-diam melihat ke langit jauh.

Part 2

Gubuk terbesar di dalam desa - Aula untuk Berkumpul - sangat jarang digunakan. Pemimpin klan memiliki otoritas untuk semua urusan dan berkumpul hanya terjadi sekali ketika bulan biru. Tidak ada nilai sebenarnya memiliki gubuk itu, tapi hari ini di dalam gubuk dipenuhi dengan keributan yang menegangkan.

Banyak lizardmen yang berkumpul, menyebabkan ruang gubuk yang luas menjadi sempit dan gerah: warrior, druid, hunter dan dewan tetua serta Zaryusu, yang merupakan traveler. Semuanya duduk bersila, menghadap Shasuryu.

Bertindak sebagai pemimpin klan, memutuskan untuk memulai rapat dan yang pertama bicara adalah tetua druid.

Wanita lizardmen tua itu ditutupi oleh warna putih, menunjukkan gambaran yang fantastis. Meskipun simbol-simbol itu memiliki banyak arti, makna mereka tidak diketahui oleh Zaryusu.

"Kalian semua ingat awan hitam yang menutupi langit? Itu adalah magic. Dari yang aku tahu, ada dua mantra untuk memanipulasi cuaca. Satu disebut [Control Weather], magic tingkat 6. Kita bisa dengan aman mengeluarkan magic itu karena itu adalah mantra di ranah legenda. Yang lainnya adalah magic tingkat 4 yang disebut [Control Cloud]. Ini juga adalah mantra yang hanya bisa digunakan oleh magic caster yang kuat. Kita bodoh jika melawan musuh seperti itu."

Di belakang Tetua Druid, yang memakai pakaian sama dengan druid itu mengangguk setuju.

Meskipun Zaryusu mengerti seberapa kuatnya magic tingkat 4 itu, lizardmen lain tidak tahu dan suara keraguan mereka memenuhi sekeliling.

Tidak yakin bagaimana menjelaskannya, Tetua Druit menunjukkan ekspresi bingung sebelum menunjuk kepada seorang lizardmen. Yang ditunjuk juga menunjukkan ekspresi binung, menunjuk dirinya pula.

"Ya, kamu. apakah kamu bisa mengalahkanku?"

Lizardmen perlahan menggelengkan kepala.

Dia mungkin bisa melawan jika kedua pihak menggunakan senjata, tapi jika kamu memasukkan magic, peluang menang sangat rendah. Atau lebih tepatnya, hampir tidak mungkin untuk hanya seorang warrior bisa menang.

"namun, bahkan aku hanya bisa menggunakan mantra tingkat 2."

"Jadi yang kamu katakan, dia seharusnya lebih kuat dua kali lipat darimu?"

Menghadapi pertanyaan bodoh ini, Tetua Druid menghela nafas dan menggelengkan kepala.

"Tidak sesederhana itu. Menghadapi magic tingkat 4, bahkan Pemimpin Klan kita akan dengan mudah dibunuh."

"Meskipun itu tidak multak" ditambahkan oleh spekulasi dari Tetua Druid lalu menutup mulutnya.

Akhirnya memahai terror dari magic tingkat 4, ruangan itu menjadi hening. Saat ini, Shasuryu mulai bicara.

"Pada akhirnya, apa yang ingin dikatakan oleh tetua druid adalah.."

"Kabur adalah tindakan yang terbaik. Meskipun kita melawan, tidak mungkin bisa menang."

"Apa yang kamu katakan!"

Mengikuti suara raungan yang keras dan rendah, Lizardmen yang tinggi berdiri. Dia memiliki postur yang mirip dengan Shasuryu dan merupakan kepala Warrior.

"Kabur tanpa melawan! Kabur ketika menghadapi level bahaya seperti itu tidak bisa ditolerir."

"Ada apa dengan kepalamu?! Sudah terlambat jika kita mulai melawan!"

Tetua Druid menatap dan berdiri tergopoh-gopoh, berhadapan dengan kepala Warrior. Kedua orang itu tampaknya marah dan membuat suara mengancam. Saat ketika ketakutan setiap orang meningkat, sebuah suara dingin terdengar.

"...Sudah cukup."

Dengan wajah seperti bangun dengan air dingin, keduanya menoleh ke arah Shasuryu dan duduk keduanya meminta maaf.

"Kepala Hunter, mari dengar sudut pandangmu."

"....Pendapat Tetua Druid dan Kepala Warrior keduanya bisa dimengerti, mereka memang masuk akal."

Untuk menjawab pertanyaan Shasuryu lizardmen kurus membuka mulut. Meskipun dia kelihatannya kecil ukurannya, dia tidak kekurangan otot, tapi lebih ototnya sangat tertutup rapat.

"Itulah kenapa karena masih ada waktu. Kita harus menelaah situasinya. Jika benar, mereka akan mengirim tentara. Mereka pasti akan memiliki tanda-tanda bangunan untuk markas nantinya dan sebagainya, oleh karena itu kita harus mengawasi dulu dan memutuskannya setelah itu."

Tanpa informasi apapun, mengatakan hal ini atau itu tidak akan ada gunanya. Beberapa orang menyatakan persetujuan.

"Tetua."

"Tidak ada banyak hal yang bisa dikatakan, seluruh pendapat adalah benar. Yang tersisa adalah keputusan dari Ketua klan."

"Muu.."

Pandangannya berkeliling, Shasuryu bertemu dengan mata Zaryusu, yang sedang duduk diantara kerumunan, dan memberikan anggukan.. Zaryusu merasa seakan mendapatkan dorongan lembut di punggungnya - apakah jalan di depan adalah bahaya atau tidak diketahui - tetap saja, dia mengangkat tangan untuk menunjukkan dia juga mempunyai suatu ide.

"Ketua Klan, tolong biarkan aku bicara."

Kali ini, fokus dari seluruh lizardmen berkumpul kepada Zaryusu. Kebanyakan dari mereka menunjukkan ekspresi memberi harapan, tapi lainnya menunjukkan ketidak puasan.

"Ini bukan tempat bagi 'traveler' untk bicara. Kamu seharusnya bersyukur kami sudah memperbolehkanmu datang," seorang anggota dewa Tetua bersuara, "Turun seka..."

Bam! Suara ekor yang memukul lantai, membelah ucapan tetua seperti pisau tajam.

"Diam."

Memberikan getaran bahaya, suara Shasuryu membawa nada parau yang membuat lizardmen bergidik, tensi di ruangan itu memuncak dan atmosfir yang semakin panas dari sebelumnya yang dingin.

Pada atmosfir ini, seorang Tetua membuka mulutnya tanpa memperhatikan orang-orang disekitarnya yang memperingatkan dia "Jangan melakukan hal-hal yang tidak perlu."

"Tapi Ketua klan, menerima pengecualian khusus hanya karena dia adalah adikmu tidaklah baik. Disamping itu, Traveler adalah.."

"Aku bilang diam. Apakah kamu mendengarku?"

"Geh"

"Saat ini, semua orang yang duduk disini memiliki kebijaksanaan. Mengapa tidak mendengar ide dari seorang traveler."

"Traveler adalah --"

"Ketua klan telah bicara dan kamu masih menolak perintahnya?"

Menggerakkan pandangannya dari Tetua yang diam, Zaryusu melihat kepala lainnya.



"Tetua Druid, Kepala Warrior, Kepala Hunter, apakah kalian kira tidak ada nilainya mendengarkanku?"

"Ucapan Zaryusu layak didengar."

Kepala Warrior berbicara dulu.

"Warrior macam apa yang mengabaikan pengguna Frost Pain."

"Aku setuju, ada nilainya mendengarkan."

Lalu Kepala Hunter berbicara mengikuti Tetua Druid yang mengangkat bahu.

"Tentu saja kita harus dengarkan. Menolak mendengar orang bijak adalah hal yang hanya dilakukan orang-orang bodoh."

Menerima ejekan yang intens, beberapa dewan tetua mengerutkan alis mereka. Shasuryu mengangguk kepada ketiga kepala dan membiarkan Zaryusu melanjutkan ucapannya. Zaryusu tetap duduk dan membuka mulutnya.

"Kabur atau bertarung, jika kita harus memilih kita harus memilih yang terakhir."

"Apa alasannya?"

"Karena hanya itu pilihannya?"

Biasanya, jika ketua klan bertanya alasan seseorang harus menjelaskan dengan jelas. Tapi Zaryusu tidak melanjutkan dan menutup mulut seakan selesai.

Shasuryu menutup dagunya dan jatuh ke dalam pemikiran yang dalam.

..Apakah kamu sudah melihat apa yang aku pikirkan?...Kakak.

Zaryusu melakukan sebaik-baiknya untuk tidak membocorkan pemikirannya. Waktu itu, Tetua Druid menunjukkan ekspresi terluka sambil mengarahkan pertanyaannya kepada orang-orang tertentu.

"Apakah mungkin bisa menang?"

"Tentu saja kita bisa menang!"

Kepala Warrior berteriak seakan memecahkan perasaan tidak tenang, tapi tetua Druid hanya memicingkan matanya.

"...Tidak, dalam situasi sekarang peluang sukses adalah sangat rendah."

Yang langsung menolak pendapat Kepala Warrior adalah Zaryusu.

"...Apa sebenarnya maksudmu?"

"Kepala Warrior, musuh sudah tahu kekuatan tempur pihak kita, dengan kata lain mereka tidak akan mendekati kita dengan sikap yang meremehkan. Jika itu masalahnya, maka tidak mungkin memperoleh kemenangan dengan kekuatan tempur kita."

Lalu apa yang harus kita lakukan? Saat semuanya akan menyuarakan keraguan mereka, Zaryusu berbicara sebelum siapapun mengeluarkan pendapatnya.

"Itulah kenapa kita harus mengganggu rencana dari musuh kita.. Apakah disini masih ada yang mengingat perang sebelumnya?"

"Tentu saja."

Bahkan mereka yang terkena dementia tidak akan bisa melupakan perang yang terjadi tujuh tahun yang lalu.

Di masa lalu tanah basah ini dihuni oleh tujuh suku lizardmen: Green Claw, Razor Tail, Dragon Tooth, Yellow Speckle, Sharp Edge dan Red Eye.

Namun hanya tersisa lima.

Itu adalah peperangan yang merenggut banyak nyawa, dan menghapus dua suku.

Alasan konflik ini adalah hasil panen yang buruk dari makanan pokok, ikan. Diikuti oleh kelas hunter, zona berburu ikan semakin melebar di danau. Tentu saja suku yang lain mengikutinya.

Lalu konflik terhadap perburuan dan titik mencari ikan diantara para kelas hunter timbul. Karena itu mengenai bahan makanan untuk bisa menyelamatkan suku, tidak mungkin bisa ditolerir.

Pertikaian lalu berubah menjadi pertempuran, dan hanya masalah waktu sampai pertempuran ini naik menjadi pembunuhan besar-besaran..

Selanjutnya, untuk mendukung kelas hunter, kelas warrior juga mengambil tindakan. Pertempuran sengit terpicu karena ketersediaan makanan yang menipis.

Lima dari tujuh suku yang masih ada terlibat dalam pertarungan dan berakhir dengan situasi tiga lawan dua: Green Claw, Small Fang dan Razor Tail melawan Yellow Speckle dan Sharp Edge. Selain dari kelas warrior, lizardmen pria lainya dan bahkan lizardmen wanita digerakkan untuk bertarung demi suku mereka.

Setelah beberapa pertempuran besar, pihak tiga suku yang termasuk Green Claw muncul menjadi pemenang, meninggalkan dua suku yang kalah menjadi sangat miskin mereka akhirnya tidak mampu mendukung diri mereka sendiri dan terpaksa menyebar. Sisa-sisa ini lalu diserap oleh suku Dragon Tooth yang tidak ikut perang.

Ironisnya, karena anggota lizardmen sangat berkurang drastis, kekurangan bahan makanan yang pada asalnya memicu konflik ini juga selesai. Diet makanan pokok ikan sekarang bisa dibagikan kepada semuanya.

"Lalu kenapa?"

"Berpikirlah tentang kata-katak yang ditinggalkan oleh orang yang pergi itu. Dia bilang bahwa desa ini adalah yang kedua, itu juga artinya bahwa dia telah meninggalkan pesan yang sama kepada desa lain."

"Ah."

Banyak suara yang setuju dengan ucapan Zaryusu.

"Itu artinya kita harus membentuk aliansi baru!"

"Jangan-jangan.."

"Ya, kita harus membentuk aliansi."

"Sama seperti perang sebelumnya."

"Dengan begitu, mungkin kita akan menang?"

Ucapan-ucapan kecil antara lizardmen segera berkembang menjadi keributan besar. Seluruh gubuk mendiskusikan pendapat Zaryusu, namun ketua klan Shasuryu mempertahankan diamnya. Mata kepala itu terlihat seakan dia memandang jauh ke dalam hatinya, membuat Zaryusu tidak bisa lagi menolehkan wajahnya menghadap dia.

Setelah memperbolehkan sedikit waktu berdiskusi, Zaryusu bicara lagi.

"Jangan salah. Aliansi yang aku bicarakan termasuk seluruh suku."

"Apa?"

Saat pendapat itu, orang kedua yang mengerti artinya adalah kepala hunter, yang mengeluarkan suara kagum. Mata Zaryusu terkunci kepada Shasuryu dan lizardmen di garis penglihatannya secara tidak sadar terbagi ke dalam dua sisi.

"Ketua Klan, saya juga menyarankan membentuk aliansi dengan Dragon Tooth serta Red Eye."

Sekeliling mereka meningkat menjadi keributan besar, seakan sebuah granat yang meledak di ruangan itu. Mereka tidak memiliki komunikasi dengan Dragon Tooth dan Red Eye yang tidak ambil bagian dalam peperangan. Terlebih lagi, Dragon Tooth mengambil sisa dari Yellow Speckle dan Sharp Edge, para pengungsi dari suku musuh.

Untuk membentuk aliansi dengan dua suku tersebut, membentuk aliansi lima suku.

Jika itu mungkin maka mungkin saja untuk menang. Saat semuanya bergantung kepada harapan yang kecil ini, Shasuryu tiba-tiba berbicara:

"Siapa yang akan jadi wakilnya?"

"Aku akan pergi."

Shasuryu tidak terkejut jawaban langsung dari Zaryusu. lizardmen di sekitarnya telah memperhitungkan ini bahwa Shasuryu mengerti karakter adiknya dan mengantisipasi respon tersebut. Mengeluarkan suara empati, mereka juga berpikir bahwa tidak ada calon yang lebih cocok untuk dipilih. Namun satu pendapat yang melawan.

"Mengirimkan seorang traveler?"

Itu adalah Shasuryu. Tatapannya yang seperti es menusuk langsung kepada Zaryusu.

"Itu benar, Ketua klan. Namun kita sudah berada di waktu mencoba. Jika sisi lain tidak mau mendengarkan perkataanku hanya karena aku seorang traveler, maka mereka tidak layak dijadikan sebagai sekutu."

Zaryusu dengan mudah menangkal tatapan dingin itu. Setelah keduanya saling menatap sebentar, Shasuryu mengeluarkan senyum sendiri. Bukan karena dia menyerah atau karena dia tidak bisa menghentikan adiknya, atau mungkin karena dalam dirinya dia mengejek dirinya yang setuju. Itu adalah senyum tanpa kesedihan.

"Bawa serta segel kepala suku."

Itu berarti memiliki arti sebagai wakil kepala suku. Beberapa Tetua yang berharap untuk mengutarakan pendapatnya bahwa 'itu bukan sesuatu yang seharusnya dimiliki oleh seorang traveler' terdiam di bawah tatapan kuat Shasuryu.

"Terima kasih yang sebesar-besarnya."

Zaryusu membungkuk. Menerima rasa terima kasihnya, Shasuryu melanjutkan bicaranya:

"...Aku akan memilih wakil siapa yang menuju ke suku lain. Pertama adalah..."

Angin dingin bertiup di malam hari. Karena itu adalah tanah basah, kelembaban yang tinggi dan panasnya musim panas bergabung dan memberikan luka yang mengerikan pada orang-orang, namun di malam hari panas ini sedikit mengendur dan tiupan angin termasuk dingin sekali. Tentu saja lizardmen memiliki kulit yang kuat, ini tidak termasuk perubahan yang signifikan.

Zaryusu berjalan menyusuri tanah basah, tujuannya adalah ke gubuk Rororo.

Meskipun masih ada beberapa waktu, tidak bisa dikatakan dengan pasti bahwa tidak ada hal yang mungkin bisa tiba-tiba terjadi, dan terlebih lagi tidak diketahui apakah musuh akan mematuhi jadwal yang mereka buat sendiri, atau mungkin menghambat gerakan Zaryusu. Dengan semua pertimbangan tersebut, menyusuri tanah basah ke Rororo masih merupakan hal yang paling tepat.

Jejak Kaki Zaryusu semakin lambat lalu berhenti. Tas di belakang punggungnya yang dipenuhi dengan berbagai macam item juga bergoyang. Alasan dia berhenti karena cahaya bulan menyinari pemandangan dari lizardmen yang familiar dan sedang meninggalkan gubuk Rororo.

Kedua individu itu terdiam saat saling memandang, dan Zaryusu yang bingung membengkokkan lehernya menjadi lengkung. lizardmen bersisik hitam itu semakin dekat dan memperpendek jaraknya.

"...Aku memperhitungkan kamu sebagai orang yang paling pantas memakai mantel ketua suku."

Hanya itu ucapan dari Shasuryu yang mendekat menjadi dua meter.

"..Apa yang kakak katakan."

"Masih ingat peperangan besar sebelumnya?"

"Tentu saja."

Karena Zaryusu memunculkan pertanyaan ini selama rapat, tidak mungkin dia tidak ingat. Tentu saja bukan ini point utama pertanyaan Shasuryu.

"...Setelah peperangan kamu menjadi seorang traveler. Waktu itu ketika kamu memiliki tanda yang dibakar di dadamu, kamu tidak tahu seberapa besar aku menyesalinya. Meskipun jika aku harus menggunakan tinjuku, aku seharusnya menghentikanmu."

Zaryusu menggelengkan kepala dengan keras. Ekspresi kakaknya waktu itu masih mengganjal di hatinya.

"...Berkat izin kakak aku bisa belajar kemampuan untuk merawat ikan."

"Jika itu adalah kamu, meskipun kamu tetap di desa kamu akan mampu mendapatkan metode itu. Orang sepintar dirimu seharusnya bisa mendukung tiang desa ini."

"Kakak."

Masa lalu adalah masa lalu, oleh karena itu diskusi hipotetis yang dimulai dengan 'bagaimana jika...' adalah hal sia-sia. Masa lalu sudah menjadi batu, tapi menyesali peristiwa itu adalah kelemahan dua orang ini.

Tidak, bukan itu juga.

"...Tidak sebagai ketua klan, tapi sebagai kakakmu, aku tak bisa mengatakan padamu bahwa itu akan bergerak lancar jika kamu sendirian. Kembalilah dengan selamat, jangan menjadi sok pemberani."

Merespon hal ini, Zaryusu menjawab dengan senyum sombong:

"tentu saja aku akan menyelesaikan misi ini dengan sempurna agar kamu lihat. Tugas ini adalah bukan apapun bagiku."

"Huh." wajah Shasuryu berubah menjadi senyum kecut.

"Kalau begitu, jika misimu gagal, ikan yang paling gemuk yang kamu rawat harus jadi milikku."

"Kakak, hal seperti itu tidak ada apa-apanya, dan bukanlah sesuatu yang harus kamu katakan saat ini."

"...Muu."

Kedua orang itu tertawa lirih.

Lalu bertukar wajah serius.

"Jadi tujuanmu hanya itu?"

"..Apa yang katakan? Apa maksudmu?"

Sesaat Zaryusu memicingkan matanya... lalu berpikir sendiri "Sial!". Dengan pengetahuan sebagai kakak, reaksinya tadi adalah kesalahan.

"..Pidatomu di gubuk seakan memberikan semangat kepada pendapat semua orang, namun caramu mengatakannya jelas menyimpan sesuatu."

Zaryusu terdiam dan Shasuryu melanjutkan:

"..Penyebabnya dari perang sebelumnya adalah bukan hanya karena pertikaian antara suku. Peningkatan substansial dari populasi lizardmen adalah salah satu alasannya."

"Kakak.. mari kita tidak membicarakan ini lagi."

Nada suram Zaryusu kelihatannya memastikan statemen Shasuryu.

"Jadi... karena itu."

"...hanya karena itu, untuk mencegah peperangan sebelumnya terjadi lagi."

Kalimat yang diucapkan Zaryusu ini mengandung makna dalam dari pemikiran menjijikkan dirinya dan rencananya. Hanya terlalu busuk, dan jika mungkin dia tidak ingin kakaknya tahu tentang itu.

"Jadi jika suku lain menolak membentuk aliansi, lalu apa? Karena mereka yang hanya mau mendukung dan mereka yang berharap untuk kabur ke luar akan pasti menolak."

"Jika begitu maka... pilihannya hanyalah membasmi mereka."

"Dimulai dengan membasmi sukumu sendiri?"

"Kakak..."

Mendengar nada persuasi dari suara Zaryusu, Shasuryu tersenyum hampir tidak sopan.

"Aku mengerti bahwa kekhawatiranmu itu benar. Sebagai tokoh pembimbing untuk suku, karena menyangkut kelangsungan hidup suku kita, tentu saja aku harus mempertimbangkan ini. Itu sebabnya kamu tidak perlu diam, adik."

"Aku menghargai ucapan itu. Lalu apakah mereka harus dibawa ke desa ini?"

"Jangan. Menurut orang yang datang itu desa ini adalah yang kedua, jadi pasukan utama seharusnya berada di desa pertama. Biasanya strategi terbaik adalah berkumpul di desa terakhir atau dengan pertahanan terbaik, tapi jika itu dihancurkan maka akan menjadi pukulan serius pada pertarungan berikutnya, oleh karena itu mari buat posisi bertahan di desa pertama. Untuk bertukar laporan intelejen denganmu, mari kita berkomunikasi melalui magic tetua druid jadi kamu bisa langsung mengirimkannya kemari."

"Mengerti."

Magic yang kakak sebutkan adalah hal rapuh yang tidak bisa mengirimkan terlalu banyak isi jika jaraknya terlalu jauh, tapi Zaryusu menilai tidak apa untuk saat ini.

"Kalau begitu aku asumsikan bahwa tidak akan ada masalah jika kita menarik jatah untuk pasukan dari ladangmu?"

"Tentu saja, tapi tolong sisakan yang remaja. Tidak mudah mendapatkan mereka dari tempatnya sekarang, bahkan jika kita harus mengabaikan desa maka akan itu akan berguna."

"Sepakat. Berapa banyak yang bisa disediakan ladangmu?"

"Jika kita bicara tentang konsumsi kering, sekitar seribu ton seharusnya bukan masalah."

"Jika begitu... maka untuk jangka pendek itu bukan masalah."

"Ah, aku serahkan itu padamu. Jadi, kakak, biarkan aku pergi kesana... Rororo."

Bereaksi terhadap suara Zaryusu, seekor kepala ular muncul di jendela. cahaya bulan biru pucah memantul dari sisik-sisiknya, memberikan kecantikan seperti fantasy.

"Kita harus pergi. Bisakah kamu kemari?"

Rororr melihat sesaat kepada Zaryusu dan Shasuryu, dan menurunkan kepalanya kembali ke dalam. Lalu sebuah suara datang seperti seekor binatang yang bergerak menyusuri air.

"Kakak, masih ada beberapa masalah yang aku harap untuk didengar, apakah kamu bisa menjawabnya? Bagaimana dengan jumlahnya? Tergantung situasi kita membutuhkan equipment untuk digunakan sebagai negosiasi."

Shasuryu diam sejenak, lalu membalas:

"...Sepuluh warrior, dua puluh hunter, tiga druid, tujuh puluh wanita, seratus pria, anak-anak...sekitar itu."

"...Ah, aku mengerti."

Shasuryu memberikan senyum lelah dan Zaryusu tetap diam. Suara air yang keras tiba-tiba memecahkan keheningan. Kedua orang itu memeriksa arah dimana suara air itu berasal, dan tersenyum nostalgia.

"Ah, kakak, aku juga. Aku tidak mengira dia bisa tumbuh begitu besar. Ketika aku mengambilnya, masih kecil."

"Aku juga tidak percaya, sudah sebesar ini ketika kamu bawa kembali."

Keduanya teringat dengan masa lalu Rororo. Lalu empat kepala ular muncul di air dekat dengan gubuk, keempatnya menggunakan tindakan yang sama dalam memecah air dan menuju Zaryusu.

Tiba-tiba ular itu menaikkan kepalanya dan figur tubuh besar bisa terlihat di dalam air. Binatang buas itu memiliki empat kepala reptil yang tersambung dengan leher panjang kepada tubuh besar dengan empat kaki.

Itu adalah monster, seekor hydra.

Ini adalah nama dari spesies Rororo.

Itu bukan hanya bukti dari elemen ular, tapi juga diketahui dari suara mengunyahnya ketika diberi makan ikan.

Dengan gerakan yang tak diduga cepat tidak cocok dengan tubuhnya yang besar sekitar lima meter panjangnya, dia tiba di samping Zaryusu.

Zaryusu menaiki punggung Rororo dengan lincah seperti ular.

"Kamu haus kembali dengan selamat. Ditambah lagi, bukan gayamu tidak menggunakan otak seperti yang kamu lakukan di masa lalu ketika berteriak 'tak ada yang boleh menjadi korban'."

"..Aku juga sudah tumbuh, itulah yang terjadi."

Untuk ucapan Zaryusu, Shasuryu mendengus.

"Bocah itu ternyata tumbuh menjadi seorang pria dewasa sekarang...Baiklah, jangan terkena masalah. Jika kamu tidak kembali, target pertama untuk diserang akan diputuskan."

"Aku akan kembali dengan selamat. Tunggu saja aku, kakak."

Setelah beberapa saat, mereka bertukar tatapan yang dipenuhi dengan emosi dan tanpa teguran, keduanya semakin menjauh.

Part 3

Lantai sembilan dari Great Tomb of Nazarick. Lantai ini memiliki banyak ruangan dengan berbagai tipe. Tak usah dikatakan bahwa di lantai ini termasuk ruangan anggota Guild dan para NPC, tapi juga termasuk tiruan dari pemandian umum yang besar, kafetaria, salon kecantikan, toko-toko baju, toko-toko grosir, salon fitness, salon kuku dan banyak ruangan fasilitas tipe lain.

Pembuatan ruangan ini tidak memiliki mekna yang sebenarnya untuk permainan game. Itu karena para pemain disini memiliki kedekatan dengan hal-hal ini, atau mungkin karena pemain mengejar kota ideal mereka, atau mungkin sangat mengharapkan fitur-fitur ini karena kondisi pekerjaan yang parah di dunia nyata.

Di dalam ruangan-ruangan ini, ada sebuah ruangan tertentu yang managernya adalah salah satu deputi chef dari Great Tomb of Nazarick. Meskipun kemampuannya biasa digunakan di kafetaria, menurut hari-hari tertentu dalam seminggu dan siang hari dia akan datang ke ruangan ini dan membuat persiapan bagi mereka yang akan berhenti mengunjunginya.

Ruangan ini dirancang dengan konsep sebuah bar dengan beberapa pelanggan reguler dan diterangi dengan cahaya lembut dan remang-remang.

Ada rak dengan jajaran alkohol di belakang meja counter dan delapan kursi. Meskipun ini hanya fitur, sudah cukup nikmat. Deputi chef berpikir tempat seluaas ini adalah istananya, dan memberikan kepuasan yang besar sekali dan kegembiraan.

Namun suasana di tempat ini juga bergantung pada pelanggan-pelanggan dengan selera yang bagus. Dia menyadari ini adalah pelanggan pertama untuk hari ini yang dipersilahkan masuk.

Glug, glug, glug, phew--

Membuat suara seperti seseorang yang meneguk habis minumannya.

Sambil mengusap gelap, dia berpikir sendiri: bagi orang yang minum seperti itu, ada tempat yang lebih cocok.

Faktanya, lantai sembilan juga memiliki ruangan umum dan fasilitas kedai, jadi tidak perlu mereka yang ingin minum datang ke bar ini.

Deputi Chef berusaha untuk memberikan wajah tenang tanpa perubahan melihat pemandangan dari seseorang yang menenggak habis gelas bir 500mg lalu memukulkannya ke meja.

"Sekali lagi!"

Merespon permintaan pelanggannya, deputi chef menyuntikkan aliran Vodka yang disuling dengan cara Polandia terus menerus, dan menyuntikkan makanan yang berwarna biru.

Dia lalu perlahan menyerahkan gelasnya.

"Minuman ini disebut 'Lady's Tears' (Air mata gadis)"

Pelanggan yang melihat minuman itu dengan curiga. Setelah diberitahu namanya dan karena dia tidak melihat proses pencampuran cocktail, pelanggan itu menunjukkan ekspresi berterima kasih.

"Ah, apakah menyebarkan warna biru mensimbolkan air mata?"

"Ya, seperti yang anda katakan."

Dia berbohong.

Wanita yang meraih gelas itu, menempatkannya di mulut dan mengeringkannya dalam sekali teguk seperti seseorang dengan segelas susu setelah mandi.

Tanpa ragu dia memukulkan gelas kosong itu ke meja counter seperti minuman sebelumnya.

"Huu, rasanya sedikit mabuk~"

"Anda meminumnya terlalu cepat, jadi mau bagaimana lagi. Bagaimana jika selesai sedikit lebih cepat malam ini?"

"Tidak aku tidak ingin kembali."

"Begitukah..."

Sambil mengelap gelasnya, dia merasa sedikit jengkel dengan tatapan wanita itu.

Ingin mengatakan sesuatu, namun tidak mau mengeluarkannya, itulah kenapa wanita memang menjengkelkan. Seorang pria lebih cocok untuk tempat semacam ini, bukan wanita yang menjengkelkan. Menolak wanita masuk... adalah tidak mungkin, itu akan sangat tidak sopan kepada para Supreme Being. Aku benar-benar mengacaukannya kali ini.

Yang mengundangnya tidak lain adalah dirinya sendiri. Ini adalah hasil dirinya yang menyapa wanita itu karena khawatir dengan lantai sembilan ketika melihat mukanya yang kusut. Sekarang dia menyesali tindakannya, tapi karena dia sudah menawarkan sebagai tuan rumah, sangat perlu baginya untuk menunjukkan sikap sebagai pemilik bar kepada pelanggan.

Meskipun aku membuat minuman yang kubuat dengan malas, aku harus menangani ini dengan benar!

Setelah bertekad, dia bertanya:

"Ada masalah apa, Shalltear-sama?"

Saat itu wanita tersebut, Shalltear, bersiap menjawab seakan dia menunggu dari tadi pertanyaan ini ditanyakan, membuktikan bahwa dugaannya tepat.

"Maaf, tapi aku tidak ingin membicarakannya."

berhenti bercanda. Wajah deputi chef akhirnya berubah, karena dia adalah manusia jamur, wanita itu tidak bisa memahami gerakan wajahnya. Tidak pula dia mengatakan apapun, hanya terus bermain dengan gelas minum di counter.

"Sedikit mabuk?"

"...Ya, itu benar."

...Itu tidak mungkin.

Shalltear kelihatannya merasa dia sudah mbauk, tapi dia yakin bahwa itu tidak mungkin.

Mabuk dan racun adalah jenis yang sama, jadi seseorang yang memiliki kekebalan absolut terhadap racun tidak mungkin bisa mabuk. Tentu saja, Shalltear, yang datang ke toko ini melepas item yang menetralkan racun, atau tahu bahwa dia tidak akan mabuk dan hanya ingin menikmati suasananya.

Kecuali, Shalltear memang asli merasa dia telah mabuk, mabuk karena suasananya.

Apa yang harus dilakukan? Dia pikir. Untungnya saat itu dia mendengar suara dering penyelamat. Dia menurunkan kepalanya kepada pelanggan yang tiba.

"Selamat datang."

"Senang bertemu denganmu, Piki."

Orang yang meneriakkan julukan kepadanya karena penampilannya yang seperti jamur. Dia adalah pelanggan tetap disini, asisten kepala pelayan dengan nama Eckleya, ditemani pelayan pria yang membawanya.

Seperti biasa, Eckleya diletakkan di tempat duduk tanpa bersuara. Bagi Eckleya yang satu meter tingginya, duduk di kursi bar yang tinggi adalah tugas yang sulit.

Piki merasa aneh bahwa Shalltear tidak menyapanya. Dia menoleh kepada Shalltear, dan menemukan wajahnya menghadap ke bawah seakan bergumam sesuatu. Mendengarkan dengan hati-hati, kelihatannya Shalltear membuat permintaan maaf kepada Supreme Being.

Eckleya memesan wine dengan penampilan muluk yang palsu:

"Yang itu."

"Mengerti"

Mendengar itu, hanya ada satu minuman tertentu yang melayang di otaknya, yang mana termasuk dalam sintesis dari sepuluh spirit kuat yang berbeda untuk memproduksi sepuluh minuman berwarna: the Nazarick.

Penampilan luarnya sangat cantik, dan rasanya sangat memuaskan, dengan pelanggan biasa yang sering memberi komentar bahwa minuman ini layak memiliki nama Nazarick. Namun itu bukan sesuatu yang dia rekomendasikan kepada yang lainnya.

Untuk membuatnya semakin nikmat, dia harus melewati banyak trial dan error, dan masih belum lengkap.

Dengan gerakan yang ahli dia memproduksi minuman sepuluh warna, dan meletakkan di depan Eckleya.

"Nona di sebelah sana, silahkan coba ini."

Setelah itu, suara 'plick...plock...bang' bisa terdengar.

Eckleya ingin menggeser gelas itu kepadanya di meja counter. Namun gerakan itu adalah sesuatu yang hanya dilakukan di dalam manga atau dilakukan oleh orang yang memiliki skill hebat dan pastinya bukan seekor pinguin yang bisa melakukannya.

Piki mengambil gelas yang terjatuh, memastikan tidak hancur dan mengeluarkan nafas lega. Dia lalu mengeluarkan kain dan mengelap minuman yang tumpah dari meja counter. Dengan  mata tidak senang, dia berbicara lirih:

"Bisakah anda menahan diri untuk tidak melambaikan sirip anda ke sekitar? Jika anda terus melakukan itu, saya akan letakkan anda ke dalam basok dan mendorong anda keluar."

"...Aku benar-benar minta maaf."

Mengetahui keberadaan Eckleya untuk pertama kalinya, Shalltear mengangkat kepalanya dan menyapa.

"Ah, ternyata Eckleya. Lama tak jumpa."

"Lama...Bukan kita saling melihat setiap kali aku datang ke lantai sembilan."

"Begitukah?"

"Ya, memang, tapi... aku jarang melihatmu di bar ini. Aku kira hanya guardian seperti Demiurge yang kemari. Terakhir kalinya, dia dan Cocytus kemar bersama-sama untuk mengapresiasi minuman mereka dengan tenang."

"oh, begitukah?"

Mendengar ucapan temannya, mata Shalltear terbuka.

"Ada apa? Mengapa kamu bertingkah seperti ini?"

"Bukan masalah apapun...Tidak... aku melakukan kesalahan besar, itulah kenapa aku ingin mencari ketenangan di dalam alkohol, seperti yang dilakukan oleh orang yang gagal."

Eckleya membuat isyarat wajah yang halus kepada Piki, diam-diam bertanya "Ada apa dengan gadis ini?", tapi Piki tidak menjawab ini dan hanya menggelengkan kepala.

Karena dia ingin memberi mereka pengalaman minum yang nikmat, dia bertanya:

"Untuk mencerahkan suasana hati, bagaimana kalau jus apel?"

Kedua orang itu terkejut mendengar saran itu.

"Terbuat dari apel yang diambil dari lantai enam."

Rasa ingin tahu mereka meningkat dan keduanya menganggukkan kepala bersama-sama. Reaksi mereka yang lurus itu memberi Piki rasa kepuasan yang kuat.

Apa yang diletakkan di meja mereka adalah dua porsi jus apel yang biasa-biasa saja. Matanya melayang kepada pelayan pria, tapi seperti biasanya, tawarannya ditolak.

Tentu saja, Eckleya memiliki paruh penguin, jadi dia tidak lupa untuk memasukkan sedotan.

"Rasa yang menyegarkan."

"Meskipun tidak buruk, masih kurang nendang...Mungkin kurang manis?"

Itu adalah kesan dari kedua orang itu setelah menghabiskannya dalam sekali jalan.

"Mau bagaimana lagi. Aku mencicipi sampelnya ketika dibawa kemari, dan membandingkannya dengan yang disimpan di Namun, rasanya memang kurang."

"Ada pohon apel di lantai enam? Aku tidak tahu jika ada satu pohon disana."

Kemanapun Shalltear mendengar kesan ini sebelumnya, dia memberikan jawaban yang benar sebelum Piki membalas:

"Jangan-jangan itu adalah salah satu pohon yang dibawa pulang oleh Ainz-sama? Aku dengar dari Albedo bahwa beliau sedang melakukan percobaan untuk melihat apakah pohon di luar bisa ditanam di dalam Nazarick, sebagai persediaan bahan yang terbatas."

Piki juga dengar ini.

Selain itu, Ainz juga menerima berbagai macam makanan dari luar karena itu adalah tugasnya untuk memastikan jika memungkinkan untuk memproduksi kemampuan untuk menguatkan makanan.

"Benar sekali, aku juga mendengarnya. Jika rencananya lancar, selanjutnya adalah memanen kebun buah, tapi kelihatannya manis masih kurang jauh."

"Tidak, bukannya tidak bisa diminum. Aku lebih memilih ini jika ak mencari manis yang segar."

"...Lalu siapa yang sedang melakukan panen saat ini? Aura dan Mare sedang keluar, jangan-jangan tanggung jawab ini... diberikan kepada monster-monster?"

"Tidak, tidak. Itu diperintahkan kepada spirit hutan yang dibawa oleh Ainz-sama kembali dari luar."

Penasaran siapa itu, Eckleya membuat ekspresi penasaran, sedangkan Shalltear mengeluarkan ekspresi menyadari.

"Ada apa? Apakah ada orang baru yang bergabung dengan Nazarick?"

Shalltear menjawab pertanyaan Eckleya. Meskipun Piki telah melihat spirit hutan, dia tidak tahu bagaimana situasi akhirnya jadi dia memasang telinga lebar-lebar untuk mendengarnya.

Kelihatannya spirit hutan dibawa kembali setelah pertempuran untuk memastikan kerjasama para guardian. Sebagai hasil dari beberapa perjanjian, mereka datang ke Nazarick dan menjadi petani apel.
TL Note : Event dari Drama CD 1

"Nazarick juga berevolusi, menjadi lebih kuat."

Baik Piki dan Shalltear setuju dengan kalimat Eckleya.

Sebagai deputi chef, Piki tidak tahu rencana masa depan dari Great Tomb of Nazarick. Tapi sekarang dia mengerti bahwa Ainz Ooal Gown, yang terakhir dari Supreme Being, telah melakukan usaha keras untuk mendapatkan kekuatan di dunia ini dan menjadi lebih kuat.

"Oh begitu. Di masa depan mungkin akan ada lebih banyak makhluk seperti spirit hutan yang bergabung ke peringkat Nazarick."

Shalltear menggembungkan pipinya dan menyalurkan ketidakpuasannya kepada Eckleya.

"Aku tidak suka itu. Karena tempat ini diciptakan oleh Supreme Being... Mengapa makhluk-makhluk kotor itu diizinkan berkeliaran di tanah ini?"

Dia juga memiliki sentimen yang sama. Tempat ini diberkati dengan kehadiran para Supreme Being. Bagi siapa yang lahir di tempat ini, pemikiran orang luar yang diperbolehkan memasuki membuat mereka mengerutkan dahi, tapi ada point yang lebih penting daripada pemikiran pribadi.

"Kita harus bersabar terhadap ini. Lagipula, Ini adalah keputusan Ainz-sama."

Supreme Being tertinggi, keputusan Ainz Ooal Gown adalah absolut. Jika dia mengatakan hitam kepada yang putih, maka itu pasti hitam.

"Aku tidak bermaksud meragukan keputusan Ainz-sama!"

Kepada Shalltear yang panik, kedua orang lainnya mengangguk setuju.

"Maka di masa depan kita juga harus menjadi contoh yang baik, menunjukkan loyalitas lebih kepada Ainz-sama. Aku kira tidak seorangpun yang akan memberontak kepada Ainz-sama."

"Itu benar. Ngomong-ngomong, bagaimana Shalltear? Jika kamu bergabung denganku sekarang, aku akan memberimu status yang lebih tinggi di masa depan."

Eckleya memulai pembicaraan rekrutmen biasanya - yang mana tak pernah berhasil, tapi disela oleh teriakan aneh.

"Hyaaaa~~"

Kedua orang itu menatap langsung kepada Shalltear yang menutupi kepalanya dan tak henti-hentinya mengucapkan sumpah setianya.

"...Ada apa? Nadanya juga berbeda dari nada biasanya."

Merespon Eckleya yang terkejut, Piki menggelengkan kepala dan mengangkat bahunya.

"Entahlah?"


Berlangganan via Email