Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Baca Overlord - Vol 3 - Chapter 5

Player Versus NPC - Pemain vs NPC

Part 1

Sebuah suara bising bisa terdengar, sebuah suara seperti mencelupkan obor yang sedang terbakar ke dalam genangan air.

Magic yang melampaui sistem level - seperti matahari yang muncul di permukaan bumi, mewarnai sekeliling dengan warna putih.

Panas yang mematikan lahir dari temperatur dahsyat yang melebar dalam sekejap dan dengan rakus melumat semua yang ada di dalam area efeknya.

Adegan mematikan ini mungkin bertahan sekitar lima detik. Namun, rasanya seperti berkali-kali lipat lebih lama.

Tak lama, bekas dari dunia putih menghilang. Setelah panasnya reda, hasilnya adalah sebuah lingkaran yang sama sekali merubah pemandangan sekitar.

Di luar area yang terkena efeknya, semuanya tetap seakan tak tersentuh. Pepohonan masih sama dan tanah masih penuh dengan kehidupan, berkat hutan yang ada di dekat situ. Dunia itu masih tetap dunia normal yang tak berubah.

Di lain pihak - semua yang ada di dalam lingkaran itu menjadi hangus, seperti tanah kematian yang nyata.

Panas yang luar biasa telah menghancurkan seluruh tanaman di dalam area itu, dan tersisa batang pohon yang habis terbakar dan masih sedikit ada api yang menyala. Diantara permukaan yang menghitam, ada titik-titik dimana tanah itu berubah menjadi seperti kaca. Bahkan sekarang, pilar-pilar asap berserakan.

Ainz berdiri sedikit di luar area yang tidak mengizinkan satupun yang selamat itu. Dari dalam area tersebut, dia merasakan kehadiran yang mengertikan menusuk tubuhnya.

Sumber itu berasal dari satu orang.

Siapa lagi yang bisa selamat dari temperatur yang memusnahkan seluruh kehidupan?

"Kaka-- ahahahaha--."

Sebuah suara yang aneh bercampur dengan suara gemeretak, suara yang tidak terbayangkan membuat siapapun menggertakkan giginya, mengalir ke telinga Ainz.

Suara itu datangnya dari titik merah tua di tengah dunia yang serba hitam.

Dengan asap yang keluar dari tubuhnya, seakan berkata bahwa itu tidak cukup untuk membunuhnya, Shalltear Bloodfallen tertawa. Mata yang berwarna scarlet itu dipenuhi dengan nafsu membunuh saat dia menatap langsung kepada Ainz.

"Ainz-sa---ma---! Itu sangat menyakitkan----!"

Shalltear pelan-pelan menggerakkan satu kakinya ke depan, membuat sebuah retakan di tanah yang gosong.

Dia memperkecil jarak kepada Ainz dengan satu langkah, lalu satu langkah lagi, dan mengayunkan Spuit Lance di tangannya dengan satu tangan. Suara Spuit Lance yang membelah air itu adalah bukti nyata bahwa dia masih bisa bertarung.

Seorang Magic Caster yang menunjukkan kekuatan sejatinya di pertarungan yang panjang. Bagi Ainz, yang tidak unggul dalam pertarungan jarak dekat, memperkecil jarak hanya akan membuatnya berada dalam kerugian. Namun, alih-alih mempercepat mundur, dia bicara kepada Shalltear dengan sikap yang memaksakan, seperti seorang juara yang menunggu penantangnya.

"Itu adalah hadiah yang membosankan, tapi apakah kamu menyukainya Shalltear?"

"Ahahahaha!"

Dari lubuk hatinya, Shalltear tertawa keras.

"Itu menakjubkan! Aku tidak percaya aku harus membunuh seseorang dengan kekuatan yang luar biasa seperti itu, Ainz-sama!"

"...'sama' katamu.... Shalltear, mengapa kamu masih memanggilku dengan sebutan kehormatan? Siapa tuanmu saat ini?"

"Anda mengatakan hal yang aneh. Sudah jelas aku akan memanggil anda Ainz-sama, pemimpin tertinggi. Dan tuanku sekarang ini adalah..."

Shalltear mengerutkan dahi dalam-dalam. Terlihat sangat kebingungan.

"....Mengapa aku sedang melawan Ainz-sama? Tidak, bukan itu? Karena aku diserang? Tapi mengapa Ainz-sama menyerangku?...Karena aku diserang, aku harus menggunakan seluruh kekuatanku dan membunuh? Mengapa?"

Tak lama, seakan Shalltear sudah menemukan jawabannya, sebuah senyum seperti sebelumnya kembali ke wajahnya.

"Aku sama sekali tidak mengerti, tapi karena Ainz-sama menyerangku, aku harus membunuh anda!"

"...Oh begitu...Aku mengerti keadaanmu sekarang..."

"Ara? Ada apa, Ainz-sama? Anda kelihatannya lelah. Apakah anda pikir bisa menang melawanku seperti itu?"

"Hmph. Kelihatannya kamu salah memahami sesuatu. Apakah kamu benar-benar yakin bahwa aku Ainz Ooal Gown, akan kalah darimu? Tidak ada kata kalah untuk [Ainz Ooal Gown]. Shalltear, kamu yang akan berlutut di depanku."

"Ahahahaha! Mengerikan sekali!"

Dengan kecepatan yang bisa membuat angin terlihat pelan sebagai perbandingannya, Shalltear mendekat, dipenuhi dengan haus darah. Setiap langkahnya menyebabkan tanah yang hangus di bawahnya meledak. Clementine memang cepat, tapi Shalltear berada pada level yang berbeda. Ainz bersyukur tubuhnya tak perlu berkedip. Jika dia berkedip sekali saja, dia akan kehilangan jejak Shalltear.

Dengan suara tawa yang mengikuti di belakangnya, Tombak Shalltear terbang ke arah Ainz. Biasanya, sebuah tombak yang merangsek maju memiliki beban dan kecepatan dari seorang knight yang mengendarai kuda di belakangnya. Namun, dengan kekuatan Shalltear dan kecepatan yang memiliki dunia sendiri dan membuat orang lain terngaga, Shalltear dengan mudah melampaui kekuatan serangan seperti itu.

Bahkan menyebutnya sebagai kemampuan tertinggi masih kurang tepat. Serangan sepeti itu langsung menuju dada Ainz.

Bahkan ketika tombak itu meluncur ke arahnya, Ainz tidak bergeming.

Sebaliknya, dia membuka mulutnya dan berkata dengan lembut:

"Ini akan berbahaya bagimu."

Sebuah suara yang dipenuhi dengan kekhawatiran, seakan Ainz mengkhawatirkan Shalltear; sebuah kalimat peringatan adalah respon dari serangan Shalltear.

Ketika Shalltear menurunkan kakinya ke tanah, mantra yang telah dipersiapkan sebelumnya, [Triple Maximize Magic : Explosive Land Mines] (Magic Maximum Tiga Kali Lipat : Ranjau Darat Eksplosif) menjadi aktif. Tiga ledakan besar meraung dan Shalltear terdorong mundur.

Sekali lagi, Ainz bicara dengan suara yang lembut:

"Maafkan aku telat memberikan peringatan, Shalltear. Sebenarnya, Aku sudah menaruh ranjau disana - [Maximize Magic : Gravity Maelstrom]."

Menargetkan Shalltear yang terdorong mundur, Ainz meluncurkan sebuah bola yang membentuk spiral hitam. Itu adalah bola super gravitasi yang berputar dan dapat memberikan kerusakan yang signifikan bahkan kepada makhluk seperti Shalltear.

 

Dia langsung memperbaiki keseimbangannya dan mengangkat tangannya yang tak memegang apapun.

"[Wall of Stone]"
(Dinding Batu)

Sebuah dinding batu yang besar muncul dari tanah dan mengelilingi Shalltear. Dinding itu bertabrakan dengan spiral gravitasi Ainz. Batu itu membengkok dan pecah serta hancur bersama dengan spiral gravitasi.

"Hmph![Maximize Magic : Rib Bind]"
(Magic Maximum : Mengikat Tulang Rusuk)

Serangan lain. Sebuah tulang rusuk muncul dari tanah, seperti perangkap harimau, mencengkeram Shalltear. Ujung terakhir dari tulang yang pucat menusuk menembus badannya.

"Ugh!"

Meskipun mantra itu bertujuan untuk membuat targetnya tidak bisa bergerak setelah damage yang ditimbulkan, Shalltear dengan mudah meloloskan diri, berkat kekebalan mutlaknya terhadap efek mengganggu gerakan.

"...Shalltear, kelihatannya aku lupa untuk menyebutkan bahwa aku telah memasang perangkap di area sekitar. Bukankah ide yang bagus bagimu untuk menyerangku dari udara?"
"...Ainz-sama, aku tidak akan terkena jebakan itu. Anda mungkin sudah memasang peangkap disana juga, ya kan?"

"Apakah itu terlihat jelas?"

"Ya, sangat."

Keduanya sama-sama tertawa kecil, dan ketegangan di mata merah Ainz sedikit mengendur.

Tidak mungkin itu benar. Ainz tidak memiliki magic ranjau darat yang telah dipersiapkan lagi. Dia juga tidak memasang perangkap apapun di air pula. Ini bukanlah pertempuran dimana dia bisa dengan cerobohnya menggunakan MP miliknya. Dia tidak bisa seenaknya menghabiskan MP pada mantra yang mungkin terbukti tidak efektif.

Itulah kenapa dia mengklaim telah memasang perangkap di tanah dan berbohong untuk mengikat gerakan Shalltear. Matanya sedikit berubah karena dia berjalan tepat ke arah jebakan itu. Namun, Ainz tidak menunjukkan isyarat lega apapun.

Di dalam pertarungan ini, Ainz adalah penantangnya. Itu adalah perjuangan yang berat, seperti berjalan pada tali yang luar biasa tipisnya dengan kemungkinan dia bisa terpeleset dan jatuh yang sangat besar. Mengetahui hal ini, Ainz tidak merayakan kemenangan kecil seperti itu.

"Tetapi seperti yang diduga dari Ainz-sama. Serangan sederhana seperti itu tidak akan membiarkanku memperpendek jarak."

Pujian yang terus mengalir tanpa henti bisa dirasakan dari mata dan suara Shalltear. Di waktu yang sama, ditemani dengan perasaan bahwa dia akan mulai serius.

Pertarungan sesungguhnya dimulai sekarang.

Jika Ainz bisa berkeringat, mungkin saat ini dia sudah berkeringat deras seperti air terjun.

Pilihanku hanyalah untuk melukai Shalltear terus menerus, sebelum MP milikku habis.

Selain itu, kekalahan Ainz sudah pasti akan terjadi.

----

Shalltear memperbaiki pegangan pada Spuit Lance miliknya dan menatap ke arah magic caster di depan. Tuannya, Ainz Ooal Gown.

Meskipun tidak jelas baginya mengapa dia harus melawan tuannya, yang seharusnya diagungkan, otaknya menghapus hal itu seperi masalah remeh. Dia bisa memikirkan hal itu setelah dia membunuhnya.

Dengan pemikiran seperti itu, Shalltear menatap kepada undead yang sendirian sambil membayangkan keuntungan luar biasa yang dia miliki di dalam pertarungan ini. Pemikiran itu membuat sebuah senyuman di wajahnya.

Seorang magic caster memiliki kekuatan yang luar biasa, tapi kekuatan itu tergantung sepenuhnya pada MP miliknya. Jika MP tersebut habis, potensi tempur miliknya akan habis pula. Di lain pihak, meskipun Shalltear adalah seorang magic caster faith based, dia juga sangat ahli dalam pertarungan jarak dekat. Kemampuan fisiknya yang besar membuatnya bisa bertarung selama HP miliknya masih ada, meskipun MP miliknya sudah terkuras.

Itulah kenapa, daripada menggerus HP Ainz, kemenangan dalam pertarungan ini hanya akan bisa selesai jika dia bisa berhasil menguras MP milik musuhnya. Bagaimanapun juga, Ainz tidak memiliki mantra healing yang efektif.

Jadi gemetarlah saat kamu melihat HP dan MP milikmu pelan-pelan tergerus. Ahaha. Hanya membayangkan wajah Ainz-sama yang ketakutan membuat jantungku berdetak kencang.

Lalu metode apa yang paling baik untuk bertempur? Pertarungan daya tahan.

Setelah memutuskan strateginya untuk pertempuran berikutnya, Shalltear menggenggam item kelas divine miliknya, Spuit Lance.

Senjata ini memiliki kemampuan spesial yang bisa mengembalikan porsi damage yang dia berikan pada musuh untuk menyembuhkan penggunanya. Tidak, bisa dikatakan bahwa senjata ini memiliki spesialisasi untuk efek itu. Itulah kenapa Ainz, yang biasanya bertarung di belakang, tidak memanggil monster-monsternya untuk melindunginya di depan. Dia tahu betul bahwa mengirimkan monster yang lemah hanya akan menjadi mangsa Spuit Lance saja.

Ahh, Ainz-sama yang malang. Tidak kukira dia tidak bisa menggunakan magic summonnya dan harus bertarung sendirian!

Shalltear menahan senyuman sadis dan menggunakan kemampuannya, [Analyze Mana] (Menganalisa MP).

Memiliking kemampuan sementara untuk mendeteksi mana, sisa MP Ainz terlihat pada penglihatannya.

Jumlah yang luar biasa... bagaimana bisa dia mendapatkan mana sebanyak itu?

Jumlah MP yang dimiliki Ainz memang besar, setidaknya 1,5 kali lipat dari Shalltear. Meskipun jika kamu mencari di seluruh Nazarick, kamu takkan menemukan seseorang yang bisa menyamainya.

Benar-benar layak sebagai Supreme Being, Undead dengan spesifikasi berlebihan.... Undead Super... Bukan, Undead yang seperti Dewa?

Namun -- dia tidak berpikir semenitpun bahwa dia akan kalah, meskipun berbeda halnya jika ada Guardian Floor lainnya, yang melawan Shalltear, seorang musuh yang memiliki spesialisasi dalam magic kematian tidak bisa membuatnya terancam.

Dengan berkata seperti itu, dia masih bukan seorang musuh yang bisa aku anggap remeh. Mengapa dia tidak memakai item kelas divine miliknya, aku penasaran?

Suatu tindakan pencegahan untukku? Kemungkinannya memang sangat tinggi. Tapi pertarungan tidak akan berakhir seperti ini jika kita hanya saling menatap. Aku akan mempersiapkan jangka lama dan menyembuhkan diri...

"[Regeneration]"

Menggunakan mantra yang bahkan efektif digunakan untuk undead, Shalltear pelan-pelan mulai menyembuhkan diri dari luka yang diterima magic super. Melawan Shalltear, Ainz akhirnya memulai serangannya. Dia merapal magic gravitasi super yang dia pakai sebelumnya.

"[Maximize Magic : Gravity Maelstrom]"

Saat bola hitam terbang ke arah Shalltear, sebuah pemikiran untuk mengeluarkan dinding batu seperti sebelumnya terbesit di otaknya. Namun, dengan metode itu, dia tidak bisa menekan musuhnya. Dia harus menjadi penyerang untuk bisa memaksa musuhnya menggunakan lebih banyak MP.

Keputusan Shalltear adalah --

"[Greater Teleportaion]"
[Teleportasi yang lebih hebat]

Berteleportasi ke jarak yang lebih dekat dan menyasar pertempuran jarak dekat.

Pandangannya berubah, keadaan sekitar yang seharusnya langsung muncul -- rasanya lebih lambat.

Che!

Shalltear menyadari itu adalah efek dari mantra yang mencegah perpindahan tempat, [Delay Teleportaion].

Titik yang dia duga untuk berteleportasi adalah dimana dia mampu menjangkau Ainz dengan Spuit Lance miliknya. Namun, dia akhirnya tahu bahwa tubuhnya masih dalam jarak yang cukup jauh. Namun, di depan matanya ada fotosfer yang berkedip.

「Drifting Master Mine」
(Ranjau Master Melayang)

Saat ranjau tersebut mendeteksi Shalltear dan akan meledak, dia berubah bentuk menjadi kabut. Kemampuan ini merubah tubuhnya menjadi kabut dan sangat cocok bagi seorang vampir. Meskipun dijelaskan seperti itu, dia tidak menjadi kabut dalam artian fisiknya. Lebih seperti ketiadaan tubuh fisik, berubah menjadi tubuh astral. Ini membuat dia benar-benar bisa menghindari serangan apapun dari dunia fisik - seperti tiga ledakan yang akan terjadi.

"Tidak cukup bagus!"

Dengan sebuah raungan, Ainz merapal mantra

「Maximize Magic: Astral Smite」.
(Magic maksimum: Pukulan Astral)

Pertahanan Shalltear sedikit rendah akibat perubahannya, magic yang efektif terhadap tubuh ethereal menyelimuti Shalltear.

Dengan sebuah perih yang meruntuhkan tubuhnya, Shalltear melepaskan bentuk kabutnya. Bibir Shalltear berubah tersenyum saat dia merasakan sebuah cairan merembes turun dari tubuhnya.

"Menakjubkan! Seperti yang kuduga dari Ainz-sama!"

Pujiannya yang tulus tidak menerima tanggapan, hanya tatapan curiga.

"Anda tidak percaya padaku? Tapi sejujurnya aku berpikir bahwa anda memang orang yang layak mendepatkan kesetiaanku."

Seperti yang diduga, seseorang yang ahli dalam pertarungan magic.

Namun-- senyum tersebut tidak pergi dari bibir Shalltear. Magic milik Ainz berkurang banyak. Tentu saja, keadaan Shalltear juga terkena banyak. Tapi kehilangannya masih dalam perhitungan Shalltear. Sementara kehilangan dari Ainz melebihinya. Keuntungan yang didapat Shalltear memang banyak. Dengan kata lain, Shalltear sekarang semakin dekat dengan kemenangan.

Sekarang, bagaimana dengan ini?

Shalltear membuat gerakan selanjutnya.

"[Force Sanctuary]"
(Kekuatan Suci)

Sebuah cahaya putih menyelimuti sekeliling Shalltear. Sebuah pembatas yang dibuat dari energi suci. Meskipun dia sendiri tidak bisa menyerang, itu adalah pembatas mutlak yang benar-benar menghadang serangan musuh.

Di sisi lain dari cahaya tersebut, penampilan Ainz yang cepat-cepat mempersiapkan peluncuran magic miliknya bisa terlihat.

"Benar sekali. Akan bahaya bagi anda jika anda tidak cepat-cepat merapal mantra."

Pada tatapan pertama, pertarungan sampai pada titik yang mana progressnya menguntungkan Ainz. Shalltear sudah mengerti alasannya.

Kemampuan - salah.

Equipment - salah.

Persiapan - benar.

Benar sekali. Keunggulan itu karena banyaknya mantra pertahanan yang dirapal Ainz dalam persiapan sebelumnya. Kekuatan seorang magic caster sangat bervariasi tergantung pada seberapa banyak dia mempersiapkannya sebelum bertarung. Tentu saja, Shalltear juga sama. Itulah kenapa Ainz langsung menghancurkan pertahanan yang dia tujukan pada tubuhnya. Seperti yang sekarang Shalltear lakukan, Ainz tidak bisa memberi waktu pada Shalltear untuk mempersiapkan pertahanannya.

Sebenarnya, Shalltear tidak memiliki niat sedikitpun untuk mengaktifkan magic pertahanan. Dia tidak seberapa ahli dalam hal itu, lagipula. Dia hanya ingin Ainz membuang MP nya lagi. Itulah kenapa penampilan Ainz yang gugup dalam mempersiapkan mantranya membuat Shalltear tertawa.

Arara, bukankah permainan anda terlalu menguntungkanku, Ainz-sama? Lagipula, mengapa anda tidak menggunakan gulungan-gulungan anda, atau tongkat anda, atau tongkat sihir anda? Apakah anda ingin menyimpannya? Atau mungkin anda panik, atau mungkin anda tahu mereka tidak ada gunanya melawanku? Hmmm?

Pertahanan Magic Ainz mampu menetralkan secara multak seluruh magic level rendah dan sedang, tak perduli seberapa kuat magic caster musuhnya. Di lain pihak, pertahanan magic Shalltear tergantung pada kekuatan atau level dari musuhnya. Serangan magic caster yang lemah akan tidak efektif sama sekali, meskipun itu adalah mantra level 10. Namun, melawan magic caster yang luar biasa - dalam kasus ini, Ainz - Mantra level 1 akan menjati batasan Shalltear.

Meskipun kekuatan magic yang terkandung dalam item-item seperti gulungan bervariasi berdasarkan pembuatnya, mereka biasanya diubah menjadi level terendah. Karena alasan ini, ada peluang yang besar bahwa mantra yang dirapal dengan menggunakan gulungan tidak akan mampu menembus pertahanan magic Shalltear. Itulah alasan mengapa Ainz tidak menggunakan mereka.

Saat Shalltear dengan tenang menganalisa situasinya, Ainz merapalkan mantranya.

"[Maximize Magic: Thousand Bone Lance]"
(Magic Maksimum: Ribuat Tombak Tulang Belulang)

Keluar dari area yang luas di tanah dengan Ainz pada tengah-tengahnya, seribu, dua ribu- tidak, jumlah yang tidak dapat dihitung dari tombak tulang meledak dan meluncur. Tombak-tombak putih itu tersebar dan menabrak pembatas magic berulang-ulang. Dan dengan suara seperti kaca yang pecah, pembatas Shalltear mulai pecah. Puing-puing yang tersebar ke sekeliling meleleh di udara yang tipis.

"Che!"

Penghalang yang dia buat dengan menggunakan mana miliknya dalam jumlah besar dihancurkan dalam sekali serangan. Ini benar-benar di luar prediksinya. Sambil merasa jengkel dari perkembangan ini, serangan lain berterbangan ke arah Shalltear.

"Ini masih belum selesai! [Maximize Magic: Thousand Bone Lance]"

"--[Greater Teleportation]"

Shalltear memilih lokasi di udara, di luar jangkauan efektif dari [Delay Transportation].

"Apakah kamu mengira aku akan membiarkanmu kabur -- [Maximize Magic : Gravity Maelstrom]!"

Entah bagaimana, Ainz mampu memprediksi teleportasi Shalltear. Seakan dia mampu memahami timing dari kemunculan kembali Shalltear, Ainz magic terbang ke arahnya.

Dari pertarungannya yang mahir, Shalltear hampir merasa dia hampir jatuh karenanya. Cara Ainz bertarung adalah hal yang tidak mungkin tanpa pengalaman tingkat tertentu.

"Kamu kelihatannya masih santai."
Ainz, yang harus dibunuh oleh Shalltear entah kenapa, berbicara lirih:

"Bagaimana mungkin kamu masih bisa bersantai dengan aku sebagai lawanmu? Tidak ada perbedaan pada level kita, dari sudut equipment aku memang unggul, kekuranganku ialah aku tidak bisa menggunakan mantra yang merupakan spesialisasiku. Tapi Shalltear, aku merasakan yakin bahwa kamu memiliki posisi yang lebih kuat, kepercayaan diri bahwa kamu bisa menang, tak perduli bagaimanapun keadaannya."

Kepada tuannya, yang sedang menanyai, Shalltear merasakan perasaan yang lebih unggul.

"Ahahaha. Maka aku akan tunjukkan pada anda salah satu alasan mengapa aku percaya diri. Apakah anda tahu aku memiliki skill seperti ini?"

Shalltear menyunggingkan senyum yang hanya dimiliki oleh seorang pemenang dan mengaktifkan [Unholy Shield] (Perisai Non Suci). Sebuah gelombang kejut (shockwave) berwarna merah gelap yang merupakan sisa-sisa darah yang tercecer di sekelilingnya. Dengan mudah menyingkirkan bola gravitasi yang hampir menabrak.

Itu adalah salah satu skill Shalltear yang dikombinasikan antara serangan dan pertahanan.

"Tsk!"

Suara dari Ainz yang membuat bunyi klik dengan lidahnya bisa terdengar. Jika alasan mengapa Shalltear tadi mengeluarkan bunyi klik dengan lidahnya tadi adalah karena prediksinya sedikit meleset, maka Ainz melakukan itu karena dia telah kehilangan posisi yang menguntungkan baginya.

"Ahaha!"

Shalltear tertawa padanya dan menunjukkan skill lain.

Melayang di atas telapak tangannya adalah sebuah tombak perang suci yang besar dengan panjang sekitar tiga meter. Mata tombaknya sangat besar. Aura murni yang memancar dari tombak tersebut adalah bukti bahwa itu bukanlah senjata biasa. Kemilau puih keperakan padanya yang berasal dari pantulan cahaya matahari itu memang indah.

"Ohhh... ini pertama kalinya aku melihat ini. Apakah kamu membuatnya dengan skill milikmu?"

"Ahahaha. Berapa lama anda akan bermuka seperti itu, Ainz-sama? Karena kelihatannya anda bahkan tidak tahu tentang ini, saya akan jelaskan pada anda. Nama dari tombak ini adalah Purifying Javelin (Lembing Pemurnian)!"

Mengejek ketidak tahuan Ainz, Shalltear meluncurkan tombak putih keperakan itu. Dia tidak melemparnya. Namun, tombak tersebut terbang sendiri dan meluncur deras di udara. Dengan mengeluarkan MP, tombak tersebut memiliki tambahan efek dari akurasi sempurna-

"Ugghhh!"

-menusuk Ainz melalui dadanya. Bagi Shalltear, kelihatannya wajah yang seharusnya tidak bisa bergerak itu sedang merasakan kesakitan.

"Ahahaha! Kelihatannya senjata magic dengan atribut holy memang berbeda sama sekali. Kelihatannya sangat efektif."

Sekali lagi, sebuah tombak besar yang terbentuk di tangan Shalltear langsung diluncurkan. Tombak tersebut terbang dengan kecepatan yang tidak bisa dihindari dan menusuk menembus bahu Ainz.

"Kuh, beraninya kamu! [Maximize Magic : Reality Slash] (Magic Maksimum : Sabetan Realita)!"

Mantra yang kuat dirapalkan.

Versi minor dari [World Break] (Kehancuran dunia), skill yang paling kuat yang dimiliki oleh kelas warrior terkuat, World Champion. Itu adalah skill yang hanya bisa diperoleh ketika seseorang sudah mencapai level maksimal dari kelas tersebut. Meskipun itu adalah versi yang lebih lemah, kekuatan penghancurnya berada pada kelas tinggi bahkan diantara mantra tingkat 10.

Darah mengalir deras setinggi air mancur dari bahu Shalltear seakan ruang itu sendiri terbelah dua karenanya.

Namun, serangan yang hampir diabaikan sama sekali oleh pertahanan magic - seakan waktu berjalan mundur; darah itu kembali ke bahunya dan damage yang ditimbulakn kembali di netralkan.

Menyaksikan pemandangan seperti ini, Ainz berteriak.

"Apa yang kamu lakukan!"

"Jangan kaget Ainz-sama. Ini juga adalah skill."

Shalltear merasa gembira sekali karena merasa unggul saat menjawab pertanyaan Ainz.

"Tsk! Maksudmu skill milikku tidak efektif, namun kamu bisa menggunakan milikmu dengan bebas?"

"Tolong jangan berpikir ini tidak adil. Ini adalah kekuatan yang diberikan padaku oleh Peroronchino-sama. Bukankah itu adalah bukti bahwa dia lebih hebat dari anda, Ainz-sama?"

"-Kelihatannya kalimat itu adalah perasaanmu yang sebenarnya."

Seakan ekpresi Ainz menghilang. Berganti dengan suara lirih tanpa emosi. Sebelum Shalltear bisa mulai ragu, Ainz berteriak sekali lagi.

"Aku datang, Shalltear! Tak perduli skill apapun yang kamu miliki, ketahuilah bahwa magic milikku lebih kuat!"

[Maximize Magic : Reality Slash] dan Purifying Javelin saling bertukar, saling menusuk ke tubuh masing-masing.

Saat pertukaran skill tersebut terjadi sekali lagi, Shalltear mengejek di dalam kepalanya atas tindakan Ainz yang begitu bodohnya. Di waktu yang sama, dia bertanya-tanya mengapa dia melawan Ainz.

Shalltear Bloodfallen adalah Guardian Floor yang bertugas di tiga lantai pertama dari Great Tomb of Nazarick, dan juga bawahan setia yang diciptakan oleh Peroronchino, salah satu dari 41 Supreme Being dari Ainz Ooal Gown. Bukankah aneh jika dia sekarang sedang bertarung melawan Ainz Ooal Gown yang sama, yang dulu menggunakan nama Momonga? Mengapa dia mengarahkan pedangnya terhadap anggota dari 41 Supreme Being?

Jika penciptanya memerintahkan, dia akan bertarung dengan seluruh tenaga di dalam tubuhnya. Dia tidak akan ragu meskipun seluruh Nazarick menjadi musuhnya. Tapi ini berbeda.

Tak perduli seberapa banyak dia mengoyak otaknya, jawabannya tidak ketemu.

Namun, dia tidak bisa menghentikan tangannya yang bergerak. Sebuah suara berbisik padanya, mengatakan kepada Shalltear untuk membunuh Ainz dengan kekuatan penuh.

Shalltear melihat dengan [Analyze Magic] saat Ainz menggunakan MP miliknya. Sambil menekan tawanya yang keluar, dia menggunakan pembalik waktu untuk mengembalikan kesehatannya.

Magic yang kuat datang dengan harga yang mahal. Diantaranya, [Reality Slash], mempertimbangkan rasio damage ke harga yang dikeluarkan - sangat tidak efisien. Faktanya adalah dia telah menggunakannya berturut-turut artinya bahwa Ainz memutuskan inti pertarungan bergantung pada seberapa banyak dia bisa menggerogoti Shalltear sebelum pertarungan berubah menjadi pertarungan jarak dekat.

Itu benar. Membidik pertarungan cepat adalah ide yang benar, karena aku akan memegang keunggulan dalam pertempuran yang terseret lama... meskipun aku tidak seberapa efektif debuff jadinya bagi Undead.

Shalltear menyipitkan matanya saat dia menatap orang yang merapal mantra yang kuat satu persatu itu.

Baiklah. Apakah aku harus mengikutimu?

Skill Shalltear dibagi ke dalam mereka yang bisa digunakan tak terbatas dan yang memiliki batasan jumlah penggunaan. Metode yang dia gunakan untuk menyembuhkan diri melalui pembalik waktu hanya bisa digunakan tiga kali sehari, sama dengan Purifying Javelin. Unholy Shild hanya punya satu kali lagi.

Tapi dengan menyimpan mereka tidak ada hal yang menarik. Dari awal, Shalltear percaya bahwa pertempuran terakhir akan menjadi pertempuran jarak dekat. MP dan Skill Shalltear hanyalah alat baginya untuk mengikis MP Ainz.

Meskipun saya masih bisa bertarung tanpa MP, Jika milik anda habis maka itu adalah fatal, Ainz-sama.

Shalltear yang bertarung baik dengan HP dan MP, melawan Ainz yang terpaksa bertarung dengan hanya MP. Dari awal, ada perbedaan yang sangat besar antara dua sisi.

Mata lembut Shalltear terpaku pada Ainz, yang tidak bisa memilih apapun selain magic. Daripada seorang ibu yang khawatir terhadap anaknya, lebih akurat dijelaskan sebagai sebuah tatapan kasih sayang dari yang kuat kepada yang lemah.

Dengan Purifying Javelin miliknya yang terakhir dilemparkan dan menerima [Reality Slash] sebagai balasannya, Shalltear bergerak ke stage kedua dari pertarungan ini.

"Lalu bagaimana dengan ini? [Summon Monster level 10] (Memanggil monster Level 10)."

"Aku takkan membiakanmu! [Greater Rejection] (Penolakan yang lebih hebat)"

Monster yang dipanggil hilang dalam sekejap. Ainz berbicara dalam suara yang terlihat bangga.

"Aku takkan membiarkanmu memperpanjang waktu, Shalltear."

Jangan tertawa, Shalltear. Dia hanya menggunakan MP miliknya tepat setelah skill milikku!

Berusaha untuk bermuka datar, Shalltear merapal magicnya.

"Begitukah? Kalau begitu aku harus menghadapimu secara langsung? [Maximize Magic : Vermillion Nova]."

"[Triple Maximize Magic : Call Greater Thunder]"
(Magic maksimum tiga kali lipat : Memanggil Halilintar yang lebih hebat)

Api Merah gelap yang merupakan kelemahan Ainz menyelimuti tubuhnya. Di Waktu yang sama, tiga petir yang besar, gabungan dari banyak untaian petir, menusuk Shalltear.

Bersamaan dengan kesehatannya yang berangsur-angsur terkikis, untuk pertama kalinya dalam pertarungan ini, sebuah ekspresi tidak menyenangkan mengambang di wajah Shalltear.

Dia meningkatkan pertahanannya terhadap Api?

Tak perduli seberapa kuat seseorang, tidak mungkin bisa benar-benar menolak setiap tipe atribut. Bahkan jika kamu menumpuk resistansi dari ras, kelas dan bahkan equipment kelas divine milikmu, masih ada saja batasannya. Namun, jika seseorang benar-benar menghapus resistansi terhadap atribut, masih mungkin menaikkan kekebalan penuh yang lain. Ini adalah kasus jika itu adalah atribut yang lemah bagimu.

Dengan kata lain, Ainz telah mengabaikan  perbedaan atribut agar terfokus untuk meningkatkan resistansi api.

Menjengkelkan sekali, aku tidak tahu atribut apa yang dia buang.

Cara satu-satunya untuk mencari tahu adalah dengan menggunakan [Analyze Life] untuk melihat HP Ainz dan merapalkan mantra dari setiap atribut untuk melihat reaksinya.

Seolah-olah aku akan melakukan sesuatu yang menyusahkan seperti itu. Maka dengan atribut yang jelas dia lemah -.

"--[Maximize Magic : Brilliant Radiance]"
(Magic maksimal : Sinar yang berkilau)

"--[Maximize Magic : True Darkness]"
(Magic maksimal : Kegelapan Sejati)

Sementara Ainz disucikan oleh cahaya suci yang menelan tubuhnya, tubuh Shalltear diserang oleh kegelapan yang kosong.

Dalam sekejap -- Shalltear tidak luput; gambaran sesaat dimana tubuh Ainz bergetar.

Bahkan sekarang, dia cepat-cepat membetulkan postur tubuhnya dan pura-pura tidak menyadari. Tapi tak ada yang akan terkena adegan yang jelas kelihatannya seperti itu. Itu adalah usaha dari sebuah tubuh yang mencoba mengabaikan luka.

Shalltear tertawa tanpa menunjukkannya di wajah, dia telah menemukan kelemahannya.

Tidak, itu memang tidak bisa dihindari. Undead memang pada dasarnya lemah terhadap atribut holy. Sangat luar biasa sulit untuk menghapus kelemahan ini. Meskipun jika equipment yang digunakan adalah untuk meningkatkan resistansi api, maka itu akan semakin tidak mungkin.

Saat keduanya saling menatap, mereka merapalkan magic selanjutnya. Tentu saja, Shalltear memilih yang sama [Brilliant Radiance].

Berapa kali lagi mantra mereka maju dan mundur? Bahkan bagi Shalltear, dia telah kehilangan kesehatannya(HP) dalam jumlah yang signifikan. Jika dia tidak menggunakan skill miliknya yang melemahkan efek magic secara diam-diam ditukar dengan pengurangan MP miliknya, maka HP Shalltear pasti sudah berada di titik nol.

Seperti yang kuduga, dia memang luar biasa... baik serangan dan pertahanan, Ainz-sama sangat lebih kuat dariku dalam pertarungan magic. Meskipun aku sudah menggunakan magic holy berturut-turut, dia mungkin tidak menerima damage sebanyak yang kuterima. Tapi tetap saja... dia sudah menggunakan banyak sekali MP.

MP Ainz yang tampil di pandangannya sekarang jauh lebih rendah dari ketika mereka pertama kali mulai. Meskipun begitu, mata Ainz masih terbakar hebat dengan semangat yang berapi-api.

Ahh, tubuhku geli, Pria yang menakjubkan, aku ingin melihat bagaimana tampangnya ketika dia kalah dan semangatnya hancur.

Shalltear memadamkan perasaan bergejolak dari bawah perutnya. Jika dia sedang berada di kamarnya, dia mungkin akan memanggil vampire bride. Tapi sayangnya, disini tidak ada. Tak perlu dikatakan, dia hampir tidak dapat memuaskan dirinya dan menyalurkan hasrat sexualnya disini dan sekarang.

Maka pilihan yang tersisa - Memuaskan diri dengan bertarung.

Mata Shalltear penuh dengan birahi, Shalltear menatap Ainz sambil menjilat bibirnya dengan lidah. Reaksi macam apa yang akan Ainz tunjukkan jika dia semakin meningkatkan keunggulannya disini?

"Kalau begitu saya akan menyembuhkan diri sekarang. [Maximize Magic : Greater Lethal]"

Makhluk hidup disembuhkan dengan energi positif dan dilukai dengan energi negatif. Undead adalah sebaliknya. Itulah kenapa dia merapal mantra seperti [Greater Lethal], yang menyalurkan energi negatif yang kuat ke dalam dirinya, menjadi magic penyembuhan yang terhebat untuk undead seperti Shalltear.

"Kamu benar. Aku juga telah banyak terluka - [Greater Lethal]."

Shalltear mengedipkan mata berkali-kali. Dia tidak bisa percaya pada apa yang terjadi. Namun, melihat lukanya yang semakin sembuh di depan mata, dia tidak punya pilihan selain menerimanya.

"...Huh? Bagaimana Ainz-sama bisa merapal magic faith seperti [Greater Lethal]? Apakah itu adalah skill yang bisa dipelajari pada kelas anda?"

"Tidak, sayangnya kekuatan ini bukan milikku, tapi dari sebuah item magic. Itu adalah item yang mbmuat bisa menggunakan satu mantra spesifik. Karena itu, aku menggunakan salah satu slot equipment milikku. Dia juga tidak bisa digunakan bersamaan dengan skill Magic Maksimum dan efeknya tidak sekuat pada kelas asalnya. Tidak banyak yang bagus tentangnya."

Melihat Ainz menggunakan [Greater Lethal] kedua kalinya sambil protes betapa menyusahkannya, Shalltear bergumam bahwa jadwalnya sedikit berubah. Dengan begitu, tidak terlalu banyak berbeda karena salah satu tujuannya membuat Ainz menghabiskan MP berhasil.

Setelah membuat penilaian, Shalltear mengaktifkan [Greater Lethal] sekali lagi dan merawat lukanya. Karena dia ada di level 100, agak lama sebelum dia benar-benar sembuh.

Dan terakhir-

"[Maximize Magic : Greater Lethal]."

"[Body of Effulgent Beryl]"

-sementara dia menyembuhkan luka, Ainz merapalkan mantra pertahanan pada dirinya.

Shalltear, sebagai tambahan karena menjadi magic caster faith based, tidak menerima informasi dalam jumlah besar dari Peroronchino. Oleh karena itu, dia tidak tahu efek seperti apa mantra [Body of Effulgent Beryl] hasilkan. Melihat Ainz yang diselimuti dengan kilauan hijau yang baru saja hilang sesaat tadi, Shalltear yakin dia telah menggunakan magic pertahanan.

Itu adalah keputusan yang benar. Aku juga akan mulai menyerang anda secara pribadi.

Saat Shalltear bersiap menggenggam Spuit Lance hingga puas, dia mendengar protes yang terdengar seperti tidak sengaja diucapkan.

"Tidak kukira aku berada pada posisi sulit."

Berada pada sudut mati, Shalltear mengendurkan tangan yang menggenggam Spuit Lance dan berpikir dalam dirinya.

Baru sadar?

Dengan mengatakan itu, dia beralasan bahwa mengatakan hal semacam itu kepada tuannya, Ainz-sama, adalah hal yang kurang ajar dan tidak keluar dari mulutnya.

..tuan? Ainz-sama?

Shalltear bertanya-tanya pada kalimat yang muncul di otaknya beberapa kali selama pertarungan. Dia ingin tahu mengapa dia mengarahkan pedang kepada tuannya, Ainz-sama. Tapi hanya seperti itu. Ada banyak hal di dunia ini yang tidak dia mengerti. Ini hanya salah satunya.

Bahkan ketika dia memutuskan seperti itu, Shalltear mengira tindakannya melawan Ainz termasuk kedalam garis pemikiran itu. Itulah kenapa, dengan suara tenang yang tidak bisa muncul di tengah pertempuran, Shalltear bicara kepada Ainz.

"Jika pertarungan memang merugikan, mungkina anda seharusnya lari?"

"Tapi, tentang itu.."

Sesuatu yang mirip dengan senyum pahit kelihatannya berkelebat pada wajah Ainz; di wajah tengkorak yang seharusnya tidak bisa bergerak.

"Aku.. ya. Aku sangat egois Shalltear. Aku tidak ingin lari." Ainz memandang tangannya yang tulang belulang dan kosong itu. Seakan Shalltear tertarik padanya, pandangan Shalltear juga bergerak ke titik itu.

"Meskipun aku ragu siapapun akan mengerti, bahkan jika orang lain berpikir aku bodoh, saat ini, sebagai Guildmaster, aku merasa puas. Bagaimana aku harus mengatakannya..Aku... meskipun aku memegang posisi guildmaster, sebenarnya, yang aku lakukan hanya mengatur dan menangani tugas-tugas remeh. Terlebih lagi, aku tidak memimpin di depan. Namun, saat ini, aku sedang bertarung demi guild di garis depan... meskipun kelihatannya itu hanya untuk kepuasan diriku."

"Begitukah? Mungkin itulah yang disebut dengan harga diri seorang pria?"

"Itu... apakah memang seperti itu? Mungkin saja... mungkin itu hanyalah pelarian dari keputusasaan. Kelihatannya aku sudah menghancurkan mood dengan cerita yang membosankan. Maafkan aku. Bolehkan kita lanjutkan?"


Part 2

Ainz dengan tenang menatap figur Shalltear yang sedang memegang Spuit Lancenya. Agar Ainz bisa menang, dia harus melewati pertempuran jarak dekat ini.

Equipment di sekitar punggung Shalltear membengkak, dan seakan ada ledakan yang menembus armornya, keluar sayap-sayap kelelawar. Ainz tahu apa yang akan datang selanjutnya.

Kelelawar-kelelawar besar dalam jumlah yang sangat banyak terbang ke udara dari punggungnya. Mereka adalah Tetua Kelelawar Vampir yang diciptakan dengan skill 'Raise Kin'. Mereka juga ditemani dengan kerumunan kelelawar vampir.

Meskipun mereka tidaklah kuat, mereka masih tidak bisa diabaikan. Ainz langsung merapal mantranya.

"[Shark Cyclone]"
(Topan Hiu)

Dalam sekejap, sebuah tornado dengan tinggi 100 meter dan berdiameter 50 meter muncul. Tornado itu merobek tanah dan mengangkatnya ke udara. Menjadi lebih gelap karena reruntuhan di dalamnya, tornado itu menelan kelelawar-kelelawar yang kabur ke dalam badannya.

Di dalam topan yang mengamuk, bayangan dalam jumlah besar bisa terlihat pelan-pelan bergerak. Bayangan-bayangan tersebut berenang berkeliling seakan berada di dalam hiu lautan dengan ukuran sekitar enam meter. Mereka berkumpul dalam gerombolan kelelawar yang berusaha mati-matian terbang dari tornado, seperti umpan yang dilemparkan ke permukaan. Sementara mantranya efektif menunjukkan kekuatannya terhadap makhluk-makhluk yang melayang, mirip dengan seekor hiu yang merobek-robek Tetua Kelelawar Vampir, ada lagi yang merobek menembus badai.

Figure merah tua menusuk menembus tornado langsung dan merangsek dengan kecepatan tinggi sementara ujung tombaknya diarahkan ke depan, figur tersebut meninggalkan jejak panas seperti jet.

Tak mampu bereaksi dengan tepat, Ainz merasakan luka dari benda tajam di sekujur tubuh. Crack, dia merasa seluruh tulang di tubuhnya mengalami retak.

Dalam sekejap dia lengah, gerakan Shalltear sudah tiba di depan matanya dan telah menusuk tulang dadanya denagn senjata pembunuh. Ujung tombak itu meremukkan tulangnya dan tembus ke punggung.

"Ugh!"

Dia berteriak kesakitan. Shalltear telah menggunakan skill miliknya untuk memberi tombaknya sebuah properti serang dan meluncurkan sebuah pukulan pada HP Ainz.

Ainz yang undead memang kuat terhadap luka. Seperti otaknya, damage yang melebihi batas akan ditekan. Itulah kenapa meskipun seorang pemula dalam hal pertarungan seperti Suzuki Satoru bisa tetap tenang tanpa kehilangan diri akibat luka.

Tapi ini sangat kuat.

Rasanya seperti nyawa ini digerogoti. Sebuah perasaan yang mirip ketika pandangan semakin gelap akibat kehilangan banyak darah, hal itu mengguncang Ainz dengan keras - tidak, otak lemah Suzuki Satoru.

Tapi Ainz akan melewatinya.

Yang bertarung disini bukanlah Suzuki Satoru. Tetapi adalah Penguasa Tertinggi dari Great Tomb of Nazarick, Ainz Ooal Gown.

Meskipun Ainz mencari cara untuk menyerang selanjutnya, serangan Shalltear tidak berhenti. Dengan ujung tombaknya yang masih menusuk Ainz, dia mendorong maju lagi dan lagi. Ketika Pedangnya menusuk lebih dalam, bagian yang lebih tebal dari tombak tersebut terus menusuk tubuh Ainz. Perasan tubuh yang terbelah dua dan perih yang memukul-mukul, bersama dengan kesehatannya yang berkurang dengan cepat.

Itu memicu pengaktifan mantra [Body of Effulgent Beryl] miliknya.

Sinar hijau yang memeluk tubuh Ainz pun pecah.

Magic tingkat 10, [Body of Effulgent Beryl]. Untuk durasinya, magic tersebut memiliki efek positif mengurangi damage dari serangan yang masuk. Ketika aktif, magic tersebut memiliki satu kali kegunaan untuk menetralkan serangan yang masuk dengan sempurna.

Damage yang diberikan oleh tombak tersebut dihisap oleh [Body of Effulgent Beryl]. Seakan waktu terbalik, tombak tersebut terdorong keluar dari tubuh Ainz.

Didorong keluar oleh tombak itu dari lokasinya, Ainz meluncurkan mantranya kepada Shalltear yang kelihatannya tidak mengerti apa yang terjadi.

"[Wall of Skeleton]"

Sebuah dinding yang terbuat dari tulang yang tak terhitung jumlahnya menggenggam senjata muncul diantara dua figur. Tulang-belulang itu membentuk sebuah dinding itu terayun dan menusuk Shalltear.

Namun, tak satupun yang sampai di tubuh Shalltear.

"[Maximize Magic : Force Explosion]"
(Magic Maksimum : Ledakan Tenaga)

Sebuah shockwave yang tak terlihat meledak keluar dengan Shalltear sebagai pusatnya dan menabrak dinding tulang belulang. Dinding tersebut bengkok, dan tak mampu menahan tenaga shockwave, akhirnya meledak.

Tulang-belulang yang tersebar itu berjatuhan ke tanah dengan suara seperti hujam. Tapi terbukti berguna untuk mengulur waktu bagi Ainz.

"Lepaskan!"

Mengikuti perintahnya, [Greater Magic Seal] (Segel Magic Lebih Hebat) melepaskan tiga lingkaran magic, setiap lingkaran itu menembakkan 30 tembakan anak panah cahaya berwarna putih, [Magic Arrow]. Bekas kilauan yang indah dari panah yang bertebaran menyerupai sayap-sayap malaikat. Namun, ini adalah malaikat yang memberikan sinyal kematian.

Magic tingkat 1 tidak bisa menembus pertahanan Shalltear. Merasakan bahaya dibalik kenyataan bahwa Ainz menggunakannya tak perduli hal itu, Shalltear cepat-cepat mencoba menghindari ke samping. Namun, anak putih itu membuat belokan tajam dan dengan sempurna bersarang di target mereka, seperti guyuran hujam.

Damage dari anak panah magic putih yang berutur-turut dalam sekejap menghancurkan kesehatan Shalltear.

Rahasia dibalik bagaimana mereka berhasil menembus pertahanan magic Shalltear adalah karena Ainz telah menggunakan skill yang membuat kekuatan anak panah itu setara dengan magic tingkat 10 dalam sementara.

Serangan Ainz tidak berhenti di situ.

"Menarilah! [Triple Maximize Magic : Obsidian Sword] (Magic Maksimum Tiga Kali Lipat : Pedang Obsidian)!"

Tiga Pedang yang mengeluarkan cahaya hitam melayang di udara. Seakan mereka memiliki nyawa sendiri, ketiga pedang itu langsung melesat menuju Shalltear.

Shalltear menangkisnya dengan Spuit Lance, Seakan dia bilang pada ketiga pedang itu untuk menyingkir darinya. Namun, pedang-pedang itu melanjutkan serangannya. Sangat luar biasa sulit menghancurkan pedang yang dibuat oleh magic dengan serangan fisik.

"[Magic Destruction]"
(Menghancurkan Magic)

Shalltear menggunakan sisa MP yang tinggal sedikit untuk merapal mantra untuk membatalkan mantra lain. Dengan MP miliknya yang sekarang sudah habis, magic miliknya menghancurkan dua pedang di udara. Tapi tinggal satu pedang yang tersisa, terus menyerang Shalltear. Rata-rata kesuksesan dari [Magi Destruction] bervariasi tergantung kemampuan dari penggunanya. Hasilnya hanya menunjukkan yang mana dari mereka yang merupakan magic caster yang lebih kuat.
"Ahh, menjengkelkan!"

Shalltear mengabaikan pedang yang menuju dirinya dan merangsek menyerang Ainz. Magic dengan level seperti itu tidak akan mampu memberikan damage padanya.

Pukulan dari Spuit Lance melemparkan Ainz ke samping. Ainz memang lemah dengan serangan yang mengenainya. Tidak bisa mengabaikan damage dari yang diterima, dia memantapkan diri di udara menggunakan magic [Flight]. Dan-

"Sialan!"

- Untuk pertama kalinya dalam pertarungan ini, dia kehilangan ketenangan dan mengeluarkan sumpah serapah.

Bukan karena HP nya yang berkurang yang menyebabkan reaksi itu. Masalahnya adalah fenomena yang terjadi di depan matanya. Kesehatan yang hilang darinya diserap oleh Shalltear dan menyembuhkannya.

Kecepatan penyembuhan itu melampaui damage dari [Obsidian Sword]. Untuk memberikan damage yang lebih besar daripada kesehatannya yang kembali, Ainz langsung menutupi tubuh Shalltear dengan magic serangan.

"[Triple Maximize Magic : Reality Slash]"

Satu demi satu, tiga serangan yang membelah udara itu menarik darah keluar dari tubuh Shalltear. Namun, Shalltear mengabaikannya dan mendekati Ainz untuk memperpendek jarak, membawa [Obsidian Sword] di punggungnya bersama dia.

Tanpa MP, Shalltear tidak ada pilihan lain kecuali memperpendek jarak dan bertarung dalam jangkauan Spuit Lancenya... Tapi itu bukanlah keuntungan bagiku.

Sambil mundur dengan [Flight], Ainz melanjutkan rentetan serangannya.

"[Triple Maximize Magic : Reality Slash]"

Meskipun kenyataannya Ainz yang sedang kabur, dalam setiap kedipan, jarak antara mereka semakin mengecil. Itu adalah perbedaan antara kecepatan terbang yang diperkuat dengan skill dan magic [Flight] itu sendiri.

Dengan darah yang keluar dari tubuhnya, Shalltear memperpendek jarak sampai dekat di depan mata Ainz. Dengan membungkuk ke depan, Shalltear melepaskan sebuah shockwave dengan dirinya sebagai pusat.

Bukan [Force Explosion]! Tetapi [Unholy Shield] (Perisai non Suci)?!

Shockwave yang terbentuk dari skill Shalltear meremukkan [Obsidian Sword] yang tersisa dan menabrak Ainz, mementalkannya ke belakang dengan jarak yang besar.

"Kuh! Gaah!"

Tidak diragukan lagi Shalltear telah mengkombinasikan Unholy Shield miliknya dengan skill yang lain yang tidak diketahui. Ainz menabrak tanah dan bergulung dua kali, tiga kali -- dan memaksa diri membetulkan keseimbangannya dengan bantuan item magic dan magic [Flight] miliknya.

Entah karena Ainz yang tidak memiliki sistem vestibular (Pengatur keseimbangan) atau karena itu adalah karakteristik dari menjadi Undead, Ainz, yang tidak merasa pusing, menatap Shalltear dari jarak yang semakin jauh.

Ini adalah sebuah keuntungan. Ainz tidak ingin terjadi pertarungan jarak dekat. Fakta bahwa jarak mereka semakin meningkat artinya bahwa dia memiliki waktu lebih untuk menggunakan magicnya.

Saat dia akan merapal mantra, Ainz melihat sebuah kumpulan cahaya yang cerah muncul di depan Shalltear. Seakan ingin menghalangi mereka berdua, cahaya itu melingkupi ruang di antara mereka dan membentuk sebuah bangunan dengan ukuran manusia.

Ainz tahu betul apa itu.

Ainz merubah wajahnya yang tidak bisa bergerak menjadi cemberut, sementara Shalltear tersenyum kemenangan.

"Jadi akhirnya...tiba juga. Kukira itu akan muncul terakhir, tapi menggunakannya disini... 'Einherjar' - Senjata rahasia terhebat dari Shalltear."

Cahaya putih itu mengambil bentuk manusia seutuhnya.

Penampilannya seperti sebuah figur yang menggunakan armor putih. Jika kulit yang memancarkan cahaya pucat itu dikesampingkan, dia terlihat hampir mirip dengan Shalltear, yang memanggilnya.

Ainz tahu bahwa tampilan itu bukan satu-satunya kesamaan yang dimiliki mereka berdua.

Dia tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan magic atau item, dan juga beberapa skill lain. Namun, equipment dan statusnya setara dengan Shalltear sendiri. Meskipun rasa yang dibangun mirip dengan golem, terlalu berlebihan untuk mengatakan bahwa pertahanannya hampir serupa dengan mereka yang undead.

Itu bisa dianggap sebagai Shalltear kedua yang hanya bisa menggunakan serangan biasa.

Meskipun dia sudah menduga ini akan terjadi, beban pertarungan melawan dua musuh dengan level 100 sekaligus sangat besar.

Terlebih lagi, Shalltear meningkatkan jumlah monster yang dia panggil menjadi besar. Serigala, kelelawar, gerombolan tikus - dan banyak lagi.

Meskipun tak ada yang berada pada level dari Einherjar, kekuatan dari jumlah ini tidak boleh dianggap remeh.

Diasumsikan saja aku menghabisi mereka dalam sekejap dengan magic yang efeknya satu area... Apa yang harus kulakukan dengan Einherjar?

Sementara Ainz menjelajahi pilihannya, Einherjar merangsek maju ke arahnya. Itu adalah situasi yang dia tidak perkira.

Mengapa Shalltear tidak bergerak? Bukankah rencananya untuk memutuskan pertarungan ini dengan jumlah?

Pertanyaan itu dijawab segera setelah Ainz menolehkan matanya. Di waktu yang sama, api di dalam lubang matanya semakin besar.

"Uwah! Tidak adil sekali!"

Dia tidak sengaja berbicara sebagai Suzuki Satoru, bertanya-tanya apakah tindakan seperti itu diperbolehkan.

Pemandangan yang terpantul pada penglihatan Ainz: Monster-monster yang dipanggil Shalltear dihancurkan sendiri olehnya, dengan menggunakan Spuit Lance.

Shalltear menyerang makhluk-makhluk yang dia panggil sendiri dengan Spuit Lance dan menyembuhkan dirinya sendiri.

Kemampuan penyembuhan dari Spuit Lance, tidak usah dikatakan, tergantung dari jumlah damage yang dilakukan. Ainz, yang berada pada level yang sama dengan pertahanan tinggi, melawan monster-monster bawaan Shalltear. Tidak perlu diucapkan siapa yang akan memberikan kesehatan yang lebih banyak. Terpantul di penglihatan Ainz  langsung adalah gambaran Shalltear yang mengembalikan kesehatannya dalam jumlah besar.

Makhluk-makhluk yang dipanggil langsung menghilang, ditusuk oleh tombak itu.

Itu adalah situasi yang kejam dan tak terpikirkan sama sekali.

Tetapi karena friendly fire (menyerang teman) bisa dilakukan di dunia ini, itu bisa disebut strategi yang jelas terlihat.

Ainz mengembalikan ketenangannya dan mulai menyusun rencana untuk situasi yang tak terduga ini. Tapi menyaksikan pemandangan dimana seseorang membunuh makhluk yang disummon oleh mereka untuk mengembalikan kesehatannya, itu adalah sesuatu yang tak pernah mungkin bisa terjadi di YGGDRASIL. Seakan Ainz tak bisa menekan pergolakan hatinya sama sekali, Ainz menerima serangan dengan berat penuh dari Einherjar yang berhasil mengurangi jarak tepat di wajahnya.

"Kuughh!"

Ainz terlempar dengan sebuah teriakan; Einherjar melanjutkan serangannya dengan sebuah wajah yang tak ada ekspresinya.

Saat Ainz melanjutkan mundur sambil berada dalam serangan, dia memutuskan bahwa dia juga, akan mengangkat segel pada senjata rahasianya.

Kemampuan Shalltear yang bisa memanggil monster-monster itu bukannya tak terbatas, itu akan berakhir. Tapi membiarkannya menyembuhkan diri dari seluruh makhluk di sekelilingnya terlalu berbahaya.

Biasanya, Ainz akan menggunakan itu ketika Einherjar sudah terlihat. Selain dari Shalltear yang menyembuhkan diri dengan cara itu, rencananya masih tetap berjalan pada jalurnya.

Diantara kelas level 60 atau lebih, ada satu kelas tertentu.

Bahkan di YGGDRASIL, sangat langka dan hanya beberapa yang memilikinya.

Alasan Ainz bisa mendapatkan kelas itu adalah karena dia mengabaikan kekuatan dan memaksimalkan magic kematiannya demi peran permainan. Seseorang yang hanya ingin membuat karakter yang kuat tidak akan bisa menemukannya. Itu adalah sebuah kebetulan karena membangun stat dengan kecenderungan ekstrim sangat langka.

Prasyaratnya adalah memiliki lima level Overlord. Selanjutnya adalah menspesialisasikan hampir secara keseluruhan pada magic death sambil memiliki jumlah level 95. Dengan itu, kamu bisa mendapatkan kelas tersebut.

Sebuah kelas langka seperti ini, jika itu adalah permainan yang berbeda, informasinya akan langsung diupload kepada situs guide dan dibagikan. Tapi YGGDRASIL adalah sebuah game dimana informasi itu sendiri memiliki nilai. Seperti kasus Item Kelas Dunia, jumlah orang yang dengan bebas membagikan informasi penemuan yang baru kepada orang lain sangat sedikit. Ini terutamanya kaus dari kelas-kelas yang memiliki senjata rahasia.

Kelas itu adalah 'Eclipse'.

[Overlord yang menguasai kematian dalam pengertian yang paling sebenarnya akan naik ke kelas ini. Seperti sebuah gerhana, dia akan mengganggu seluruh kehidupan.] -- adalah yang tertulis pada deskripsi status kelas itu.

Dan apa yang akan dia lakukan sekarang, skill yang dipelajari pada level lima, yang mana adalah kemungkinan level tertinggi dari kelas Eclipse. Itu adalah sebuah skill yang hanya bisa digunakan sekali setiap 100 jam.

Nama Skill itu adalah - 'Tujuan dari seluruh kehidupan adalah kematian'.

Dalam sekejap, sebuah jam dengan jarum yang menunjuk kepada posisi dua belas tepat muncul di belakang Ainz. Dia lalu merapalkan sebuah mantra.

"[Widen Magic : Cry of the Banshee]."
(Magic yang meluas : Jeritan Banshee)
TL Note : Banshee seorang hantu wanita berasal dari Irlandia yang muncul untuk memberitahukan bahwa kematian sudah dekat kepada seseorang.

Sebuah jeritan seorang wanita yang bergema di seluruh penjuru seperti sebuah ombak kecil. Itu adalah teriakan dengan efek kematian dalam sekejap.

Magic itu diperkuat dengan banyak skill Ainz, membuatnya lebih kuat dari biasanya dan sulit untuk ditahan. Tak perlu dikatakan, magic itu tak berpengaruh terhadap undead seperti Shalltear dan tidak pula Einherjar, yang termasuk bangunan oleh karena itu memiliki kekebalan sempurna terhadap efek kamatian dala sekejap.

Tapi cukup anehnya, bahkan makhluk-makhluk di area tersebut tidak memiliki pertahanan penuh dan terkena efeknya.

Meskipun situasinya aneh, Ainz tidak bergeming. Sebenarnya, kejadian itu berjalan seperti seharusnya.

Clunk

Dengan sebuah bunyi, seakan sesuai dengan timing ketika mantra tersebut diaktifkan, jam di belakang Ainz mulai berdetak.

Saat kesehatan Ainz mulai digerus oleh serangan beruntun dari tombak Einherjar, Ainz mengawasi Shalltear dari sudut pandangannya dan di waktu yang sama, merasa kecewa.

...Seperti yang kuduga, pertarungan tidak akan selesai. Peroronchino itu, apakah dia memasang ini sebagai jaga-jaga dariku? Kamu tak perlu memberinya item resureksi, sialan!

Dia merasa marah di hati kepada temannya yang dekat, bahkan di dalam guildnya.

Sementara Ainz sibuk menghindari serangan Einherjar, dua belas detik sudah terlewati. Setelah menyelesaikan satu putaran. Sekali lagi, jarum di jam itu menunjuk ke langit.

Dan senjata rahasia Ainz diaktifkan.

Ketika itu - Dunia sudah tiada.

Itu bukan hanya kiasan.
Semuanya telah tewas.

Di depan mata Ainz, Einherjar berubah menjadi kabut putih dan mulai rontok. Bahkan bangunan yang tak memiliki nyawa tewas dalam sekejap. Begitujuga, makhluk-makhluk Shalltear, tunduk kepada kekuatan yang tidak bisa mereka lawan, mulai tewas satu persatu.

Tapi tidak berhenti disini.

Bahkan udara yang tiada kehidupan menjadi tewas dan berubah menjadi 200 meter diameter dari ruang dimana bernafas sudah tidak mungkin. Jika ada makhluk disini yang butuh nafas untuk hidup, udara kematian hanya akan mengkontaminasi paru-parunya dan mengakhiri hidupnya.

Bukan hanya itu, tanahpun juga tewas. Dengan Ainz sebagai pusatnya, sebuah area dengan ukuran diameter 200 meter berubah dalam sekejap menjadi gurun.

Di dalam dunia dimana hanya ada kematian, yang bisa bergerak hanyalah Ainz dan Shalltear.

senjata rahasia Ainz, 'The Goal of All Life is Death', memperkuat mantra-mantra dan skill-skill kematian dalam sekejap hingga titik dimana mereka yang benar-benar kebal akan terbunuh.

Metode untuk bertahan melawannya adalah dengan, seperti Shalltear, menyebarkan efek self-resureksi (menghidupkan diri sendiri) dan lainnya.

Itu juga alasan mengapa bahkan obyek yang tidak bisa bergerak seperti udara dan tanah juga mati. Meskipun efeknya tidak seperti ini di dalam YGGDRASIL, di dunia nyata, lebih tepat dikatakan dengan jelas dalam bentuk 'mengabulkan kematian kepada semuanya dengan sama rata.

Bahkan Ainz juga kaget dengan kejadian aneh ini. Fkata bahwa menggunakan skill game pada kenyataan bisa berubah hingga tingkat seperti ini, cukup hampir membuatnya tanpa disadari menggelengkan kepala keheranan.

Tapi Ainz menelan rasa keterkejutannya. harga dirinya membuat rasa terkejutnya tidak terlihat. Seakan berkata bahwa ini adalah yang dia maksudkan, Ainz, dengan sikap angkuh dan somboh yang cocok dengan seorang penguasa, berbicara dengan lirih kepada yang masih selamat.

"Bagaimana rasanya setelah menyaksikan kekuatan yang mengabulkan kematian bahkan kepada mereka yang tidak memiliki nyawa?"

Udara dingin mengalir ke sekeliling, membuat udara kematian menjadi tipis. Terbawa angin, suara lain bisa terdengar.

"Itu memang menakjubkan, seperti yang kuduga dari Ainz-sama. Seluruh makhluk-makhlukku semuanya terbunuh. Tapi Ainz-sama MP kelihatannya juga hampir habis. Di lain pihak... kesehatanku masih tidak apa-apa."

Mata Shalltear memantulkan status MP Ainz yang hampir terkuras. Meskipun Ainz masih memiliki sisa sedikit, mungkin hanya cukup untuk merapal dua atau tiga mantra paling banyak. Dengan jumlah yang sedikit seperti itu, tak perduli mantra apapun yang dia gunakan, tidak mungkin bisa digunakan untuk membunuh Shalltear.

Ini adalah masalahnya jika dia mau menggunakan magic level super [Heaven's Downfall].

"Apakah menggunakan dua mantra tingkat 10 lagi adalah limit anda? Tapi karena magic Ainz-sama sangat kuat, tidak ada yang bisa tahu hal menakjubkan apa lagi yang bisa anda lakukan dengan hanya itu."

"Memang benar, kelihatannya hanya dua yang bisa aku gunakan."

Itu bukan kebohongan.

Shalltear menang.

Sebuah senyum kepuasan muncul dari mulut Shalltear.

Garis yang memisahkan pemenang dan yang kalah sekarang jelas-jelas terlihat. Shalltear Bloodfallen adalah pemenangnya, Ainz Ooal Gown adalah yang kalah.

Dengan ketenangan seorang pemenang, Shalltear memuji yang kalah, Ainz, yang telah membuatnya menikmati pertarungan yang bagus.

"Anda memang luar biasa Ainz-sama. Seperti bagaimana MP anda hampir habis, milikku memang benar-benar habis dan skill charge juga hampir habis juga. Anda sudah bertarung dengan baik sampai sekarang."

Dia mengalirkan kekuatannya kepada tangan yang menggenggam Spuit Lance. Hal yang tersisa adalah untuk mengakhiri hidup Ainz dengan pertarungan jarak dekat.

"Aku setuju. Pujianmu, aku akan menerimanya dengan senang hati."

Tersentak. Pipi Shalltear bergerak.

Dia tidak menyukainya.

Sikap tenang Ainz Ooal Gown.

Tapi Shalltear menebas ular pengganggu yang bernama kegelisahan dengan sebuah tebasan.

Tak perduli seberapa keras dia memikirkannya, tidak mungkin bagi Ainz untuk membalik situasi ini. Dia sudah menghabiskan senjata rahasia yang penggunaannya hanya sekali itu. Jadi itu hanyalah sebuah penampilan dari mereka yang terhukum dan menerima saat-saat terakhirnya. Daripada menyebutnya tenang, itu lebih seperti perasaan pengunduran diri yang lahir dari sebuah tekad.

Shalltear pelan-pelan berjalan dan mulai memperpendek jarak. Meskipun jika Ainz menyerang dengan gulungan, dia masih percaya diri bahwa serangannya akan lebih cepat. Itulah kenapa tidak perlu bagi Shalltear untuk bersabar.

Ainz tidak kabur. Bukan hanya itu, dia hanya berdiri di tanah tanpa bergerak. Merasakan tekadnya, Shalltear bertanya:

"Apakah anda memiliki kata-kata terakhir?"

"Mari kita lihat...Karena aku berada sisi yang merugi, karena aku akan berubah menjadi orang lemah karena MP ku habis... Dan karena kamu sudah berpikir demikian, karena tidak menyimpan kekuatanmu, Aku sangat bersyukur, Shalltear. Jika kamu bertarung dengan sikap rahasia, pertarungan tidak akan berjalan sebaik ini."

"...Apa?"

Shalltear meragukan telinganya. Baru saja, dia telah mendengar sesuatu yang benar-benar tidak tepat.

Setelah membuat Shalltear menjadi seperti itu, Ainz berbicara lirih.

"Aspek terpenting dari PVP adalah bagaimana kamu mengirimkan informasi palsu kepada musuhmu. Seperti misalnya, mengganti equipment milikmu untuk meningkatkan pertahanan terhadap holy sambil bersikap seolah-olah itu efektif. Padahal, mengabaikan kelemahanmu, atribut api, menjadi tidak tersentuh. Hanya...prediksiku sedikit meleset. Aku kira kamu akan menggunakan [Analyze Life] dan telah mempersiapkan [False Data: Life] sebelumnya, tapi ternyata itu hal yang sia-sia. Jika kamu mendapatkan kesempatan lain, pastikan kamu benar-benar mengawasi kesehatan musuhmu. Jika tidak, akan ada perbedaan yang besar antara mempersiapkan rencana dan menjalankannya."

Itu bukan kalimat yang dia duga.

Shalltear tidak mengerti apa yang Ainz katakan. Tidak, dia tidak ingin memahaminya.

Dia hanya tidak mau menerima kekalahannya-.

Begitulah yang Shalltear pikirkan, Tidak, bukan itu. Dia merasakan tekad yang kuat. Tidak hanya itu, seperti kehadiran dari seseorang yang telah menggenggam kemenangan.

Langkah Shalltear saat dia mendekati Ainz terasa berat, dikarenakan oleh sesuatu yang membesar di hatinya.

....Mengapa Ainz sama tidak memperjauh jaraknya? Seorang Magic Caster sepertinya tidak akan bisa mengalahkanku dengan jarak segini, ini hanya tipuan!

"Temanku Peroronchino sudah mengatakan banyak hal tentangmu, dulu ketika dia masih mengerjakan modelmu. Sejak pertama kali tiba di dunia ini, aku telah mengingat seluruh data dari semua pelayanku. Tetap saja, jika kita mengesampingkan Pandora's Actor, yang aku buat secara pribadi, diantara seluruh NPC di Nazarick, mungkin kamu adalah yang paling kupahami."

"Tadi, anda bilang anda tidak... tahu tentang skill milikku.."

Ainz tertawa dalam meresponnya.

"Bukankah itu sudah jelas jika itu adalah kebohongan? Aku kira tu akan membuatmu lebih percaya diri. Tapi jika kamu menyimpan Unholy Shield milikmu, maka aku takkan bisa memprediksi hasil dari pertarungan ini."

Meskipun darah mengalir di nadinya, sebagai undead, tidak ada gunanya bagi Shalltear. Shalltear merasa bahwa dara yang sama keluar dari tubuhnya, dibarengi dengan kegelisahan yang semakin membesar.

Itu bukan tipuan.

Perkataannya tadi tidak membawa sedikitpun hal yang salah.

Berdiri di depan Shalltear, alasan bahwa Ainz Ooal Gown tidak mundur adalah karena dia yakin dengan kemenangannya.

"Ahhhh!"

Shalltear membuka mulutnya lebar-lebar dan berteriak. Dia mencurahkan emosi yang bergejolak di dalam tubuhnya menjadi suara.

Shalltear seharusnya menjadi seekor singa sementara Ainz adalah kelinci. Dia seharusnya menjadi mangsanya. -Tidak, bukan itu masalahnya.

Dari awal, ini adalah pertarungan antara singa. Hanya Shalltear yang mengira Ainz adalah kelinci.

Dipenuhi dengan ketakutan pada apa yang akan terjadi, Shalltear menguatkan tekad dalam diri meskipun jika Ainz menahan serangannya yang pertama, dia tidak akan menghentikan serangannya sampai Ainz mati. Dengan niat akan mengakhiri semuanya, disini saat ini, Shalltear menusukkan Spuit Lance.

Selangkah lebih cepat, Ainz merapal mantranya. Di waktu yang sama, menggerakkan tangannya seakan dia ingin merobek jubahnya.

Sebuah suara benturan menggema.

Shalltear meragukan matanya.

Itu tidak mungkin.

Spuit Lance dipentalkan oleh massa putih yang cerah.

Jika itu adalah sebuah mantra, Shalltear akan langsung mempersiapkan diri untuk menerima serangan. Seluruhnya karena berpikir bahwa itu adalah usaha yang sia-sia karena jumlah minim dari MP yang tersisa dari Ainz. Namun, Shalltear, tidak mampu memahami apa yang terjadi di depan matanya, terasa otaknya akan menjadi mati rasa dalam sekejap.

massa putih yang cerah itu bukanlah magic.

-Itu adalah armor.

Sebuah armor putih. Sebuah batu safir besar menempel di dadanya memancarkan sebuah cahaya yang murni dan agung.

Armor tersebut telah melindungi tubuh Ainz dan mementalkan serangan dari Spuit Lance.

Karena perbedaan tingi, Ainz, yang pandangan matanya lebih tinggi, melihat ke bawah kepada Shalltear.

Tidak... dia mungkin benar-benar meremehkan Shalltear.

Meskipun situasinya cukup membuat Shalltear marah, Shalltear saat ini tidak bisa seperti itu. Hal itu karena dia telah mendengarkan sebuah suara yang dingin.

"Dari awal, aku juga berharap ini akan diakhiri dengan pertempuran jarak dekat."

----

Crash. Seseorang menepuk meja. Benturan itu membuat meja tersebut bergoyang tidak karuan.

Pertarungan hingga kini sedang diamati dari ruangan ini.

Meskipun suara meja yang dipukul menggema beberapa kali, ini adalah pertama kalinya dia menyentuh meja itu.

"Tidak mungkin! Itu. adalah.. armor. orang. itu!"

"...Touch Me-sama?"

Tanpa melepaskan matanya dari layar kristal, Albedo menggumamkan nama dari salah satu 41 Supreme Being.

"Benar sekali! Itu. adalah. Armor. Touch. Me-sama!"

Seakan tidak tenang - Tidak, kelihatannya dia memang tidak tenang - sebuah teriakan keluar dari mulut Cocytus.

Armor yang digunakan oleh Ainz milik orang tertentu yang berhasil memiliki kelas World Champion, yang hanya ada sembilan di YGGDRASIL.

World Champion adalah sebuah kelas spesial yang diberikan hanya kepada pemenang dari turnamen bela diri resmi. Sebagai hadiah, pemenangnya diberi sebuah equipment spesial dari administrator.

Touch Me memilih armor putih sebagai hadiahnya. Kekuatan dari armor yang cocok untuk World Champion yang melampaui item kelas divine, bahkan setara dengan senjata guild. Tentu saja, karena itu adalah hadiah untuk pemenang turnamen, hanya World Champion yang bisa memakainya.

"Magic transformasi Warrior - [Perfect Warrior] ... Pastinya, jika kamu bisa menggunakan itu.. kamu akan bisa mengabaikan batasan kelas pada equipment."

Demiurge berkata dengan suara penuh takjub sementara Albedo bergumam.

"Dia sudah memikirkan ini jauh-jauh...."

Albedo memeluk tubuhnya dengan kedua tangan dan gemetar.

Berubah menjadi seorang warrior melalui magic yang memperbolehkan seseorang untuk memakai equipment meskipun terbatas hanya untuk kelas spesial. Tindakan tersebut dibuat oleh Administrator untuk memberikan pemain sebuah kenikmatan lebih dengan bisa memakai equipment yang jelas seperti shuriken, vajra, atau jubah monk. Namun, Tindakan yang mengabaikan batasan kelas ini akhirnya juga termasuk equipment yang diberikan kepada World Champion yang memenangkan turnamen resmi.

"Aku. tak. bisa. percaya. ini.... tidak. kukira. ini. semua. adalah. rencananya...aku. hanya. bisa. memberikan. kekaguman."

Pemenang pertempuran ini masih belum diputuskan. Tapi melihat Ainz, dengan segala akal yang dia miliki, dan cara yang lembut dalam menjalankan rencananya yang menunjukkan pengalamannya dalam bertempur, Guardian Floor yang berkumpul tidak bisa lagi menahan kekaguman mereka.

Sebagai Guardian Floor yang memandang tinggi tuannya dengan tatapan baik gembira dan kagum, mereka mendengar suara dari meja yang dipukul dua kali.

"Itu!"

Sekali lagi, Cocytus lah yang berteriak.


Part 3

Sebuah suara tebasan.

"Kyaaaaaaaa!"

Terperangah karena melihat pemandangan yang tidak mungkin, Shalltear menjerit. Pedang menembus bahunya, membelah tulang dadanya dan berhenti pada jantungnya yang tak bergerak.

Dengan langkah yang terhuyung-huyung, dia mundur. Armor berwarna merah itu sekarang semakin tua merahnya, Shalltear menatap dengan kaget.

Ainz menggenggam sebuah pedang di tangan. Sebuah katana yang besar dan tajam terbungkus petir. Katana itu telah memotong menembus armor Shalltear seperti kertas.

Bahkan diantara Item Kelas Divine, hanya ada beberapa yang bisa dengan mudah memotong dan menembus armor kelas legendaris Shalltear.

Lalu - jawabannya memang hanya ada 'sedikit'.

Memang benar.

Senjata yang digenggam Ainz di tangan merupakan senjata salah satunya-

Bersama dengan darahnya, Shalltear terbatuk sambil menyebut nama senjata tersebut.

"Takemikazuchi Mk 8!"

Sekali lagi, pedang itu terhempas kepadanya, membuat Shalltear mundur dengan jarak yang lebar untuk menghindarinya. Jarak Shalltear yang lebar di luar jarak senjata itu menunjukkan seberapa takutnya dia dengan senjata tersebut.

Tak ada yang bisa menyalahkannya, terutama salah satu dari Guardian Floor dari Great Tomb of Nazarick.

Karena sebuah senjata yang dipakai oleh 'Warrior Takemikazuchi' - salah satu 41 Supreme Begin, telah muncul.

"Seperti yang sudah kukatakan, Shalltear. Tak ada kata kalah bagi [Ainz Ooal Gown]."

Ainz maju selangkah, dan Shalltear mundur dua langkah.

"Baru sadar sekarang, Shalltear. Kamu menghadapi Ainz Ooal Gown, dengan gabungan kekuatan dari seluruh 41 Supreme Begin. Dari awal, kamu tak memiliki peluang untuk menang."

Saat ini - gelombang pertarungan tidak lagi sama dengan sebelumnya.

Sebuah suara yang lirih terdengar, suara milik seorang pria yang telah menyingkirkan situasi yang tidak menguntungkan baginya.

"Shalltear Bloodfallen. Tancapkan baik-baik pada kedua matamu kekuatan dari orang yang kalian semua panggil dan sebut sebagai Penguasa Tertinggi Great Tomb of Nazarick, pemimpin dari Supreme Being."

Itu adalah sebuah sinyal bahwa dia sekarang akan berubah menjadi offensive.

Ainz melangkah maju, mengangkat kedua tangannya ke atas kepala dan mengayunkan katananya.

Ainz bicara lirih.

Dengan penuh kepercayaan diri dan keteguhan yang mutlak.

Seperti berjalan pada es yang tipis, itu adalah pertarungan dimana kesalahan sekecil apapun akan membuat jatuh terjerembab ke dalam danau yang tak berdasar. Ainz saat ini semakin dekat di hati musuhnya.

MP keduanya sudah nol. Dalam HP, Shalltear memiliki keunggulan.

Namun, Ainz, yang sekarang adalah warrior level 100 berkat [Perfect Warrior], melebihi Shalltear tidak hanya kelas warrior murni. Bahkan dalam equipment, Ainz memiliki keunggulan.

Shalltear mengambil langkah mundur dan mempersiapkan diri untuk menyerang dalam waktu bersamaan. Dia berencana untuk menyerang ketika ada celah setelah pedang diturunkan. Dalam kenyataan, Takemikazuchi Mk. 8 termasuk senjata yang besar, dan seperti Spuit Lance, tidak mampu melakukan gerakan yang lincah.

Dibungkus Petir, Takemikazuchi Mk 8 membelah udara dan berhenti tepat di pinggir dada Shalltear, yang berdiri siap untuk menyerang mau. Selanjutnya adalah sebuah tusukan dengan kecepatan dewa.

Tak perduli seberapa kuat fisikmu, sulit untuk menghentikan sebuah ayunan yang sudah berada di bawah dengan kekuatan penuh kembali ke udara. Apalagi jika senjata itu termasuk ukuran yang perlu dipertimbangkan.

Alasan mengapa hal seperti itu mungkin karena Ainz tidak mengayunkan dengan kekuatan penuh. Dengan kata lain, itu adalah sebuah serangan dengan asumsi tidak akan mengenai targetnya, sengaja membuat titik lemah.

Merencanakan seranganmu sambil berpikir beberapa langkah ke depan, itu adalah taktik yang sangat jelas bagi seorang warrior.

Yang Ainz lakukan hanyalah mempraktekkan hal itu.

Namun, dia tak pernah terpikirkan hal itu jika dia tidak pernah merasakan sendiri pertarungan yang dia lakukan di E-Rantel. Dia hanya akan mengayunkan tanpa tujuan yang jelas dan menemui serangan balik Shalltear.

Tidak diragukan bagi Ainz, meskipun menjadi seorang warrior level 100, akan berakhir di dalam situasi dimana dia tidak akan mampu mengeluarkan kekuatan penuhnya dan membuat kesempatan. Mirip dengan mengendarai mobil. Meskipun seseorang memiliki Surat Izin Mengemudi dan tahu bagaimana mengendarai, perbedaan antara pengendara pemula dan yang sudah berpengalaman akan sangat terlihat jelas ketika menghadapi situasi yang sulit.

Ini -  adalah pengalaman.

Yang dipercaya Ainz sebagai 'senjata' terhebat pada pertempuran melawan Shalltear.

Menghindarinya akan sulit.

Shalltear dengan tenang menilai hal itu sambil menatap tusukan yang luar biasa cepat menuju dia. Namun, sebuah tusukan adalah teknik yang beresiko. Mengamati kelemahannya akan memberi kesempatan yang besar bagi Shalltear.

Kalau begitu...Aku tidak punya pilihan.

Dengan tekad mengorbankan sebuah lengan. Shalltear mengarahkan tangan kirinya ke jalur lintasan dari tusukan.

Dalam sekejap katana tersebut menusuknya; Shalltear sedikit menggerakkan tangan kirinya dan mengarahkan tenaga tusukan sedikit ke samping.

Menembus telapak tangan kiri daripada dadanya, katana itu tidak kehilangan momentumnya dan membelah baik daging dan tulangnya, merobek bagian dalam tangan kirinya.

Bahkan untuk seorang undead, rasanya ketika tubuh terkoyak membuat merinding. Namun, sudut bibir Shalltear pun naik.

Itu adalah sebuah senyum -  bukan sebuah ekspresi yang seharusnya dimiliki oleh seseorang yang menerima luka seperti itu. Tapi itu juga bukan sebuah tipuan. Ini adalah apa yang dituju oleh Shalltear.

Shalltear melenturkan lengan kirinya dengan katana yang masih menancap di dalam. Ototnya menggenggam pedang dan menghentikan gerakannya.

Sudah umum jika sebuah tusukan seringkali akan luput dari targetnya atau menjadi tertancap karena otot. Itulah kenapa tusukan itu termasuk sulit digunakan, dengan kata lain, memiliki kelemahan. Karena Shalltear tahu ini, dia mengorbankan lengan kirinya untuk membuka sebuah celah.

Itu adalah teknik yang menakjubkan dimana jendeal timing antara pedang yang masuk ke lengannya dan merobek daging kurang dari satu detik.

"Sebuah celah!"

Dengan pedang yang masih tertancap, Ainz tidak memiliki cara untuk menghindari Spuit Lance.

Shalltear, yang akan mengayunkan Spuit Lance miliknya dengan kecepatan cahaya, melihat sebuah pemandangan yang mengagetkan.

Ainz melempar kata kelas divine miliknya, salah satu yang terkuat dari kelasnya, dan menarik salah satu batang kayu yang dia tempelkan di pinggang.

"Hah! Bodoh sekali! Anda mau menghadang Spuit Lance dengan benda seperti itu?! Dan anda bahkan membuat senjata anda. Pilihan yang salah!"

Tidak terlalu bergantung pada item kelas divine Takemikazuchi Mk. 8 adalah bijak, tapi tidak mungkin menang tanpanya.

Dengan sebuah cibiran, Shalltear, bertekad untuk memberikan luka sebanyak yang dia terima di lengan kiri, menusukkan Spuit Lance miliknya dengan seluruh kekuatan dan dipentalkan oleh suara logam.

"Eh?"

Shalltear mengeluarkan suara terperangah.

Batang kayu di tangan Ainz tidak lagi ada disana. Berganti dengan dua Kodachi. Senjata yang memiliki kilauan brilian seperti matahari, cahaya tenang seperti bulan.

Asap keluar dari tangan Ainz yang menggenggam senjata, seakan marah disentuh oleh seorang undead.

"Dimana celahnya, Shalltear?"

"Ehh?! Apa? Ba. Bagaimana mungkin?"

Beban dari senjata yang seharusnya ada di lengan kiri Shalltear sudah tidak ada lagi. Segera Ainz menarik senjata baru, yang tadi menghilang, seakan tidak bisa berada di dunia yang sama. Shalltear samar-samar mengerti: Senjata itu telah kembali ke tempat asalnya.

"Tak tahu cara menipu, bahkan jika aku menggenggam sebuah pedang di masing-masing tangan, akan lebih baik bagiku untuk menggunakan satu saja... ya kan?"

Seakan mengingat kembali, Ainz bergumam kepada seseorang yang sudah tidak ada.

"Mungkin, bagaimana dengan aku yang sekarang?"

Bahkan tanpa kesempatan untuk berpikir arti kalimat itu, Kodachi dengan rembesan cahaya bulan dengan sekejap mengarah ke Shalltear.

Meskipun terlihat seakan menuju lehernya, jalur lintasan senjata itu berubah dan menuju bahunya. Serangan seperti itu hampir saja tidak bisa dipentalkan oleh Spuit Lance.

Membidik hal ini, Ainz berjalan ke dalam ruang di celah Shalltear. Semakin besar senjatanya, semakin lemah mereka dalam pertarungan jarak dekat. Memahami ini sepenunya - itu adalah gerakan dari seorang veteran.

Kodachi matahari di tangan lain - menembus pertahanan Spuit Lance dan sedikit menancap ke dalam tubuh Shalltear.

"AAHHHHHH!!"

Sebuah suara dipenuhi dengan rasa perih meledak dari ruang antara bibirnya.

Luka dari pedang sesungguhnya bukan apa-apa. Namun, luka karena atribut holy dari pedang yang merembes ke dalam tubuh seperti sebuah racun. Inilah yang dia tidak bisa tahan.

Dengan pedang masih menancap, Ainz menggerakkan pedang itu ke samping untuk mencoba melebarkan lukanya.

"Minggir!"

Karena itu bukanlah jarak dimana Shalltear bisa dengan bebas mengayunkan Spuit Lance, dia melemparkan sebuah tendangan. Meskipun Ainz menghadangnya dengan Kodachi, dia tidak bisa menyerap tenaga benturannya dengan sempurna dan terlempar mundur. Lalu Shalltear melihatnya; figur Ainz yang melepaskan Kodachi dan menggenggam batan kayu kecil.

Dan disaat batang tersebut patah, menutupi tangan Ainz dan memperlihatkan sarung tangan besar yang mematikan. Cukup besar hingga menyentuh tanah meskipun berdiri -

"Haah!"

-Membelah udara saat Ainz melangkah maju dan merangsek dengan sebuah teriakan.

Meskipun Shalltear tidak berniat menghadang dengan tombak miliknya, benturan yang menakutkan menjalar melalui senjata itu dan sampai ke tubuh Shalltear.

"Gueh!"

Benturan ketika terkena serudukan tinju raksasa memaksa Shalltear mengeluarkan suara yang memalukan dan membuat dia terbang. Luka akibat shockwave memang tidak berat, dan serangan fisiknya sendiri dihadang oleh Spuit Lance. Namun, efek memukul ke belakang dari shockwave itu menembus pertahanan magic dari equipment Shalltear.

Meskipun keseimbangannya cepat kembali dengan bantuan item magic, kepalanya berwarna merah karena marah.

"Ka, Kamu, beraninya kamu membuatku mengeluarkan suara yang memalukan itu! Sebelum aku merobekmu menjadi berkeping-keping aku akan memaksamu berbuat sama... sama?"

Saat Shalltear berputar, pandangannya bertemu dengan cahaya besar dan dia merasakan kemarahannya langsung hilang.

Pada tangan Ainz adalah sebuah busur yang dilingkupi dengan cahaya matahari. Kepala anak panahnya yang memberikan kemegahan yang cemerlang, tidak usah dikatakan, mengarah langsung ke Shalltear.

"Ti..Tidak mungkin. Tidak, itu bohong... Itu adalah, Hou Yi?"

Sebuah cerita diturun temurunkan di tanah jauh yang disebut China, sebuah senjata yang bernama sama dengan pahlawan yang diceritakan bisa menembak matahari. Itu adalah senjata utama dari pencipta Shalltear.
Author Note : Sebuah legenda ketika zaman Kaisar Yo. Kemunculan tiba-tiba dari sepuluh matahari di langit membakar tanah dan ladang. Dikatakan seorang pria bernama Hou Yi menembak jatuh sembilan matahari itu.

Hampir seluruh Guardian sudah memperhitungkan serangan jarak jauh, jadi sebuah anak panah tidak ada yang ditakutkan. Namun, anak panah itu tidak memberikan kerusakan fisik; namaun, itu adalah kerusakan elemental yang besar. Dengan kata lain, anak panah itu dianggap magic dan tidak bisa dibendung.

Sialan! Aku tidak punya MP lagi! Aku bisa membendungnya jika itu adalah magic! Bahkan sebuah skill juga tidak apa! Aku seharusnya menyimpan sedikit MP jika tahu.. Tidak, ini tidak benar!

Fakta bahwa dia tidak memiliki MP lagi, atau skill apapun yang tersisa, semuanya adalah karena hasil dari pertarungan sebelumnya. Dengan kata lain, semuanya adalah hasil dari skema dari pria yang dikenal dengan Ainz Ooal Gown.

Dengan mata yang masih merah, Shalltear mengeluarkan sebuah teriakan marah. Itu adalah penampilan dari seseorang yang mengerti apa yang akan datang selanjutnya, usaha dari seseorang yang tidak ingin mengakui kekalahan.

"Dasar brengsek! Senjata Peroronchino-sama! Semuanya adalah bagian dari rencanamu! Bagaimana kamu bisa mempersiapkan senjata itu?! Dimana kamu menyembunyikannya! Apakah itu adalah skill yang dipicu oleh patahnya batang kayu!?"

Trik macam apa itu?

Seakan tindakan Ainz diuntungkan oleh dunia itu sendiri.

"Seorang magician tidak akan memberitahu triknya!"

"Bagaimana itu bisa disebut trik magic! Bagaimana kamu bisa mengeluarkan senjata Peroronchino-sama begitu saja!"

"...Memang, kamu benar. Ini mungkin tidak sopan baginya. Namun, jawabannya adalah item cast. Lebih tepat, apakah kamu akhirnya mengerti? Bahwa semuanya adalah bagian dari rencanaku?"

Bola Cahaya, dengan pengisian penuh, meluncur ke arah Shalltear. Meskipun tahu percuma, Shalltear menggenggam tombaknya secara diagonal untuk menghadangnya dan sebuah ledakan cahaya menutupi sekeliling.

Dengan seluruh tubuh yang terbakar di dalam cahaya suci, Shalltear menilai bahaya untuk mundur. Jika keadaan seperti ini, dia akan dikalahkan tanpa bisa melakukan apapun.

Bahkan jika armor putih itu kuat, dia tidak akan tidak terkena efek dari Spuit Lance. Maka Shalltear harus melakukan pertahanan dan menyerang sambil mengandalkan efek menghisap kehidupan senjatanya.

"Oooohhhhh!"

Tidak pas dengan penampilan luarnya, teriakan pertempuran yang bersemangat meledak dari tenggorokan Shalltear. Suara dingin yang mengambang meresponnya.

"Peluang menang 7 banding 3...sekitar itu kelihatannya. Tidak perlu lagi dikatakan pihak mana yang delapan kurasa?"

Ainz pelan-pelan mengangkat sebuah kapak yang besar sekali. Mengeluarkan cahaya ungu, tekanan dari kapak itu sendiri ditempa dari kristal merah yang cukup membuat orang yang akan memperpendek jarak menjadi sulit. Meskipun begitu, Shalltear maju menyerang.

Hal yang bisa dia lakukan sekarang adalah maju ke depan.

"Tekad yang bagus. Ini adalah fase final. Shalltear!"

--------

"....Ini. adalah. kemenangan. Ainz-sama."

Seakan terkunci dalam kekaguman, Cocytus bergumam sambil menganggukkan kepalanya. Sedangkan Demiurge, yang tidak memiliki bakat sebagai seorang warrior, melemparkan tatapan ragu. Tentu saja, Demiurge juga, percaya bahwa tuannya akan muncul dalam kemenangan. Tapi kebutuhannya untuk menganalisa situasi secara logis menyebabkan dia bertanya.

"Mengapa begitu? Bagiku, kelihatannya masih akan sedikit lama sebelum pemenang diputuskan."

"Shalltear.sudah.memutuskan.untuk.melupakan.bertahan.dan.fokus.pada.menyerang.itu.bukan.sebuah.keputusan.yang.buruk.aku.juga.akan.melakukan.hal.yang.serupa.di.dalam.situasi.itu."

"Benar sekali. Ainz-sama telah melakukan pergantian senjata terus menerus - kamu takkan bisa tahu senjata lain apa lagi yang dia miliki. Di dalam situasi seperti itu diana informasi tidak cukup, memberikan jarak yang lebar bisa berakibat kesalahan yang menyakitkan. Bukankah melihat busur itu membuat Shalltear lebih yakin hal ini? Jadi Shalltear tidak punya pilihan lain selain melawan pada jarak dimana Spuit Lance bisa meraihnya. Dan dia bahkan tidak bisa menggunakan magic atau skill lagi, yang mana semakin yakin pada keputusannya ke depan... Mungkin begitulah dia menilai situasi itu?"

"Aha, jadi begitu. Supreme Being tak pernah memamerkan senjata mereka di depan kita. Jadi kamu mungkin satu-satunya yang benar-benar memahami senjata mereka, Cocytus."

Cocytus mengangkat bahunya.

"Aku.juga.hanya.tahu.nama-nama.mereka.dan.efeknya.tak.pernah.kusaksikan.langsung."

"Hmmm. Aku mengerti paling banyak dari itu. Dengan kata lain, sekarang Shalltear telah mengabaikan pertahanannya, Ainz-sama akan mengeluarkan kapak dan-"

"menghisap.darahnya.dan.memakan.dagingnya."

"Terima kasih Cocytus. kelihatannya 'Menghisap Darah dan memakan daging' memiliki keseimbangan yang buruk dan mengurangi akurasi. Namun, seharusnya itu bukan masalah terhadap Shalltear yang memutuskan untuk mengabaikan pertahanannya."

"Tidak.kukira.semua.jalannya.pertarungan.sudah.diprediksi.oleh.Ainz-sama...Meskipun.sebelumnya.aku.sudah.berkata.begini.aku.hanya.bisa.memberikan.pujianku."

"Jika itu adalah Ainz-sama, maka sangat mungkin baginya untuk membaca seluruhnya dari sudut pandang seorang dewa. Bukankah kamu setuju pada pandangannya memang layak sebagai pemimpin Supreme Being?..Sejujurya, Ainz-sama mungkin akan mengatur Nazarick dengan baik-baik saja meskipun kita tidak ada. Sedikit mengecewakan."

"...Aku.memberikan.pujianku.pada.kemampuannya.untuk.strategi.sebagai.seorang.magic.caster...tidak.sebagai.seseorang.yang.bertarung."

"Namun...apakah tidak benar jika pemenang masih belum bisa diputuskan? Sebuah pertarungan HP tidak akan menguntungkan Ainz-sama."

Pada kalimat itu, Albedo tersenyum. Itu adalah sebuah senyum yang yakin akan kemenangan Ainz.

"Tidak apa."

"Mengapa begitu?"

"Dia adalah seseorang yang memakai nama Ainz Ooal Gown, yang memerintah kita semua, yang agung dan tertinggi. Kemenangan sudah dideklarasikan dengan namanya."

----

Setiap kali keduanya bertukar serangan, kesehatan mereka terkikis.

Meskipun Shalltear menyembuhkan diri dengan serangannya, serangan Ainz melahap cukup banyak damage yang membuat healing menjadi tidak ada gunanya. Di waktu yang sama, kesehatan Ainz juga terkikis oleh Spuit Lance. Pertempuran berubah menjadi lebih mirip balapan ayam.

Armor yang terancam hancur dengan setiap serangan dari kapak. Perasaan tulang yang retak dan daging yang hancur. Bertemu dengan tusukan dari tombak, tombak itu dibarengi dengan property serangan dari sebuah skill. Mengeluarkan sensasi yang meremukkan tulang.

Perasaan ini... berdasarkan sisa kesehatan, aku mungkin akan menang...?

Shalltear lega bahwa dia masih memiliki jalan menggapai kemenangan. Jika mereka melanjutkan pertukaran serangan ini, dia akan lebih dekat ke jalan kemenangan.

Pertarungan jarak dekat yang mengabaikan pertahanan dan fokus seluruhnya pada serangan, dimana hal lain yang bisa Shalltear pikirkan adalah pihak mana yang akan jatuh terlebih dahulu. Sejak pertama kali pertikaian itu terjadi, Shalltear sudah gugup. Sebuah titik harapan yang samar kini muncul dari wajahnya.

Itu karena, di sudut otaknya, dia dengan tenang memperhitungkan kesehatan mereka yang hilang. Wajahnya yang gembira sehebat kecemasan sebelumnya.

"Ahahahaha!"

Meskipun sedang bertukar serangan, tawa yang keras bisa terdengar.

"Ahahaha! Ainz-sama! Kelihatannya anda yang akan pertama kehabisan HP?! Perbedaan HP dasar kita membuktikan hal yang krusial disini."

"...Apakah kamu benar-benar mempercayai hal itu?"

Konspirator yang memberi Shalltear pertarungan yang mengerikan hingga saat ini, suara yang telah mengendalikan semuanya di dalam telapak tangannya, Shalltear menyadari kebodohannya sendiri.

Tidak mungkin.

Lalu bagaimana dia akan membalik roda pertempuran ini?

Shalltear tidak mengerti. Jawabannya datang dari bentuk suara pihak ketiga.

[Waktunya habis -- Momonga Onii-chan!]
Sebuah suara wanita

Suara yang tak pernah dia dengar sebelumnya, suara wanita yang kekanak-kanakan mengingatkan Shalltear kepada seorang wanita dari ingatannya. Orang itu memang akan kedengaran bersuara seperti itu jika dia menyamarkan suaranya, Shalltear pikir.

"Shalltear, waktu apa kira-kira yang dia bicarakan?"

Tidak sadar akan arti dari pertanyaan ini, saat mereka terus melanjutkan pertempuran jarak dekat dengan saling menusuk tubuh mereka dengan senjata, Shalltear melayangkan tampang penasaran di wajahnya.

"Jika semuanya sampai sekarang telah berdasarkan rencanaku, maka kali ini kita habis-habisan seperti ini juga berdasarkan prediksiku. Kalau begitu waktu sudah selesai seperti yang dikatakan oleh jam ini, apa arti yang dia miliki bagimu dan aku?"

Kapak di tangan Ainz menghilang dan digantikan dengan perisai yang putih murni. Perisai itu sangat cocok dengan armor yang dia pakai memberikan tampilan Paladin yang putih murni.

Perisai itu membuat suara solid ketika mementalkan serangan Spuit Lance.

Mengapa dia sekarang berganti bertahan? Meskipun itu mungkin saja karena suara wanita sebelumnya, Shalltear tidak mengerti alasan dibalik itu. Ainz, yang benar-benar berubah menjadi bertahan, pantulan logam yang dibawa olehnya membuat suara yang merinding.

"Tidak perlu lagi dijawab. Waktu akhir telah datang. Waktunya untuk menyelesaikan pertarungan ini."

Mengapa? Shalltear masih memiliki 25% sisa kesehatannya. Lalu bagaimana dia akan mengakhiri pertarungan ini? Meskipun Shalltear ingin meneriakkan kalimat itu, mereka tidak akan keluar.

"...Sebuah serangan dari Magic Super tidak akan mengalahkan dari 100%. Maka jawabannya adalah membawa kesehatanmu hingga hal itu bisa dilakukan? Kelihatannya HP milikmu sudah turut drastis dari pertarungan jarak dekat kita."

"....Ah, Ah, Ahhhhhh!"

Dengan ketenangan yang sudah hilang, Shalltear menghujani Ainz dengan serangan; Seakan kekalahannya sudah jelas bisa dicegah dengan menghentikan Ainz bicara.

Suara solid terdengar tidak berhenti dari rentetan serangan Shalltear. Seperti hujan deras.

Namun, Ainz dengan baik menghadang seluruh serangan Shalltear. Dengan ketenangan dan rasa percaya diri untuk tidak membiarkan setetespun menyentuhnya, bahkan meskipun itu adalah air terju, dia akan terus bicara.

"...Dalam pertarungan kekuatan yang sebenarnya, aku memang kalah...tapi sebagai ganti, aku lebih tinggi dalam hal pertahanan magic. Kalau begitu - apakah kamu mengerti apa yang ingin aku katakan? Ini dia, Shalltear. Kamu hanya bisa berdoa bahwa perhitunganku salah."

"Kuuuuuu!!"

Merasakan kekalahan yang semakin mendekat, Shalltear memperbaharui serangannya. Melihat wajahnya yang berubah hebat, namun masih tidak enak dilihat, Ainz mulai pertaruhannya.

Meskipun dia sesumbar dengan percaya diri kepada Shalltear, sebenarnya, semuanya masih belum yakin.
Magic Super memiliki kesamaan dengna skill dan tidak mengkonsumsi MP. Namun, masih diperhitungkan sebagai magic dan oleh karena itu tidak bisa digunakan ketika menjadi seorang warrior.

Jika dia melepaskan magic perubahan warrior miliknya, dia tidak akan lagi bisa memakai perisai dan armornya lalu mereka akan rontoh dari tubuhnya. Tidak ada peluang dia bisa menghadang serangan Shalltear dalam sesaat itu. Jika Shalltear menggunakan seluruh skill miliknya dalam serangan itu, ada kemungkinan bahwa Magic Super tidak akan cukup untuk mengakhiri pertarungan.

Itu artinya adalah kekalahan Ainz.

Namun, tidak ada cara lain untuk menang.

Ainz mengestimasi waktunya. Pertama dia akan melepaskan magicnya, lalu menggunakan item cast yang dia pegang di tangan.

Ainz tertawa kcil.

Bahkan dalam PVP YGGDRASIL, dia tak pernah menggunakan item cast sebanyak ini. Sebuah game dan realitas - ini adalah perbedaan antara membuat kembali dan sebuah bertarungan yang harus dimenangkan dengan segala cara.

Sekarang!

Dia menahan serangan kuat Shalltear dengan perisai temannya dan mengumpulkan kekuatan di matanya.

Dia melepaskan perubahan warrior dan meluncurkan supermagic.

Seperti sebelumnya, sebuah lingkaran magic muncul di sekeliling. Saat dia akan menghancurkan item cash berbentuk jam pasir di tangannya-

-dalam sekejap, dia ragu.

Itu lahir dari perasaan bersalah membunuh NPC yang membawa pemikiran temannya.

Sebuah kesalahan fatal.

Shalltear tidak melewatkan celah itu. Setelah menemukan item di tangan Ainz, Shalltear menyalurkan skill miliknya kepada Spuit Lance dengan niat menghancurkan lengan Ainz.

Ainz, yang telah melepaskan transformasi warriornya, tidak mungkin lagi menghindari serangan itu-.

-gemetar.

Saat Spuit Lance akan menghancurkan item tersebut, Shalltear merasakan kehadiran musuh yang merangkak di tulang belakangnya.

Tidak tahu bagaimana bisa muncul, Shalltear merasakan kehadiran tepat di sampingnya. Penuh dengan niat membunuh sehingga dia tidak bisa melewatkannya. Ini adalah sesuatu yang benar-benar tidak bisa diabaikan.

Shalltear cepat-cepat menolehkan matanya dari item dan menoleh ke arah seseorang yang bertanggung jawab.
Dan-- dia tidak melihat apapun.

Gurun dengan diameter 200 meter yang dibuat oleh Magic Ainz, tidak ada yang selamat kecuali Ainz dan Shalltear. Rasa permusuhan yang dia rasakan sebelumnya sudah hilang tanpa jejak. Seakan itu adalah mimpi di siang bolong-

"Ah....!"

Meskipun Shalltear, yang sudah kembali sadar, berteriak, sudah terlambat.

Jam Pasir sudah hancur dan mengurangi waktu pengaktifan mantra menjadi nol.

"[Heaven's Downfall]"

Di waktu yang sama dengan suara Ainz, semuanya dibungkus dengan cahaya yang dibentuk dari ruang sempit di antara mereka.

Di dalam warna putih yang panas, Shalltear merasakan tubuhnya rontok.

Tangannya berubah menjadi arang dan hancur berkeping-keping. Di dalam dunia yang putih itu, Spuit Lance pelan-pelan jatuh ke tempat yang seharusnya lantai. Wajahnya mengering dengan panas yang mengamuk dan matanya sekarang hanya bisa melihat putih.

Tenggorokannya juga, mengering dan tidak, entah mengering atau belum selesai terbakar - sulit untuk bicara, namaun kalimat itu sendiri, Shalltear harus mengucapkannya bagaimanapun juga. Mengumpulkan seluruh yang tersisa dari hidupnya, dia berbicara.

"......Ahhhh, hidup Ainz Goal Gown sama. Anda memang wujud yang paling tinggi dan benar-benar terkuat di seluruh Nazarick."

Kepada pemimpin terkuat dari 41 Supreme Being, Shalltear mengekspresikan rasa hormatnya. Seakan gelombang panas telah membakar belenggunya, sementara tubuhnya tidak bisa lagi bergerak, hatinya terasa ringan.

Di Waktu yang sama, dalam kesadaran yang semakin kabur, Shalltear mengingat penampilan dari figur yang seharusnya tidak ada disana. Itu adalah dia yang telah memotong jalan terang menembus kegelapan untuk memperoleh hasil ini.

Biasanya, undead kebal terhadap seluruh efek mental. Namun, ada metode yang memiliki kekuatan yang sama, meskipun tidak termasuk efek mental. Orang itu menggunakan metode seperti itu.

Shalltear cuma tersenyum saat dia bilang:

".....Bocah."

Dan dengan ekspresi puas, Shalltear benar-benar lenyap ke dalam dunia putih.

----

Sambil melepaskan skill 'Sky Eye' yang telah dia pertahankan hingga sekarang, bibir pink yang cantik dan cemberut kembali ke bentuk asal. Aura mengeluarkan tampang tidak senang saat dia menumpuk ejekan kepada orang yang sudah tidak ada disana.

"Dasar bodoh, Seorang undead tidak seharusnya terkena pengendalian pikiran. Benar-benar, bodoh sekali."

"Ada apa, Onee-chan?"

"Hm? Bukan apa-apa."

Mare melihat ke arah dimana Aura menatap, tapi yang bisa dia lihat di dalam hutan itu hanyalah pepohonan. Namun, dia bisa menebak dari arah tatapannya.

Aura kelihatannya mengawasi pertarungan antara tuan mereka dan Shalltear.

Skill kakaknya adalah kelas ranger yang membuat dia bisa mengawasi apapun di dalam jarak dua kilometer di sekeliling. Itulah kenapa dia, bersama dengan Eyeball Corpse, diberikan tugas untuk berjaga.

"J..Jadi, apakah pertarungannya sudah selesai?"

"Yeah. Kemenangan penuh Ainz-sama."

"Te..Tentu saja."

Bahkan Guardian terkuat dari Nazarick tidak bisa mengalahkannya. Mare membayangkan figur Ainz dan berpikir itu sudah jelas. Tidak mungkin yang memimpin para Supreme Being bisa dikalahkan.

"Kalau begitu Onee-chan, uh, um, kapan kita akan mengumpulkan item-item yang Shalltear pakai?"

Aura mengingat pemandangan tepat sebelum dia melepaskan skill miliknya.

"Kurasa Ainz-sama sudah melakukannya. Mari kita mundur seperti diperintahkan."

"O, Okay."

Mengetahui kakaknya berada dalam mood yang buruk, Mare setuju tanpa berkata apapun.

Yang bisa disebut sebagai 'teman terbaik' Aura telah dikendalikan otaknya. Dia lalu mengarahkan pedangnya kepada tuan mereka, tujuan dari rasa hormat dan loyalitas mereka. Meskipun jelas dia harus mati, Aura menjadi sedikit marah-marah.

Part 4

Di dalam ruang takhta, Ainz membuka kembali daftarnya dan, seperti yang diduga, hanya menemukan sebuah ruang kosong dimana biasanya ada nama Shalltear. Dengan ini, kematian Shalltear sudah pasti dan fase pertama dari rencana sudah berakhir.

Luka memenuhi hatinya. Meskipun tidak ada cara lain, memastikan seperti ini membuat dia menyadari sepenuhnya apa yang telah dia lakukan dan dia diliputi oleh rasa bersalah.

Ainz meminta maaf kepada Shalltear di dalam hatinya. Menelan air liurnya yang memang tidak ada kembali, Ainz menatap Guardian Floor yang berkumpul disana.

"Sekarang aku akan lakukan penghidupan kembali Shalltear. Albedo akan melihat nama Shalltear. Jika saja, seperti terakhir kali, dia masih di bawah efek pengendalian pikiran..."

"Ainz-sama, meskipun ini mungkin kurang ajar, di saat itu, kami yang akan menghadapinya."

Pada ucapan Demiurge, Cocytus dan Aura mengungkapkan persetujuan mereka dan bahkan Mare juga menguatkannya secara pasif. Hanya Albedo yang diam melihat situasinya.

"Demiurge..."

Saat Ainz bergumam, Demiurge, tidak seperti dirinya yang biasanya, menunjukkan maksudnya dengan suara yang membawa emosi kuat.

"Ainz-sama, sebagai Supreme Being, kalimat adalah yang paling mulia dan kami sangat paham bahwa kami harus mencurahkan seluruh apa yang kami miliki untuk mengikuti keinginan anda. Namun, membiarkan bahaya lebih jauh mendekat anda akan menjadi rasa malu terbesar kami sebagai bawahan anda."

Mata Demiurge sedikit bergerak dari Ainz kepada Albedo.

"Jika Shalltear memberontak sekali lagi, kami para guardian akan menghancurkannya. Tolong serahkan ini pada kami."

Memahami maksud baik mereka, Ainz tidak berniat keras kepala terus.

"Aku mengerti. Para Guardian, jika memang saat itu datang, aku akan serahkan pada kalian."

Mereka membungkukkan kepala bersama-sama.

Di waktu yang sama, Ainz merasa malu.

Tuan yang menyedihkan.

Pada akhirnya, dia membuka kemungkinan bagi 'Anak-anaknya' saling bertarung.

Dari awal, penyebabnya adalah ketidakmampuannya. Dia memang pantas disalahkan untuk semuanya.

Saat Ainz akan menghela nafas berat, dia melihat ekspresi lembut Albedo saat dia berdiri diam dan Ainz berhenti.

"Ainz-sama, tidak apa jika anda hanya tetap disini. Jika seluruh Supreme Being menghilang, maka kami tidak lagi memiliki panutan untuk setia. Dan meskipun kami tahu kami tidak dibuang, masih tetap keseptian jika semuanya pergi."

"...Memang benar.Jika tak ada yang berada disini maka akan sangat kesepian."

Ainz tidak sengaja menolehkan matanya kepada simbol 40 bendera yang menggantung di seluruh ruangan takhta.

"...Ya, kamu benar... dulu di aula harta... itu adalah hal yang bodoh."

Ainz mengeluarkan suara lirih menegaskan tekadnya dan menatap para Guardian.

"Guardian. Lindungi aku. Persiapkan diri kalian."

Saat mereka merespon dengan kuat, Ainz menggenggam tongkat Ainz Ooal Gown yang mengambang di sampingnya dan mengarahkannya ke sudut ruang harta.

Disana, ada gunung yang terdiri kepingan emas, lebih dari cukup untuk membangkitkan Shalltear.

Biasanya, membutuhkan keyboard untuk mengoperasikannya. Sekarang tidak perlu hal semacam itu.

Gunung Emas itu mulai kehilangan bentuk dan pelan-pelan berubah dari bentuk solid menjadi bentuk cairan.

Saat Guardian Floor melihat dengan mata yang gugup, emas yang mencair mengalir dan berkumpul menjadi sebuah kolam. Emas yang beratnya sepuluh ribu ton itu menjadi padat dan berubah menjadi bentuk kecil seseorang. Akhirnya mengambil bentuk boneka emas dan sinar perlahan-lahan mereda.

Segera, cahaya yang hilang sama sekali, meninggalkan sebuah kuli seputih lilin dan rambut perak panjang. Berganti, tidak diragukan lagi, figur Shalltear Bloodfallen.
"Albedo!"

Tanpa melepaskan pandangan dari Shalltear, Ainz meneriakkan nama Albedo dengan keras.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kelihatannya pengendalian pikiran telah hilang."

"Begitukah..."

Hati Ainz disapu oleh perasaan lega yang kuat. Dia bisa merasakan otaknya kembali tenang. Dia meletakkan tangannya ke kota item dan mengeluarkan mantel hitam, lalu mendekati tubuh Shalltear.

Mata Shalltear tertutup dan dadanya tidak bergerak. Meskipun tubuhnya terbaring di lantai dan seperti mayat, undead adalah mayat berjalan, tak ada yang salah dengan kenyataan ini.

Bagian anehnya adalah-

Bagian yang dipastikan tadi adalah dada yang sangat rata kelihatannya milik seorang bocah laki-laki daripada seorang gadis. Saat itu, mata Ainz kehilangan tempat tujuannya dan berusaha mengalihkan pandangannya.

Setelah dibangkitkan, Shalltear tidak mengenakan pakaian apapun dan dia tidak tahu melihat kemana. Dalam kepanikannya, sebuah pemikiran bahwa dia bisa melihat tempat lainnya tidak pernah terpikirkan.

Karena pandangannya benar-benar meningkat dari saat ketika menjadi manusia, Ainz bisa melihat semuanya dalam detil yang jelas. Karena Shalltear rebahan dengan kaki menjulur, sedikit ruang diantara kakinya-

-Ainz cepat-cepat melempar manttel hitam di tangannya.

Mantel itu terbuka di udara dan dengan tepat mendarat pada Shalltear, menutupi tubuhnya.

Aku tidak mengira ini sangat disayangkan! Aku seorang undead jadi nafsu sex tidak punya! Yah, hampir tidak ada. Aku hanya sedikit sebuah rasa penasaran karena pakaiannya tidak muncul bersama dengannya. Kamu tak bisa melepaskan seluruh pakaian mereka di YGGDRASIL. Seperti yang kubilang, ya kan, bukan sepertinya aku penasaran jika dia memiliki rambut di bawah sana!

Tidak tahu kepada siapa dia membuat alasan seperti itu, pemikiran Ainz menjadi kacau ketika berjalan ke Shalltear. Kepalanya menjadi panas, yang mungkin atau tidak adalah alasan langkahnya sedikit pelan. Dia juga mengabaikan suara wanita di belakangnya yang berkata:
"Jika anda tertarik anda hanya cukup katakan saja. Saya selalu siap."

Saat Ainz berdiri di depan Shalltear, merasakan kehadiran Ainz, Shalltear membuka mata merahnya. Seperti orang yang tidurnya kelewatan, tatapannya berkeliling dan berhenti kepada Ainz.

"Ainz-sama?"

Suara yang bingung, masih separuh bangun. Tapi di dalamnya, seseorang bisa merasakan dengan jelas kehadiran rasa loyalitas. Meskipun sudah dipastikan baik oleh Albedo dan seluruh sitem administrasi Nazarick, Ainz merasakannya dengan tubuhnya. Dengan gembira, Ainz berlutut dan membawa Shalltear, yang sedang terbaring di tanah, dalam pelukannya.

"Ueeehhhhh?"

Itu adalah tubuh ramping yang tidak cocok dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa.

Sambil menunjukkan ekspresi bingung tidak tahu apa yang terjadi, Shalltear mengeluarkan suara aneh. Tidak menggubris, Ainz memelukanya bahkan lebih erat.

"Syukurlah.. Tidak, maafkan aku. Semuanya adalah kesalahanku."

"Ya? Itu tidak benar, Saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi bagaimana bisa Ainz-sama melakukan kesalahan?!"

Lengan dingin Shalltear merangkul punggung Ainz dan semakin mendekatkannya. Meskipun cara tangannya meraba sedikit menjijikkan, Ainz hanya membiarkan bahwa Shalltear mungkin ingin memastikan indra perabanya setelah meninggal baru saja.

"Ahh, pertama kaliku disini..."

Dia mendengar sesuatu di antara baris itu, tapi mengabaikannya.

Namun, dengan suara monoton, Albedo mengangkat protes.

".....Ainz-sama. Shalltear mungkin lelah, jadi mungkin anda seharusnya berhenti."

"Kamu benar."

Seperti bangkitnya Pemain, bangkitnya NPC mungkin mirip dan datang dengan sebuah penalti. Lagipula ini adalah usaha pertama mereka untuk menghidupkan seseorang kembali setelah datang ke dunia ini.

"Mari kita simpan ceritanya nanti. Sebelum itu, Aku ingin kamu mengatakannya padaku beberapa hal."

Saat Ainz melepaskan lengannya, Shalltear bertampang menyesal sebelum menembak Albedo dengan tatapan yang menusuk. Dan responnya, Albedo menunjukkan ekspresi baik biasanya. Meskipun kelihatannya mereka berdua akan saling bertatapan satu sama lain seperti biasanya, Shalltear menggerakkan tatapannya dan menghentikannya.

"Ya, apapun... tapi Ainz-sama, mengapa saya berada di aula takhta? Dan penampilan ini, reaksi anda, apakah saya melakukan sesuatu yang membuat masalah bagi anda?"

"Itulah yang ingin aku tanyakan padamu, apakah kamu mengingat apa yang terjadi?"

"Ti, Tidak,"

"...Mafkan aku, Shalltear. Aku ingin kamu mengatakan sesuatu padaku hal terakhir yang kamu ingat."

Ingatan Shalltear terakhir sampai insiden lima hari yang lalu. Ingatannya diantara itu dan sekarang hilang.

Seperti apa yang dia lakukan di desa Carne, Ainz mampu menghapus atau menciptakan memori dengan magic level 10 [Control Amnesia]. Namun, membuat ingatan yang berjarak meskipun sedikit menghabiskan MP dalam jumlah banyak. Menghapus lima hari ingatan, bahkan untuk Ainz yang sesumbar akan kolam MP dan rata-rata recovery yang melebihi batas beberapa orang yang digabungkan sama-sama.

Terlalu banyak informasi yang kurang bagi Ainz. Jika begini, kelihatannya tidak mungkin untuk menyelesaikan teka-teki tersebut.

Yang pasti adalah identitas dari salah satu yang menggunakan item kelas dunia pada Shalltear telah tenggelam dari permukaan.

Identitas yang tidak diketahui memang sangat menyusahkan. Ada kemungkinan besar bahwa musuh akan membidik kesempatan untuk menggigit Nazarick dari dalam air. ....Tidak, mungkin saja aku harus berterima kasih bahwa mereka berhenti sampai disitu. ...Aku harus memikirkan ini dalam-dalam untuk merencanakan balas dendam kepada siapapun yang bertanggung jawab untuk ini.

Ainz memaksa menelan kemarahan yang bahkan sifat undeadnya tak bisa menekannya dan dengan lembut berbicara kepada Shalltear.

"Apakah ada hal lain yang kamu rasa aneh?"

Jika ini adalah YGGDRASIL, tidak akan ada masalah. NPC tidak menderita penalti penurunan level. Namun, tidak mungkin bisa tahu bahwa dunia ini akan melakukan hal yang sama. Ada kemungkinan level miliknya jauh seperti karakter player.

Pada saat pertanyaan itu, Shalltear meraba-raba tubuhnya dan menjawab.

"Kurasa tidak ada masalah."

"Oh Begitu."

Segera saat dia membalas, Ainz dicekam ketakutan ketika wajah Shalltear menunjukkan ekspresi terkejut.

"Ainz-sama!"

"Ada apa! Apa ada masalah!"

"Dadaku hilang."

Jika seseorang harus menyimpulkan wajah dari para Guardian saat ini dengan kata-kata, pasti seperti 'kembalikan kekhawatiranku' dengan bibir berubah ke atas dan ke bawah, bahkan Demiurge berekspresi tidak percaya.

"Kamu, apa kamu tahu apa yang kamu katakan dengan situasi yang seperti hingga sekarang ini?!"

Mendengar Albedo berteriak sebagai perwakilan setiap orang, bahu Shalltear tersentak.

Ainz merasa tenaga keluar dari tubuhnya, cukup baginya untuk merasa seakan jika dia mau terjungkir. Saat dia memandang para guardian yang mulai cekcok dengan Shalltear, berbagai macam pikiran mengenai kebangkitan berlarian di otaknya.

Khususnya, dia berpikir bahwa bagus juga jika orang-orang yang ada di pemakaman, Clementine dan Khajit, akan kehilangan ingatan mereka juga jika mereka dibangkitkan.

Tapi itu terlalu optimis.

Alasannya adalah dia tidak tahu mengapa ingatan Shalltear hilang. Dihidupkan kembali dari kematian - tidak ada jaminan dengan menggunakan magic membangkitkan akan sama dengan mengeluarkan emas untuk membangkitkan NPC.

Sementara Ainz sedang berada di tengah pemikiran seperti itu, Shalltear ditegur satu sisi oleh Albedo dan bahkan memiliki bekas air mata di matanya.

Melihat ini, Ainz tahu bahwa matanya dipenuhi rasa rindu.

Pemandangan dari kakak Bukubukuchagama yang menggoda adiknya, Peroronchino. Teman-temannya tertawa ketika melihat mereka.

Pemandangan yang sama sekarang terjadi dengan para NPC.

Apa yang Ainz rasakan adalah kesepian.

Tempat yang hangat dimana ada para guardian, itu seperti sebuah proyeksi dari sebuah layar - berbeda, serasa jauh.

Jika Ainz bergabung dengan mereka, mereka akan bersikap hormat sebagai bawahan. Tapi itu bukan sebuah intimidasi, berbeda dari kehangatan teman-teman masa lalunya.

Dia merasa sangat menyesali.

Saat dia membiarkan tangannya terjatuh kesamping, seakan merasakan sesuatu, Albedo berputar dan diam-diam memandang Ainz. Tidak mungkin bisa membedakan emosi di dalam dirinya hanya melalui mata. Saat dia akan bertanya kepada Albedo mengapa dia menatapnya, matanya terbuka lebar dengan cahaya lembut yang terpantul dari pupil matanya.

Albedo dengan lembut mengulurkan tangannya kepada Ainz. Setelah ragu sejenak, Ainz menggenggamnya dan bergabung dengan guardian lain.

Albedo adalah yang pertama membuka mulutnya, segera diikuti oleh lainnya.

"Ainz-sama juga, silahkan beri Shalltear teguran yang keras."

"Aku setuju! Tolong katakan sesuatu yang kejam kepada si idiot ini!"

"Memang.benar.aku.percaya.akan.bijaksana.untuk.memberikan.ucapan.peringatan.yang.kuat."

"Itu adalah ucapan berharga dari Ainz-sama jadi pastikan kamu mendengarnya baik-baik."

"Ta..Tapi jangan terlalu kejam..Uh, ummm, maksudku.."

"--ha, hahahaha"

Meskipun mata-mata guardian terkejut dan jatuh kepadanya, Ainz tidak berhenti tertawa keras dari bibirnya, bukan, hatinya.

Setelah tertawa banyak, Ainz diam-diam menolehkan matanya kepada Shalltear.

"Meskipun aku sudah mengatakan ini kepada Albedo sebelumnya, Shalltear tidak salah karena insiden ini. Seluruh kesalahan adalah padaku. Prediksiku tidak sampai sejauh ini meskipun aku memiliki seluruh informasi yang bisa kudapatkan. Shalltear, kamu tidak salah. Ingatlah kata-kata ini."

"Te..Terima kasi."

"Aku akan menyerahkan persoalan untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Shalltear kepada Demiurge. Bagaimana?"

Demiurge membungkukkan kepalanya untuk memberikan hormat kepada perintah Ainz. Lalu, seakan tiba-tiba teringat, bertanya.

"Ainz-sama. Tentang Sebas-"

"Dia adalah umpan."

Seluruh guardian menganggukkan kepala mereka mematuhi saat Ainz mengatakan bahwa dia akan menggunakan salah satu dari mereka sebagai umpan. Jelas sekali bagi mereka bahwa keinginan master dari Great Tomb of Nazarick mengutamakan keamanan bagi teman mereka.

"Aku tidak menginginkan itu, tapi tak ada pilihan lain.... Meskipun aku tidak tahu mengapa Shalltear menjadi target, jika musuh membuat langkah lain, ada kemungkinan yang besar bahwa target mereka selanjutnya adalah yang menemaninya. Itulah kenapa aku tidak memanggilnya untuk diberikan item kelas dunia...Albedo, pilih seseorang yang akan mengawasi sekeliling Sebas dengan rahasia...Meskipun Sebas adalah umpan, aku tidak ingin menyerahkannya begitu saja. Bilang kepada yang mengawasi untuk menyerang mereka ketika musuh mendekati Sebas."

Setelah memberikan perintahnya, Ainz mengecilkan matanya. Intensitas api merah sedikit meredup.

....Aku tidak tahu siapa yang menggunakan item kelas dunia kepada Shalltear, tapi akhirnya, di suatu tempat, kita akan berhadapan. Saat itu, aku akan memastikan untuk membayar hutang ini sepenuhnya!

"Saya dengar dan laksanakan. Aku akan memperhitunkan kekuatan mereka dan mengirimkankannya sesegera mungkin."

"Aku serahkan padamu. Meskipun aku sudah tahu bahwa menghidupkan kembali bisa dilakukan berkat Shalltear, aku tidak ingin sekalipun mengulanginya lagi harus membunuh ciptaan temanku."

Tergerak dalam-dalam, mereka membungkukkan kepala mereka. Meskipun guardian sudah tahu bahwa Ainz menyayangi mereka, mendengarnya langsung dari mulut itu membuat semuanya lebih efektif.

Seakan dia baru saja mengetahui apa yang terjadi, wajah Shalltear terkejut. Ekspresinya berusaha untuk menyembunyikan rasa malunya. Ainz mengisyaratkan padanya untuk menghilangkan pemikiran itu.

Saat itu, seseorang disampingnya berbicara.

"Uh, ummm, Ainz-sama."

"Ada apa Mare?"

"Um, uh, well, bekas pertarungan itu, apakah aku harus menutupinya?"

"Tidak perlu, apakah kamu tahu? Jika kamu menghancurkan kristal penyegel magic, ledakan kuat akan datang dan menghancurkan seluruh area."

"Be-Benarkah?"

"...Maafkan aku, aku bohong, maksudnya begini, Suatu ketika, bahkan sebuah kebohongan akan berubah menjadi kenyataan. Kristal penyegel Magi seharusnya adalah benda berharga, jadi mereka tidak akan mampu melakukan test padanya. Albedo, buatlah retak pada kristal Nigun. Katakan kepada kepala blacksmith untuk melakukan hal yang sama kepada armor yang aku tugaskan. Seharusnya seperti kelihatan melewati sebuah pertempuran."

"Saya akan melaksanakan perintah anda."

"Dan juga, kelihatannya aku terlalu naif. Tidak diragukan lagi bahwa ada musuh di dekat kita yang membahayakan Nazarick. Kita harus melakukan rencana memperkuat Nazarick sesegera mungkin. Karena alasan itu, aku akan menggunakan skill milikku untuk menciptakan pasukan undead. Aku sudah mengatakan ini sebelumnya...ah, apakah hanya Albedo yang hadir saat itu? Oleh karena itu, ini adalah prioritas kita yang tertinggi. Aku ingin membuat rencana untuk mengumpulkan mayat-mayat dari pemakaman E-Rantel."

"Ada sesuatu yang ingin saya katakan mengenai ini, Ainz-sama."

"Apa itu Albedo?"

"Ketika Ainz-sama menciptakan undead dengan skill, yang saya tahu menggunakan tubuh manusia sebagai katalist akan, yang paling tinggi, hanya menghasilkan tipe bawahan undead yang lebih lemah, meskipun mereka termasuk peringkat tengah."

"Benar. Dan kenapa?"

Undead dibuat dari tubuh Sunlight Scripture paling tinggi, level 40. Ketika dia mencoba untuk meningkatkannya melebihi level itu, setelah beberapa saat, mereka menghilang beserta mayatnya.

"Ya. Sebenarnya, saya sedang merancang sebuah cara bagi anda untuk mendapatkan tubuh baru. Apakah anda akan mempertimbangkan ntuk menggunakan mayat selain dari manusia?"

"...Aku akan berasumsi bahwa kamu tidak sedang membicarakan tentang mayat-mayat pelayan Nazarick."

"Tidak. Tentu saja tidak. Ini adalah ras yang berbeda."

Albedo tersenyum. Sebuah senyum baik kejam dan cantik.

"Aura menemukan sebuah desa manusia kadal (Lizardmen). Maukah anda menyerang tanah mereka dan menghabisi mereka?"

Berlangganan via Email