Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Baca Light Novel Overlord - Vol 3 - Chapter 2

True Vampire - Vampir Sejati

Dua buah bayangan bisa terlihat bergerak dengan kecepatan penuh menembus hutan. Mereka adalah pelayan dan selir Shalltear; Vampire Bride.

Mereka membelah menembus jalanan sempit yang dipenuhi dengan ranting-ranting yang tajam. Meskipun begitu, tidak satupun luka goresan atau cacat yang terlihat pada salah satu baju mereka. Meskipun mengenakan sepatu bertumit tinggi, kedua vampire itu bergerak dengan kecepatan yang nyata.

Yang ada di depan sedang membawa Shalltear dengan hati-hati, sementara yang mengangkat bagian belakang sedang menyeret yang kelihatannya adalah batang pohon yang tua dan keriput.

Lokasi mereka saat ini tidak seberapa jauh dari tempat mereka berpisah dengan Sebas. Meskipun mereka tidak tahu bagaimana mengukur jarak menuju tujuan mereka, mereka tahu masih panjang jaraknya. Tiba-tiba, sebuah suara dari logam yang tajam menghadang mereka, dan vampire yang ada di depan pun berhenti.

Karena jalanannya semakin sempit, yang mengikuti di belakang tidak ada pilihan lain selain berhenti juga.

"Mengapa kamu tiba-tiba berhenti?"

Saat dia akan menjawab suara di belakangnya, sebuah tatapan dingin dari atasannya yang dia gendong di lengannya tertuju kepada vampire itu menyebabkan tubuhnya gemetaran.

Perasaan bahaya merangkak naik di tulang belakangnya karena dia tahu tuannya tidaklah baik ataupun memaafkan.

Tuannya, Shalltear, yang sedang memegang lengannya seperti seorang putri, mengubah kakinya karena tidak senang.

Merasakan isyarat, vampire itu menurunkan lengannya.

Shalltear melompat, seperti seekor burung yang keluar dari kandangnya. Setelah beristirahat sebentar di udara, sepasang kaki yang lembut dalam balutan sepatu hak tinggi mendarat di tanah. Pakaian terusannya dan mengalir dengan lembut menutup kakinya, menyembunyikan mereka dari pandangan.

Shalltear mengusap rambut keperakannya yang panjang dengan jengkel, dan memiringkan kepalanya. Di bawah tatapannya yang dingin, vampire itu akhirnya menelan ludah ketakutan.

"Ada masalah apa?"

Alasan mengapa Shalltear tidak lari sendiri hanya karena menyusahkan, dan karena dia tidak ingin sepatunya kotor. Ada alasan lain, tapi tak ada orang yang hadir disana yang akan terpikir ini, lebih-lebih mengutaakannya terang-terangan. Bahkan di Nazarick, hanya ada beberapa orang yang berani mengatakan hal itu di depannya.

Sebagai pelayannya, vampire itu bertindak sebagai kakinya, dan dilarang untuk berhenti kecuali diperintahkan oleh Shalltear sendiri. Kaki yang tidak mendengarkan pemiliknya adalah kaki yang tak berguna.

Tergantung alasannya, dia mungkin akan menerima hukuman yang berat.

Tidak, akan lega jadinya jika hanya itu. Vampire tersebut bisa mendeteksi nafsu membunuh dari pertanyaan tuannya.

Mengecualikan mereka yang diciptakan langsung para pemimpin tertinggi dari Great Underground Tomb of Nazarick, kekuatan hidup dan mati dari bawahan lainnya dipegang oleh Guardian Floor dan Guardian Area. Memantik kemarahan Shalltear lebih jauh dari ini hanya berarti kematian.

Menyadari kalimat berikutnya mungkin adalah ucapan terakhir, vampire itu pelan-pelan membuka mulutnya untuk memohon ampun:

"Maafkan hamba. Saya menginjak sebuah jebakan beruang."

Shalltear mengalihkan pandangannya ke arah kaki vampire itu dan melihat memang benar terperangkap oleh jebakan baja.

Daripada manusia, jebakan itu diperuntukkan untuk binatang liar seperti beruang. Jika seorang manusia tertangkap ke dalamnya, meskipun dia memakai pelindung kaki, jebakan itu akan membuat tulangnya retak. Namun, seorang vampire sangat berbeda dengan manusia biasa dalam setiap aspek. Meskipun jebakan itu menggigit dengan kuat di sekeliling pergelangan kakinya, daripada sebuah retakan, vampire itu malahan tidak terlihat kesakitan sama sekali. Faktanya, dia bahkan tidak menganggapnya luka.

Pertahanan alami dari seorang vampire membuat mereka bisa menghapus kebanyakan dari serangan fisik konvensional. Untuk menghadapi ini, seseorang harus menggunakan senjata magic yang ditempa dengan perak atau logam semacamnya. Dengan kata lain, sebuah perangkap beruang biasa tidak akan bisa membuat luka apapun kepada vampire, jangankan meninggalkan luka yang sebenarnya. Segera setelah perangkap itu di buka, lubang di kulitnya akan sembuh dengan segera.

Namun, meskipun jebakan itu sendiri tidak membuat luka, dia menunjukkan keefektifanny sebagai sebuah alat untuk menjebak mangsanya. Pada awalnya, karena ketiadaan racun membuatnya terlihat jelas bahwa jebakan itu tidak diperuntukkan untuk membuat luka yang fatal. Lebih tepatnya, fungsi dari alat itu untuk membuat korban dan menahan gerakan musuh.

"Cepat lepaskan dirimu sendiri."

"Ya! Mengerti!"

Setelah menerima perintah Shalltear, vampire itu memegang kedua sisi dari jebakan tersebut dengan tangannya yang kurus dan menariknya. Tanpa mampu menahan kekuatan yang lebih besar dari seekor beruang, jebakan tersebut membuka rahangnya dan melepaskan mangsanya.

Seorang wanita cantik membuka jebakan beruang. Bagi mereka yang tidak tahu kekuatan dari seorang vampire, itu adalah pemandangan yang sangat aneh.

"Melihat jebakan ada disini, kita mungkin tidak terlalu jauh dari tempat yang kita tuju. Cuma sedikit saja, kurasa"

"Ya, tolong berikan waktu sebentar."

Vampire di belakang melemparkan apa yang dia bawa ke tanah.

Obyek yang terlihat seperti mayan manusia yang menjadi mummy, berdarah-darah di sekujur tubuhnya. Tentu saja, tubuh yang dilemparkan ke tanah menunjukkan tanda-tanda kehidupan dan mulai bergerak.

Di ujung tangannya terdapat cakar yang tajam. Sebuah cahaya merah, yang dimiliki oleh mereka para vampire, terbakar di lubang matanya yang kosong. Taring yang setajam silet keluar di antara mulutnya yang sedikit terbuka.

Vampire yang lebih rendah.

Dengan seluruh darahnya yang dihisap hingga kering, itu adalah salah satu dari bandit yang menyerang mereka sebelumnya.

"Aku punya pertanyaan untukmu. Apakah kita sudah dekat dengan tempat persembunyianmu?"

Vampire rendahan itu menoleh kepada tuannya dan mengangguk dalam-dalam. Mengeluarkan suara yang entah erangan atau teriakan.

"Dia berkata, kita sudah dekat, Shalltear-sama."

"Ternyata begitu. Mengapa mereka tidak mempersiapkan lebih banyak jebakan?"

Daripada menghentikan seekor beruang dengan sebuah jebakan beruang, akan lebih berguna untuk mereka jika mempersiapkan sistem alarm atau lebih banyak jebakan. Naun, mereka tidak ditemukan dimanapun.

Shalltear mulai mengawasi sekeliling. Percaya bahwa tuan mereka sedang mencari siapapun yang sedang menyembunyikan keberadaannya disana, kedua vampire bride mengikuti. Hanya ketika Shalltear menggelengkan kepala mereka berhenti.

 


"..Tidak apa. Lagipula Kalian tidak punya kemampuan untuk mencari."

Ketika dia menggumamkan kalimat itu, vampire itu menyadari mengapa mereka dimaafkan. Termasuk tuannya, ketiga orang itu tidak memiliki kemampuan untuk menemukan jebakan, dan itulah kenapa mereka tidak bisa melihat adanya jebakan beruang sebelum mengenai. Itulah kenapa dia dimaafkan. Tuannya tidak menghukum lainnya karena gagal dalam tugas yang mustahil mereka kerjakan.

"Mungkin memang sebaiknya kita meminjam gadis itu."

Kelas Solution adalah salah satu yang melakukan assassinasi. Baginya, siapapun yang memiliki kemampuan dari kelas Rogue juga, akan dengan mudah bisa mendeteksi jebakan.

"Tidak ada gunanya protes sekarang. Ayo cepat pergi ke tempat persembunyian bandit itu."

Tidak lama, mereka tiba di persembunyian tentara-tentara bayaran itu. Saat mereka semakin dekat dengan tujuan, pepohonan semakin sedikit, dan akhirnya benar-benar tidak ada. Yang menyambut kelompok itu adalah padang rumput yang membentang dengan bebatuan yang keluar dari dalam tanah.

Mereka telah tiba di tanah Karst (Batuan Kapur).

Di tengah-tengah cekungan yang bentuknya seperti bunga itu, ada sebuah galian lubang besar ke permukaan. Sebuah lampu kecil bisa terlihat memancar dari lubant tersebut. Dari lampu itu, dalamnya mungkin tanah yang landai dan menurun.

Dua struktur bangunan yang berdiri di tiap sisi pintu masuk gua jelas adalah buatan manusia. Disana berdiri dua barikade kayu, masing-masing memiliki tinggi sama seperti orang dewasa. Keahliannya biasa-biasa saja. Hanya tumpukan gelondongan kayu yang diikat sama-sama dengan tali. Dua penjaga berdiri di pintu masuk, masing-masing berdiri di belakang barikade. Kelihatannya rencana mereka untuk melawan penyusup adalah dengan menggunakan barikade tersebut sebagai penutup melawan anak panah sambil membunyikan alarm.

Dalam pertempuran biasa -- Jika mereka maju dari tempat terbuka disini, tidak diragukan lagi, bala bantuan akan keluar dari dalam. Peringatan dini akan memberikan waktu bagi musuh mereka untuk bersiap. Pendekatan yang lebih lamban, bersembunyi dibalik penutup, juga tidak mungkin. Bandit-bandit yang telah membersihkan area dari segala macam batu yang cukup besar yang bisa digunakan untuk menyembunyikan pendekatan yang tak kasat mata.

Ditambah lagi, yang ditempatkan di luar masing-masing memiliki lonceng besar melingkar di bahu mereka. Bahkan jika terjadi serangan mendadak yang berhasil diluncurkan pada penjaga, suara lonceng yang berdentang keras akan memberitahu yang ada di dalam.

Pertahanan mereka sudah dipikirkan masak-masak.

Tapi ada satu jalan untuk menembus situasi yang kelihatannya percuma ini.

Magic.

Dengan mengaktifkan [Silence] lalu membunuh mereka, atau mendekati dengan [Invisibility], atau memancing mereka keluar dengan [Charm Person]. Menghancurkan lonceng-lonceng itu langsung juga merupakan sebuah pilihan.

Sambil memikirkan cara mana yang lebih enak, Shalltear menyadari bahwa dia kekuarang bagian penting dari informasi.

"Apakah pintu masuknya hanya satu?"

Vampire rendahan menganggukkan kepala dengan kaku untuk mengiyakan.

Wajah Shalltear merekan dalam senyuman. Jika itu masalahnya, maka tidak perlu memikirkan apapun lagi.

Posisi benteng yang kuat itu memang kuat melawan serangan tiba-tiba, ini memang benar ketika menghadapi jumlah yang lebih unggul. Tapi berbeda bagi Shalltear dan kelompoknya.

Bagi mereka yang memiliki kekuatan yang luar biasa, pastinya tidak ada masalah dengan menghadapi manusia secara langsung. Hanya masalah sederhana menghancurkan mereka seperti serangga. Kekhawatiran mereka hanyalah pintu keluar lain yang membuat mangsa mereka kabur.

"Kalau begitu, kita sudah jauh-jauh datang kemari, tidak usah bersembunyi lagi. ya kan? Bukan seleraku untuk mengendap-endap seperti mata-mata."

"Lagipula Shalltear-sama selalu bersinar terang."

"Mengutarakan hal yang jelas kelihatan bukanlah pujian. Jika kamu ingin memujiku maka pikirkan yang lebih dalam lain kali."

Mengabaikan pelayannya yang sekarang memohon ampunan, Shalltear menggenggamkan tangannya ke arah vampire rendahan.

"Aku akan memberimu misi yang penting untuk menjadi barisan depan. Sekarang, Pergilah."

Dengan sebuah jentikan di lengannya yang kurus, Shalltear melemparkan vampire rendahan, dan sebuah suara seperti udara yang terbelah dan meledak keluar. Tubuh yang kurus kering seperti mayat berputar di udara berkali-kali, dan berputar menuju salah satu penjaga di kejauhan.

Ketika berbenturan, kepala dan dada penjaga itu meledak menjadi kabut darah. Itu adalah gambaran yang susah untuk dipercaya.

Bau darah yang segar di udara. Penjaga lainnya melihat sisa-sisa keji dari kawannya yang dengan kaget, seakan dia tidak bisa memproses apa yang telah terjadi.

Bagi mereka yang melemparkannya, itu adalah tontonan yang menyenangkan.

"Strike~"

"Fantastik, Shalltear-sama."

Dua orang vampire bertepuk tangan gembira sementara Shalltear mengangkat tangannya untuk merayakan. Dengan kata lain, tubuh vampire rendahan juga hancur bersamaan dengan penjaga, tapi tak ada yang perduli tentang itu. Karena dia bahkan bukan anggota Nazarick pada awalnya, tidak perlu menunjukkan kekhawatiran kepada kematian sebuah mainan.

Tidak mungkin Shalltear akan teringat janjinya kepada manusia itu pula.

"Hmmm, masih ada satu lagi, ya kan?"

Saat Shalltear melihat sekeliling, dua vampire itu cepat-cepat memberikan batu yang cukup besar.

"Oomph."

Saat lonceng berbunyi di kejauhan, Shalltear menggenggam batu yang cukup besar di tangannya. Lengannya bergerak dengan kecepatan yang menakutkan. Sesaat kemudian, Shalltear dengan gembira mengumumkan prestasinya.

"Hmmm. Kali ini... kita bisa menyebutkan Dua Strike."

Sebuah tepuk tangan lagi.

Para penjaga di dalam gua yang mendengar lonceng yang berbunyi bahwa musuh sudah muncul. Lonceng-lonceng itu sangat keras sehingga kelompok Shalltear bisa mendengarnya dari sana.

Shalltear tersenyum lembut terhadap suara berisik dari dalam gua dan memerintahkan.

"Sekarang pergilah. Kamu, Panjatlah sebuah pohon di sekitar dan awasi jika ada yang mencoba untuk kabur. Dan kamu, berdiri dan pimpinlah jalannya. Tapi, jika ada yang kuat yang muncul, itu milikku. Pastikan untuk memberitahuku."

"Ya, Shalltear-sama."

"Semoga berhasil."

Vampire yang telah diberikan perintah bergerak di depan Shalltear. Saat dia berjalan pelan-pelan menuju pintu masuk, vampire itu -

-menghilang.

Tanahnya menghilang, tidak, itu adalah sebuah jebakan.

Shalltear mungkin bisa minggir, tapi agility dari vampire normal tidak cukup untuk bereaksi terhadap tanah yang menghilang di bawah kaki mereka.

"Aw!"

Vampire ini adalah pelayan level rendah yang tidak memiliki kemampuan untuk mendeteksi jebakan. Hasil seperti ini tidak bisa dihindari. Shalltear tahu ini, itulah kenapa dia memaafkan kesalahannya tadi. Namun begitu, dia tidak bisa menghilangkan kekecewaan pada suaranya. Sebuah tawa keluar dari bibirnya; yang tidak terlihat canggung ataupun manis.

Berpikir kembali, seharusnya jelas sekali mereka akan menggunakan jebakan di depan pintu masuk. Kebodohannya sendiri yang gagal menebak in isebelumnya, dan fakta bahwa pelayannya benar-benar terkena perangkap, benar-benar menjengkelkan. Pemikiran ini berputar di dalam dirinya dan keluar melalu senyuman Shalltear.

Terlebih lagi, fakta bahwa pelayan dari Shalltear Bloodfallen, Guardian Floor yang bertanggung jawab atas beberapa lantai di Great Underground Tomb of Nazarick terkena perangkap menyedihkan seperti itu adalah sesuatu yang tidak bisa dia tolerir.

Sebuah suara dipenuhi dengan nafsu membunuh keluar dari bibir merah tua Shalltear.

"Aku akan membunuhmu, jadi segera keluar."

Dengan sebuah lompatan yang lebar, vampire itu menunjukkan dirinya di tepian perangkap. Kecuali bajunya telah kotor oleh lumpur, dia kelihatannya tidak terluka.

"Jangan mengecewakanku lagi."

"Maafkan-"

"Sudah. Cepat pergilah. Atau kamu ingin aku melemparmu ke sampah-sampah disana?"

Melihat Shalltear bergerak seakan mau memegangnya, vampire itu mengerti apa maksud tuannya dan mengeluarkan lengkingan kecil. Shalltear melihat pelayannya berlari menuju ke dalam gua, dan pelan mengikutinya ke dalam.


Di dalam ruang pribadi, seorang pria berhenti merawat senjatanya dan memfokuskan telinganya pada suara berisik.

Suara seperti orang berlari, teriakan samar di kejauhan.

Sudah jelas mereka sedang diserang, tapi kekuatan dan jumlah musuh masih belum diketahui meskipun kenyataannya mereka dilatih untuk meneriakkan informasi penting seperti itu.

Tidak mungkin dia kebetulan tidak mendengarnya juga. Meskipun dia sedang berada di dalam ruangan, itu hanya sebuah lubang di dinding yang dibuat seolah-olah ruangan dengan kelambu yang berperan sebagai pintu. Meskipun kelambunya tebal, tidak cukup untuk menghalangi suara dengan penuh.

Kelompok tentara bayaran mereka, "Death Spreading Brigade" memiliki anggota berjumlah tujuh puluh. Meskipun tidak ada dari mereka yang sekuat dirinya, beberapa diantaranya adalah veteran yang selamat dari banyak pertempuran.

Tidak mungkin orang seperti mereka akan jatuh ke dalam kekacauan seperti ini hanya dari kelompok kecil. Apakah itu artinya musuh datang dengan kekuatan besar? Tapi tidak ada suara yang cukup mengindikasikan adanya pertarungan besar, dan dia tidak bisa merasakan kehadiran dari banyak musuh pula.

"Kalau begitu... apakah itu adalah para petualang?"


Sedikit jumlahnya, namun sangat kuat dalam bertarung, maka perasaan tidak nyaman ini akan cocok.

Pria itu pelan-pelan berdiri dan mengikatkan senjatanya ke pinggang. Untuk armor, dia menggunakan chainmail. Mudah dipakai dan tidak memerlukan banyak waktu untk memakainya. Selanjutnya, dia meraih sebuah kantong yang mengandung beberapa botol keramik potion dan mengamankannya ke dalam ikat pinggangnya dengan ikatan. Setelah sudah dilengkapi dengan kalung dan cincin, yang dibumbui dengan magic pelindung, persiapannya sudah lengkap.

Pria itu menyingkirkan kelambunya, seakan ingin merobek dari kaitnya, dan melangkah keluar menuju lorong darurat.

Dengan lebar yang sama, lorong itu diterangi dengan lentera [Continual Light] yang terang dan sulit dipercaya jika ini ada di dalam gua.

Lampu itu menunjukkan seluruh penampilannya. Dibalik baju, tubuhnya kurus tidak kerempeng, dan ototnya sekeras baja dan cukup sering ditempa melalui pengalaman, daripada latihan,

Rambutnya dipotong tidak karuan, panjangnya bahkan tidak ada yang sama, dan menjorok ke arah yang acak. Matanya yang coklat menatap lurus ke depan, dan sebuah seringai muncul di bibirnya. Rambut pendek di janggutnya memberikan penampilan tersendiri.

Meskipun penampilannya tidak rapi, gerakannya sangat lembut dan elegan, mirip dengan binatang liar.

Saat dia berjalan menuju pintu masuk dimana serangan terjadi, pria lain muncul menuju arahnya. Dia mengenali wajah yang familiar itu sebagai sekutunya. Segera setelah pria itu melihatnya, wajahnya bersinar cerah dan lega, seakan jika mengatakan kemanangan itu sudah dijamin.

"Ada apa?"

"Serangan musuh, Brain-san!"

Pria itu -- Brain tertawa pahit dan membalas.

"Aku tahu itu, penyerangnya? siapa mereka?"

"Ada dua orang, keduanya wanita."

"Wanita? dan hanya dua? Blue Rose... Tidak, itu tidak mungkin."

Saat kepalanya mulai berpikir, Brain melanjutkan untuk menuju ke sumber keributan.

Kelompok petualang terkuat di kingdom dikenal dengan "Blue Rose" dan terdiri dari lima orang wanita. Dulu, dia pernah menghadapi seorang wanita tua yang bisa menyamainyaa dari pukulan ke pukulan dan keduanya bertarung dengan seimbang. Ada juga sebuah rumor bahwa assassin terkuat dari empire adalah seorang wanita.

Wanita kuat bukanlah hal aneh. Lagipula, perbedaan kekuatan fisik antara pria dan wanita bisa dipenuhi dengan mudah oleh magic.

Tentu saja, tubuh terkuat disandingkan dengan kekuatan magic yang terkuat itu artinya orang itu tak terkalahkan.

Brain bisa merasakan hatinya gembira karena menunggu membayangkan bertarung melawan musuh yang cukup tangguh yang melawan mereka langsung.

"Ah kamu tak perlu datang denganku. Mundurlah ke dalam dan perkuat pertahanan."

Setelah berkata kepada tentara bayaran seperti itu, Brain melangkahkan kakinya dengan kuat dan berjalan menuju musuh yang kuat dari permukaan.

Brain Unglaus.

Asalnya adalah seorang petani, dia dianugerahi dengan yang bisa disebut sebagai bakat dari dewa dalam penguasaan pedang. Bersama dengan bakat alaminya, dia tak pernah kalah dengan senjata di tangan. Meskipun dalam peperangan, dia adalah orang jenius yang luka terburuknya adalah goresan.

Tak pernah merasakan kekalahan dengan pedang, dia selalu berjalan di jalan kemenangan.

Semuanya percaya padanya, dan dia sendiri tak pernah meragukan kemampuannya. Namun, sebuah perubahan dramatis datang kepadanya di sebuah turnamen yang diselenggarakan oleh istana Kingdom.

Dia ikut bukan karena mengincar juara. Dia hanya ingin menunjukkan kemampuannya ke seluruh Kingdom. Dia percaya bahwa mereka akan berlutut kepada kekuatannya. Tapi hasilnya, dia menghadapi situasi yang tidak bisa dipercaya.

Kekalahan.

Kekalahannya yang pertama sejak dia memegang pedang, tidak, mungkin sejak dia dilahirkan.

Yang mengalahkannya adalah seorang pria yang bernama Gazef Stronoff. Dia sekarang mengabdi sebagai Kapten Knight dari Re-Estize Kingdom, dan dikenal sebagai pria terkuat di seluruh negara.

Kedua pria itu telah memenangkan seluruh pertempuran mereka hampir sekejap, tapi pertarungan diantara mereka masih lama dan berkepanjangan, seakan mereka menyimpan seluruh waktu mereka untuk pertarungan yang satu ini.

Pada akhirnya, Gazef menyelesaikan pertarungan dengan menggunakan martial art [Fourfold Slash of Light]. Sebuah pertarungan yang masih dibicarakan hingga hari ini, tak ada yang menanyakan bagaimana seseorang dari kelas bawah naik ke posisi Kapten Knight. Itu adalah sebuah pertarungan dengan skala dimana bahkan para bangsawan yang tidak menyukai Gazef harus mengakui bahwa dia tidaklah lemah.

Pemenangnya diguyur dengan kejayaan, tapi bagi yang kalah, seakan semua yang Brain bangun hingga titik ini telah runtuh. Meskipun pertarungannya ketat, Brain menyadari bahwa kepercayaan dirinya menjadi yang terkuat hanyalah khayalan yang lahir dari si bodoh yang berpikiran sempit.

Selama satu bulan, dia mengunci diri di dunianya sendiri. Orang biasa akan menenggelamkan diri ke dalam alkohol, tapi Brain melempar keputusasaannya dan bertekad keras.

Dia menolak banyak penawaran pekerjaan dari para bangsawan, dan mencari kekuatan untuk pertama kalinya.

Dalam mengejar kekuatan, dia melatih tubuhnya.

Dalam mengejar magic, dia mengumpulkan pengetahuan.

Orang yang berbakat bekerja keras seperti orang biasa.

Kekalahannya membuatnya naik ke level baru.

Alasan dia menolak penawaran pekerjaan dari para bangsawan adalah karena dia tidak ingin kemampuannya berkarat. Agar dia bisa melatih kemampuannya hingga batas teratas, dia membutuhkan musuh. Karena dia tidak melatih dirinya untuk pamer, Brain membutuhkan pekerjaan yang menyediakan segudang kesempatan untuk merasakan pertarungan sebenarnya sambil membawa uang.

Mungkin saja memperoleh pendapatan sebagai petualang, tapi jalan itu tertutup baginya. Pekerjaan seorang petualan menawarkan sedikit hingga hampir tak ada kesempatan untuk bertarung melawan manusia. Membantai monster tidak buruk, tapi tujuan tertinggi dari Brain adalah untuk mengalahkan Gazef. Untuk itu, dia membutuhkan musuh manusia.

Dengan pilihan yang terbatas, dia memilih untuk bekerja sebagai anggota "Death Spreading Brigade". Tapi sebenarnya, kelompok tentara bayaran apapun baginya bukan masalah.

Dia hanya memiliki satu tujuan.

Untuk menghapus malu di masa lalunya, merubah kekalahan menjadi kemenangan.

Untuk meraih kekuatan agar tercapai tujuannya, dia membutuhkan senjata. Dia rela membuat semuanya untuk bisa memiliki senjata yang dia inginkan.

Senjata Magic sangat mahal, tapi yang sangat dia inginkan bukanlah senjata magic biasa.

Jauh di selatan, di luar Kingdom - ada kota di tengah-tengah gurun. Diantara barang-barang yang biasanya mengalir keluar dari kota itu adalah sebuah senjata yang, bahkan tidak diberi mantra, jauh melebihi kemampuan memotong dari senjata magic biasa. Ada harga yang setara dengannya, sangat banyak dan bisa membuat mata orang-orang akan meloncat keluar dari lubangnya ketika melihat itu. Itulah senjata yang dia inginkan.

Dan akhirnya, dia berhasil mendapatkan sebuah [Katana].

Sekarang ini, kekuatan Brain telah sampai pada batas dari potensi manusia. Dia sangat percaya diri bahwa dia bisa dengan mudah mengalahkan Gazef. Namun, dia tidak pernah membiarkan kepercayaan diri itu mengatur otaknya dan terus berlatih dengan rajin setiap hari.

Ketika dia memejamkan matanya, bahkan sekarang, dia bisa melihatnya dengan jelas, gambaran seorang Gazef ketika pertarungan hebat mereka.

Dia bisa dengan mudah menghindari serangan Brain yang tak pernah bisa sekalipun dihindari dan diserang balik oleh orang-orang yang dia lawan sebelumnya dengan empat serangan berkelanjutan.

Dia tidak lagi teringat penampilannya saat kalah. Namun, apa yang terbakar di ingatannya adalah gambaran dari pemenang yang mengalahkannya.

Saat Brain mendekati pintu masuk, bau darah segar menggantung di udara. Dia tidak lagi bisa mendengar teriakan, itu artinya mereka yang telah bertarung di dekat pintu masuk semuanya sudah terbunuh. Baru dua atau tiga menit.

Sepuluh pria yang ditempatkan di dekat pintu masuk diberi tugas untuk fokus pada pertahanan, untuk mengulur waktu bagi yang lainnya untuk membuat persiapan sebelum pertarungan. Bisa membunuh orang-orang ini dengan cepat--

"Jika hanya ada dua dari mereka, mereka pasti sekuat aku."

Wajah Brain mengeluarkan seringai.

Dia melanjutkan langkah cepatnya dan meminum salah satu potion dari kantung di ikat pinggangnya. cairan yang pahit dan kuat mengalir ke dalam tenggorokannya lalu ke perutnya. Dia lalu menenggak habis sebuah botol lain.

Dia bisa merasakan panas dari perutnya yang menyebar ke setiap tubuh. Dalam responnya, suara dari otot yang mengembang dan tumbuh kuat sampai telinganya.

Perubahan cepat karena efek menguatkan dari potion.

Yang pertama dia minum adalah potion [Lesser Streth], sementara yang kedua adalah [Lesser Dexterity].

Sebenarnya tidak perlu menelan potion secara langsung agar bisa bekerja; hanya mencipratkan dosis yang tepat pada tubuh sudah cukup. Tapi Brain selalu berpikir bahwa dengan meminumnya kelihatannya lebih efektif. Tentu saja, itu hanya imajinasinya saja, tapi imajinasi suatu ketika bisa mengeluarkan kekuatan ketika sudah tidak ada.

Dia lalu menghunus katana miliknya, dan menambahkan minyak pada mata pedangnya. Minyak itu mengeluarkan cahaya samar, lalu menghilang, seakan diserap oleh katana. Minyak itu disebut [Magic Weapon], dan meskipun efeknya hanya sementara, itu bisa menyuntikkan magic ke dalam pedang lalu menguatkan ketajamannya.

"Activate 1, Activate 2."

Kalimat itu memicu kalung dan cincin yang dia pakai dan sebuah magic yang samar menyelimuti tubuhnya.

[Necklace of Eye], seperti namanya, melindungi matanya ketika diaktifkan. Tahan terhadap status blind, night vision, menyaring cahaya. Seorang warrior yang tidak bisa mendaratkan pukulan adalah tidak berguna. Penglihatan yang terhalang, atau membuat jarak dan menyerang dengan serangan jarak jauh semuanya adalah taktik umum yang digunakan oleh petualang. Brain sekali pernah kalah dengan petualang yang menggunakan taktik itu.

[Ring of Magicbound] membuat pemakainya bisa mengikat mantra level rendah kepada item dan mengaktifkannya dengan cincin sebagai katalis. Cincinnya membawa [Lesser Protection Energy], yang membuatnya bisa menahan damage elemental.

Jika memang hanya ada dua musuh, maka persiapan ini sudah cukup. Akan sangat telat untuk menyesali tidak mengaktifkan ini sebelumnya nanti.

Dengan ini, persiapannya sudah selesai.

Dia mengumpulkan panas yang mengalir keluar dari dalam tubuhnya dan mengeluarkannya dalam sekali hembusan nafas.

Saat ini, dengan fisik yang diperkuat seperti ini, Brain kelihatannya telah mencapai puncak tenaga manusia. Dengan sikap arogan yang bisa menghalangi diri dari kepercayaan pada kemampuannya yang absolut, Brain berpikir di dalam otaknya dengan sebuah seringai.

Karena aku sudah repot-repot seperti ini, sebaiknya mereka memang layak.

Dengan setiap langkah, bau dari darah semakin kuat -- dan akhirnya, dia melihat dua bayangan.

"Kalian berdua kelihatannya sedang bersenang-senang."

"Tidak sama sekali, kurasa mereka semua terlalu lemah. Aku tak bisa mengisi penuh Blood Pool milikku."

Itu adalah sebuah respon yang kelihatannya benar-benar tidak khawatir terhadap kemunculan tiba-tiba Brain, seakan mereka sudah tahu dia akan datang. Brain juga tidak berusaha untuk menghilangkan keberadaannya, jadi dia tidak terkejut.

Dia sedikit merengut ketika melihat dua orang penyusup itu.

"Mereka bilang padaku ada dua orang wanita, tapi salah satunya masih bocah... dan dia memakai gaun..?"

Brain langsung menyingkirkan pemikiran itu. Mengambang di atas gadis yang kecantikannya terlihat tak ada tandingannya, adalah sebuah bola yang kelihatannya terbuat dari darah.

"Pertama kalinya aku melihat magic semacam itu... apakah kamu seorang magic caster?"

Seorang magic caster tak akan memerlukan armor, yang mana menjelaskan mengapa mereka berdua ini hanya memakai gaun di tempat seperti ini.

"Magic caster dengan dasar keyakinan (Faith Based), Penganut garis darah dari asalnya, Dewa Cainabel."

"Cainabel? Pertama kalinya aku dengar dewa dengan nama itu. Apakah dia seorang dewa jahat?"

"Ya, dia masuk dalam kategori itu. Yah, lagipula dia telah dikalahkan oleh para Pemimpin Tertinggi. Menurut para pemimpin tertinggi, dia adalah 'boss event yang lemah'."

Mengalihkan matanya dari gadis yang berujar tentang para pemimpin tertinggi dan lainnya, Brain memfokuskan perhatiannya kepada wanita yang berdiri seperti pelayan. Dia ini juga termasuk cantik. Sosoknya yang montok terlihat memancarkan sensualitas.

Dari bercak-bercak merah darah yang menutupi gaunnya, dia pastilah yang membunuh para penjaga.

Brain hanya mengangkat bahunya dan menggenggam katana miliknya.

"Itu tidak penting. Aku sudah siap kapanpun. Jika kamu belum, aku bisa menunggu. Apa yang akan kamu lakukan?"

Memberinya ekspresi terkejut, gadis itu menutup mulutnya untuk menahan tawa yang samar.

"Betapa beraninya kamu, apakah kamu tidak apa sendiri saja? Kamu boleh memanggil teman-temanmu lebih banyak lagi, jika kamu mau."

"Tidak berdua tahu jika membawa gerombolan orang-orang kelas tiga tidak akan ada bedanya melawanmu. Aku sudah cukup."

"Apakah kamu salah satu dari mereka..? Tipe orang yang tidak mengerti seberapa tingginya langit itu? Apakah kamu kira kamu bisa menyentuh bintang hanya dengan meraihnya saja? Tipe naif seperti itu seharusnya hanya untuk anak-anak seperti Aura. Itu hanya menjijikkan bagi orang dewasa."

"Memangnya kenapa dengan orang dewasa yang seperti itu? Aku rasa seorang gadis tidak bisa memahami roman seorang pria?"

Brain mengeluarkan katana miliknya dan memasang kuda-kuda. Melihat ini, gadis itu mengeluarkan ekspresi bosan dan melihat sekilas pada atap dan bicara.

"Kamu bisa mulai sekarang."

Gadis itu memberi tanda dengan dagunya, memberi perintah kepada wanita di sampingnya untuk maju.

Gerakannya benar-benar seperti angin, tapi- bagi Brain, bahkan kecepatan angin tidaklah cukup cepat.

"Haaah!"

Dengan sebuah teriakan, Brain meluncurkan dirinya dengan seluruh kekuatan di tubuh dan merangsek seperti badai. Sabetan yang cukup bertenaga bisa dengan mudah membelah pria berarmor menjadi dua.

"Kuh!"

"Cih, terlalu tipis."

Berhenti ketika di tengah serbuannya, vampire itu memegang bahunya dan terpaksa untuk mundur. Katana itu menembus tulang selangka (tulang di dekat dada) dan meninggalkan sebuah sabetan menyilang di dadanya.

Brain memicingkan mata saat dia menatap musuhnya.

Selain dari fakta bahwa dia gagal membunuhnya dengan sekali pukulan, ada hal lain yang membuatnya kesulitan memahami. Luka di bahunya seharusnya memuncratkan darah, tapi tidak setetespun darah terlihat.

'Apakah itu adalah magic?'

Sambil berpikir, Brain sedikit menyipitkan matanya ketika dia melihat luka yang ditutupi oleh tangan wanita itu.

Luka katana di bahunya pelan tapi pasti, menjadi sembuh. Meskipun dia pernah mendengar keberadaan dari magic healing berkecepatan tinggi, ini kelihatannya berbeda. Dan hanya ada satu jawaban lain.

Seorang monster dengan kemampuan menyembuhkan diri, Taring yang tajam keluar dari mulutnya, mata yang berwarna merah darah penuh dengan kebencian, penampilan yang seperti manusia..

Brain, yang jejak pemikirannya sudah sampai titik ini, menyadari identitas monster itu yang sebenarnya.

"Vampire... huh. Kemampuan khususnya... hight speed regeneration (menyembuhkan diri dengan kecepatan tinggi), charm (pesona), life drain (menyedot energi kehidupan), memanggil pasukan vampire rendahan, tahan terhadap senjata dan dingin... Kurasa ada banyak lagi... Entahlah."

Dia hanya perlu memotong mereka. Dengan berpikir seperti itu, Brain menggenggam erat katananya.

Wanita itu melebarkan matanya dan pupilnya yang berwarna merah darah semakin besar dan menakutkan.

Saat itu, Otak Brain mulai kabur. Musuh di depannya mulai terlihat lebih dan lebih mirip dengan sekutunya. Namun, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya, kabur itu akhirnya hilang.

"....Charm? Otakku tidak lemah sehingga bisa dipengaruhi oleh sesuatu dengan level segitu."

Tidak hanya senjatanya, bahkan hati Brain pun seperti katana itu. Dia dengan mudah bisa menyingkirkan mantra sederhana seperti charm.

Vampire tersebut melihat ke arahnya dengan benci dan memamerkan taringnya, tapi itu adalah tampilan yang berasal dari ketakutan. Siapapun yang percaya diri dengan kemampuannya cukup menyerangnya saja. Dengan kata lain, vampire itu menjadi berhati-hati, entah dikarenakan serangan Brain, atau karena menyadari bahwa dia adalah musuh yang mumpuni.

"Setidaknya kamu cerdas. Tapi meskipun seekor binatang buas bisa tahu hal itu."

Brain menyeret kakinya dan maju per inchi menju vampire itu. Menyesuaikan gerakan lawannya, vampire itu pelan-pelan mundur.

Membosankan.

Brain tertawa mengejek, dan seakan dipancing untuk maju, vampire itu menghentikan gerakan mundurnya dan sedikit maju.

Jarak diantara keduanya sekarang hanya tiga meter. Bagi vampire tersebut, itu adalah jarak yang bisa dia jangkau dengan sekali lompatan. Namun, kehati-hatiannya terhadap kemampuan Brain mencegahnya untuk langsung maju. Lalu -- senyum mungil tampak pada bibirnya, dan vampire itu mengulurkan tangannya ke depan.

[Shock Wave]

Bumi terbelah karena getaran yang menuju kepada Brain. Dengan mudah bisa menghancurkan full plate mail (armor full body dari lempengan logam), bagi Brain, yang hanya mengenakan chainmail, terkena oleh ledakan seperti itu akan membuatnya cedera berat. Bukan hanya itu, perbedaan besar pada kemampuan fisik antara dua orang itu artinya bahwa menerima satu pukulan sekalipun akan membuat jalannya pertarungan berubah menjadi tidak menguntungkan baginya.

Namun - Vampire itu melebarkan matanya karena terkejut.

"Cobalah merayakan setelah benar-benar mengenai targetmu. Gerakanmu terlalu mudah dibaca."

- Dia tidak tersentuh.

Dengan mudah menghindari serangan tak terlihat, Brain mengatakannya dengan sebuah seringai. Vampire itu terkejut dan panik lalu melompat ke belakang dengan lompatan yang lebar. Dia menyadari bahwa menganggap remeh manusia ini sebagai makhluk rendahan adalah sebuah kesalahan.

Di lain pihak, meskipun dia tidak memperlihatkannya di wajah, Brain tahu dia harus memikirkan kembali rencananya untuk menyerang. Pemikiran bahwa dia bisa menggunakan magic telah benar-benar keluar dari kepalanya.

Tujuan terbesar dari Brain adalah Gazef, dan pertarungan mereka akan diselesaikan dengan pedang mereka. Karena itu, kemampuan mereka dalam hal magic tidak setara dengan kemampuannya dalam berpedang. Melawan musuh seperti itu, dia tidak bisa memprediksikan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

Hasilnya adalah sebuah sebuah jalan buntu antara kedua pihak yang saling menatap satu sama lain, menunggu sebuah kesempatan untuk menyerang.

Merasa bosan dengan situasinya, gadis itu menghela nafas.

"Haa.... Gantian."

Saat si gadis menjentikkan jarinya untuk menyela, suaranya yang kering menyebabkan vampire itu gemetar tak terkendali.

Di depan musuhnya yang benar-benar kehilangan fokus, Brain tidak bergerak.

Meskipun ada kesempatan seperti itu, dia tidak mengambil kesempatan itu untuk menyerang. Namun, dia mengubah padangannya kepada gadis itu dan menatapnya dalam-dalam.

Tubuhnya langsing dan sangat bertolak belakang dengan dadanya yang menonjol. Lengannya terlihat cukup rapuh bagi Brain yang bisa mematahkannya seperti ranting.

Ada banyak tipe magic caster faith based. Cleric kuat dalam pertarungan jarak dekat, sementara Priestesses dan Bishop spesialisasi dalam merapal mantra magic.

Karena dia telah meminta untuk gantian, dia pasti cukup percaya diri untuk melawan tanpa bertahan.
Kalau begitu-

Wajah Brain berubah tersenyum.

Dia kelihatannya bukan tipe yang bertarung menggunakan summon, vampire lain, maka.

Melihat dari sikapnya, yang ini pasti memiliki level yang lebih tinggi dari vampire lain. Kamu takkan pernah bisa menyimpulkan monster dari penampilannya. Tidak aneh baginya bisa menjadi lebih kuat dari sebelumnya, terutama sejak dia memutuskan untuk maju setelah melihat seberapa kuat Brain.

Dan reaksi vampire sebelumnya... apakah ketakutan?

Tuan ditakuti oleh pelayan vampire...dia kuat, seseorang yang tidak bisa dianggap enteng.

Sambil memperhatikan gadis itu, Brain dengan marah menguak kepalanya mencoba untuk mencari tahu identitasnya.

Tuan dari vampire, apakah dia adalah vampire lord yang mirip dengan yang ada di legenda? Jika aku tidak salah, salah satu vampire lord yang terkenal adalah [Landfall], yang menghancurkan sebuah kerajaan.. Aku dengar dia dibunuh oleh tiga belas pahlawan.

Jika pahlawan-pahlawan pada zaman dahulu bisa melakukannya, makan itu bukanlah hal yang mustahil.

Menggenggam katana miliknya dengan semangat yang diperbaharui, Brain mempersiapkan kuda-kudanya.

"Aku adalah Brain Unglaus"

Menyebutkan nama kepada musuh yang kuat, respon yang kembali adalah tampang bingung.

Merasakan udara yang canggung, Brain bertanya kepadanya.

"...Namamu?"

"Oh! Kamu menanyakan namaku? Cocytus pasti akan langsung menyebutkannya, tapi aku tidak melihat dirimu sebagai musuh jadi aku agak lamban untuk menyadarinya. Maafkan aku. Kamu seharusnya bilang dari tadi."

Gadis itu memegang ujung gaunnya, dan , seperti seseorang yang meminta seorang pria untuk berdansa di pesta dansa, dia memberikan perkenalan.

"Shalltear Bloodfallen. Biarkan aku menikmati ini."

Dengan senjata yang diarahkan kepadanya, gadis itu membungkuk dengan anggun. Apakah dia pikir Brain tidak akan menyerang? Ataukah mungkin, apakah dia cukup percaya diri untuk menahan serangannya dengan sempurna meskipun Brain menyerangnya? Jawaban itu jelas terlihat dari ekspresi yang diberikan oleh gadis itu, yaitu yang terakhir. Seakan mengatakan, kamu bukanlah sebuah ancaman.

--Aku akan menghancurkan ketenanganmu itu.

Brain menatap tajam Shalltear dengan tatapan yang cukup tajam untuk menakuti kebanyakan warrior yang keras. Jujur saja, dia sangat tidak suka dengan sikap santai gadis tersebut, tapi sebagian dari dirinya mempersilahkan itu.

Kesombongan dari yang kuat.

Itu adalah senjata yang bisa dipakai oleh manusia untuk bisa mengalahkan monster-monster yang kemampuan fisiknya jauh di atas mereka. Di masa lalu, Brain menghadapi banyak pertempuran dengan makhluk seperti itu yang mana dimenangkan olehnya dengan menggunakan kesempatan ini.

Terlebih lagi - dia bisa menghina mereka setelah mengalahkannya, mengajarkan kepada si bodoh bahwa ada musuh di dunia ini yang seharusnya tidak boleh diremehkan.

"Apakah kamu tidak menggunakan martial art?"

-Martial Art.

Dalam perjalanan latihan seorang warrior, mereka mendorong diri mereka hingga batas dan mempelajari skill khusus yang bisa menarik keluar seluruh kekuatan mereka. Martial Art membuat fenomena tak bisa dijelaskan yang ditarik dari aura warrior itu sendiri. Itu adalah penggunaan magi melalui senjata.

Melawan musuh yang jauh lebih besar darimu, [Fortress] akan membuat bisa menghindari serangan yang kat dan melawan mereka langsung.

Dengan menyalurkan auramu ke dalam pedang dan melepaskannya dengan ledakan yangkuat, [Severing Blade] akan membuatmu bisa meruntuhkan musuh yang kuat dalam sekali serang.

Jika musuh memakai armor berat, menggunakan [Heavy Blow] dengan senjata penghancur sudah terbukti efektif.

Atau, cukup dengan memperkuat dirimu dengan [Ability Boost], seseorang bisa meraih kemenangan dengan hanya tubuh fisik mereka.

Martial art membuat seseorang bisa mempersiapkan diri dari berbagai macam situasi yang berbeda, seperti, warrior berlatih untuk mempelajari berbagai macam skill dan menguasainya agar bisa digunakan kapanpun dibutuhkan. Terlebih lagi bagi para petualang, yang menghadapi bahaya yang jauh di atas normal.

Sedangkan untuk Brain--

"Hmph. Aku tidak akan membutuhkannya untuk melawan orang sepertimu."

Itu adalah kebohongan. Dia tidaklah cukup bodoh untuk menunjukkan kartunya sebelum bertarung.

Brain pelan-pelan mengeluarkan nafas sambil menundukkan tubuh, dan mengembalikan katana itu ke dalam sarungnya.

Kakinya ditancapkan dengan kuat.

Nafasnya; pendek dan panjang.

Dia memfokuskan kesadarannya pada satu titik, dan ketika tiba pada batasnya, melapaskan gelombang yang besar. Dia telah menciptakan sebuah dunia yang bisa dia rasakan suara, ruang dan keberadaannya. Itu adalah martial art original yang pertama - [Field].

Dengan jarak tiga meter, meskipun itu adalah jangkauan yang pendek, itu adalah martial art yang membuat seseorang bisa dengan cepat mengetahui apapun di sekelilingnya, martial art ini menjadi sangat kuat.

Meskipun ribuan anak panah berhujanan, dia percaya diri bahwa dia bisa merasakan dan membelokkannya dengan cepat yang akan mengenainya, dan berakhir tanpa cacat.
Terlebih lagi, tubuhnya mampu bergerak dengan cukup tepat untuk membelah sebuah biji gandum dari kejauhan.

Dan--

Seluruh kehidupan berakhir ketika titik vital mereka terpotong. Hanya itu yang dia butuhkan.

Daripada mempelajari skill serbaguna, lebih baik untuk memfokuskan diri pada hanya satu aspek; sebuah langkah yang lebih cepat dari musuh, sebuah serangan fatal yang akan selalu mengena. Karena hal itu, maka lahirlah martial art original yang kedua -- [Instant Slash]

Meskipun setelah memperoleh sabetan dengan kecepatan tinggi yang hampir tidak mungkin bisa dihindari, dia tidak berhenti.

'Sulit' bahkan bukan kata yang bisa menjelaskan latihannya. Dia mempraktekkan [Instant Slash] ratusan dari ribuan, tidak, jutaan kali, hingga kapalan di tangannya mengeras, hingga gagang katana itu mirip dengan bentuk telapak tangannya.

Dalam pencarian tanpa lelah terhadap batas, sebuah skill baru pun lahir.

Sebuah sabetan yang sangat cepat yang bahkan tidak akan meninggalkan satu tetes darahpun pada mata pedang. [God Slash], sebuah skill yang dia rasa membatasinya dengan ranah dewa.

Ketika pedang tersebut keluar dari sarungnya, sangat tidak mungkin bagi musuh bahkan untuk melihatnya datang.

Kedua martial arti ini; kewaspadaan mutlak dan sabetan bagaikan dewa, serangan yang tak bisa terelakkan digabungkan dengan [Field] dan [God Slash] membentuk suatu kartu as baginya.

Targetnya adalah mengarah kepada titik vital.

Idealnya adalah leher.

Ini adalah skill tersembunyi miliknya -- Wind of the Great Forest (Angin Hutan Besar)

Meskipun jika vampire itu tidak berdarah, memotong lehernya akan mengamankan kemenangannya.

"Apakah kamu sudah siap sekarang?"

Di depan Brain, dalam kesunyiannya dan nafasnya yang tajam, Shalltear hanya mengangkat bahunya karena bosan.

"Aku akan berasumsi kamu sudah siap dan mulai menyerang. Jika kamu mempunyai sesuatu untuk dikatakan, sekarang adalah saatnya."

Setelah sesaat--

"Aku akan menghancurkanmu."

Dengan sebuah deklarasi gembira, Shalltear melangkah maju.

Terus saja ngoceh selagi bisa. Mari kita lihat apakah kamu bisa tenang setelah aku memisahkan kepala dari tubuhmu.

Dia tidak mengatakannya dengan keras, jika dia membuka mulut, maka konsentrasinya selama ini akan sia-sia.

Shalltear, yang kelihatannya tidak perduli dengan dunia ini, mendekati Brain. Dia berjalan tanpa pertahanan sama sekali, seakan dia akan pergi piknik.

Melihat musuhnya penuh dengan kelengahan, Brain berusaha untuk tidak menyeringai.

Bodoh, hanyalah satu-satunya cara untuk menjelaskannya. Namun, dia tidak akan memberinya kesempatan.

Sambil mengaktifkan [Raise Stats], Brain menunggu musuhnya masuk ke dalam [Field]. Dia mengkonsentrasikan semuanya untuk saat ketika musuhnya itu akan masuk ke dalam jangkauan pedangnya. Monster bodoh ini berpikir bahwa mereka adalah yang terkuat, mereka semua sama saja. mereka pikir bahwa manusia itu lemah, tubuh kami rapuh, kemampuan kami tidak ada apa-apanya.

Tapi aku akan mengajarimu seberapa bahayanya meremehkanku.

Brain bersumpah di hatinya. Martial Art diciptakan agar manusia bisa melawan musuh yang jauh lebih kuat dari mereka.

-Aku akan membunuhnya dengan sekali serang.

Semakin bangga mereka, semakin putus asa mereka nantinya ketika terpojok. Jika dia tidak bisa membunuh gadis itu dengan sekali serang, tidak diragukan lagi dia akan memerintahkan pelayannya untuk bergabung dalam pertarungan. Maka situasinya akan berubah menjadi dua lawan satu, bahkan Brain tidak percaya diri mampu melawannya.

Itulah kenapa dia harus menyelesaikan ini dalam sekali pukulan.

Wajahnya tidak bergerak, Brain diam-diam mengejeknya.

Mendekat tanpa perduli apapun, dia tidak mengerti bahwa dia sedang berjalan menuju pisau Guillotine.

Hanya tiga langkah lagi, dua langkah.

... satu.

Lalu ---

-kepalamu adalah milikku!

Berpikir demikian, Brain meletakkan seluruh kekuatannya pada sabetan pedangnya.

"Tsuu!"

Nafasnya sangat tajam dan pendek.

Katana yang meledak dari sarungnya dan bisa menebas menembus udara menuju leher kosong dari Shalltear.

Kecepatannya seperti kilatan petir. Cepat sekali sampai-sampai ketika cahayanya masuk ke dalam penglihatanmu, kepalamu pasti sudah menggelinding di tanah. Jutaan kali mengulang akhirnya membuat hasil sebuah kecepatan yang sudah masuk ranah dewa.

Aku mendapatkannya.

Brain sangat yakin --

-- dengan membuka matanya lebar-lebar.

Sabetan yang bisa memotong udara dengan seluruh kekuatan di belakang itu. Jika dia berhasil menghindar, maka dia akan terpaksa mengakui bahwa musuhnya lebih kuat bahkan dalam imajinasinya yang paling liar yang muncul di depannya.

Namun -

Shalltear bisa menangkap pedang itu dengan jari-jarinya.

--Sebuah sabetan yang dekat dengan kecepatan cahaya.

Dan dengan gerakan yang halus seperti memegang sayap kupu-kupu.

Udara di sekitar Brain seperti membeku. Brain menghembuskan nafas yang besar.

"...Ti-Tidak mungkin."

Suaranya hampir tidak terdengar.

Brain memaksa tubuhnya untuk tidak merasa ketakutan hingga gemetar tidak terkontrol. Dia tidak percaya apa yang dilihatnya. Tapi tidak diragukan lagi, yang ada di pedangnya adalah dua jari, keduanya putih seperti mutiara - Jempol dan telunjuk jarinya.

Bukan hanya itu, pergelangan tangannya bengkok dengan sudut 90 derajat sambil memegang sisi yang tumpul dari pedang itu, daripada sisi yang tajam. Daripada menghentikannya langsung, di menangkapnya kecepatan katana itu dengan kecepatan -- yang bisa menyamai [God Slash] miliknya dari belakang.

Meskipun kelihatannya dia hanya memegangnya dengan enteng, tak perduli sekeras apapun Brain berusaha mendorong dan menariknya, katana itu tidak bergeming. Rasanya seperti pedang itu dirantai ke batu yang ratusan kali besarnya.

Tiba-tiba, kekuatan yang diberikan kepada katana itu naik, membuat Brain hampir kehilangan keseimbangan.

"Hmph. Cocytus juga memiliki beberapa pedang, tapi kelihatannya mereka bahkan tidak layak untuk dikhawatirkan jika ada perbedaan yang sebesar ini diantara pemegangnya."

Shalltear menatap pedang itu sambil menariknya semakin dekat dengan wajahnya.

Brain,yang tidka tahu apa yang dia katakan, merasakan kepalanya berubah menjadi putih. Itu adalah rasa putus asa karena seluruh jalan kehidupannya dibantah di depannya.

Tapi berkat itu kekalahannya di masa lalu yang masih bisa membuatnya berdiri. Mirip dengan tulang yang retak yang semakin tumbuh kuat setelah diperbaiki; pengalamannya dalam kekalahan membuat tetap kuat.

Itu adalah hal yang mustahil, tapi dia tidak punya pilihan lagi selain mengakuinya.

Gadis itu dengan mudah menangkap sabetan berkecepatan cahaya miliknya.

Brain terlihat pucat. Shalltear terkejut melihat Brain seperti ini dan mengerutkan dahi. Dia lalu menghela nafas kecewa.

"Apakah kamu mengerti sekarang? Aku bukanlah musuh yang bisa kamu kalahkan tanpa menggunakan martial art. Jika kamu akhirnya paham, bukankah sudah saatnya kamu serius?"

Mendengarkan kalimat yang keji seperti itu, Brain tidak sengaja mengeluarkan sebuah kata dari mulutnya.

"Monster..."

Shalltear memberinya senyuman murni, seperti bunga yang merekah.

"Benar sekali. Kamu baru tahu? Aku adalah monster yang keji, tenang, tanpa ampun dan manis sekali."

Dia melepaskan pegangannya pada pedang itu dan mundur ke posisi asalnya. Mungkin tepatnya satu milimeter.

"Apakah kamu sudah siap sekarang?"

Shalltear mengatakannya dengan senyuman yang ceria. Mendengar pertanyaan yang sama seperti sebelumnya, Brain terbakar amarah. Seberapa banyak dia meremehkan orang lain?

Di lain pihak, Brain bergidik saat menyadari bahwa musuhnya cukup kuat untuk bisa menghinanya, seorang manusia yang telah meraih tingkat tertinggi dalam kekuatan.

-Apakah aku harus lari?

Brain selalu mempertimbangkan keselamatannya menjadi prioritas nomer satu. Jika kelihatannya dia tidak bisa menang, rencana terbaik adalah mundur dan hidup untuk bertarung di lain hari. Bahkan sekarang, dia percaya bahwa dia masih memiliki ruang untuk bertambah kuat. Itulah kenapa selama dia selamat, hal yang harus dia lakukan adalah menjadi pemenang di akhirnya.

Tetapi meskipun dia mundur sekarang, perbedaan mendasar dari kemampuan fisik mereka sulit diatasi.

Berhati-hati untuk tidak membuat rencananya terlihat jelas, Brain memfokuskan perhatiannya kepada target barunya.

Kaki musuh; rencananya adalah membuat gerakan musuh lumpuh dan kabur dengan segala yang dia miliki.
Idenya adalah menyerang pada pertahanannya yang paling lemah, area dimana tangannya sulit menjangkau.

Setelah memutuskan serangan selanjutnya, Brain melatih matanya pada leher Shalltear dan mengembalikan katana miliknya pada sarung itu. Ketika diluncurkan, dia bisa dengan akurat membuat [God Slash] mengenai targetnya walaupun dengan mata tertutup. Maka rencananya yang jelas adalah menipu musuh dengan matanya.

"---Aku akan menghancurkanmu."

Sekali lagi, Shalltear melangkah maju dengan langkah ringan.

Pertama kalinya, Brain tidak sabar menunggunya untuk masuk ke dalam [Field]. Tapi kali ini berbeda. Jika mungkin, dia tidak ingin gadis itu berada di dekatnya dimanapun.

Betapa hatinya yang semakin melemah. Menyadari ini, Brain dengan marah mencoba untuk membakar semangatnya, tapi tidak berhasil. Sepertinya api yang terbakar di dalam dirinya sudah kehabisan bahan bakar. Dengan keadaan seperti itu, dia menunggu Shalltear masuk sambil mengawasinya dengan [Field].

Tiga langkah, dua langkah, satu langkah-

-dia masuk ke dalam jangkauannya.

Sambil menatap leher musuhnya, wajah Shalltear memasuki penglihatannya.

-Dia hanya memiliki satu target asli, pergelangan kaki kanan dalam separuh gerakan.

Dia sedikit menurunkan katana itu, masih dalam sarung pedangnya, seluruhnya untuk mencoba mempercepat dirinya meskipun hanya sedikit lebih cepat.

Setelah memecah konsentrasinya, dia memastikan bahwa kecepatan sabetan ini akan lebih cepat dari sebelumnya. Jika dirinya yang menerima ini, dia tidak akan mampu untuk menahan sabetan itu.

Ini pasti bisa!

Hampir tidak terlihat di bawah ujung rok, seakan dia akan melemparkan pergelangan kurus yang tidak cocok dengan gadis itu.-

Katana itu terlepas dari tangannya.

Setelah memperoleh kesadarannya kembali, Brain tidak tahu apa yang baru saja terjadi. [Field] yang memberinya kewaspadaan mutlak akhirnya akhirnya menyadari dan memperlihatkan katana yang bergulung di tanah, dengan tumit sepatu gadis itu mendorongnya ke tanah.

Tidak mungkin, tapi itu adalah kenyataan.

Alasan mengapa katana itu bisa terlepas dari genggaman Brain adalah karena kekuatan dari hak sepatu tinggi yang disalurkan melewati pedang.

Hanya ada satu alasan mengapa dia tidak ingin mempercayainya.

Meskipun dengan konsentrasi yang sudah mencapai batas, meskipun di dalam [Field] yang sangat dia banggakan; Brain tidak dapat melihat momen dimana gadis itu menghadang serangannya.

Dari jarak yang cukup dekat untuk menyentuhkan hanya dengan mengulurkan tangan, Shalltear memandang remeh padanya dengan tatapan yang dingin. Brain merasakan tekanan yang mluar biasa yang membuatnya merasa terancam hancur menjadi tanah.

Dia sekarang terengah-engah.

Keringat mengalir ke bawah, dia merasakan perasaan ingin muntah. Otaknya semakin pusing seakan pandangannya berputar dan melintir.

Dia sering dalam situasi dimana dia ditekan hingga batas, mereka adalah tempat yang umum. Namun, dibandingkan sekarang, mereka terlihat palsu- seperti ingatan dari tempat bermain anak-anak.

Tumit sepatuh itu melepaskan pedangnya, dan Shalltear tanpa berkata apapun melompat ke belakang.

"-Apakah kamu sudah siap sekarang?"

"!"

Tiga kali dia mendengar suara itu, lebih dari apapun, dia merasakan keputusasaan yang mutlak.

Menduga kalimat berikutnya adalah seperti biasanya "Aku akan menginjakmu sekarang", apa yang mengalir ke telinga Brain selanjutnya adalah sesuatu yang berbeda.

"Jangan-jangan...kamu tidak bisa menggunakan martial art apapun?"

Mendengar suara simpati yang dipenuhi rasa kasihan, Brain menghirup nafas dengan kuat.

Dia sudah kehilangan kata-kata. Tidak, apa yang bisa dia katakan untuk membalasnya? Itu adalah yang tadi tapi baru saja kamu kalahkan dengan mudah. Apakah dia tidak terdengar seperti badut?

Sambil menggigit bibirnya, Brain mengambil pedangnya dari tanah.

"..Apakah kamu tidak sekuat itu? Aku kira kamu akan lebih kuat daripada mereka yang ada di pintu masuk...Oh, maaf. Kelihatannya ukuran terendah yang bisa aku gunakan untuk mengukur kekuatan adalah meter. Perbedaan satu atau dua milimeter tidak mungkin bisa kubedakan."

Usahanya yang tiada henti.

Pertarungannya dengan Gazef adalah ketika dia percaya diri dengan bakatnya sendiri. Pria yang tidak berusaha kalah dari pria yang berusaha. Karena itu, kekalahan itu terukir di hatinya disalurkan ke dalam kekuatan untuk motivasi.

Kesungguhan yang diperbaharui dicurahkannya ke dalam latihan itu adalah yang menjelaskan keberadaannya. Segala sesuatu tentang dirinya, monster di depannya ini malahan mengejek hal itu.

Aku pasti terlihat sangat menyedihkan, Aku, Setelah semua monster yang aku bunuh, si bodoh yang sombong yang meremehkanku hanya karena mereka percaya diri mereka yang lebih kuat-

Sambil memikirkan hal itu, Brain memaksa menekan kutukannya sediri. Namun-

"-AAAAAAAAAHHHHHHHH!!"
<TL Note : Ketegangan berubah tidak karuan karena Brain mengamuk tidak karuan.>

Dengan sebuah teriakan, dia merangsek maju ke arah Shalltear dengan pedang yang diangkat tinggi-tinggi. Menuju Shalltear, yang sedang melihatnya dengan ekspresi aneh - Brain mengayunkan katana itu dengan memberinya beban seluruh tubuhnya.

Sebuah sabetan dengna kekuatan dari seluruh ototnya akan dengan mudah membelah manusia menjadi dua, bahkan dengan pelindung kepala. Melawan serangan kuat itu, Shalltear menatapnya tanpa bermaksud bergerak.

Kali ini pasti, dia mendapatkannya; pemikiran itu berkelebat di kepalanya.

Tapi pemikiran itu segera diganti dengan pemandangan yang tidak nyata yang terjadi sebelumnya.

Tidak mungkin gadis itu bisa menangkap ini dengan mud-

Segera setelah itu, ketakutannya yang paling besar menjadi kenyataan.

Sebuah suara berisik terdengar keras, dan sekali lagi, Brain dihadapkan dengan pemandangan yang tidak mungkin.

Jari kelingking Shalltear bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa dipercaya - sekitar dua sentimeter panjangnya, kuku jarinya menangkis sabetan Brain. Bahkan, tangannya terlihat tidak tegang sama sekali. Tinjunya sama sekali tidak tertutup, dan jari kelingkingnya dengan lembut membelokkan arah pedang Brain.

Dengan gerakan seperti main-main, dia menghentikan serangan kekuatan penuh dari Brain.

Serangan yang bisa memotong armor, menghancurkan pedang dan meluluhlantakkan perisai--

Semangatnya compang-camping, terancam hancur sebentar lagi. Dia telah berusaha sekeras mungkin untuk bisa tetap berdiri. Tangannya tetap gemetar dari benturan, dia mengalirkan tenaga kepada genggamannya, menaikkan katanya, dan menurunkannya sekali lagi. Dan sekali lagi, dengan santai ditangkis oleh Shalltear.

"Fuaaaa~!"

Seakan sengaja, Shalltear menguap dengan dramatis. Tangannya yang tidak melakukan apapun menutupi mulutnya seakan menahannya. Tatapannya sekarang menuju ke arah atap. Seluruh jejak padanya yang menganggap Brain adalah lawan telah lenyap.

Namun begitu,

Namun begitu - Katana Brain masih ditangkis.

Oleh jari kelingking tangan kiri.

"UUWWAAAAAHHHHHHHHH!"

Sebuah teriakan bertempur meledak dari tenggorokannya. Tidak, itu bukan teriakan pertempuran, itu adalah ratapan.

Sabetan sisi - ditangkis.

Sabetan diagonal dari atas kiri - ditangkis.

Sabetan vertikal - ditangkis.

Sabetan diagonal dari atas kanan - ditangkis.

Sabetan dari bawah - ditangkis.

Sabetan terbalik - ditangkis.

Seluruh serangan dari segala arah tubuhnya, seluruhnya ditangkis.

Seakan katana itu ditarik oleh kukunya.

Saat itu, Brain akhirnya mengerti.

Sebuah wujud yang berdiri di tempat yang hanya disediakan bagi mereka yang memiliki kekuatan sejati yang mutlak. Itu adalah tempat yang tidak bisa diraih oleh bakat sebesar apapun yang diberikan dewa atau kera sekeras apapun, jangankan melawan.

"Ara? Apakah kamu sudah lelah? Kalau begitu, pemotong kuku ini sangat tumpul."

Mendengar ucapannya, dia menghentikan tangannya yang terus mengayunkan katana.

Bisakah seseorang memotong sebuah gunung dengan pedang? Sesuatu yang seperti itu adalah tidak mungkin. Bocah manapun bisa tahu yang jelas seperti itu. Kalau begitu, bisakah seseorang mengalahkan Shalltear? Warrior siapapun yang melawannya akan tahu jawabanya.

Sangat tidak mungkin sekali.

Seorang manusia takkan pernah bisa mengalahkan sebuah wujud yang memiliki kekuatan lebih besar dari yang bisa dibayangkan oleh manusia. Jika, misalnya, seseorang bisa melawannya langsung, dia pasti adalah makhluk yang jauh lebih kuat dari manusia.

Sayangnya, Brain hanyalah seorang warrior yang termasuk dari salah satu manusia yang terkuat. Ya. Tak perduli seberapa besar usahanya, dilahirkan menjadi manusia itu sama halnya dengan seorang bayi yang mengayunkan sebuah tongkat.

"...Aku...seluruh usaha itu..."

"Usaha? Kalimat yang tidak ada artinya. Aku diciptakan sudah kuat sehingga usaha itu tidak diperlukan."

Brain tertawa mendengarkan kalimat itu.

Seluruh kerja kerasnya percuma. Tidak mengira dia sangat percaya diri, sangat yakin bahwa dia adalah orang yang berbakat.

Tubuhnya terasa berat, seakan diikat oleh belenggu.

"..?Ahahaha, mengapa kamu menangis? Apakah ada yang menyedihkan?"

Dia tahu Shalltear mengatakan sesuatu padanya, tapi dia tidak bisa mendengarnya. Seakan dia bicara dari tempat yang sangat jauh.

Kapalan di tangannya terbentuk karena lepuhan di atas lepuhan, Latihan mengayunkan berkali=kali dengan batang baja, itu semua tidak ada artinya. Berlari terus-terusan sambil memakai armor yang berat, pertarungan tangan kosong melawan monster yang nyaris menang, semuanya percuma.

Kehidupan yang dia jalani hingga sekarang, semuanya kosong.

Di depan kekuatan sejati, Brain tidak berbeda dengan orang-orang lemah yang dia remehkan hingga sekarang.

"Aku memang bodoh.."

"..Apakah kamu sudah puas sekarrang? Tidak apakah aku mengakhiri ini?"

Shalltear tersenyum nakal dan mendekatinya dengan jari kelingking yang diangkat. Melihat hal ini, Brain mengeluarkan tangisan. Itu bukanlah tangisan pertempuran seorang warrior yang dia tunjukkan sebelumnya, tapi tangisan yang tersedu-sedu dari anak-anak.

Brain berlari.

Dengan memutar punggungnya.

Dia tahu perbedaan kemampuan mereka, terpatri dalam otaknya. Shalltear takkan mampu menangkapnya dalam sekejap.

Namun, tidak satupun dari itu ada dalam otaknya. Tidak, dia bahkan tidak memiliki waktu untuk mengkhawatirkan tentang semacam itu. Dia hanya, dengan wajah berlinang air mata, tanpa melindungi punggungnya dan berlari ke dalam secepat kakinya bisa membawanya.

Saat ini, Brain merasakan di belakangnya ada tawa seorang gadis yang nafasnya berbau darah.

"Dan sekarang ingin bermain kejar-kejaran? Kamu benar-benar berusaha keras, ya kan? Maka aku akan menikmatinya. Ahahahaha."

Udara dingin bertiup ke aula besar. Bertiup di antara celah-celah barikade dan menyapu lebih dari empat puluh dua anggota yang tersisa dari "Death Spreading Brigade". Karena itu adalah ruangan terbesar di dalam gua, aula biasanya digunakan untuk ruang makan. Namun, saat ini, telah berubah menjadi sebuah benteng.

Terletak di bagian terdalam dari gua yang berfungsi sebagai tempat persembunyian tentara bayaran, sisi-sisi dari aula yang panjang dan sempit berderet banyak kamar: kamar tamu dan gudang senjata serta bahan makanan. Karena itu, kehilangan area tersebut artinya sisa mereka akan diambil satu persatu. Dalam kasus penyerangan, mereka akan membangun perkemahan di dalam aula dan menggunakannya sebagai garis pertahanan terakhir.

Meskipun disebut sebagai perkemahan, konstruksi bangunannya sangat tidak beraturan.

Pertama, mereka menempatkan meja sederhana di sisi-sisi mereka, lalu menumpuk beberapa kota kayu untuk menyempurnakan apa yang bisa digunakan untuk memblokade. Selanjutnya, mereka mengulurkan beberapa tali sekitar separuh dari tinggi badan pria dewasa diantara mereka dan pintu masuk aula. Tujuan mereka adalah untuk mencegah musuh merangsek ke dalam barikade.

Dibelakang pertahanan ini, hampir setiap tentara bayaran memegang crossbow dan bersiap. Mereka berbaris di tengah dan masing-masing sayap.

Meskipun jika nantinya akan menjadi pertempuran api, mempertimbangkan luas pintu masuk dan ukuran dari aula, pihak yang menunggu di aula pastinya memegang keuntungan. Jika musuh mencoba untuk merubah formasi mereka, tak perduli darimana mereka menyerang, mereka masih akan diserang dari sisi lain. Meskipun jika mereka memilih untuk menggunakan serangan area luas, kelompok itu akan tersebar dan terbukti susah untuk memberikan damage yang signifikan. Itu adalah formasi yang memanfaatkan tembakan yang bersilangan.

Meskipun dilindungi oleh pertahanan sesederhana itu, mereka masih bisa melawan pasukan besar, wajah-wajah pria itu dipenuhi rasa ketidak tenangan.

Suara gemerincing dari logam terdengar saat badan mereka gemetar akibat chainmail yang membungkus mereka.

Memang benar bahwa suhu di dalam gua tidaklah tinggi; cukup untuk merasa nyaman di musim panas. Tapi apa yang menyerang mereka adalah sesuatu yang sedikit berbeda dari rasa dingin.

Hanya sesaat sebelumnya, sebuah tawa keras terdengar dari pintu masuk. Itu adalah tawa yang menakutkan yang bergema di dinding-dinding gua, membuatnya tidak bisa diketahui apakah itu suara pria atau wanita. Akibat suara itulah rasa dingin menyerang mereka.


Pria terkuat dari "Death Spreading Brigade" - Brain Unglaus. Karena dia sudah keluar untuk bertarung, tentara bayaran itu percaya dengan membentuk barikade adalah hal yang percuma. Kepercayaan itu benar-benar hancur dengan datangnya tawa tersebut.

Musuh yang bisa mengalahkan Brain; seseorang yang seperti itu tidak ada. Bahkan sekarang, mereka masih mempercayainya.

Kekuatan Brain ada di level yang berbeda. Dia sangat mahir hingga titik dimana bahkan Knight dari Empire tidaklah bisa mengimbanginya; monster-monster juga tidak terkecuali. Dia bisa membunuh ogre dengan satu kali serangan, dan bisa melompat ke dalam sekumpulan goblin dan memotong mereka seperti memotong rumput. Dia adalah pria yang bisa mengalahkan semua anggota "Death Spreading Brigade" dalam pertarungan langsung. Mereka tidak punya pilihan lain kecuali memanggil orang seperti itu dengan orang terkuat.

Seorang pria dengan sekaliber itu kalah; implikasi yang parah.

Fakta bahwa musuh masih bisa tertawa meskipun sedang melawan Brain hanya ada satu arti.

Meskipun semuanya mengerti, tak ada yang berbicara.

Hal terbaik yang bisa mereka lakukan adalah saling melihat wajah yang lainnya dengan tidak bersuara.

Setiap mulut anggota tentara bayaran itu terdiam, dan menatap pada arah pintu masuk aula - pintu masuk gua.

di tengah tekanan yang semakin meningkat -

Suara orang yang sedang berlari bisa terdengar; pelan-pelan semakin keras.

Seseorang bisa mendengar salah satu dari mereka yang menelan ludah. Sebuah keheningan yang mendominasi aula, dan segera dipecah oleh suara bising dari anak panah yang banyak sekali dipasang pada posisi siap untuk menembak.

Seorang pria yang telah kehabisan nafas berlari melewati pintu masuk aula, di bawah tatapan oleh seluruh kelompok tentara bayaran. Masih penasaran kenapa anak panah tidak langsung meluncur ke arahnya.

"Brain!"

Pimpinan dari tentara bayaran - pimpinan mereka berteriak dengan keras. Lalu diikuti, aula yang meledak dengan sorakan. Itu adalah teriakan perayaan kemenangan mereka melawan penyusup.

Setiap orang menepuk bahu orang di sampingnya, dan berteriak memuji Brain dan bersorak kegirangan.

Namanya bisa terdengar berkali-kali. Dikelilingi sorakan, Brain menggenggam senjatanya dengan lemah di satu tangan dan berdiri di pintu masuk aula dengan ekspresi kosong. Dia tiba-tiba mencari wajah-wajah tentara bayaran di sekelilingnya.

Tidak, salah, dia sedang mencari hal yang lainnya.

Melihat Brain yang bertingkah aneh dari biasanya, sorakan di ruangan itu pelan-pelan mereda.

Brain berlari menuju barikade.

"H, Hey! Tunggu sebentar! Kita sedang membukanya sekarang!"

Seakan tidak mendengar ucapan itu, dia mendorong tubuhnya agar bisa lewat. Tidak ingin menunggu barang semenitpun, sedetikpun, Brain melewati barikade dan lari.

Dengan tampang kebingungan pada bandit-bandit di belakangnya, dia melemparkan pintu gudang dan berlari ke dalam.

"Ada apa dia tadi? Apakah dia ketinggalan sesuatu disana?"

"Entahlah? Ada yang aneh dengannya... dia terlihat sedang menangis... tidak mungkin, ya kan?"

Kepala mereka miring ke samping, menatap pintu yang baru saja tertutup; para tentara bayaran itu tidak mengerti arti dari peristiwa yang terjadi di depan mereka.

Diantara mereka, wajah seorang pria telah berubah. Dia mengerti akan situasi yang sebenarnya bahwa hanya dia, tidak, digabungkan dengan Brain; hanya ada dua orang yang menyadari situasinya. Namun, pria itu tidak punya waktu untuk memastikan apa dia benar atau salah.

Klik, dengan suasana hening, figur lai muncul dari pintu masuk.

Tidak usah dikatakan, itu adalah wajah yang tidak familiar. Jika tidak ada diantara tentara bayaran yang tahu siapa dia, itu artinya bahwa dia adalah penyusup yang bertanggung jawab terhadap kerusuhan. Keributan di aula langsung senyap.

 


Itu tidak mungkin, berarti kehadiran Brain disini memiliki arti yang benar-benar berbeda. Fakta bahwa penyusup masih hidup artinya dia telah kalah dan kabur.

Hanya ada satu penyusup, dengan tampilan yang bungkuk dan terlihat sangat menakutkan.

Sebuah tubuh yang kecil, dia terlihat seperti gadis muda. Tangannya menggantung di samping, dan dagunya membengkok ke bawah. Bagian anehnya adalah mempertimbangkan posisi dari kepala dan lehernya, lehernya terlihat setidaknya memiliki panjang tiga kali lipat orang biasa.

Dengan penampilan seperti itu, kelihatannya rambut peraknya yang panjang dan bersinar diseret di tanah, dia pelan-pelan masuk ke aula. Gaunnya yang gelap total memberikan penampilan seakan dia diselimuti oleh kegelapan.

Tak ada yang berkata apapun.

Sebuah wujud yang sangat mengerikan; rasa dingin yang bisa membuat jantung berhenti.

Pelan-pelan kepalanya bergerak. Dibalik rambut perak yang tipis yang melindungi seluruh wajahnya, dua mata merah darah menyala. Dan pelan-pelan menipis seperti jarum.

Semuanya yang hadir mengerti. Tidak -- mereka terpaksa mengerti.

Dia pun tertawa.

Gadis yang menakutkan itu mengangkat dagunya, menunjukkan wajah yang anggun. Tapi bagi mereka yang telah melihat penampilan gadis itu sebelumnya, tidak ada lagi yang lebih mengganggu. Wajahnya terlalu elegan; terlihat seperti sebuah topeng yang diukir dengan tangan-tangan seniman kelas satu.

"Hello semuanya. Aku adalah Shalltear Bloodfallen. Apakah ini adalah garis terakhir? Apakah permainannya sudah selesai?"

Gadis itu terlihat berujar omong kosong - Shalltear memeriksa sekelilingnya. Tapi tidak bisa menemukan yang dia cari, wajahnya yang cantik mengerutkan dahi. Dengan tak ada yang menyelanya, sekali lagi, suara gadis itu bergema ke seluruh aula.

"Kali ini permainan sembunyi?"

Dia tertawa nakal. Seakan dia telah menemukan sesuatu yang tidak tertahankan lucunya, gadis itu melihat ke bawah dan meneruskan tertawanya, rambutnya menutupi wajahnya.

Dengan situasi yang semakin abnormal, tentara bayaran itu menghirup nafas dengan sedalam-dalamnya. Sementara itu tawa Shalltear semakin keras dan keras.

"AhahaaaaaaahahahaAHAHAAAAAAAAAAAAHAHAHAHA!!"

Dengan tawanya yang terus semakin keras, dia mengangkat kepalanya.

Wajah yang ada dalam penglihatan mereka membuat tentara bayaran itu merasa jantung mereka seakan berhenti berdetak dan darahnya membeku.

Tidak ada wajah cantik lagi yang mereka temukan. Warna Iris dari gadis itu seperti tertumpah dan mewarnai seluruh matanya dengan warna merah darah. Giginya, yang kelihatannya putih dan cantik sesaat lalu, digantikan dengan barisan taring yang sempit dan seperti jarum mirip dengan rahang seekor hiu. Bibirnya yang memberikan kilauan merah, semakin lembut, dan tetesan air liur keluar dari sudut mulutnya.

"AHAHAAAAAAAAAAAAAAAAAAHAHAHAHAAAAAHAHA!"

Bibir Shalltear robek ke atas hingga di bawah telinganya. dan mengeluarkan sebuah tawa yang terdengar seperti banyak lonceng yang serak.

Udara di aula itu kedengarannya seakan berteriak.

Meskipun mempertimbangkan mereka yang sedang berada di dalam gua, pantulannya mengerikan. Seakan udara itu sendiri tidak bisa menahan suara bising dan berteriak kesakitan.

-gadis?

-monster?

-binatang buas?

Dia bukan salah satu dari ketiganya.

Sebuah avatar dari terror--.

Bahkan dari jarak ini, nafasnya mengalahkan bau darah yang sangat banyak. Kelihatannya bahkan udara di sekelilingnya berwarna merah dari baunya.

"Uuuuwaaaaaahhhhh!!"

Dengan sebuah teriakan, seorang tentara bayaran benar-benar ditelan terror menarik pemicu pada crossbow miliknya.

Anak panah yang menembus udara dan menancap dalam di dada Shalltear. Tubuhnya sedikit terguncang dari benturan itu.

"-Tembak!"

Terbangung atas suara pimpinan mereka, seluruh tentara bayaran menembakkan crossbow mereka dengan perasaan ingin menolak ketakutan mereka. Anak panah - anak panah itu berjatuhan dengan suara seperti hujan deras dan menusuk tubuh Shalltear.

Dari 40 yang ditembakkan, 31 diantaranya masuk ke dalam target. Setiap yang mengenai target menancap dalam-dalam ke badang sasarannya. Itu adalah hasil yang jelas, mempertimbangkan jarak ini, anak panah itu dengan mudah menembus armor besi.

Ada Empat anak panah yang menembus kepalanya, jika dia adalah manusia, luka itu akan sangat fatal.

"Kita berhasil..."

Seseorang berujar.

Itu adalah harapan yang ada di lidah dari setiap tentara bayaran yang hadir. Meskipun dia masih berdiri. anak panah itu telah menutupi tubuhnya membuat dia terlihat seperti landak. Seharusnya, dia sudah tewas. Meskipun ada sedikit yang tertancap di kepala mereka, sebuah duri yang bernama teror dan masih menggantung dalam di sudut hati mereka.

Para tentara bayaran itu, seakan didorong oleh insting menyelamatkan diri dari binatang buas yang tersembunyi, mulai memasang anak panah lagi ke crossbow mereka.

Dan- Shalltear bergerak.

Dengan gerakan berlebihan, seperti seorang konduktor orkestra yang memainkan tongkat konduktornya, dia pelan-pelan - meregangkan kedua lengannya. Seluruh anak panah yang menancap dalam di tubuhnya pelan-pelan terdoro keluar dan berjatuhan ke lantai. Tak ada setetes darahpun yang terlihat dari satupun anak panah itu. Kepala anak panah itu kelihatannya tak pernah tersentuh, seakan mereka tak perna ditembakkan dari awal.

Shalltear tertawa. Senyum yang berkembang di wajahnya benar-benar bisa disebut jelek.

Ketakutan melanda mereka, teriakan menggema di seluruh penjuru sekali lagi, anak panah dalam jumlah yang banyak menuju ke arah Shalltear.

Melalui mata, leher, terpendam dalam perut, atau yang bersarang di bahu. Bahkan hujan es, dia menganggapnya sebagai gangguan kecil, sebuah gerimis.

"IItuuuuuuu tidaaaaak akaaaaan berhaaaaaasiiiiilll. Kaaaaliiiaaan teerlaaaluuu beerusaaaahaaa keeeraaaas."

Sebuah langkah. Lalu sebuah lompatan.

Jarak atap sekitar lima meter. Sebuah lompatan yang cukup tinggi untuk menyentuhnya, dengan mudah melewati barikade dan mendarat di sisi yang berlawanan. Sepatu hak tinggi miliknya menyentuh tanah dengan suara klik, dan anak panah yang mengotori tubuhnya berjatuhan ke tanah semuanya.

Dia memutar wajahnya ke arah para tentara bayaran yang masih mengisi ulang di belakangnya.

Dan dengan satu kaki ke depan - menyerang.

Sebuah serangan tanpa sedikitpun berat badan yang menyertainya, itu hanya sebuah pukulan sederhana yang terlihat seakan dia hanya mengarahkan tangannya ke depan. Tapi kecepatan dan daya hancur dari pukulan itu memiliki kelas tersendiri.

Pukulannya dengan mudah menembus seorang tentara bayaran dan menghancurkan barikade. Dengan suara meledak, kayu-kayu itu berhamburan dan hancur, membuat kayu-kayu itu berhamburan ke seluruh ruangan.

Sebuah tirai berat keheningan memenuhi aula. Suara yang terdengar hanyalah dari pecahan-pecahan kayu yang berjatuhan ke tanah.

Mereka hanya berdiri menatap Shalltear dengan tatapan kosong, tangan mereka tidak lagi sibuk mengisi ulang senjata mereka.

Shalltear melanjutkan dengan mengarahkan jari telunjuknya ke bola darah yang melayang di atas kepalanya. Ketika dia pelan-pelan menarik jarinya, Sebuah benang darah mengikuti di belakangnya dan menggambarkan sebuah karakter di depan Shalltear. Mirip dengan sanskerta atau tulisan kuno, membentuk sebuah karakter magic.

Itu adalah sebuah skill yang disebut [Blood Pool] dari salah satu kelas Shalltear, [Blood Drinker]. Dengan menyimpan darah yang dihisap dari musuh, membuat pemakainya bisa menciptakan sebuah bola dengan energi magic yang bisa digunakan untuk hal lain nantinya. Dan juga, dengan menggambarkan kekuatannya, seseorang bisa menggunakan skill augmentasi tanpa mengeluarkan MP.

[Penetrate Magic: Implosion]

Magic level 10 - Magi dengan level terkuat meluncur, tubuh dari sepuluh tentara bayaran tiba-tiba menjadi bengkak.

Mereka bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berteriak. Ketika mereka melihat dirinya sendiri dalam kebingungan, sebuah wajah yang dipenuhi dengan teror muncul. Selanjutnya - sebuah suara balon yang pecah bisa terdengar ketika tubuh-tubuh mereka meledak.

"Ahahaahahahaahahaha! Splat! Caaaaaanttiiiiiikk seeeekkaaaaaliiii!"

Shalltear bergerak menuju kabut darah dan tertawa gembira sambil tepuk tangan.

"Uwaaaaahhh!"

Dengan tangisan, sebuah pedang meluncur dan menusuk dada Shalltear dari belakang -  menembus tempat jantungnya berada. Diputar dan dipelintir, mencoba untuk memperlebar lukanya.

"Matilah!"

Diikuti dengan sebuah pedang besar yang membelah kepalanya dan bersarang di mata kirinya.

"Terus serang, ayo kalian!"

Campuran teriakan dan jeritan, teriakan semangat mereka meledak ketika tiga orang tentara bayaran menghunuskan senjata mereka kepada Shalltear.

Lagi dan lagi, pedang mereka membelahnya. Namun, dengan pedang besar yang masih tertancap di wajahnya, Shalltear berdiri dengan tenang. Seakan serangan mereka tidak sakit sedikitpun, jangankan sakit, dia malahan tersenyum dan hanya membuat mereka semakin marah.

Setelah serangan berkali-kali, kelelahan ada tentara bayaran itu membuat mereka melepaskan genggaman senjata mereka; dengan teriakan ratapan, mereka menghujani Shalltear dengan pukulan dan tendangan. Meskipun ukuran mereka berbeda, seperti sebuah batu besar, Shalltear masih berdiri tak bergerak.

Shalltear memiringkan kepalanya dan menatap penyerangnya, tenggelam dalam lamunan. Lalu seakan dia baru saja memikirkan sesuatu yang bagus, bertepuk tangan.

"Haaaaauuuuuaaaaa."

Seakan melepaskan seluruh panas dari dalam tubuhnya, dia mengeluarkan nafas yang banyak,  bau darah yang bisa memuntahkan isi perut memenuhi sekitar.

Shalltear dengan malas menarik pedang lebar keluar dari kepalanya. Tak perlu disebutkan, tak ada goresan yang tertinggal.

Seakan dia akan mengayunkan pedangnya, tangan Shalltear berhenti di tengah-tengah ayunan. Pedang di tangannya pelan-pelan hancur berkeping-keping. Di otaknya hanya haus darah, dia teringat salah satu kelasnya - Penalty dari [Knight Terkutuk]. Dia melemparkan senjata itu kesamping dengan kecewa dan dengan malas mengusapkan tangannya.

Tiga kepala menggelinding di lantai.

"La, Lari! Cepat! Mundur!"

"Kalian takkan bisa membunuh seorang monster seperti itu!"

Berteriak berbarengan, tentara bayaran itu mulai kabur.

Salah satunya, yang telah kehilangan semangat bertarung, merasakan tangan Shalltear yang mendekat dari belakang kepalanya. Krak, Squish, dengan suara yang mirip dengan membuka paksa sebuah kerang, Bagian-bagian otaknya terbang ke setiap arah saat kepalanya meledak.

"Ahahahaaaahaha. Kenapa dengan kepalaaaaanyaaaaa? Menakutkan sekaliiiii! Ahahahaaaaahaha! Tunggu aku, semuaaaaanyaaaa! Ahahahahaaahaahaaaaa!"

Tentara bayaran itu, tidak lagi merasa ingin tahu terhadap suara di belakang mereka, disambut dengan rintangan yang mengerikan. Seperti keluar dari mimpi buruk, seorang ratu yang haus darah, tertawa dan berlari ke arah mereka dengan niat tidak akan membiarkan seorangpun bisa kabur.

Seorang tentara bayaran tersandung oleh kakinya sendiri ketika mencoba lari jatuh berlutut.

"Ja.. Jangan bunuh aku! Aku mohon! Aku takkan melakukan hal yang jahat lagi!"

Melihat pria itu, wajahnya basah oleh air mata, memeluk kaki Shalltear dan memohon ampun atas hidupnya, wajah Shalltear membentuk senyum jahat yang terlihat seperti retakan. Tentara bayaran itu langsung menyadari apa arti senyumnya, dan wajahnya yang sudah pucat menjadi benar-benar putih.

"Whooooooossssshh terbaaaaaang!"

"TIDAK! TIDAAAAAAAKK!!"

Shalltear menggenggam punggung pria itu, yang masih berusaha keras menempel pada kakinya dan melemparnya ke atap dengan mudah.

Tidak mampu menahan kekuatan luar biasa yang menariknya, tentara bayaran itu terpaksa melepaskannya. Dia menutup mata erat-erat saat dia diselimuti oleh perasaan sesaat tanpa bobot. Segera, gravitasi mengambilnya kembali dan luka meledak melalui lengannya ketika terbanting ke tanah.

"Ughhh!"

Luka adalah bukti bahwa dia masih hidup. Lega sesaat, tentara bayaran itu membuka matanya sedikit dan segera mengerti bahwa itu adalah harapan palsu. Dengan lengannya yang kurus, Shalltear menangkapnya dengan lembut sebelum seluruh tubuhnya menabrak lantai.

Dia masih belum lepas dari cengkraman monster mengerikan.

Bukan, bukan hanya itu - matanya menunjukkan mulut yang besar, menganga. Sebuah bau yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, seperti darah kental yang banyak, menusuk hidungnya.

"Ahahahahahahaha, menyenaaaaangkaaaan sekkaaaaaaliiiiii. Apakah kamu pikir kamu bisa mati dengan mudah?"

"Ja. Jangan bunuh-."

"Tidaaaaaak muuuuuungkiiiiin, sudah lama aku tidak menghisaaaaaa seseoraaaaang."

Mulutnya melebar hingga telinga, cukup lebar untuk menelan kepala pria itu seluruhnya.

Tak ada orang disitu yang tahu.

Berasal dari DMMO yang dikenal dengan YGGDRASIL, monster yang diketahui sebagai Vampir Sejati adalah wujud yang mengerikan.

Mulut mereka yang menganga cukup lebar untuk membentuk semi lingkarang, taring mereka hingga dagu. dan mata mereka bersinar merah seperti warna darah.

Kaki dan angan mereka dilengkapi dengan cakar yang setajam silet dengan panjang lebih dari satu lusin. Dari cara bergerak mereka yang mengerikan, hingga bagaimana mereka melompat ke mangsa mereka ketika menyerang, Vampir sejati adalah seperti tampilan itu.

Vampire normal adalah monster yang terdiri dari manusia dan kelelawar, dan Vampir yang asli memiliki penampilan yang bahkan lebih menyerupai monster.

Diantara kelas-kelas vampire yang berbeda, monster yang bisa disebut cantik hanyalah pelayan Shalltear, vampire bride.

Alasan mengapa Shalltear sendiri, yang merupakan Vampire sejati, memiliki penampilan yang cantik adalah karena kemampuan ilustrsi dan 3D Modelling dari anggota guild yang mendesain dia.

Shalltear yang sekarang adalah tampilan sebenarnya dari Vampir sejati. Dengan kata lain, wujud yang biasanya adalah wujud palsu.

Seperti mainan karet, seperti lintah yang besar dan jelek, Shalltear membungkus leher pria itu dengan mulut Shalltear.

Rasanya seperti jarum yang tak bisa dihitung banyaknya menusuk daging, tentara bayaran itu mendengar suara menjijikkan dan darah dalam jumlah yang besar dihisap dari tubuhnya.

Sebuah perasaan dingin melewatinya dan dia merasa seakan seluruh cairan dalam tubuhnya dihisap habis. Itu adalah perasaan yang menakutkan yang belum pernah dia rasakan.

Meskipun tentara bayaran itu ingin kabur, tubuhnya menjadi sangat berat. Dia bisa merasakan kesadarannya berangsur-angsur hilang.

Dengan seluruh darah yang dihisap habis dari tubuhnya, Shalltear melemparkan tubuh yang sekarang kering itu dan menjilati sisa darah dari sudut mulutnya dengan lidah yang panjang dan licin. Melihat tentara bayaran yang sekarang berlarian menjadi kalang kabut, tawa membentang di seluruh wajahnya.

"Masih siiiiisaaaaa sebaaaanyaaaaak iniiiii?"

Jeritan yang tak terhitung jumlah, seperti tangisan anak-anak, ratapan putus asa merobek ke seluruh gua-.

Dikelilingi oleh kesunyian yang sekarang menyelimuti aula, Shalltear menunjukkan ekspresi gembira. Bola darah yang berada di atasnya sekarang berukuran sedikit lebih kecil dari kepala manusia. Bola itu bertambah besar seiring bertambahnya jumlah darah yang dihisapnya.

"Ini sangat menyeeeenaaaaaangkaaaaan."

Mendengar teriakan gembira dari Shalltear, vampire bride yang menghadang di pintu masuk membungkuk dan merespon.

"Melihat anda dipenuhi dengan kegembiraan membuat saya juga sangat gembira, Tuanku yang hebat."

"Hidaaaaangaaaannn Utaaaamaaaaaa."

Shalltear menuju pintu yang menjadi tempat Brain menghilang, dan membukanya dengan paksa. Sekrupnya terlempar keluar, dan pintunya dirobek bersama dengan pegangannya.

Ruangan itu kecil, tapi dipenuhi dengan banyak karung dan kotak kayu.

Disana, Shalltear mencitum sesuatu yang benar-benar tidak terduga. Bercampur dengan bau tanah - bau udara segar, datangnya dari angin di luar. Di waktu yang sama dia merasakan wujud manusia yang sudah lemah. Meskipun dia sudah kehilangan diri dalam Blood Frenzy, Shalltear tak pernah sekalipun lupa misi yang dia emban.

"KUUUUAAAAAA!"

Entah itu kemarahan atau hanya raungan sederhana, Shalltear berteriak dengan suara aneh saat dia menuju ke sumber hembusan angin, menyingkirkan sampah-sampah yang menghalanginya.

Kurang dari satu meter, dibalik tumpukan kotak, ada sebuah lubang. Meskipun kebanyakan tertutup dengan tanah, ada retak kecil disana dimana udara segar mengalir dengan bebas melewatinya.

"Mereeeeekaaaa puuunyaaaaa piiintttttuuuuu keeeeluuuuuaaaarrr!"

Vampir rendahan tidak bohong; dia hanya idak tahu tentang keberadaan pintu keluar tersembunyi ini.

Apa yang paling diketahui oleh kebanyakan orang adalah meskipun dibawah pengaruh magic, seseorang tidak bisa mengeluarkan informasi yang dia tidak ketahui dari awal. Jika seseorang diberitahu sebuah kebohongan lalu mempercayainya sebagai kebenaran, dia akan menyebarkan informasi yang salah ketika ditanya.

Tidak seperti Mare, Shalltear tidak memiliki kemampuan apapun yang bisa membuatnya bisa menggerakkan tanah. Meledakkannya dengan Shockwave membawa resiko lubang itu akan runtuh sendiri.

Dia sudah kabur.

Kebenaran membuatnya tersadar. Shalltear, yang otaknya berwarna merah, segera menyadari bahwa dia telah gagal melakukan misinya.

Kemarahan muncul dari wajah Shalltear.

Mengapa, mengapa serangga manusia ini tidak bergerak menurut prediksinya, Shalltear Bloodfallen, Guardian Floor dari Nazarick?

Dia akan memberikan kehidupannya yang sia-sia demi kebaikan Nazarick, mengapa dia tidak menyadari dan gembira karena itu?

Saat Shalltear menggeretakkan giginya, vampire bride yang seharusnya berdiri di luar gua berbicara kepadanya.

"-Shalltear-sama!"

Kemarahannya menyala kepada pelayan yang berani melepaskan tugasnya untuk mengawasi tanpa perintah. Penglihatan Shalltear menjadi merah sesaaat saat dia mempertimbangkan untuk menghancurkannya saat itu. Dengan usaha yang besar, dia menenangkan diri; Penting baginya untuk mendengar apa yang ingin vampire bride sampaikan, itu pasti penting.

"Adaaaaaa aaaaapaaaa?"

"Sekelompok orang dalam jumlah besar sedang menuju kemari"

"Huuuuuuhhh? Suuurrrviiiivoooorrr? Maaaaaakaaaa kiiiiitaaaa haaaaarusss menyaaaambuuuuutt mereeeekaa?"

Shalltear melompat ke depan. Seperti burung yang terbang menembus kegelapan, dia mendarat dengan satu kaki di atas barikade di pintu masuk gua itu. Pelayannya, dua orang vampire bride, pelan-pelan mengikutinya kembali ke pintu masuk.

Shalltear menunjukkan sebuah senyuman ketika melihat targetnya.

Dia melihat sebuah kelompok yang dibentuk erat.

Memimpin di depan adalah tiga orang pria yang kelihatannya adalah warrior. Masing-masing perlengkapan mereka berbeda satu sama lain, tetapi bahkan yang terlihat paling jelek dari kelompok itu memakai armor yang ditempa dengan menumpuk sisik-sisik bersamaan: Scale Armor (Armor Sisik), setiap orang menggenggam sebuah senjata di satu tangan dan membawa perisai di punggungnya.

Di belakang mereka ada seorang warrior wanita berambut merah yang mengenakan armor yang terikat. Di belakang kelompok itu, dilindungi oleh mereka yang ada di belakang, berjalan seorang pria yang memakai pakaian tipis dan memegang tongkat; kelihatannya adalah seorang magic caster. Disampingnya, berjalan beriringan adalah seorang magic caster faith based yang mengenakan pakaian seorang bishop menutupi armornya. Pria itu mengenakan sebuah liontin di sekeliling lehernya dengan bentuk lidah api.

Kelompok yang berjumlah enam orang itu, meskipun terkejut dengan kehadiran Shalltear yang tiba-tiba dari dalam gua, tidak menjadi kebingungan dan mempertahankan kewaspadaan mereka. Itu adalah reaksi yang lahir dari pengalaman mereka.

"Tidaaaaaak buruuuuukk."

Tidak buruk juga membunuh manusia yang selemah tahu, tapi memiliki musuh yang kelihatannya bisa memberikan perlawanan jauh lebih menarik.

Shalltear tersenyum tidak sabar ketika dua mata merah darahnya berkilau dengan harapan.

"Dia berbicara...!"

Sebuah tampang terkejut berkelebat di wajah magic caster, tapi itu hanya sebentar. Setelah ketenangannya langsung kembali.

"Musuh mungkin adalah seorang vampire! Hanya perak dan senjata magic yang efektif. Kemenangan tidak mungkin! Jangan melihat ke matanya!"

Dia meneriakkannya dengan suara lantang dan bisa terdengar di seluruh cekungan.

Dengan hanya meneriakkan informasi yang penting, respon dari anggota yang lain adalah cepat tanggap. Ketiga warrior yang ada di depan mengambil perisai besar dan membuat posisi bertahan. Mereka tidak memandang wajah Shalltear, namun melatih mata mereka untuk memandang dada atau perut. Warrior wanita di belakangnya mengambil masing-masing senjata mereka dan mulai melapisinya. Sebuah bau yang tidak sedap bertiup ke hidung Shalltear.

Perak Alkimia.

Cairan spesial yang dibuat oleh seornag Alchemist; ketika dilapiskan pada senjata, membentuk selaput magic dipermukaan pedang dan memberinya efek yang mirip dengan perak.

Senjata Perak sangat mahal. Bukan hanya itu, mereka lebih cepat rusak daripada senjata yang dibuat dengan besi dan tidak bisa bertahan lama. Itulah kenapa kebanyakan para petualang memilih untuk membeli caira alkimia sebagai gantinya, menggunakannya ketika dibutuhkan saja.

Dengan senjata mereka yang sekarang ditambahkan dengan properti perak, kelompok itu mulai mundur.

Bahkan cara mereka mundur sangat menakjubkan. Seluruh kelompok bergerak bersama-sama, gerakan mereka sangat teratur dan sinkron.

"Tuanku, Dewa Api--:"

"Percuma! Fokuskan pada magic pertahanan!"

Setelah menghentikan bishop itu menggunakan liontinnya, magic caster tersebut mulai fokus merapalkan mantranya ke depan kelompok. Uskup itu juga mengikuti dan mulai merapal nyanyiannya.

Meskipun berbeda kelas, pada umumnya, bishop menggunakan kekuatan Dewa untuk menekan, menghancurkan dan mendominasi makhluk seperti angel dan demon. Namun, itu adalah metode yang hanya efektif pada musuh yang menggunakan energi magic yang jauh lebih rendah daripada yang merapalkannya. Dengan kata lain, baru saja bishop itu mencoba untuk merapal mantra untuk menekan undead. Magic caster langsung memahami perbedaan kekuatan antara monster dan bishop itu, dan bilang padanya untuk tidak membuat energi dan menggunakannya untuk sesuatu yang lebih efektif sebagai gantinya.

Setelah mengetahui pemimpin mereka dari aliran di dalam kelompok, Shalltear memutuskan untuk mengikuti perintah dan menangkap mereka. Tapi hatinya masih diselubungi dengan hasrat untuk membantai, untuk melihat lebih banyak darah.

Dia ingin membunuh, menghancurkan mereka di bawah kakinya, untuk merobek anggota tubuh mereka, untuk menyiram dirinya dengan darah. Dia tidak tahan itu. Nafasnya menjadi tidak teratur dan mulutnya mulai berbusa.

[Anti Evil Protection]

[Lesser Mind Protection]

Satu demi satu, dua orang magic caster itu mengaktifkan mantra bertahan kepada warrior di depannya.

Shalltear, yang sudah kehilangan kesabaran karena gembira, meskipun sedikit, merasakan sesuatu yang mirip dengan kekaguman. Meskipun itu adalah yang paling dasar -- level 1, mantra yang mereka gunakan adalah yang paling cocok dengan situasi ini. Mereka berbeda dari tentara bayaran yang menyerang dengan sembrono, dari warrior bodoh yang bahkan tidak bisa menggunakan martial art dan menyerang sendirian.

Meskipun begitu, pada akhirnya itu adalah usaha yang percuma, begitulah: sia-sia. Melawan perbedaan kekuata yang sangat besar, semua itu tidak ada artinya.

Menghadapi perlawanan yang lucu itu, sedikit pertahanan diri yang membuat Shalltear masih di ujung kesadaran telah terpotong.

"Tidak lagi... Aku tak biiiiisaaaa! Aku tak biiiisaaaa menuuungguuuu laaagiiii!"

Dengan sebuah suara yang tali kekangnya sudah terpotong, Shalltear menggerakkan kakinya.

Itu adalah langkah yang sangat amat ringan. Tapi bagi mereka yang melihatnya, itu terlihat lebih cepat daripada badai. Seperti itu, tangannya menusuk ke depan.

Menembus perisai, menghancurkan armor, mengabaikan pelindung magic, membelah kulit, daging dan tulang; tangan yang di kelilingi oleh jantung yang berdetak dan dalam sekejap - mengoyaknya keluar. Mengabaikan figur warrior yang roboh, Shalltear menunjukkan sebongkah daging yang berwarna merah dan berubah-ubah kepada kelompok itu untuk dilihat. Wanita Warrior tersebut mengeluarkan jeritan kecil, dan wajah bishop seakan menatap sesuatu yang sangat dibenci.

Senang mendapatkan reaksi yang dia inginkan, Shalltear tertawa kecil karena gembira dan melepaskan magic miliknya.

[Animate Dead]

Warrior yang telah kehilangan jantungnya pelan-pelan berdiri. Dia telah menjadi zombie, monster undead kelas terendah. Namun, tidak berhenti disana.

Shalltear menjilat jantung di tangannya dan menaruhnya ke dalam bola yang sedang melayang di atas kepalanya. Ketika dia menariknya kembali, sebagai gantinya adalah sekumpulan darah yang berdenyut- seakan meniru tampilan dari jantung sebelumnya. Dia melemparkan segumpal darah itu ada zombie.

Seperti serangga, gumpalan itu berubah dan berputar, masuk ke dalam tubuh zombie. Degup. Dalam sekejap, tubuh itu gemetar. Setelah beberapa ldakan, zombie itu pelan-pelan mulai berubah.

Seakan seluruh cairan di tubuhnya mengering, kulitnya berubah kering dan retak. Kukunya memanjang beberapa kali, dan taring yang tajam terbentuk di giginya. Undead yang berdiri tidak lagi seorang zombie.

Melihat kelahiran dari vampire rendahan, suara terkejut dari para petualang terdengar bersamaan.

"Tidak mungkin! Aku tak pernah mendengar vampire yang bisa dengan mudah merapal mantra level tinggi seperti itu!"

"Kamu sedang melihat salah satunya sekarang! Tenangkan kepalamu!"

"Tapi!"

"Mundur juga tidak mungkin! Kita harus bertarung!"

"Mengerti!"

Saat bishop itu menjadi kacau, seorang warrior mengangkat senjatanya dan maju menyerang Shalltear. Warrior yang tersisa menyerang vampire rendahan, yang  dulu adalah sekutunya.

"Tuhanku, Dewa Api. Hancurkan makhluk keji di depanmu!"

Sebuah kekuatan suci yang tidak terlihat bersinar dari liontin bishop di seluruh penjuru. Tak perlu dikatakan lagi, Shalltear benar-benar tidak terpengaruh.

"Ahahahahaha!"

Salah seorang pedang warrior menusuk menembus vampire rendahan. Gerakannya menjadi lamban akibat energi suci bishop itu. Karena dia belum berubah secara penuh, masih sebagian berupa zombie dan itulah kenapa serangan bishop tersebut terbukti efektif. Meskipun mengetahui ini, faktanya bahwa makhluk miliknya kalah dari kekuatan dewa yang sepele sudah cukup mengyinggung Shalltear.

Sambil menahan pedang yang datang ke arahnya dengan jari kelingkingnya, Shalltear menatap tidak senang kepada bishop yang berdiri di belakang kelompok.

"Muuuuuuuunnndduuuuuuurrr!"

Dia dengan malasnya menjentikkan jari tangan kanannya. Gerakan sederhana itu menyabet leher warrior dan akhirnya dia roboh, darah mengucur dari lukanya.

"[Lesser Strength Increase]"

Mantra yang kuat diaktifkan kepada warrior terakhir. Vampire rendahan yang gerakannya menjadi lamban melawan warrior itu ditambahi magic yang kuat. Gelombang pertempuran antara mereka sekarang sedikit berubah lebih unggul warrior itu.

Kelihatannya mereka sedang menikmatinya jadi tidak sopan jika aku sela. Lagipula masih banyak tersisa untuk diburu.

Dengan rasa haus darah yang masih berkobar, Shalltear memikirkan hal itu di kepalanya dan memilih menatap bishop.

Seakan ingin menghadang penglihatannya, warrior wanita itu berdiri di depannya, dengan senjata besi.

Hampir terlihat manis. Meskipun jelas terlihat ketakutan, penampilannya yang kuat saat dia menggenggam pedang - itu seperti perlawanan yang menyedihkan dari seekor binatang kecil. Shalltear merasa perut bawahnya bertambah panas saat dia menjadi terpesona dalam kesenangannya pada tubuh.

Suara apa yang akan dia keluarkan jika aku gigit jari-jarinya? Seharusnya aku potong telinganya dan memberinya makanan dengan itu. Tidak, sebelum melakukan apapun, aku akan meminum darahnya. Lagipula ini adalah mangsa wanita pertama sejak aku bepergian keluar.

"Pencuci muluuuuuut, ditemukaaaaaan"

Setelah mengumumkannya seperti itu dengan mulut yang menganga lebar, dia melompat.

Shalltear dengan mudahnya melompat melewati wanita itu, dan mendarat langsung di depan bishop dan magic caster.

Sebelum bishop tersebut bisa bergerak, Shalltear dengan lembut menggenggam tangannya yang digunakan untuk memegang lionting dan menghancurkannya. Menjadi pipih akibat cengkraman yang sangat kuat, tulang-tulang di tangannya benar-benar hancur. Tak punya tempat lain untuk keluar, kulit dan dagingnya meloncat keluar dari telapak tangan Shalltear.

"GAAAAAAAAHHH!!"

Puas dengan jeritan bishop, Shalltear dengan lembut memberinya sebuah hadiah; dia melepaskannya dari rasa luka.

Dengan sebuah ayunan tangan, darah muncrat dari leher tanpa kepala bishop itu. Shalltear mengangguk gembira saat dia melihat darah yang dihisap ke dalam bola di atas kepalanya.

Tiba-tiba, sebuah pedang menyela pemandangan, menembus Shalltear dari belakang. Tapi seperti pohon raksasa, dia tidak bergeming. Seakan pedang yang keluar dari dadanya hanyalah gangguan remeh.

"Tidak mungkin... ini tidak berhasil! Meskipun ini adalah perak?!"

Melihat Shalltear yang tidak terganggu oleh pedang yang jelas-jelas menembus dadanya - tepat pada jantung, wanita itu menjerit.

Semenit yang lalu, warrior wanita itu tidak memiliki senjata perak. Dia pasti mengambil senjata warrior yang tewas itu sebagai gantinya.

Informasi yang diteriakkan oleh magic caster itu tidak salah, namun, itu juga tidak seluruhnya benar pula. Sebuah senjata perak sendiri percuma melawan Shalltear. Meskipun ditempat dengan silver, dia harus ditambahkan dengan magic yang kuat, atau dibuat dari logam yang spesial. Mengabaikan wanita di belakangnya, Shalltear menatap magic caster yang masih terkejut. Mulutnya bergerak cepat.

"[Magic Arrow]"

Setelah magic diaktifkan, dua buah anak panah cahaya meluncur menuju Shalltear dan -- hilang dalam sekejap.

Skill Shalltear - Menetralkan Magic telah aktif. Memang tidak sempurna, dan bisa ditekan oleh mereka yang memiliki magic yang luar biasa kuat. Tapi dengan perbedaan yang jauh dalam kekuatan seperti ini, mantra itu bisa dengan mudah dinetralkan.

Dengan kata lain, itu artinya magic caster itu tidak memiliki satupun cara untuk melawan Shalltear.

"Memboooooosaaaaankaaaannn"

Kehilangan rasa tertarik, Shalltear mengayunkan tangannya dan memenggal kepalanya seketika itu juga.

Memutar pandangannya, vampire bawahan dan warrior itu masih berkutat dalam pertarungan yang panas.

Shalltear mengulurkan tangannya untuk meraih dua kepala di tanah. Menggenggam keduanya pada rambut, dia mengeluarkan ekspresi bosan saat dia melemparkan keduanya ke arah mereka yang sedang bertarung. Sebuah benda yang beratnya sekitar enam kilogram, dilempar dengan kecepatan yang menakutkan, hasilnya jelas sekali. Keduanya roboh ke tanah.

Shalltear yang sementara itu mengabaikan wanita tersebut, warrior wanita - pencucui mulut yang tidak berhenti menebas dan menusuk tubuh Shalltear.

Tapi percuma.

Melawan Shalltear, yang bahkan tidak merasa geli, jangankan perih dari serangannya, itu adalah tindakan yang sia-sia. Satu-satunya hal yang dia lakukan adalah membuat gaunnya penuh dengan lubang. Tapi meskipun begitu, karena baju yang dia kenakan adalah kualitas magic, langsung membetulkan diri selama Shalltear sendiri masih baik-baik saja.

"Kalaaaau begittuuuuuuu! Pencuciiiii muluuuuuttt! Waktunya makaaaaannn!"

Sebuah tawa seperti anak-anak yang menyimpan makanan favoritnya untuk terakhir - meskipun begitu, terlihat menjijikkan, dan terdengar kejam. Shalltear berputar mengarah ke wanita yang menyerang punggungnya dan saling bertatap.

Saat pandangannya bertemu dengan mata merah darah Shalltear, warrior wanita itu menyadari bahwa dia adalah yang terakhir tersisa. Dengan mata berkaca-kaca, dia mengambil langkah mundur, lagi dan lagi. Lalu, dia berusaha mencari-cari sesuatu dari kantung di pinggangnya, mencari sesuatu.

Dunianya telah diwarnai dengan merah, Shalltear menatap usaha wanita itu dengan ekspresi santai. Dia merasa sedikit ingin tahu atas apa yang wanita itu coba lakukan.

Dia dengan cepat mengeluarkan sebuah botol dan melemparnya.

Shalltear menatap botol yang berputar di udara dan menyeringai.

Meskipun wanita itu melemparkannya dengan seluruh kekuatannya, dalam mata Shalltear, itu terlalu pelan. Sangat mudah dihindari. Namun, sikap arogan yang kuat tidak memperbolehkannya. Dan dengan begitu, Shalltear ingin melihat; ekspresi wajah wanita itu untuk terakhir kalinya, senjata rahasinya dihancurkan.

Hasrat untuk membunuh sudah sangat kuat.

Tapi Shalltear menahan diri. Semakin lama dia menunggu, semakin besar kebahagiannya yang akan dia rasakan nantinya.

Saat Shalltear melihat botol yang terlempar kepadanya, diapun bengong.

Holy Water (Air Suci)? Ataukah api cair, percuma saja. Perlawanan yang sia-sia seperti itu. Seperti yang kuduga, aku akan pelan-pelan meminum darahnya dahulu, cukup agar dia tidak mati. Jika dia seorang perawan, tidak apa jika aku meminumnya hingga dia mati. Jika tidak, aku akan bermain dengannya sedikit, lebih baik tanpa harus menumpahkan darahnya.

Setelah memutuskan, Shalltear dengan malas menghancurkan botol itu dengan satu tangan. Benturanyang disebabkan cairan merah itu keluar dari mulut botol, tertumpah ke kulitnya.

Dan lalu - sedikit rasa sakit.

Di dalam kepala Shalltear tiba-tiba berubah menjadi putih. Haus darah yang sebelumnya mengamuk di dalam tubuhnya tidak lagi ditemukan.

Dia menatap sumber sakitnya dengan tatapan kosong; tangan yang menahan botol itu. Dari tempat cairan itu menyentuhnya, sebuah bau yang kuat keluar, bersama dengan asap yang kecil.

Shalltear merubah tatapannya ke tanah. Botol yang tergeletak di tanah dengan tutupnya yang terbuka, mengeluarkan aroma aromatik. Itu adalah bau yang sangat dia ketahui.

Itu adalah botol potion yang banyak digunakan di Nazarick.

Cairan itu sendiri kelihatannya adalah Potion Healing Minor. Undead akan terluka oleh item untuk menyembuhkan. Itulah alasan mengapa kulit Shalltear sedikit meleleh.

"Tidak mungkin!"

Suara orang marah kelihatannya mengguncang udara.

"Bawa wanita itu kepadaku hidup-hidup!"

Merespon perintahnya, vampire bride yang sedang berdiri di samping sampai sekarang akhirnya bergerak. Sementara Shalltear sedang berpikir dalam-dalam, wanita itu menggunakan kesempatan itu untuk berputar dan kabur. Dua orang vampire cepat-cepat menutup jarak dan menggenggam lengannya dari kedua sisi.

Meskipun si wanita berusaha keras, perbedaan kekuatan antara seorang manusia dan vampire sangat berbeda. Dengan mudahnya, dia diseret di depan Shalltear.

"Lihat mataku!"

Shalltear menyentuh dagu wanita itu dan memaksa matanya untuk melihat mata Shalltear. Tak perlu dikatakan lagi, Shalltear menahan kekuatannya, jika tidak dia pasti tidak sengaja merobek dagunya dan berakhir pada situasi yang memalukan. Meskipun Shalltear tahu bagaimana menggunakan magic faith based, sebagai seorang undead, dia tidak bisa menggunakan mantra healing biasa.

Dipaksa untuk melihat, mata wanita itu segera buram, dan tampang ketakutan pada wajahnya digantikan dengan ekspresi bersahabat. Itu adalah efek dari mantra charming [Demon Eyes of Attraction]. Merasa bahwa dia sudah dibawah pengaruh mantra, Shalltear melepaskan genggaman tangannya pada wanita warrior itu.

Dia memiliki beberapa pertanyaan untuknya.

Tapi hanya ada satu yang dia butuhkan untuk ditanyakan sebelum hal lainnya.

Shalltear mengambil botol potion yang terjatuh ke tanah dan menggenggamnya di depan wanita warrior itu.

"Darimana kamu mendapatkan potion ini? Dari siapa, dimana!"

"Di dalam kedai, seorang pria dalam balutan armor hitam memberikannya padaku."

Mendengar kalimat yang diucapkan seakan itu tidak penting, seluruh tubuh Shalltear berubah membeku.

"..Tunggu...Tidak, itu tidak mungkin....tapi..yang mana... kota yang mana?"

"Kedai di kota E-Rantel."

Shalltear terkejut, seakan dunia terguncang. Pria dalam armor hitam; itu karena dia merasa tahu siapa yang dimaksud oleh wanita ini.

Jika itu persoalannya, masalah yang lebih besar adalah, apa alasannya wanita ini bisa memiliki potion tersebut. Sulit dibayangkan jika dia hanya memberinya tanpa alasan.

"Tidak mungkin..."

Apakah dia juga memberikan beberapa instruksi yang tidak diketahui kepada wanita ini? Atau mungkin dia memberinya potion untuk membentuk sebuah koneksi, atau mungkin untuk memperkuat hubungan pertemanan mereka.

Tampilan berwibawa dari Ainz Ooal Gown, Penguasa mutlak dari Great Tomb of Nazarick, muncul di pikirannya, kemungkinan bahwa dia mengacaukan rencana yang dia buat terbakar di hatinya.

"Mengapa kamu kemari?! Apa tujuanmu!"

Shalltear tidak lagi menggunakan pura-pura lembut dengan ucapannya. Setelah dia sadar bahwa memperoleh informasi sebanyak mungkin menjadi prioritas utamanya, Shalltear menatap wanita itu dengan mata merah, dengan perasaan yang berbeda seluruhnya dari sebelum ini.
TL Note : Shalltear biasanya berbicara seperti Geisha dengan memakai tutur kata yang halus. Disini dia sudah tidak menggunakan tutur kata yang halus lagi.

"Ya. Tujuan utama kami adalah untuk berpatroli di jalan ini. Tapi ketika kami mendengar informasi bahwa persembunyian bandit berada di dekat sini, kami datang untuk menyelidikinya. Karena kelihatannya ada sesuatu yang terjadi, kami membagi tim menjadi dua dan kemari untuk melakukan misi pengintaian."

"Kalian membagi tim menjadi dua?"

"Ya, karena kami tidak tahu berapa banyak bandit disini, pekerjaan kami adalah untuk mengumpulkan perhatian mereka dan memancing mereka ke dalam jebakan yang telah disiapkan oleh lainnya."

"Jadi ada tim yang lain."

Memikirkan bahwa ada gangguan lain yang muncul, Shalltear mengeluarkan bunyi klik pada lidahnya.

"Jadi, berapa banyak jumlahmu?"

"Termasuk saya, mereka yang kemari ada tujuh, dan--"

"Apa? Tunggu, tujuh? Bukan enam?"

Tatapan Shalltear berpindah ke arah mayat-mayat yang ada di tanah. Tiga Warrior, Satu Bishop, Satu Magic Caster dan wanita ini; jumlahnya tidak cukup.

Berhadapan dengan mata yang dipenuhi dengan pertanyaan, warrior wanita itu merespon dengan santai.

"Ya. Jika keadaan darurat, kami memiliki ranger yang akan kembali ke E-Rantel untuk meminta bala bantuan."

"Apa...?"

Suara Magic Caster yang sebelumnya memang aneh. Benar sekali, suaranya cukup keras sehingga seluruh cekungan bisa terdengar.

"Kuh!"

Mata Shalltear melebar saat dia melompat keluar dari cekungan dengan kecepatan yang lebih cepat daripada angin. Meskipun dia telah memanjat hingga puncak dan memindai keadaan sekelilingnya, bahkan matanya yang bisa melihat di kegelapan itu tidak bisa menembus pohon-pohon yang ada. Meskipun dia memfokuskan telinganya, suara yang hanya bisa dia dengarkan adalah gesekan antara dedaunan yang disebabkan oleh angin.

Shalltear tidak memiliki kemampuan untuk mendeteksi atau magic untuk mencari. Dalam situasi ini, mencari seorang manusia di hutan ini adalah tidak mungkin.

"Sialan!"

Dia berteriak marah.

Dia kehilangan mereka. Jujur saja, itu karena dia yang terlalu santai. Dengan ini - jumlahnya jadi dua. Dia menggeretakkan gigi-giginya.

"Datanglah, saudaraku!"

Di bawah kaki Shalltear, bayangannya mengeliat, dan beberapa serigala menonjol ke depan. Tidak usah dikatakan, serigala ini bukanlah serigala biasa. Bulu gelap mereka sehitam langit malam, dan mata merah mereka berkilauan dengan sifat licik dan kejam.

Monster level 7, Vampire Wolf.

Meskipun Shalltear bisa memanggil banyak monster dengan kemampuannya [Raise Kin], hanya serigala-serigala ini yang bisa melacak musuh.

"Ikuti dia. Bunuh setiap manusia di hutan ini!"

Sebuah raungan seperti perintah, sepuluh serigala vampir berlarian bersama ke dalam hutan.

Meskipun ketika Shalltear melihatnya dari belakang, dia merasa bahwa kesempatan sukses mereka sangat rendah. Sebuah gambaran Aura melayang di benaknya. Mungkin saja dia memang tidak berada di level yang sama, seorang ranger mungkin akan memiliki beberapa trik tersembunyi ketika digunakan untuk melacak jejak.

Dengan kata lain, perlu diasumsikan bahwa pria itu sudah kabur dan dia perlu memikirkan langkah selanjutnya. Shalltear segera kembali ke tempatnya semula dan bertanya kepada warrior wanita, seakan dia akan menyerangnya.

"Pertama, apakah ada orang selain dirimu yang menerima potion dari pria dalam armor hitam?"

"Tidak, tak ada."

"Okay! Lalu pertanyaan selanjutnya. Apakah ada kemungkinan bahwa ranger itu akan bergabung dengan tim yang tersisa?"

"Tidak. Di dalam situasi dimana tim kami akan menghadapi kemungkinan terbesar dihancurkan, tugasnya adalah mengabaikan tim dan kembali ke kota. Ini adalah jalan dengan kemungkin terbesar keselamatan kami."

Itu adalah persiapan yang mempertimbangkan baik kemungkinan kalah dan melihat keadaan sekeliling mereka. Karena hal ini, akan berlebihan jika dikatakan bahwa Shalltear sudah terpojok. Menyadari ini, dia terbakar kemarahan.

"Manusia lemah, selalu memiliki trik-trik licik-. Jika aku mendapatkan izin untuk menaklukkan rasmu, aku akan memastikan kalian diperlakukan seperti ulat sesuai dengan kalian!"

Terbakar amarah tidak merubah kenyataan situasi sekarang ini.

Sudah hampir pasti bahwa keberadaan vampire akan diberitahukan ke kota.

Memang tidak diketahui apakah ranger yang lari bisa melihat bagaimana mukanya. Ini adalah tengah malam, dan juga di sudut cekungan. Susah sekali membayangkan penglihatan manusia akan mampu untuk mengetahui penampilannya di bawah kondisi semacam iut.

Namun begitu -

"Sialan!"

Meneriakkan sumpah serapah, Shalltear jatuh kedalam lamunan.

Perintahnya dari Ainz--

Targetmu kali ini adalah kriminal-kriminal. Tipe orang yang tidak merugikan siapapun jika mereka lenyap.

Jika ada dari bandit yang kamu temui mampu menggunakan martial arts skill atau magic, kamu harus menangkap mereka bagaimanapun caranya, meskipun kamu harus menghisap darah mereka dan memperbudaknya. Jika kamu menemukan kriminal apapun yang punya informasi tentang urusan dunia atau perang, mereka juga, kamu harus tangkap. Dan juga, jangan membuat kegaduhan. Jika gerakan Nazarick diketahui, ada kemungkinan bahwa itu akan mengganggu rencana kita di masa depan.

-- adalah seperti itu.

Lalu dia sudah menerabas banyak arahannya.

Shalltear menekan hasrat untuk mencakar rambutnya.

"Masih okay, masih okay, masih okay."

Dia mengulang kalimat itu, seakan mau menghipnotis dirinya sendiri.

Meskipun informasi tentang keberadaan vampire tersebar di kota, nama atau apapun yang menyangkut Nazarick kemungkinan tidak termasuk di dalamnya.

Sekali lagi, Shalltear jatuh kedalam pusaran lamunan.

Masalah selanjutnya adalah, dengan asumsi sama seperti sebelumnya, bagaimana menghadapi wanita ini.

Meskipun dia terkena mantra charm, ingatannya tidak akan sepenuhnya hilang. Pilihan yang paling aman adalah membunuhnya. Masalahnya dengan metode seperti itu adalah dia tidak tahu maksud dari tuannya yang memberikan potion itu kepada wanita tersebut.

Jika dia memberinya dengan sebuah tujuan di angan, maka membunuhnya disini akan membuat masalah bagi tuannya. Itu sangat berbahaya.

Jika dia membiarkannya kembali hidup-hidup, yang lainnya akan bertanya mengapa hanya dia yang diampuni. Lalu, seluruh informasi - terutama penampilan Shalltear, akan terbongkar. Sementara mungkin itu tidak akan mengakibatkan masalah yang terlalu besar saat ini, belum diketaui apa yang akan terjadi di masa depan.

Cara terbaik adalah menghubungi tuannya, tapi Shalltear tidak tahu bagaimana menggunakan mantra [Message].

Lalu apa yang seharusnya dia lakukan sekarang --.

"Ahhhh... aku pasti akan diomeli oleh Ainz-sama...."

Bergumam dengan suara yang cukup lirih sehingga tidak ada yang mendengar, Shalltear memegang kepala dengan kedua tangannya.

"Jika saja aku tidak memiliki Blood Frenzy... Tidak, itu berarti kurang ajar terhadap penciptaku, Peroroncino-sama. Jika saja aku bisa menekannya...."

Sudah telat untuk menyesalinya. Tak perduli bagaimana dia akan menangani warrior wanita itu -- itu tidak masalah sekarang, sebuah omelan sudah tidak terelakkan. Satu-satunya hal yang tersisa adalah memutuskan cara terbaik untuk meminimalisir kerusakan.

'lebih buruk' daripada 'paling buruk'.

Shalltear memikirkannya berulang-ulang, mengampuninya akan membuat opsi lebih banyak. Membunuhnya tidak akan bisa dikembalikan, tapi jika dia membiarkannya pergi, maka ada yang bisa dilakukan dengan itu.

Shalltear sudah memutuskan, salah jika mengatakan dia sedang membohongi diri.

"Namamu?"

"Brita"

"Okay... aku takkan melupakannya!"

Shalltear menjauh dari wanita yang bernama Brita itu. Dia lalu memanggil dua orang pelayannya, vampire bride.

"Kita akan mengumpulkan semuanya disini dan mundur."

Dia khawatir apakah ada cukup banyak waktu untuk menjarah. Namun dia harus mempertaruhkannya agar yang lainnya mudah dibohongi bahwa ini adalah serangan pencurian. Karena dia sudah gagal, setidaknya yang bisa dia lakukan adalah menyebarkan informasi palsu.

"Shalltear-sama, bagaimana kita harus menangani wanita ini?"

Shalltear memberikan tatapan lurus pada wanita yang berdiri di jarak yang agak jauh.

"Biarkan dia seperti itu."

"Tidak, maksudku wanita yang lain."

"..Apa? wanita lain apa?"

"Ya, Shalltear-sama. Kami memeriksa ke dalam gua untuk menemukan yang selamat dan menemukan beberapa wanita yang kelihatannya digunakan untuk melepaskan nafsu mereka. Bagaimana anda ingin kami menangani mereka?"

Shalltear mengerutkan dahi.

Apa.

Shalltear, berputar dan melihat lagi.

Karena mereka tidak melihat wajahku, tidak apa membiarkan mereka. Tapi apakah itu adalah tindakan yang benar? Menjengkelkan apakah aku seharusnya membunuh mereka? Tidak, kalau begitu aku akan dicurigai mengapa aku tidak membunuh Brita pula.

Tidak mampu memutuskan yang mana yang lebih baik, Shalltear memegang kepalanya.

"Apa yang harus kami--"

"Haaaaa? Bagaiana aku tahu!"

Mengapa kamu harus menanyakan hal seperti itu kepadaku, dasar bodoh.

Wajahnya sudah berkata banyak. Jika dia tidak tahu, dia bisa disebut bodoh jika sudah begitu. Tapi dengan sadar mengabaikannya setelah diberitahu adalah tindakan pengkhianatan yang jelas terhadap tuannya.

"Sudah cukup, aku tidak tahu! aku tidak tahu! Biarkan mereka disini! Taruh Brita bersama dengan wanita-wanita itu!"

"Apakah itu tidak apa?"

"Okay atau entahlah, aku tidak tahu, sialan! Diamlah sebentar!"

"Maafkan saya, Shalltear-sama."

"Kita pergi! Ayo bergerak!

Vampire-vampire itu menundukkan kepala dan mulai melakukan perintahnya. Sementara itu, Shalltear pelan-pelan menarik kepalanya sambil jongkok.

"...Aku akan diomeli.., apa yang seharusnya aku lakukan... tapi ..... huh?"

Shalltear mengangkat wajahnya dan matanya memandang ke arah hutan dimana serigala-serigala vampire menghilang.

"...Mereka menemukan sesuatu?"

Dia merasakan serigala-serigala itu menghilang dalam sekejap. Mereka tidak dikembalikan dengan magic, namun, dibunuh oleh seseorang.

"Lemparkan wanita itu dengan yang lainnya dan ikuti! Aku akan meninggalkan tanda di belakang!"

Keputusannya sudah bulat. Setelah meneriakkan ucapan itu. Shalltear berlari dengan kecepatan seakan membelah angin.

Meskipun dia terhalang oleh hutan, bahkan seorang manusia yang menunggang kuda takkan bisa berjalan seperti Shalltear sekarang ini.

Setelah menghabiskan hutan dalam sekali nafas, Shalltear berlari ke arah dimana dia merasakan serigala-serigalanya terakhir berada.

Di lokasi itu ada dua belas manusia.

Masing-masing dari mereka memiliki perlengkapan yang berbeda.

Perlengkapan mereka tidak biasa tampilannya, dan memiliki tampilan yang unik. Untuk perbandingan, mereka mirip dengan apa yang dikenakan oleh Shalltear. Mereka memancarkan kekuatan yang besar. Tak usah dikatakan, karena Shalltear tidak memiliki kemampuan apapun untuk mengidentifikasi item magic, itu semua hanya berdasarkan intuisinya saja. Namun, senjata mereka membuatnya teringat seperti item kelas legendaris rasanya.

Shalltear terbakar dengan pertanyaan pada siapa orang-orang ini. Dua orang pria dan wanita yang memiliki aura yang jauh berbeda dari manusia-manusia yang pernah dia hadapi hingga kini di dunia ini. Perbedaannya seperti tikus dan singa.

Sementara mata Shalltear bergerak dari satu orang ke yang lain, tatapannya berhenti pada pria tertentu.

Yang itu.. apakah dia kuat?

Meskipun Shalltear yang terkejut ingin mengukur seberapa kuat dia, dia bukanlah kelas warrior dan tidak bisa mendapatkan akurasi kekuatannya. Hanya saja bahwa tidak hanya dia lebih kuat dari dua vampire bride miliknya, tapi bahkan di atas Pleiades Solution.

Shalltear mengamatinya.

Dia menggambarkannya sebagai seorang pria karena equipment miliknya, tapi wajahnya androgynous (mirip pria mirip wanita).

Apakah memanggilnya pria atau wanita, dia tidak jelas. Pendek dengan wajah masih muda, mungkin di tengah pertumbuhan- hanya membuatnya semakin sulit diputuskan.

Rambutnya yang hitam legam cukup panjang hingga menyentuh tanah. Matanya yang taja, seperti ruby memiliki isyarat waspada ketika menatap Shalltear. Dengan tombaknya yang terlihat biasa, tidak seperti armornya, pria itu maju menyerang Shalltear.

"--Gunakan."

Sebuah suara seperti dinginnya danau; mendengar perintahnya, gemuruh keributan menjalar kepada mereka yang ada di dekatnya. Shalltear tidak mengerti apa artinya, hanya saja dia memerintahkan mereka menggunakan item yang memiliki kekuatan besar. Mungkin setara dengan kekuatan item kelas divine milik Shalltear.

Meskipun manusia-manusia itu mengikuti suaranya dan mulai bergerak, Shalltear benar-benar mengabaikan mereka. Dia hanya waspada terhadap satu orang dan yang lainnya tidak seberapa menimbulkan ancaman besar.

Di tengah gerakan mereka ada seorang wanita yang berpakaian aneh.

Kelihatanya seperti baju terusan dengan belahan panjang di samping dan kerah bundar. Berwarna putih keperakan, dengan gambar lima cakar naga yang naik ke langit disulam dengan benang emas.

Dalam dunia Ainz, itu sesuatu yang disebut dengan Cheongsam.

Namun, wajah wanita dalam gaun itu keriput karena usia. Kakinya yang terbuka seperti burdock (semacam rumput) atau kentang. Baju itu tidak cocok dengan penampilannya. Sampai-sampai seseorang akan memicingkan matanya jika melihat itu; Shalltear pun sama.

Tapi itu adalah perasaan aneh yang kecil dan terakhir.

Semuanya bisa berubah dengan tindakan terkecil.

Jika Ainz tidak menangkap Nigan, jika Ainz tidak melawan magic informasi dari Slane Theocracy dengan kuat, jika Theocracy tidak membuat kesalahan mempercayai bahwa 'Raja Naga dari bencana telah hidup kembali', jika saja Shalltear tidak teralihkan - semuanya akan berubah. Namun, faktanya bahwa terlalu banyak jika yang saling berbenturan, dengan kata lain, itu artinya ini tidak bisa dihindari.

Nama dari gaun itu adalah 'Bewitching Calamity' (Bencana yang mempesona),  Kei Seke Koku.

Sebuah item yang ditinggalkan oleh dewa yang menyelamatkan umat manusia, subyek sesembahan mereka. Dia memiliki kekuatan yang bahkan tidak dimiliki oleh Shalltear.

-gemetar

Meskipun sebagai Guardian Floor dengan level tertinggi dari Great Tomb of Nazarick, tubuh Shalltear gemetar. Itu adalah sebuah peringatan, hampir seperti indra keenam.

Dengan instingnya yang menyala, Shalltear menolehkan matanya dan terpaku pada wanita tua itu.

Ini adalah manusia yang harus dia bunuh, tak perduli bagaimanapun caranya.

Menyadari kesadaran ini, Shalltear mulai bergerak menuju dia. Pria denga tombak itu menghalanginya.

"Minggir!"

Shalltear menghajarnya dengan sungguh-sungguh. Tubuh seorang manusia yang lemah akan hancur berkeping-keping, tapi pria itu hanya terlempar dan tidak tewas. Bukan hanya itu, dia masih memiliki semangat bertempur.

Shalltear berkonsentrasi pada wanita tua itu sebagai titik fokal dan merapalkan mantranya.

"[Mass Hold Species]"
(Menahan spesies besar-besaran)

Banyak dari mereka yang gerakannya terhenti. Alasan mengapa dia mengikat mereka karena dia menganggap mereka sudah lebih dari cukup untuk menembus kesalahan sebelumnya.

Saat pemikiran itu tembus melewati ingatannya, jantung Shalltear menjadi tumpang tindih dengan warna putih.

Sebagian ingatannya berguguran. Dia tidak tahu apa itu. Dan ketika kejadian yang sebenarnya membuatnya tersadar, rasa terkejut yang luar biasa terjadi padanya, bahkan Shalltear yang undead gemetar ketakutan.

Mengontrol pikiran.

Dia, seorang undead dengan kekebalan absolut terhadap efek pengendalian pikiran, telah dikalahkan pikirannya. Shalltear yang marah besar, sekarang hampir menjadi putih, dengan sebuah kebencian. Saat kepalanya dipenuhi dengan pemikiran dengan jumlah skenario terburuk yang tak terhitung--

"KUUUAAAAAAHHHHH!!"

-dia berteriak dan bertahan, darah mengalir di matanya. Pengendali pikiran itu mencoba untuk mengotori Shalltear, Guardian Floor dari Great Underground Tomb of Nazarick, dia melawan.

Tapi seakan mengabaikan usaha berat dari Shalltear, kesadarannya terus menjadi putih. Dia bahkan tidak sanggup menggunakan magic teleportasi. Kehilangan fokus untuk beberapa saat saja bisa membuatnya jatuh dalam efek mantra itu.

Shalltear menggunakan skill kelasnya dan membuat sebuah 'Purifying Javelin'

Javelin (semacam tombak) yang besar disuntik dengan energi divine masih bisa membuat kerusakan yang signifikan meskipun penggunanya memiliki jiwa jahat. Lebih penting lagi, melemparnya sambil menambahkan MP membuatnya takkan pernah luput dari sasaran.

Shalltear, yang sambil melawan dengan seluruh kekuatan di tubuhnya, menatap wanita tua yang merapal mantra yang mengotorinya itu.

Matanya bahkan tidak memberikan pantulan dari perisai besar yang seperti cermin dari pria yang menghadangnya sebagai ancaman.

Lalu- dia melemparnya.

Javelin itu terbang dari tangannya seperti memiliki keinginan sendiri.

Itu adalah serangan yang dikuatkan oleh setiap kemampuan yang bisa dia keluarkan saat kesadarannya menghilang.

Sasaannya jelas, serangan yang terlihat seperti kilatan cahaya itu menembus pria yang menghadangnya bersamaan dengan perisainya dan mengenai wanita tua itu.

Dua orang tersebut memuntahkan darah, kelompok itu gempar; ini adalah pandangan terakhir dari dunia yang dilihat oleh Shalltear.

Berlangganan via Email