Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Baca Overlord - Volume 10 - Side Story

Side Story - Obrolan Para gadis

Shalltear, yang diundang ke kamar Albedo, berkedip saat dia melihat Dark Elf kecil di sampingnya, lalu dia melihat ke arah pemilik ruangan itu dengan muka terkejut. Dia mendengar sebuah tawa, lalu sebuah jawaban:

“Ara, ada apa? Kurasa bagus juga memperdalam hubungan kita sebagai sesama wanita. Apakah kamu keberatan?”

“Aku tidak keberatan, bagaimana denganmu?”

“Aku... kami semua baik-baik saja dengan hal ini.”

“Kamu bisa menyebut dirimu dengan singular sekarang.”

(TL Note : Pada zaman dahulu orang-orang di Jepang jika menyebutkan kata ganti tunggal (singular) orang pertama menggunakan kata yang sopan dan memiliki arti sama dengan kata ganti jamak. Jadi secara harfiah jika menyebut ‘aku’ menggunakan ‘kami’).

“Kalau begitu aku akan melakukannya. Kurasa aku bisa dimaafkan karena hanya melakukan ini sekali sehari.”

Shalltear dituntun ke arah kamar dan meja yang ditentukan, lalu matanya terpaku pada apa yang tersedia di atas taplak meja yang putih polos.

Persiapan untuk jamuan teh sore hari sudah disiapkan.

Ada cangkir teh dengan jumlah sama dengan orang yang ada di sini. Ada juga kue berlapis tiga yang berkilauan keperakan dan dilengkapi dengan hidangan pencuci mulut. Tak perduli dari mana melihatnya, selalu ada yang lezat di mata. Benar-benar pemandangan yang membuat mulut meneteskan air liur terus.

Dalam sekali tatap, ada jus strawbery yang lembut, kue bolu yang lembut dan basah begitu pula dengan kue strawbery yang dibuat dengan mentega yang jelas terlihat tanpa minyak. Ada kue tart buah-buahan yang mengeluarkan aroma jeruk, dibuat dengan jumlah buah-buahan segar yang berlebihan. Ditambah lagi, ada roti keju yang beraneka macam dan terlihat memancarkan aroma yang segar dan tajam. Kue coklat yang lengket berwarna coklat dan bertabut bubuk emas.

Tentu saja, pilihannya tidak membosankan karena hanya dibatasi oleh kue-kue saja.

Ada juga kue sus yang kelihatannya seperti ditutupi oleh saus mustard di seluruh bagiannya. Ada jeli dari buah persik yang berbentuk lingkarang dan jeli yang dibuat dari anggur Kyoho, dan bahkan jeli dari bermacam-macam buah yang hanya bisa ditemukan di dalam YGGDRASIL.

“Apa maksudnya semua ini?”

“Aku meminta Pestonya untuk membuat beberapa jajanan. Namun, ini bukan masakan koki saus, jadi memakanya takkan memberikan efek magis atau semacamnya.”

“Ohhh, jadi trolleynya dibawa kemari.”

Shalltear teringat pertemuannya dengan pelayan berkepela anjing.

Di waktu yang sama, Albedo membuat persiapannya dengan terampil.

Cangkir-cangkir teh dibuat dengan baik. Meskipun biasanya seseorang akan menghubungkan cangkir teh itu dengan warna putih, Albedo menghidangkan cangkir teh berwarna hitam yang ditutupi oleh desain ‘filigree’ berwarna emas yang menarik.

Praktis itu adalah mahakarya seni. Namun –

“Aku lebih senang dengan biru, aku akan membawa beberapa diantaranya lain kali.”

“Kurasa aku memiliki beberapa yang berwarna emas dengan corak bunga-bunga—“

“Kalian berdua memiliki selera yang bagus. Tidak, aku harusnya berkata Supreme Being yang telah memberikan kalian selera yang bagus.”

Albedo masih terus menuangkan teh meskipun saat dia sedang berbicara.

Aroma teh tersebut memenuhi udara sekitar, dan itu menstimulasi hidung Shalltear.

Dia memikirkan beberapa macam teh saat dia melanjutkan menikmati aromanya, lalu Shalltear memutuskan variasi tertentu.

“...Apakah ini Platinum++ Asgard Pekoe (Teh hitam grade tinggi di dalam YGGDRASIL).

“Aku tidak terlalu yakin, tapi kurasa memang benar. Pestonya bilang seperti itu.”

“...Mengapa barang sebagus ini ada di tangan seseorang yang tidak bisa memahaminya...”

“Apa maksudmu, Shalltear?”

“Ini adalah hasil panen berkualitas tinggi yang dipetik di dalam Asgard (Salah satu dunia di dalam YGGDRASIL) di waktu tertentu dengan musim tertentu, oleh orang-orang dengan job class khusus.”

“Mm, mm—“

“Albedo, tidak apa-apakah menggunakan barang bagus seperti itu? Apakah Ainz-sama dan Supreme Being yang lain tidak marah?”

“Tidak apa. Aku sudah menerima persetujuan Ainz-sama. Silahkan.”

Tangan Shalltear gemetar diantara menerima dan menolak saat dia meraih cangkir yang dihidangkan kepadanya. Kualitas penuh dari teh tersebut membuat terintimidasi.

Aura tidak ragu-ragu dan dalam sekejap meneguknya hingga habis, dengan satu tangan di pinggang saat melakukannya. Sebaliknya dengan Shalltear, yang menatap dengan mata lebar, Aura hanya berkata, “Pahitnya!” setelah meneguk habis seluruh cangkir teh hitam kelas super tinggi dengan sekali teguk.

“Hah?”

“Mm, jus buah atau minuman olahraga masih lebih baik.”

“Kamu!”

Sia-sia saja ini untukmu! Shalltear memaksa hasrat untuk meneriakkan ucapan itu kepada Aura.

Aura hanya seorang gadis, jadi memberinya pelajaran dalam tata cara menikmati teh adalah tugasnya sebagai seorang senior.

“Aura, biarkan aku menunjukkan kepadamu cara yang benar dalam minum teh.”

Shalltear dengan anggun mengambil cangkir teh dan sekali meneguknya. Rasa alami yang tajam menyebar ke seluruh mulutnya. Tentu saja, Shalltear lebih memilih darah segar, tapi dia juga bisa menikmati hal semacam ini. Begitulah seleranya yang memang bagus...

“Minum dengan elegan dalam cara seperti ini adalah—“

Cara yang benar dalam menikmati teh – dia ingin berkata demikian, tapi Aura tidak memperdulikan Shalltear dan berganti dengan melahap kue strawberry malahan. Shalltear hanya bisa menatapnya dengan diam dan melongo.

“Ah, Albedo, tolong tambah lagi.”

“baiklah. Selanjutnya apa?”

“Mm. Aku memilih..”

“...Aura. Aku disini mencoba untuk mengajarimu cara yang benar—“

“—Begini Shalltear. Teh dimaksudkan untuk dinikmati untuk diminum, apakah aku salah? Memang benar akan terlihat kasar di depan Ainz-sama dan yang lainnya, tapi ini adalah pesta teh pribadi diantara teman-teman, ya kan? Ditambah lagi, dia tidak minum dengan cara yang tidak sopan, jadi seharusnya tidak masalah, bukankah begitu?”

“Huhuhu, kamu kalah~”

“Kuh.. La-Lagipula, Albedo, apakah kamu memanggil kami kemari hanya untuk pesta teh?”

“Memang benar. Aku ingin ngobrol enak dengan sesama guardian.”

“Mm~”

Shalltear mengerutkan dahinya, tapi tidak menyangkal Albedo. Kenyataannya adalah, mereka semua adalah makhluk yang diciptakan oleh para Supreme Being. Meskipun mereka menunjukkan loyalitas dengan cara berbeda, tujuan mereka semua adalah sama. Oleh karena itu, memperdalam pemahaman satu sama lain adalah ide yang bagus.

“Dimana ya aku pernah melihat perabotan yang sama di kamar ini sebelumnya?”

Perabotan di kamar ni sangat mirip dengan koleksi Shalltear dari ruangan milik orang hebat tertentu. Menjawab pertanyaan itu, Albedo tersenyum cerah sebelum menjawab:

“benar sekali, Shalltear. Dengan izin Ainz-sama, aku diizinkan untuk mendekorasi ruanganku dengan cara yang sama dengan para Supreme Being.”

“...Kamu bahkan menggunakan barang yang sama dengan para Supreme Being... akan lebih sopan untuk menolaknya.”

“Apakah kamu bilang aku harus menolak sebuah hadiah dari Ainz-sama?”

Tatapan tajam mereka berdua tiba-tiba berubah ke arah rekan sesamanya.

Aura melihat dari satu orang ke orang lain, lalu bertanya kepada Shalltear dengan terkejut:

“Aku tidak tahu mengapa kamu sangat marah, Shalltear. Ruangaku dipenuhi dengan perabotan dari Bukubukuchagama-sama. Bukankah kamarmu juga sama?”

Memang benar.

Hampir semua perabotan di dalam kamar pemakaman Shalltear diletekkan disana oleh penciptanya. Ketika dilihat seperti itu, tidak ada lagi hal lain yang bisa dia katakan.

Saat dia menatap senyum Albedo dan Shalltear yang menggigit bibirnya, Aura bertanya-tanya.

“kalau begitu, hm. Albedo, bagaimana dengan pakaianmu? Jika kamu diberi perabotan, apakah itu artinya kamu tidak punya pakaian?”

“Itu juga diberikan kepadaku oleh Ainz-sama.”

“Mengapa Ainz-sama punya pakaian wanita?”

Albedo yang tiba-tiba tidak bergerak terlihat tidak tenang bagi Shalltear, seakan meminta bantuan. Namun, Shalltear tidak mau repot-repot membantunya. Itu karena dia mati-matian berusaha untuk menolak jawaban yang nampak kurang jelas di pikirannya.

“Itu, Hal semacam itu juga terjadi.:

“Bukankah biasanya karena dai memiliki seorang wanita untuk diberi?”

Berkat ucapan Aura, Albedo yang tiba-tiba terdiam mengangkat cangkir teh dan lepeknya ke mulut, menikmati aroma teh saat dia tersenyum dan membalas:

“Memang benar, Ainz-sama adalah individu yang luar biasa. Dia pasti memiliki banyak wanita daripada bintang-bintang di sebuah galaksi.”

Lepek dan cangkir teh itu saling berbenturan satu sama lain. Hal yang menakjubkan adalah bahwa semua teh yang tercecer di luar entah bagaimana ada di dalam lepeknya, tanpa sedikitpun menodai taplak meja yang putih.

Shalltear pun tidak punya enegeri untuk memuji Albedo dengan tenang.

“Dia pasti berganti wanita satu demi satu.”

“Itu, benar sekali. Lagipula, dia adalah Ainz-sama, seseorang yang memimpin 41 Supreme Being. Dia pasti sangat terkenal. Hal, hal yang terpenting adalah siapa yang bisa tetap berada di sisinya hingga akhir. Sejarahnya dengan wanita bukan masalah... Tentu saja, jika ada wanita-wanita yang sebelumnya itu berani tanpa malu menunjukkan mukanya di depan lagi, aku pasti akan membunuhnya.”

“Y-ya.”

Albedo dan Shalltear tersenyum satu sama lain. Di sudut mata mereka, Aura mengangkat bahunya, seakan berkata, “yah, tidak apa.”

“Kita tinggalkan saja hal itu untuk sekarang.”

“kalau begitu, bagaimana dengan yang lainnya.. tapi, apa yang harus kita bicarakan?”

“Mmm~ seharusnya yang ada hubungannya dengan Ainz-sama, benar kan, Aura?”

“Tentu saja bisa. Sedangkan untuk Ainz-sama – dia sangat menawan, dan sangat lembut.”

Shalltear menyadari wajah Albedo yang sedikit berkedut. Jika ada yang tidak tahu apa yang bersembunyi di dalam itu, dia pasti akan berasumsi mata yang lembut itu hanya melihat ke arah mereka. Dia sengaja mengusap-usap cincin di jari manis kirinya yang bermandikan cahaya.

Dasar perempuan jalang – Shalltear menelan ucapan itu sebelum keluar dari mulutnya, lalu tersenyum. Seluruhnya bukanlah kepura-puraan, karena wajahnya langsung menjadi santai setiap kali dia memikirkan sang tuan.

“Ainz-sama.. benar-benar tuan yang luar biasa.”

“Bagian mana dari dirinya yang kamu anggap paling indah, Shalltear Bloodfallen?”

“Jika ada terlalu banyak banyak mustard, itu akan tercecer keluar dari kuenya.”

“Tentunya adalah tubuh putih polosnya. Proporsinya ideal. Betapa aku berharap bisa menyentuh tubuhnya.”

Tak perlu dikatakan, apa yang benar-benar dia inginkan adalah memanjat ke seluruh tubuh Ainz dan merasakan tulangnya, tapi dia tidak bisa benar-benar berkata demikian.

“Memang benar, tubuhnya – bahkan gading pun jika dibandingkan tidak ada artinya – sangat indah... meskipun, bukankah bagian yang paling indah dari Ainz-sama adalah matanya? Mata yang dalam dan mempesona, seperti gerbang menuju jurang... Aku bisa merasakan kewibawaan dan semangatnya yang keras melalui kilauan mata yang seperti perhiasan itu.”

Tidak buruk.

Tetap saja, Shalltear tidak merasa mata-mata itu bisa mengungguli tubuh putih Ainz.

“benarkah? Kalau begitu, bukankah tubuhnya yang seperti batu pualam masih lebih baik? Apakah kamu tidak ingin didekap oleh tubuh itu? Apakah kamu tidak ingin disentuh oleh tangan itu?”

Sebuah retakan muncul di senyum Albedo. Merasa bahwa ini adalah momen untuk maju, Shalltear menekan serangannya.

“Bukan hanya itu. Bayangkan tangannya melingkari pinggang kita, dan menarik kita semakin dekat kepadanya.”

“Ugkkkk!”

“Lagi donk.”

“Dan bagaimana kalau digendong oleh dadanya yang bidang dan lebar, mendengarnya berpisik, dalam nada rendah, kata ci—n—ta kepada kita?”

“Ngggggfffuu!”

Albedo kelihatannya mencubit hidung. Jaring-jarinya dipenuhi bercak sesuatu yang merah.

“Ah, kue keju ini enak sekali.”

“Bagaimana Albedo? Katakan jawabanmu. Apakah tubuhnya tidak lebih baik?”

“Itu, itu terlalu tidak murni! Bagaimana, bagaimana mungkin kamu bisa berkata hal semacam itu? Menggodaku dengan tubuhnya tidak adil! Aku sedang membicarakan tentang keindahannya yang murni!”

“Begitukah? Namun dari sikapmu seperti menunjukkan kemenanganku.”

“Guh!”

“Aku bilang—“

“Apa yang ingin kamu katakan, Aura? Ini adalah bagian yang paling menyenangkan. Usap mulutnya aga kamu bisa menjadi saksi hidup saat wanita ini mengakui kekalahannya. Ayolah Albedo, akuilah! Akuilah bahwa bagian yang paling indah dari Ainz-sama adalah tubuh tulangnya!”

“Nguuuu!”

Sebuah senyum kemenangan tersunggi di wajah Shalltear saat dia melihat bagaimana Albedo menggeretakkan gigi-giginya, lalu Aura bergumam sendiri:

“Bagian mana dari Ainz-sama yang tidak indah? Bukankah seluruhnya memang indah?”

“????”

“????”

Shalltear mengangguk ke arah Albedo.

“Memang benar, Ainz-sama adalah inkarnasi fisik dari keindahan. Kita tidak bisa bilang bagian mana yang terbaik.”

“Ya, Albedo. Akan sangat tidak sopan melakukan sesuatu seperti memberikan peringkat kepada bagian tubuh dari Ainz-sama, Yang Tertinggi.”

“Jadi kita sudah mendapatkan jawabannya.”

“Seluruh bagian dari Ainz-sama memang indah! Namun, ada bagian-bagian yang lebih menarik, berdasarkan selera masing-masing.”

Ini benar-benar pemandangan yang megah.

Yah, selain dari kebingungan yang dirasakan oleh seorang gadis tertentu terhadap semua ini.

“Apakah tidak apa orang-orang ini menjadi teman sesama guardianku?”

Berlangganan via Email