Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Baca Light Novel Overlord - Vol 3 - Chapter 3

Confusion and Control - Kekacauan dan Pengendalian

Setelah berpindah tempat, Ainz melihat sebuah bukit di depannya. Tidak, itu tidak cukup tinggi untuk disebut bukit, itu hanya gundukan setinggi enam meter dari dasar hingga atas.

Vegatasi pendek dengan daun yang lancip tumbuh subur pada gundukan, memberinya tampilan seakan itu sudah ada di sana lama sekali. Melihat sekeliling, ada banyak tonjolan yang mirip, memberikan kesan bahwa keadaan sekitarnya umumnya seperti ini. Namun, ini jelas-jelas tidak benar.

Medan ini diciptakan melalui magic oleh Guardian Floor Mare. Dari penglihatannya yang sangat luas dia melihat sebidang tanah, diselimuti dengan rumput yang tumbuh lebat dan tampilan familiar dari sebuah rumah yang terpantul pada mata Ainz.

Itu adalah bukti sudah menembus pelindung ilusinya...

Tanpa menurunkan kecepatan [Flight], tujuan Ainz adalah Mausoleum (Kuburan besar dan indah) yang suram di tengah, karena itu adalah satu-satunya pintu masuk yang terarah kepada Great Tomb of Nazarick.

Terbang lurus ke arah tanggah di kuil abu-abudan bertemu dengan banyak figur di bawahnya, Ainz menekan kegelisahan dan mendarat di depan mereka.

"Ainz-sama, selamat datang kembali."

Bersama dengan suara lembut dari seorang wanita, banyak suara lain yang muncul juga untuk menyambut Ainz pulang ke rumah.

Berdiri di depan, berpakaian putih murni, adalah Albedo, Pengawas dari Great Tomb of Nazarick, yang juga adalah orang dengan pemahaman terbesar pada situasi saat ini.

Empat Maid yang bersamanya adalah Battle Maid, dan berdiri sedikit jauh di belakangnya adalah pelayan dengan level delapan puluh.

Setelah Ainz menyelesaikan percakapan dengan Albedo menggunakan [Message], dia langsung memerintahkan Narberal untuk menggunakan teleport. Bahkan belum ada lima menit sejak berakhirnya [Message] dan Albedo sudah bisa mengatur orang sebanyak ini untuk menyambutnya saat datang dan membuat orang-orang tahu kemampuannya dalam mengatur sebuah organisasi.

Merasa terkesan, Ainz melambaikan tangan merespon sambutan pelayan-pelayan. Dia seharusnya memberikan ucapan apresiasi, tapi saat ini bukanlah saat yang tepat.

"Albedo, tentang masalah yang kita diskusikan melalui [Message]..."

Apakah Shalltear benar-benar mengkhianati kita?

Dia akan mengatakan kalimat itu, tapi ragu-ragu. Karena jauh di dalam pikirannya yang khawatir, dia takut jika mengatakan itu akan membuat pengkhianatan Shalltear menjadi kenyataan yang tidak terbantahkan... Terlebih lagi, mendiskusikan sebuah topik seperti ini di depan para pelayan terlalu berbahaya.

"Ya, Apakah anda ingin mendiskusikan ini di tempat lain?"

"Kamu benar... mari kita diskusikan ini di aula Takhta, ya kan?"

"Sesuai permintaan anda. Kalau begitu Yuri, berikan cincin Ainz-sama."

Diantara battle maid yang berdiri di belakangnya, Maid yang mengenakan baju yang menarik perhatian pelan-pelan melangkah maju.

Meskipun seragam battle maid yang dia kenakan sama dengan Narberal, ada beberapa perbedaan pada detilnya.

Seragam maid Narberal ditujukan untuk melindunginya, sedang pakaian Yuri memberikan kemudahan bergerak. Ini dipastikan dengan kurangnya lempengan logam di depan roknya.

Sarung tangan logamnya memiliki duri yang menonjol. Dengan sebuah kepalan tangan, mereka akan menjadi senjata yang berbahaya.

Di atas kalung biru besar yang dihiasi dengan permata kecil yang terang yang tidak memantulkan cahaya, tapi berkilauan seperti api yang bergoyang.

Dengan rambut diikat menjadi gulungan kecil di belakang kepala, dan fitur wajah yang tepat baik tajam dan dingin, memberikan kesan cerdas.

Ini adalah Yuri Alpha, wakil Kapten dari Battle maid. Sebas, yang menjadi pimpinan battle maid, adalah seorang pria, oleh karena itu dikatakan diantara para maid bahwa yang bertanggung jawab memegang tim bersama-sama adalah Yuri..

Dia membawa nampan yang ditutupi dengan kain ungu dengan kedua tangannya. Yang ada di dalam kain ungu itu adalah sebuah cincin -- cincin Ainz Ooal Gown.

Ainz mengambil cincin itu dan menempatkannya di jari.

Karena cincin itu membuat pemakainya bisa bergerak bebas di Great Tomb of Nazarick sesuka hati, setiap kali Ainz pergi keluar kota dia akan meninggalkan cincinnya, karena dia khawatir dicuri darinya.

Melihat cincin di tangannya yang tulang belulang, Ainz mengangguk setuju. Rasa tidak enak karena tidak memakai cincin selama beberapa hari akhirnya hilang, memenuhinya dengna kepuasan yang besar.

"Kalau begitu, ayo pergi Albedo."

Karena mereka tidak bisa berteleportasi ke ruang takhta secara langsung, dia mengaktifkan kekuatan cincin untuk memindahkannya ke ruangan sebelumnya.

Ditemani Albedo, Ainz membuka pintu yang tebal dan berat dan menuju jauh ke dalam, menuju arah singgasana yang seperti kristal. Saat mereka berjalan, Ainz mengeluarkan suara ingin bertanya yang ingin dia tanyak sebelumnya.

"Sebelum kita mulai, aku ingin bertanya beberapa pertanyaan. Kamu bilang bahwa Shalltear mengkhianati kita. Bagaimana reaksi Sebas, yang ada di tempat yang sama? Dia tidak berubah berkhianat juga?"

"Ya, dia tidak menunjukkan tanda-tanda pengkhianatan."

"Kalau begitu, apakah kamu sudah bertanya kepada Sebas tentang detilnya?"

"Ya, kami sudah menyelesaikan penyelidikan. Menurut Sebas, mereka bertemu bandit. Setelah itu, Shalltear seharusnya langsung menuju markas musuh untuk menangkap bandit. Selama itu, tak ada hal aneh yang terjadi. Dia bahkan berulang kali mengutarakan dedikasinya kepada Ainz-sama."

"Jadi, kamu bilang, apapun yang terjadi setelahnya adalah yang memicunya untuk memberontak."

"Ya... ditambah lagi, kelihatannya dia juga membawa dua orang vampire bride, tapi mereka kelihatannya sudah dimusnahkan."

"..Begitukah. Mereka hanya bawahan.. tidak, itu artinya sesuatu terjadi yang harus membuat mereka dimusnahkan. Kalau begitu, giliranku menjelaskan apa yang terjadi di sisiku."

Ketika mereka sudah tiba di tangga menuju singgasana, diskusinya hampir selesai. Namun, karena mereka tidak berbicara tentang masalah yang paling penting mengenai kuburan, Ainz berlanjut bicara.

Setelah selesai, Albedo, yang sedang mendengarkan tanpa berkata apapun menganggukkan kepala karena mengerti.

Meskipun Aing ingin bertanya apakah cara dia menangani situasinya sudah betul, ada masalah lain yang lebih pentingyang ingin dia ketahui.

Ainz melihat singgasana dan merapal sebuah kalimat kode yand sudah ditetapkan:

"Buka Master Source."

Sebuah Jendela transparan terbuka di depannya dan mirip dengan sebuah control panel, namun jelas berbeda. Jendela itu dibagi ke dalam beberapa tab, dan masing-masing halaman dipenuhi dengan teks yang padat.

Ini adalah sistem manajemen dari Great Tomb of Nazarick.

Di dalamnya, tertulis pengeluaran administrasi harian; tipe pelayan saat ini dan jumlahnya, jebakan magic yang aktif, dan lain sebagainya. Pengaturannya bisa diatur dengan kasar dari sini pula. Di YGGDRASIL, ini bisa dilihat tanpa memperhatikan waktu atau lokasinya. Namun, Ainz menemukan melalui percobaan bahwa di dunia ini, sistem ini hanya bisa dioperasikan di jantung makam, ruangan takhta.

Harus kemari setiap kali sedikit mengesalkan... tapi cincin ini masih memperbolehkan berteleportasi...jadi tidak usah terlalu khawatir tentang itu.

Dengan gerakan yang sudah berpengalaman, Ainz membuka tab NPC.

Sebuah daftar nama seluruh NPC berkumpul yang diciptakan oleh anggota Guild terekam di halaman ini. Setelah merubah tampilan nama dari original secara alfabet menjadi katakana hingga diurutkan levelnya secara menurun, Ainz menjelajah daftar dari atas -- dan setelah matanya berhenti pada satu titik, dia diam-diam menatap wajah Albedo.

"Ya, sudah menjadi seperti ini."

Diantara deretan nama tulisan putih, hanya nama Shalltear Bloodfallen yang berubah hitam.

Ainz tahu arti dibalik perubahan nama itu, tapi meskipun begitu --

Setelah mengulang melihatnya lebih dari dua kali, tiga kali, memastikan bahwa dia tidak salah melihat, Ainz berteriak "Tidak Mungkin!" di dalam pikirannya. Jika wajah tengkoraknya bisa bergerak, dia akan memberikan ekspresi kecemasan.

"...Apakah ini adalah tewas?"

Ainz tetap bertanya kepada Albedo. Ainz diam-diam berharap bahwa mungkin saja pemindahan ke dunia ini telah menyebabkan beberapa perubahan pada sistem. Namun, kebenaran yang dibicarakan pada Albedo tidak bisa lebih kejam lagi.

"Jika tewas, namanya akan hilang dan meninggalkan kekosongan. Bukankah ini berarti bahwa dia telah mengkhianati kita?"

"Ah...Kamu benar."

Ainz menjawab Albedo seperti ini, lalu mengingat hari-hari YGGDRASIL ketika dia pernah melihat perubahan tulisan semacam ini.

Meskipun Albedo mengatakannya sebagai pengkhianatan, arti sistem sedikit berbeda. Pengerti luas mirip dengan pengkhianatan, tapi itu adalah hasil dari subyek pengendalian otak dari pihak ketiga, menyebabkan nama NPC yang menjadi bermusuhan sementara menampilkan perubahan warna.

Tidak mungkin.

Ainz sekali lagi menolak kenyataan di dalam otaknya. Seperti dia, Shalltear Bloodfallen adalah seorang undead, yang berarti bahwa dia seharusnya tahan terhadap segala macam pengaruh mental tidak perduli apakah menguntungkan atau merugikan. Bagaimana bisa Shalltear bisa terkena efek pengendalian pikiran?

Shalltear mengkhianati Nazarick adalah yang relatif lebih bisa dipercaya. Dia bisa, sebagai contoh, memberi alasan tertentu atas pengkhianatannya -- ketidakpuasan atas perlakukannya atau penawaran dari luar dengan kondisi yang lebih baik.

Jika itu masalahnya, maka setelah dikirim ke dunia ini, sesuatu yang diluar pengetahuan Ainz menyebabkan insiden ini.

Ainz mengingat wajah Nfirea. Benar, jika ada mereka dengan Innate Talents dengan kekuatan yang tidak diketahui, mungkin saja bisa mempengaruhi keadaan mental dari seorang undead.

"...Jangan-jangan itu adalah pengaruh spesial karena terkena akibat dari keadaan atau fenomena khusus pada dunia ini?"

"Itu tidak jelas. Namun pengkhianatan Shalltear adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Saya merekomendasikan untuk membentuk tim penaklukan langsung."

Saat ini, tiba-tiba saja muncul di benak Ainz: para pelayan yang menyambutnya tadi, jangan-jangan mereka berkumpul dengan niat untuk menaklukkan Shalltear? Melihat kembali, kelompok itu memiliki banyak pelayan pilihan yang langka di Nazarick, dengan serangan beratribut divine yang mana efektif terhadap undead.

Albedo melanjutkannya dengan nada lembut:

"Saya bersedia sukarela untuk menjadi komandan tim. Dengan izin Ainz-sama, saya juga ingin menunjuk Cocytus sebagai komandan deputi, dan juga memiliki Mare untuk dimasukkan ke dalam tim."

Pemilihan ini, adalah barisan yang sempurna untuk menghabisi Shalltear, menunjukkan keseriusan Albedo dalam masalah ini.

Shalltear Bloodfallen sangat kuat. Jika kamu hanya membandingkannya dengan guardian lain, dengan pengecualian Gargantua, dia adalah yang terkuat. Untuk bisa mendapatkan kemenangan mutlak yang jelas melawannya, cukup mengirimkan anggota tim yang dipilih oleh Albedo, selain itu termasuk sulit.

"Apa pendapat anda tentang ini?"

"Tidak, terlalu dini untuk membuat kesimpulan itu. Kita harus memastikan dahulu alasan dari pengkhianatan Shalltear."

"Ainz-sama benar-benar memiliki hati yang baik. Namun, tidak perduli apapun alasannya, kenyataan sederhana bahwa dia berani untuk berdiri sebagai pemimpin musuh membuatnya tidak layak akan kebaikan itu."

"Itu tidak benar, Albedo. Aku tidak berbaik hati kepada Shalltear, aku hanya mencoba untuk memahami alasan pengkhianatannya."

Jika hal semacam itu bisa terjadi pada Shalltear, maka cukup menemukan sebuah cara untuk menyelesaikannya. Jika itu adalah rasa ketidakpuasan pada bagaimana mereka diperlakukan, pelayan lain dan NPC bisa memiliki masalah yang sama. Itu perlu untuk menjawab kemungkinan di masa depan yang bisa saja terjadi pada pelayan yang lain, dan mengambil tindakan pencegahan seperlunya.

Meskipun itu adalah kekuatan paksaan karena terpengaruh kemampuan seperti Innate Talent, perlu menemukan tindakan pencegahan.

Mendengar [Message] yang memberitahunya bahwa NPC ciptaan teman-teman lamanya telah mengkhianati Ainz, dia measa posisinya sebagai pimpinan Guild telah ditolak oleh teman-teman Guildnya, itu adalah pukulan telak yang hampir membuatnya berlutut. Namun, ini sudah menjadi resiko seorang guild master.

Masalahnya tidak seharusnya diselesaikan dengan otoritas sebagai seorang pimpinan Guild, tapi sebagai seorang penguasa Tertinggi Nazarick, terlalu dini untuk putus asa. Dasarnya -- meskipun tidak mungkin -- jika ternyata Shalltear benar-benar subyek dari kekuatan paksa, maka perlu untuk menyelamatkannya.

Seorang pimpinan yang mamasang muka menakjubkan, namun tidak mampu mengulurkan tangan menyelamatkan ketika ada masalah, pada dasarnya tidak layak untuk menjadi pemimpin.

Sebagai seorang penguasa, perlu bagi Ainz untuk melindungi bawahannya.

"Kalau begitu, dimana Shalltear saat ini, apakah ada yang tahu keberadaannya?"

"Mohon maaf sebesar-besarnya, masih belum dipastikan, menurut kemungkinan bahwa Shalltear bisa menyerang Nazarick, seluruh bawahannya telah dikunci. Di waktu yang sama, untuk memperkuat pertahanan kita, kami juga mengeluarkan pelayan-pelayan di lantai satu."

"Begitukah. Jika itu masalahnya, maka pertama kita harus mengetahui lokasi Shalltear. Ayo kita kunjungi kakakmu."

Lantai lima Nazarick adalah area yang ekstrim dinginnya, dibuat dengan konsep gletser

Memberikan ilusi gunung es biru yang mengeluarkan kilauan dari dalam, ada obyek yang mirip dengan batu nisan berdiri di tengah tanah putih yang tidak ada batasnya. Saju turun dari awan yang diselimuti oleh lapisan tebal di langit, menari di angin beku yang terdiri dari uap air sedingin es. Di kejauhan, bisa terlihat hutan yang beku benar-benar tertutup salju, sepeti raksasa yang bersembunyi di bawah mantel putih.

Baju Ainz tertiup angin, berkibar dengan keras dalam angin dingin yang menusuk tulang. Teringat apa yang Albedo pakai disampingnya, Ainz bertanya:

"Apakah kamu kedinginan? Jika dibutuhkan, pakailah armormu. Kita punya cukup waktu untuk ganti."

Segala serangan es terhadap Ainz benar-benar tidak efektif, dan dia tidak akan merasa kedinginan tak perduli seberapa beku itu. Namun, tidak sama dengan Albedo. Derajat kebekuan seperti ini tidak akan melukainya jika dia mengenakan full armor miliknya, tapi Albedo saat ini memakai gaun putih. Meskipun dia juga sudah diminta sebelum berpindah, bisa saja dia hanya pasang muka palsu.

Tapi Albedo memberikan Ainz yang sedang khawatir itu dengan senyuman yang lembut.

"Terima kasih atas kekhawatiran anda, tapi anda tidak perlu khawatir, Ainz-sama. Rasa dingin ini benar-benar bukan masalah."

Ainz mengangguk dan membalas : "Oh begitu."

Pada dasarnya tempat ini akan memberikan damage tipe es dan efek area yang menyebabkan gerakan menjadi lambat. Tapi mengaktifkannya memerlukan biaya, oleh karena itu, saat ini sedang dinonaktifkan. Keputusan sebelumnya adalah sebuah keberuntungan. Atau mungkin Albedo memiliki item magic atau kemampuan untuk menetralkan damage tipe es?

Pada dasarnya, equipment NPC semuanya diberikan oleh anggota Guild yang menciptakan mereka. Yang paling diketahui dengan baik oleh Ainz adalah Pandora's Actor dan beberapa lainnya, dan setelah transfer ke dunia ini dia sedikit melihat data semuanya.

Ainz menyingkirkan keraguan di angannya, dan melihat ke arah mansion dengan tinggi dua lantai yang menakjubkan di depannya.

Di dalam dunia yang dingin dari es dan salju, hanya bangunan ini yang mengeluarkan atmosfir aneh. Seperti bangunan dalam cerita, memberikan perasaan seperti banugnan dalam dongeng.

Namun permukaannya tertutup oleh lapisan es yang membeku, membuat suasana yang tidak nyaman dan dingin. Faktanya, bangunan ini tidak memiliki nama seperti dalam dongeng.

Dia disebut dengan Penjara Beku.

Seluruh musuh Nazarick dipenjara disini.
"Ayo pergi."

Ainz dengan tangkas menginstruksikan dengan frase yang pendek, lalu mendorong pintu besar yang tertutup es. Meskipun permukaannya ditutupi oleh lapisan es yang tebal, pintu itu masih bisa dibuka dengan mudah, seakana menyambut seorang tamu.

Saat pintu itu dibuka, sebuah hembusan angin dingin keluar. suhu di dalam penjara itu bahkan lebih rendah daripada dunia arktik di luar.

Dengan angin dingin yang menyentuh tubuhnya, Albedo mulai gemetar. Melihat hal ini, Ainz menarik jubah merah gelap dari udara, tepiannya memiliki motif api yang terbakar.

"Pakailah jubah ini, Albedo. Mungkin memang tidak memiliki efek magic kuat tertentu, tapi seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menghadang dingin."

"Benda yang sangat berharga seperti ini! Terima kasih saya sedalam-dalamnya! Saya akan menjaganya seumur hidup."

Meskipun Ainz tak pernah bilang bahwa dia akan memberikan itu kepadanya, melihat wajah senyum Albedo, dia tidak tega dan hanya melihat ke arah lorong pintu.

Sebuah lorong yang gelap dan sunyi memanjang hingga penjara.

"Ah, ya. Sisa-sisa Sunlight Scripture juga dikunci disini."

"Ya. Memang tepat jika Neuronist Painkill menjaga mereka dengan ketat. hangatnya... seperti dipeluk dalam dada Ainz-sama...fufufu"

"...Begitukah. Kalau begitu baguslah."

Dalam pelukan tubuhku yang tak daging dan tulang seharusnya tidaklah hangat. Namun, Ainz tidak bodoh mengatakan itu keras-keras.

Mengabaikan Albedo, yang sedang menggeliat terpendam dalam jubah dari pandangan, Ainz pelan-pelan berjalan ke depan.

"Apa yang kamu lakukan. Tidak ada waktu banyak... dalam keadaan yang spesial ini."

"Ya, ya!"

Skill pasif Ainz [Undead Blessing] membuat dia bisa melihat seluruh undead yang tersembunyi di tempat ini. Merasa bahwa ini akan mengganggu, Ainz menonaktifkan skill ini, mengabaikan undead yang bergerak di seluruh koridor, tertutupi oleh lapisan es putih biru. Jika dia tidak mengambil tindakan sebelumnya untuk menghadapi rintangan yang bergerak. Mungkin Ainz akan terpeleset di koridor yang benar-benar membeku.

"...Ainz-sama, haruskah saya memanggil Neuronist Painkill? Dia tidak menampilkan dirinya untuk menunjukkan jalan, membiarkan penguasa tertinggi dari Nazarick masuk tanpa penunjuk jalan..."

"Tidak perlu. Meskipun itu bukan hal yang buruk, dia banyak bicaranya. Saat ini ada masalah darurat yang harus diselesaikan, jadi aku berharap untuk menghindari buang-buang waktu sebanyak mungkin."

"Mengerti. Kalau begitu setelah masalah ini selesai, saya akan bilang kepada Neuronist Painkill untuk tidak banyak bicara."

"Tidak, tidak, tidak, itu tidak perlu. Aku tidak merasa hal itu tidak nyaman."

"Tapi..."

Melihat Albedo disampingnya yang mengerutkan dahi, Ainz membuat sebuah senyuman di wajahnya yang tak bisa bergerak. Sebagai seorang master, dia merasa itu adalah hal yang bagus jika seorang bawahan akan berpikir apa yang terbaik baginya, tapi jika tidak ditangani dengan baik, bisa menghasilkan bawahan yang tidak berani protes di masa depannya.

"Tidak apa. Aku mencintai kalian semua, tidak perduli poin kuat atau poin lemah kalian, karena kalian semua diciptakan oleh teman-teman lamaku. Aku akan merasa bersalah jika aku merasa tidak senang ketika melihat pengaturan yang dibuat dengan dedikasi."

Benar. Jika pengkhianatan Shalltear karena pengaturannya, maka cukup untuk memaafkannya, karena dia hanya mengikuti keinginan penciptanya Peroroncino. Namun, Peroroncino bukanlah orang yang menanamkan benih buruk di dalam Guild. Ini membuat Ainz bingung, karena Peroroncino adalah tipe yang menikmati lelucon, tapi tidak menyukai kerusakan hubungan antara teman.

Namun begitu, apakah ini benar-benar alasan luar? Karena dari penampilan teks artinya adalah pengendalian pikiran.. tapi tidak ada cara untuk memastikan ini. Atau mungkin ada beberapa perubahan pada pengaturannya setelah tiba di dunia ini. Aku juga masih belum mengingat seluruh pengaturan kepribadian NPC. Terlebih lagi, beberapa bagian dari pengaturan kepribadian NPC mirip dengan anggota Guild yang membuat mereka... Aku rasa seharusnya tidak ada siapapun yang bisa memindah seluruh kepribadiannya kepada pengaturan, jadi bisa saja karena ini. Ngomong-ngomong, tentang Shalltear... jangan-jangan pengaturannya mengandung sesuatu yang mirip dengan mekanisme ledakan yang diatur waktu? Karena penciptanya menyukai H Games, dan memasukkan semacam event penaklukkan permainan gadis pada ... woah, itu sangat mungkin.

Ainz mengeluarkan helaan nafas lelah. Di waktu yang sama dia merasa wanita disampingnya menunjukkan perubahan yang abnormal.

Meskipun dia hanya melihat ke depan dan berjalan tanpa bicara, berbeda sekali dengan sebelumnya, karena dia tidak mengikuti kecepatan langkah Ainz. Terlebih lagi, meskipun dia sedang menghadap ke depan, dia tidak melihat kesana, dan pandagan matanya tertancap pada titik tertentu.

Ketika Ainz menyadari Albedo sedang menggumam sesuatu, dia membuka lebar-lebar telinganya untuk mendengarkan.

"Aku mencintaimu.. Aku mencintaimu.. Aku mencintaimu..."

Frase ini diulang berkali-kali, seperti tape recorder yang rusak.

"...Hey Albedo, aku bilang bahwa aku mencintai kalian semua. Semuanya... hm?"

Albedo bergerak aneh saat dia memutar kepalanya.

"Tidak, tapi tetap saja, itu artinya, termasuk saya juga!"

"Ah.. ya memang benar."

"Gooooh!"

Dengan kakinya yang semakin dekat, Albedo meloncat dengan gaya yang imut --- dan menabrak atap.

Itu adalah kekurangan dari orang-orang dengan kemampuan fisik yang luar biasa.

Bump! Tidak, lebih tepat seharusnya bang. Atap itu mengeluarkan suara yang keras, membiarkan yang lainnya tahu seberapa besar benturan yang diterimanya. Mendengar suara yang mirip dengan ledakan ini, makhluk yang mirip monster semi transparan pelan-pelan muncul dari lantai dan atap.

Ini adalah undead yang tersembunyi di dalam sel penjara yang tertangkap oleh kemampuan Ainz tadi.

"Ah, kalian semua bisa mundur. Bukan apa-apa."

Di depan Ains adalah Albedo yang sangat gembira hampir membuat ledakan lagu. Meskipun terbentur atap, kemampuan rasnya bisa mengurangi damage, oleh karena itu tidak menyebabkan luka sama sekali.

Undead dengan tipe-tipe berbeda dengan hormat membungkuk dan mundur, hilang sama sekali, dan kembali ke posisi jaga mereka.

"...Albedo, kita hampir sampai di ruangan kakakmu. Apakah kamu sudah siap?"

Albedo yang sebelumnya gembira berubah menjadi serius.

"Ya. Kalau begitu saya akan mengeluarkan bonekanya."

"Hm, berikan padaku."

Albedo mengulurkan tangannya ke dinding. Sebuah lengan transparan berwarna putih keluar dari dinding, meletakkan sebuah boneka di tangan Albedo. Itu adalah boneka bayi, dengan besar yang sama seperti bayi sesungguhnya.

Ainz mengambil bonekanya, menatapnya tanpa berkedip

"Boneka ini benar-benar menjijikkan."

Bentuk seperti bentuk bayi yang berlebihan, boneka cupid yang berubah bentuk semuanya. Matanya yang besar berputar-putar khususnya membuat muntah. Ainz mengerutkan alisnya yang memang tidak ada dan melihat akhir dari lorong. Disana ada mural besar di tengah pintu.

Ada seorang ibu dan bayi. Itu adalah sebuah lukisan ibu yang memeluk bayinya.

Jika hanya itu, maka itu adalah lukisan yang indah. Mungkin karena dibuat di masa lalu, beberapa area kehilangan warnanya dan tampilannya menjadi mengerikan. Hampir sulit membedakan gambar bayi hanya tinggal sesuatu yang mirip dengan reruntuhan.

Ainz mendorong pintu itu.

Pintu itu terbuka tanpa suara -- dan tangis bayi bisa terdengar.

Bukan hanya satu atau dua, itu bahkan bukan gema.

Tangisan itu jumlah sepuluh, bahkan ratusan, bersaaan membentuk suara sebelum terdengar oleh Ainz dan Albedo. Namun, tak ada bayi yang bisa terlihat di dalam ruangan.

Meskipun mereka tidak bisa terlihat, mereka pasti ada disana.

Di tengah ruangan kosong yang tidak ada furniture tersebut, ada seorang wanita yang dengan lembut menggoyang-goyang ayunan bayi.

Bahkan saat Ainz dan Albedo masuk ke dalam ruangan, wanita yang berpakaian hitam itu tetap diam, hanya terus menggoyang-goyang ayunan. Tidak mungkin bisa terlihat wajahnya, karena seluruhnya tertutup dengan rambut hitamnya.

Biasanya jika seorang NPC melihat Pemimpin Tertinggi (Ainz) namun mengabaikannya, Albedo pasti akan mengomelinya dengan keras. Namun dia tidak berkata apapun. Ainz tahu kenapa, karena sikap sedikit waspada yang ditunjukkan Albedo telah memberitahu semuanya.

"Apakah sudah waktunya dimulai?"

"Seharusnya begitu. Tolong hati-hati."

Seakan kalimat yang diucapkan diantara mereka adalah sebuah sinyal, gerakan wanita itu tiba-tiba berhenti dan dia menjadi terdiam. Lalu, dia pelan-pelan menuju ayunan bayi dan dengan lembut mengambil bayi yang ada di dalam. Tidak, itu bukan bayi sungguhan, tapi sebuah boneka.

"Salahsalahsalahsalah"

Dia dengan penuh semangat menggoyang-goyangkannya lalu melemparnya. Boneka yang dilempar dengan kekuatan penuh itu pecah berkeping-keping saat menabrak dinding.

"Bayikubayikubayikubayiku...!"

Dengan suaranya sambil menggeretakkan gigi, seakan itu adalah sebuah sinyal, tangisa dari lantai dan dinding semakin keras dan keras. Sumber suara itu akhirnya muncul sebagai lembaran daging yang berbentuk bayi semi transparan turun dari sekitar.

"Tabula Smaragdina benar-benar mengkonfigurasi banyak monster di tempat ini... Aku penasaran berapa banyak uang yang dia habiskan pada akhirnya."

Bayi yang mirip dengan daging yang menggeliat ini dekat dengan level 20 dan disebut dengan Carrion Baby.

Di YGGDRASIL, yang bisa dilakukan oleh seseorang adalah membayar dengan mata uang dalam game atau uang nyata untuk memanggil seorang monster secara manual di dalam labirin. Ini berbeda dengan yang muncul secara alami dan tidak hidup kembali ketika sudah terbunuh. Termasuk mewah bagi kebanyakan pemain dan jarang digunakan di luar dari role playing.

Menempatkan banyak Carrion Baby secara manual -- bahkan meskipun mereka adalah level rendah, menunjukkan betapa cerewetnya Tabula Smaragdina sesungguhnya.

Saat Ainz merasa kagum, wanita itu mengeluarkan sepasang gunting besar dari suatu tepat dan memegangnya dengan kuat di tangan. Matanya yang tajam dari rambut kepalanya yang acak-acakan menatap Ainz dan Albedo.

"Kamukamukamu, mencurimencurimencurianakkuanakkuanakkuanakku--!"

"...Dia benar-benar kakakmu. Kamu dan dia sangat mirip."

"Eh?Be, benarkah?"

Seakan tidak memperdulikan pembicaraan santai antara Ainz dan Albedo sebagai pertanda kebencian, wanita itu menggunakan nafsu membunuhnya untuk mendorong dia kepada Ainz. Dengan hanya beberapa langkah untuk mengurangi jarak antara mereka menjadi nol, wanita dengan balutan pakaian berkabung hitam berlari dengan langkah yang lebar dan tidak normal.

Wanita itu menusukkan guntingnya kepada Ainz---

"Anakmu di sebelah sini."

--Setelah Ainz memberikan boneka itu kepada wanita tersebut, sikapnya terdiam seakan tombol berhenti telah dipencet. Lalu dia buang gunting itu dan pelan-pelan menerima bonekanya.

"Anak baik anak baik anak baik!"

Dia memeluk anaknya yang tercinta dengan lembut, seakan tak ingin melepaskannya. Setelah itu, dia dengan hati-hati meletakkan bayi itu kembali ke ayunannya, dan dia menolehkan rambut yang menutupi wajahnya kepada Ainz dan Albedo:

"Momonga-sama, dan adikku yang imut, apakah kalian baik-baik saja?"

"Sudah lama Nigredo, Aku senang melihatmu.. yah, tidak berubah.."

Melalui percakapan ini Ainz berhasil mempertahankan ketenangannya karena dia sudah melihat pemandangan gila ini sebelumnya di dalam game.

Aku benar-benar berteriak waktu itu.

Seorang anggota guild tertentu bilang dia telah menciptakan karakter baru, dan membawa Ainz dan anggota guild lainnya untuk melihat. Hasilnya adalah semua orang yang ada disitu tanpa sengaja berteriak berbarengan, bergabung sama-sama menggunakan seluruh kekuatan mereka untuk menyerang Nigredo. Itu adalah ingatan yang nostalgia.

"Kakak, sudah lama."

Benar sekali, Nigredo adalah kakak dari Albedo, Kebetulan, dia juga adalah NPC yang dibuat oleh Tabula Smaragdina.

Jika Albedo adalah demonstrasi kuat dari celah moe favorit dari pemain Tabula Smaragdina, maka Nigredo adalah manifestasi kuat dari passionnya yang lain, yaitu film horror.

Dia bukan orang jahat, tapi dia memiliki kepribadian yang kuat, dalam berbagai cara.

Saat diskusi normal, dia akan menjadi sangat masuk akal. Namun ketika pembicaraan berubah menjadi lebih dalam, macam-macam bagian dari kepribadiannya yang sulit untuk didekati akan mulai bermunculan. Sementara dia mengingat anggota guild masa lalunya, Nigredo memilah rambutnya untuk memberikan jalan pada wajah yang disembunyikan sebelumnya, menunjukkan penampilan yang sebenarnya.

Mungkin dia mengira bahwa menyembunyikan wajahnya adalah tindakan yang tidak sopan, tapi Ainz berharap dia tetap melakukan itu.

Wajahnya benar-benar aneh sekali - tak ada kulit, melainkan otot yang terpapar semuanya.

Tak ada bibir, hanya gigi yang cantik seindah mutiara. Tak ada bulu mata, hanya mata yang bersinar cerah. Melihat hanya pada gigi atau mata sendiri-sendiri, mereka akan tampak cantik, tapi melihatnya secara keseluruhan hanya bisa dikatakan menjijikkan.

Wajah buruk seperti itu sering muncul di film horror yang menakutkan. Meskipun tak ada kulit yang membuatnya sulit ditentukan, dia tidak berbeda dengan Ainz, wajahnya masih memiliki otot jadi bisa diketahui ekspresinya adalah tersenyum.

"Dan Momonga-sama, untuk alasan apa anda.."

"...Ah, maaf. Waktu itu kamu tidak berada di ruang takhta jadi kamu tidak tahu. Aku tidak lagi disebut Momonga, namaku sejak itu berubah menjadi Ainz Ooal Gown. Mulai hari ini panggil aku Ainz."

Setelah mendengar hembusan nafas yang lembut, Nigredo lalu pelan-pelan membungkukkan kepalanya:

"Mengerti, Ainz-sama."

"Kalau begitu Nigredo, aku kemari untuk minta bantuanmu. Bisakah kamu menggunakan kemampuanmu untuk membantuku?"

"Kemampuan saya? Apakah yang biologis? Atau non biologis?"

"...Biologis untuk sekarang...hidup. Biarkan kujelaskan kepadamu dengan sejelas-jelasnya. Targetnya adalah Shalltear Bloodfallen."

"Guardian Floor?....saya tidak bermaksud kurang ajar. Jika itu adalah perintah Ainz-sama, saya akan segera melakukannya."

Meskipun suara Nigredo penuh dengan keraguan, dia masih memberikan respon langsung pada permintaan itu.

"Tolong, kakak."

Setelah main-main memberikan acungan jempol atas permintaan Albedo. Nigredo mulai mengaktifkan beberapa macam magic. Mereka banyak macamnya, Ainz mengetahui bahwa beberapa mantra terasa familiar, dan dia baru saja memerintahkan kepada Narberal untuk merapalkannya tadi malam.

Nigredo adalah seorang magic caster, salah satu NPC level tinggi yang memiliki posisi dekat dengan tingkatan tertinggi di Nazarick. Meskipun tidak terlihat dari penampilannya, kelasnya memiliki spesialisasi terhadap tipe investigasi, mengumpulkan informasi. Itulah kenapa Ainz datang kemari untuk meminta bantuannya mencari lokasi Shalltear.

Dengan kecepatan yang cocok untuk kekuatan yang dia miliki, Nigredo mampu melaporkan hasilnya dengan cepat.

"Ketemu."

"Aktifkan [Crystal Monitor]"

Setelah mengaktifkan mantranya, monitor kristal yang berkilauan menunjukkan figur yang memakai armor sedang berdiri tanpa bicara di sebuah dataran terbuka berumput di tengah hutan.

Ainz mengeluar suara kagum:

"Menakjubkan, bisa menemukan lokasi dengan tepat dari target, benar-benar layak mendapatkan reputasi sebagai magic caster spesialisasi..."

Kalimat pujian hilang saat gambar menjadi semakin jelas.

Orang yang ditampilkan pada monitor mengenakan armor full body yang berwarna merah seperti darah. Hanya wajahnya yang terbuka, menunjukkan sebuah lubang besar pada penutup kepalanya yang berbentuk seperti angsa, dengan bulu-bulu seperti burung yang muncul dari masing-masing sisi. Hiasan yang seperti sayap menggantung dari dada dan bahu, bagian bawah tubuh adalah gaun merah cerah.

Satu tangan menggenggam sebuah tombak raksasa yang bentuknya aneh, mirip dengan alat tetes yang digunakan dalam kelas kimia.

Ini adalah mode tempur penuh dari Shalltear Bloodfallen, seorang magic caster faith based yang memiliki spesialisasi dalam kemampuan bertempur dari job Valkyrie.

"Spuit Lance! Itu adalah item magic kelas Divine yang diberikan Peroroncino kepada Shalltear!"

Albedo mengeluarkan suara kecewa setelah melihat senjata Shalltear.

Ainz memiliki item kelas divine, sangat banyak hingga dia bisa menyelimuti seluruh bagian tubuhnya dengan item-item itu. Namun, itu tidak berarti bahwa item-item ini bisa dengan mudah diproduksi.

Item magic YGGDRASIL dibuat dari menggabungkan kristal data komputer, tapi performa dari kristal data komputer yang dijatuhkan oleh monster tidak seberapa, oleh karena itu pembuatan item kelas divine diperlukan beberapa kristal data komputer "item jarahan yang sangat langka" untuk bisa membuatnya. Bukan hanya itu jika kamu ingin kristal data komputer ini digabungkan ke dalam sebuah wadah -- seperti senjata tipe pedang -- dia haruslah senjata yang ditempa dengan logam yang ultra langka agar berhasil.
TL Note : Kristal Data Komputer - mirip dengan kristal yang digunakan oleh Nigun Sunlight Scripture ketika bertarung melawan Ainz di desa Carne.

Oleh karena itu, bahkan pemain level 100, sangat umum jika dia tidak memiliki item kelas divine satupun.

Bahkan Ainz Ooal Gown, sebuah guild yang memiliki peringkat sepuluh teratas, tidak memberikan setiap NPC dengan item kelas divine. Mereka hanya diperbolehkan memiliki satu atau dua paling banyak.

Dan Shalltear Bloodfallen memiliki item kelas divine Spuit Lance (Tombak Spuit).

Namanya memang terdengar lucu, tapi kemampuannya sangat kejam. Beberapa kristal data komputer bisa menghisap damage diterima pemain untuk memulihkan stamina dari penggunanya, dan Spuit Lance adalah contoh nyata dari peningkatan kemampuan ini.

"...Ayo pergi sekarang."

"Huh? Ah, tunggu sebentar! Shalltear sudah memakai armor penuh. Saya percaya sebuah pertarungan sudah tak terhindarkan lagi, oleh karena itu perlu untuk memilih beberapa bodyguard untuk melindungi Ainz-sama."

"Tidak ada waktu lagi. Jika negosiasinya gagal, kita bisa langsung mundur --"

'Ainz-sama, maaf sudah mengganggu anda.'

Suara seorang wanita bisa terdengar di benaknya. Itu adalah Narberal yang masih tinggal di E-Rantel.

Waktu yang tidak tepat untuk memanggil ini membuat Ainz sedikit kesal.

"Ada apa Narberal? Sekarang ini---"

Aku sedang sibuk. Ainz yang berencana untuk mengatakan ini berhenti di tengah jalan.

Karena dia teringat menyela [Message] dari Entoma tadi malam. Meskipun itu apa boleh buat, tapi jika Ainz langsung betindak saat itu, situasinya mungkin berbeda sekarang. Dia bisa memberikan tugas menyelamatkan Nfirea pada Narberal.

Sedikit perasaan menyesal membuat Ainz membalas dengan tentang.

NPC memperlakukan Ainz sebagai pemimpin tertinggi mutlak, oleh karena meskipun keputusannya salah, masih mudah untuk menempatkan ucapan Ainz sebagai prioritas tertinggi. Karena itu, Ainz harus mendapatkan ketenangannya, memastikan untuk berhati-hati dan bertindak dengan waspada, menghindari membuat kesalahan.

Bagi orang biasa sepertiku, ini adalah permintaan yang tidak masuk akal...

Sambil mengejek keputusan cacat yang dia keluarkan sendiri, Ainz tersenyum saat teringat bahwa itu benar-benar tidak mungkin. Merasakan bahwa Narberal di sisi lain dari [Message] mengeluarkan suasana seorang pelayan yang sedang menunggu tuannya, Ainz gemetar seakan dia terkena petir.

Apa yang kupikirkan? Aku adalah Pemimpin Tertinggi Ainz Ooal Gown, yang dipanggil dengan nama ini oleh mereka. Benar sekali, aku bukan Suzuki. Tidak mungkin? Salah, karena aku sudah memilih untuk memanggil diriku sendiri dengan nama ini, maka perlu merubah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

"..Tidak, bukan apa-apa. Ada apa? Apakah kamu memanggilku via [Message] karena situasi darurat?"

"Ya. Sebenarnya ada beberapa orang dari Guild Petualang yang sedang mencari Ainz-sama."

"...Jika itu tentang kejadian tadi malam, tolong minta mereka untuk menunggu..tidak, itu tidak mungkin. Seharusnya tentang hal lain, benar kan?"

"Ya! Ainz-sama benar-benar cerdik!"

Di titik ini Narberal menjadi tidak tidak jelas, keheningannya menunjukkan kebingungannya. Sebelum lama-lama, seakan dia sudah mencapai keputusan di otaknya, dia bicara lagi:

"Sebenarnya, selain dari peristiwa itu, masalah lain mulai muncul. Itu adalah... berhubungan dengan vampir."

"Apa? Kamu bilang vampir?"

Ainz menolehkan matanya ke arah [Crystal Monitor], fokus pada Shalltear yang sedang berdiri tegak tak bergeming.

"Tentang vampir itu, apakah pihak lain menyebutkan sesuatu? Seperti misalhnya rambut perak, atau memakai armor merah tua dan sebagainya?"

"Sayang sekali tidak ada. Yang datang hanyalah suruhan. Pihak lain hanya bilang bahwa detil lain akan dijelaskan ketika di Guild Petualang, dan berharap bahwa Ainz-sama bisa tiba disana secepat mungkin. Saya dengar bahwa beberapa tim petualang sudah ada disana...anggota guild saat ini ada di dekat sini, apa yang harus saya sampaikan padanya?"

Ainz menutup matanya. Tentu saja disana tak ada bola matanya, hanya sebuah cahaya di lubang matanya yang hilang.

"Tentang [Message] dari Narberal, bagaimana pendapatmu Albedo?"

Setelah menjelaskan, Albedo menundukkan matanya, lalu setelah beberapa saat melihat Ainz kembali.

"Dalam situasi saat ini tanpa informasi yang cukup, tak perduli pilihan mana yang dipilih, keduanya memiliki keuntungan dan kerugian. Seharusnya itu diputuskan oleh pilihan personal dari Ainz-sama. Secara pribadi, saya percaya bahwa tidak masalah jika kita mengabaikan manusia-manusia itu."

Setelah Ainz mengutarakan terima kasih kepada Albedo, dia jatuh ke dalam pemikiran yang dalam.

Menghadapi Shalltear adalah prioritas utama, mungkin saja akan membuka skenario terburuk.

Jika Guild Petualang diambil sebagai prioritas utama, perubahan macam situasi Shalltear nantinya?

Berpikir tentang hasil yang terburuk, Ainz merasa tak perduli keputusan manapun yang dibuat, masih akan berkembang menjadi situasi yang terburuk.

Saat ini jika dia masih memiliki teman-temannya, akan mudah untuk memutuskan berdasarkan voting suara mayoritas. Namun, mereka tidak ada disana. Sebagai penguasa Great Underground Tomb of Nazarick, dan mengambil nama penting itu sendiri, dia sendiri harus membuat keputusan.

Setelah beberapa saat ragu-ragu, Ainz membuat kesimpulannya.

"Albedo, kirim orang untuk memonitor Shalltear. Aku akan pergi ke Guild Petualang E-Rantel. Setelah masalah ini selesai, bawa aku ke lokasi Shalltear."

"Sesuai perintah anda."

"Kamu dengar itu, Narberal?"

"Ya. kalau begitu bawahan ini akan memberitahukan pesan bahwa anda akan kesana."

"Ah ya, katakan seperti itu. Dengan itu Albedo, maaf aku harus menuju ke Guild Petualang."

"Mengerti. Saya akan mengikuti instruksi dan mengirimkan beberapa pelayan keluar."

"Maaf sudah merepotkanmu. Dan aku akan memberikan cincinku kepada Yuri, tolong jaga baik-baik untukku."

Sebenarnya ada hal lain yang ingin dia berikan kepada penjaga perpustakaan, tapi Ainz merasa tidak ada waktu lagi dan langsung mengaktifkan kemampuan transfer cincin tersebut.

Dua orang saudari itu ditinggal sendirian di ruangan itu, dan suasana kembali santai. Seakan menunggu saat ini, mata Nigredo yang tak ada bulu matanya dipenuhi dengan rasa penasaran.

"Ada apa? Ada apa dengan Shalltear?"

"Ah, kelihatannya dia memberontak."

"...Tidak bisa dipercaya... bagaimana mungkin ini bisa terjadi... benarkah?"

"Aku juga tidak bisa mempercayainya, tapi begitulah keadaannya."

"Maka cepat-cepat menyingkirkannya adalah solusinya. Tapi dilihat dari keadaannya, kelihatannya Ainz-sama tidak ingin itu terjadi?"

"Ya, karena Ainz-sama sangat penyayang...Tidak, seharusnya itu karena memutuskan eksekusinya sebelum menyelidiki alasan pemberontakan Shalltear mungkin bisa jadi kesalahan besar. Ainz-sama seharusnya berpikir seperti itu."

Oh---, Nigreado mengeluarkan suara halus yang bisa berarti setuju atau bisa jadi menolak.

"Aku mengerti sekarang, aku akan tetap mengawasi Shalltear dengan magic sampai pelayanmu berkumpul dan mulai pengawasan mereka."

"Maaf sudah merepotkan, kakak."

Percaya percakapannya sudah selesai, saat Albedo akan melepaskan kemampuan cincinnya, dia merasa kakaknya masih ingin mengatakan sesuatu. Biasanya, si kakak adalah tipe yang bicara langsung. Hanya ada satu alasan yang membuatnya ragu-ragu.

Meskipun dia tidak ingin, jika ada kesempatan topiknya adalah hal lain dari yang dipikirkannya, maka perlu untuk bertanya tak perduli bagaimanapun.

"Ada apa, kakak?"

"...Karena aku tidak boleh keluar dari penjara beku, aku tidak terlalu jelas tentang keadaan di luar. Apakah Spinel masih baik-baik saja?"

...Jadi memang itu ternyata.

Albedo memikirkan ini sendiri, dan menyesal bertanya. Namun dengan nada yang tegas sesuati dengan pertanyaan itu dia berkata :

"Kakak, kamu masih memanggil gadis tersebut dengan nama itu..."

"Aku sangat membenci gadis itu, meskipun kita semua adalah ciptaan dari Tabule Smaragdina-sama...Tidak, cara Spinel dibuat berbeda dari kita semua. Dia pastinya bukan tipe yang bisa membuat orang lain membuka hati kepadanya."

"Itu tidak benar, kakak. Dia sangat manis sekali."

"Yang kulihat, kamu telah ditipu olehnya. Spinel pasti akan membawa bencana pada Nazarick, aku jamin itu."

"...Tentang sudut pandang itu, kita seharusnya akan berbagi pendapat yang berbeda. Aku percaya gadis itu tidak akan pernah menjadi bencana."

"Begitukah? Jika kamu --- penjaga dari Guardian sudah memutuskan seperti ini, maka aku tidak akan berkata apapun lagi. Namun, aku masih harap kamu, sebagai pengawas dari Guardian, akan mempertimbangkan kekhawatiranku dengan kuat kedalam pikiranmu."

"Aku mengerti, aku akan memastikan untuk mengingatnya."

Menahan helaan nafas yang emosional, Albedo berpindah ke lokasi lain.

Namun, biasanya dia hanya akan menertawakannya, ucapan kakaknya bersarang di hatinya seperti duri.

Dia percaya bahwa ciptaan Penguasa Tertinggi seluruhnya sangat patuh. Namun Shalltear masih bisa membangkang. Itu artinya yang lainnya pun bisa berubah berkhianat juga.

Mungkin, pengkhianatan adik juga bisa terjadi --

Dia tidak bisa menghapus kemungkin ini semuanya. Namun, bagi Albedo. ini bukanlah hal yang buruk.

Pada tujuan perpindahannya, Albedo tiba dengan mata berkabut seperti dihipnotis.

"Ainz-sama, cintaku, aku adalah anjingmu yang setia, budakmu."

Kepada pria yang tidak ada dia mengutarakan pikirannya.

"Meskipun seluruh Nazarick berpaling melawanmu, Aku akan tetap disisimu."

"Silahkan, silahkan, silahkan, Momon-san, silahkan cari tempat duduk yang kosong."

Ada enam pria di ruangan itu, tiga orang yang berarmor lengkah dan bertampang seram. Pria lainnya, meskipun terlihat kuat dan berwibawa tetapi tidak memakai armor, berdiri dan mempersilahkan Ainz. Ada pria lain yang kurus dan terlihat selalu gelisah mengenakan jubah. Pria terakhir adalah seorang pria gendut di sudut ruangan.

Setelah Ainz duduk dengan tatapan semua orang disana kepadanya, pria yang sedang berdiri langsung membuka mulutnya lagi.

"Mari saya perkenal diri dulu. Saya adalah pemimpin dari Guild Petualang kota ini, Burdon Issac."

Pria paruh baya itu terlihat sangat mumpuni dan penuh semangat.

Mengeluarkan suasana seorang veteran ratusan pertempuran, seharusnya tidak ada yang meragukannya sebagai warrior yang luar biasa.

"Ini adalah pak walikota, Panasolei Gierge Di Leitenmaya-san."

Setelah Ainz mengangguk sedikit, Panasolei sedikit melambaikan tangan meresponnya.

Gendut---tidak, sejujurnya, pada dasarnya seluruh tubuhnya memang gendut. Perutnya penuh dengan lemak yang menggelambir, dan bahkan dagunya terdiri dari lemak berlebih. Karena tertutupi oleh lemak, wajahnya terlihat seperti anjing bulldog yang gemuk luar biasa.

Rambut pada kulit kepalanya sudah cukup tipis untuk memantulkan cahaya, dan sisa rambutnya sudah berubah putih.

"Momon-san, senang bertemu denganmu."

Mungkin karena hidung yang besar, tapi ketika dia berbicara dia seperti mengeluarkan suara "fuee". Ainz sekali lagi mengangguk mengakui si gendut, seperti babi ini.

"Orang ini adalah pimpinan Guild Magician E-Rantel Theo Rakesheer."

Pria itu sangat kurus, seperti bambu, sambil mengeluarkan sifat gugup, pria itu mengangguk kepada Ainz.

"Seperti dirimu, tiga orang pria ini diundang untuk bergabung dengan kita. Mereka semua adalah wakil dari tiga tim petualang E-Rantel yang kami banggakan. Dari kanan ke kiri adalah wakil dari Kuragura, Igavaruji-san, wakil Sky Wolf, Berette-san, dan wakil Rainbow, Mokunaku-san."

Postur ketiga orang ini sangat agung dan mengeluarkan kesan kuat, cocok dengan warnanya -- mythrill -- dari logam yang menggantung di leher mereka. Meskipun equipment yang mereka pakai tentunya sampah bagi Ainz, bagi para petualang di kota ini itu relatif lebih baik.

Masing-masing mata orang itu membawa emosi berbeda, tapi satu sentimen yang sama diantara mereka semua adalah rasa penasaran.

Salah satu dari mereka -- wakil Kuragura, Igavaruji, menatap dengan mata tajam kepada Ainz yang sedang duduk dan bertanya dengan dingin:

"Sebelum ini, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, pimpinan Guild Issac. Aku tak pernah mendengar nama Momon. Karena dia adalah kelas mythrill, dia seharusnya membuat prestasi yang cukup layak ya kan? Apa yang sudah dia lakukan?"

Meskipun nada yang dia keluarkan sedikit memusuhi, Issac, yang kelihatannya tidak tahu hal itu, dengan riang menjawab:

"Prestasinya adalah termasuk menjinakkan Virtuous King of the Forest, dan menyelesaikan insiden kuburan tadi malam."

"Insiden Kuburan?"

Berbeda dari Igavaruji yang bingung, wakil tim petualang Rainbow Mokunaku terlihat terperangah.

"Jangan-jangan itu adalah insiden yang melibatkan undead dalam jumlah besar?"

"Fueee--kamu cukup tahu banyak. Berita itu sangat menyusahkan, itulah kenapa perintah yang meminta agar informasinya tidak bocor sudah dikeluarkan. Darimana kamu dengar ini?"

Entah karena hidungnya yang sedang tersumbat atau tidak, sebuah suara "fuee" akan sering terdengar selama dia berbicara. Itu juga bisa karena dia menggunakan mulutnya untuk bernafas dan nadanya hampir tidak berirama. Rasanya sedikit aneh, seakan dia memainkan sebuah skrip kata demi kata.
"Maaf walikota, aku juga sedikit mendengarnya, dan kenyataannya sulit untuk menjawab pertanyaan anda tentang sumber darimana itu bisa terdengar. Selain itu, saya tidak tahu detilnya lagi."

Saat mata mereka bertatapan, keduanya tersenyum. Mokunaku memiliki senyum paslu sementara walikota memiliki senyum yang masam.

"Fueee--- kedengarannya seperti bohong, kelihatannya seperti bohong, tapi biarkan saja. Seharusnya ada banyak orang yang tahu tentang insiden undead itu. Fueee--maaf, aku tidak bermaksud menyela."

"Itu tidak masalah walikota. Karena Guild sudah memutuskan dan percaya bahwa Momon-san layak menjadi petualang dengan peringkat mythrill."

"Hanya itu? Karena menyelesaikan satu insiden? Bagaimana dengan para petualang yang telah melalui tes naik peringkat dan naik secara bertahap? Apakah mereka tidak akan mendendam?"

Persyaratan minimum dari sebuah kesopanan yang ditunjukkan kepada Issac tadi benar-benar telah hilang saat Igavaruji dengan terang-terangan bermaksud memusuhi. Saat itu, suara dingin yang lain bergabung dari samping.

"Hey Pemimpin Guild, jelaskan dengan sejelas-jelasnya. Sejujurnya, aku memiliki sentimen yang sama. Aku tidak setuju dengan peringkat mythrill Momon-san."

Yang menyela dari samping adalah pimpinan Guild Magician -- Rakesheer. Dia mengeluarkan ekspresi mengejek di wajahnya, tapi Ainz mengerti ekspresi itu adalah fakta yang tidak langsung diarahkan kepadanya, tapi Igavaruji menunjukkan senyum ramah kepada Rakesheer.

"Diantara pemimpin guild Magician dan Aku, pemikir hebat memiliki pemikiran yang sama."

"ho, ho, ho."

Seakan mendengar sesuatu yang lucu, bibir tipis Rakesheer menjadi semakin melengkung lebih tipis lagi. Ini bukanlah ekspresi baik, karena matanya dengan jelas menunjukkan penghinaan.

"Begitukah? Aku merasa pandanganmu dan pandanganku berbeda bagaikan malam dan siang."

"Apa maksudmu dengan itu--"

"Itu benar, jangan berdebat Igavaruji-san. Beberapa orang di dalam Guild bahkan merekomendasikan Momon-san seharusnya adalah kelas Orichalcum."

"Apa!"
Wajah Igavaruji menunjukkan ketidakpercayaannya.

Melihat ekspresi itu, seluruh wajah Rakesheer berubah tersenyum.

"Dengan hanya dua orang, Momon-san--tidak, ditambah Virtuous King of the Forest, ketiganya menerobos ribuan undead, dan mengalahkan individu-individu di tengah-tengah mereka melaksanakan ritual iblis."

"--Sesuatu seperti itu sederhana saja jika kamu cukup menjadi tidak kelihatan!"

Rakesheer dengan helaan nafasnya yang dramatis dan berkata:

"Apa yang kamu bilang memang benar. Jika aku berpikir seperti itu, maka Momon-san seharusnya bukan kelas Orichalcum. Namun beberapa bagian tulang undead menunjukkan kekuatan sebenarnya dari Momon-san."

Setelah Rakesheer mengatakan kelimat ini, dia melihat kepada Ainz dengan mata suram yang sedang mengenakan armor gelap.

"...Tulang-tulang dari skeletal dragon. Momon-san membunuh undead menakutkan dengan pertahanan absolut terhadap magic."

"Itu, itu...! Se.Skeletal Dragon memang benar sangat kuat! Tapi meskipun begitu, bahkan petualang kelas mythrill bisa mengalahkan--"

"--mengalahkan dua sekaligus?"

"Apa!"

Mulut-mulut yang terperangah tidak hanya berasal dari Igavaruji, tapi juga dari dua orang petualang lainnya. Lalu, cara mereka berdua melihat Ainz kelihatannya telah sedikit berubah, seakan mencoba untuk mengukur kedalaman kemampuannya.

"Sisa dari dua Skeletal Dragon masih ada di tempat kejadian. Dengan waktu yang sangat pendek seperti itu, bisakah timmu mampu untuk menerobos ribuan undead, mengalahkan dua skeletal dragon dan membunuh otak-otaknya, mencegah mereka rencana mereka berjalan? Diantara para petualang yang menuju ke kuburan, mereka bahkan menyaksikan wraith, jiwa bingung yang telah mati, dan undead kuat lainnya."

Igavaruji tanpa bisa berkata apapun menggigit bibirnya.

"Biarkan kuberi pertanyaan lagi. Menurut dugaan orang-orang, disamping Momon-san ada juga seorang wanita di timnya. Wanita muda itu adalah seorang magic caster. Melawan Skeletal Dragon, yang memiliki ketahanan absolut terhadap magic, dia bisa dikatakan sangat tidak berdaya. Di dalam situasi tersebut, jika kamu kelihatannya hanya memiliki dua orang saja... Tidak, termasuk Virtuous King of the Forest, tiga orang, apakah itu cukup untuk menyelesaikan prestasi semacam itu?"

Rakesheer membungkuk hormat kepada Ainz:

"Sebagai salah satu wakil kota ini, saya mengucapkan rasa terima kasih sedalam-dalamnya kepada Momon-san. Jika bukan karena respon anda yang cepat, siapa yang tahu berapa banyak nyawa yang akan dikorbankan. Aku ingin sekali berterima kasih secara pribadi, jika anda butuh apapun, anda hanya perlu mengatakannya dan saya akan melakukan apapaun yang mungkin untuk membantu."

"Anda terlalu memuji saya, pemimpin Guild Magician. Saya hanya menerima permintaan Bareare-san dan menyelesaikan masalah, itu saja."

"ho ho ho ho..."

Rakesheer tertawa keras, penuh dengan kekaguman.

"Saya yakin sekali anda layak mendapatkan Orichalcum...tidak, bahkan bisa juga kelas adamantium. Untuk meraih prestasi seperti itu dengan kelompok yang kecil, dan sangat rendah hati, bahkan membuatnya terdengar seperti kegiatan rutin. Aku dengar teman anda mampu menggunakan magic hingga tingkat tiga... itu tidak benar ya kan?"

"Saya senang dengan pujian anda....tapi, saya tidak ingin menunjukkan kartu saya dengan mudah."

"Begitukah, sayang sekali."

Saat Ainz dan Rakesheer bergurau, sikap mereka membuat Igavaruji semakin marah dan dia dengan suara keras berteriak:

"Timku pasti akan mampu menanganinya jika kami ada disana! Pada awalnya, memiliki anggota sedikit itu adalah masalahnya sendiri! Itu pasti karena ada cacat pada kepribadiannya sehinggat tidak mampu mengumpulkan banyak anggota!"

Suasana ruangan itu menjadi tegang. Seakan mendinginkan panas, suara serak "fueee" keluar.

"Mari kita akhiri diskusi ini disini. Semuanya yang hadir berkumpul disini bukan untuk berdebat sendiri kan?"

Mendengarkan suara fueee, Igavaruji akhirnya duduk. Namun dia masih memendam kemarahan yang sangat kepada Ainz. Melihat ini, dua orang pemimpin Guild hanya bisa menggelengkan kepala.
"Aku bisa mengerti perasaan mereka yang menghargai kekuatan, tapi ini bukan masalah utama saat ini, kita harus menyelesaikan pertanyaan secepatnya ya kan?"

"Pak Walikota, terima kasih."

"Ah? Meskipun aku tidak tahu mengapa kamu berterima kasih padaku, silahkan lanjutkan. Sejujurnya aku tidak jelas tentang apa yang sedang terjadi."

"Baiklah. Jika ini bisa langsung dilaporkan, akan semakin lebih baik..."

"Jangan khawatir. Aku juga sibuk menghadapi masalah yang terkait dengan Stronoff-san."

Suara "fueee" yang lain keluar.

"Mengenai masalah utama--"

"Sebelum itu, setidaknya sopan santun dibutuhkan. Bukankah seharusnya kamu melepaskan penutup kepalamu?"

Dengan nada menyindir, Igavaruji sekali lagi menyela. Meskipun itu benar, itu masih mengganggu, dan para petualang lainnya hampir mengerutkan dahi.

"Tidak masalah, apa yang dia katakan memang benar, aku memang tidak sopan."

Tapi ketika Ainz pelan-pelan melepas penutup kepalanya, dia menunjukkan wajah palsu yang dia buat dengan magic. Tampilannya biasa, tidak tampan.

"Karena aku datang dari negeri asing, untuk menghindari masalah, aku memakai penutup kepala ini terus. Maafkan ketidak sopananku."

"Che, orang asing."

"Sudahlah, Igavaruji. Para petualang yang melindungi umat manusia dari ancaman monster tidak dipisahkan oleh batasan negara. Protesmu terhadap peraturan guild yang tidak tertulis sejak dulu benar-benar membuatku malu sebagai sesama petualang."

Saat Igavaruji akan menyela dengan protes lain, dia menyadari semuanya disini memiliki opini yang sama, jadi dia menahan diri dan diam.

"...Karena aku orang luar, diperlakukan dengan prasangka sudah hal yang biasa."

Kalimat Ainz membuat beberapa orang tersenyum masam. Wajah Igavaruji berubah warna karena marah, tapi ketika Ainz memakai penutup kepalanya lagi, tidak ada lagi yang protes.

"Kalau begitu, aku harap tidak ada lagi yang protes tentang topik itu. Aku berharap untuk segera menyelesaikan masalah utama."

"Karena ada yang telat, aku belum mendengar isinya."

"Maafkan aku tentang ini, tolong maafkan aku."

Ainz merendahkan kepalanya karena meminta maaf sebenar-benarnya. Ketika dia seorang pekerja kantoran, dia sering merasakan hal yang sama ketika rapat hanya akan dimulai setelah seluruh anggota hadir, dan sebagai hasilnya dia harus menekan keinginannya untuk segera pulang ke rumah. Karena itu dia benar-benar tahu bagaimana rasanya.

Dengan permintaan maaf yang jelas dan jujur, berlawanan dengan sikap sinis dan sarkastik yang ditunjukkan Igavaruji, Ainz ternyata lebih mulya. Sebuah helaan nafas keluar, menyebabkan wajah Igavaruji semakin muak, karena dia mengerti bahwa penilaian terhadap dirinya telah mencapai batas bawah yang baru.

Namun adalah satu orang yang lebih kelam dari Igavaruji.

"...Cukup ini. Jika ada yang menyela lagi, silahkan keluar."

Orang itu adalah tentu saja Issac. Dengan mata penuh kemarahan dan bahkan tidak separuh dari ketenangan dari suaranya tadi, orang yang dia tatap tentu saja Igavaruji.

Igavaruji dengan lembut menundukkan kepala meminta maaf.

Melihat gerakan lucu lainnya, Ainz bingung. Dari rasa permusuhan yang ditunjukkan pada dirinya, tidak kaget jika saat ini Igavaruji menunjukkan sikap yang sama dengan anak SMP yang memberontak kepada orang tuanya. Mengapa dia sekarang mundur?

Setelah beberapa saat memikirkannya, Ainz tiba pada kesimpulan hipotesanya.

Pada pertemuan para petualang dengan peringkat mythrill ini, jika satu orang ditendang keluar, kritik macam apa yang akan dia provokasi? Meskipun nantinya kebenaran akan terungkap, masih ada kemungkinan dia akan diusir keluar karena dia tidak berguna. Dengan ini, posisinya diantara para petualang akan hancur. Ini seharusnya adalah alasan mengapa dia menutup mulutnya.

"Pertama adalah laporan singkat. Sekitar dua malam yang lalu, para petualang yang berpatroli di jalanan tepian kota E-Rantel bertemu dengan seorang vampir. Dari para petualang yang bertemu dengan vampir ini, lima diantaranya terbunuh. Semuanya yang hadir disini adalah karena ini."

Setelah mendengar deskripsi dari tampilan vampir itu, harapan Ainz hancur dengan mudah. Karena terlalu ketakutan, petualang yang selamat hanya ingat samar-samar pakaian vampir itu, warna rambut dan penampilannya. Namun, apa yang tetap menjadi kesan yang paling kuat adalah "Mulut yang lebar dan berambut perak".

Meskipun mereka hanya bisa samar-samar mengingat penampilannya, siapapun yang tahu Shalltear dan mendengar ini akan dengan cepat menghubungkannya. Di hatinya Ainz sudah sangat yakin siapa vampir itu.

Aku tidak tahu bagaimana situasi bisa begini, tapi aku seharusnya cepat-cepat merubah ingatan orang-orang yang selamat itu. Ini gawat, aku harus cepat-cepat menemukan kesempatan.

Saat Ainz mengerutkan alisnya yang tidak ada, diskusi tersebut berlanjut.

"Jadi begitulah. Aku tidak seberapa jelas dengan insiden tersebut, tapi menjelaskannya hanya demi aku akan membuang banyak waktu semuanya yang hadir disini, oleh karena itu jika ada kesempatan lain tolong biarkan aku mendengarkannya, dan aku harus bertanya kepada kalian jika kalian ada pertanyaan lain."

"Mengerti. Maka semuanya, apakah ada pertanyaan?"

"Dimana tempat terjadinya?"

"Diluar gerbang kota sebelah utara, kamu bisa menemukan hutan besar setelah berjalan kurang lebih tiga jam. Tepat di dalam hutan."

"Para petualang itu kelas apa?"

"Kelas besi"

"...Tolong katakan padaku, apakah hanya karena vampir itu para petualang sebanyak ini dikumpulkan? Apakah kita bermaksud untuk menggunakan pendekatan lelah untuk ini?"

"Benar sekali, jika itu adalah vampir, petualang kelas platinum seharusnya sudah cukup untuk menanganinya ya kan? Aku benar-benar tidak mengerti mengapa para petualan kelas mythrill sebanyak ini dipanggil."

"Alasannya sederhana, vampir itu sangat kuat."

Rakesheer menyela dengan jawabannya, dan semuanya terkejut melihatnya.

"Vampir yang sangat kuat..?"

"Jangan-jangan maksudmu musuh adalah vampir kelas yang lebih tinggi... yang pernah muncul di legenda tiga belas pahlawan, lord vampire 'Landfall'?"

"Kami tidak tahu apakah musuh adalah Lord Vampir itu atau baukan, tapi ketika para petualang bertemu dengan vampir itu, musuh menggunakan mantra tingkat ketiga [Create Undead]. Apa artinya itu, aku seharusnya tidak perlu menjelaskan kepada para petualang ya kan?"

Tidak ada lagi yang bisa dikatakan. Bukan hanya itu, ekspresi kaku mereka memberitahukan semuanya.

"---Aku benar-benar tidak mengerti apa artinya itu. Bisakah kamu menjelaskannya padaku?"

"Aku benar-benar minta maaf pak walikota."

"Bisa menggunakan magic dalam dunia semacam itu, jika kami memakai evaluasi sederhana, kita bisa menganggap musuh memiliki kemampuan sekelas platinum."

Panasolei yang secara kasar mengerti penjelasan ini mengerutkan dahi.

"Itu juga bisa dikatakan... Aku akan berhenti bicara dengan nada seperti itu."

Cahaya di mata Panasolei semakin tajam, ini adalah salah satu perubahan yang dirasakan oleh lainnya. Dari seorang yang malas, ekspresi seperti sloth, menjadi ekspresi babi liar yang buas. Tidak, ini adalah penampilan sebenarnya dari Panasolei.
TL Note : Sloth: Mamalia dari afrika yang kerjaannya bergantungan di pohon sepanjang hari.

"Dengan kata lain, Pemimpin Guild Magician, itu artinya seperti ini: seoran gmonster dengan kekuatan yang setara dengan tim platinum, memiliki skill yang setara dengan platinum juga."

"Apa yang kamu katakan adalah benar."

"Jadi bisa dikatakan, dia semakin kuat?"

"Berpikir seperti itu juga tidak salah."

"Jika kita mempertimbangkan istilah dalam kekuatan militer, apa persamaannya?"

"Militer.... pertanyaan itu agak sulit."

Rakesheer agak jengkel saat itu, lalu berbicara.

"Ini hanya pandangan pribadiku yang kasar. Aku seharunys mengatakan ini dulu, pendapat ini tidak absolut. Jika kita menghadapi musuh dengan tentara sebagai evaluasinya, undead tidak memiliki kelelahan atau membutuhkan makanan...dengan keberatan aku katakan seharusnya sama dengan sebuah pasukan yang berjumlah sepuluh ribu."

"Apa katakamu!"

Mendengar kesimpulan ini, Panasolei mengeluarkan ekspresi kaget, seakan mencari pendapat para petualan glain. Selain Ainz, yang lainnya mengangguk setuju dengan statemen pemimpin Guild Magician.

Issac membuka mulutnya untuk mengindikasikan "Aku akan melanjutkan apa yang Theo katakan --" dan seakan menerima tongkat estafet dari Rakesheer dia melanjutkan perkataannya:

"Secara umum bisa dikatakan, kira-kira dua puluh persen dari para petualang negeri di atas peringkat platinum. Di dalam kerajaan ada sekitar tiga ribu petualang, oleh karena itu di seluruh tanah kerajaan yang terdiri atas lebih dari delapan juta penduduk, ada sekitar enam ratus petualang dengan peringkat platinum atau diatasnya. Apakah anda mengerti ini? Para petualang dengan peringkat platinum atau di atasnya adalah langka."

"Jika memang seperti ini, meskipun aku berharap tidak mengerti, aku sudah memahaminya. Maka untuk membalik situasi ini, aku ingin meminta pada kalian para petualang. Apakah kalian percaya diri untuk maju dan menaklukkan? Jika tidak ada cara lain... bagaimana kalau meminta bantuan Kapten Warrior Gazef-san?"

Gazef Stronoff -- Warrior terkuat dari Kingdom, melebihi kelas petualang adamantium. Dia bisa dianggap kartu as terakhir dari Kingdom.

Namun Issac langsung menolak ini.

"Memang benar, mungkin tidak ada warrior yang bisa mengalahkan Stronoff-san. Namun dalam situasi dimana Stronoff-san menghadapi tim petualang yang lebih lemah darinya, kemenangan akan ada di tim petualang -- mengambil contoh Stronoff-san, jumlah magic dan skill martial art yang digunakan oleh tim petualang sebanyak empat kali lipat dari Stronoff-san. Melawan monster yang memiliki kemampuan spesial, kenyataannya adalah bahwa perbedaannya sangat jauh."

"kalau begitu.."

"Yang terbaik adalah mengumpulkan para petualang kelas adamantium dan orichalcum. Sebelum itu, biarkan kami para petualang terbaik kota ini untuk membangun jaringan pertahanan untuk menghentikan serangan vampir itu."

"Bukankah metode ini terlalu pasif?"

"Mempertimbangkan perkembangan kemungkinan terburuk, ini seharusnya adalah strategi terbaik. Lagipula , bukan musuh adalah satu orang yang mampu setara dengan seluruh pasukan?"

"Dengan kekuatan tempur yang mampu menghadapi jumlah besar pasukan, pemandangan terror di seluruh tempat akan muncul... aku sejujurnya tidak berharap kejadian ini akan terjadi."

Jika musuhnya adalah sepuluh ribu pasukan, lokasi mereka bisa dengan mudah ditentukan dari gerak barisan. Dan juga, untuk mempertahankan pasukan sebesar itu, perlu untuk mempersiapkan banyak perbekalan, membuatnya sulit untuk melakukan penyerangan dalam waktu yang lama.

Tapi, jika itu adalah satu orang situasinya, bagaimana ini akan berubah? Terlebih lagi, jika orang itu bisa menggunakan tipe-tipe berbeda dari magic [Invisibility], yang dikhusukan untuk tindakan rahasia?

"Namun, tentang pendapat pemimpin Guild, berbicara sebagai seorang petualang aku katakan membentuk jaringan pertahanan adalah tugas yang berat. Ini karena untuk menyelaraskan gerakan masing-masing, latihan jangka panjang dibutuhkan..."

"Tidak perlu akan hal itu, cukup jika semuanya bisa bertarung bersama-sama. Apa yang kalian pikirkan hadirin?"

Para petualang langsung keberatan dengan saran walikota.

"Itu seharusnya tidak mungkin. Jika kita melakukan tindakan diam-diam, maka perlu untuk membuat rencana operasi yang sangat matang. Tapi semakin jelas rencananya, semakin besar pelung kesalahan jika situasi yang tak terduga muncul. Jika memang seperti itu, semuanya akan bertindak menurut masing-masing daripada bersama-sama mungkin lebih baik. Ngomong-ngomong, mengapa vampir itu muncul di tempat ini? Apa hasil dari penyelidikan Guild?"

"Untuk masalah ini, karena musuh adalah vampir yang kuat, guild tidak bisa menyelidiki lebih jelas. Saat kami akan mengumpulkan kelompok investigasi, insiden tadi malam terjadi, dan kekuatan kami langsung terpecah."

"...Jadi begitu. Apakah anda khawatir bahwa dua insiden ini berkaitan?"

"Itu benar."

"Bukankah masalah di pemakaman diselesaikan oleh Momon-san? Dari penyelidikan terhadap sisa-sisa dan peninggalan insiden pertama, apakah ada isyarat bahwa keduanya berhubungan?"

Pertanyaan tersebut membuat tempat itu larut dalam keheningan.

Ainz bingung. Sebelum ini Pimpinan Guild tak pernah ragu-ragu dalam menjawab, namun untuk pertama kalinya tatapannya tertuju kepada walikota. Seakan meminta persetujuan. Ketika sedikit memikirkan ini, ini pasti tentang informasi yang berhubungan dengan serangan teroris di kota, dan mungkin saja beberapa informasi itu tidak bisa diceritakan sepenuhnya kepada para petualang.

"Dari sisa-sisa yang kami kumpulkan musuh adalah Zuranon."

Ekspresi tiga orang petualang itu berubah serius.

Tapi bagi Ainz, ini adalah pertama kalinya dia mendenga nama ini. Dia tidak bisa tidak berharap dan berdoa kepada Tuhan yang dia tidak percayai, berharap dia tidak akan ditanyai mengenai hal yang tidak dia ketahui.

Tidak tahu apa-apa itu menakutkan. Aku harus mengumpulkan informasi secepat mungkin.

"Organisasi rahasi yang mengurus masalah mengendalikan undead. Maka itu pasti berhubungan dengan vampir tersebut."

"Masalah yang muncul di waktu yang sama dari dalam dan luar kota... apakah tujuannya untuk memecah kekuatan tempur kita? Ataukah keduanya hanya pengalihan, dan rencana sebenarnya akan dilakukan.. ini akan terlalu banyak menimbulkan bencana."

"Prioritas dari tugas saat ini seharusnya adalah melakukan pengintaian. Menurut laporan ranger, seharusnya ada markas bandit yang dekat dengan lokasi dimana vampir itu ditemukan..."

"kemungkin bahwa vampir itu sudah pergi sangat tinggi...tapi, kemungkinan dia masih disana juga tidak nol. Harus ada yang dikirim kesana dahulu..."

Para petualang yang berbicara tiba-tiba berhenti.

Itu adalah reaksi yang alami, karena menuju tempat yang paling besar kemungkinannya bertemu dengan vampir itu untuk menyelidiki adalah sama dengan setuju untuk melompat ke tempat yang berbahaya. Jika memang ada pertemuan, dan jika vampir itu memiliki kekuatan untuk memprediksi kekuatan tempur, itu pasti akan menuju kematian.

Isyarat tadi tidak berbeda dengan meminta seseorang dengan sopan untuk menuju kematian mereka.

"...Mari kita singkirkan ini sekarang. Masih lebih penting untuk memperkuat pertahanan kota dahulu, karena mungkin saja vampir itu sudah masuk ke dalam kota."

"...Hal yang mudah untuk menyusup ke dalam kota hanya dengan menggunakan magic. Tempat ini tidak seperti ibukota Empire dengan pasukan langit dan magic caster yang berpatroli dimana-mana."

Mungkin saja menggunakan [Flight] untuk masuk ke dalam kota dari langit, dan juga mungkin saja menggunakan [Invisibility] untuk menyusup dari depan. Magic memang menyusahkan, oleh karena itu mengkonsentrasikan kekuatan tempur dan mendirikan pertahanan dulu adalah ide yang alami.

"Tapi akan sangat sulit untuk menghadapi situasi tanpa adanya informasi, oleh karena itu gua tersebut harus diinvestigasi terlebih dahulu!"

Ini adalah penawaran yang sangat beralasan mengumpulkan persetujuan dari semuanya yang hadir.

Situasi semacam ini sangat tidak menguntungkan bagi Ainz.

Akan menimbulkan bencana besar jika penampilan Shalltear saat ini diketahui oleh yang lainnya. Meskipun masih tidak yakin bagaimana perkembangan masa depan setelah hari ini, Jika penampilan Shalltear saat ini diketahui di seluruh kota -- bahkan seluruh kerajaan, maka akan menjadi halangan besar untuk melakukan operasi di balik layar nantinya.

Ainz berpikir keras, tapi tidak melihat metode lain untuk mengalihkan arus kejadian ini ke arah lain.

Pada akhirnya hanya ada satu metode yang bisa digunakan untuk mencegah penampilan Shalltear menjadi bocor.

Ainz menelan ludah yang tidak keluar, dan berkata:

"Pertama, ada kesalahan disini. Vampir dan Zuranon tidak ada hubungannya."

"Mengapa? Momon-san, apakah anda memiliki informasi dalam?"

"Aku tahu nama vampir itu, karena vampir itu adalah yang kukejar untuk kubunuh selama ini."

"Apa?"

Suasana di dalam ruangan menjadi kaget.

Ainz membuat otaknya bekerja keras untuk berpikir, untuk mempersiapkan mental terhadap event utama yang akan dimulai.

"Itu adalah vampir yang sangat kuat. Tujuanku sebenarnya untuk menjadi petualang adalah untuk memperoleh informasi tentang mereka."

Ini adalah informasi yang sengaja disebar agar Issac memakan umpannya.

"Mereka? Momon-san, kamu bilang mereka?"

"Ya, dua vampir, vampir wanita yang berambut perak namanya adalah..."

Dia tiba-tiba berhenti disini. Pada awalnya dia akan menyebut Carmilla, tapi vampir wanita dengan nama itu terlalu umum. Jika ada pemain lain di sekitar, nama ini akan membuat mereka bisa mengetahui keberadaan Ainz sendiri. Saat ini dia ragu-ragu untuk memutuskan namanya, dia tiba-tiba mendapatkan sebuah inspirasi dan mengeluarkan sebuah nama.

"Henupenuty."

"Hah?"

Dia mendengarkan sebuah ungkapan tertegun. Namun tidak hanya dari satu orang, tapi hampir semuanya bersamaan.

"...Henupenko."

Meskipun itu adalah nama yang dia katakan sendiri, rasanya sedikit berbeda dari yang diucapkan pertama kali. Jika ada yang bertanya sampai titik ini, dia bermaksud untuk memaksa bahwa dia salah mengucapkannya tadi.

"Henupenu..?"

"Itu adalah Henupenko."

Meskipun dia merubah nama terakhir dari vampir wanita itu dengan "-ko", dari namanya sendiri, tak ada pemain YGGDRASIL yang akan bisa mengetahui bahwa itu adalah nama yang dia buat-buat. Ainz merasa penuh percaya diri dalam nama yang sempurna ini, dan tersenyum bangga di balik penutup kepalanya.

"Be.. Begitukah? Kalau begitu Henu.... entahlah! karena kita tahu nama vampir wanita itu.... bukankah ini waktunya bagi kami untuk mengetahui identitas anda yang sebenarnya? Dari negara mana anda sebenarnya?"

"---Maaf sekali, sekarang bukanlah waktu yang tepat. Saya ditugaskan untuk membawa misi rahasia. Jika anda tahu, saya harus meninggalkan negara anda, dan vampir akan menjadi urusan anda. Saya tidak ingin membuat masalah ini menjadi antar negara. Walikota, anda seharusnya mengerti ini ya kan?"

Walikota mengangguk pelan. Melihat gerakan ini, Issac mengepalkan bibirnya dan menatap tajam kepada Ainz.

Tatapan pimpinan guild tidak mengganggu Ainz sedikitpun, tapi sampai mana mereka akan percaya kebohongannya? Apakah ada kontradiksi apapun? Ainz tidak nyaman dengan dua masalah ini, tapi menekan ketidaknyamanannya dulu, dengan nada marah tidak membiarkan yang lainnya untuk menyela Ainz melanjutkan berbicara:

"Biarkan timku yang bertanggung jawab untuk mengintai. Jika kami menemukan vampir disana, kami akan menghabisinya di tempat."
Dark Warrior yang tiba telat dengan tegas menyatakan seperti itu.

Meskipun mereka tidak bisa melihat wajahnya, mereka bisa merasakan dengan jelas kepercayaan dirinya dan keteguhannya dari nada bicaranya.

Tekanan, membuat yang lainnya salah bahwa ini faktanya adalah udara itu sendiri yang bergetar, membuat orang-orang terperangah. Seluruh orang yang hadir berpikir bahwa mereka sendiri yang membuat suara itu.

"Ka.. Kalau begitu, tim yang lainnya--"

"--Tidak perlu. Aku tidak butuh beban yang akan menghalangi."

Dia menyela penawaran yang lainnya, dengan lembut melambaikan tangan memberi isyarat ini.

Pengumuman yang kurang ajar ini dibuat dengan sikap sombong.

Menghadapi para petualang dengan kelas yang sama, sikap seperti ini sangat tidak layak. Namun -- para petualang yang hadir dan mengalami ratusan pertempuran merasa bahwa sikap ini tidak terlahir dari sebuah sifat narsis, harga diri atau kearoganan, tapi dari perhitungan dingin. Di waktu yang sama dia juga mampu untuk membuat tuntutan seperti itu berdasarkan kekuatannya yang sebenarnya.

Pria ini memang luar biasa.

Rasanya seakan armor gelap itu melebar di depan mata mereka, perasaan tertekan yang membesar, bahkan ruangan itu terlihat menjadi semakin sempit. Dari orang ini mereka bisa merasakan sebuah aura yang tidak bisa diraih olah mereka selamanya, contoh seakan itu dikeluarkan oleh petualang kelas adamantium.

Orang ini bisa disebut dengan pahlawan.

Issac yang tidak bisa tetap terdiam, mengambil beberapa nafas dalam-dalam. Tidak, setiap orang yang hadir juga melakukan hal yang sama, dan walikota bahkan sudah berkeringat, melonggarkan kerah bajunya.

Seakan berbisik, Issac bertanya dengan lirih:

"---Bagaimana dengan pembayarannya?"

"Tidak apa, itu bisa dibicarakan nanti. Namun, sampai insiden ini selesai... setelah vampir itu ditemukan dan dihabisi, aku harap setidaknya aku bisa mendapatkan kelas orichalcum, jadi ketika aku mencari vampir yang lain, jalanku bisa semakin mulus, karena harus membuktikan kekuatanku setiap kali adalah hal yang menyusahkan."

Tiba-tiba seluruh yang hadir disana membuat suara memahami. Para petualang itu tidak bekerja untuk kota atau negara, namun hingga saat ini kota ini tidak pernah memiliki kelas petualan orichalcum. Jika dia menjadi petualang dengan peringkat tertinggi dia mungkin akan mendapatkan banyak perhatian dan reputasi. Terlebih lagi, bisa memberikan restu yang langka kepada kelas orichalcum akan membuat reputasinya semakin tersebar. Dengan begini akan lebih banyak lagi misi dengan tingkat berbahaya yang tinggi akan dipercayakan, yang mana sebagai imbalannya akan menaikkan peluang untuk menerima berita atas vampir-vampir yang kuat.

Namun, meskipun itu tidak bisa diterima dengan akal sehat, ada seseorang yang tidak bisa menerimanya secara emosional.

Kursi itu berderit. Melihat ke arah sumber suara--tidak perlu dikatakan lagi. Tentu saja itu adalah orang yang terus-terusan menantang Ainz.. Igavaruji.

"Aku tidak bisa benar-benar mempercayaimu. Ngomong-ngomong, masih belum yakin jika vampir itu benar-benar sekuat yang dikira! Bahkan jika memang ada magic untuk mengendalikan zombie, pasti melalui sebuah item. Aku juga ingin pergi!"

Meskipun setelah kaget, Igavaruji masih bisa protes, semuanya karena dia memendam rasa permusuhan yang tidak puas terhadap Ainz, tidak mau mengakui kekuatan sebenarnya dari Ainz.

Mungkin saja itu adalah sikap yang tidak menyenangkan terhadap sesama petualang, Berette berkata dalam nada yang menusuk:

"Igavaruji, sikapmu itu--"

"--Tidak masalah."

Ainz hanya setuju. Namun, ini bukan berarti baik, karena kalimat berikutnya benar-benar dingin.

"Namun, jika kamu ikut...pasti mati? Aku tidak tahu apakah itu akan menjadi pembantaian sepenuhnya."

Itu adalah nada yang sangat rasional, bukan mengancam atau bercanda. Itu diucapkan seakan dia dengan tegas mengumumkan kepada yang lainnya nasib dia nantinya, membuat Igavaruji merasa ngeri. Tidak, bukan hanya Igavaruji, tapi juga seluruh orang yang hadir merasa seakan diselimuti oleh dinding es yang menggigit.

Ainz pelan-pelan mengangkat bahu:

"Aku sudah memberikan peringatanku. Jika kamu menganggapnya tidak apa maka ikut saja."

"Te-tentu saja!"

Meskipun itu hanya bualan, dia tidak akan mundur, tidak seperti ini. Sebagai sesama petualang dengan kelas yang sama, bagaimana bisa dia akan kehilangan muka di depan mereka yang mempunyai kekuasaan di kota ini.

Saat mereka berdua mengadu kepala, Issac yang mendapatkan sedikit ketenangan bertanya kepada Ainz:

"Percaya diri adalah hal yang bagus, tapi bagaimana anda bisa sepercaya diri itu? Tentu saja kami semua jelas dengan kekuatan anda yang luar biasa, tapi dari penilaian akan kekuatan musuh, anda seharusnya tahu bahwa tugas ini tidak mudah. Kami juga khawatir apakah kami harus mempercayakan semuanya atau tidak untuk anda tangani. Jika... misalnya saja anda kalah, kami juga harus merencanakan mundur..."

Seperti pistol, Ainz langsung membalas:

"Aku mempunyai kartu as."

"Apa itu?"

Ainz mengeluarkan sebuah kristal dari dadanya untuk membalas Issac yang tertarik.

"...Jangan-jangan itu! Tidak mungkin, sulit dipercaya..."

Yang berteriak tiba-tiba adalah Rakesheer. Terperangah, dia melanjutkan:

"Aku sering melihatnya di buku-buku kuno... seharusnya Theocracy memiliki salah satunya, dipuja sebagai harta karun...item magic yang memiliki kekuatan yang sangat besar. Ini adalah salah satunya... Kristal Magic Penyegel. Mengapa anda bisa memiliki item langka seperti ini?"

"Benar-benar menakjubkan.. anda benar. Dan yang tersegel di dalam kristal ini adalah mantra tingkat delapan."

"Aku pasti salah dengar! Apa anda bilang!"

Balasan Ainz membuat Rakesheer mengeluarkan tangisan, sangat aneh sekali bahkan ayam yang dipotong tidak akan membuat suara seperti itu. Ekspresi wajahnya juga berubah hingga titik sangat menakutkan.

Yang terkejut bukan hanya Rakesheer tapi juga seluruh yang hadir -- tidak, selain walikota, semuanya mengeluarkan ekspresi terpesona antara heran dan takut. Bahkan para petualang yang memiliki pengalaman sedikit mampu memahami arti dibalik ucapan Ainz dan nilai dari item tersebut.

"....Tingkat delapan... itu pasti karangan ya kan?"

"...Mungkin itu memang benar itu khayalan, tapi jika itu adalah magic ranah itu... benar-benar ranah mitos."
"Apa kamu gila? Itu omong kosong!"

Tiga orang petualang -- bahkan Igavaruji -- menunjukkan tampang ketakutan, menatap kristal di sarung tangan gelap tanpa berkedip mata sekalipun.

"Mohon maaf sebelumnya!I--Item itu, bolehkan saya pinjam sebentar?"

"Mengapa?"

"Itu.. hanya demi rasa tertarik dari seorang magic caster. Saya bersumpah tidak akan membuat gerakan aneh! Jika anda ingin apapun sebagai jaminan, saya bisa memberikan seluruh item di tubuh saya kepada anda, misalnya ikat pinggang ini --"

Melihat Rakesheer yang sudah buru-buru melepas ikat pinggangnya tanpa meneruskan ucapannya, Ainz yang tidak bisa menahan ini membalas:

"Aku sudah tahu, itu tidak perlu. Silahkan lihat, ini dia."

"Maaf, boleh saya pegang?"

"Kalau begitu aku juga!"

Kristal Magic Penyegel itu diraba-raba dan dipindah-pindahkan ke banyak tangan sampai akhirnya mendarat di tangan Rakesheer. Dia yang terakhir menyentuhnya, menatap dengan mata berkabut, seperti seorang wanita yang mendapatkan permata berharga yang sangat lama diidam-idamkan. Tidak, mungkin seperti seorang pemuda yang mendapatkan item yang diinginkannya.

"Terlalu indah.. benar kan, Momon-san, bolehkan saya merapalkan mantra padanya?"

Melihat Ainz melambaikan tangan setuju, Rakesheer dengan gembira mengaktifkan magic.

"[Appraise Magic Item], [Detect Enchant]"

Mengaktifkan dua tipe magic, ekspresi pria itu perlahan menjadi semakin berlebihan, lalu---

"Menakjubkan!"

---maskulinitas yang dikeluarkan tadi benar-benar hilang. Dengan mata tidak berdosa, berkilauan dengan kegembiraan yang alami, dan juga nada yang berbeda, dia terlihat seperti remaja yang kelewat senang.

"Memang benar! Yang tersegel di dalamnya adalah sebuah mantra tingkat delapan! Magic milikku hanya mampu melihat sedikit.. tapi itu sudah luar biasa, terlalu luar biasa!"
Dia terus berteriak seperti orang gila, membuat semuanya terpaku di tempat itu. Gerakan selanjutnya yang dibuat oleh Rakesheer adalah mengambil kristal itu, menjilati seluruhnya; lalu menggosokkannya ke pipi-- itu sama sekali perilaku yan gila.

"Te.. Tenang! Apa yang anda lakukan!"

Ketakutan dengan temannya yang bukan seseorang tipe seseorang yang berperilaku segila itu, Issac berdiri dan mendekat kepada Rakesheer. Faktanya, semuanya menoleh kearahnya dengan mata kagum atau tak tahan. Bagi seseorang yang membawa posisi kunci di kota ini untuk melakukan aksi semacam itu, sulit untuk dilihat.

"Sialan! Bagaimana aku bisa tenang? Itu terlalu sangat mengagumkan! Tersegel di dalamnya benar-benar mantra tingkat 8! Meskipun tidak tahu mantra macam apa yang tersegel di dalamnya!"

Rakesheer tidak bisa menahan kegembiraannya, menatap kristal itu dengan mata berbinar. Lalu dia akhirnya bisa memperoleh sedikit rasionalitas, dan bertanya kepada Ainz:

"Momon-san!Di--dimana anda menemukan kristal ini? katakan padaku cepat!"

"Itu ditemukan di semacam reruntuhan, di waktu yang sama dengan item-item lain yang ditemukan. Tentu saja magic itu sudah tersegel di dalamnya waktu itu. Aku sudah meminta beberapa magic caster hebat untuk memastikan ini."

"Jadi seperti itu!Di Dimana reruntuhan itu?"

"Di tempat yang sangat jauh.. Hanya itu yang bisa kukatakan pada anda."

Tentu saja, jawaban Ainz ini membuat Rakesheer mengatupkan bibir menyesali.

"Bukankah sudah waktunya mengembalikannya padaku?"

"Woo....ooo."

Rakesheer melihat sekeliling, dan dengan ogah-ogahan mengembalikan kristal magic penyegel kepada Ainz. Menyipitkan mata sementara dia melihat Ainz mengambil sebuah perkamen dan membersihkan kristal itu, Rakesheer berteriak keras:

"Kembali ke topik utama, Aku---menolak Momon-san yang pergi dulu memusnahkan vampir itu!"

Sebuah keheningan yang mengejutkan melingkupi ruangan. Issac yang menutup wajahnya dengan telapak tangan, tapi hanya sekedar meyakinkan, bertanya dengan ekspresi pahit:

"...Mengapa tiba-tiba menolak? Meskipun alasannya jelas tanpa harus ditanya -- aku masih akan bertanya untuk sementara."

"Ya...Karena...karena akan menjadi kerugian yang terlalu besar..."

Benar-benar gila. Issac memutuskan keadaan mental temannya saat ini seperti itu, dan mengabaikannya penuh.

"Kalau begitu, kita bisa abaikan pendapat Rakesheer..."

"Tunggu sebentar! Magic tingkat delapan adalah magic dalam ranah mitos. Item yang tak ternilai itu akan digunakan hanya untuk vampir itu!"

Kemarahan muncul di mata Issac. Itu sudah tidak bisa ditolerir lebih dari kata-kata, bukan sebuah sikap yang seharusnya dimiliki oleh orang dengan posisi tinggi.

Issac menekan kemarahannya dan berkata kepada Rakesheer dalam suara biasa:

"...Maaf, Rakesheer. Tolong, jangan membuat gaduh lagi."

Emosi kuat muncul di dalam kalimat ini membuat Rakesheer kembali ke rasionalnya dan tidak bisa berkata apapun. Wajahnya merah karena tindakannya yang memalukan sebelumnya.

Menyipitkan mata untuk memastikan temannya telah kembali normal sekali lagi, Issac melakukan sebisa mungkin untuk tetap tenang saat dia membuat permintaan resmi:

"...Kalau begitu, Momon-san, saya akan percayakan semuanya pada anda."

Melihat sikap pihak lain membungkuk saat dia membuat permintaan ini, Ainz mengangguk penuh percaya diri.

"Mengerti." Setelah mengatakan kalimat ini, dia melihat melalui celah pada penutup kepalanya pada Igavaruji.

"Kita akan segera langsung berangkat, karena penalti vampir yang terkena sinar matahari adalah gerakan yang lebih lambat."

"Penalty? Hey, itu adalah kelemahan mereka. Memang benar, tindakan mereka akan lebih lambat. Aku bisa bersiap dalam waktu yang singkat di pihakku."

"...Tidak perlu mendiskusikan dengan rekan-rekanmu?"

"Bukan masalah. Mereka akan mengerti."

"...Begitukah. Kalau begitu, aku akan menemuimu di gerbang utamba E-Rantel dalam satu jam."

"Satu jam? Bukankah itu terlalu dini? masih ada banyak waktu sebelum matahari terbenam."

"Aku ingin segera kesana cepat-cepat. Jika kamu menganggap keberanianmu kurang, dan butuh beberapa waktu untuk menguatkan tekadmu, maka aku akan meninggalkanmu disini dan pergi sendiri. Apakah ada yang mau kamu katakan?"

"Aku paham, aku akan segera bersiap-siap."

Dia berbicara dengan suara yang jelas dan keras, membuat Igavaruji memberikan persetujuan dengan mudah kemudian berdiri. Ainz dengan dingin melihat ke arah Igavaruji yang berangkat tadi lalu berputar dan melihat kerumunan yang tinggal di ruangan itu.

"Kalau begitu saya akan segera berangkat. Saya harap yang lainnya bisa melindungi E-Rantel dengan baik. Saya tidak berharap mendapati situasi yang sulit ketika pulang tidak bertemu dengan vampir."

"Ah, meskipun kami tidak bisa menjamin bahwa tidak akan ada masalah, tapi kami akan melakukan sebaik mungkin. Jika anda bertemu dengan bahaya, tolong segera mundur juga."

Ainz mengangguk lalu meninggalkan ruangan.

Ada tiga orang yang tersisa di ruangan itu: Panasolei, Issac dan Rakesheer yang memasang ekspresi panjang.

"Mohon maaf telah menunjukkan ekspresi yang memalukan."

"Tenang, tidak apa."

Panasolei tersenyum masam saat dia membalas permintaan maaf Rakesheer. Namun, penilaian setiap orang disitu kepada Rakesheer telah berubah drastis.

Rakesheer sendiri merasa sangat tidak berguna. Namun, dia masih sulit untuk menyembunyikan tampang gembiranya.

Sebelumnya, ketika kita bertemu dengan farmasist Lizzie, dia dengan gembiranya mendiskusikan masalah tentang potion. Melihat penampilannya yang gembira sekali, dengan mata dingin Rakesheer sendiri memiliki pertanyaan apakah perlu gembira karena hal tersebut. Sekarang ini dia dipenuhi dengan hasrat untuk tertawa pada perasaan yang dia miliki saat itu.

Dia mengerti. Ketika sesuatu muncul di depan mata dan dia tidak bisa mendapatkannya, siapapun akan tidak bisa menekan kegembiraan hatinya dan mengeluarkan emosi yang menyentuh.

"Apakah item tadi memiliki nilai setinggi itu?"

Rakesheer terdiam beberapa saat. Itu adalah untuk menekan emosi mirip remaja yang muncul taadi.

"Ya. Item tersebut bisa membalikkan seluruh pengetahuan masa lalu dengan signifikan dan apapun yang berhubungan dengan magic. Kenyataannya, magic yang lebih dari tingkat enam hanyalah legenda. Namun, yang tadi itu adalah pertama kalinya aku menyaksikan."

Tipe berbeda dari magic yang disebut "tingkatan magic" seharusnya pertama kali muncul di dunia ini enam ratus atau lima ratus tahun yang lalu. Meskipun setelahnya beberapa magic caster muncul yang mana dielukan sebagai para pahlawan, tapi dari para pahlawan itu yang mampu menggunakan magic tingkat tujuh keatas, selain dari tiga belas pahlawan, yang lainnya hanyalah rumor.

Diantara legenda para pahlawan, ada seorang pahlawan yang menggunakan magic yang membuat lainnya berharap sangat yakin berkata bahwa "itu tidak akan berhasil meskipun kamu menggunakan mantra di atas tingkat tujuh". Tapi semuanya setuju jika itu hanyalah sebuah cerita tanpa ada bukti? Dan juga apakah tiga belas pahlawan benar-benar bisa merapal mantra tingkat ketujuh dan keatas juga masih samar.

Namun --

Rakesheer berpikir kepada dirinya sendiri, mungkin tidak semua dari cerita para pahlawan itu adalah fiksi. Dia menyimpan kejadian ini di hatinya dalam-dalam, dan berkata kepada dirinya sendiri untuk menyelidiki hal ini di waktu luangnya.

Sebagai contoh, menggenggam ranting Tonelico, Raja Goblin yang menghancurkan naga yang tak terhitung jumlahnya; pahlawan bersayap mampu terbang di langit dalam waktu yang lama; warrior magic yang mengendarai naga tiga kepala; dan seorang putri yang, bersama dengan dua belas knightnya yang setia, menguasai istana Kristal.

"Bisakah kita benar-benar mempercayainya?"

Yang dimaksud Panasolei, tidak diragukan lagi adalah Ainz.

Sebuah potion yang diambil dari seorang petualang yang mengenakan armor hitam dan melemparkan botol potion ini kepada vampir untuk membuatnya mundur -- ini adalah testimoni dari petualang yang selamat.

Oleh karena itu mereka datang kepada farmasist yang paling mumpuni untuk menanyakan efek dari potion ini. Kesimpulannya adalah bahwa item tersebut hampir sama langkanya dengan kristal magic penyegel yang tadi.

Jika hanya ada satu item yang langka, yang lainnya akan merasa curiga, tapi jika ada dua, yang lainnya akan ingin tahu siapa yang membuatnya. Namun, mengapa vampir itu menghentikan serangannya?

Ada dua kemungkinan. Pertama adalah berhubungan dengan sikap permusuhan, yang lain mengikuti aliansi timbal balik. Itulah kenapa perlu untuk mempertimbangkan kemungkinan bahwa informasi Momon sebelumnya dan yang ini mungkin ada hubungannya. Petualang Momon tiba-tiba muncul bersama dengan vampir, apakah benar ada hubungan permusuhan diantara dua orang ini?

"Apakah mungkin dia bekerja sama dengan vampir itu"

Ini adalah area yang perlu diperhatikan. Tiga orang itu memikirkan kembali pria yang disebut Momon tadi dan apa yang dia katakan sebelumnya.

"Kemungkinan itu sangat rendah. Bagaimana pendapatmu Rakesheer?"

"Aku juga sama. Ada meode yang lebih baik jika dia ingin pura-pura membunuh vampir itu lalu mengirimkan vampir wanita itu ke dalam persembunyian."

Meskipun diasumsikan dia bekerja sama dengan vampir itu, apa yang Momon katakan tadi bukanlah sebuah keuntungan baginya.

"Apakah tujuannya untuk menjadi petualang orichalcum?"

"Itu bukan masalahnya, pak walikota. Para petualang memang menikmati ketenaran dan popularitas, tapi itu adalah jarak yang panjang untuk mendapatkan kekuasaan. Apa untungnya setelah menjadi Orichalcum? Issac."

"...Kemungkinan bisa menerima pekerjaan yang komisinya lebih besar, dan reputasinya akan lebih tinggi. Dengan keberuntungan, bahkan mungkin saja menerima posisi resmi dengan kondisi yang bagus.. Namun hanya ini semua keuntungannya. Jika dia ingin mendapatkan kekuasaan, metode lainnya masih lebih cepat."

Kesan yang dalam bahwa yang diberikan para petualang kepada yang lain adalah pasukan bayaran yang profesional dalam bisnis memusnahkan monster. Memang benar, mungkin saja bisa menjadi pemimpin Guild Petualang, tapi tidak mungkin bisa menanjak hingga posisi yang bisa mempengaruhi politik kerajaan.

"Jika dia ingin uang, yang dia lakukan cukup menjual kristal itu dan dia tidak akan khawatir tentang makanan dan pakaian selama hidupnya. Dengan kekuatan sepertinya, sangat mungkin untuk mengembangkan reputasinya dengan cepat. Kenyataannya, ada beberapa penjaga yang kelihatannya menganggapnya sebagai seorang pahlawan dari legenda."

Panasolei mengangguk setuju.

Mengalahkan undead dengan jumlah yang sangat besar dalam sekali jalan, menerobos tak terhentikan undead-undead yang padat dan tak terhitung jumlahnya. Tindakan pahlawan itu benar-benar cocok dengan nama pahlawan asli.

Ini adalah perkataan dan penilaian dari mulut para penjaga yang menyaksikan sendiri pertarungan kepahlawanan Momon. Mereka bahkan bersumpah dengan tangan di hati mereka bahwa jika ada dia, maka tidak perlu takut sama sekali kepada monster apapun.

"Setelah mengatakan itu, atau sangat sialnya, tidak ada bukti yang jelas yang bisa membuktikan bahwa dia bisa dipercaya. Namun, retorika Momon-san tidak menunjukkan ketidakkonsekuenan apapun, dan terlebih lagi, jika dia benar-benar musuh mengapa dia mengeluarkan kristal magic penyegel untuk diperlihatkan kepada kita? Itulah kenapa kita harus menempatkan keyakinan padanya."

Ucapan Rakesheer membuat dua orang lainnya menunjukkan muka masam. Jelas sekali terlihat di wajah ini setelah melihat sikap maniak yang tadi, pendapatnya sulit disebut meyakinkan.

"Pak Walikota, Issac... kalian berdua tidak percaya kepada motif Momon-san karena dia muncul entah darimana, dan ketika dia muncul vampir itu juga muncul bersamaan, ya kan? Namun, aku percaya ucapan Momon-san adalah penjelasan yang cukup."

Kedua pria itu mengangguk bersamaan, menunjukkan itu memang benar.

"Ada juga masalah vampir itu menghentikan serangannya kepada petualang wanita setelah melihat potion langka dari Momon-san. Jika vampir itu dikejar hingga kemari oleh Mohon-san, itu juga masuk akal. Bahkan terlebih lagi, wanita petualang itu tidak tewas, bisa juga karena vampir itu ingin Momon-san tahu kehadirannya disini, dan sengaja mengampuni nyawa petualang wanita itu."

"Jadi begitu...membiarkan Momon-san percaya dia ada di dekat sini, menjebaknya dengan efektif. Karena wanita petualang itu memiliki potion tersebut, si vampir tahu bahwa dia memiliki hubungan dengan Momon-san dan melepaskannya, untuk membiarkan berita tentang kehadirannya tersebar lebih cepat. Tidak ada kontradiksi..."

"...Mempertimbangkan pengejaran tak henti-hentinya dari Momon-san kepada vampir itu.. sangat sulit untuk merasa gembira dengan kedatangannya kemari."

"Benar walikota. Namun, meskipun kita tidak tahu negara mana atau kelompok reliji apa dia berasal, masih lebih baik untuk memperlakukannya dengan baik sebelum dia mengalahkan vampir itu, sementara kita juga meningkatkan persiapan di waktu yang sama. Meskipun secara pribadi kita tidak perlu kecurigaan seperti itu...ho ho, aku benar-benar berharap ingin berbicara tentang item itu dengan Momon-san. Armor miliknya kelihatannya juga sangat bernilai."

"...Berbicara tentang Momon-san, ah ya walikota, bagaimana dengan mayat Zuranon?"

"Kami tidak tahu kemana mereka menghilang."

Walikota menjawabnya dengan meringis.

Mayat menyedihkan yang dikalahkan oleh Ainz ditempatkan di penyimpanan yang aman oleh penjaga, tapi setelah siang hari, mereka tiba-tiba menghilang. Meskipun ada spekulasi bahwa seseorang menyusup dan mencuri mereka, para penjaga tidak diserang dan tak ada yang melihat figur mencurigakan apapun.

Untuk menghindari perpindahan magic, tempatnya dibuat dengan menggunakan metode yang menghalangi transmisi magic, yang bisa dijelaskan semacam ruangan rahasia. Oleh karena itu jalan penyusup tidak diketahui, dan dia hanya menghilang begitu saja seperti asap.

Ada penyelidikan rahasia yang sedang dilakukan di dalam kota, tapi tak ada jejak yang berhubungan dengan hal itu yang ditemukan. Ini juga berarti bisa dikatakan ada kemungkinan ditemukan sebuah hubungan dari mayat yang sudah tidak ada itu.

"Pria yang melakukan ritual undead, apakah dia bisa berubah menjadi undead dan kabur?"

"...Kemungkinan itu tidak sepenuhnya bisa disangkal."

"Ini benar-benar melelahkan, dan forensik juga belum selesai...apakah kuil rahasi di bawah spirit temple adalah satu-satunya yang masih memiliki petunjuk? Akan bagus sekali jika ada bukti yang tersisa disana."

"Mendengarmu menyebut ini, kelihatannya Momon-san tidak pergi ke dalam sana. Jika ada item berharga yang tidak diketahui asalnya ditemukan disana, bisakah kita memberikan itu kepadanya?"

"Ah. Jika item dan ritual mereka dikesampingkan, ikuti saja peraturan petualang dan serahkan kepada Momon-san."

Ainz berlari sepanjang jalan.

Udara hangat menerobos masuk di celah penutup kepalanya, bertiup ke titik dimana matanya berada. Jika dia memiliki bola mata, mungkin dia akan berkedip terus-terusan, tapi karena Ainz tidak memiliki organ dia hanya merasa 'ada angin yang bertiup'.

Melihat ke bawah, tanah yang terbang secepat anak panah. Mungkin itu dikarenakan jarak dari tanah yang kecil, atau karena alasan lain, tapi rasanya lebih cepat dari kecepatan bepergian biasanya, meskipun berkata bahwa itu tidak seberapa menakutkan. Setiap kali tubuhnya terkena tiupan angin, seperti refleks akan ada kekuatan yang ditambahkan ke bawah kakinya.

Meskipun faktanya bahwa Hamusuke sudah biasa mempertahankan keseimbangannya, selain karena ukurannya yang besar, padasarnya dia hanyalah seekor hamster. Juga sangat sulit untuk mengendarainya karena Ainz harus melebarkan kaki selebar-lebarnya, dan posisi yang tidak stabil ini harus dipertahankan tanpa bantuan sadel atau perlengkapan berkuda. Bahkan Ainz, yang unggul dalam keseimbangan dari orang lainnya, harus berhati-hati agar tidak terjatuh.

Sangat sulit untuk mencabut pedang sambil mengendarai Hamusuke. Mungkin aku seharusnya membuat sebuah sadel dan pijakan kaki sesegera mungkin. Ketika aku membuat ini, mungkin armor blacksmith terdekat bisa datang dan membantu mempersiapkannya.

Apa yang membuat Ainz berpikir ini, selain dari tunggangan yang tidak stabil, yang lebih penting adalah karena figur yang bergerak sejajar dengannya.

Berkendara sejajar dengannya di punggung kuda adalah Narberal. Dia mengendarai kuda raksasa yang mengenakan armor logam berat, dipanggil oleh item 'Statue of Animal War Horse' (Patung binatang Kuda Perang).

Penampilan yang Heroik dari Narberal yang dengan lincahnya mengendalikan kuda raksasa saat mereka berlari sepanjang jalan memang mengagumkan. Figur bagian atas, kuncir kudanya bergoyang tertiup angin, dan jubah yang berwarna coklat berkibar karena angin yang kuat dari depan, seperti pemandangan dari film.

Perbedaannya bagaikan langit dan bumi dibandingkan dirinya, yang sedang mengendarai hamster yang terlalu besar. Merasa putus asa, dia melihat ke depan dan melihat sekelompok pria.

Itu adalah sebuah kelompok yang terdiri dari empat orang. Armor yang mereka kenakan lebih lengkap dari anggota Swords of Darkness yang dulu bepergian bersama dengan Ainz sebelumnya.

Ainz menekan insiden Swords of Darkness ke belakang ingatannya, melepaskan diri dari belenggu pikiran dan melihat ke arah empat orang di punggung kuda seperti tidak sadar.

Kuda yang hebat.

Ainz tidak memiliki banyak pengetahuan tentang kuda, tapi mantel kuda itu memiliki corak warna yang indah, dan bentuk tubuhnya sangat tegap. Seharusnya itu semacam kuda yang terkenal.

Empat orang yang mengendarai kuda dalam formasi segitiga sama kaki, juga seperti dalam adegan film.

Aku sangat bodoh sekali, terlihat seperti orang bodoh yang mengendarai Hamusuke.

Perasaan hatinya sedang suram, tapi hanya Ainz yang merasakan ini.

"Monster yang anda naiki sangat menakjubkan."

Salah satu teman Igavaruji yang sedang berkendara berbicara kepada Ainz. Nadanya berbeda dengan Igavaruji, tidak ada rasa permusuhan. Mungkin itu karena sifat alami petualang yang ingin tahu terdorong, nada itu dipenuhi dengan keingintahuan dan penasaran.

"Apa sebutan monster itu? Apakah dia terkenal?"

"Huh? Apa? Itu adalah monster dalam legenda!"

Pria itu berteriak dengan mata lebar.

Aku masih tidak terbiasa dengan reaksi ini. Apa perlu seheboh itu karena seekor hamster...ah?

Di dalam sudut pandangan Ainz, dia melihat Hamusuke yang dengan bangga menggoyangkan kumisnya dan menggerakkan telinganya. Momentum yang lebih kaut disalurkan ke pinggangnya. Separuh perhatiannya tertuju kepada pembicaraan antara Ainz dan lainnya.

Setelah Ainz menggunakan sarung tangannya untuk memukul kepala Hamusuke tanpa ampun, dia mendengarkan suara dengan emosi dalam.

"Tidak, hanya saja Igavaruji sudah menyebutkan sebelumnya... jadi memang itu. Dia itu iri."

"Bagaimana dia menceritakan tentangku?Ah, lupakan. Tidak apa tidak usah dikatakan. Aku bisa menebak dengan kasar hanya dari ekspresi kalian."

"Hahaha, maaf. Dia itu.. sebenarnya tidak buruk. Hanya saja suatu waktu dia iri terhadap perhatian langsung."

"...Dengan teman-teman semacam itu, kelompok kalian beruntung tidak terluka sejauh ini. Atau apakah kelompok kalian berganti banyak anggota?"

"Tidak, sejak kelompok ini dibentuk tidak ada anggota yang dibuang. Karena kepribadian orang itu dan kemampuannya tidak setara, dia masih seorang petualang yang sangat ulung."

"Ulung...huh."

Ainz mengubah tatapannya kepada Igavaruji dan melihat sepasang mata yang tajam yang penuh dengan niat memusuhi.

"Pasti sulit."

Setelah Ainz tersenyum saat dia mengeluarkan statemen ini, dia dengan entengnya mengangkat tangan memberi isyarat kepada Narberal, menyuruhnya untuk menekan emosi yang muncul perlahan-lahan menuju Igavaruji. Ainz tidak ingin memulai pertikaian disini, karena ada masalah yang lebih penting yang perlu ditangani.

Hamusuke mengangkat kepalanya dan melihat mereka setelah Ainz memberi isyarat kepada Narberal.

"Master...kepalaku sakit.."

Mata hitam yang legam itu berkilauan dengan air mata.

Dia merasa sedikit bersalah. Mungkin pukulannya tadi terlalu kuat, tapi jika dia terlempar dalam kecepatan ini, bisa gawat.

Meskipun Ainz terbentur ke tanah dengan keras, dia tidak akan merasakan sedikitpun luka. Dia telah melakukan percobaan menggunakan pelayan yang memiliki kekuatan mengurangi damage seperti dirinya, dan tidak merasakan sakit apapun ketika jatuh dari ketinggian seribu meter.

Masalahnya adalah teman seperjalanannya yang akan merasa curiga terhadap Ainz yang kuat seperti itu. karena dia sudah mengizinkan mereka untuk menemaninya hingga titik ini, dia berharap juga untuk menangani masalah ini hingga akhir. Harapan Ainz sangat tulus dan tanpa kemunafikan.

"Berlarilah dengan lebih stabil. Aku tidak ingin terpaksa menjepit tubuhmu."

"Mengerti, master khawatir terhadap kondisi tubuh bawahan ini ya kan?"

Kali ini Hamusuke tergenang air mata emosional. Saat ini Ainz menyuruhnya untuk mengawasi jalan ketika berlari, teman-teman Igavaruji yang sebelumnya merasa semakin kagum dan memuji:

"Oh, menakjubkan, mempertahankan posisi seperti itu sambil menjaga keseimbangan. Bahkan jika anda melakukan persiapan dan mengimbanginya, bukankan posisi ini sangat berbahaya?"

"Itu karena aku sudah terbiasa...lagipula aku berencana untuk memasang sadel nantinya."

"Sadel...itu sedikit menjijikkan...Tentu saja saya bercanda! Jika itu adalah pendapat master, Hamusuke ini akan menuruti tanpa protes!"

Dilingkupi dengan tatapan tajam Narberal, Hamusuke berusaha kuat untuk menunjukkan penampilan setia. Ainz merasakan getaran dari pinggangnya, getara yang berbeda terasa dari saat dia berlari.

Ainz mengerutkan alisnya pada wajah ilusi di bawah penutup kepalanya.

Tidak perlu menggunakan nafsu membunuh untuk menakuti cuma seekor hamster? tingkat kesetiaan segini masih menggembirakan, tapi apakah Hamusuke keterlaluan? Diskriminasi terhadap manusia tidak apa, tapi dia perlu hati-hati terhadap waktu dan tempat...Narberal kelihatannya tidak terlihat benar-benar memahami bagian ini...apakah pengaturannya memang seperti itu? Jika itu masalahnya maka mau bagaimana lagi, tapi tetap saja...

Hanya dengan membawa Hamusuke untuk melakukan aksi sudah membuat nama Momon si petualan menjadi terkenal, dan penampilan kesetiaan dari Virtuous King of the Forest dan juga sifatnya yang mengerikan memberikan dua kesan berbeda kepada lainnya. Yang pertama membiarkan orang percaya bahwa Ainz adalah petualang hebat yang dinilai baik. Meskipun dia mengendalikan Hamusuke dalam kedua kasus, selama ada kesempatan Ainz lebih memilih untuk menaikkan reputasinya ke arah itu. Ini karena dia berharap untuk cepat-cepat meraih titel seorang pahlawan dan bukan orang kejam.

Terlbih lagi, mendapatkan aliansi dari mereka yang ada di luar Nazarick pastinya akan berguna di masa depan.

Ainz bercermin pada sedikit aksinya. Mungkin dia terlalu kasar dalam menyikapi Hamusuke, oleh karena itu dia dengan lembut mengusap area yang dia pukul tandi dengan pelan seperti yang dia lakukan kepada binatang kecil.

"Tuan...itu benar-benar memalukan."

Ainz jelas-jelas mendengar suara gertakan gigi di dekat sana, bercampur dengan suara kuda yang berlari.

...Ini sebagian adalah kesalahanmu juga tahu? Ngomong-ngomong kamu terlalu memaksa, kelihatannya iri? Bukankah sebaiknya dia saja yang melakukan hal lain? Narberal juga sangat setia, tapi...hadiah apa yang seharusnya aku berikan padanya?

Saat Ainz bingung sendiri tidak tahu apakah harus memberikan sebuah cincin atau harta, Igavaruji mengeluarkan suara yang tidak bersahabat.

"Hey, Momon, kita sudah tiba di tujuan."

Setelah memberi isyarat mengerti. Hamusuke mengikuti dengan melambatkan kecepatannya. Berbeda dari kuda, bisa berkomunikasi langsung dengan Hamusuke adalah kekuatan terbesarnya sebagai penunggang. Jika dia mengendarai kuda. Untuk mengatasi masalah itu, masih lebih baik jika aku melatih menunggang kuda.

Ainz melompat turun dari Hamusuke. Setelah mengusapnya dengan maksud berterima kasih, Ainz melihat Narberal yang merubah kudanya kembali menjadi patung, dan orang-orang itu menggiring kudanya ke satu sisi.

"Kalau begitu, ayo maju. Formasi macam apa yang ingin kalian lakukan ketika masuk?"

"Kami akan berjalan di depan, kalian ikuti saja dari belakang."

"Kami tidak keberatan apapun yang ingin anda lakukan. tapi tolong pertimbangkan keberadaan kami dan berhati-hati dalam gerakan anda."

Setelah mendengar respon tidak sabar dari Igavaruji, Ainz membawa Narberal dan Hamusuke ke dalam hutan.

Sama seperti hutan di dekat desa Carne, hutan yang liar ini sulit untuk ditelusuri. Namun bagi Ainz yang dipenuhi dengan item magic yang bermacam-macam, itu seperti tanah datar. Juga, karena dia khawatir terhadap Shalltear, langkah kakinya tentu saja semakin bertambah cepat, dan suatu ketika bahkan Igavaruji meminta untuk memperlambat langkahnya.

Meskipun permintaannya dibenarkan, kata-kata kasar yang digunakan penuh dengan rasa bermusuhan. Narberal yang mengikuti dari samping hampir berteriak karena marah beberapa kali, tapi dihalangi oleh Ainz setiap kalinya.

"Kita akan segera tiba. Jangan bertindak gegabah."

Melihat ekspresi tanda tanya Narberal membuat Ainz tersenyum dari balik penutup kepalanya. Saat ini Hamusuke merasakan sesuatu yang tidak beres, dan terus menggerakkan telinganya seakan mencoba untuk mencari dengan jelas sumber suara.

Ainz, yang tahu alasan Hamusuke menunjukkan reaksi seperti itu, berbisik pada telinganya:

"--Berhentilah mendengarkan."

"Apa? Master, apa yang anda bilang--"

"---jika yang kamu dengarkan adalah suara logam, itu hanya bunyi yang aku buat dengan tangan. Tidak usah dihiraukan."

"Y..Ya, jadi begitu. Maaf sudah kurang ajar, master."

"Maka, selain dari itu, apakah kamu sudah menemukan tanda-tanda orang yang mengikuti."

Dia sudah menyuruh Nigredo untuk memonitor, dan ditambah dengan mengambil beberapa tindakan pencegahan, tapi tetap saja untuk jaga-jaga dia masih bertanya untuk mengkonfirmasi.

"Tidak ada. Ditambah lagi, kelihatannya tidak ada yang mengikuti."

"Hey---apakah ada yang terjadi?"

Pria yang berkendara di samping Ainz bingung dengan pertanyaan Ainz. Itu bukanlah wakil kelompok, Igavaruji yang bertanya, untuk alasan yang jelas yang tak perlu disebutkan.

"Begitukah?"

Pria itu mengeluarkan tampang bahwa dia tidak menerima jawaban ini, mengangkat bahu dan tetap diam setelah tahu bahwa Ainz tidak berniat bicara.

Meskipun aku tidak memiliki dendam kebencian pada kalian semua.

Ainz tidak berkata apapun, hanya berbisik di hatinya dan maju menembus hutan tanpa bicara.

Setelah berjalan beberapa meter ke dalam hutan, suara senjata yang berhasil dicabut dengan cepat datang dari belakang. Ainz menghentikan langkahnya dan dengan santai melihat ke belakang.

"Ada apa?"

"Masih bertanya seperti itu? Jika kamu berjalan di depan, setidaknya kamu masih bisa waspada."

Untuk pertama kalinya orang-orang itu menunjukkan sikap setuju terhadap nada Igavaruji yang dipenuhi dengan permusuhan.

"hey! Kalian yang sedang bersembunyi disana. Keluarlah cepat!"

Di arah yang diteriakkan oleh Igavaruji, ada pohon yang ukurang cukup besar untuk menjadi tempat bersembunyi seseorang dari belakang.

Di dalam suasana yang tegang itu, Ainz dengan tenang berjalan menuju ke arah pohon itu. Meskipun ada suara panik yang memanggil Ainz dari belakang, dia benar-benar mengabaikan mereka.

Narberal memiliki ekspresi yang tidak khawatir. Meskipun Hamusuke merasakan keraguan, dia tidak berhenti.

Seakan membalas Ainz yang mendekat pohon, seseorang yang mengenakan armor dengan warna yang mirip dengan Ainz menunjukkan diri dari belakang pohon. Di tangannya figur ini memegang battleaxe besar yang mengeluarkan kilauan yang samar-samar menyakitkan.

Penampilan dari warrior yang penuh dengan tenaga yang menyelimuti seluruh pemandangan dengan suasana yang aneh. Tidak, lebih tepat dikatakan bahwa hanya sebagian dari tempat itu yang diselimuti dengan suasana aneh.

Ainz dengan enteng mengangka tangan, memberikan lambaian dan menyambutnya:

"Terima kasih atas kerja kerasnya."

"Terima kasih, Ainz-sama."

Orang yang muncul, Albedo menyembah dengan hormat.

"Kalau begitu, Shalltear--"

"--Siapa lagi dia? Apakah dia adalah temanmu? dan apa maksudnya Ainz-sama?"

Rentetan pertanyaan bersuara keras itu datang dari belakang Ainz.

Bagi Igavaruji dan yang lainnya, ini adalah reaksi yang alami, tapi bagi Albedo yang mempertahankan sikap hormat yang elegan, itu adalah sikap kurang ajar yang mana mati saja tidak akan cukup. Sebuah kemarahan yang sangat ganas dan bisa membakar sekeliling menjadi abu keluar.

Hamusuke mulai gemetar, seluruh bulu badannya berdiri, melebihi level sebelumnya.

Pihak ketiga juga menunjukkan reaksi ini. Sedangkan individu yan gmarah, tentu saja wajahnya sangat pucat, dan dahinya basah kuyup oleh keringat saat dia merasakan itu dan suatu saat nyawanya tidak bisa terjamin.

"Persilahkan aku untuk memperkenalkan kepada semuanya temanku -- Albedo"

"Ainz-sama, bahkan menyebut orang seperti hamba sebagai teman... saya adalah pelayan anda yang setia."

"Sekarang kamu sudah mengatakannya, ya. Aku menarik kembali statemenku sebelumnya; dia adalah bawahanku. Apakah ini cukup menjawab pertanyaanmu? Kalau begitu Albedo, lakukan menurut percakapan tadi dan ambil langkah selanjutnya."

Ketika seluruh orang-orang itu terdiam, Albedo berdiri dan berjalan kepada mereka.

"Aku hampir lupa, namaku bukan Momon, namaku yang sebenarnya adalah Ainz, Kalian tak perlu mengingatnya."

Melihat orang-orang itu ragu-ragu menunjukkan ekspresi bingung membuat Albedo mengeluarkan senyum yang manis. Namun senyum itu datang dengan emosi dingin.

"Kalau begitu...Albedo, singkirkan mereka. Cukup tangkap satu orang...tidak, tangkap lebih dari satu sebagai cadangan. Gangguan sudah diaktifkan, jadi kamu bisa tenang karena tidak ada gunanya menggunakan komunikasi magic."

Sementara suara tenang Ainz membuat orang-orang Igavaruji merasa kecemasan yang tidak bisa dijelaskan, Ainz melanjutkan perintahnya:

"Juga bawa mayat-mayatnya kembali ke Nazarick. Jika mereka memiliki kekuatan seperti itu, mereka bisa digunakan untuk melakukan percobaan untuk melihat jika bisa digunakan untuk membuat undead dengan level yang lebih tinggi."

"Mengerti."

Albedo pelan-pelan dan dengan entengnya mengayunkan kapak raksasa.

Gerakan ini tidak dibarengi dengan niat membunuh, tidak juga dengan sikap memusuhi atau emosi negatif lainnya.

Itu adalah gerakan yang alami, karena bagi Albedo, untuk memenggal makhluk seperti ini sama seperti memotong daun wortel.

Jika bukan karena perintah Ainz, mungkin dia tidak akan menyandang senjata dan masih bisa meyakinkan kondisinya sendiri yang tidak terluka.

Orang-orang Igavaruji tidak bisa memilih dalam situasi sekarang, tapi mengetahui mereka menghadapi keadaan gawat, mereka semua menghunus senjata bersiap bertarung.

Diselimuti dengan tatapan bahaya, Ainz hanya mengangkat bahu.

"Maafkan aku. Apa yang aku katakan di Guild tidak benar: lebih tepat jika 'kematian pasti akan datang jika mengikutiku', aku sebenarnya bermaksud 'datanglah dan aku akan membantai kalian semua.'"

Ainz mengucapakn kalimat kematian kepada gerombolan manusia tersebut.

"Aku sudah memberi peringatan, tapi kalian tidak mau mendengarnya. Oleh karena itu ini adalah hasil dari pilihan kalian sendiri. Terimalah nasib kalian dengan rela."

Kelompok Igavaruji memilih untuk mundur.

Keputusan langsung mereka untuk mundur tanpa membuat komunikasi apapun sebelumnya atau isyarat tangan adalah karena mereka semua mengerti perbedaan kekuatannya. Terlebih lagi, pilihan mereka bukan kabur sama-sama, tapi berpisah dan kabur dengan kemungkinan selamat tertinggi.

Gerakan musuh kelihatannya diluar perkiraan Albedo, jadi dia mulai bergerak setelah beberapa saat terlambat. Meskipun jika kemampuan fisiknya melebihi Ainz sejauh ini, masih cukup rumit untuk mengalahkan musuh yang kabur ke dalam hutan dengan sekali sapuan.

Dia dengan cepat menyusul target pertama, menggunakan kemampuan menangkap untuk membuat musuh pingsan.

Albedo menggunakan indra pendengarannya yang tajam untuk menangkap suara logam yang terus menerus terdengar di kejauhan becampur dengan suara jeritan dari orang yang pingsan. Namun, karena garis pandangan di halangi oleh pohon di dalam hutan, sulit untuk meyakinkan lokasinya. Ditambah lagi, pria yang tidak memakai armor yang terbuat dari logam, setidaknya, suara langkah kakinya pada rumput dan kayu. Oleh karena itu lebih sulit untuk Albedo yang kekurangan petarung gerilya dan job thief.

Albedo menggelengkan kepala dan menghela nafas, lalu memerintahkan:

"Mare, singkirkan mayatnya. Ah, benar juga, ingatlah untuk menyingkirkan orang yang tidak sopan terhadap Ainz-sama."

---

Igavaruji berusaha melepaskan diri mati-matian.

Pada rapat Guild, dia sudah tahu sebelumnya bahwa Momon adalah petualang yang lebih kuat dari dirinya, tapi Igavaruji masih menolak untuk mengakui fakta ini.

Namun kemudian, menyaksikannya mengendarai monster -- penampilan agung dari monster hebat dari legenda kuno terdekat, virtuous king of the forest, dia hanya bisa mengakui meskipun dia tidak mau. Memiliki kekuatan untuk menjinakkan monster seperti itu, dia pasti memiliki kekuatan lebih daripada kelas mythrill.

Setelah mengetahui bahwa percakapan semua orang yang ada di ruangan tadi adalah benar, Igavaruji dipenuhi dengan kemarahan.

Aku tidak tahu kamu terkenal di negara mana, tapi jangan menghalangi kami, jika kamu ingin informasi, aku akan berikan padamu. Jadi diamlah dan pergilah ke tempat lain.

Teritorinya sendiri dilanggar -- Ini adalah pemikiran sebenarnya dari Igavaruji.

Untuk menggapai cita-citanya sendiri, dia tanpa lelah menguatkan tubuhnya, mengalami banyak petualangan dimana dia lolos dari kematian yang hampir merenggutnya berkali-kali untuk naik kelas pelan-pelan, namun ada seseorang yang melompati banyak sekali kelas. Tentu saja ini membuat yang lainnya merasa tidak puas.

Jika sebuah kesempatan itu hadir, dia akan menendang tangganya, bahkan menyebarkan rumor untuk menghancurkan penilai orang lain padanya. Hanya karena maksud ini Igavaruji memutuskan untuk bepergian dengannya.

Oleh karena itu, ketika teman Momon yang berpakaian armor gelap muncul, ingin membantai kelompok Igavaruji, dia bisa memilih untuk kabur tanpa ragu. Meksipun dalam ketakutan dia masih mampu mengambil tindakan lebih cepat dari orang lain, karena dia didorong oleh pemikiran buruk untuk melaporkan Momon--tidak, berita buruk Ainz kepada Guild secepat mungkin.

Kamu layak mendapatkan ini. Aku pasti akan kembali dengan selamat, dan membuat seluruh publik tahu apa yang kamu lakukan!

Meskipun tahu hal itu saat ini, senjata mengerikan itu bisa membabat habis dari belakang -- Meskipun tahu hidupnya dalam bahaya, Igavaruji menyimpan perasaan terdalamnya dan mengeluarkan cibiran.

Dia benar-benar tidak perduli keselamatan teman-temannya. Tidak, jika mereka menjadi tameng daging agar dia selamat sendiri, itu akan semakin baik.

Aku ingin menjadi nomer satu, lalu mendapatkan kelas orichalcum, kelas adamantium dan menjadi seorang pahlawan yang dibicarakan oleh orang banyak.

Selain dirinya, tidak perlu lagi individu kuat lainnya. Teman hanyalah batu loncatan untuk meraih puncak. Dia akan menjadi pahlawan yang menyelamatkan dunia seperti tiga belas pahlawan di masa lalu. Ini adalah impian Igavaruji setelah mendenga legenda pahlawan dari pemain musik yang mengunjungi desa.

Menghancurkan impian ini, dan melebihi kelompoknya, itu bahkan lebih tidak bisa dimaafkan terutama karena dia adalah orang yang akan melakukan pekerjaan yang aneh.

Lari, lari dan lari.

Bisa terus-terusan lari menembus hutan tanpa kehabisan nafas, benar-benar pantas disebut Igavaruji petualang kelas mythrill.

Namun --

Igavaruji bimbang. Sebuah riak di hatinya muncul, dan sangat besar pula.

Dimana ini? Aku takut mereka akan menempatkan pengepungan...jadi aku seharusnya sudah memilih jalan yang melenceng...huh..?

Indera arah dari Igavaruji mengatakan dia sudah benar, namun, indera keenamnya menunjukkan lainnya. Meskipun ini adalah pertama kalinya dia mengunjungi hutan ini, dia tidak mungkin bisa kesasar. Namun karena alasan yang tidak diketahui, dia merasa tidak tahu dimana dia berada...

Inderaku pasti ada yang salah.

Dia betekad jika ini adalah masalahnya. Namun, dia tidak merasa bahwa inderanya salah sama sekali. Itu adalah firasat buruk tapi dia tidak punya pilihan lagi selain menerimanya.

"..Apakah aku tersesat? Bagaimana bisa... sebagai seorang Forest Stalker sepertiku menjadi tersesat?"

Job yang dipelajari oleh Igavaruji adalah Ranger, spesialisasi dalam operasi lapangan. Itu juga berarti bahwa hutan ini adalah seperti kebun belakang rumahnya. Namun, sebuah perasaan yang sulit dijelaskan dan familiar muncul, seakan hutan ini telah berubah menjadi mulut menganga dari binatang buas pemakan daging.

"Ini seperti labirin.."

Hutan yang seharusnya familiar ini sekarang terlihat berubah drastis, membuatnya merasa tidak enak dan gelisah dari lubuk hatinya.

Saat ini---

Suara desiran bisa terdengar.

Teringat Eksekutor hitam sebelumnya, Igavaruji dengan penuh ketakutan menolehkan kepalanya untuk melihat sekeliling atas sumber suara, dan melihat seorang anak kecil yang mengintip dari balik pepohonan.

Itu adalah seorang dark elf, masih saudara dekat dengan elf hutan, sebuah ras yang hidup di pedalaman hutan.

Mengapa disini ada dark elf?

Menurut rumor, desa dark efl terletak di pedalaman huta besar di selatan, sebuah tempatyang tak pernah dikunjungi oleh manusia. Dark Elf memang dasarnya seperti itu, seharusnya hidup jauh dari peradaban. Kali ini, mereka sangat berbeda dari elf hutan yang berdagang dengan manusia.

Dia merasakan getaran aneh dari dark elf tersebut, dan seorang anak-anak, muncul sendirian, membuat Igavaruji merasa curiga, Saat ini, anak itu keluar dengan malu-malu.

Ah, dia seorang gadis.

Memakai pakaian wanita, ekspresi ketakutan muncul disana dibandingkan dengan penampilan cantik, niat kejam dari Igavaruji muncul. Meskipun pemikiran bahwa gadis ini dikirim oleh Momon terbersit di otaknya, perbedaan sikap diantara keduanya sangat jauh berbeda, oleh karena itu dia merasa itu tidak mungkin dan tertawa.

Terlebih penting lagi, jika gadis tersebut adalah dark efl hutan ini, dia pasti tahu rute yang aman. Meskipun wanita berarmor gelap tadi mengejarnya, dia juga bisa menggunakan gadis ini sebagai perisai daging. Dengan pemikiran seperti ini, dan memperhitungkan bahwa intimidasi diperlukan untuk memastikan kepatuhannya, Igavaruji mengambil langkah maju.

"...Hey."

Dia sengaja mengeluarkan suara yang dalam dan mengintimidasi, dark elf yang ketakutan mengambil langkah mundur:

"Itu, ma.. maaf..."

Melihat dia ketakutan menyebabkan Igavaruji mengeluarkan seringai, merasa rencananya akan berjalan mulus.

"Tidak perlu minta maaf. Ada sesuatu yang aku ingin tanyakan padamu, jadi kemarilah sebentar."

"Uh...Uh, uh, itu.. ma..maaf."

Tidak tahu mengapa pihak lain meminta maaf lain, Igavaruji bingung, tapi tongkat sandalwood di tangan gadis dark efl itu sudah diayunkan kepadanya.

Seperti rantai seluruh tubuh Igavaruji diikat erat dengan tanaman.

Dia gugup hingga titik seluruh tubuhnya gemetar.

Dia adalah seorang kelas mythrill, namun tidak mampu menahan magic yang dirapalkan oleh gadis ini?

Meskipun dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk melepaskan diri, tanaman itu tidak bergeming sedikitpun. Dipenuhi dengan rasa khawatir, Igavaruji mengeluarkan bualan:

"Dasar gadis brengsek! Jika kamu tidak melepaskanku, aku akan membunuhmu! Hey!"

Dark elf itu dengan hati-hati menundukkan kepalanya dan berjalan menuju Igavaruji.

Saat inilah Igavaruji menyadai bahwa gaunnya bukanlah item biasa. Pakaian dan armor yang luar biasa, hampir seperti barang yang sangat bagus yang takkan pernah Igavaruji dapatkan. Ditambah lagi, dari matanya--ingatan dari teman elf hutannya sekali lagi datang ke otaknya.

Kecuali, sebelum ingatannya terbentuk penuh, sebuah bayangan jauh di wajahnya.

Gadis itu dengan memaksa mengayunkan tongkatnya ke bawah.

Wajah gadis itu masih dalam keadaan ekspresi ketakutan, tapi matanya tidak membawa emosi apapun. Tidak ada perasaan apapun atas apa yang akan terjadi kepada Igavaruji. Sikap yang ketakutan itu terlihat hanya sikap buatan yang diperintahkan oleh lainnya

Dia terpikir menghubungkan gadis ini dan wanita berarmor hitam kejam dari sebelumnya.

"Tu.. Tunggu sebentar! Apa yang kamu rencanakan--"

Albedo tiba sebelum tongkat Mare turun di kepala pria itu. Penutup kepalanya yang terkena tongkat buyar, dan tengkorak di dalamnya juga membentuk retak seperti terkena benturan, dengan bola mata yang tergencet keluar karena pukulan yang kuat. Tengkoraknya benar-benar hancur, seperti bermain Suikawari di pantai di musim panas.
TL Note : Suikawari - permainan memukulkan tongkat ke semangka.

"Kamu sudah bekerja keras."

"I..Itu, Albedo-sama, Su..sudah selesai...a.. apakah ini benar?"

Albedo yang melepaskan penutup kepalanya, tersenyum kepada Mare yang ketakutan mengangkat tatapannya.

"Bagus sekali. Meskipun metode eksekusinya agak berantakan, itu tidak apa. Ainz-sama juga seharusnya memujimu."

"Be..Benarkah! Hehehehe."

Setelah dark efl itu tersenyum gembira dan melirik kepada mayat itu, Albedo bertanya:

"Bagaimana dengan orang yang terakhir?"

"Ah, i itu... sudah selesai. Ma..mayatnya sudah dipindakan ke balik pohon."

"Ternyata begitu, bagus sekali. Kalau begitu, Mare, bisakah kamu membantuku memindahkan mayat ini ke Nazarick?"

"Me..Mengerti."

Albedo tersenyum lagi kepada pemuda yang mengangguk dan tersenyum dengan gigi yang meringis dan memegang tongkat yang penuh darah. Dia dasarnya adalah anak yang baik.

Namun, akan lebih baik jika dia lebih berterima kasih.


"Sudah ditangani, Ainz-sama."

Ains mengangguk puas setelah mendengar ini dari Albedo, yang telah melepas penutup kepalanya dan sedang membawa penutup kepala itu di pinggangnya sambil berjalan. Dengan ini, tidak ada lagi saksi yang tersisa terkait persoalan Shalltear. Sambil melepas armornya, Ainz bersantai lalu bertanya kepada Albedo:

"Kamu sudah bekerja keras. Bagaimana status pengambilan mayat-mayatnya?"

"Mare telah diperintahkan untuk mengangkutnya ke Nazarick."

"Oh Begitu, maka masalahnya sudah selesai. Semoga mereka yang terbunuh oleh vampir bisa beristirahat dengan tenang. Kita, yang selamat, harus menahan kesedihan ini dan terus maju."

"Mengerti. Ainz-sama apa.. makhluk apa yang memegang tepian jubah anda?"

Ainz berputar untuk melihat, dan menemukan Hamusuke yang sedang memegang tepian jubahnya. --- Dia melakukannya dengan wajar, sebuah wajah yang terlalu lebar mencoba untuk bersembunyi di belakangnya, tapi aneh karena kelihatannya bisa pas--. Mata yang besar itu jelas terlihat lembab, dan bulunya juga berdiri ketakutan. Tentu saja, obyek ketakutannya adalah Albedo.

"Ini adalah Hamusuke. Semacam binatang peliharaanku."

"Apa! Makhluk ini berhasil memperoleh posisi yang paling didambakan di Nazarick?"

"...Huh?...Ah, Hamusuke. Dia adalah bawahanku yang setia Albedo, bertanggung jawab mengatur kediamanku, Great Tomb of Nazarick. Dia juga adalah atasanmu. Perkenalkan dirimu padanya."

"Seperti yang tuan katakan, pelayan rendahan ini adalah Hamusuke. Mohon kerjasamanya mulai sekarang, Albedo-sama."

"...Senang bertemu denganmu juga, Hamusuke."

"Bagus. Dengan itu, mari kita sudahi perkenalan ini. Mulai sekarang, Albedo dan aku akan melanjutkan perjalanan. Narberal, bawa Hamusuke dan Mare kembali ke Nazarick..dan perlakukan benda yang aku letakkan di mulutmu dengan hati-hati."

"Ya!"

Narberal menjawab dengan semangat tinggi. Hamusuke mengeluarkan item sentient yang didapatkan dari pemakaman di mulutnya dan bergumam ke Narberal:

"Me..Mengerti Master. Dan juga, item ini berisik sekali! Saya juga ada masalah penting yang ingin ditanyakan, bisakah kamu tenang sebentar di mulutku? Kalau begitu, pelayan rendahan ini ingin bertanya.. Narberal-sama, apakah pelayan rendahan ini akan menuju bahaya? Apakah akan dimakan?"

"Karena kamu kelihatannya adalah binatang peliharaan Ainz-sama, tentu saja tak ada yang berani memakanmu tanpa izin dalam situasi apapun. Jangan khawatir aku akan menyampaikan hal itu kepada semuanya."

Wajah Ainz tidak bergerak, tapi dia sedang tersenyum. Kelihatannya setelah mereka berdua bekerja sama di E-Rantel, hubungan mereka sudah meningkat.

"Bagus. Kalau begitu ayo, Albedo."

"Ya."

Dengan dilihat oleh Narberal dan Hamusuke, Ainz bersama Albedo menuju arah Shalltear.

"Melihat mayat-mayat orang-orang ini, bawahan anda yang setia ini teringat apa yang anda sebutkan di aula Takhta, bukankah kita harus mengambil mayat-mayat dari pria dan wanita yang dimusnahkan oleh Ainz-sama tadi malam?"

"Tentang itu.."

Dia akan mengulang apa yang dia katakan kepada Narberal tadi malam, bahwa perlu untuk menunjukkan mereka sebagai pelaku dari insiden ini, namun dia disela oleh Albedo.

"Ketika bertarung melawan Ainz-sama, mereka mungkin telah memperoleh beberapa informasi. Karena ada magic yang bisa membangkitkan yang tewas, bukankah kita seharusnya mengambil mayat-mayat tersebut untuk menghindari resiko itu? Ataukah anda memiliki alasan tertentu?"

Ainz berhenti bernafas. Tidak, dia tak pernah bernafas sejak awal.

Apa yang Albedo katakan memang tepat.

...Sialan.

Magic untuk membangkitkan yang telah tewas ada di dunia ini. Itu artinya ada cara yang lebih bagus daripada otopsi untuk memperoleh informasi yang lebih akurat dan detil.

Ainz mengingat kembali kejadian tadi malam. Identitasnya yang sebenarnya, nama Nazarick dan juga kemampuan Narberal. Orang-orang itu menjadi hati-hati terhadap fakta ini dan terutama wanita tersebut adalah berita buruk baginya.

Kesalahan yang sangat parah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengaku salah.

Dia hanya bisa berharap bahwa tidak ada individu yang mampu menggunakan magic resurrection disini. Namun, dari informasi yang didapat dari Sunlight Scripture, kelihatannya ada beberapa orang yang mampu menggunakannya di Slane Theocracy. Terlebih lagi, ada kemungkinan besar bahwa peringkat teratas dari petualang juga bisa menggunakannya. Mereka yang berada pada eselon yang lebih tinggi dari pemerintah juga bisa dengan sembunyi-sembunyi memiliki individu yang dapat menggunakan magic untuk menghidupkan kembali.

Dengan magic tersebut, ketika mereka memutuskan bahwa yang telah tewas memiliki informasi yang penting, mereka yang berada di posisi tertinggi E-Rantel akan sangat mungkin menemukan orang yang bisa menggunakan magic resurrection. karena mereka tahu masalah ini cukup buruk dan menghebohkan E-Rantel, mereka yang berada di eselon yang lebih tinggi juga pasti ingin menggali informasi yang lebih detil.

Ainz merasa jantungnya yang memang tak ada berdetak sangat keras.

Apa yang harus kulakukan?

Tanpa bertanya, mereka hanya perlu mengambil mayat-mayat itu. Namun, siapa yang harus diperintahkan untuk pergi?

Ainz mengatakan kepada Narberal untuk mengabaikan mayat-mayat itu pada awalnya. Apakah dia harus mengatakan kepadanya bahwa itu adalah kesalahan?

...Tidak, itu tidak boleh dikatakan.

Karena situasi ini kita masih tidak tahu mengapa Shalltear mengkhianati kita, Aku seharusnya menghindari perkataan yang bisa merendahkan kesetiaan mereka. Di waktu seperti ini, lebih baik untuk tidak memberi perintah dalam keadaan panik.

Ainz merasa bahwa dia bisa berempati kepada pimpinan perusahaan yang menolak untuk mengakui kesalahannya, dan memutuskan untuk berdoa dalam hati.

"...Apa yang kamu katakan memang benar. Namun aku memiliki alasan tertentu untuk mengabaikan mayat-mayat tersebut. Tenang saja, semuanya masih dalam perhitunganku...Selain dari masalah pengkhianatan Shalltear."

"Jadi begitu! Seperti yang diduga dari Ainz-sama. Pikiran hamba sudah diantisipasi sejak lama oleh Ainz-sama. Saya sudah terlalu banyak bicara...maafkan saya. Ngomong-ngomong, mengapa Ainz-sama tidak menggunakan magic revival sama sekali? Ketika mengumpulkan informasi, seharusnya bisa dilakukan kepada yang telah meninggal."

"..Oh?"

Ainz mengeluarkan eksklamasi yang diluar nada.

"Apakah aku tidak menyebutkan ini sebelumnya? Jadi apakah kamu sudah mendengar percobaan healing Demiurge?"

"Ya saya sudah mendengar. Percobaan itu termasuk memotong anggota badan, lalu mengaplikasikan percobaan magic pengobatan pada area yang terpotong?"

"Benar. Biar aku tanya sekali lagi. Apakah kamu tahu dimana magic resurrection harus diaplikasikan?"

"Bukan kepada mayat?"

"..Tidak, Ah, seharusnya tidak?"

Baik Albedo dan Ainz jatuh ke dalam pemikiran yang dalam ketika kesadaran terlihat jelas di mata Albedo.

"Ah, saya salah. Ainz-sama berkata benar - bukan pada mayat, tapi pada jiwa!"

"Benar sekali. Dalam percobaan Demiurge, anggota tubuh yang terpotong akan menghilang, lalu tumbuh lagi dari badan. Oleh karena itu di dalam situasi dimana magic yang dirapalkan kepada jiwa, apa yang akan terjadi pada mayatnya?"

Di YGGDRASIL, ada empat metode berbeda dalam membangkitkan kembali yang bisa dipilih dengan menukarkan experience point...

Tipe pertama adalah membangkitkan di tempat. Tipe kedua adalah membangkitkan di pintu masuk dungeon. Tipe ketiga membangkitkan di kota yang aman terdekat. Akhirnya, tipe keempat membangkitkan di tempat tertentu, seperti guild.

Jadi magic resurrection macam apa yang ada di dunia ini?

Tak perlu dikatakan, yang paling ingin dihindari adalah tipe keempat, yang mana akan membangkitkan mereka kembali ke titik respawn. Jika titik respawn Nigun adalah di Slane Theocracy, maka itu sama dengan menghidupkan musuh yang memegang informasi penting. Ainz akan melakukan hal yang bodoh jika melepaskan macan kembali ke gunung.

Oleh karena itu, tidak mungkin untuk bisa melakukan percobaan magic resurrection. Ini adalah hasil yang bisa merugikan diri sendiri.

"Jadi begitu. Memang perlu perhatian yang sangat teliti. Seperti yang diduga dari Ainz-sama. Persepsi anda memang mengagumkan."

Melihat Albedo menundukkan kepalanya dan menghela nafas, Ainz langsung menggoyang kepalanya dan membalas:

"Kamu sebetulnya tidak perlu mengkhawatirkan masalah seperti itu. Tapi tetap saja, perlu untuk menemukan tempat melakukan percobaan..eh eh. Kalau begitu, mari kita memanggil kembali semangat kita dan berangkat lagi."

Di bawah petunjuk Albedo, Ainz meneruskan jalannya menuju ke bagian terdalam di hutan.

Di dalamnya, dua orang itu tiba di dataran terbuka yang luas.

Di tempat yang bisa disebut tenang, berdiri sebuah figur armor berwarna scarlet yang benar-benar tidak cocok. Penampilan ilusi yang seperti dalam fantasy bersinar terang di bawah sinar matahari, tapi bau darah yang ada di udara merusak suasana ini.

Shalltear.

Penampilannya tetap sama seperti di [Crystal Monitor], bahkan posturnya terlihat tidak berubah. Oleh karena itu, Ainz sesaat bertanya-tanya jika dia masih melihat monitor.

Namun, ada sensasi nyata disini: bau darah yang menggantung dengan angin.

Ainz terus menerus menghirup nafas dalam-dalam, tapi karena tubuhnya jelas-jelas tidak bisa bernafas, dia hanya melakukan gerakannya saja, atau mungkin itu hanya refleksi terhadap keadaan emosinya.

"Shalltear"

Ainz memanggil.

Ainz merasa bahwa dia telah memberikan perintah dengan suara penuh otoriter, bukan suara serak yang dalam dan tak berguna.

Namun, tidak ada reaksi.

Dia memanggil lagi, dengan hati-hati dan melihat Shalltear dengan seksama.

Shalltear mengabaikannya. Matanya yang tanpa kehidupan sudah terbuka tapi tak ada spiritnya, kosong, memberikan kesan bahwa tak ada kesadaran di dalamnya.

Albedo, yang juga hadir, menjadi marah dengan sikap Shalltear.

"Shalltear! Bukan hanya kamu tidak memberikan sebuah penjelasan apapun, kamu berani menunjukkan sikap sombong seperti itu kepada Ainz-sama--"

"Albedo, kamu berisik! Diamlah! Jangan bergerak! Kamu tidak diperbolehkan mendekati Shalltear!"

Dengan nada kasar, Ainz menghentikan Albedo yang akan melangkah maju. Di bawah keadaan biasa Ainz jarang menunjukkan sikap seperti itu kepada ciptaan teman-teman lamanya, tapi kali ini tidak mungkin lagi menahan emosinya.

Dia kaget dengan kondisi Shalltear.

"...Jangan-jangan ini... apakah mungkin?...Tidak bisa dipercaya."

Ainz merasa cemas saat dia membandingkan pengalaman yang dulu dengan penampilan Shalltear saat ini. Di saat yang sama, dia memaksa mempertahankan ketenangan dan membuat penilaian dengan hati-hati, mengetahui bahwa kemungkinannya sangat tinggi.

Dia membuka mulutnya untuk berkata kepada Albedo, ingin menjelaskan apa yang dipikirkannya kepada yang lain dan menggunakan ini sebagai permulaan untuk membuat dirinya bisa mendapatkan fakta berurutan.

"Aku sangat yakin. Shalltear saat ini berada dalam pengendalian otak."

"Apakah ini karena alasan yang Ainz-sama bicarakan di ruang takhta?"

"Kita masih tidak tahu jika itu adalah masalahnya. Sambil menggali informasi dari Sunlight Scripture, aku telah menyaksikan sesuatu yang mirip. Ini memang benar hasil dari pengendalian pikiran. Aku tidak tahu pasti mengapa undead seperti Shalltear bisa terkena pengendalian pikiran, tapi mungkin itu dikarenakan sesuatu yang khusus dari dunia ini?"

Ainz melipat tangannya, menatap tajam kepada Shalltear yang berdiri tanpa bergeming.

"Kesadaran Shalltear sedang dikendalikan oleh orang yang tidak kita ketahui, dan sesuatu terjadi sebelum orang itu bisa memberikan perintah apapun. Mungkin Shalltear bertindak di waktu yang sama dan mengalahkan musuhnya...membuatnya tetap sendirian pada posisi tetap seperti itu. Seharusnya begitulah yang paling mendekati kejadian sebenarnya. Namun, dia mungkin akan membuat tindakan bertahan jika kamu menyerang atau terlalu dekat dengannya."

"Mengerti. maka tak ada artinya untuk memaksa mengikatnya dan membawa ke Nazarick. Tidak perduli apakah orang yang mengendalikan Shalltear telah tewas atau tidak. Tapi jika orang itu masih hidup, maka membiarkannya seperti ini pasti berbahaya."

"Kekhawatiranmu memang benar."

Alasan mengapa Shalltear bisa terkena pengendalian pikiran masih tidak diketahui. Mungkin saja ada kemampuan tertentu di dunia ini yang efektif terhadap undead. Jika begitu, Ainz juga bisa terkena pengendalian pikiran jika dia tetap disini.

"Meskipun menggunakan item ini sedikit disayangkan, ini masih sebuah cara yang terbaik untuk melepaskan Shalltear dari pengendalian pikiran secepat mungkin."

Ainz melebarkan jari-jarinya. Di salah satu jarinya, dia memakai sebuah cincin sederhana yang tidak memilki hiasan apapun. Terdapat ukiran tiga bintang jatuh yang mengeluarkan cahaya perak, dan sebenarnya cincin ini adalah yang paling kuat dari seluruh cincin yang Ainz miliki.

"Itu adalah..?"

Menjawab ekspresi bingung Albedo, Ainz tersenyum bangga meskipun faktanya wajah itu tidak bergerak, dan membuka nama cincin tersebut.

"Item super langka ini, cincin [Shooting Star] (Bintang Jatuh), membuat penggunanya bisa menggunakan magic [Wish Upon a Star] (Berharap kepada bintang) tiga kali tanpa mengurangi experience point."

Ini adalah item gacha yang membuat Ainz mempertaruhkan seluruh bonus akhir tahunnya.

Diantara seluruh anggota guild, hanya dua orang, Ainz dan Yorumaiko, yang memiliki cincin langka yang menakjubkan ini.

Tidak, daripada menyebut cincin ini sebagai item langka, mungkin lebih baik disebut dengan simbol kebodohan, karena menghabiskan banyak sekali uang pada game untuk mendapatkannya.

Terkandung dalam cincin itu adalah magic level super [Wish Upon a Star]. Jumlah permintaan yang mungkin bisa muncul akan tergantung dengan jumlah experience point yang berkurang.  Itu artinya mengaktifkan mantra ini ditukarkan dengan sepuluh persen dari total experience point akan memberikan satu buah pilihan, dimana menghabiskan lima puluh persen akan memberikan lima kemungkinan pilihan.

Ada banyak harapan yang bisa dipilih. Menurut statistik website strategi, setidaknya ada lebih dari dua ratus harapan. Ditambah lagi, ada beberapa harapan yang muncul lebih mudah, dan harapan yang tidak muncul dengan mudah, Oleh karena itu, ini adalah magic yang menakutkan dimana kecerobohan bisa membuat penggunanya kehilangan banyak experience point.

Dan juga, magic caster yang ingin mempelajari magic level super ini harus mencapai level sembilan puluh lima dahulu. Bahkan di YGGDRASIL dimana sangat mudah untuk menaikkan level, mencapai level ini masih membutuhkan jumlah experience dengan jumlah yang sangat besar, oleh karena itu banyak yang ragu-ragu apakah ingin mempertaruhkan experience point mereka atau tidak untuk mantra ini.

Ketika menggunakan cincin ini untuk mengaktifkan mantra level super [Wish Upon a Star], kemungkinan harapan yang bisa dipilih benar-benar acak, sama seperti normalnya. Namun, harapan yang serius memiliki kemungkinan yang lebih tinggi dibandingkan dengan harapan guyonan. Dan juga, jumlah maximal dari harapan yang akan muncul adalah sepuluh, dan magic ini memiliki waktu aktivasi nol, oleh karena itu ini adalah item cash yang paling kuat.

Menggunakan item cash seperti itu -- seseorang yang bahkan memiliki naluri perjudian -- tentu saja akan malu, tapi Shalltear tidak bisa digantikan. Tapi mengeluarkan experience point miliknya sendiri disini bisa berakibat pada penggunaan kemampuan spesial lain miliknya yang mana membutuhkan experience point untuk mengaktifkannya, oleh karena itu pilihan tersebut masih dibuat dengan keraguan.

Ainz menatap cincin itu.

Ainz berharap permintaan yang aktif adalah yang bisa meruntuhkan seluruh efek dari target. Meskipun ada banyak pilihan alternatif yang bisa dipilih, apa yang datang ke pikirannya adalah metode yang paling tepat.

Karena ini juga akan menggagalkan efek positif, permintaan ini jarang dipilih di dalam game, jadi Ainz membuat keputusan ini dengan tersenyum.

"Kalau begitu, cincin, AKU MEMINTA!"

Tentu saja, item magic juga bisa diaktifkan tanpa berkata seperti ini. Namun, dengan memilih keinginan yang paling kuat dan paling ideal untuk situasi yang dihadapi, untuk memilih diantara dua ratus permintaan atau lebih yang dibuat membuat Ainz meneriakkannya seperti itu. Itu adalah teriakan yang sama ketika seseorang menggulirkan dadu pada permainan hidup atau mati.

Karena magic YGGDRASIL juga memiliki efek yang sama di dunia ini, kemampuan yang aktif dari cincin itu pasti akan melepaskan Shalltear dari efek pengendalian pikiran yang misterius. Tidak, ini adalah apa yang ingin dia percayai.

Hasilnya yang paling ditakuti Ainz adalah jika cincin itu sendiri gagal untuk aktif, tapi kelihatannya itu adalah kekhawatiran yang berlebihan. Cincin itu mengeluarkan magicnya tanpa masalah dan... cahaya merah di lubang mata Ainz semakin kecil.

"Apa... ini..."

Seakan informasi baru dipaksakan ke dalam otaknya dia merasakan... sesuatu yang tidak enak. Namun di saat yang sama, dan tersambung dengannya, dia juga merasakan euforia yang hebat. Berbagai macam emosi manusia menabrak Ainz seperti gelombang.

Sementara riak emosi semakin menghilang dari tubuhnya, Ainz menyadari bahwa di dunia ini [Wish Upon a Star] berubah dari YGGDRASIL hingga titik prakteknya yang tidak sama.

Ketika dia tahu Innate Ability Nfirea, dia membayangkan kemungkinan untuk memperolehnya dengan mengaktifkan [Wish Upon a Star]. Spekulasi ini tidak salah. Di dunia ini [Wish Upon a Star] telah menjadi magic yang membuat kenyataan pada hasrat seseorang yang terdalam. Meskipun berdasarkan dari experience point yang berkurang, [Wish Upon a Star] telah menjadi magic yang membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Terlebih lagi, jika lima level berkurang -- lima ratus persen experience, magic itu akan membuat kenyataan bahkan dari keinginan yang jauh lebih kuat.

Dengan ini, Ainz sangat yakin cincin ini bisa menghapus efek magic dari tubuh Shalltear, dan meneriakkan semangat kemenangan:
"Lepaskan seluruh efek yang ada pada tubuh Shalltear!"

Setelah suara itu terdengar sesaat, cahaya di mata Ainz langsung menyala.

"..bagaimana.. bagaimana ini mungkin?"

Penampilan Ainz yang gelisah membuat Albedo menyadari situasi telah berubah. Dia bertanya dengan gugup:

"A.. Ada apa? Ainz-sama!"

Ainz tidak menjawab pertanyaan itu, namun mengingat kembali pengalaman panjang di YGGDRASIL, informasi yang diserap dari website strategi, dan digabungkan dengan pengetahuan dengan informasi bermacam-macam yang dikumpulkan setelah tiba di dunia ini. Dan yang paling penting informasi yang dia terima saat mencoba menggunakan [Wish Upon a Star], yang mengancam seluruh keberadaannya.

Ketika dia membuat kesimpulan, Kecemasan yang luar biasa dan kemarahan muncul pada Ainz. Namun, meskipun jika semangatnya masih bisa tetap stabil, masih ada satu emosi yang tersisa...ketakutan.

Ainz yang bingung berteriak:

"Mu.. Mundur! Albedo jangan mendekat! Mundur cepat!"

"Ya! Saya mengerti!"

Ainz langsung merapal magic transfer. Selanjutnya, tanah yang terangkat muncul dalam pandangannya. Meskipun dia telah tiba dengan aman di rumah, Ainz dengan penuh ketakutan memberikan perintah:

"Albedo! Hati-hati dan waspada terhadap siapapun yang mengikuti transfer!"

"Ya!"

Albedo mengeluarkan senjatanya dan berdiri di samping Ainz. Ainz juga mengulurkan tangannya yang kosong, bersiap untuk adaptasi terhadap segala perubahan.

Akhirnya setelah beberapa saat, Ainz pelan-pelan kembali tenang. Albedo juga berubah dari postur bertahan dengan merendahkan pinggang menjadi normal.

"Sialan!"

Bahkan setelah tenang, sebuah emosi kemarahan yang kuat masih muncul. Setelah menjadi seorang undead, emosi kuat Ainz otomatis ditekan, namun meskipun telah menekannya, kemarahan baru langsung muncul.

"Sialan! Sialan! Sialan!"

Ainz terus menerus menendang tanah.

Karena kekuatan fisiknya yang luar biasa, tanah dalam jumlah besar ditendang ke atas. Jika tidak ada hujan dalam beberapa hari, di sekeliling pasti akan banyak debu yang beterbangan dan mengkhawatirkan. Namun begitu, itu tidak mampu meredakan kemarahan Ainz.

"A..Ainz-sama, to..tolong tenanglah.."

Merasakan suara Albedo yang membawa ketakutan, Ainz menyadari tindakannya tidak pantas sebagai seorang master. Dia dengan cepat mengendalikan diri, dan memaksa menghembuskan nafas yang tidak ada, seakan memaksa keluar kemarahan yang membara dari dalam hatinya semuanya.

"...Maafkan aku. Aku kehilangan ketenanganku. Pura-pura saja kamu tidak melihat kejadian apapun tadi."

"Tolong jangan berkata seperti itu. Namun, saya berterima kasih Ainz-sama bisa memperhatikan nasehat saya! Jika Ainz-sama memerintahkan saya untuk pura-pura tidak melihat apapun, saya akan melupakan insiden ini seluruhnya. Namun... apa yang terjadi? Apakah saya menyebabkan Ainz-sama merasa tidak enak? Jika anda mau mengatakannya kepada saya, saya akan bekerja keras untuk tidak membiarkan hal ini terjadi lagi."

"..Aku tidak mengarahkan itu padamu, Albedo. Itu karena aku tahu, setelah mengaktifkan kekuatan cincin, permintaanku tidak menjadi kenyataan."

Melihat Albedo yang tetap terdiam, Ainz tahu bahwa penjelasannya tidak cukup jelas dan melanjutkan:

"...Hanya ada satu kekuatan yang bisa mengungguli magic [Wish Upon a Star]."

Jika sebelumnya, dia mungkin akan berpikir bahwa mungkin saja semacam kekuatan di dunia ini yang bisa bertindak sebagai halangan, tapi Ainz sekarang bisa percaya diri menjawab bahwa ini bukan disebabkan kekuatan seperti itu. Ini karena ketika dia mengaktifkan magic tersebut, dia sudah menyadari dari perasaan yang tiba-tiba masuk.

"Ti..Tidak mungkin...itu adalah.."

"Benar Albedo. Hanya satu.. Item kelas Dunia."

Hanya ada dua ratus item ini di YGGDRASIL, bahkan senjata Guild dan senjata kelas Divine tidak bisa menandinginya. Jika Item kelas dunia digunakan, mudah saja mengendalikan undead yang kebal terhadap efek mental.

Saat ini, Ainz berpikir tentang Guardian yang masih di luar Nazarick. Mereka juga bisa menjadi target.

Menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mempertimbangkan kemungkinan ini, Ainz memerintahkan kepada Albedo:

"Albedo, langsung panggil seluruh Guardian yang ada di luar. Perlu untuk memeriksa jika saja mereka dikendalikan seperti Shalltear. Aku harus menuju aula Takhta sekarang juga! Setelah itu, tempat yang harus kutuju adalah... Aula Harta Benda."

Berlangganan via Email